Diperbarui: 4 hari yang lalu
MAYOR Benny Moerdani dan Kolonel Sugeng Djarot (atase militer RI di Bangkok) tegang pagi itu. Pesawat Hercules Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang mereka tunggu di Bandara Internasional Subang (kini Bandara Sultan Abdul Aziz Shah), Kuala Lumpur belum juga tampak. Hilangnya hubungan radio makin membuat keduanya panik. Komunikasi bandara-pesawat jadi hilang, militer Malaysia atau Inggris bisa saja menembak pesawat tersebut. Pada 25 Mei 1966 itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia masih hangat.
Moerdani dan Djarot ke bandara untuk menjemput rombongan perwira militer Indonesia dalam Hercules itu. Mereka akan menemui Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak dan Perdana Menteri (PM) Tunku Abdul Rahman Putera, guna membicarakan upaya normalisasi hubungan kedua negara.
Misi sangat rahasia itu membuat hanya segelintir orang Indonesia maupun Malaysia yang tahu. Keamanan Hercules beserta isinya jadi taruhan. Moerdani, sang kreator, bertanggungjawab penuh atasnya. Termasuk tanggung jawab atas nyawa Letnan Kolonel Ali Moertopo, Asisten Intelijen I Kostrad, atasan Moerdani yang ikut dalam rombongan. Ali menugaskan Moerdani menjembatani komunikasi Indonesia-Malaysia dalam konflik tersebut.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















