top of page

Hasil pencarian

9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Selera Naga Sejuta Rasa

    SUDAH empat tahun terakhir ini Banyuwangi menggelar Festival Imlek. Sebuah upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk mengangkat sekaligus memupuk kerukunan dalam keberagaman di Bumi Blambangan. Tapi ada yang spesial tahun ini. Bersamaan dengan Festival Imlek, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memperkenalkan Pecinan Street Food; pasar wisata kuliner yang menjajakan beragam makanan khas Tionghoa. “Pecinan Street Food akan rutin digelar setiap Jumat malam di areal jalanan menuju Kelenteng Hoo Tong Bio,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat peresmian pada 31 Januari 2020. “Jadi warga Banyuwangi dan wisatawan yang ingin menikmati masakan khas Tionghoa tidak perlu repot. Langsung saja ke tempat ini. Dijamin puas.” Pecinan Street Food digelar di sepanjang Jalan Ikan Gurame, Kelurahan Karangrejo, yang membentang sepanjang 300 meter. Di kawasan ini Anda bisa mencicipi dimsum, lontong cap go meh, bebek, ayam peking, sate tai chan, hingga nasi goreng hitam. Selain itu, Anda akan menikmati suasana khas nan indah yang kental dengan nuansa Tionghoa. Mulai dari musik, hiburan, hingga ornamen serba merah. Pecinan Street Food dipusatkan di sekitar Kelenteng Hoo Tong Bio, yang memiliki nilai sejarah penting bagi komunitas Tionghoa di Banyuwangi. Perlindungan Sejak lama orang Tionghoa menaruh perhatian pada perkembangan Blambangan, nama lama dari Banyuwangi. Ini dibuktikan dari kunjungan Cheng Ho ke Blambangan pada abad ke-14., sebagaimana dicatat dalam Ming Shih , sumber Tiongkok pada masa Dinasti Ming, yang diterjemahkan W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa . Kedatangan Cheng Ho bertepatan dengan konflik antara Blambangan dan Majapahit. Setelah itu tak ada informasi lain mengenai orang Tionghoa. Namun, orang Tionghoa dikenal sebagai pedagang ulung. Selain berdagang di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara, mereka juga singgah di Pelabuhan Ulupampang di Blambangan, salah satu pelabuhan tersibuk di sekitar Selat Bali. Kelak, mereka membentuk jaringan perdagangan yang kuat. Bahkan ikut menyokong Agong Wilis dalam perlawanan melawan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) yang ingin menguasai Blambangan. Menurut kronik lokal Babad Notodiningratan , orang Tionghoa mulai menetap di Blambangan pada 1631. Jumlahnya kian meningkat setelah “geger pecinan” di Batavia pada 1740. Banyak orang Tionghoa menyelamatkan diri ke Blambangan. Mungkin mereka mendapat perlindungan dari Tan Hu Cinj in . Dari cerita turun-temurun, Tan Hu Cinjin berasal dari Propinsi Kwan Tung. Dia dikenal pintar dan terampil sebagai sinse, pakar hong shui, arsitek bangunan, dan pertamanan. Karena itu dia diminta raja Blambangan untuk membangun istana di daerah Macan Putih. Sebagai penghormatan atas jasa Tan Hu Cinjin, komunitas Tionghoa kemudian membangun Kelenteng Hoo Tong Bio yang berarti “kuil perlindungan orang-orang Tionghoa”. Kelenteng berada di Lateng (sekarang Blimbingsari, Rogojampi), tak jauh dari Pelabuhan Ulupampang. Tak diketahui pasti kapan didirikan. Namun keterangan pada semacam prasasti dalam kelenteng menunjukkan “Qianlong jiachen” (1784). Di situ juga termuat nama Tan Cin Jin dalam bentuk kaligrafi yang indah. Setelah ibukota Blambangan pindah dari Ulupampang (kini, Kecamatan Muncar) ke Banyuwangi, kelenteng pun ikut dipindahkan. Apalagi pemindahan ibukota disertai pemberlakuan wijkenstelsel dan passenstelsel , yang jadi pijakan munculnya Pecinan. Hingga kini Kelenteng Hoo Tong Bio masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu bangunan tertua di Kabupaten Banyuwangi. Selain sebagai pusat keagamaan, Kelenteng Hoo Tong Bio berfungsi secara sosial dan budaya. Adaptasi Komunitas Tionghoa mempertahankan dan mengembangkan tradisi dan budaya leluhur, termasuk kulinernya. Mereka mencoba beradaptasi dengan lidah lokal. Jika semula masakan Tiongkok tidak memiliki rasa yang kaya, rumit, dan kompleks karena lebih menekankan citarasa asli, maka ketika bertemu bumbu-bumbu lokal akan menjadi lebih kaya rasa. Selain soal rasa, kuliner Tionghoa menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Islam. “Kalo orang mau cari masakan Chinese tapi halal, maka akan didapat setiap Jumat malam di sekitar kelenteng Hoo Tong Bio ini,” ujar Anas dalam sambutannya. “Perkawinan” antara selera Tionghoa dan citarasa lokal menjadi nyawa dalam Pecinan Street Food. Setiap Jumat malam, kawasan K e lenteng bakal dipenuhi aneka makanan mulai dari ayam kunpao, lontong cap go meh, hingga bebek dan ayam Peking. Anda bisa mencicipi aneka jajanan seperti kue keranjang, bakpao ayam, bacang, dan manisan Tiongkok. Ada juga minuman khas sep e rti teh bunga krisan, kopi, dan masih banyak lagi. Bahkan, sebenarnya kuliner khas Banyuwangi, yakni rujak soto, pun tak luput dari pengaruh Tionghoa. Denys Lombard, sejarawan Perancis, dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Jaringan Asia , mencatat orang-orang Tionghoa berperan penting bagi kelahiran soto. Soto berawal dari bahasa Mandarin caudu atau jao to . Masakan khas Tionghoa ini kali pertama populer di Semarang pada abad ke-19 lalu menyebar ke daerah lainnya dengan berbagai varian rasa, cara memasak, bumbu, penyajian, pelengkap, dan citarasa. Di Banyuwangi, rujak soto sebenarnya racikan beragam sayuran; kacang panjang dan kangkung, potongan tahu dan tempe dengan bumbu kacang dan petis yang disiram kuah soto. Sajian rujak soto bisa dinikmati di pasar kuliner lainnya. Pecinan Street Food memang hanyalah salah satu konsep pasar kuliner tematik yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Saat ini, tak kurang ada 19 pasar kuliner yang tersebar di berbagai kecamatan dengan waktu yang berbeda-beda. Inovasi ini bertujuan mendongkrak ekonomi lokal. Siapa tak tertarik?

  • Wabah Aneh yang Membuat Orang Menari

    PADA 1518, sebuah wabah aneh terjadi di Kota Strasbourg, di wilayah Kekaisaran Romawi Suci (kini masuk wilayah Prancis). Wabah ini bukan wabah penyakit seperti flu, infeksi, atau penyakit kulit menular lainnya, melainkan wabah yang membuat orang menari hingga meninggal dunia. Tragedi ganjil ini kemudian disebut sebagai choreomania atau wabah menari 1518. Wabah menari dimulai pada 14 Juli 1518 ketika Frau Troffea, seorang warga Strasbourg keluar rumah dan menari di jalanan. Ia menari tanpa alasan yang jelas, tanpa musik dan tanpa henti. Troffea menari selama tiga hari hingga kakinya lecet-lecet dan berlumuran darah. Orang-orang mengira ia kerasukan setan. Ia pun lalu dibawa ke sebuah tempat suci di Pegunungan Vosges. John Waller, ahli sejarah kedokteran di Michigan State University, dalam bukunya A Time to Dance, A Time to Die menyebut gejala yang dialami Troffea merebak cepat beberapa hari kemudian. Orang-orang mulai turun ke jalan dan mulai menari tanpa henti. “Dalam sebulan, menurut salah satu kronik sejarah, sebanyak 400 orang mengalami kegilaan. Hingga suatu waktu di akhir bulan Juli, hanya seminggu atau lebih setelah Frau Troffea mulai menari, epidemi ini mengambil wajah baru yang lebih kejam,” tulis Waller. Di musim panas yang menyiksa itu, mereka menari berhari-hari hingga kelelahan, kaki berdarah-darah, urat-urat terkoyak hingga terkena serangan jantung. Diperkirakan, setiap harinya ada 15 orang yang sekarat. Dalam sebuah manuskrip yang ditemukan di arsip kota yang dikutip Waller, tercatat, “Ada wabah aneh baru-baru ini. Terjadi di kalangan rakyat jelata. Banyak orang mengalami kegilaan. Mulai menari. Mereka terus menari siang malam. Tanpa hambatan. Sampai mereka jatuh pingsan. Banyak orang kehilangan nyawa karenanya.” Penelusuran Waller menunjukan bahwa wabah serupa ternyata pernah terjadi di Eropa. Namun, sebagian besar tidak diketahui apakah peristiwa tersebut merupakan kejadian nyata atau isapan jempol belaka. Sementara wabah menari di Strasbourg terjadi setelah ditemukannya mesin cetak sehingga terdapat beragam sumber yang mendokumentasikannya. Terkait penyebab wabah menari, ada dugaan bahwa epidemi ini bermula dari ergot. Ergot adalah penyakit jamur pada batang gandum lembab. Ergot dapat menyebabkan delusi, kejang-kejang dan guncangan hebat. Namun, korban-korban wabah menari ternyata tidak menunjukan gejala demikian. “Tidak satu pun dari ciri-ciri ini dijelaskan oleh saksi wabah menari Strasbourg, dan tampaknya tidak mungkin bahwa menari akan dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama sementara menderita gejala-gejala ini,” tulis Dr. Marc Burton dalam artikelnya di pastmedicalhistory.co.uk. Sejarawan lain menyebut peristiwa ini terkait dengan kultus sesat. Namun tak ada bukti memadai yang mendukung teori ini. “Mungkin tidak pernah diketahui secara pasti apa yang menyebabkan wabah aneh dan ganjil ini tetapi hal itu berfungsi sebagai pengingat akan sifat aneh dan tak terduga dari jiwa manusia,” sebut Marc. Sementara itu, Waller menyebut wabah menari berkaitan erat dengan perubahan kehidupan di Strasbourgh. Kala itu, dunia tengah mengalami ketidakpastian. Gagal panen, kelaparan, cacar dan berbagai penyakit mematikan muncul. Selain itu, tambah Waller, kondisi spiritual masyarakat saat itu juga perlu diteliti. Gabungan antara masalah duniawi dan spiritual ini yang kemungkinan menimbulkan tekanan-tekanan psikologis. Wabah tari, menurutnya, adalah respons terhadap kesengsaraan, sugesti, dan kepercayaan. “Otak di bawah tekanan berat selalu menghasilkan sensasi dan perilaku tertentu, walaupun di luar kehendak sendiri, memunculkan pemikiran dan keinginan penderita serta masyarakat di sekitar mereka,” sebutnya. Wabah menari mereda awal September 1518. Tak bisa dipastikan berapa korban meninggal. Sementara itu, wabah ini telah menyebabkan kekacauan dan huru-hara di beberapa kota di wilayah Kekaisaran Romawi Suci.*

  • Gerilyawan Tertolong Pohon Rambutan

    Setelah Belanda melancarkan agresi militer kedua, laskar rakyat di Sumatra Timur merapatkan barisan. Mereka sepakat untuk mengadakan perlawanan. Hari-H gerakan ditetapkan pada 29 Desember 1948 dengan sandi operasi: Melati. Pukul 20.00 malam, laskar rakyat bergerak. Secara serentak setiap sektor melakukan perlawanan. Laskar Gerindo dan Napindo adalah beberapa kelompok laskar yang terlibat. Hasil serangan dadakan itu cukup bikin Belanda kelimpungan sekaligus berang. Mesin pembangkit listrik pabrik Martoba di Pematang Siantar dirusak. Beberapa perkebunan teh di Martoba, Simbolon, Simpang Raya, Bahbutong, dan Marjanji dibakar. Kawat-kawat telepon di di Tanah Jawa, Pematang Raya, Kuala Namu, dan Tebing Tinggi diputus. Beberapa puluh hektare kebun tembakau yang sedang tumbuh subur di Deli Serdang dan Langkat pun tidak luput dari pengrusakan. “Perlawanan rakyat digerakkan serentak  di seluruh Sumatra Timur sesuai dengan jangkauan yang memungkinkan, mendapat reaksi tajam dam keras dari NEFIS (Satuan Dinas Intelijen Belanda),” tulis Tukidjan Pranoto dalam Tetes Embun di Bumi Simalungun . Untuk membalas aksi para gerilyawan, Belanda mengerahkan satuan polisi antigerilya bernama Troopen Intellegence Vor Gerilya (TIVG) yang dipimpin Mayor Van der Plank. Pasukan TIVG menguber beberapa pentolan laskar dari kampung ke kampung. Seturut dengan catatan Tukidjan, Hasan Zunaidi dan Kiyai Parman dari Gerindo tertangkap oleh TIVG dan kemudian ditembak mati. Sementara itu, beberapa anggota Napindo ditawan di Pematang Siantar.   Dalam pengejaran ke kampung Karang Anyer, Simalungun, TIVG memburu pentolan gerilyawan dari Laskar Napindo bernama Sarino. Tidak jauh dari rumah Sarino di dekat masjid Karang Anyer, Ishak Lubis, staf komando Napindo sedang berada di rumah salah seorang anggota Napindo. Disini dimulailah kisah aksi “menyelamatkan diri” itu. Ishak Lubis merasa terjebak begitu pasukan TIVG melakukan penggerebekan di kawasan rumah Sarino. Sadar berada dalam bahaya, Ishak Lubis buru-buru kabur dengan memanjat pohon rambutan di belakang rumah. Beberapa anggota TIVG memerhatikan Ishak Lubis yang sudah nongkrong di atas pohon. Tanpa sadar, Ishak Lubis langsung saja memetik rambutan lalu menawarkannya kepada serdadu Belanda di bawah sana. “Bapak mau?” sapa Ishak Lubis sembari menutupi rasa gemetarnya di atas pohon rambutan. “Iya,” sahut anggota TIVG. Begitu mendapat jawaban dari bawah, Ishak Lubis segera menjatuhkan beberapa tangkai rambutan kepada para pengejar laskar itu. Setelah mengambil rambutan, pasukan TIVG melanjutkan tugasnya. Mereka berhasil meringkus Sarino dan membawanya dengan mobil jip ke Pematang Siantar. Dengan tertangkapnya Sarino, penggerebekan dan pengejaran selesai, Pasukan TIVG itu pun kembali ke markasnya. Sementara itu, Ishak Lubis luput dari pencidukan.       “Ishak Lubis segera turun dan menemui pemilik rambutan dekat masjid itu, mengucapkan terimakasih dan selanjutnya dengan sepeda meninggalkan tempat itu,” demikian seperti dikisahkan Tukidjan.

  • Wabah Penyakit Mematikan di Banten dan Jawa Tengah

    Virus Corona atau Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemik. Wabah penyakit yang berasal dari Wuhan, China, itu kini telah menyebar di 157 negara per 16 Maret 2020. Di Indonesia tecatat 117 positif, 8 sembuh, dan 5 meninggal dunia. Sejarah telah mencatat, Indonesia tidak kebal terhadap wabah penyakit menular. Sebut saja flu Spanyol tahun 1918 telah membunuh 1,5 juta penduduk Indonesia. Jauh sebelumnya, pada abad ke-17, wabah penyakit menular juga melanda Jawa yang mengakibatkan kematian dalam jumlah besar. H.J. de Graaf, ahli Jawa kuno, dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, menyebut setelahSurabaya menyerah, tampak kemunduran dalam kegiatan militer Susuhunan (Sultan Agung). Kecuali disebabkan oleh perluasan keraton dan keletihan oleh kerja keras selama tahun-tahun sebelumnya, kemunduranini juga akibat penyakit menular. Dalam laporan ke Negeri Belanda tanggal 27 Oktober 1625 telah diberitakan bahwa rakyat mengalami cobaan berupa “kematian, peperangan, kelesuan, bahan makanan yang mahal, dan pajak yang berat di seluruh tanah Jawa”. Laporan itu menyebutkan penyakit menular itu mengakibatkan sepertiga penduduk di Banten meninggal dunia dalam lima bulan . Di Batavia ada beberapa anggota Kristen meninggal dunia karena penyakit ini. Di Cirebon dalam musim kemarau lebih dari 2.000 orang meninggal dunia. Di Kendal, Tegal, Jepara, dan semua tempat pantai sampai Surabaya, demikian pula di beberapa daerah pedalaman, orang yang meninggal dunia tidak dapat dihitung. De Graaf mencatat bahwa penyakit masih merajalela pada tahun 1626. Di banyak tempat dua pertiga dari penduduk tewas disebabkan penyakit yang luar biasa ini. Kematian juga karena kerjapaksa sehingga pertanian mengalami kemunduran besar, sawah-sawah yang subur menjadi gersang. Pada 1627, banyak penduduk meninggal dunia karena wabah penyakit dan perang saudara. Beberapa tempat perdagangan di pantai laut ditinggalkan, pertanian sangat mundur, dan yang selamat dari wabah penyakit menjalani hidup dalam kemiskinan. “Jadi, dapat disimpulkan bahwa tanah Jawa dari tahun 1625 sampai 1627 ditimpa oleh penyakit berat dan menular yang merongrong kesejahteraan dan kekuatan rakyat,” tulis De Graaf. Wabah penyakit apakah itu? De Graaf mengatakan bahwa“kebanyakan disebabkan oleh penyakit paru-paru yang membuat orang demikian sesak napas, sehingga dalam satu jam saja dapat meninggal.” Sejarawan Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin , menyebut “wabah radang paru-paru merupakan penyebab menular yang menakutkan di Jawa pada tahun 1625-1626. Penyakit dada yang mematikan dalam satu jam telah membunuh 1/3 penduduk Banten dan 2/3 di beberapa daerah di Jawa Tengah.” Sementara itu, sejarawan Claude Guillot menyebut dengan jelas penyakit itu adalah pes. “Menurunnya jumlah penduduk diperparah lagi dengan adanya wabah hebat penyakit pes tahun 1625 yang merenggut nyawa sepertiga jumlah penduduknya,” tulis Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII. Jumlah penduduk Kesultanan Banten antara 80.000 sampai 100.000 orang di pengujung abad ke-16, dan meningkat selama satu dasawarsa berikutnya sampai tahun 1609. Mulai tahun itu, jumlahnya mulai berkurang seiring pergantian pemerintahan yang mengekang kekuasaan para saudagar. Penurunan jumlah penduduk paling parah disebabkan oleh wabah pes. Sekitar tahun 1630, jumlah penduduknya menyusut drastis, kemungkinan besar tak lebih dari 50.000 orang. Menurut sejarawan Yuval Noah Harari dalam Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia , wabah paling terkenal yang dinamai Maut Hitam (Black Death) itu meletup pada dekade 1330, di suatu tempat di Asia timur atau tengah, ketika bakteri Yersinia pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu. Dari sana, dengan menumpang armada tikus dan kutu, wabah dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, Eropa, Afrika Utara, dan hanya dalam waktu kurang dari dua tahun mencapai pesisir-pesisir Samudra Atlantik. Antara 75 juta sampai 200 juta orang mati – lebih dari seperempat populasi Eurasia. Wabah pes di Jawa terjadi pada Pandemik Kedua. Pada tahun yang sama (1625) wabah menghancurkan London, Inggris, dan Amsterdam, Belanda; masing-masing kehilangan penduduk antara 10% sampai 30%. Dari sana, mungkin saja para pedagang membawa wabah itu masuk ke Banten, mengingat saat itu wilayah paling barat Pulau Jawa itu menjadi tempat perdagangan internasional, di mana beberapa negara asing memiliki kantor dagang (loji). Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Yuval bahwa kota-kota sibuk yang dihubungkan oleh arus tiada putus pedagang, pejabat, dan peziarah menjadi alas tumpuan peradaban manusia sekaligus menjadi lahan tumbuh ideal patogen (parasit yang mampu menimbulkan penyakit, red .). “Setelah kelaparan,” Yuval menyimpulkan, “musuh besar kedua kemanusiaan adalah wabah dan penyakit menular.”

  • Gas Pol Balapan F1 di Tengah Pandemi Virus

    AJANG Formula One (F1) Grand Prix Australia di Melbourne akhir pekan ini akhirnya dibatalkan. Dalam laman resminya, formula1.com , Jumat (13/3/2020), otoritas F1 meluluskan keputusan pembatalan itu setelah menggelar rapat terbatas bersama sembilan pimpinan tim peserta dan mayoritas menyatakan balapan lebih baik urung digelar gara-gara merebaknya COVID-19 atau virus corona. “Formula 1 dan FIA, dengan dukungan penuh Australian Grand Prix Corporation (AGPC) telah mengambil keputusan bahwa semua kegiatan Grand Prix Australia dibatalkan. Kami memahami ini kabar yang mengecewakan buat ribuan fans dan semua pemegang tiket akan menerima pengembalian pembayaran secara penuh,” demikian pernyataan otoritas FI. Sebelumnya, beberapa pembalap mengeluh dan khawatir mengingat wabah virus corona kian hari kian memuncak. Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pun sudah menyatakan COVID-19 bukan lagi wabah atau endemi, melainkan pandemi yang artinya sudah menyebar secara global dan di luar kendali. Satu di antara yang paling lantang mencemaskan “horor” virus corona itu adalah Lewis Hamilton, pembalap Inggris asal tim Mercedes. Ia merasa keamanan akan kesehatannya akan terancam jika otoritas F1 tetap menggelar seri Melbourne sebagai ajang balapan pembuka F1 musim 2020, akhir pekan ini, Minggu (15/3/2020). “Saya merasa sangat, sangat terkejut bahwa kita ada di sini, duduk di ruangan ini. Banyak fans yang datang terlepas seluruh dunia tengah bereaksi – yang mungkin sedikit terlambat. Tapi kita lihat (Presiden Amerika Serikat, Donald) Trump menutup perbatasan, NBA dihentikan, namun F1 jalan terus,” ujarnya dalam sesi konferensi pers, dikutip BBC , Rabu (11/3/2020). Otoritas F1 berjanji memberi refund penuh bagi para fans pemegang tiket F1 GP Australia yang terpaksa dibatalkan sebagai dampak pandemi COVID-19 (Foto: formula1.com ) Kala Hamilton protes, otoritas F1 masih tutup telinga, terlepas sebelumnya mereka sudah mencoret Grand Prix China yang di kalender F1 musim 2020 digelar 19 April mendatang. Mereka terpaksa mencoretnya lantaran di negeri Tirai Bambu itulah pandemi virus corona berasal. Pun dengan seri berikutnya, GP Bahrain (22 Maret), dan GP Vietnam (5 April) akhirnya ikut ditangguhkan. Otoritas F1 ujungnya membatalkan GP Australia, setelah seorang kru tim McLaren positif mengidap virus corona . Alhasil segenap tim McLaren diisolasi, termasuk dua pilot jet darat andalan mereka: Carlos Sainz dan Lando Norris. Pandemi Flu Asia Menerjang Lintasan Balap Dengan dihentikannya F1 GP Australia akibat ancaman virus corona, Lewis Hamilton dkk. mempersempit kemungkinan tertular virus sejenis influenza (flu) itu sebagaimana yang dialami para senior mereka 63 tahun lampau kala pandemi Flu Asia merambah secara global sebagaimana COVID-19 saat ini. Pandemi Flu Asia yang punya nama ilmiah virus Influenza A subtipe H2N2 itu mulai merambah dari China ke Asia Timur pada medio Februari 1957. Saat memasuki musim panas, virus itu mulai menerjang Eropa hingga Amerika Serikat. Hingga 1960, WHO mencatat jumlah korban meninggalnya mencapai dua juta jiwa di seluruh muka bumi. Di gelanggang F1, musim balapan 1957 tetap digulirkan seperti tak terjadi apa-apa. Alhasil, beberapa pembalap tertular Flu Asia. Utamanya, setelah GP Maroko di Sirkuit Ain-Diab, Casablanca, 27 Oktober 1957. Otoritas F1 seperti tak belajar dari bencana Flu Spanyol 1918, di mana tiga anggota keluarga Enzo Ferrari turut tertular. Dua di antaranya tinggal nama. “Ayahnya (Alfredo Ferrari) dan kakaknya (Alfredo Junior Ferrari) meninggal karena influenza pada 1916. Enzo Ferrari yang saat itu ikut bertugas di Resimen Artileri Gunung ke-3 pada Perang Dunia I melawan Jerman, juga hampir meninggal karena Flu Spanyol pada 1918,” tulis John Starkey dalam Ford versus Ferrari. F1 GP Maroko 1957 itu sejatinya merupakan ajang non-kompetitif, artinya tiada pembalap yang menjumput poin untuk mendongkrak posisi di klasemen. Ajang tersebut sebagaimana ajang-ajang non-kompetitif lain di sela-sela musim 1957, seperti GP Syracuse (7 April), GP Pau Grand (22 April), GP Napoli (28 April), GP Reims (14 Juli), GP Caen (28 Juli), dan GP Modena (22 September). Jean Behra (kanan) yang menjuarai F1 GP Maroko 1957 (Foto: Repro "Maserati 250F In Focus") GP Maroko digelar pada Oktober atau sebulan setelah GP Italia di Monza menutup musim kompetitif F1 1957. Namun otoritas F1 menggelarnya sebagai “pemanasan” sebelum GP Maroko masuk kalender resmi F1 di musim berikutnya, 1958. “Sayangnya sejumlah pembalap tertular Flu Asia, seperti Stirling Moss yang kemudian batal ikut start balapan. (Peter) Collins, (Juan Manuel) Fangio, (Mike) Hawthorn, dan (Harry Schell) turut jadi korban wabah influenza, dan meski mereka tetap balapan, tapi penampilan mereka off-form ,” ungkap Anthony Pritchard dalam Maserati 250F In Focus. Fangio, sang pemenang F1 musim 1957, saat itu memiloti kokpit Maserati, sebagaimana Schell. Sementara Collins dan Hawthorn membalap untuk tim Scuderia Ferrari. Adapun Moss, usai musim 1957 pindah dari Maserati ke tim Vanwall dan  membatalkan keikutsertaannya lantaran sakit parah sebelum hari-H balapan. Collins yang sudah mulai menampakkan gejala flu, masih sempat memimpin di lap-lap pertama. Namun enam lap berikutnya, mobilnya tergelincir hingga disalip Jean Behra (Maserati). Collins akhirnya harus menghentikan balapannya setelah mengalami masalah pada pistonnya. “Hawthorn yang mengendarai (Ferrari) versi 2,2 liter juga mulai terdampak sakit flu saat balapan, hingga kemudian terpaksa menyerah untuk menepi ke pit-stop ,” lanjut Pritchard. Sedangkan Schell dan Fangio masih mampu menyelesaikan balapan walau tak bisa mengerahkan kemampuan terbaiknya. Schell harus puas di posisi lima, sementara Fangio, sang jawara musim 1957, finis di posisi empat. Podium GP Maroko 1957 1-2-3 berturut-turut menjadi milik Behra, Stuart Lewis-Evans (Vanwall), dan Maurice Trintignant (BRM). Usai balapan dan seremoni podium, semua pembalap masuk ruang medis. Meski terjangkit Flu Asia, Moss, Hawthorn, Fangio, Collins, dan Schell beruntung bisa sembuh dalam beberapa pekan.

  • Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia

    Raja Belanda Willem-Alexander tiba di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/3). Bersama sang istri, Ratu Maxima, rombongan Kerajaan Belanda tiba sekira pukul 10.30 WIB. Raja dan Ratu Belanda disambut langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana. Pada kesempatan tersebut, Ratu Maxima menerima karangan bunga dari cucu presiden, Sedah Mirah. Mengutip pemberitaan yang dilansir oleh laman milik pemerintah Indonesia setkab.go.id , setelah diperdengarkan lagu kebangsaan kedua negara, presiden dan raja saling mengenalkan para menteri dan delegasi yang mendampingi kunjungan kenegaraan kali ini. Acara lalu dilanjut sesi foto bersama. Kemudian seluruh rombongan menuju beranda Istana Bogor untuk berbincang dan menyampaikan keterangan pers bersama. “Merupakan tanda yang sangat menjanjikan bahwa dua negara yang pernah berada di pihak yang berlawanan dapat menjalin hubungan yang semakin erat dan mengembangkan sebuah hubungan baru berdasarkan rasa hormat, saling percaya, dan persahabatan. Ikatan di antara kita semakin erat dan beragam. Ini sungguh menggembirakan saya,” ungkap Raja Willem. Sementara menurut presiden, Belanda merupakan salah satu mitra penting Indonesia di Eropa. Kedudukan negara itu cukup strategis di bidang perdagangan, investasi, dan pariswisata. “Di kawasan Eropa, Belanda merupakan mitra dagang Indonesia terbesar kedua, mitra investasi terbesar pertama, dan mitra pariwisata terbesar keempat. Saya menyambut baik kunjungan Sri Baginda yang juga disertai pengusaha Belanda dalam jumlah yang besar,” kata presiden. Rencananya rombongan kerajaan Belanda ini akan berada di Indonesia selama empat hari. Meski hanya memiliki waktu yang singkat, ia menyampaikan keinginannya mengenal lebih dalam Indonesia. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk bertemu dan berbicara dengan orang sebanyak mungkin,” imbuhnya. Kunjungan Raja Willem ini merupakan kunjungan ketiga penguasa Belanda ke Indonesia pasca proklmasi. Lantas kapan kunjungan pertama penguasa Belanda ke negeri ini? Kedatangan Ratu Bangsa Belanda diketahui pertama kali datang ke Indonesia pada 23 Januari 1595. Diceritakan sejarawan Universitas Leiden Femme Simon Gaastra dalam De Geschiedenis van de VOC , melalui delegasi dagang yang dipimpin Cornelis de Houtman, orang-orang Belanda berhasil mendaratkan kapal layarnya di Banten. Perjalanan itu menjadi pembuka bagi kehidupan baru bangsa Belanda di Hindia. Namun selama 350 tahun petualangan orang-orang Belanda, tidak pernah sekalipun raja ataupun ratu Belanda menginjakkan kakinya di tanah Hindia. Para penguasa dari Eropa bagian barat itu hanya mengandalkan seorang gubernur jenderal, serta menteri-menteri negeri jajahan sebagai kepanjangan tangan bagi segala keperluan mereka akan negeri yang sedang dijajahnya. Bahkan ketika tahun 1945 Republik Indonesia (RI) resmi berdiri, belum ada pemimpin Kerajaan Belanda yang bersedia hadir. Barulah pada masa kepemimpinan Ratu Juliana (1909-2004), Belanda mulai membuka diri kepada Indonesia. Dijelaskan Majalah Tempo 28 Agustus 1971, jalinan kerjasama antara Indonesia dan Belanda dimulai sejak 1966. Pemerintah Indonesia kala itu menerima bantuan dana sebesar 573.300 juta rupiah dari Belanda. Ratu Juliana dan Presiden Soeharto (Perpusatakaan Nasional Republik Indonesia) Hubungan keduanya semakin harimonis manakala rombongan Presiden Soeharto untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Belanda pada 1970. Lawatan kenegaraan tersebut menjadi salah satu momen terpenting dalam sejarah hubungan kedua negara. Sebagai balasan dari kunjungan itu, Ratu dan Raja Belanda pun datang ke Indonesia pada 26 Agustus 1971. “Permadani merah sehalus beludru dan bunga-bunga anggrek juga harus semerbak akan menyambut Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard pada saat pasangan tamu agung itu menginjakkan kaki di bumi Indonesia,” demikian menurut pemberitaan  Pikiran Rakjat 26 Agustus 1971. Pesawat jet Constellation DC-8 yang membawa Ratu dan Raja Belanda mendarat aman di Bandara Kemayoran pukul 13.00 WIB. Diberitakan Harian Kompas 27 Agustus 1971, ribuan orang datang memadati Kemayoran, termasuk para pejabat pemerintah dan pemuka agama yang hadir menyambut kedatangan Ratu Juliana. Presiden Soeharto bersama ibu negara menyambut langsung keduanya di kaki tangga pesawat. Putri Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti, kemudian menyerahkan sebuah karangan bunga kepada Ratu Juliana. Dari Kemayoran, rombongan bergerak ke Wisma Negara. Iring-iringan mobil yang dijaga begitu ketat tidak mengurangi antusiasme masyarakat untuk melihat Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Mereka yang sedari pagi sudah berkumpul akhirnya dapat menyaksikan secara langsung para penguasa Belanda itu menginjakkan kakinya di Indonesia. Ratu Juliana dan Presiden Soeharto (Wikimedia Commons) Di Istana Merdeka, acara dilanjutkan dengan pertemuan santai antara keluarga presiden dan rombongan ratu. Kemudian disusul acara saling tukar tanda mata sebagai kenang-kenangan atas kunjungan tersebut. Untuk Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard, Soeharto memberi empat gelang emas dan ukiran emas buatan Kendari, serta patung garuda buatan Bali. Sementara Belanda memberi benda-benda kristal sebagai hadiah. “Ini adalah untuk pertama kali seorang Ratu (Raja) yang juga memegang tampuk pimpinan pemerintahan dari Keluarga Oranje (Huis van Oranje) mengadakan kunjungan ke Indonesia, sejak hubungan Indonesia-Belanda hampir 375 tahun yang lalu,” tulis Pikiran Rakjat . “Baik kalangan resmi Belanda maupun Indonesia melihat kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia ini sebagai suatu peristiwa yang sangat penting dalam proses saling dekat mendekati dari kedua bangsa.” Safari Ratu Selama berada di Indonesia, Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard berkunjung ke banyak tempat. Keduanya pergi ke Kebun Raya dan Istana Bogor, Bandung, Kawah Tangkuban Parahu, Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Tampaksiring, Ubud, dan beberapa objek wisata di Bali. Selain tempat wisata, Ratu dan Raja Belanda juga mengunjungi tempat-tempat penampungan anak, rumah penyandang disabilitas, dan tempat-tempat sosial lainnya. Menurut Pikiran Rakjat 27 Agustus 1970, mereka bahkan menyempatkan waktu berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan Pemakaman Belanda di Menteng Pulo. Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard di Tangkuban Perahu, Jawa Barat ( fineartamerica.com ) Sebelum melanjutkan safari ke beberapa tempat di luar Jakarta, Jumat pagi, 27 Agustus 1970, pasangan Tamu Agung dari Belanda itu melakukan kunjungan ke Universitas Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Jakarta diperkenankan untuk hadir dan mendengarkan pidato dari sang ratu. Rektor bersama Dewan Mahasiswa UI kala itu menyambut kedatangan mereka setiba di kompleks kampus. “Jika kalian masih muda dan sudah tidak percaya pada hari-hari esok, itu tidak baik. Demikian pula, kalau kalian sudah lanjut usia, tapi tidak lagi percaya akan masa depan, itupun suatu kekeliruan,” ucap Ratu Juliana sebagimana diberitakan Harian Kompas 28 Agustus 1971. Rombongan ratu tiba di Bandung pukul 16.22 (29/08) dari Bogor. Mereka baru saja menyelesaikan kunjungan di Istana dan Kebun Raya Bogor. Di Bandung, ratu disambut oleh Walikota Bandung R. Otje Djunjunan dan Ketua DPRD Kodya Bandung Irawan Sarpingi. Keduanya mengenakan pakaian adat Sunda. Rombongan lalu diarahkan ke Kantor Gubernuran. Di Kantor Gubernuran, Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard menyaksikan pertunjukan tari dan pawai kesenian khas Priangan yang dibawakan oleh para seniman dari kabupaten-kabupaten di Jawa Barat. Ratu terlihat senang melihat berbagai sajian yang dipersiapkan pemerintah kota Bandung dan Gubernur Jawa Barat Solihin GP. Namun tidak sedikit masyarakat yang kecewa karena tidak sempat bertatap muka dengan rombongan tamu agung dari Belanda itu. “Masyarakat Bandung banyak yang kecewa karena ternyata Ratu Juliana tidak melewati jalan di mana mereka menunggu sejak siang. Sementara itu masyarakat yang berjejal di sepanjang jalan yang dilalui ratu juga banyak yang menyatakan rasa tidak puasnya karena mobil ratu dan rombongan dijalankan terlalu cepat,” tulis Pikiran Rakjat 30 Agustus 1970. Ketika berada di Bandung, ratu menyempatkan waktu mengunjungi Tangkuban Parahu di Subang, Jawa Barat. Keesokan harinya (30/08) rombongan Ratu Belanda sudah berada di Yogyakarta. Pesawat Jet Fokker dari Bandung yang membawa ratu diterima langsung Sri Sultan Hamengkubuwono di Bandara Adi Sucipto. Dari sana, rombongan langsung bergerak menuju Gedung Agung. Ratu Juliana di Bali ( spaarnestadphoto.nl ) Sama seperti di Jakarta dan Bandung, di Yogyakarta pun rakyat telah berkumpul di sepanjang jalan untuk memberi sambutan secara langsung kepada Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Malam harinya, jamuan makan telah disiapkan Sri Sultan di Gedung Kepatihan. Kemudian dilanjutkan dengan pameran pakaian pengantin khas keraton Yogyakarta dan Solo. “Selasa sore tamu negara beserta rombongan meninjau Candi Borobudur dan Selasa malam menyaksikan Sendra Tari Ramayana di Prambanan. Ratu Juliana akan berada di Yogyakarta hingga Rabu untuk kemudian meneruskan perjalanan ke Bali sebagai tahap terakhir kunjungan kenegaraan di Indonesia,” tulis  Pikiran Rakjat edisi 1 September 1971.

  • Repatriasi Artefak Indonesia dan Virus Dekolonisasi

    SUDAH 189 tahun keris milik Pangeran Diponegoro berada di Belanda. Kini, keris itu akhirnya dikembalikan pemerintah Kerajaan Belanda kepada Indonesia pada Selasa (3/3/2020) pagi waktu Den Haag. Penyerahan keris dilakukan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Ingrid van Engleshoven dan Direktur Nationaal Museum van Wereldculturen Stijn Schoonderwoerd kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja . Setelah itu keris Pangeran Diponegoro itu diserahkan lagi ke Museum Nasional, Kamis (5/5/2020). Keris itu sempat dinyatakan hilang hingga akhirnya ditemukan dan diidentifikasi tim riset Belanda. Pada 23-24 Februari 2020, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid bersama sejarawan Sri Margana dan Pemimpin Redaksi Historia Bonnie Triyana mengecek dan mengonfirmasi keris itu di Den Haag sebelum resmi diserahterimakan ke pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). “Jadi kita ke sana sebagai semacam tim yang diminta untuk melakukan review dan konfirmasi, apakah kesimpulan yang dibuat tim riset Belanda sudah benar atau tidak,” ujar Sri Margana kepada Historia. Baca juga: Hilang Ratusan Tahun, Keris Diponegoro Ditemukan di Belanda Bukan hanya sebilah keris kondang itu. Mereka juga menjajaki rencana repatriasi ribuan artefak Indonesia lainnya yang masih tersebar di sejumlah museum Belanda. Keris milik Pangeran Diponegoro yang dikembalikan Belanda ke Indonesia (Foto: rijksoverheid nl) Upaya repatriasi kali ini sedikit berbeda dari yang sudah digulirkan Desember 2019. Saat itu informasi sejarah sekira 1.500 benda yang dikembalikan Museum Nusantara di Delft belum semuanya terdata. Pasalnya pengembalian barang-barang itu berkaitan dengan gulung tikarnya museum tersebut. “Sesuai perundingan dengan pihak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, repatriasi nanti bukan semata-mata pengembalian. Tapi ada riset terlebih dulu untuk mendapatkan wawasan pengetahuan yang jelas. Baik itu asal-usul bendanya, sampai soal sebab-musabab benda itu bisa sampai di Belanda,” timpal Bonnie. Gegara Macron Wacana dan inisiasi repatriasi seabrek artefak Indonesia yang masih terebar di sejumlah museum, di antaranya Rijksmuseum di Amsterdam dan Nationaal Museum van Wereldculturen di Rotterdam, datang dari pemerintah Belanda. Gara-garanya wabah “virus” dekolonisasi yang dipicu pidato Presiden Prancis Emmanuel Macron di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017. Muncullah reaksi dari beberapa negara Eropa lainnya yang bertindak sebagai kolonialis di masa lalu. “Iya, wacana repatriasi kali ini datang dari Belanda karena di Eropa muncul banyak desakan mengenai repatriasi benda-benda budaya milik negara-negara koloni, baik itu Prancis, Inggris, Belanda,” lanjut Sri Margana. Baca juga: Belanda Kembalikan Ribuan Benda Bersejarah Macron mencetuskan isu dekolonisasi itu berlandaskan agenda membuka lembaran baru dalam hubungan internasional di kawasan Afrika. Salah satu poinnya adalah pernyataan bahwa benda-benda bersejarah Afrika sudah semestinya dikembalikan para mantan kolonialis. Macron pribadi menjanjikan Prancis mengembalikannya dalam jangka waktu lima tahun.  “Warisan Afrika tak boleh hanya eksis dalam koleksi-koleksi pribadi dan museum-museum Eropa. Warisan Afrika mestinya tidak hanya dipamerkan di Paris, namun juga di Dakar, Lagos, dan Cotonou. Pengembalian artefak-artefak ini akan jadi pekerjaan dan kemitraan ilmu pengetahuan dan museum yang besar,” cetus Macron dalam potongan pidatonya, dikutip situs pemerintah Prancis, Élysée , 28 November 2017. Dakar, Lagos, dan Cotonou merujuk pada kota-kota besar di Senegal, Nigeria, dan Benin. Tekanan terhadap negara-negara Eropa lain yang di masa lalu ongkang-ongkang kaki menguasai Afrika mengemuka. Terutama setelah pidato Macron dipublikasikan lebih luas oleh akademisi Senegal Felwine Sarr dan sejarawan Prancis Benedicte Savoy dalam artikel bertajuk “ Rapport Sur la Restitution du Patrimoine Culturel Africain ” pada 23 November 2018. Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) kala menggaungkan isu dekolonisasi di Universitas Ougadougou, Burkina Faso, 28 November 2017 (Foto: elysee.fr ) Beberapa reaksi positif bermunculan bak jamur di musim hujan. Jerman misalnya, yang menyimpan banyak artefak jarahan dari Namibia, Togo, Kamerun, hingga Tanzania. Pada awal 2019 Ethnologisches Museum Berlin membuka pintu kerjasama tim riset Tanzania dari Universitas Dar es Salaam dalam sebuah proyek berbagi pengetahuan sejarah. Belgia, tempat Musée Royal de I’Afrique Centrale di Tervuren memiliki banyak artefak asal Kongo, mulai berkenan membuka diri, meski belum menyatakan mau mengembalikan. Sebelumnya mayoritas dari sekira 180 ribu koleksi itu disimpan di gudang. Menyusul rampungnya renovasi museum pada Desember 2018, benda-benda asal Kongo itu mulai dipamerkan secara terbuka di ruangan-ruangan khusus. Portugal baru tahap pembahasan di parlemennya. Gagasan repatriasi dimunculkan pada 28 Januari 2020. Inggris memberikan reaksi berbeda. Banyak koleksi artefak asal Afrika Utara dan Afrika Timur tersebar di British Museum di London, Pitt Rivers Museum di Oxford, hingga Victoria & Albert Museum di London. Sayangnya Kementerian Kebudayaan Inggris menolak permintaan repatriasi dari negara-negara asal benda-benda itu. Baca juga: Sepuluh Benda Bersejarah Hasil Repatriasi dari Belanda Keengganan beberapa negara Eropa bisa dimaklumi. Tak serta-merta ingin mengklaim atau memiliki artefak-artefak itu. Namun juga ada kewaspadaan terkait rentannya pengawasan di negeri asal dan potensi lenyap di pasar gelap, sebagaimana juga dikhawatirkan Macron. “Di banyak negara Afrika, kadang para kurator lokal-lah yang mengatur perdagangan barang-barang bersejarah. Karenanya ini adalah pekerjaan besar dan tak boleh ada kelengahan sedikit pun. Karena kalau boleh saya mengatakan, warisan Anda adalah warisan kita semua sebagai warga dunia,” tandas Macron. Pintu Terbuka Belanda sendiri, selain mewacanakan repatriasi benda-benda budaya Nusantara, juga mengembalikan sebuah mahkota raja berbahan tembaga asal Ethiopia dari abad ke-18. Mahkota itu sebelumnya berada di tangan seorang pengungsi Ethiopia, Sirak Asfaw, yang mencari suaka di Belanda empat dekade silam. Asfaw mengaku menemukan mahkota itu di sebuah tas yang ditinggalkan salah satu tamu yang datang ke flat-nya pada 1998. Asfaw enggan segera mengembalikannya lantaran merasa rezim Ethiopia di masa itu justru akan menjualnya, bukan malah melestarikannya. Setelah rezim berganti, dia mengembalikannya ke negeri leluhurnya lewat bantuan Menteri Perdagangan Belanda Sigrid Kaag sebagai kepanjangan tangan pemerintah Belanda. “Senang akhirnya bisa melihat pengembalian mahkota kuno kepada Ethiopia setelah sempat dinyatakan hilang sejak 25 tahun lalu. Pemerintah Belanda mempromosikan perlindungan bagi warisan budaya dunia di bawah perjanjian UNESCO,” kicau Kaag di akun Twitter resminya, @SigridKaag, 20 Februari 2020. Belanda kembalikan mahkota kuno Ethiopia diwakili Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed (Foto: Twitter @SigridKaag) Baca juga: Kisah Benda-Benda Bersejarah Indonesia Dibawa ke Negeri Orang Langkah di atas merupakan salah satu kebijakan pintu terbuka Belanda untuk melakukan repatriasi lainnya, termasuk ribuan artefak Indonesia yang masih tercecer di Negeri Kincir Angin. Sayangnya, lanjut Sri Margono, justru pemerintah Indonesia cenderung pasif menanggapi isu yang sudah bergulir sejak 2017 itu. “Pada pengembalian keris Pangeran Diponegoro, Belanda sudah punya tim provenance research dan kita kemarin hanya mengonfirmasi. Ini menunjukkan ada kehati-hatian. Nah, Indonesia belum punya, kita baru mau menggagas tim itu,” tandas Sri Margana.

  • Wabah Virus Global yang Mengacaukan Sepakbola

    LIMA liga sepakbola paling kompetitif di dunia, Premier League (Liga Inggris), La Liga (Liga Spanyol), Ligue 1 (Liga Prancis), Serie A (Liga Italia), dan Bundesliga (Liga Jerman) turut terimbas bencana virus corona . Sejumlah laga Serie A malah terpaksa ditunda gegara meledaknya jumlah kasus positif terpapar wabah bernama lengkap Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) itu. Sebelumnya, otoritas sepakbola Inggris, Spanyol, Jerman, dan Prancis sekadar melayangkan kebijakan sejumlah laga dimainkan tanpa penonton. Namun yang terbaru, laga big match Arsenal vs Manchester City pada Rabu (11/3/2020) malam di Emirates Stadium, London, terpaksa ditunda. “Premier League menunda pertandingan kami dengan Manchester City pada Rabu malam sebagai langkah antisipasi,” kicau manajemen Arsenal di akun Twitter -nya, @Arsenal , Rabu (11/3/2020). Italia jadi negara keduadi dunia yang paling parah terpapar wabah corona setelah China, negara asal wabah. Perdana Menteri Giuseppe Conte sampai memberlakukan lockdown di seantero “Negeri Pizza” per 9 Maret 2020. Walhasil tidak hanya laga-laga kompetisi lokal, jadwal Liga Champions dan Europa League yang melibatkan tim-tim Italia dan ber- venue di Italia terpaksa ditunda. Virus corona yang kini menjadi wabah global juga berpotensi merecoki jadwal Euro 2020 yang bakal digelar di 12 kota di 12 negara danOlimpiade Tokyo 2020. Bencana ini seolah mengulang sejarah kala wabah Flu Spanyol mendera dunia 102 tahun lampau. Sepakbola dalam Terjangan Flu Spanyol Sampai sekarang belum ada penelitian yang bisa mengungkap di mana ground-zero Flu Spanyol yang terjadi pada 1918, tepatnya di fase terakhir Perang Dunia I (Februari-November 1918). Virus flunya begitu mematikan dan menyebar dengan cepat lantaran penularannya via udara. Mulanya virus itu menyerang tubuh manusia seperti flu biasa, namun lama-kelamaan penderitanya bakal mengalami pneumonia atau infeksi organ pernafasan yang menyebabkan kematian. Disebut Flu Spanyol karena saat itu sejumlah negara yang terlibat Perang Dunia I (Jerman, Prancis, Inggris, Amerika Serikat)menyensor semua informasi mengenai wabah itu agar tak diketahui publik, utamanya para serdadu yang berperang. Pengecualian hanya Spanyol, di mana negeri di Semenanjung Iberia itu jadi salah satu negara terparah yang terimbas dengan ratusan ribu orang tewas. Oleh karenanya publik global menyebutnya sebagai Flu Spanyol. Merebaknya Flu Spanyol di Spanyol turut meningkatkan keuntungan produsen-produsen disinfektan, Zotal salah satunya (Repro Clinical Infectious Diseases ). Di Spanyol, wabah itu sudah jadi sorotan publik sejak 22 Mei 1918. Dalam artikelnya di Clinical Infectious Diseases, Volume 47 , “The 1918 Spanish Flu in Spain”, Antoni Trilla, Guillem Trilla, dan Carolyn Daer menyebutkan, dari jutaan yang tertular, 260 ribu di antaranya meninggal. Raja SpanyolAlfonso XIII turut jadi satu dari sekian orang yang pertama tertular meski kemudian bisa pulih. Salah satu faktor meledaknya wabah di negeri itu tak lain lantaran sejumlah event sepakbola yang digilai publiknya tak dihentikan. Se lain liga-liga amatir di masing-masing wilayah (La Liga baru hadir 1929) , yang tak dihentikan adalah Copa del Rey alias Piala Raja. Pada edisi 1918, turnamen itu tetap bergulir dengan juaranya Real Unión , yang mengalahkan Madrid FC (kini Real Madrid) 2-0 di stadion Campo de O’Donnell. Para stakeholder sepakbola di Spanyol bukan berarti tutup mata terhadap Flu Spanyol yang mendera saudara-saudara mereka. Andrew McFarland mengungkapkandalam “Building a Mass Activity: Fandom, Class, and Business in Early Spanish Football” yang dimuat Football Fans Around the World, sejumlah klub menggelar laga-laga amal demi menggalang dana bantuan para korban Flu Spanyol. “Contoh terbaik diberikan Atlético de Madrid dan Athletic de Bilbao yang punya kegiatan rutin membantu masyarakat setempat selama wabah berlangsung. Bahkan Athletic de Bilbao beberapakali menggelar laga amal, di mana keuntungan yang didapat dijadikan dana bantuan untuk para keluarga korban di masa sulit itu,” tulis McFarland. Di Inggris Raya, termasuk Skotlandia dan Irlandia, pesatnya penularan Flu Spanyol terjadi seiring pulangnya para serdadu mereka dari palagan di Prancis usai Perang Dunia I. Di Inggris saja tercatat 228 ribu jiwa melayang dan jutaan lainnya positif terpapar, termasuk Perdana Menteri David Lloyd George yang kemudian bisa sembuh. Namun anehnya, sepakbola tidak hanya terus bergulir selama wabah berlangsung namun Inggris malah baru memulai kejuaraan profesional pertamanya. Jumlah peserta Football League First Division edisi ke-45 yang mulai naik level pro bahkan bertambah dari 20 menjadi 22 klub. “Piala FA juga dimulai kembali pada September 1919 dan (mungkin karena ketidaktahuan cara antisipasi dan mencegah Flu Spanyol), nyaris semua pertandingan penuh penonton. Sementara dalam sepakbola wanita, masalahnya lebih kompleks,” ungkap Tim Tate dalam Secret History of Women’s Football . Stadion Stamford Bridge tetap ramai penonton kala final FA Cup 1919-1920 yang dimenangi Aston Villa 1-0 atas Huddersfield Town. (Twitter @thecentretunnel/@GreatestCapital). Sedikit laporan mengenai siapasaja dari dunia sepakbola Inggris yang positif tertular Flu Spanyol, kecuali striker sayap Newcastle United Angus Douglas dan manajer klub Skotlandia Hibernian, Dan McMichael. Keduanya tewas karena Flu Spanyol. Douglas wafat pada 14 Desember 1918 dan McMichael meninggal pada Februari 1919. Di Amerika Latin, virus Flu Spanyol sudah mulai eksis sejak September 1918. Wabah itu dibawa para pelaut yang pulang ke Recife dari perantauan mereka di pesisir barat Afrika. Dengan cepat, wabah itu merambah ke kota-kota besar seperti Rio de Janeiro dan São Paulo. “Dari beberapa sumber disebutkan , kasus-kasus pertama Flu Spanyol di São Paulo berasal dari para pesepakbola amatir asal Rio yang mengunjungi kota (São Paulo). Para pemainnya jatuh sakit di São Paulo pada 9 Oktober, oleh karenanya mereka juga yang menyebarkan penyakitnya ke korban-korban lain di Hotel D’Oeste, di mana tim menginap,” singkap Liane Maria Bertucci dalam artikelnya, “Spanish Flu in Brazil: Searching for Causes during the Epidemic Horror” yang dimuat di The Spanish Influenza Pandemic of 1918-1919 . Puncaknya, sekira 65 persen populasi Brasil positif terpapar Flu Spanyol. Angkakematian di ibukota Brasil,Rio, saja mencapai lebih dari 14 ribu. Satu di antaranya menewarkan Presiden Brasil Francisco de Paula Rodrigues Alves. Bencana nasional itu memaksa otoritas Brasil menunda turnamen Campeonato Sudamericano de Football (kini Copa América) ketiga di tahun itu. Hajatan dengan sistem klasemenitu baru kembali dimainkan pada 1919 di Rio, yang diikuti empat negara: Brasil, Argentina, Uruguay, dan Cile. Copa América  1919 yang akhirnya digelar di Estádio das Laranjeiras di Rio setelah setahun sebelumnya harus ditunda gara-gara Flu Spanyol. (Twitter @ViejosEstadios). Tuan rumah Brasil memenanginya untuk kali pertama dengan catatan dua kali menang dan sekali imbang dalam tiga laga, plus unggul jumlah gol dari runner-up Uruguay meski sama-sama punya lima poin. Gelaran itu jadi hiburan tersendiri setelah Brasil dirundung duka akibat wabah Flu Spanyol yang berhasil mereka atasi. “Gejala Flu Spanyol di Brasil bisa berimbas pada kelainan telinga yang mendengung, kehilangan pendengara n , vertigo, serta kencing dan muntah darah. Pesatnya penyebaran penyakitnya begitu menakutkan,” ujar sejarawan Brasil Pedro Nava, dikutip Laura Spinney dalam Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How It Changed the World. Pada 1919,Brasil berhasil melaluinya lewat kampanye antisipasi penyebaran Flu Spanyol. Kampanyenya dimulai oleh Carlos Chagas lewat risetnya bersama Oswaldo Cruz Institute. Lewat restu Presiden Venceslau Brás, suksesor Presiden Rodrigues Alves, Chagas merombak birokrasi rumahsakit dan mendirikan lima rumahsakit darurat khusus Flu Spanyolserta 27 klinik serupa yang lebih kecil untuk mengkarantina para pengidap virus Flu Spanyol demi tak menyebarkannya lebih luas. Hasilnya, angka korban tewas berkurang.

  • Teror Van der Plank di Tanah Karo

    TANAH KARO, 5 Maret 1949, segerombolan pasukan Belanda pimpinan Mayor Van der Plank mengadakan gerakan ke daerah Empat Teran (Simpang Empat) . Begitu tiba di Kampung Sigarang-garang, mereka menyatroni beberapa rumah lalu membakarnya. Di tengah aksi intimidasi itu, sebanyak 5 penduduk diberondong peluru. Kelimanya ditembak mati karena tidak mau menunjukan tempat persembunyian gerilyawan Indonesia. “Kelima penduduk yang menjadi korban keganasan Van der Plank tersebut ialah Benih Karo-karo (kepala kampung yang diangkat oleh pemerintah RI), Katan, Menet, Maca, dan Pa Ngaku,” ujar saksi mata Sumbul Ginting, seperti dikutip Letkol (Purn.) A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area. Peristiwa penggerebekan berdarah yang terjadi di Kampung Sigarang-garang tadi bukan hanya terjadi sekali.  Sepanjang paruh pertama 1949, Van der Plank melancarkan serentetan teror ke berbagai kampung di Tanah Karo. Van der Plank memimpin satuan polisi antigerilya (Troopen Intellegence Vor Gerilya/TIVG) yang bertugas memburu pejuang Republik. Namun dalam menjalankan tugasnya, pasukan Van der Plank kerap menyertakan tindakan brutal. Di beberapa tempat, mereka menjarah dan membakar kampung yang disambangi hingga membunuh warga setempat. Berkunjung dan Mengeksekusi Sebulan sebelumnya, tepatnya 18 Februari 1949, Van der Plank menyambangi Kampung Batukarang. Di sana, pasukan Van der Plank mengancam penduduk. Bahkan, seturut dengan catatan harian Djamin Gintings, Komandan Resimen IV Divisi X,beberapa warga ada yang ditembak mati di hadapan seluruh penghuni kampung. Menurut Djamin Gintings, Van der Plank kian beringas seiring dengan pukulan yang dilancarkan pejuang Republik. Dalam memberikan reaksi atas serangan-serangan gerilya pasukan Indonesia, Van der Plank melampiaskannya kepada rakyat. Bukan sekedar mengancam, tapi untuk menanamkan rasa takut nan mencekam Van der Plank tidak segan menembak penduduk.   “Semakin hebat gerakan pasukan kita, Van der Plank pun rupanya semakin mengganas,” tulis Djamin Gintings dalam catatan hariannya berjudul Bukit Kadir yang dibukukan pada 1964. Van der Plank selalu punya kecurigaan bahwa penduduk kampung melindungi ekstrimis Indonesia. Oleh karena itu, untuk membongkar pertahanan rakyat, dia menebar teror lewat aksi semena-mena. Selain itu, sekitar Februari – Maret 1949, Van der Plank menyerukan sayembara: “bahwa setiap anggota intelijen Belanda (NEFIS)  yang dapat menangkap pejuang Republiken diberikan hadiah uang sebesar 1000-50.000 gulden per orang.”  Dengan taktik demikian, Van der Plank dapat memburu gerilyawan dan rakyat pro Republik dengan sekali tebas.    “Banyak anggota-anggota gerakan ditangkap dari desa satu ke desa lainnya oleh TIVG dibawah pimpinan Mayor Van der Plank yang keji itu,” tulis Tukidjan Pranoto dalam Tetes Embun di Bumi Simalungun. Van der Plank “Cuci Tangan” Pada 9 Juni 1949, Van der Plank menggerakan pasukannya dari Kabanjahe ke kampung Kandibata. Tidak seperti biasanya, waktu yang dipilih Van der Plank justru pada saat ramainya penduduk yang pulang dari sawah dan ladang. Setibanya di Kandibata, pasukan Van der Plank beraksi dengan mengepung dan menggerebek beberapa rumah. Beberapa penduduk ditangkap dan dibariskan.  Sebanyak 45 warga Kandibata diinterogasi dengan menayakan nama masing-masing. Dari semuanya hanya 3 orang yang diperintahkan keluar dari barisan. Begitu mereka menyisihkan diri, Van der Plank segera menembaknya hingga mati. Salah seorang yang rebah di tangan Van der Plank itu ialah Selat Purba yang merupakan ayah dari Letnan Riswan Purba. Sementara itu, dua orang lainnya bernama Lenggur Ginting dan Jagut Surbakti. Keduanya merupakan tukang penyadap enau yang sering memberikan air niranya kepada pejuang gerilya TNI Sektor III pimpinan Mayor Selamat Ginting.      Ketika pasukan Van der Plank hendak meninggalkan Kandibata, Van der Plank kembali melontarkan ancaman, “Kalau masih ada penduduk yang membantu gerilya TNI, maka semua penduduk kampung ini akan ditembak mati,” catat Surbakti. Aksi semena-semana Van der Plank mereda jelang persiapan Konferensi Meja Bundar (KMB). Saat itu, kesepakatan gencatan senjata sudah efektif untuk melaksanakan local joint commitee pada Agustus 1949 di Medan. Perundingan di tingkat lokal antara pihak Indonesia dan Belanda diawasi oleh  UNCI, pihak ketiga yang berasal dari Komisi Jasa Baik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Makanya, TIVG yang berada di bawah komando Van der Plank pun tidak berani lagi berlaku semena-mena terhadap rakyat sipil.   Ketika berlangsung local joint commite itulah Letkol Djamin Gintings yang mewakili Tanah Karo untuk kali pertama bersua dengan Van der Plank. Di sela-sela perundingan, Van der Plank sengaja menemui Djamin Gintings yang menginap di Hotel Langkat. Djamin Gintings mengenang sosok Van der Plank sebagai pemilik postur tinggi dan tegap. Van der Plank berusaha menyelamatkan diri sehubungan dengan citra busuknya sebagai penyiksa dan pembunuh sejumlah penduduk di beberapa kampung.     Kepada Djamin Gintings, Van der Plank mengklarifikasi bahwa sebenarnya bukan dia yang menangkapi dan menyiksa atau membunuh penduduk sipil, tetapi itu semua perbuatan pimpinan tentara Belanda yang lain. "(Soal) kebenaran ceritanya hanya dia yang tahu,” ujar Djamin Gintings.

  • Benda-Benda Peninggalan Pangeran Diponegoro

    PEMERINTAH Belanda telah resmi mengembalikan keris pusaka Kiai Nogo Silumanmilik Pangeran Diponegoro ke Indonesia. Keris tersebut dibawa Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diserahkan kepada Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto pada Kamis, 5 Maret 2020. Keris Kiai Nogo Siluman sempat dinyatakan hilang. Melalui riset bertahun-tahun, keris ini akhirnya bisa ditemukan, diidentifikasi, dan dipulangkan ke Indonesia. Pulangnya keris Kiai Nogo Silumanmendapat apresiasi dari banyak pihak. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan pemerintah akan memberikan kesempatan kepada publik untuk ikut menikmati kebahagiaan ini. “Kami sangat berterimakasih dan berharap pihak Museum Nasional menjaga pusaka ini, betul-betul memastikan keamanan seluruh benda berharga ini,” katanya. Keris Kiai Nogo Silumanmelengkapi koleksi benda-benda sang pangeran Jawa yang saat ini tersebar di beberapa tempat di Indonesia –dua di antaranya tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Berikut benda-benda milik Pangeran Diponegoro yang digunakan semasa hidupnya. Tombak Kiai Rondhan Tombak Kiai Rondhan. (Koleksi Museum Nasional). Sejarawan Peter Carey menyebut tombak Kiai Rondhan menjadi pusaka yang dipercaya Diponegoro mampu melindunginya dari bala. Kehilangan benda tersebut memberinya isyarat timbul kesulitan dan bahaya. Buktinya, setelah tombak itu tak lagi di sisi Diponegoro, percobaan penangkapan atas dirinya kian gencar dilakukan pasukan Belanda. Tombak Kiai Rondhan hilang pada 11 November 1829, tepat di hari ulang tahun ke-44 Diponegoro. Diceritakan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan: Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 , Diponegoro disergap pasukan gerak cepat ke-11 pimpinan Mayor A.V. Michiels di pegunungan Gowong, sebelah barat Kedu, Jawa Tengah. Diponegoro bersama pengikutnya hampir tertangkap, namun berhasil lolos dengan meninggalkan luka di kakinya. Situasi panik membuat beberapa barang miliknya tertinggal: beberapa ekor kuda, tombak pusaka Kiai Rondhan, dan peti pakaian. Dia tak mungkin kembali untuk mengambilnya. Bersama kedua punakawannya, Batengwareng dan Roto, Diponegoro memilih mengembara di hutan-hutan wilayah Bagelen barat. “Hilangnya benda itu sangat berpengaruh terhadap dirinya dan ia menganggapnya sebagai suatu tanda dari Yang Maha Kuasa,” ujar Carey. Tombak Kiai Rondhan dibuat di Yogyakarta pada abad ke-19. Pusaka ini memiliki panjang 98 cm dan diameter 3,2 cm. Batangnya berbahan kayu, berbentuk silinder yang mengecil hingga ke leher tombak. Terdapat lempengan emas melingkar yang memisahkan bahan kayu dan lilitan kawat sampai ke leher tombak. Antara bagian batang dan mata tombak terdapat ukiran dengan balutan emas dan dua batu mulia (semula empat buah). Bilah tombak berbentuk segitiga dengan bahas besi. Tombak Kiai Rondhan menjadi salah satu “hadiah kemenangan” yang dibawa Kolonel Jan-Baptist Cleerens untuk diberikan kepada Raja Willem I. Pada 1976, saat lawatan Ratu Julian ke Indonesia, tombak itu dikembalikan. Kini, pusaka tersebut tersimpan di Museum Nasional lt 4, koleksi emas dan keramik. Keris Kiai Ageng Bondoyudo Tombak Kiai Bondoyudo dalam lukisan Diponegoro karya A.J. Bik ( geheugen.delpher.nl ) Keris Kiai Ageng Bondoyudo disebut-sebut sebagai pusaka paling favorit Pangeran Diponegoro. Keris ini bahkan menemani sang pangeran ke liang lahatnya. Peter Carey mengartikan Kiai Ageng Bondoyudo sebagai “Paduka Tempur Tanpa Senjata”. Namun dalam alam mistis Jawa, Kiai Bondoyudo adalah penguasa semua roh di Cilacap yang putrinya menikah dengan roh lelaki dari keraton Ratu Kidul. Menurut Babad Diponegoro , keris Kiai Ageng Bondoyudo dibuat dengan melebur tiga pusaka lain: keris Kiai Sarutomo, keris Kiai Abijoyo, dan tombak Kiai Barutobo. Keris Kiai Sarutomo diperoleh dari Ratu Kidul ketika Diponegoro bersemedi di Cepuri Parangkusumo. Menurut K.H. Muhammad Sholikhin dalam Kanjeng Ratu Kidul dalam Perspektif Islam Jawa, Ratu Kidul mengingatkan Diponegoro agar tak menerima jabatan apapun yang diberikan Belanda. “Setelah suara itu hilang, jatuhlah sinar dari langit ke depan Pangeran Diponegoro. Ternyata sinar putih itu membawa senjata cundrik. Pusaka itu diberi nama Sarotama (Sarutomo). Dengan cundrik inilah, semangat Pangeran Diponegoro semakin membara,” tulis Sholikhin. Keris Kiai Abijoyo adalah warisan dari ayah Diponegoro tatkala dirinya diangkat menjadi Raden Ontowirjo pada September 1805. Sedangkan tombak Kiai Barutobo dibawa Ngusman Ali Basah, panglima resimen pengawal pribadinya, Bulkio. Diponogoro membawa keris Kiai Ageng Bondoyudo ke pengasingan di Manado kemudian Makassar. Berdasar lukisan Diponegoro karya A.J. Bik, yang dibuat tahun 1830 di Batavia, terlihat sang pangeran membawa serta keris Kiai Ageng Bondoyudo di pinggangnya. Informasi tentang keris ini juga tercatat dalam jurnal perwira Jerman kelahiran Luxemburg yang menemaninya ke pengasingan, Justus Heinrich Knoerle (1796-1833). “Sore ini (27-5-1830) pukul enam Diponegoro menyerahkan kepada saya sebilah keris yang indah dan mahal sambil mengatakan: ‘Lihat inilah pusaka ayah saya, yang sekarang menjadi sahabat Allah, keris ini telah menjadi pusaka selama bertahun-tahun. Ketika ayah saya, Sultan Raja (Hamengkubuwono III) bermaksud menyerahkannya (sebagai) tanda ketaatan kepada Marsekal (Daendels), dia memberikan keris yang sama kepadanya. Marsekal mengembalikan keris itu karena dia tahu keris itu adalah pusaka keramat dan bahwa ayah saya adalah sahabat sejati Belanda’.” Keris yang dibuat pada tahun kedua Perang Jawa ini lebih sebagai jimat dibandingkan senjata tempur. Pelana Kuda Kiai Gentayu Pelana Kuda ( museumnasional.or.id ) Pelana kuda milik Diponegoro tertinggal bersama kuda tunggangannya saat upaya pelarian di wilayah pegunungan Gowong. Dudukan bagi para penunggang kuda ini, kata Peter Carey, digunakan Diponegoro selama masa Perang Jawa. Sementara sumber lain menuturkan pelana kuda tersebut tidak hanya digunakan saat masa perang tapi juga dalam kesehariannya. Pelana kuda Kiai Gentayu menjadi satu dari dua bukti kemenangan Belanda di Jawa. Bersama tombak Kiai Romdhan, pelana ini dibawa sebagai hadiah bagi penguasa Belanda. Kedua pusaka, ditambah keris Kiai Nogo Siluman, disimpan di bagian barang antik di istana Den Haag. Pelukis kenamaan Raden Saleh pernah melihat dan diminta untuk memberi deskripsi bagi benda-benda tersebut. Pelana ini kemudian dipindah ke Museum Veteran Tentara Belanda di Bronbeek, Arnhem. Di bawah ketentuan “Cultural Accord” yang ditandatangani tahun 1969, pelana kuda Kiai Gentayu dan tombak Kiai Rondhan dikembalikan ke Indonesia pada 1976. Kini tersimpan di ruangan yang sama dengan tombak Kiai Rondhan. Menurut informasi yang tertulis dalam buku terbitan Museum Nasional, Treasures of the National Museum Jakarta , bahan dasar pelana adalah kulit, kain, dan besi pada bagian pijakan kaki. Dudukan pelana terbuat dari kain berlapis dengan ukuran panjang 80 cm dan lebar 68 cm. Pada bagian depan dudukan kain terdapat kantong kecil berukuran kurang lebih 10 cm. Peti Pakaian Menurut Wardiman Djojonegoro dalam Sejarah Singkat Diponegoro, peti pakaian ini ikut tertinggal bersama dua benda lainnya, tombak dan pelana kuda. Selama masa pelariannya, Diponegoro membawa beberapa potong pakaian yang tersimpan di dalam sebuah peti. Peter Carey menyebut pakaian-pakaian yang dibawa oleh Diponegoro itu sebagai: “pakaian suci untuk perang”. Dari lukisan yang dibuat Raden Saleh berjudul “Penangkapan Pemimpin Jawa Diponegoro” (1857), dapat diketahui pakaian yang digunakan sang Pangerang. Di sana terlihat Diponegoro memakai pakaian berlapis. Terdapat sorban, jubah, lilitan kain di pinggang untuk menyimpan senjata, celana, dan lapisan kain lainnya. Namun bagi Mayor A.V. Michiels, komandan gerak cepat pasukan Belanda, isi di dalam peti pakaian tak terlalu berharga. Benda-benda itu tak bisa menjadi persembahan bagi kerajaan Belanda. “Bukan suatu kumpulan pakaian yang mengesankan,” ujar Michiels. Keris Kiai Abijoyo Keris Kiai Abijoyo diwariskan oleh ayahnya, Sultan Hamengkubuwono II, saat Diponegoro menginjak usia dewasa. Ketika itu Diponegoro mendapat gelar Raden Ontowirjo, sebagai tanda kesiapannya memerintah kerajaan. “Dia telah mewarisi juga sebilah keris, Kiai Abijoyo, dari ayahnya, barangkali tatkala ia diangkat sebagai Raden Ontowiryo pada September 1805,” tulis Carey. Menurut Carey, Diponegoro sadar bahwa keris pemberian ayahnya itu menjadi bukti bahwa dia sepenuhnya bertanggung jawa atas tugas, serta bukti kekuasaan ganda berupa Ratu Tanah Jawa (Raja Jawa) dan sebagai seorang prajurit di tanah kelahirannya. Keris Kiai Abijoyo merupakan satu dari tiga keris yang dilebur Diponegoro untuk membuat keris Kiai Kiai AgengBondoyudo. Pusaka Lain Pangeran Diponegoro memiliki koleksi besar senjata pusaka berupa keris dan tombak. Sebagian besar dibagi-bagikan kepada anggota keluarga dekatnya. Terutama putra dan putri dari sejumlah pernikahannya. Diponegoro memberikan keris Kiai Bromo Kedali (cundrik) dan tombak Kiai Rondan kepada Pangeran Diponegoro II; keris Kiai Habit (Abijoyo?) dan tombak Kiai Gagasono kepada Raden Mas Joned; serta keris Kiai Blabar dan tombak Kiai Mundingwangi kepada Raden Mas Raib. Keris Kiai Wreso Gemilar dan tombak Kiai Tejo diberikan kepada Raden Ayu Mertonegoro; keris Kiai Hatim dan tombak Kiai Simo kepada Raden Ayu Joyokusumo, tombak Kiai Dipoyono kepada Raden Ajeng Impunl, serta tombak Kiai Bandung kepada Raden Ajeng Munteng. Peter Carey mencatat, berdasarkan babad Keraton Yogyakarta, Diponegoro juga memiliki sebilah keris pusaka keraton, Kiai Wiso Bintul. Namun Ratu Ageng, ibu Hamengkubuwono IV, memintanya karena ada ramalan yang mengatakan: barang siapa memiliki keris itu akan memerintah di Yogyakarta.

  • Kubangan Darah Korban Pasukan Khusus Belanda

    SUATU hari di tahun 1947. Pagi baru saja menyeruak di Kalibunder, Sukabumi Selatan kala sekelompok prajurit Belanda dari unit DST (Depot Pasukan Khusus) bermunculan dari sudut-sudut desa. Serdadu-serdadu berbaret hijau itu tengah memburu gerilyawan Republik yang beberapa jam sebelumnya telah melakukan penghadangan terhadap konvoi mereka. Tak menemukan orang-orang bersenjata, para serdadu itu malah menangkapi rakyat sipil. Salah satunya adalah Sahi. Bersama 3 warga Kalibunder lainnya, lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu kemudian dibawa ke pos DST di Nyalindung. “Setelah ditahan beberapa hari di Nyalindung, saya tidak tahu lagi nasib ayah saya,” ungkap Achmad Khumaedi (85), putra dari Sahi. Belakangan, Khumaedi mengetahui dari keterangan orang-orang Takokak bahwa sang ayah dan kawan-kawannya ditembak mati oleh militer Belanda di kawasan Ciwangi. Tubuh mereka dikuburkan dalam satu lubang dan baru dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri puluhan tahun kemudian ketika dia mendapat kepastian bahwa tulang belulang yang ditemukan para penduduk dekat pabrik teh Ciwangi adalah ayahnya. “Saya yakin itu ayah saya, karena saya masih mengenal gesper dan cincin yang dikenakannya,” ujar Khumaedi. Sahi hanya salah satu dari ribuan korban keganasan DST (sejak Januari 1948 berubah nama menjadi Komando Speciale Troepen, disingkat KST). Selain di wilayah Ciwangi dan Takokak, antara tahun 1946—1949, unit yang dipimpin oleh Si Turki (julukan untuk Kapten R.P.P. Westerling) pun pernah meninggalkan jejak berdarah juga di kawasan lain. Berikut beberapa tempat yang pernah menjadi kubangan darah akibat keganasan KST: Sulawesi Selatan Sumber-sumber sejarah dari pihak Indonesia kerap menyebut angka 40.000 sebagai jumlah korban keganasan lasykar Si Turki di Sulawesi Selatan pada Desember 1946—Januari 1947. Selain pembunuhan, mereka pun melakukan berbagai aksi pemerkosaan sebagai salah satu metode kontra gerilya. Almarhum Maulwi Saelan (veteran pejuang Sulawesi Selatan) menjadi saksi atas kekejaman serdadu Baret Hijau itu. Salah satu rekan seperjuangannya Kapten Andi Abubakar, komandan Bataliyon I Resimen III Divisi Hasanuddin, bahkan dipenggal kepalanya oleh DST. Padahal sang kapten sedang ada dalam status sebagai tawanan dan kondisinya tengah terluka. “Mereka mempertontonkan kepala Kapten Andi di tengah Pasar Enrengkang untuk melemahkan semangat perjuangan pemuda setempat,” ujar Maulwi. Westerling sendiri tak pernah mengakui pasukannya membunuh 40.000 orang. Dalam biografinya De Eenling (Sang Penyendiri), dia hanya mengakui jumlah pembantaian itu tidak sampai 10.000 orang. Rawagede Pada 9 Desember 1947 militer Belanda meyerbu Desa Rawagede (sekarang bernama Balongsari) di Karawang. Mereka yang terlibat dalam penyerbuan itu adalah Yon 3-9-RI Divisie 7 December, sebagian kecil prajurit 1e Para Compagnie dan 12 Genie Veld Compagnie pimpinan Mayor Alphons J.H. Wijnen. Menurut surat kabar Berita Indonesia edisi 15 Desember 1947, Insiden Rawagede diawali oleh kejadian pada 3 Desember 1947. Ketika itu, seorang putra dari agen MID (Dinas Intelijen Militer Belanda) yang berkebangsaan pribumi ditangkap dan disiksa di suatu rumah kosong yang terletak di Rawagede. Namun ia berhasil meloloskan diri dan melaporkan kejadian yang menimpanya kepada sang ayah. Dalam laporan itu disebutkan pula bahwa di Rawagede terdapat konsentrasi satu pasukan besar dari kaum Republik. Bersama seorang kawannya, agen MID yang tak disebut namanya itu lantas melaporkan informasi tersebut ke pihak militer Belanda di Karawang. Maka dikirimlah satu pasukan besar di bawah pimpinan Mayor Alphons. Di dalam pasukan itu ikut serta pula dua unit dari DST. “Diduga mereka adalah bekas algojo-algojo dari Sulawesi Selatan,” tulis wartawan  Berita Indonesia . Apa yang dicurigai oleh pihak militer Belanda tak sepenuhnya salah. Menurut Kastal, di Rawagede memang ada terkonsentrasi pasukan Republik dari TNI dan lasykar. “Di Rawagede, ada markas Hizbullah, markas Barisan Banteng, markas Pesindo dan sekelompok kecil TNI dari Madiun,” ungkap eks komandan regu Hizbullah Rawagede itu. Namun kekuatan-kekuatan bersenjata itu hanya sebagian kecil dari penghuni Rawagede. Alih-alih menjadi markas besar, mayoritas penghuni Rawagede adalah petani. Maka tak aneh, jika korban terbesar dari operasi pembersihan yang dilakukan Mayor Alphons dan anak buahnya adalah mereka. Ketika bertemu dengan Telan dan Kastal, saya sempat menyebut satu persatu nama-nama korban Pembantaian Rawagede yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Sampurnaraga, Rawagede. Mereka memastikan dari 181 nama itu, hanya 15 orang yang diyakini sebagai anggota lasykar dan TNI. Sisanya adalah penduduk sipil termasuk seorang lelaki gila. Pihak Yayasan Rawagede sendiri mengklaim jumlah korban tewas dalam pembantaian itu sebenarnya lebih banyak yakni 431 orang. Itu tentu saja jauh lebih besar dibanding versi pihak Belanda yang hanya mengakui korban ulah tentaranya di Rawagede hanya 150 orang saja. Takokak Nama Takokak mungkin masih asing bagi para peneliti kejahatan perang Belanda di Indonesia. Namun jika anda ke sana, deretan 68 makam  di Taman Makam Pahlawan Cigunung Putri seolah menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pasukan Baret Hijau pimpinan Westerling bernah menebar maut di kawasan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur itu. Syahdan antara 1947-1949, militer Belanda kerap menghabisi para tawanan perang di Takokak. Mereka merupakan orang-orang yang ditangkap di wilayah Sukabumi dan Cianjur dan dihukum mati tanpa melalui suatu pengadilan yang jelas. Salah satunya adalah Sahi, ayah dari Achmad Khumaedi. “Yang menjalankan hukuman mati itu pasukan Belanda baret hijau pimpinan Si Werling (mungkin maksudnya Westerling),” ungkap Atjep Abidien (95), salah satu eks pejuang Indonesia di Takokak. Berapa jumlah pasti orang-orang sipil yang menjadi korban pembantaian oleh militer Belanda di Takokak? Hingga kini, belum ada informasi pasti soal tersebut. Namun para saksi sejarah yakin bahwa jumlah sebenarnya bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan orang . “68 kerangka yang dimakamkan di Cigunung Putri itu baru yang berasal dari Puncak Bungah, dari tempat-tempat lainnya kan belum digali,” ungkap Atjep. Rengat Rabu pagi, 5 Januari 1949. Rengat diserang militer Belanda. Setelah lebih dari 5 jam pesawat-pesawat pembom mereka menghujani kota  yang terletak di Riau tersebut, 7 Dakota lantas menerjunkan 180 prajurit KST. Aksi militer yang bertajuk Mud Operation (Operasi Lumpur) itu dipimpin oleh Letnan Rudy de Mey, seorang perwira pertama KST yang sangat dekat dengan Westerling. Begitu menjejakan kaki di tanah dan rawa, para prajurit KST langsung merangsek dan menguasai titik-titik penting di Rengat. Meskipun awalnya mereka harus terlebih dahulu menghadapi perlawanan sengit pasukan TNI dari Batalyon III Resimen ke-4 Divisi IX Banteng Sumatera. Demikian menurut J.A. de Moor dalam Westerling's Oorlog (Perang Westerling). Setelah tak menemukan lagi perlawanan, pasukan KST melakukan pembersihan besar-besaran. Mereka memburu para prajurit TNI dan rakyat sipil yang bersembunyi di parit-parit sungai lalu membantainya tanpa ampun. Seorang saksi bernama Wasman Rads berkisah bagaimana para prajurit KST menjejerkan para penduduk di bantaran Sungai Indragiri lalu menembak mati mereka seketika. “Air sungai yang keruh berubah menjadi kemerah-merahan (karena darah yang mengalir dari banyak tubuh korban),” ungkap Wasman seperti dikutip oleh Tim Penyusun buku Peristiwa 5 Januari 1949 di Kota Rengat Indragiri Riau suntingan Suwardi. Dalam catatan pihak Indonesia (berdasarkan keterangan di tembok prasasti peringatan Tragedi Rengat), korban tentara dan rakyat sipil yang tewas adalah 1500 orang. Namun yang teridentifikasi namanya hanya 186 orang. Pihak Belanda sendiri hanya mengakui korban tewas 270 orang. Menurut peneliti sejarah asal Belanda Anne Lot Hoek, kendati diakui oleh pihak Belanda, namun besar kemungkinan mereka menganggap banjir darah di Rengat sebagai “pembunuhan di antara sesama orang Indonesia.” Itu mengacu kepada banyaknya prajurit KST yang terlibat berasal dari Ambon. Surakarta Kamis, 11 Agustus 1949. Gencatan senjata sebenarnya sudah diberlakukan antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Namun di Surakarta (Solo), pemberlakuan itu seolah tak ada pengaruhnya. Itu dibuktikan dengan ditembak matinya seorang prajurit TNI bernama Samto oleh KST pada pukul 04.00. Penembakan itu memicu kembali pertempuran kota antara kedua pihak. TNI yang merasa dicurangi lalu membalas dengan suatu serangan yang membuat beberapa prajurit Baret Hijau itu terluka. Jatuhnya korban di pihak KST menjadikan mereka berlaku membabi-buta. Bukan hanya TNI, semua yang berbau Republik mereka hantam tanpa ampun. Begitu matahari terbit, dari basis mereka di benteng Vastenbrug, pasukan KST langsung bergerak ke rumah dr. Podmonegoro di Kampung Gading yang merupakan pos darurat milik PMI. Sesampai di sana, mereka mengobrak-abrik serta menyembelih tujuh petugas PMI dan 14 pengungsi yang tengah menjalani perawatan. “Setelah mengamuk di Gading, mereka melakukan pembantaian juga di Kampung Kratonan dan Jayengan,” demikian menurut Tim Panitia Monumen Perjoangan Surakarta dalam Pasukan Greencap Membantai Rakyat . Sementara itu, dalam waktu yang sama kelompok baret hijau lainnya menebar maut di Kampung Kebonan. Mereka menahan 22 penduduk sipil di sebuah rumah, menelanjanginya lantas menyembelih sembilan orang di antaranya. Salah seorang tawanan berhasil kabur dan melaporkan kejadian tersebut ke pos TNI terdekat. “TNI lantas melakukan pengejaran dan penyergapan, pertempuran pun berlangsung seru dengan akhir mundurnya pasukan Baret Hijau kembali ke basis mereka di Benteng,” demikian menurut buku  Pertempuran Empat Hari di Solo (Surakarta) dan Sekitarnya  yang diterbitkan oleh Kerukunan Eks Anggota Detasemen II Brigade 17. Secara keseluruhan aksi KST itu menimbulkan korban yang cukup besar. Ada 433 mayat yang ditemukan usai situasi Surakarta lepas dari teror Baret Hijau. Korban paling banyak ditemukan di wilayah Laweyan yakni sekira 300 mayat. Sebagian besar dari mereka tewas akibat disembelih atau ditusuk dengan menggunakan sangkur. Pihak Belanda sendiri terkesan ingin menutup-nutupi kejadian itu. Saat bertemu dengan pihak TNI yang diwakili oleh Letnan Kolonel Slamet Rijadi, Kolonel van Ohl hanya bisa berjanji bahwa dirinya akan menarik secepatnya pasukan KST dan membawa para pelaku pembunuhan rakyat sipil ke pengadilan militer. Pada 14 Agustus 1949, Wakil Tinggi Mahkota Belanda Dr. A.H.J. Lovink menulis surat kepada Menteri Seberang Lautan J.H. van Maarseveen dan parlemen Belanda. Dia memohon agar peristiwa pembantaian rakyat sipil di Surakarta bisa dirahasiakan. “Sebab akan sangat merugikan kehormatanpemerintah Kerajaan Belanda…” demikian seperti dikutip Julius Pour dalam Ign. Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kenpeitai sampai Menumpas RMS

  • Van der Plank dan Kejahatan Perang di Sumatra

    Di Kampung Berastepu, Tanah Karo, puluhan serdadu Belanda melepaskan tembakan secara membabi-buta. Rumah-rumah penduduk digerebek. Mereka merampas harta benda pemilik rumah. Selain itu, beberapa warga kampung yang dicurigai ditangkap lalu ditembak tanpa pemeriksaan. Menurut Sumbul Ginting warga setempat yang menyaksikan kejadian tersebut, ada 9 penduduk kampung Berastepu yang ditembak mati oleh Belanda. Mereka antara lain: Meltah Sembiring, Mestik Karo-Karo, Muniken Karo-Karo, Manik Ginting, Alar Karo-Karo, Kitik Sitepu, Masar Ginting, Naik Sembiring, dan Baban Sembiring.       “Demikianlah pada tanggal 1 Juni 1949 tentara Belanda yang berkekuatan 60 orang di bawah pimpinan Van der Plank telah menggerakan pasukannya dari Simpang Empat Surbakti ke Kampung Berastepu, melalui jalan setapak Jeraya dan Tambesi,” catat mantan veteran Perang Kemerdekaan, Letkol (Purn.) A. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area . Setelah melakukan penembakan di Berastepu, Van der Plank menggerakan pasukannya ke Kutagamber. Di kampung tersebut, pasukan Van der Plank juga menembak seorang penduduk bernama Babah, berasal dari Gurukinayan. Dari Kutagamber, pasukan Van der Plank kembali ke pangkalannya melalui Kutatengah. Kepala Polisi Istimewa Van der Plank nyaris tak berbeda dengan Westerling. Keduanya sama-sama pernah bertugas di Sumatra Utara untuk menumpas tentara Republik Indonesia dalam berbagai operasi kontra-gerilya. Nama Van der Plank pun dikenal sebagai perwira Belanda yang sangat bengis. Jika Westerling menjalankan aksi sadisnya di Kota Medan, maka jejak berdarah Van der Plank membekas di Tanah Karo. Dalam catatan hariannya yang diterbitkan berjudul  Bukit Kadir , Djamin Gintings mengenang sosok Van der Plank yang berperawakan tinggi dan tegap. Di masa kolonial, Van der Plank merupakan Kepala Polisi Istimewa Hindia Belanda. Ketika Jepang menguasai Hindia Belanda, Van der Plank merana. Tentara Jepang menyiksanya sebagai tawanan di Brastagi, Tanah Karo. Setelah Jepang kalah perang, Belanda kembali ke Indonesia untuk menjajah lagi. Van der Plank pun mendapatkan posisinya semula sebagai kepala Polisi Istimewa berpangkat mayor. Van der Plank mulai menebar teror sejak Belanda melancarkan agresi militernya yang pertama pada Juli 1947. Pasukan Belanda menekan dengan memblokade basis ekonomi di kawasan Sumatra Timur. Semua satuan bersenjata Indonesia ditarik ke pedalaman Tapanuli. Akibatnya, rakyat yang berpihak pada Republik terpaksa meninggalkan Sumatra Timur dan ikut mengungsi ke pedalaman. “Dalam suasana yang kurang terkoordinasi inilah Van der Plank dengan Troopen Intellegence Vor Gerilya (TIVG) melakukan perang urat syaraf dan melakukan infiltrasi ke daerah-daerah rawan, sepanjang jalur pengungsi dan penarikan mundur kesatuan-kesatuan TNI/lasykar,” tulis Tukidjan Pranoto dalam Tetes Embun di Bumi Simalungun . Infiltrasi unit TIVG yang dipimpin Van der Plank acap kali menimbulkan keresahan. Mereka menjadikan TNI dan unsur pejuang dari kesatuan lasykar saling curiga-mencurigai. Menurut Tukidjan, kelompok Van der Plank ini berperan dalam memecah belah kelompok pejuang pendatang dari Sumatra Timur dengan pejuang yang berasal dari Tapanuli. Salah satu nya politisasi isu terhadap Barisan Harimau Liar (BHL) yang dicap sebagai lasykar penjahat.   Pengacau di Tanah Karo Karena pernah ditawan Jepang di Brastagi, Van der Plank cukup mengetahui seluk daerah Tanah Karo. Sebagai komandan TIVG, Van der Plank doyan melakukan patroli dari kampung ke kampung lalu menangkapi warga setempat. Warga yang dicurigai akan ditahan dan diperiksa untuk mengorek keterangan dengan cara dipukuli ataupun disengat listrik. Dalam interogasi yang menyakitkan itu, mereka dipaksa memberikan informasi mengenai basis TNI, siapa pemimpinnya, dan siapa saja penduduk yang bekerja sama dengan TNI. Pada Desember 1948, dua penduduk di Gurukinayan dan kepala kampung Payung yang diangkat oleh pemerintah Republik ditembak mati. Sebelum dieksekusi, kepala kampung yang berusia lanjut tersebut terlebih dahulu dipukuli dan kemudian dilepas. Kepala kampung yang merasa tidak aman itu lalu menghindar melalui persawahan yang berada di belakang rumahnya. “Pada waktu berada di tengah sawah itulah orang tua itu ditembak dan meninggal di tempat,” tulis Djamin Gintings dalam Dari Titi Bambu ke Bukit Kadir: Saat Genting di Medan Tempur Catatan Harian Jamin Gintings . Rakyat di Tanah Karo mafhum, dini hari merupakan waktu yang kerap dipakai Van der Plank dan pasukannya untuk bergerak. Itulah sebabnya, penduduk kampung khususnya laki-laki sejak sore hari lewat petang sudah berangkat meninggalkan kampung menuju tempat yang lebih aman. Mereka biasanya pergi ke sawah atau ladang dan menjadikan pondokannya sebagai tempat tidur. Demi keamanan, mereka yang melarikan diri berkelompok bergantian berjaga. Bila hari sudah terang dan tidak ada kabar patroli Van der Plank barulah mereka pulang ke rumah.  Demikianlah, teror yang berkecamuk di Tanah Karo semakin merajalela dan itu bermuara kepada satu nama: Van der Plank. (Bersambung)

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page