top of page

Hachiko, Sepuluh Tahun Penantian

Karena kesetiaannya pada sang majikan, Hachiko, seekor anjing jadi legenda. Patungnya berdiri di sejumlah tempat bak pahlawan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Richard Gere memerankan Prof. Parker Wilson dan anjing Hachiko dalam film Hachiko: A Dog’s Story (2009). (Facebook getTV & vickiwongandhachi.com).

30 Mar 2010
3 menit membaca

Diperbarui: 9 Mar

CERITA berawal ketika Prof. Parker Wilson (Richard Gere) menemukan seekor anjing kecil di stasiun kereta api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, tempat ia biasa pergi dan pulang bekerja. Ia membawa pulang anjing berjenis akita itu ke rumah dan memberinya nama Hachiko. Parker dan istrinya Cate (Joan Allen) merawat Hachiko hingga tumbuh besar. Tiada hari yang dilewatkan Parker tanpa bermain dengan Hachiko.


Suatu hari, ketika Hachiko sudah beranjak dewasa, tanpa disangka ia mengikuti Parker, yang hendak berangkat kerja, ke stasiun. Parker terpaksa keluar dari kereta untuk memulangkan Hachiko ke rumah. Namun, sorenya, Hachiko menjemputnya di stasiun. Sejak itu Parker membiarkan Hachiko mengantar-jemputnya di stasiun. Sampai suatu hari, Hachiko tak menemukan Parker di stasiun. Parker meninggal dunia karena serangan jantung ketika ia tengah mengajar.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page