top of page

Tak Ada Ras, Semua Manusia dari Afrika

Pertarungan ide para ilmuwan tentang evolusi, ras, dan migrasi manusia.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Pakar neurogenetika dan biologi molekuler dr. Roslan Yusni Hasan atau yang populer dengan Ryu Hasan. (Fernando Randy/Historia.ID).

4 Des 2019
4 menit membaca

Diperbarui: 30 Jun

PERDEBATAN lawas tentang asal-usul orang Indonesia kembali mengemuka setelah Agnes Monica dalam sebuah wawancara mengatakan tak punya darah Indonesia tapi punya leluhur dari Jerman, Jepang, dan Tiongkok. Warganet menuding Agnes tidak nasionalis dan enggan mengakui “darah Indonesia”-nya. Padahal, dalam wawancara tersebut, Agnes membicarakan “darah Indonesia” sebagai asal-usul keturunan (biologis), bukan statusnya sebagai warga negara (politis).


Apa yang dikatakan Agnes bisa jadi benar. Dari Proyek DNA yang dilakukan Historia bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ditemukan bahwa leluhur orang Indonesia datang dari berbagai wilayah di dunia. Jurnalis Najwa Shihab, misalnya, dalam DNA-nya terlacak punya leluhur dari 10 tempat berbeda.


Usaha para ilmuwan untuk meneliti keragaman dan evolusi manusia sudah dilakukan berabad lalu. Sejak abad ke-17 dan 18, para ilmuwan berusaha mengidentifikasi flora, fauna, dan manusia. Ilmuwan yang hidup di abad ke- 18, seperti Carolus Linnaeus, Johann Friedrich Blumenbach, dan Comte de Buffon berusaha mengklasifikasi semua makhluk hidup yang mereka teliti dalam kerangka kerja sistematis. Dalam berbagai sistem, manusia dikelompokkan menjadi subspesies berdasarkan geografi, warna kulit, dan sifat fisik. Usaha ini mulanya murni untuk kebutuhan penelitian biologi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page