Diperbarui: 18 Sep
KRISIS Kongo yang pecah sejak 5 Juli 1960 mengharuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turun tangan. Sekjen PBB Dag Hammarskjöld lalu mengirim misi ONUC atau Operasi PBB di Kongo.
Krisis di Kongo dipicu perang saudara antara pihak pemerintah Kongo dan separatis Katanga di bawah Moïse Tshombe. Seiring keluarnya Resolusi 143 Dewan Keamanan PBB pada 14 Juli 1960, elemen militer Belgia yang tersisa pasca-kemerdekaan Kongo (30 Juni 1960) diperintahkan mundur dari Kongo. Kontingen pasukan misi perdamaian ONUC lantas dibentuk dari gabungan militer Irlandia, India, Federasi Malaya (kini Malaysia) , Indonesia, Italia , Ethiopia, Ghana, Mesir, Nigeria, dan Swedia. Total berkekuatan sekira 20 ribu personel.
Menukil laman PBB, pasukan ONUC diminta keterlibatannya oleh Presiden Kongo Joseph Vasa-Kubu untuk membantu memulihkan keamanan dan mencegah gangguan militer asing yang menyokong separatis Katanga. Pasukan ONUC didatangkan berangsur-angsur dalam sembilan kontingen sejak Mei di bawah Panglima ONUC Mayjen Carl van Horn dari Swedia. Untuk urusan sipilnya di lapangan, Hammarskjöld mempercayakannya kepada diplomat Irlandia Connor Cruise O’Brien sebagai perwakilan khusus.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















