top of page

Terbit Lagi Setelah Tiga Dekade

Buku magnum opus karya begawan sejarah Sartono Kartodirdjo ini diterbitkan kembali kendati peminat buku kian menurun.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Haji Mohamad Ariep, Haji Achya, dan Samidien, pemimpin pemberontakan yang membunuh asisten residen Cilegon, Johan Hendrik Hubert Gubbels. (KITLV).

15 Jun 2025
4 menit membaca

Diperbarui: 11 Apr

MEMASUKI tahun 2015, J.J. Rizal, pria Betawi yang kondang sebagai sejarawan itu mulai sibuk. Dia pontang-panting menyiapkan penerbitan kembali naskah buku Pemberontakan Petani Banten 1888 karya begawan ilmu sejarah Sartono Kartodirdjo. Pemimpin penerbitan Komunitas Bambu (Kobam) itu menelpon sejumlah orang, untuk memastikan ihwal hak penerbitan buku yang pernah diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya pada 1984 itu.


Setelah mendapat sinyal lampu hijau dari keluarga Sartono, naskah naik cetak. Hasilnya, akhir Februari lalu buku yang tiga dekade lalu pernah jadi bahan pembicaraan di seantero jagad kajian ilmu-ilmu sosial dan sejarah bertengger di rak toko-toko buku di seantero negeri. Ada yang berbeda dari tampilan lamanya: ukuran buku lebih tinggi dengan ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca ketimbang terbitan pendahulunya.


Pada 4 Mei lalu sebuah diskusi dihelat di Yogyakarta oleh Penerbit Kobam, sekaligus menandai peluncuran buku ini. Stefanus Nindito, cucu Sartono mewakili keluarga turut memberikan sambutan sekaligus membahas aspek biografis kakeknya. Sementara itu, sejarawan Sri Margana dari UGM didaulat untuk membahas karya guru besar dari kampusnya itu.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page