- 16 Jun 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 9 Jul
SUATU hari pada 1964, Sartono Kartodirdjo pergi mengunjungi kantor Arsip Umum Kerajaan (Algemeene Rijkarchief, ARA/kini Nationaal Archief) di Den Haag, Belanda. Mahasiswa doktoral di Universiteit van Amsterdam itu beriktikad mencari arsip Boedi Oetomo, organisasi pribumi modern pertama di Hindia Belanda.
Dia memang kepincut pada tema nasionalisme, tren penulisan sejarah yang berkembang di Indonesia saat itu. Apalagi Sartono salah satu sejarawan yang aktif dalam Konferensi Sejarah pertama pada 1957, yang merumuskan peran orang-orang Indonesia sebagai aktor dalam sejarahnya sendiri.
Namun, niat mencari arsip Boedi Oetomo tersebut mendadak berhenti ketika Sartono melihat bundelan arsip yang ditumpuk rapi. Arsip yang terdiri dari proces verbaal (berita acara pemeriksaan) dan beragam dokumen lainnya dalam peristiwa perlawanan petani di Cilegon 1888 itu sedang dalam proses invetarisasi. Tentu saja tak diperbolehan untuk dipinjam.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















