Hasil pencarian
9814 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berharap TNI Membuka Arsip Terkait Peristiwa 1965
PEMBUKAAN dokumen rahasia AS pada 17 Oktober 2017 seharusnya menjadi momen penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengklarifikasi sejarah peristiwa 1965. Namun, momen ini tidak akan berarti tanpa kehendak pemerintah untuk mencari kebenaran dan keadilan terkait pembunuhan massal pasca peristiwa 1965. “Momen baru bisa diciptakan kalau ada kehendak dari pemerintah. Dokumen ini bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran sejarah untuk mencari kebenaran dan keadilan,” kata Usman Hamid, direktur Amnesty Internasional Indonesia, dalam konferensi pers di Kantor Amnesty International Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, 20 Oktober 2017. Peneliti IPT 65, Sri Lestari Wahyuningrum mengatakan untuk melakukan klarifikasi sejarah dibutuhkan partisipasi semua pihak. Hal ini menjadi proses bersama dalam masyarakat. “Kalau upaya klarifikasi sejarah ini dilembagakan, ia (lembaga tersebut, red.) harus inklusif dan partisipatif. Jadi, bukan hanya satu orang, kayak Nugroho Notosusanto membuat buku putih tentang peristiwa itu,” kata Sri.
- Di Balik Pesta Babi
“PAPUA, bukan tanah kosong!” ujar Franky Woro dan para warga suku Awyu lantang usai menancapkan sebuah salib merah dan palang adat di tanah adat mereka di Distrik Fofi, Boven Digoel, Papua Selatan. Seruan itu jadi inti soal isu yang diungkit film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita garapan duet sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Dokumenter berdurasi sekitar 96 menit itu digarap selama tiga tahun di lima distrik di Provinsi Papua Selatan oleh Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Koperasi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan LBH Papua Merauke. Isu yang diangkat yakni problema-problema di balik Proyek Strategi Nasional (PSN) ketahanan pangan dan energi yang membuka 2,5 juta hektare hutan alam di Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel. Ini jadi pembukaan hutan terbesar di dunia dengan pengerahan ekskavator terbanyak, sekitar 2.000 unit. Franky Woro dari suku Awyu hanya satu dari 12 narasumber utama dalam Pesta Babi. Hutan dan tanah adatnya di Distrik Fofi terancam pembukaan lahan sawit secara kolosal untuk keperluan biodiesel. Maka, ia dan segenap masyarakat suku Awyu menancapkan sekitar 1.800 salib merah dan palang adat sebagai tanda perlawanan terlepas dari adanya intimidasi militer. “Ini tanah milik ‘Somu Sobu Subang (Nasohoa)’,” kata Franky saat menunjukkan tulisan di sebuah palang adat. “Tanah ini diciptakan oleh Tuhan dan memberikan warisan kepada kami. Kami ini hanya hak jaga,” terangnya. Masyarakat adat di Merauke juga jadi korban imbas PSN. Sebagaimana diceritakan Yasinta Moiwend dari suku Marind di Distrik Ilwayab. Hutan adat mereka sudah disulap jadi satu juta hektare sawah. Nasib yang sama diceritakan Natalis Buer, juga dari suku Marind, di Distrik Tanah Miring; serta Vincen Kwipalo dari suku Yei di Distrik Jagebob. Hutan adat mereka terimbas perkebunan tebu dan sawit. Selain Franky Woro dan warga adat suku Awyu yang terus melawan, masih bertahan pula Willem Kimko bersama masyarakat adat suku Muyu di Distrik Waropko, Boven Digoe yang berada di perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Jika Franky Woro dari suku Awyu melawan dengan salib merah, Willem Kimko bersama suku Muyu melawan dengan tradisi adat awon atatbon atau pesta babi. Dari sinilah Dandhy Laksono menjuduli dokumenternya. “Secara visual dan konsistensi cerita lebih dekat judulnya ke ‘Salib Merah’ karena terkait isu agraria, perlawanan masyarakat adat dan itu terkait dengan PSN, intimidasi. Tapi Pesta Babi ini kami ambil semiotic-nya tapi adegan pesta babi dan apa kaitan dengan filmnya juga ada. Kalau memakai judul ‘Salib Merah’ kami merasa lebih dekat dengan identitas pada satu keyakinan tertentu dibandingkan dengan Pesta Babi yang ada elemen fun-nya. Bahkan ini kayak satir kepada sebagian orang yang merasa lebih sensitif sama babi daripada korupsi,” terang Dandhy dalam siniar Bocor Alus Politik, “Represi dalam Pemutaran Film Pesta Babi” yang diunggah akun Youtube Tempodotco, Sabtu (16/5/2026). Pesta Babi penting untuk bahan refleksi bagaimana intervensi militer Indonesia di Papua, yang sudah eksis sejak Operasi Trikora pada 1960-an, menimbulkan “kolonialisme” tersendiri bagi para masyarakat adatnya. Mereka hanya bisa mengharapkan kekuatan dari nenek moyang dan Tuhan untuk bisa melawan PSN yang disokong para kapitalis dan militer. Terlebih, apa yang terjadi di Papua sangat minim diperhatikan mayoritas rakyat Indonesia. Padahal, menurut Dandhy, apa yang terjadi di Papua begitu dahsyat. Selain terjadi pembukaan lahan hutan terbesar di dunia, imbasnya juga membuat sekitar 103 ribu masyarakat Papua terpaksa jadi pengungsi sejak 2025. Belum lagi problem-problem pada isu ekosida lingkungan. Meski begitu, untuk bisa menyaksikan Pesta Babi –yang pertamakali diputar di Forum Papua Barat di Auckland, Selandia Baru, 7 Maret 2026, publik belum bisa bebas. Diseminasi filmnya dengan konsep nonton bareng dan diskusi di beberapa tempat di Indonesia belakangan ini terhalang pelarangan dan pembubaran oleh banyak pihak. Paling hanya bisa menyaksikan di beberapa kanal di Youtube yang mengunggah filmnya secara ilegal. Masyarakat suku Awyu yang memasang "Salib Merah" (Tangkapan layar Youtube Watchdoc Documentary) Pesta Babi di Suku Muyu Dari pinggiran hutan, Willem Kimko selaku kepala adat di marganya meneriakkan seruan-seruan dalam bahasa Muyu. Seruannya berupa ajakan untuk penduduk marga dan klan-klan suku Muyu untuk datang ke desanya guna menggelar pesta babi. “Punya uang saja belum tentu bisa mengadakan pesta babi. Jangan sampai pendatang mengusir dan merampas hak anak-anak kami hanya karena mereka tidak tahu sejarah, asal-usul, dan adat istiadatnya. Karena itu, penting untuk terus mengingatkan mereka agar mengenal dan menjaga warisan budaya serta tanah adat kami,” kata Willem di sebuah adegan dalam Pesta Babi. Sebagaimana tetangganya suku Mandobo, para pendahulu Willem di suku Muyu sudah hidup di kawasan perbatasan jauh sebelum pulau terbesar kedua di dunia itu terbagi dua menjadi wilayah Republik Indonesia dan Papua Nugini. Menurut peneliti lembaga linguistik dan antropologi Belanda KITLV J.W. Schoorl dalam Culture and Change Among the Muyu, kontak pertama antara orang-orang suku Muyu dengan pendatang terjadi seiring eksplorasi tentara kolonial Hindia Belanda (KNIL) pada 1907-1915. “Eksplorasi alias penjelajahan militer ini timbul dari keinginan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Johannes Benedictus van Heutsz, red.) untuk mengembangkan bagian timur dari kepulauan nusantara ini sedemikian rupa sehingga akan diperoleh keseimbangan yang lebih baik antara pengeluaran pemerintah untuk daerah itu dan pendapatan yang diperoleh dari sana,” tulis Schoorl. Guna mendukung eksplorasinya, tiga pos pemerintahan dibangun di Fakfak, Manokwari, dan Merauke. Meski hingga bertahun-tahun kemudian eksistensi pos-pos itu belum mendatangkan cuan bagi pemerintahan pusat di Batavia (kini Jakarta). para misionaris jadi punya akses untuk lebih masuk ke pedalaman guna menyebarkan agama. Istilah “Muyu” sendiri muncul pada medio 1933 seiring masuknya misi Katolik pimpinan Pastor Petrus Hoeboer. Terlepas masyarakat asli menyebut diri sebagai orang Kati, sebutan “Muyu” muncul dari pengejaan bahasa Belanda untuk aliran “Ok Mui” atau sungai Mui, tempat orang-orang Kati tinggal. Mereka bertahan hidup dengan berburu, menangkap ikan, memelihara babi, hingga berkebun dan memproduksi sagu. Sejak dulu hingga kini, orang-orang Muyu masih mempertahankan tradisi barter. Alat barter yang bernilai bagi mereka adalah ot yang berupa kulit kerang dan mindit atau taring anjing. Menurut R. W. Den Haan dalam laporan berjudul “Het varkensfeest zoals het plaatsvindt in het gebied van de rivieren Kao, Muju en Mandobo” yang diterbitkan dalam Jurnal Bijdragen tot de Taal, Land - en Volkenkunde, No. 111 tahun 1955, beberapa tradisi dan sistem barter suku Muyu cukup berpengaruh di wilayah Boven Digoel. Maka beberapa suku tetangganya yang mendiami aliran Sungai Fly dan Sungai Kao, seperti suku Mandobo, juga ikut menggunakan sistem barter karena punya hubungan dagang orang-orang Muyu. “Selain itu pesta babi juga dirayakan di daerah di antara sungai-sungai Kaol Muyu, dan Mandobo,” tulis Den Haan. Dalam masyarakat Muyu, ada dua macam pesta babi, yakni Awonbon dan Atatbon. Awonbon berskala kecil, sementara Atatbon dihelat secara besar-besaran satu marga atau satu klan dengan turut mengundang marga-marga dan klan-klan lain. “Awonbon biasanya diorganisir oleh satu keluarga inti saja, dan hanya membutuhkan satu atau dua ekor babi —yang dengan sendirinya membatasi jumlah tamu. Atatbon adalah suatu peristiwa pesta di mana beberapa orang —biasanya dari trah yang sama— bergotong-royong membunuh babi-babi yang mereka pelihara, dan menjual dagingnya untuk ot kepada kerabat yang mereka undang,” sambung Schoorl. Untuk mengadakan pesta babi, tidak cukup hanya dengan uang. Waktu dan tenaga harus mereka persiapkan. Pasalnya, untuk menggelar pesta babi pihak tuan rumah harus membangun penginapan hingga menyiapkan sagu dan makanan lain untuk jadi suguhan. Lalu, babi yang jadi hal terpentingnya tidak boleh berupa babi yang sudah disembelih atau dibeli dari peternakan. Babi-babinya harus dipelihara sendiri dan bukan dikandangkan. Anak babi yang baru lahir terlebih dulu dilepas di sekitaran rumah. “Biasa sekali bagi seorang wanita menyusui anak babi, dan membawanya dalam noken ke kebun dan tempat menokok sagu. Ini juga memberi babi itu kesempatan untuk mendapatkan protein dengan memakan segala macam serangga yang ada di dalam tanah,” lanjut Schoorl. Setelah agak besar, babi itu dilepasliarkan di hutan. Setelah menunggu 10 tahun, barulah para pemburunya akan memburunya di hutan adat. Setelah melewati beberapa ritual, babi-babi yang telah tertangkap akan dipanah bersama-sama dan dagingnya dipotong-potong. Potongan-potongan itulah yang kemudian bisa “dibeli” para tamu undangan dengan menggunakan ot atau mindit. “Dalam atatbon, setiap marga atau klan dalam suku Muyu akan membayar jerih payah tuan rumah menjaga hutan dan memelihara babi. Bagian dari budaya dan ekonomi timbal-balik yang ditandai dengan siklus memberi dan menerima. Ini juga cara orang Muyu membangun dan memperluas aliansi. Jika Willem Kimko dan marganya bisa menjaga hutan dan wilayahnya, marga lain ikut diuntungkan sebagai sebuah ekosistem. Demikian juga sebaliknya,” tandas Dandhy dalam epilognya di Pesta Babi.
- Arsip-arsip yang Tercecer
SEBAGAI pusat pemerintahan dan ekonomi era kolonial, pulau Jawa menyimpan banyak peninggalan sejarah. Termasuk dalam bentuk arsip-arsip berbahasa Belanda. Namun, selain faktor bahasa yang umumnya tidak dipahami, persebarannya juga tidak terpadu. “Banyak arsip yang tersimpan di lembaga keluarga atau dinasti-dinasti kerajaan yang masih tersisa,” ujar Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam seminar “Sinkronisasi Informasi Arsip Berbahasa Belanda di Indonesia melalui Penyusunan Guide Arsip di Luar ANRI (Pulau Jawa)” di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), 5 September 2017. Sinkronisasi ini merupakan tahap awal pemetaan arsip berbahasa Belanda di Nusantara yang dilakukan antara ANRI dengan Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief Nederland). Nantinya, arsip tersebut akan dituangkan dalam sebuah sarana bantu berbentuk guide arsip. Arsip-arsip itu disimpan oleh beberapa lembaga pengelola arsip daerah yang meliputi tujuh kota: Bandung, Cirebon, Bogor, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.
- Daftar Pencarian Orang Bung Karno
DARI Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia dipindahkan kembali ke Jakarta usai Perang Kemerdekaan. Presiden Sukarno ingin membenahi istana kepresidenan yang sekira empat tahun terbengkalai. Untuk itu, dia membutuhkan karya-karya lukisan dari pelukis ternama demi menghiasi dinding-dinding Istana. Salah satunya lukisan karya Ernest Dezentje, pelukis aliran mooi indie yang sudah terkenal sejak masa kolonial. Mangil Martowidjojo, ajudan presiden dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Kepolisian, ditugaskan Bung Karno untuk mencari sang pelukis. “Bung Karno memerintahkan kepada saya untuk mencari peluki kenamaan, Ernest Dezentje. Bung Karno berkata, 'Cari dia sampai ketemu dan suruh dia datang ke Istana ditunggu Bapak. Saya sendiri tidak tahu dimana dia sekarang, tetapi kamu, polisi tentu dapat menemukannya,'” tutur Mangil dalam memoar Kesaksian tentang Bung Karno 1945—1967. Dezentje adalah pelukis yang memiliki talenta kuat dan terkenal di Hindia Belanda. Pelukis kelahiran Jatinegara pada 1885 ini mengawali kiprahnya secara otodidak. Lukisannya mengungkapkan pemandangan dengan gaya impresionisme. Nama Dezentje mentereng pada dekade 1930-an dan mendapat perhatian dari pengamat seni zaman itu. Dalam karya-karyanya, ia dikenal selalu menangkap cahaya tropis yang melimpah. “Selain sebagai anggota Bataviasche Kunstkring, Dezentje juga banyak menyelenggarakan pameran tunggal di Batavia. Pameran tersebut yaitu di Kunstzaal & Co. (1936—1938), dan di Expositiezaal F. van Eelde pada Desember 1939,” sebut Agus Burhan dalam Perkembangan Seni Lukis: Mooi Indie sampai Persagi di Batavia, 1900-1942. Lumayan sulit bagi Mangil untuk mengendus keberadaan Dezentje. Setelah keliling Jakarta, Mangil justru secara tak sengaja menemukan Dezentje di Jl. Veteran, tak jauh dari Istana Negara. Ketika bersua, Mangil mendapati sosok Dezentje yang sudah menua, kurus, dan terlihat sakit-sakitan. Setelah Mangil menyatakan maksudnya, Dezentje terkejut karena Sukarno masih mengingat dirinya. “Ya, saya bersedia datang ke Istana, tetapi harus dijemput, sebab saya takut masuk Istana,” ujar Dezentje kepada Mangil. Bung Karno dan Pelukis Ernest Dezentje. (Koleksi Agus Dermawan T.). Bagi Sukarno, Dezentce lebih dari sekedar pelukis ternama. Menurut kritikus seni Agus Dermawan T, seperti dikisahkan pelukis Dullah, Dezentje adalah sahabat Bung Karno yang super akrab. Kala istana kepresidenan di Jakarta dan Bogor sedang genting-gentingnya dirundung agresi militer Belanda pada tahun pertama kemerdekaan, Sukarno menitipkan keselamatan Guntur, anak sulungnya yang masih bocah, ke rumah Dezentje. “Dezentje itu sangat baik kepada Bung Karno dan juga kepada banyak orang. Pertolongannya tidak pernah dipikir panjang,” kata Dullah seperti dituturkan Agus Dermawan dalam Dongeng dari Dullah. Setelah menghadap Bung Karno, Dezentje kemudian sering dipanggil Bung Karno, terutama sekali ke Istana Bogor. Ia pun menjadi salah satu pelukis Istana yang karya-karyanya jadi langganan Bung Karno. Selain Dezentje, Mangil juga mendapat tugas untuk mencarikan pelukis lain bernama Henk Ngantung. Semula Mangil menyangka Henk Ngantung orang Tionghoa, namun nyatanya dia adalah orang Indonesia asli dari Minahasa. “Dia juga pelukis kenamaan. Henk Ngantung saya temukan dengan gampang di Jalan Tanah Abang II dekat Asrama Polisi Tentara, Asrama Kala Hitam namanya waktu itu,” kenang Mangil. Bung Karno telah mengenal Henk lewat karyanya semasa pendudukan Jepang. Lukisan Henk bertajuk “Memanah” pada 1944, membuat Bung Karno terpikat dan menawarkan dirinya sebagai model pemanah dalam lukisan itu. Ketika Belanda menduduki Jakarta pada 1945, teman-teman Henk sesama pelukis hijrah ke Yogyakarta, sementara Henk menetap di Jakarta. Henk bahkan ikut berjuang melawan Belanda dengan keterlibatannya dalam Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Selain lukisannya yang kerap jadi koleksi Bung Karno, menurut Obed Bima Wicandra, kedekatan Henk dengan presiden RI pertama itu terus berlanjut selama periode kepresidenan. Henk selalu menjadi seniman pilihan Bung Karno dalam pelbagai panitia negara (pusat) untuk memimpin bidang dekorasi pada tempat-tempat acara kenergaraan, kota, dan sebagainya sejak 1957. Henk kemudian dikenal publik dan melenggang menjadi anggota Dewan Nasional (kemudian Bernama Dewan Pertimbangan Agung). “Keterlibatan Henk Ngantung tidak berhenti pada Dewan Nasional saja, namun namanya terus merangkak ketika ia ditunjuk menjadi panitia dan Anggota Juri Sayembara Tugu Nasional, kemudian anggota parlemen (MPRS), anggota Front Nasional, dan sebagainya,” catat Obed dalam biografi Henk Ngantung: Saya Bukan Gubernurnya PKI. Setelah beres mengurusi pencarian Dezentje dan Henk Ngantung, Bung Karno masih menugasi Mangil untuk mencari satu orang lain. Kali ini bukan pelukis, melainkan tukang cukur rambut. Pak Azis namanya. Haji Abdul Azis yang akrap dipanggil Pak Azis adalah tukang cukur rambut langganan Bung Karno sejak zaman pendudukan Jepang. “Salah seorang tukang cukur di daerah Cikini dapat memberikan petunjuk, rumah Pak Azis tukang cukur, yakni dekat kuburan Menteng Pulo,” ungkap Mangil, “Jadi, kalau Bung Karno mau cukur, seminggu sebelumnya sudah harus memberi tahu Pak Azis.” Semenjak bertugas di Istana, menurut Minggu Pagi, 4 April 1954, Pak Azis dibekali alat cukur yang baru. Alat-alat itu disimpan di Istana dan khusus digunakan hanya untuk Presiden Sukarno dan kedua putranya, Guntur dan Guruh. Untuk pekerjaan itu, Pak Azis datang berkala ke Istana tiga kali sebulan. Demikianlah kisah Ernest Dezentje, Henk Ngantung, dan Pak Azis, orang-orang yang dicari Bung Karno setelah Perang Kemerdekaan berakhir dan ibu kota negara kembali ke Jakarta. Dezentje menghabiskan masa tuanya di Bogor dan wafat pada 1972. Henk Ngantung sempat menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1964—1965. Namun, saat peralihan rezim, Henk mengalami pengucilan sosial lantaran aktivitasnya dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sementara itu, Pak Azis menjadi tukang cukur rambut yang setia melayani Bung Karno, bahkan hingga saat-saat terakhir mendekati ajalnya pada 1970.*
- The Three Tarumanagara Inscriptions (Part I)
THE VILLAGE of Cibuaya in Karawang was thrown into an uproar one day in 1951. It all began with a villager named Warsinah who was digging a well. Instead of water, he discovered a statue. Startled, the villager immediately reported the find to local authorities. “This object was discovered by Mr. Warsinah from the village of Cibuaya; it was found when he dug to a depth of 21 meters. After being reported to Village Head Erman, the statue was immediately handed over to the District Head at the time,” wrote historian Halwany Michrob in an article in Buletin Kebudayaan Jawa Barat, (the West Java Cultural Bulletin), Issue No. 2, 1976, titled “Some Issues and the Background of Archaeology in Indonesia”. It later turned out that what Warsinah had found was a statue of the god Vishnu—later known as the Cibuaya I Vishnu Statue. Then, in 1957 and 1975, similar statues were discovered in succession, designated as Cibuaya II and Cibuaya III. Cibuaya Village subsequently became a site for archaeological excavations. All of this is, in fact, still connected to the history of Tarumanagara.
- Niti Soemantri Digoelis Peduli Koperasi
HUKUMAN pembuangan ke Boven Digoel di pedalaman Papua tak membuat Niti Soemantri jera. Hingga dipulangkan kembali ke daerah asalnya di Jawa Barat, Soemantri tak berhenti bergerak. Soemantri, yang seorang guru di Hollandsch Inlandsch School (HIS) Pasoendan, aktif di Pegoejoeban Pasoendan. Dia rajin menghadiri rapat-rapat ataupun rapat umum organisasi tersebut di berbagai tempat. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie tanggal 2 September 1939 memberitakan, Soemantri hadir dan memberi pidato dalam rapat propaganda paguyuban tersebut di Ujungberung. Aspek ekonomi merupakan hal yang amat penting bagi perorangan maupun organisasi. Oleh karenanya, Soemantri kemudian meluaskan sayap perjuangannya ke bidang ekonomi. Lebih tepatnya ekonomi kerakyatan, dengan perhatian pada koperasi. Menurut buku Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa, Soemantri mendirikan Koperasi Oesaha Desa di Sukabumi pada 1932. Ia menjadi ketua dari koperasi yang didirikannya itu, yang agak mirip dengan Koperasi Unit Desa (KUD) yang berkembang pada era Orde Baru.
- Arsip Terjaga Menjaga Indonesia
SEBUAH film dokumenter tentang masa awal berdirinya Republik Indonesia memperlihatkan suasana Stasiun Manggarai Jakarta dan sebuah rangkaian kereta api berlokomotif seri C-28 buatan Jerman. Itulah situs dan benda bersejarah yang menjadi saksi bisu hijrahnya pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta pada awal 1946. “Kereta inilah yang dulu digunakan oleh rombongan Bung Karno dan Bung Hatta untuk hijrah ke Yogyakarta. Selain sumber arsip primer yang bisa bersaksi, ternyata benda ini pun juga penting,” ujar sejarawan Rusdhy Hoesein dalam diskusi “Dokumen Negara dan Ular Besi Penyelamat Republik” di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta Pusat, 3 September 2016. Cerita soal kereta api bersejarah itu menjadi pemantik untuk menyoroti abainya pemerintah terhadap peninggalan sejarah di Indonesia. Rusdhy menunjukkan bahwa dulunya Stasiun Manggarai memiliki tiga peron yang konstruksinya berbahan kayu besi. Tetapi, kini hanya tersisa dua peron yang masih asli karena peron paling barat telah dibongkar dan diganti kostruksi besi.
- Arsip Konferensi Asia Afrika Menjadi Warisan Ingatan Dunia
SEBANYAK 565 lembar arsip foto, 7 reel arsip film, dan 37 berkas arsip tekstual setebal 1778 lembar menjadi saksi sejarah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 18-24 April 1955. Arsip KAA mulai dari potret para delegasi, notulensi rapat, rekaman pidato, hingga surat menyurat, terdokumentasi dengan baik dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pada 8 Oktober 2015, UNESCO (Organisasi PBB bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan), mengumumkan Arsip KAA itu sebagai Warisan Ingatan Dunia. Sepanjang peradaban dunia modern, KAA menjadi konferensi internasional pertama yang mempertemukan antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Pencetusnya adalah Indonesia, India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar) yang diwakili perdana menteri masing-masing (Ali Sastramidjojo, Pandit Jawaharlal Nehru, Muhammad Ali, Sir John Kotelawala, dan U Nu). Kelima negara sponsor itu mempersiapkan KAA dalam Konferensi Panca Negara yang diadakan di Bogor tahun 1954. Mereka mengupayakan forum yang bisa menggaungkan suara rakyat Asia dan Afrika ditengah dominasi bangsa kulit putih dan Perang Dingin. Dari 29 negara peserta dan 200 delegasi itu lahirlah manifesto Dasasila Bandung. Sepuluh prinsip yang termaktub dalam Dasasila Bandung mencerminkan cita-cita luhur seluruh peserta KAA: merdeka dari imperialisme dan hidup berdampingan secara damai.
- Tentang Arsip dan Laporan untuk Tuan
SALAH satu tujuan utama kedatangan saya ke Den Haag adalah mencari arsip-arsip yang berkaitan dengan Boedi Oetomo. Organisasi yang digagas oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo dan didirikan oleh dr. Soetomo itu berdiri pada 20 Mei 1908. Hari berdirinya Boedi Oetomo lantas diberlakukan sebagai hari kebangkitan nasional, karena dianggap sebagai awal tersemainya benih-benih nasionalisme Indonesia sekaligus dianggap sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Banyak terjadi perdebatan ihwal penetapan tersebut. Ide awal berdirinya organisasi ini lebih kepada untuk membantu pendanaan mahasiswa kedokteran yang sekolah di Stovia. Namun pada kenyataannya organisasi ini bergerak lebih jauh. Sebagian anggotanya, yang datang dari generasi muda, mulai mendiskusikan ke arah mana nasib bangsa Hindia. Ada perdebatan di dalam, tentang akan kemana nasionalisme akan dituju: Nasionalisme Hindia atau Jawa. Hanya selang setahun setelah berdirinya, organisasi ini mengalami kemunduran. Pangkal perkaranya karena organisasi ini dikuasai oleh para kaum feodal. Ketua Boedi Oetomo, Raden Adipati Tirtokoesoemo, mantan Bupati Karanganyar, lebih terlihat sebagai seorang yang tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda. Dia bukan seseorang yang datang dengan gagasan kemerdekaan di kepalanya.
- Mengadili Polisi Brutal
KASUS penganiayaan yang dilakukan aparat kepolisian seakan tiada pernah habisnya. Baru-baru ini, viral video rekaman yang memperlihatkan personel Brimob membanting seorang mahasiswa yang berunjuk rasa di depan kantor bupati Tangerang. Bak seorang pegulat di atas ring, sang Brimob memiting lalu menghujam tubuh anak muda itu ke atas trotoar. Setelah aksi smackdown itu, si mahasiswa terlihat kejang-kejang lantaran mengerang kesakitan. Publik pun mengecam laku brutal personel Brimob yang identitasnya diketahui bernama Brigadir NP itu. Kasus serupa juga pernah menggemparkan institusi kepolisian pada dekade 1970-an. Martawibawa alias Tan Tjong ditemukan tidak bernyawa dalam tahanan. Sejumlah tanda kekerasan melekat pada jenazah tersangka kasus makelar mobil dan keimigrasian itu.
- Kari Perjuangan Hamzah Abdullah
DI MASA lalu, Rumah Makan (RM) Fadjar Asia cukup populer di Medan. Seperti umumnya rumah makan, Fadjar Asia juga dikenal karena menu andalannya. Rumah makan milik Nyak Hamzah Abdullah itu dikenal karena menu kari kambingnya. Hamzah merupakan saudagar perantau asal Aceh. Menurut Apriani Harahap dalam tulisannya berjudul “Mencari Jalan Aman: Strategi Bertahan dan Kekacauan Sosial dalam Komunitas India di Perkotaan Sumatera Timur, 1945-1946” di buku Dunia Revolusi Perspektif dan Dinamika Lokal Pada Masa Perang Kemerdekaan Indonesia, 1945-1949, Hamzah yang berdarah India besar di Aceh. Tidak mengherankan jika Hamzah berdagang kari di Medan. Orang India-Muslim sudah cukup lama masuk ke Sumatra Utara. “Pengaruh Muslim-India menghasilkan hidangan seperti nasi biryani, martabak dan berbagai hidangan kari,” catat Fadly Rahman dalam pembekalan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024 secara daring pada 18 Mei 2024.
- Kisah Keluarga Tionghoa Saat Revolusi
BATAVIA (kini, Jakarta), 12 Agustus 1945. Lim Him Nio atau dikenal dengan Laetitia, yang juga dipanggil Letty Kwee tengah berada di rumah sakit di daerah Menteng, Jakarta, yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat Sukarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Letty melahirkan Tjoe, yang berarti lemah lembut, pada momen bersejarah. Tiga hari sebelum kelahirannya, Jepang menyerah dan kalah dalam Perang Dunia II. Lima hari kemudian, Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan. Letty menceritakan kisah hidup Tjoe dalam buku Baby Jaren in Indie (Tahun-tahun Bayi di Hindia), yang diterbitkan oleh Vereniging van Huisvrouwen te Batavia (Perkumpulan Ibu Rumah Tangga Belanda di Batavia). Letty pernah belajar di sekolah Eropa untuk menjadi guru ekonomi.





















