Diperbarui: 3 hari yang lalu
SEPAKBOLA di Eropa tak pernah kehabisan kejutan. Musim ini, giliran tim-tim yang dianggap “gurem” dan ditangani pelatih-pelatih muda bikin kejutan. Jika di La Liga Spanyol ada Girona FC yang ditukangi Míchel Sánchez (48) dan di Bundesliga Jerman ada Bayer Leverkusen yang dibesut Xabi Alonso (42), di Serie A Italia ada Bologna FC 1909 yang diasuh Thiago Motta (41).
Inovasi dan konsistensi jadi kunci Motta membawa Bologna untuk tak lagi dianggap klub semenjana. Pada Serie A musim lalu, I Rossoblù (julukan Bologna) finis di urutan kesembilan. Kini menjelang musim 2023-2024 berakhir dengan menyisakan tujuh laga pamungkas, Bologna tak hanya berpeluang merebut jatah tiket Champions League dengan finis di urutan keempat tapi juga masih punya kans untuk melonjak bahkan ke posisi runner-up.
Saat tulisan ini dimuat, Bologna masih kokoh di urutan keempat klasemen dengan 58 poin pada giornata ke-31. Ia selisih tiga angka dari AS Roma di urutan kelima. Mengingat konsistensi Bologna, termasuk ketika berhadapan dengan tim-tim raksasa, bukan hal yang mustahil Motta bisa membawa kesuksesan lebih musim ini butat tim jawara dari masa lalu itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















