top of page

Sambung Rasa dalam Sepotong Lumpia

Lumpia, makanan khas Semarang, lahir dari perpaduan budaya dan kisah asmara pemuda Tionghoa dan perempuan Jawa.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lumpia Semarang. (Wikimedia Commons).

2 Sep
3 menit membaca

JIKA berkunjung ke Semarang, Jawa Tengah, buah tangan yang paling dicari ialah lumpia. Makanan dengan kulit tipis dan isian rebung ini menyimpan sejarah perjumpaan masyarakat Tionghoa dan Jawa. Bermula dari sebuah komunitas, lumpia menjadi identitas Kota Semarang. Bahkan, makanan ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya.

 

“Lumpia Semarang merupakan hasil perpaduan antara kuliner Tionghoa dengan kuliner lokal,” catat Nicholas Molodysky dalam Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia.

 

Pada akhir abad ke-19, Tjoa Thay Yoe, seorang pendatang dari Tiongkok datang ke Semarang untuk berdagang. Dia menjual makanan berbahan daging babi dan rebung di Pasar Johar. Dia bertemu dengan Wasih, seorang pedagang makanan berbahan udang dan kentang. Setelah lama berjualan bersama, keduanya jatuh cinta dan menikah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page