JIKA berkunjung ke Semarang, Jawa Tengah, buah tangan yang paling dicari ialah lumpia. Makanan dengan kulit tipis dan isian rebung ini menyimpan sejarah perjumpaan masyarakat Tionghoa dan Jawa. Bermula dari sebuah komunitas, lumpia menjadi identitas Kota Semarang. Bahkan, makanan ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya.
“Lumpia Semarang merupakan hasil perpaduan antara kuliner Tionghoa dengan kuliner lokal,” catat Nicholas Molodysky dalam Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia.
Pada akhir abad ke-19, Tjoa Thay Yoe, seorang pendatang dari Tiongkok datang ke Semarang untuk berdagang. Dia menjual makanan berbahan daging babi dan rebung di Pasar Johar. Dia bertemu dengan Wasih, seorang pedagang makanan berbahan udang dan kentang. Setelah lama berjualan bersama, keduanya jatuh cinta dan menikah.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












