- 26 Nov 2023
- 6 menit membaca
Diperbarui: 25 Apr
“CINTA itu cerita lama, kataku meniru Harun. Dan dengan hati sombong, kutambah lagi: Kita bisa bikin cerita baru, di mana di dalamnya cerita itu tak usah diberi cinta kecil-kecilan. Atau kita juga bisa bikin cerita darah yang tidak kurang bagusnya dari cerita cinta. Atau kita bisa bikin cerita buruh, cerita mesin dan cerita benda-benda lainnya yang ada di luar cinta,” tulis S. Rukiah dalam novelnya, Kejatuhan dan Hati.
Siti Rukiah lahir di Purwakarta pada 25 April 1927 sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Asik dan Ipok. Salah satu pengarang wanita yang mulai menulis sejak tahun 1940-an. Pada masa pendudukan Jepang, ia menempuh pendidikan guru selama dua tahun, dan kemudian mengajar di Sekolah Rendah Gadis di Purwakarta.
Gejolak revolusi tak menggentarkan Rukiah untuk terus berkarya di tengah perjuangan kemerdekaan. Selain menjadi anggota Palang Merah di Purwakarta, di usia 19 tahun, ia mulai menulis puisi untuk majalah mingguan Gelombang Zaman. Ia juga mengirim tulisannya ke sejumlah surat kabar, seperti Mimbar Indonesia dan Godam Djelata yang dikelola oleh Sidik Kertapati yang kelak menjadi suaminya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.















