- 18 Jun 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 11 Apr
DUMAS, juru tulis kantor asisten residen Cilegon sekaligus juru tulis pengadilan distrik kota, terbangun dari tidurnya. Pukul 2 dini hari 9 Juli 1888 terdengar suara gaduh di luar rumahnya dan membuatnya buru-buru membuka pintu rumah. Tapi begitu pintu terbuka, empat orang berkelewang sekonyong-konyong berteriak “Allahuakbar” dan menyerangnya.
Meski terluka oleh sabetan kelewang, Dumas mati-matian menyelamatkan diri. Dia akhirnya berhasil melarikan diri ke rumah tetangganya, seorang jaksa. Sementara itu, di rumah Dumas para penyerang langsung mendatangi istri dan anak tertua Dumas yang sedang berusaha melarikan diri ke rumah Raden Purwadiningrat, seorang ajun kolektor yang merupakan tetangga Dumas. Bacokan mereka melukai bahu kanan istri Dumas. Beruntung para penyerang mengira sang istri babu, jadi membiarkannya.
Malang justru menimpa Minah, babu Dumas, yang oleh para penyerang dikira nyonya rumah. Upayanya mendekap anak bungsu Dumas membuat tubuhnya menjadi sasaran bacokan senjata tajam. Dia terluka parah. Sementara, anggota gerombolan yang lain mengacak-acak isi rumah dan menghancurkan perabotan-perabotan yang ada.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















