top of page

Sekolah Jerman di Sarangan

Terjebak Perang Dunia, anak-anak Jerman di Jawa terpaksa belajar di sekolah darurat yang dibuka di Sarangan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 31 Jul 2023
  • 3 menit membaca

ADA yang dikelabang, ada pula yang dikuncir, tapi kebanyakan sekadar dibiarkan terurai rambutnya. Lalu ada yang tersenyum lebar, sedikit simpul senyum, tapi mayoritas ekspresi wajah mereka hanya diam entah karena malu ataupun bingung. Itulah ekspresi gadis-gadis cilik murid Sekolah Jerman yang ada di Sarangan, Jawa Timur. Bocah-bocah lugu yang tak tahu apa-apa soal politik itu hanyalah korban dari situasi perang yang melanda hampir setiap penjuru bumi alias Perang Dunia II.  


Kesialan melanda orang-orang Jerman di bekas Hindia Belanda setelah tentara Jerman menduduki Negeri Belanda pada 10 Mei 1940. Sebelum Jepang –sekutu Jerman dalam Perang Dunia II– datang pada 1942, banyak orang Jerman ditangkapi. Ada yang dikenai tahanan rumah. Bahkan ada orang Jerman yang hendak ditahan ke India. Penahanan-penahanan itu yang pasti memisahkan suami dari istri dan anak-anaknya.


Setelah 1942, orang Jerman bisa sedikit bernafas lega meski perang belum berakhir. Pasalnya, tentara Jepang telah menduduki Hindia Belanda.


“Ketika kemudian wilayah Indonesia diduduki oleh pasukan Jepang, para interniran tersebut menjadi orang bebas,” tulis Julius Pour dalam Laksamana Sudomo Mengatasi Gelombang Kehidupan.


Meski begitu, perang membuat sekolah seluruh anak-anak yang dibawa para ibu Jerman mereka terganggu. Untuk itulah setelah 1943 penguasa militer Jepang mengusahakan sekolah untuk anak-anak Jerman di dalam satu lingkungan terpadu meskipun banyak orang tua tak rela anaknya masuk ke sekolah.


“Akhirnya akomodasi yang cocok ditemukan di Sarangan, sebuah resort peristirahatan di Lawu, 1500 meter di atas permukaan laut dan sekitar 60 km dari Madiun,” catat Hanns Hachgenei dalam Sarangan.



Sekolah tersebut menampung anak-anak Jerman yang sebelumnya tinggal di kota-kota lain di Jawa seperti Bogor, Jakarta, dan Yogyakarta. Mereka diberangkatkan menggunakan kereta api dalam rombongan-rombongan bersama ibu mereka meski ada pula yang tanpa ibu, namun sedikit yang bersama ayah mereka. Dari kota-kota tadi, semua rombongan harus singgah di Madiun.


“Dari Madiun kami naik bus lewat Magetan ke Ngerong dan dari sana jalan kaki, naik kuda atau tandu ke Sarangan. Sekarang kami telah menjadi kelompok yang cukup besar. Kami tiba di Sarangan dengan kelelahan dan kesal karena perjalanan panjang. Di Hotel Berzight (Nenek Petsch) kami diterima oleh Tuan Bier,” catat Hanns Hachgenei.


Mereka lalu menuju Arendshest. Orang-orang Jerman itu tinggal di sana dan mulai memasak sendiri.


Sejumlah anak perempuan belajar di sekolah darurat yang diadakan di Hotel Lawoe, yang pada zaman Jepang disebut Hotel Fujiya. Sementara anak-anak laki-laki belajar di Hotel Beau Site. Anak-anak Jerman itu dibagi ke dalam sembilan kelas.



“Pada tanggal 20 April 1943 sekolah dibuka. Selain Tuan Mewes, perwakilan Jerman di Jakarta, banyak pejabat Jepang yang menghadiri pembukaan. Nyonya Bode menjadi kepala sekolah yang berdedikasi,” sambung Hanns Hachgenei.


Sekolah yang dibuka tepat pada hari ulang tahun Adolf Hitler itu dijalankan seorang guru laki-kaki dan 15 guru perempuan. Para murid diajari bahasa Jerman, ilmu bumi, ilmu hitung, sejarah, pengetahuan alam, dan olahraga.


Mereka bersekolah enam hari dalam seminggu, jam belajarnya pagi. Sorenya, mereka berolahraga atau ikut kerja bakti di kebun-kebun yang menyediakan makanan untuk mereka. Mulai dari menyiram tanaman, menggali lubang untuk tanaman, memotong tanaman pengganggu, hingga memanen tanaman semua mereka ikuti.



Sarangan relatif sepi dari Perang Pasifik. Hanns Hachgenei merasa terlindungi. Selain itu, Sarangan relatif subur untuk ditanami bahan makanan dan sayur-sayuran.


“Kami tidak benar-benar harus kelaparan,” aku Hanns Hachgenei.


Sekolah Sarangan eksis dari 1943 hingga Desember 1948. Dalam kurun waktu itu, 173 siswa (92 laki-laki dan 81 perempuan) belajar di sana. Selain 173 siswa sekolah dasar menengah itu, ada 12 siswa taman kanak-kanak.


Anak-anak Jerman itu masih bersekolah di Sarangan setelah Indonesia merdeka. Lokasi sekitar sekolah mereka menjadi tempat pelatihan bagi perwira-perwira tentara Republik Indonesia yang belum mapan.



Pihak republik cukup beruntung dengan kehadiran orang Jerman di sana. Dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik, 1945-1949, Moehkardi menyebut orang-orang Jerman menjadi guru dalam Sekolah Olahraga (SORA) di Sarangan yang ikut melatih olahraga taruna akademi militer Yogyakarta. Basic Special Operation pun mengikutsertakan pelatih-pelatih yang orang Jerman.


Namun, kesialan kembali menghampiri orang-orang Jerman itu. Setelah tentara Belanda menduduki Yogyakarta pada Desember 1948, daerah Sarangan juga diduduki tentara Belanda. Orang-orang Jerman itu kembali jadi tahanan. Hanns Hachgenei termasuk orang Jerman yang dideportasi ke Jerman.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pernah menjadi wartawan perang dan penerjemah dalam momen-momen penting sejarah dunia, Sosrokartono yang menguasai banyak bahasa menutup hidup dengan ilmu kebatinan.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Soviet berusaha mencari jenazah Adolf Hitler. Penemuan jenazah mirip Hitler memicu spekulasi bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Dituding membocorkan rahasia negara, Asa Bafagih menjadi wartawan pertama yang dilaporkan ke Kejaksaan Agung. Peristiwa Bafagih sekaligus yang pertama dalam sejarah pers Indonesia ketika hak ingkar wartawan berhasil dipertahankan.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Tradisi mudik Lebaran menjadi salah satu mobilitas penduduk terbesar yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan transportasi serta infrastruktur. Grafik berikut memperlihatkan dinamika kenaikan dan penurunan jumlah pemudik di Indonesia.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Propaganda perang terus bergonta-ganti wahana seturut perkembangan teknologi. Bila Indonesia punya K’Tut Tantri, dulu Blok Poros juga punya propagandis perempuan lewat radio. Kini Iran pakai AI untuk “nge-troll” Amerika.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
Kerajaan ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Raja Purnawarman, sebagai raja yang paling terkenal pernah menghadiahkan 1000 ekor sapi.
Sukses menjadi penyanyi di Belanda, Sandra Reemer amat didukung ayahnya yang mantan serdadu KNIL di Bandung.
Sukses menjadi penyanyi di Belanda, Sandra Reemer amat didukung ayahnya yang mantan serdadu KNIL di Bandung.
transparant.png
bottom of page