top of page

Svante Pääbo dan Jalan Panjang Menjawab Asal-Usul Manusia

Setidaknya diketahui manusia modern pernah hidup bersama pada satu masa dengan enam manusia purba lainnya. Beberapa di antaranya berinteraksi dan kawin silang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Dr. Svante Pääbo yang menerima Nobel 2022 dan timnya di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology. (mpg.de).

10 Okt 2022
5 menit membaca

Diperbarui: 30 Jun

BANYAKNYA pertanyaan tentang asal-usul manusia modern yang istilah ilmiahnya Homo sapiens acap jadi perdebatan para ahli saat membicarakan evolusi manusia. Salah satu pertanyaan itu sukses dijawab pakar genetika asal Swedia, Dr. Svante Pääbo, dan timnya di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, Jerman. Hasil riset panjang Pääbo itu menjadi pemenang Nobel 2022 dalam bidang fisiologi dan kesehatan.


Homo sapiens, menilik hipotesa “Out of Africa”, disebutkan –dengan penanggalan karbon– sudah eksis antara 300-200 ribu tahun lampau di bagian timur Benua Afrika dan kemudian menyebar ke seantero bumi lewat empat gelombang migrasi antara 30-40 ribu tahun lalu. Homo sapiens menyebar dan bertahan seiring pergantian zaman sementara manusia-manusia yang lebih dulu seperti Homo heidelbergensis, Homo erectus, Homo neanderthalensis, Homo floresiensis, dan Homo denisova perlahan punah.


Riset Pääbo kemudian memberi jawaban dan pembuktian bahwa ternyata, Homosapiens tidaklah hidup sendirian seiring migrasi mereka. Homo sapiens pernah hidup berdampingan dan bahkan kawin dengan manusia Neanderthal, manusia purba yang selama ini dianggap sub-spesies manusia dan punya hubungan paling dekat dengan manusia modern.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page