Hasil pencarian
9744 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ketika Aparat Bertindak di Luar Batas
POLITISI gaek Amien Rais buka suara menyikapi kerusuhan yang terjadi baru-baru ini pasca kapitulasi pemilihan umum di Jakarta (22/05/19). Bermula dari unjuk rasa di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), aksi ini berakhir dengan bentrokan yang menelan delapan korban meninggal. Sebelumnya, Kepolisian Republik Indpnesia melalui Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal mengatakan tidak akan mengenakan peluru tajam dalam tindakan pengamanan. “Saudaraku saya menangis, saya betul-betul sedih, tapi juga marah bahwa polisi-polisi berbau PKI telah menembak umat Islam secara ugal-ugalan," kata Amien dalam unggahan akun instagramnya . “Saya atas nama umat Islam meminta pertanggungjawabanmu. Jangan buat marah umat Islam.” Pernyataan Amin segera diikuti dengan seruan takbir oleh orang-orang di sekelilingnya. Aksi kerusuhan itu juga disambut oleh Titiek Soeharto dengan pernyataan yang menyudutkan aparat keamanan dan pemerintah. Menurut Mbak Titiek – sapaan akrab Titiek Soeharto - tindakan polisi untuk meredam kerusuhan berujung dengan penganiayaan dan penghilangan nyawa. “Hentikan penganiayaan dan penghilangan nyawa rakyat pada aksi unjuk rasa pascapemilu,” kata Mbak Titiek dalam deklarasi Litura (Lima Tuntutan Rakyat) Emak-emak Indonesia. Cerita tentang aparat keamanan yang menembaki umat Islam juga pernah terjadi pada masa Orde Baru ketika Presiden Soeharto – ayah Titiek Soeharto – berkuasa. Mengingatkan kembali, Orde Baru adalah rezim yang dilawan habis-habisan oleh Amien Rais sewaktu menegakan reformasi pada 1998. Pada 12 September 1984, Jusuf Wanandi mencatat dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia , tentara menembaki sekelompok Muslim yang sedang melakukan protes di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Akibatnya, ratusan nyawa melayang di ujung bedil tentara. “Sampai sekarang pun masih belum diketahui (tepatnya) berapa korban yang tewas,” tulis Wanandi. Tragedi berdarah ini kelak disebut dengan nama Peristiwa Tanjung Priok. Insiden Tanjung Priok disulut oleh laporan yang menyatakan bahwa ada anggota polisi yang memasuki masjid di Tanjung Priok tanpa menanggalkan sepatunya. Si polisi memerintahkan agar poster yang bernada antipemerintah diturunkan. Ketika penjaga masjid menolak, anggota polisi menggeledah masjid dan mencabut poster-poster propaganda sambil tetap mengenakan sepatunya. Tindakan polisi yang dianggap semena-mena menyinggung warga masjid. Akibatnya, mereka menyerbu kantor polisi setempat. Mulai dari warga biasa, pengusaha bongkar muat, hingga preman turun menyerbu. Polisi yang kewalahan meminta bantuan tentara. Karena polisi mundur, Panglima Kodam Jaya Mayjen Try Sutrisno memenuhi permintaan bantuan polisi. Sejumlah tentara dikerahkan ke Tanjung Priok. Menurut Jusuf Wanandi, mereka diperlengkapi dengan senapan AK47 dan M16 untuk pengamanan. Ketika segerombolan orang datang menyatroni kantor polisi, ada sekira 20 tentara yang berjaga di sana. Alih-alih menenangkan massa yang marah, aparat melakukan tindakan di luar batas: menembaki para demonstran secara membabibuta. Sumber pemerintah mengumumkan kemungkinan 90 orang yang tewas. Namun beberapa sumber lain menyebutkan ada banyak jenazah yang langung dikubur atau dibuang ke laut, sehingga tidak diketahui berapa angka persis mengenai jumlah korban. Panglima ABRI saat itu, Jenderal Benny Moerdani disebut-sebut sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. “Atas perintah Presiden Soeharto, Benny mengambil alih penanganan kerusuhan itu,” tulis Wanandi. Bagaimana tanggapan Presiden Soeharto atas jatuhnya korban sipil di Tanjung Priok? Dalam otobiografinya Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya , Soeharto mengatakan, “Sesungguhnya, peristiwa itu benar-benar hasil hasutan orang yang menempatkan diri sebagai pemimpin.” Menurut Soeharto melaksanakan keyakinan dan syariat agama yang dianutnya, tentu boleh-boleh saja. Tetapi jangan menghasut rakyat untuk memberontak. Apalagi coba-coba memprovokasi mengganti Pancasila, sekali-kali jangan. “Terhadap yang melanggar hukum, ya, tentunya harus diambil tindakan,” kata Soeharto membenarkan tindakan aparatnya.
- Hikayat Gedung Para Kapiten
GEDUNG bergaya multi kultural (Tiongkok, Melayu dan Eropa) itu nampak terlihat tua. Di beberapa bagiannya, dinding tembok mengelupas, memamerkan batu bata merah tua yang terlihat masih kokoh. Kesan kuno semakin kuat, melihat letaknya yang ada di pinggiran Sungai Musi, tepatnya di Dermaga Tujuh Ulu, Palembang. Sisa-sisa kejayaan bangunan itu juga tercermin dari pilar-pilar kayu jati yang masih nampak kekar, dan lantai gedung yang terbuat dari kayu onglen. “Kami mengenalnya sebagai Gedung Kapiten,” ungkap Syukri (43), salah seorang warga kota Palembang. Masuk ke gedung itu lewat sebuah tangga kayu berundak 12, pemandangan bercorak Tiongkok terhampar: altar-altar tua, sebuah foto usang lelaki Hokian lengkap dengan seragam pejabat Hindia Belanda-nya. Ketika bertemu dengan salah seorang penghuninya bernama Tjoa Hok Lim pada sekira 2008, saya sempat mendapatkan semua informasi mengenai gedung tersebut. Termasuk jawaban siapa lelaki Hokian yang ada di foto itu. “Ini mendiang kakek buyut saya. Namanya Kapiten Tjoa Ham Ling,”ujar lelaki yang pada 2008 tepat berusia 82 tahun. Gedung milik keluarga besar Tjoa itu memang merupakan salah satu dari tiga bangunan bersejarah sisa-sisa kejayaan para Hokian perantau di pinggiran Sungai Musi. Ceritanya, pasca Kesultanan Palembang Darussalam dihapus oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 7 Oktober 1823, diberlakukanlah sebuah undang-undang yang mewajibkan setiap etnis memiliki struktur komunitas masing-masing. Komunitas itu biasanya dipimpin oleh seorang kuat yang diangkat langsung oleh pemerintah Hindia Belanda.Mereka dianugerahi pangkat mayor atau kapiten. Pada 1830, di Palembang, komunitas Hokian dipimpin oleh seorang Mayor. Namanya Tjoa Kie Tjuan,yang pada 1855 digantikan oleh putranya yang bernama Kapiten Tjoa Ham Hin. Kapiten Ham Hin-lah yang kemudian menempati dan merenovasi gedung yang letaknya tepat di bawah lindungan Jembatan Ampera itu. Jauh sebelumnya gedung tersebut ditempati oleh seorang putri dari Keraton Kesultanan Palembang dan sudah ada sejak 1600-an. “Terakhir keturunan Mayor Tjoa Kie Tjuan yang menjadi kapiten dan bertempat tinggal di sini adalah Kapiten Tjoa Ham Ling sampai sekitar tahun 1920-an,” ujar lelaki yang akrab di sapa warga Dermaga Tujuh Ulu sebagai Pak Kohar. Sejak dicanangkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah setempat pada 2017, Gedung Kapiten praktis diurus oleh Mulyadi alias Tjoa Tiong Gie, generasi ke-13 dari Mayor Tjoa Kie Tjuan. Dia juga tak lain putra dari Tjoa Hok Lim. Mulyadi berkisah bahwa begitu pentingnya posisi para kapiten itu di masa lalu sehingga pemerintah Hindia Belanda memperlakukan mereka secara istimewa. Itu wajar jika melihat tugas mereka sebagai pemunggut pajak dari para pengusaha Tionghoa di Palembang. “Semua perizinan usaha dan kegiatan yang terkait dengan etnis Tionghoa di Palembang diurus oleh para leluhur saya,” ungkap Mulyadi. Keturunan she (marga) Tjoa sendiri hingga kini sudah sampai pada 14 generasi. Mereka menyebar ke berbagai tempat di Indonesia, dan sebagian besar bermukim di Pulau Jawa. “Di sini, yang tersisa hanya kami inilah,”ujar Tjoa Hok Lim. Apa yang membuat mereka bertahan di gedung lawas itu? Menurut Mulyadi, secara emosional mereka merasa terikat dan berkewajiban untuk mengurus peninggalan moyangnya tersebut. Selain sudah diamanahkan oleh keluarga besarnya, Mulyadi juga sangat sadar jika gedung itu memiliki sejarah yang tidak ternilai. “Pernah ada yang menawar dengan harga lumayan mahal, tapi kami tidak kasih. Ayah saya bilang berapa pun harganya yang mereka tawarkan, rumah ini tak akan pernah dijual,”ujar Mulyadi. Kalaupun rumah itu sekarang sudah menjadi cagar budaya, namun status tersebut belumlah cukup untuk menjadikannya tidak terlupakan oleh sejarah. Diperlukan aksi nyata oleh pemerintah setempat (seperti renovasi dan revitalisasi) supaya generasi hari ini dan mendatang bisa menjadikan Gedung Kapiten sebagai obyek pembelajaran sejarah dan kepentingan wisata yang menarik para turis untuk mengunjunginya.
- Bergulat dengan Sejarah Sumo
PANDANGAN Donald Trump fokus tertuju pada tengah arena. Sesekali Presiden Amerika Serikat (AS) itu menangkap penjelasan koleganya Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe tentang apa yang ditatapnya dari kursi kehormatan Stadion Ryogoku Kokugikan, Tokyo, Minggu (26/5/2019). Trump begitu antusias memelototi laga sumo, olahraga nasional negeri sakura, di hari terakhir turnamen akbar sumo itu. Eksisnya “orang bule” di arena sumo terbilang langka. Apalagi di akhir pertandingan ia diberi kehormatan menyerahkan trofi pemenang kepada Asanoyama yang memenangi laga tadi. “Malam yang hebat dalam turnamen sumo. Kami membawakan trofi yang indah dan semoga bisa Anda miliki selama ratusan tahun. Untuk menghormati pencapaian luar biasa Anda, saya anugerahkan Trofi Presiden Amerika Serikat ini,” kata Trump kepada Asanoyama, dikutip The New York Times , Minggu (26/5/2019). Trump memang bukan pembesar dari negeri Paman Sam pertama yang berkenalan dengan sumo. Di akhir masa Sakoku atau kebijakan isolasi Jepang pada 1853, Komodor Matthew Calbraith Perry selaku utusan AS mendapat suguhan pertandingan sumo. Olahraga itu dianggapnya sekadar permainan bangsa yang belum beradab alias barbar. “Olahraga adu banteng ketimbang olahraga kontak fisik manusia. Dan tampaknya permainan yang sangat bodoh,” kata Perry mendeskripsikan sumo yang ditontonnya dalam The Japan Expedition 1852-1854: The Personal Journal of Commodore Matthew C. Perry. Asal-Usul Sumo Sampai detik ini, belum ada arkeolog maupun sejarawan yang mampu menetapkan kapan sumo pertamakali dipraktikkan di Jepang. Penjelasan yang paling dipercaya masih sekadar legenda atau cerita dari mulut ke mulut secara turun-temurun. Sumo diyakini pertamakali eksis dua ribu tahun yang telah lewat, persisnya di masa Kaisar Suinin memerintah Jepang pada tahun ke-23 sebelum Masehi (SM). Harold Bolitho dalam catatannya, “Sumo and Populer Culture: The Tokugawa Period” yang terangkum dalam Sport: The Development of Sport, menguraikan pertandingan sumo kali pertama dilakoni seorang jago beladiri Nomi No Sukune. Disebutkan ia merupakan salah satu titisan Dewa Amaterasu. Ia lantas diminta Kaisar Suinin untuk meladeni Taima No Kehaya, jago beladiri lain yang mengklaim sebagai manusia terkuat di kolong langit. “Keduanya berhadapan di Izumo, pesisir Pulau Honshu. Kedua petarung saling mengangkat kakinya dan saling menendang. Dalam pertarungan itu Nomi No Sukune mematahkan tulang rusuk dan tulang pinggang Taima No Kehaya hingga tewas,” sebut Bolitho mengutip serat Nihon Shoki. Nomi No Sukune pun tidak hanya dihadiahi tanah kekuasaan mendiang Taima No Kehaya di Desa Koshioreda namun ia juga dijuluki “dewa” sumo. Seiring zaman, sumo lantas dikaitkan dengan sejumlah ritual agama Shinto, seperti di Periode Nara (tahun 710-794 M) di mana pertandingan sumo acap digelar dalam rangka perayaan pesta panen. Penggambaran olahraga tradisi sumo di abad ke-18 oleh pelukis Katsukawa Sunsho Dalam setiap pertandingan, sumo selalu diawali ritual menyebar garam dan menepuk kedua tangan sebelum masuk dohyo atau arena berbentuk bulat. Sebelum terlibat kontak, para rikishi (pesumo) menghentakkan kaki beberapa kali. Ritual itu berasal dari mitos agama Shinto bahwa Dewa Amaterasu melakoninya sebelum menghadapi adiknya sendiri, Susanoo. Para pesumo pun diharuskan tanpa pakaian dan hanya menggunakan mawashi yang menutupi kemaluan. Wasitnya seringkali merupakan pendeta kuil Shinto setempat. Pertandingannya dilakukan dengan tangan kosong dan hanya bisa menang dengan mengenyahkan lawan ke luar garis batas dohyo baik dengan bantingan, lemparan maupun dorongan. Pada periode Morumachi, abad ke-14, sumo dijadikan olahraga yang lebih bersifat profesional meski tetap butuh dua abad ke depan untuk menyebarluaskan sumo sebagai olahraga di segala penjuru Jepang. Pada Periode Edo, abad ke-19, sumo makin marak lantaran selain menawarkan kehormatan, juga mulai melibatkan uang dan memberi penghasilan besar. Di periode Edo pula turnamen akbar sumo se-Jepang mulai digelar. Sumo pun perlahan jadi olahraga nasional. Di awal abad ke-20 bahkan sampai muncul dua asosiasi sumo, yakni di Tokyo dan Osaka. Pada 28 Desember 1925, keduanya dilebur menjadi Dai-Nihon Sumo Kyokai alias Asosiasi Sumo Jepang, yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Di era itulah di Jepang mulai kebanjiran pesumo lantaran sumo merupakan satu-satunya wadah “pengungsian” para samurai . Pada era Meiji, akhir abad 19, status samurai dihapuskan. Sejumlah tradisinya pun dilenyapkan. Salah satunya terkait kehormatan jambul khas samurai. Hanya dalam olahraga sumo-lah para bekas samurai itu bisa mempertahankan kehormatan jambul mereka. Wanita di Arena Sumo Bergulirnya zaman membuat sumo mulai dikenal dunia luar. Tapi bagaimana dengan wanita? Pasalnya, kehadiran wanita sempat ditabukan karena dianggap akan menodai kesucian dohyo . Pun begitu, serat Nihon Shoki pernah menyebutkan adanya pesumo wanita. Serat yang berasal dari tahun 720 M itu menguraikan bahwa pertamakali wanita berlaga dalam sumo tahun 469 di masa Kaisar Yuryaku. Kala itu kaisar memerintahkan dua wanita bertarung sumo tanpa sehelai pun pakaian. Perintah itu bertujuan untuk membungkam kearoganan seorang tukang kayu yang mengklaim tak pernah melakukan kesalahan. Laga sumo wanita bugil dilakoni untuk mengalihkan konsentrasi si tukang kayu. Ketika akhirnya si tukang kayu bikin kesalahan lantaran fokusnya terganggu, ia pun dieksekusi sang kaisar. Namun seiring waktu, disebutkan wanita dilarang terlibat dalam sumo. Larangan itu baru dicabut pada 1873 (periode Edo). Para pesumo wanita Jepang di era 1900. (Miyapedia) Setelah Restorasi Meiji (1868-1889), wanita kembali dilarang ikut sumo lantaran dianggap tidak pantas untuk budaya baru Jepang. “Tapi sumo wanita profesional berkembang di Jepang pada 1948 dan meluas lagi pada 1955,” sebut Joseph Svinth dalam Martial Arts of the World: An Encyclopedia of History and Innovation volume I. Meski sumo wanita tetap eksis hingga kini, diskriminasi tetap bergulir. Contoh kontroversialnya adalah saat Gubernur Osaka Fusae Ohta acap dilarang masuk ke arena untuk menyerahkan trofi pada pemenang dalam turnamen sumo tahunan di Osaka. Pada April 2018, seorang paramedis wanita yang hendak menolong salah satu pesumo yang cedera juga diusir ke luar arena meski pada akhirnya petinggi asosiasi sumo meminta maaf.
- Muasal Fiber Optik, “Biang Kerok” Komunikasi Kilat
Mengirim email, menelepon, atau mencari informasi di internet kini bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat. Lalu lintas informasi yang padat dan berkapasitas tak sedikit ini bisa berjalan lancar berkat penemuan fiber optik (FO). FO mampu menjadi media pengirim data dengan kapasitas dan kecepatan tinggi. Sebelum teknologi FO ditemukan, arus informasi dikirim melalui kabel tembaga. Kendati cost production -nya lebih murah, kapasitas kabel tembaga lebih rendah. Penggunaan kabel tembaga mulanya dipakai untuk saluran televisi dan pesawat telepon. Karena tembaga punya nilai untuk dijual kembali, pencurian kabel telepon banyak terjadi. Dirut Telkomsel pertama Koesmarihati, yang pernah menangani jaringan telepon, mengaku pernah menemukan pencurian kabel telepon di depan Hotel Borobudur dan Rumah Sakit Jakarta. Pencurinya benar-benar niat, mereka sampai masuk ke bak bawah tanah tempat sambungan kabel ( manhole ). Kabel, kertas peyambung, dan selongsong timah pun jadi sasaran pencurian. “Kabelnya dikupas, tembaganya diambil,” kata Koesmarihati pada Historia. Di tengah maraknya pencurian itu, teknologi FO mulai digunakan di Amerika pada 1977. Prinsip kerja kabel FO ialah pengiriman data menggunakan cahaya yang disalurkan lewat medium transparan. Sistemnya sederhana, mengikuti penemuan fisikawan Inggris John Tyndall pada 1854 bahwa cahaya dapat dibelokkan. Tyndall melakukan eksperimennya dengan meneliti gerakan cahaya pada air melengkung. Model ini diterapkan pada FO. Data ditransmisikan lewat cahaya, lalu ditembakkan dari pangkal kabel. Secepat kilat cahaya ini tersalur ke ujung kabel. Itulah sebabnya informasi terkirim dengan cepat dan padat. Ide pengiriman informasi melalui sistem optik pertamakali dicetukasn John Logie Baird dan Clarence W. Hansell pada 1920-an. Ide ini terus dilengkapi oleh para ilmuwan telekomunikasi di Eropa dan Amerika, seperti Abraham Van Heel dan Harold H. Hopkins. Hopkins melaporkan pencitraan pada material serat yang tidak berkarat, sedangkan Van Heel membuat laporan tentang selubung berlapis dengan material transparan agar gelombang cahayanya jauh lebih stabil. Pada 1964, Charles K. Kao menghitung kemungkinan pengiriman informasi jarak jauh melalui cahaya. Masalahnya, pada beberapa material jumlah cahaya yang ditembakkan memudar. Padahal, untuk kebutuhan komunikasi, kekuatan cahaya tidak boleh berkurang lebih dari 10 desibel per kilometer. Ia pun mengusulkan penggunaan kaca murni untuk mengurangi kehilangan cahaya. Teori Kao diuji di laboratorium pada 1970 menggunakan silika murni yang dilebur dengan titik leleh tinggi. Eksperimen ini berhasil. Robert Maurer, Donald Keck, dan Peter Schultz mematenkan penemuan serat optik silica yang diperkuat dengan sedikit campuran titanium ini. Serat optik buatan Maurer dkk. ini mampu membawa informasi 65.000 kali lebih banyak daripada kawat tembaga. Dua tahun berselang, mereka memperbarui temuannya dengan memperkenalkan serat multimode germanium-doped yang lebih kuat dibanding serat yang didoping titanium. Bahasan tentang FO sedang jadi topik menarik bagi dunia telekomunikasi pada dekade 1970-an. Olsontech.com menyebut pada 1973, John MacChesney memodifikasi proses pengendapan uap kimia untuk pembuatan serat di Bell Labs, Amerika. Proses ini kemudian digunakan dalam pembuatan serat optik untuk komersil. Serangkaian ujicoba oleh para ahli itu berbuah manis. Serat optik akhirnya diujicoba pertama kali di Long Beach, California oleh perusahaan General Telephone and Electronics pada April 1977. Kualitas pengiriman datanya jauh lebih baik dari kabel tembaga, mencapai 6 Mbps. Perusahaan Bells kemudian mengikutinya pada bulan Mei dengan memasang sistem komunikasi telepon optik di Chicago sepanjang 2,4 kilometer. Setiap FO membawa sekira 672 saluran suara. Di Indonesia, penanaman kabel FO mulai dilakukan pada 1985. Sebelumnya, sebuah tim dikirim ke Belanda untuk mempelajari teknik penanaman dan perawatan kabel teknologi baru itu. Buah dari pembelajaran tim yang dikepalai Koesmarihati itu adalah pemasangan kabel FO pertama yang ditanam di sepanjang Jetinegara-Gambir. Kendati awalnya penggunaan FO untuk menggantikan kabel tembaga ditentang lantaran dikhawatirkan bakal mematikan industri kabel dalam negeri, kekhawatiran itu hilang karena industri serat optik justru bertumbuh. “Tahun 1993 sebagain masih pakai tembaga, pelan-pelan diganti FO. Kalau kabel tembaga, satu kabel cuma menyambungkan satu saluran. Sedangkan FO lewat cahaya dengan gelombang tinggi, jadi bisa membawa informasi lebih banyak,” kata Koesmarihati.
- (R)evolusi ATM
Automated Teller Machine atau ATM akan punah. Apa yang membuat kita yakin mesin ATM tak mengalami nasib yang sama seperti dinosaurus? Jawabannya: inovasi. Sejak kali pertama diperkenalkan hingga sekarang, fungsi ATM mengalami evolusi, mengikuti kebutuhan konsumen dan perkembangan teknologi informasi. Penemu ATM Siapa penemu ATM masih jadi perdebatan. Umumnya orang menyebut ATM pertama dibuat Luther George Simjian, ilmuwan kelahiran Turki dan besar di Amerika Serikat. Mesin itu, bernama Bankograph, dapat menerima uang tunai atau memeriksa setoran kapan saja. Mulanya banyak orang meragukan temuannya. Tapi, pada 1960, dia berhasil membujuk City Bank of New York –kini Citibank– untuk mencoba mesin pintarnya selama enam bulan. “Orang yang berminat menggunakan mesin ini adalah segelintir pelacur dan penjudi yang tidak mau berurusan langsung dengan teller bank,” ujar Simjian, dikutip History.com . Gagasan membuat mesin ATM lalu datang dari John Shepherd-Barron, direktur percetakan dokumen-dokumen keuangan De La Rue di Inggris. Gagasan ini muncul karena pengalaman buruknya dengan bank tahun 1965. Seperti dikutip telegraph.co.uk , Shepherd-Barron mendapatkan ide brilian: jika mesin penjual otomatis dapat mengeluarkan cokelat, mengapa ia tak bisa mengeluarkan uang tunai? Barclays Bank suka dengan gagasan Shepherd-Barron. Mesin ATM pertama bikinan Shepherd-Barron kemudian dipasang di Enfield, sebuah kawasan di utara London, Inggris. Setelah itu, tahun 1968, seorang ahli dari Docutel Corp Texas, Don Wetzel, mengembangkan ATM berjaringan pertama, yang dikenal sebagai Docuteller. Karyanya dipakai Chemical Bank of New York pada 1969. Bentuk dan cara kerja ATM yang masih sederhana itu kemudian terus dikembangkan. Yang diakui sebagai ATM modern pertama adalah IBM 2984. ATM meraih popularitas ketika pada 1977 Citibank meluncurkan ATM pertama di Queens, New York. Slogan “Citi Never Sleep” mengiringi peluncuran itu. Menyusul kemudian cabang-cabang Citibank di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, bank-bank terkemuka masih berpikir seribu kali untuk memasang ATM. Investasi untuk ATM dianggap sebagai pemborosan. Menariknya, yang memperkenalkan ATM bukan bank-bank besar di ibukota tapi justru bank kecil di Denpasar, yakni Bank Dagang Bali (BDB), pada 1984/1985. BDB menjalin kerjasama dengan Chase Manhattan Bank. Untuk bisa mendapatkan layanan ATM ini, nasabah BDB harus memiliki kartu khusus yang disebut cash point card . I Gusti Made Oka, pendiri sekaligus direktur utama BDB, mengatakan tak sekadar ingin pamer melainkan demi meningkatkan pelayanan. Selain karyawannya belum mampu memberikan pelayanan cepat, dtulis majalah Tempo , 1986, Made merasa kasihan dengan nasabahnya yang harus antre lama di depan kasir. Setelah BDB, Citibank Indonesia mulai memasang ATM dan disusul Bank Niaga pada 1986. Bank Central Asia (BCA) baru memberikan layanan ATM pada 1988. Meski bukan bank pertama di Indonesia yang menggunakan ATM, sejarah kemudian mencatat BCA sebagai bank paling inovatif dalam mengembangkan layanan produk perbankan melalui mesin ATM. Pertama Kali BCA Menyediakan Layanan ATM BCA didirikan pada 21 Februari 1957. Dari bank perdagangan, yang lebih banyak melayani nasabah pedagang, BCA menyasar consumer banking . Setelah sukses dengan Tahapan BCA, tahun 1988 BCA meluncurkan layanan mesin ATM. Bagi BCA perlu waktu sangat lama untuk mengubah pikiran konsumen untuk beralih dari cara tradisional (mengantri di loket) ke cara modern (menggunakan ATM). Untuk itulah BCA melakukan edukasi terus-menerus. Menurut pakar marketing Hermawan Kartajaya dalam Kompas 100 Corporate Marketing Cases , meski bukan yang pertama menawarkan layanan ATM di Indonesia, BCA adalah bank pertama yang melakukan proses edukasi sistematis. Proses edukasi tersebut diimbangi dengan penambahan keberadaan ATM dan fasilitas layanan ATM. Pada mulanya jumlah ATM BCA setidaknya baru 50 unit ATM terpasang di penjuru Jakarta pada 1991. Dengan pertumbuhan nasabah yang pesat, ATM pun terus ditambah dari waktu ke waktu. Dari sisi kenyamanan bertransaksi juga menjadi perhatian. Pada 1995, BCA melakukan pembenahan ATM, baik dari sisi sistem dan aplikasi, infrastruktur, serta menerapkan perangkat penunjang lainnya untuk menjaga kenyamanan dan keamanan bertransaksi di mesin ATM. Software aplikasi di Server untuk memproses transaksi dari semua mesin ATM diganti. Lalu di setiap lokasi ATM dipasang antena very small aperture terminal (VSAT) fasilitas telekomunikasi menggunakan teknologi satelit, lengkap dengan kamera pengawas (CCTV). Investasi besar ini dirasakan dampaknya di kemudian hari. Terbentuk persepsi publik bahwa ATM BCA ada di mana-mana dengan layanan transaksi yang on line 24 jam, 7 hari seminggu. Citra ini mendongkrak jumlah nasabah. BCA juga mengedukasi masyarakat untuk kebutuhan uang tunai tidak harus lagi antri di cabang dan tidak perlu banyak memegang uang tunai karena tersedianya kemudahan tarik tunai di mesin ATM. BCA Memperkenalkan Layanan “Pembayaran” di ATM Pada masanya BCA menjadi bank yang memiliki mesin ATM terbanyak. Ketika bank lain mulai mengikuti untuk menerapkan strategi memperbanyak memasang mesin ATM, BCA sudah melangkah lebih maju lagi. Pengembangan jaringan dan fitur ATM dilakukan secara intensif. Pada 1996, ketika nasabah telah terbiasa melakukan transaksi penarikan tunai dan cek saldo melalui ATM, mulailah BCA mengembangkan layanan-layanan yang lebih inovatif. “ BCA adalah bank pertama yang memperkenalkan layanan pembayaran tagihan lewat ATM,” tulis majalah Swa , 2005. Setelah sukses menjalin kerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), menyusul kemudian Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan perusahaan-perusahaan lainnya. Gebrakan lainnya, BCA menawarkan kerja sama dengan Citibank berupa pembayaran tagihan kartu kredit Citibank melalui ATM BCA. Seiring waktu makin banyak layanan perbankan yang dapat dilakukan lewat ATM BCA. Mulai dari pembayaran tagihan telepon, listrik, PAM, ponsel, isi ulang pulsa, kartu kredit, cicilan kredit, pajak PBB, uang sekolah, beli tiket pesawat sampai beli saham. Payment system yang dikembangkan BCA menjadi obyek studi karena di luar negeri ATM adalah cash withdrawl dan balancing inquiry . Bahkan menurut Kristin Samah dalam Game Changing: Transformasi BCA 1990-2007 , “BCA menjadi bank pertama di dunia yang menyediakan jasa pelayanan pembayaran melalui mesin ATM.” Perkembangan ATM di Era “Paspor BCA” Pada akhir 1998, dalam situasi ekonomi krisis moneter dan ketersediaan uang tunai yang terbatas, BCA mengeluarkan fitur inovasi yaitu kartu ATM yang ditambahkan dengan fitur Debet, dikenal dengan kartu Paspor BCA. Paspor BCA merupakan cara baru dalam bertransaksi atau belanja di merchant-merchant tanpa harus terlebih dahulu menyiapkan uang tunai. Fitur Debet pertama kali dapat digunakan di Hero Supermarket. Setiap kasir dilengkapi dengan mesin electronic data capture (EDC). Tak berhenti di situ. Fitur Debet pada kartu Paspor BCA kemudian dilengkapi lagi dengan fitur penarikan uang tunai melalui merchant-merchant , serta pada 2002 untuk memudahkan transaksi tarik tunai BCA di merchant BCA menambahkan Electronic Cash Register (ECR) yang menghubungkan EDC ke cash register di toko-toko. Pada 2004, menurut hasil riset AC Nielsen, mayoritas pemegang kartu ATM memiliki kartu ATM BCA/Paspor BCA di dalam dompetnya. Praktis ATM BCA merupakan ATM yang memiliki banyak fasilitas. “Mau tidak mau ATM BCA sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat yang sudah banking minded ,” tulis Swa . Tidak berhenti disitu saja, periode 2003 dan 2004 BCA mengeluarkan mesin ATM khusus digunakan untuk transaksi-transaksi non cash yang disebut ATM Non Tunai dan mesin ATM yang khusus digunakan untuk penyetoran uang tunai yang disebut ATM Setoran Tunai. Dengan demikian untuk kebutuhan penarikan uang tunai, penyetoran uang tunai atau menabung tidak perlu lagi harus datang ke cabang, semua sudah dapat dilayani oleh mesin ATM. ATM Setor Tarik Untuk semakin melengkapi ketersedian fasilitas transaksi perbankan kepada nasabah , pada 2014, BCA memperkenalkan ATM berbasis cash recycling machine yang dapat melayani beberapa transaksi dalam satu mesin ATM, yaitu ATM Setor Tarik . Dengan ATM Setor Tarik nasabah tidak perlu lagi repot-repot pindah mesin ATM untuk melakukan beberapa transaksi yang berbeda, penarikan tunai, penyetoran tunai, transaksi pembayaran dan transaksi pembelian dapat dilakukan di mesin ATM Setor Tarik. ATM memang hanya satu dari sekian banyak saluran transaksi yang dimiliki BCA. Masih ada saluran lainnya; dari BCA Mobile hingga uang elektronik ( e-money ). Namun, ATM masih menjadi saluran transaksi favorit masyarakat untuk bertransaksi. Bahkan kehadiran saluran-saluran lain memperkaya layanan yang diberikan ATM BCA. Misalnya, registrasi dan aktivasi BCA Mobile, baik KlikBCA (versi smarphone ) maupun m-BCA bisa dilakukan melalui ATM. Masing-masing saluran transaksi yang tersedia saling melengkapi, saling bersinergi sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dalam memberikan layanan dan manfaat kepada nasabah. Contoh sinergi yang saat ini sudah dirasakan manfaatnya oleh nasabah adalah dengan saluran BCA Mobile dapat melakukan penarikan tunai dan penyetoran tunai di ATM. Nasabah tidak perlu lagi kawatir ketika ketinggalan kartu Paspor BCA dirumah karena dengan fitur transaksi cardless (tanpa kartu) di BCA Mobile sekarang dapat melakukan transaksi penarikan tunai atau penyetoran tunai di ATM BCA. Era Cardless Transaction, di ATM BCA Bisa “Setor/Tarik Tunai Tanpa Kartu” Hanya dalam 15 hari setelah diluncurkan pada 12 Oktober 2011, aplikasi BCA mobile telah diunduh sekitar 17 ribu pengguna. Melalui layanan BCA mobile, nasabah bisa melakukan transaksi perbankan, baik finansial maupun nonfinansial, lewat smartphone. Dan saat ini BCA mobile sudah digunakan oleh 9,4 juta pengguna. Sejak diluncurkan sekira 8 tahun silam, aplikasi BCA mobile terus memperkaya fitur-fiturnya. Fitur paling gres dari aplikasi BCA mobile adalah fitur Buka Rekening di BCA mobile, fitur Setor / Tarik Tunai Tanpa Kartu, fitur BCA Keyboard, dan fitur QRku. Sejalan dengan perkembangan BCA mobile tersebut, ATM BCA pun mengikuti perkembangan zaman. Memasuki era cardless transaction , dimana BCA mobile memperkenalkan fitur layanan setor/tarik tunai tanpa kartu di ATM, maka ATM BCA pun menyediakan mesin dengan pilihan menu “Transaksi tanpa Kartu”. Per bulan April 2019, BCA telah memiliki 5.925 buah “ATM Setor Tarik”, yaitu ATM yang bisa melakukan setoran atau tarikan tunai. Fitur Setor/Tarik Tunai Tanpa Kartu ini merupakan inovasi dari BCA, dalam memanjakan nasabah yang kesehariannya sangat sering berinteraksi menggunakan smartphone. Langkah-langkah setor/tarik tunai tanpa kartu dapat dilihat di sini: bca.co.id . Fitur tersebut berguna sekali untuk nasabah yang jarang membawa dompet saat bepergian, terlebih lagi untuk nasabah yang baru saja melakukan buka rekening secara online via BCA mobile.Nasabah dapat dengan mudah membuka rekening baru tanpa harus datang ke cabang. Namun perlu diingat, ketika membuka rekening baru, nomor handphone-nya harus nomor yang belum terdaftar mobile-BCA. Fitur buka tabungan di BCA mobile memiliki tiga keuntungan yaitu: Nasabah tak perlu datang ke kantor cabang BCA; Nasabah mendapat fasilitas BCA mobile (m-BCA) dan Internet Banking (KlikBCA); Nasabah bisa lebih mudah melakukan setoran awal melalui menu Transaksi Tanpa Kartu di ATM. Bagi para nasabah, buka tabungan di BCA mobile caranya mudah sekali, cek di sini: bca.co.id . Dunia bergerak cepat. Teknologi dan inovasi berkembang seturut dengan kompleksnya kebutuhan. Pada titik ini, BCA sudah menjawabnya.
- Hikayat Pelabuhan di Selatan Jawa
WILAYAH pantai utara telah sejak lama digunakan sebagai gerbang kegiatan dagang kerajaan-kerajaan di Jawa. Hampir sebagian besar jalur perdagangan laut di Nusantara melewati wilayah utara Jawa. Misal Cirebon, Pekalongan, Tegal, Batavia, Semarang, dan Surabaya. Maka tidak heran jika terjadi perkembangan yang amat pesat di wilayah tersebut. Keadaan itu sangat terbalik dengan wilayah pantai selatan Jawa. Di wilayah tersebut cukup kesulitan membangun sebuah kota pelabuhan. Salah satu faktor penghambatnya adalah ombak ganas Samudera Hindia yang membuat kapal-kapal sulit untuk berlabuh. Namun hambatan itu tidak berlaku bagi CIlacap. Kota pelabuhan yang masuk dalam wilayah Karesidenan Banyumas itu dilindungi oleh pulau Nusakambangan. Dengan lebar 6 kilometer dan panjang 40 kilometer, pulau tersebut melindungi pelabuhan dari terjangan ombak Samudera Hindia. “Ditambah dengan kedalamannya perairan di sekitar dermaga, Cilacap dikenal sebagai pelabuhan alam yang baik bagi perahu dan kapal besar berlabuh,” tulis Susanto Zuhdi dalam Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa. Selain Cilacap, aktivitas dagang di selatan Jawa dilakukan di pelabuhan Prigi, Panggul, Pacitan, Cilaut Eureun dan Pelabuhan Ratu ( Wijnkoopsbaai ). Tetapi kegiatan pelayaran di sana tidak seramai di pantai utara. Bahkan jenis komoditas yang diperjualbelikan pun tidak dalam jumlah besar. Kegiatan yang umum dilakukan di pelabuhan pantai selatan adalah perdagangan ikan asin, garam, dan terasi. Para pedagang yang datang pun berasal dari pulau-pulau sekitar. Sehingga sangat jarang ditemukan kapal-kapal besar bersandar di dermaga. Menurut Susanto, di antara pelabuhan-pelabuhan di selatan, Cilacap menjadi satu-satunya yang mendapat perhatian paling besar dari pemerintah kolonial. Posisinya yang dianggap paling strategis, membuat pemerintah melakukan pembangunan besar-besaran di sana. Membangun Potensi Setelah berhasil menancapkan pengaruhnya di Banyumas pada 1831, pemerintah Hindia Belanda segera mengalihkan perhatiannya pada pembangunan pantai selatan Jawa. Mereka melihat potensi yang besar di pelabuhan Cilacap untuk kegiatan pelayaran. Pemerintah Hindia Belanda lebih memilih membangun selatan Jawa dibandingkan utara Jawa karena persoalan waktu. Banyak produk dari pedalaman yang lebih cepat didistribusikan melalui pantai selatan. Dan Cilacap dianggap memiliki kondisi alam yang paling sesuai. Dalam tesisnya Transportasi dan Ekonomi di Karesidenan Banyumas tahun 1830-1940 , Purnawan Basundoro menjelaskan bahwa kekuatan terbesar Cilacap sebagai pelabuhan dagang berada pada transportasi sungainya. Dengan memanfaatkan aliran sungai Serayu dan Kaliyasa, pemerintah mendistribusikan langsung komoditi dagangnya ke pelabuhan Cilacap. “Serayu merupakan sungai terpanjang yang dapat dilayari ke pedalaman. Dari ibukota Banyumas ke utara sungai dapat dilayari sepanjang 24 kilometer, sedangkan ke selatan sepanjang 40 kilometer sampai ke laut,” tulis Susanto. Walau belum resmi, kegiatan ekspor di pelabuhan Cilacap telah terlihat sejak 1832, menyusul diberlakukannya c ultuurstelsel (sistem tanam paksa) oleh pemerintah Hindia Belanda. Kopi dan tembakau menjadi komoditi utama ekspor di pelabuhan Cilacap. Sementara kegiatan bongkar muat dari Eropa masih terbatas pada barang-barang tekstil, seperti kain beludru, dan wol. Bukti perhatian pemerintah Hindia Belanda terhadap kemajuan pelabuhan Cilacap adalah dengan dibangunnya kanal. Hal itu dilakukan untuk memperlancar pendistribusian barang dari sungai Serayu ke pelabuhan akibat jalurnya yang terlalu kecil. Namun pembangunan kanal itu mengalami banyak kendala. Teknologi yang masih sederhana, ditambah tidak adanya keterlibatan arsitek Eropa membuat mereka kesulitan membangunnya. Kendala yang sering terjadi adalah air tidak mengalir dan permukaan air yang tiba-tiba turun. Menjadi Kuat Melalui besluit (Surat Keputusan) No.1 tahun 1847, pemerintah secara resmi membuka pelabuhan Cilacap. Namun komoditi perdagangan di sana masih terbatas pada barang-barang yang dibutuhkan oleh pemerintah saja. Aktivitasnya pun belum terlalu banyak berubah dari sebelum diresmikan, yakni lebih banyak pada kegiatan ekspor. Pemerintah Hindia Belanda terus meningkatkan pembangunan wilayah pantai selatan Jawa. Mereka bertekad untuk membuka gerbang perdagangan yang besar di sana. “Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk meningkatkan status Cilacap menjadi onder afdeling bersamaan dengan ditingkatkannya pembangunan pelabuhan Cilacap” kata Sukarto Kartoatmojo dalam Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap. Selama kurun waktu 12 tahun, terhitung sejak pembukaan resminya, pemerintah berkomitmen untuk membuka pelabuhan Cilacap sebagai jalur perdagangan besar dan pelayaran bebas. Artinya, jenis barang dan aktivitas ekonomi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga pihak swasta. Keinginan kuat pemerintah itu diperlihatkan dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie no.56 tahun 1858 dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie no.7 tahun 1859. Di sana mereka menulis rencana pembangunan 16 pelabuhan di sepanjang Jawa dan pantai barat Sumatera. Tetapi bukan perkara mudah mewujudkannya. Susanto menyebut rencana itu mendapat banyak pertentangan dari dewan pusat di Belanda. Akhirnya melalui sidang afdeling ketiga di Eerste Kamer, pemerintah pusat memutuskan hanya membuka 3 pelabuhan (Cilacap, Cirebon, dan Pasuruan) sebagai pelabuhan besar untuk kegiatan ekspor-impor. Sedangkan 13 pelabuhan lainnya hanya menerima aktivitas ekspor saja. Peningkatan aktivitas ekonomi di pelabuhan Cilacap nyatanya telah membawa kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Pembangunan berkelanjutan terus dilakukan oleh pemerintah. Banyak sarana dan prasarana di sekitar pelabuhan yang dibuat. “Bagi penduduk sendiri hal itu mendorong kegiatan pembukaan areal tanah subur yang belum digarap,” kata Susanto.*
- Asal Usul Nama Kampung Bali
Sebuah video viral memperlihatkan sejumlah anggota Brigadir Mobil (Brimob) mengeroyok seorang lelaki di samping Masjid Al-Huda, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 22 Mei 2019. Judul video menyebut lelaki itu berusia belasan tahun dan kemudian tewas. Tetapi kepolisian menyatakan lelaki tersebut pria dewasa dan masih hidup. Lelaki itu salah satu tersangka kerusuhan 21-22 Mei di kawasan Tanah Abang. Dia lari masuk ke Kampung Bali ketika polisi berusaha membubarkan perusuh. Kampung Bali termasuk salah satu kelurahan di Tanah Abang. Kelurahan ini memiliki banyak nama gang serupa: Kampung Bali. Pembedanya berdasarkan nomor. Dari nomor satu sampai tiga puluhan. Asal usul nama Kampung Bali di kawasan Tanah Abang mempunyai dua versi. Versi pertama menyebut nama Kampung Bali berasal dari identitas penduduk sebermula di wilayah itu. “Adapun nama Kampung Bali disebut demikian karena dahulunya banyak orang-orang Bali yang tinggal di sana,” catat buku Kampung Tua di Jakarta terbitan Dinas Museum dan Sejarah Provinsi DKI Jakarta. Terdapat di Tiga Tempat Keberadaan orang Bali di sini bermula dari kebijakan Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur), mendatangkan orang-orang baru ke kota Batavia pada paruh pertama abad ke-17. Coen melakukannya setelah menghancurkan Jayakarta, nama lama Batavia. “Penghuninya melarikan diri meninggalkan wilayah ini,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Orang-orang baru di Batavia berasal dari Bali, Ambon, Banda, Ternate, Jawa, Makassar, Mandar, Sumbawa, dan Tionghoa dari Banten. Coen menempatkan mereka di luar tembok kota atau kastil Batavia. Sebab wilayah di dalam tembok kota hanya untuk penduduk Eropa. Di luar tembok kota, Coen menempatkan kelompok anak negeri berdasarkan asal wilayahnya. “Sebab itu hingga kini bisa ditemukan sejumlah kawasan tempat tinggal yang mengacu pada nama kelompok-kelompok etnis seperti Kampung Ambon, Makassar, Bandan, Bali, Pekojan, Manggarai, dan Melayu,” tulis Siswantari dalam Kedudukan dan Peran Bek dalam Pemerintahan Serta Masyarakat Jakarta , tesis pada Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta mengungkap status sosial orang Bali di Batavia. “Sebagian mereka dijual sebagai budak oleh raja-raja di sana, sebilangan lainnya merupakan serdadu bayaran yang memiliki tombak dan ditakuti di India dan Persia,” tulis Heuken. Jumlah orang Bali di Batavia cukup banyak. “Dari sebab itu nama Kampung Bali terdapat di pelbagai tempat,” tulis Soekanto dalam Dari Djakarta ke Djakarta: Sedjarah Ibu-kota Kita . Mereka mendiami tiga wilayah berbeda di Batavia. Sekarang wilayah itu berada di Angke (Jakarta Barat), Jatinegara (Jakarta Timur), dan Tanah Abang (Jakarta Pusat). Tapi versi pertama asal usul nama Kampung Bali dari identitas penduduknya dibantah oleh Mathar Kamal, penggiat sejarah dan budaya Tanah Abang. “Tidak ada kaitannya sama sekali,” kata Mathar. Menurutnya, toponim suatu tempat harus dicari lebih dulu dalam alam flora. “Jika ini tak ditemui, kita bisa melihat unsur geometri dan kontur tanah. Jika tak ada juga, maka harus lebih dulu mencari makna tempat tersebut dalam bahasa Kawi, Melayu, Polinesia Purba, Mesir, dan Ibrani,” kata Mathar. Dia meyakini bahasa-bahasa tersebut mempunyai alas dalam peradaban Jakarta dan pada gilirannya membentuk pula bahasa Betawi. Geometri Kampung Berdasarkan rumus tersebut, Mathar mengajukan versi kedua asal usul nama Kampung Bali. Dia mengikuti pendapat Ridwan Saidi tentang asal usul nama Kampung Bali. Menurut mereka, nama Kampung Bali muncul dari geometri wilayah tersebut. “Pandanglah Kampung Bali dari titik Tenabang Bukit, akan terlihat geometri kampung itu yang melingkar-lingkar,” tulis Ridwan Saidi dalam Jakarta dari Majakatera hingga VOC . Ridwan juga menambahkan bahwa kata Bali berasal dari bahasa Mesir, artinya memutar atau melingkar. Terlepas dari dua versi berbeda tersebut, Kampung Bali di tiga tempat berbeda di Jakarta nyaris tidak meninggalkan sama sekali keturunan orang Bali. Mereka juga berkembang nyaris serupa. Mereka tidak lagi berbentuk kampung, melainkan telah menjadi wilayah kota. Kampung itu berdempetan dengan pusat bisnis, jasa, perkantoran, pasar, dan keramaian lalu lintas. Tapi sebuah cap khusus pernah menimpa Kampung Bali di Tanah Abang. Kampung ini sempat terkenal sebagai wilayah peredaran narkoba selama hampir satu dekade pada 1995-2005. Melalui beragam kampanye dan aksi melawan narkoba, Kampung Bali di Tanah Abang mulai lepas dari cap lembah hitam narkoba. Sekarang Kampung Bali menjadi salah satu wilayah padat dan beragam penduduk di Tanah Abang.
- Islamisasi ala Sunan Gunung Jati
SETIAP malam Jumat Kliwon aktivitas tidak biasa kerap terlihat di Gunung Sembung, Cirebon Utara: warga berbondong-bondong datang ke Kompleks Makam Astana Gunung Jati untuk berziarah sambil berzikir di masjid Sang Saka Ratu. Tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan waktu tersebut untuk mengambil air dari tujuh sumur yang tersebar di sekitar kompleks. Namun ada pula yang memilih berdiam di area makam para tokoh pendiri Cirebon yang dimakamkan di sana, salah satunya Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati, atau dikenal juga sebagai Syarif Hidayatullah adalah tokoh penegak Islam pertama di Tatar Sunda. Ia dibesarkan dan dididik di tanah Arab. Mengenal Islam dari tokoh-tokoh besar di Mekah dan Baghdad, membuat pengetahuan Islam Syarif Hidayatullah sangat mumpuni untuk disebarkan kepada masyarakat. “Setelah kembali ke Mesir, Syarif Hidayatullah memutuskan untuk menyebarkan Islam di Pulau Jawa yang masih Hindu,” tulis Bambang Setia Budi dalam Masjid Kuno Cirebon . Diceritakan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari , Syarif Hidayatullah tiba di Cirebon pada 1475, setelah sebelumnya singgah di Samudera Pasai, Banten, dan Jawa Timur. Ia datang bersama para pedagang Arab yang singgah di pelabuhan Muara Jati. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Desa Pasambangan. Di tempat itu Syarif Hidayatullah mulai mengajarkan agama Islam. Ia dengan cepat diterima oleh masyarakat, walau pada saat itu masih dianggap orang asing (Arab). Setelah beberapa tahun tinggal di sana, Syarif Hidayatullah berhasil mengislamkan penduduk yang mayoritas beragama Hindu. Kedudukan Syarif Hidayatullah dalam menyebarkan Islam semakin kuat setelah menikahi gadis-gadis lokal. Dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya , Ajip Rosidi menulis bahwa Syarif Hidayatullah menikah sebanyak 6 kali, yakni: (1) Nyai Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuwana; (2) Nyai Babadan, putri Ki Gedeng Babadan; (3) Nyai Kawung Anten, adik bupati Banten; (4) Syarifah Baghdadi, adik Pangeran Panjunan; (5) Ong Tien Nio, putri keturunan Cina; dan (6) Nyai Tepasari, putri Ki Gedeng Tepasari dari Majapahit. “Setelah beberapa lama bergaul dengan masyarakat, ia mendapat sebutan Syekh Maulana Jati,” kata Bambang. Pada 1479, sepulang berdakwah di Banten, Pangeran Cakrabuwana menyerahkan takhta kekuasaan Cirebon kepada Syarif Hidayatullah. Ia mendapat gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah . Pangeran Sulaeman Sulendraningrat dalam Babad Tanah Sunda: Babad Cirebon menyebut para wali di Jawa menetapkan Syarif Hidayatullah sebagai Panetep Panatagama Rasul di tanah Sunda. Sebutan lainnya Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah SAW . Setelah memangku jabatan penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah segera memutuskan untuk melepaskan diri dari Kerajaan Sunda. Ia menolak memberikan kewajiban upeti, berupa garam dan terasi, kepada Sri Baduga Maharaja. Mengetahui hal itu, raja Sunda murka. Ia kemudian mengirim Tumenggung Jagabaya dan bala tentaranya untuk mendesak Cirebon. “Setelah tiba di Cirebon, Tumenggung Jagabaya beserta pasukannya justru beralih agama menjadi Islam. Mereka menetap di Cirebon dan mengabdi kepada Syarif Hidayatullah,” tulis A. Sobana Hardjasaputra dalam Cirebon dalam Lima Zaman: Abad ke-15 hingga Pertengahan Abad ke-20. Peristiwa pengkhianatan pasukannya membuat Sri Baduga Maharaja berencana menyerang habis-habisan Cirebon. Tetapi berhasil dicegah oleh purohita (pendeta tertinggi keraton). Sobana menyebut Syarif Hidyatullah, sebagai Wali Sanga, telah berulangkali meminta raja Sunda untuk memeluk Islam. Namun selalu gagal. Sejak berhenti memberikan upeti itulah Cirebon menjadi kerajaan Islam yang merdeka dan otonom. Penetapan berdirinya kesultanan pun tercatat pada tanggal 12 Sukla Cetramasa 1404 Saka atau 1482 Masehi. Sebagai kepala negara sekaligus kepala agama (wali), Syarif Hidayatullah berperan penting dalam perluasan kekuasaan politik dan agama Islam di wilayah Cirebon. Salah satu jalan dakwah yang menjadi prioritasnya adalah pembangunan sarana ibadah di seluruh wilayah kekuasaannya. Syarif Hidayatullah mempelopori pembangunan masjid agung Sang Cipta Rasa (1489) sebagai pusat dakwah. Letak masjid berada di samping kiri keraton dan sebelah barat alun-alun. Dalam Babad Cirebon disebutkan pembangunan masjid melibatkan Raden Sepat, mantan arsitek Majapahit. Ia juga dibantu oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Selama masa awal pemerintahannya, Syarif Hidayatullah membangun banyak sarana dan prasarana kerajaan. Seperti sarana transportasi penunjang pelabuhan dan sungai, serta memperluas area jalan di beberapa tempat. Hal itu dilakukan untuk mempermudah penyebaran agama Islam di wilayahnya. “Salah satu kearifan Sunan Gunung Jati adalah dalam pemberlakuan pajak. Jumlah, jenis, dan besarnya disederhanakan sehingga tidak memberatkan rakyat serta digunakan dengan semestinya,” tulis Sobana. Syarif Hidayatullah memprioritaskan pengembangan Islam dengan mendirikan masjid-masjid di seluruh wilayah Cirebon. Setelah itu, ia melanjutkannya dengan pembangunan spiritual masyarakat. Sejalan dengan hal itu, wilayah kekuasaan Cirebon pun semakin luas dengan diperkenalkannya ajaran-ajaran Syarif Hidayatullah oleh para muridnya. Kegiatan dakwah Syarif Hidayatullah di luar Cirebon mencakup daerah Sumedanglarang, daerah Ukur Cibaliung di Kabupaten Bandung, Batulayang, daerah Pasir Luhur, hingga Garut. Syarif Hidayatullah menggunakan pendekatan sosial budaya dalam proses dakwahnya, sehingga ajarannya dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat. "Dalam berdakwah, Sunan Gunung Jati juga memanfaatkan pengetahuan masyarakat tentang unsur-unsur legenda dan mitos," tulis Sobana. Pada 1568, Syarif Hidayatullah meninggal dunia. Ia dimakamkan di Astana Gunung Sembung. Syarif Hidayatullah tampil sebagai kepala pemerintahan Cirebon selama kurang lebih 89 tahun, dan berhasil mengislamkan hampir seluruh wilayah kekuasaannya.
- FPI Ditarget Sniper
Pada 19 Februari 2006, massa Front Pembela Islam(FPI)berdemonstrasi di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Mereka memprotes visualisasi Nabi Muhammad Saw. di gedung Mahkamah Agung AS. Menurut selebaran yang dibagikan pendemo, patung buatan tahun 1835 itu sudah sering diprotes kaum muslim di seluruh dunia. Selain patung Nabi Muhammad, juga ada visualisasi Nabi Muda dan Confusius. Tempo.co melaporkan demonstrasi yang berlangsung sekitar satu jam itu diwarnai perusakan kaca dan pagar kedutaan. Mereka juga melempari gedung kedutaan dengan batu dan telur busuk. Kerusakan meliputi pagar pembatas antrean, kaca jendela ruang tempat menerima tahu pecah, dan meja yang biasa digunakan satpam untuk menerima tamu digulingkan. Massa juga membakar bendera dan gambar Presiden AS George W. Bush. Mereka beraksi tanpa menyadari bahwa sniper marinir AS mengintai dari atas gedung siap menembak. Pihak Kedubes AS kemudian menghubungi Yahya Assegaf, agen Badan Intelijen Negara (BIN). Mereka menanyakan apakah FPI bagian dari Alqaeda Indonesia. “Mereka juga mengatakan kepada saya bahwa marinir Amerika Serikat yang bersiaga di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta siap menembak FPI jika akhirnya memaksa masuk ke gedung kedutaan,” kata Yahya Assegaf dalam John Sakava: Lika-Liku Perjalanan Mantan Staf Khusus Kepala BIN . John Sakava adalah nama alias Yahya Assegaf, agen intelijen keturunan Yaman-Jawa. Yahya menjawab pertanyaan dari pihak Kedubes AS itu: “saya bisa pastikan seratus persen bahwa organisasi itu sama sekali tidak punya afiliasi apa pun dengan Alqaeda, sebaliknya percayalah pada saya, FPI aman di tangan polisi karena mereka mitra polisi.” Dengan posisi FPI seperti itu, Yahya yakin mereka tidak mungkin sampai merusak atau mengancam Kedubes AS atau simbol dan aset AS di Indonesia. Kendati pada demonstrasi besar FPI di depan Kedubes AS di Jakarta, massa beringas dan seakan akan merangsek masuk ke gedung kedutaan, sampai-sampai marinir AS bersiap menembak di atap gedung kompleks Kedutaan AS. Anjing Penyerang Apa yang disampaikan Yahya kepada pihak Kedubes AS kemudian muncul dalam laporan intelijen yang dibocorkan WikiLeaks pada September 2011. Dalam laporan itu disebut FPI menerima aliran dana dari kepolisian. WikiLeaks juga menyebut Yahya sebagai sumber yang memberitahu Kedubes AS di Jakarta bahwa polisi memanfaatkan FPI sebagai “anjing penyerang”. FPI marah dan mengeluarkan selebaran yang menyebut Yahya pengkhianat negara sekaligus agen CIA yang menyusup ke BIN. Dia juga dituduh sebagai anggota BIN yang menjual informasi palsu ke AS. Sementara itu Polri juga membantah semua hal yang disebut WikiLeaks bahwa beberapa pejabatnya sengaja melindungi dan memelihara FPI. Seorang perwira Polri mengatakan bahwa apa yang dilakukan Polri sehingga dianggap publik dekat dengan FPI adalah demi meminimalisasi kasus-kasus kekerasan yang berhubungan dengan FPI. “Masyarakat sudah cerdas. FPI merupakan ormas yang berkembang di masyarakat. Polri institusi negara hubungannya sebagai mitra yang sifatnya positif untuk kepentingan bangsa,” katanya. Yahya mengakui telah memberikan jawaban atas pertanyaan pihak Kedubes AS apakah FPI ada kaitannya dengan Alqaeda. Menurutnya FPI tidak ada kaitannya dengan jaringan teroris manapun, termasuk Alqaeda. “Mengenai istilah ‘anjing penyerang’, itu sama sekali bukan dari mulut saya,” kata Yahya. “Saya memang tidak bersepakat dengan cara dan metode kerja FPI, namun saya tidak mungkin sebodoh itu mengucapkan kalimat itu.” Yahya yakin istilah itu adalah penafsiran orang Kedubes AS yang mendapatkan informasi tidak hanya darinya, namun juga dari orang lain. Perkataan Yahya yang ditafsirkan orang Kedubes AS mungkin bagian “FPI aman di tangan polisi karena mereka mitra polisi.” Dan “FPI mitra polisi” terlihat dalam aksi 22 Mei 2019. “Ini (massa) bukan dari Jakarta, bukan Petamburan. Kami juga tadi dibantu tokoh FPI dan ulama menghalau mereka,” kata Komisaris Besar Hengki Haryadi, Kapolres Metro Jakarta Barat, dikutip kompas.com . Massa itu yang diamankan berasal dari Tasikmalaya, Banten, bahkan Flores. Namun, masyarakat tetap banyak yang tak suka FPI karena aksi-aksinya meresahkan.
- Pemberontakan Terhadap Raja Majapahit
SEMENJAK Jayanagara naik takhta, Majapahit sulit mendapat ketenangan. Pemberontakan silih berganti menggugat pemerintahan yang ketika itu tengah berlangsung. Satu-satunya yang bisa membuat raja bertahan di singgasana mungkin hanyalah sikap pemberani dan keahlian dalam strategi perang. Hal ini dikatakan sejarawan mantan Duta Besar Kanada di Indonesia, Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni. Jayanagara menikmati berada di tengah prajuritnya dan di medan tempur. Beberapa kali dia terjun langsung menumpas pemberontakan. “Menurut beberapa sumber, terjadi sebanyak dua belas kali pemberontakan, meski jumlah sesungguhnya sulit dipastikan,” jelas Drake. Di awal pemerintahannya, dia sudah harus melawan Nambi, rakryan mapatih kepercayaan raja terdahulu, Wijaya. Dua tahun kemudian, pada 1318 M, muncul lagi pemberontakan Semi. “Masa-masa kacau penuh pemberontakan dan pertumpahan darah ini disusul oleh letusan besar Gunung Kelud yang memakan banyak korban jiwa. Di mata banyak orang, para dewa sedang murka,” ujar Drake. Mulai saat itu sejumlah bangsawan diam-diam bertanya mengapa mereka harus terus setia pada raja yang tak punya tujuan lain kecuali menumpuk kekuasaan pribadi. Berbeda dari Wijaya, raja baru ini tampaknya sama sekali tak peduli dengan aspirasi dan kebutuhan rakyat. Jayanagara menanggapi kemelut yang terjadi dengan membentuk Pengawal Elit Istana. Pasukan Bhayangkara ini bertugas melindunginya setiap saat. “Prioritas raja berbeda-beda selama masa hidup mereka, Raja Kertanegara mengirimkan nyaris seluruh pasukannya untuk membantu sekutu jauhnya, sekalipun pasukan paling tangguh se-Asia Tengah tengah mengancam,” jelas Drake. Kebijakan baru Jayanagara membentuk pengawal elit pun disusul konsekuensi. Nama Gajah Mada muncul ke tengah-tengah perpolitikan Majapahit. Dia mulai menonjol setelah menyelamatkan raja dalam pemberontakan Kuti, yang meletus setahun usai urusan dengan Semi rampung. Gajah Mada juga yang bakal menentukan nasib tragis sang prabu di kemudian hari. Drake adalah salah satu sejarawan yang percaya kalau Gajah Mada, dengan desakan halus Gayatri, andil dalam kematian Jayanagara. Menurutnya Gayatri, istri Wijaya, ibu Tribhuwana Tunggadewi sekaligus nenek Hayam Wuruk, sudah sejak awal menilai Jayanagara akan menjadi raja yang cacat moral. Anak tirinya itu dianggap tak akan melanjutkan cita-cita Majapahit sebagaimana telah dimulai oleh ayahnya, Kertanegara dan suaminya. “Jelas raja yang sekarang menjabat memang gandrung akan pertumpahan darah dan mengabaikan masalah-masalah ekonomi,” pikir Drake mengenai putra tiri Gayatri itu. Puncaknya adalah ketika Gayatri mengetahui niat Jayanagara terhadap kedua putrinya, Tribhuwana Tunggadewi dan Bhre Daha. Sang raja melarang kedua saudari tirinya itu kawin karena akan diperistri sendiri. Akibatnya, catat Pararaton , tak ada ksatria yang diizinkan datang ke Majapahit. Jika nampak, mereka dibunuh. Sang prabu khawatir mereka menginginkan adik-adiknya. Para ksatria pun menyembunyikan diri. “Rencana busuk ini dirancang agar anak-anak Gayatri tak bisa menikmati perkawinan normal karena raja takut mereka akan menghasilkan pewaris takhta yang waras,” catat Drake. Emosi Gayatri meluap. Dia mengadu pada Gajah Mada. Gajah Mada pun bersiasat. Dia mendekati Tanca, sahabat Kuti yang dihabisi Jayanagara. Tanca termasuk orang dalam yang dekat dengan raja. Kendati begitu Gajah Mada berharap Tanca menyimpan dendam pada sang prabu. Kesempatan datang ketika Jayanagara sakit bengkak. Tanca diantar ke kamar raja untuk menyembuhkannya. Tanca baru berhasil membedah setelah raja melepaskan jimatnya. “Tak lama Tanca merasa terbakar napsunya oleh berita dari Gajah Mada bahwa istri Tanca digoda raja. Lalu Tanca menikam sang prabu. Raja mati di kamar tidurnya. Tanca pun tewas ditikam balik Gajah Mada,” catat Pararaton. Menurut Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama , Gajah Mada tak suka pada sikap Jayanagara. Dia menggunakan Tanca untuk memusnahkan sang prabu. Untuk menyamarkan perbuatannya, dia segera membunuh Tanca. “Demikianlah rahasia itu tertutup. Orang ramai hanya tahu Gajah Mada membalaskan kematian sang prabu dan menusuk Tanca sampai mati,” catat Slamet Muljana. Jayanagara mungkin bukan raja favorit rakyat Majapahit. Slamet Muljana menyebut sejumlah pemberontakan pada masa pemerintahannya karena tidak puas dengan penobatan Jayanagara menggantikan ayahnya, Wijaya, pada 1309. Pemberontakan Semi dan Kuti pada 1240 Saka (1318 M) dan 1241 Saka (1319 M) dinilai salah satu wujud dari antipati itu. Padahal, Semi dan Kuti merupakan bagian dari tujuh orang dharmaputra yang dibentuk ketika Kertarajasa Jayawardhana atau Wijaya berkuasa. Pararaton memberitakan, maksud dharmaputra ialah pangalasan wineh suka atau pegawai yang diistimewakan. Selain mereka berdua, ada Pangsa, Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca, dan Ra Banyak. Julukan Kala Gemet yang diberikan rakyat padanya pun menyiratkan hal sama. Setidaknya pengarang Kidung Ranggalawe dan Pararaton memberitakan hal yang serupa soal julukan ini. Dalam Menuju Puncak Kemegahan , Slamet Muljana menjelaskan kata kala berarti penjahat yang mengandung arti ketidaksukaan rakyat atau para pengarang terhadap Jayanagara. “Antipati itu mungkin disebabkan kelakuan tak senonohnya terhadap dua putri keturunan Gayatri,” tulisnya. Sementara kata Gemet adalah bentuk yang berubah dari kata genet dan gamut yang artinya lemah. Pararaton menyebut Jayanagara banyak menderita sakit. “Demikianlah Kala Gemet adalah nama paraben yang mengandung arti ‘penjahat yang lemah’,” lanjut Slamet. Peristiwa Tanca mengakibatkan tewasnya Raja Jayanagara. Baik Pararaton maupun Nagarakrtagama mencatat kematian Jayanagara pada 1250 saka (1328 M).*
- Menteri Cantengan
SOEBANDRIO barangkali satu-satunya menteri luar negeri yang memakai sandal dalam suatu perundingan formal bilateral. Ceritanya bermula ketika Soebandrio berangkat ke Amerika Serikat pada 18 Juli 1962. Presiden Sukarno mengutus Soebandrio berunding dengan pihak Belanda agar menyerahkan wilayah Irian Barat. “Sudah jelas Presiden Sukarno berulang-ulang berkata bahwa: ‘Penyerahan kekuasaan Irian Barat harus berlangsung pada tahun 1962, sebelum ayam jantan berkokok tahun 1963’,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat . Soebandrio memimpin delegasi Indonesia. Turut mendampinginya Letnan Jendral Hidayat Martaatmadja dan Juru Bicara Depertemen Luar Negeri, Ganis Harsono. Sementara pihak Belanda diwakili oleh Herman van Rooijen, duta besar Belanda untuk PBB. Setibanya di Washington D.C., Soebandrio tak segera menunaikan amanat sang presiden. Perundingan itu molor dan baru terlaksana seminggu kemudian. Tempat perundingan sedianya diselenggarkan di Wisma Hunstland, masuk kota Middleburg yang tidak jauh dari Washington. Namun kali ini harus diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington. Apa yang terjadi? “Tanggal 25 Juli 1962 van Rooijen datang ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington, guna melaksanakan perundingan kedua. Saya pada waktu itu menderita infeksi luka, hampir tidak dapat berjalan. Syukur bahwa van Rooijen bersedia datang ke Kedutaan Besar Indonesia,” tutur Soebandrio. Informasi mengenai luka yang dialami oleh Menteri Soebandrio itu termuat dalam warta Suluh Indonesia , 27 Juli 1962. Diberitakan bahwa pada 24 Juli, Subandrio menjalani operasi kecil pada jempol kakinya yang terkena infeksi kuku. Infeksi ini bagi orang awam lazim disebut dengan penyakit cantengan. Gejala cantengan adalah bengkak pada ujung kuku jari yang biasanya bernanah. Akibat kondisi fisiknya tersebut, Subandrio jalan tertatih-tatih. Soebandrio pun terpaksa harus mengenakan sendal saat perundingan berlangsung di hadapan delegasi Belanda dan kelompok mediator dari Amerika Serikat. Beruntunglah, van Rooijen - yang merupakan "lawan" Soebandrio - berbaik hati untuk mau bertandang ke markas Indonesia. Perundingan yang akan menentukan masa depan wilayah yang kini bernama Papua itu pun dapat dilanjutkan. Perundingan berjalan alot dan sengit yang berakhir dengan kemenangan bagi Indonesia.
- Sejarah Gedung KPU
Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) terletak di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Pada masa kolonial Belanda, jalan itu bernama Nassau Boulevard termasuk dalam kawasan Nieuw Gondangdia (sekarang Menteng). Pembangunan jalan ini bermula dari pengembangan Batavia ke wilayah Selatan, yaitu Weltevreden yang meliputi Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) dan Koningsplein (sekarang Gambir dan Medan Merdeka) pada akhir abad ke-18. “Di mana banyak terdapat kantor dan bangunan pemerintah,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Pegawai kantor pemerintah memerlukan tempat tinggal. Hunian ini mengambil lokasi tak jauh dari Weltevreden. Menteng nama lokasi itu. Masih berupa tanah partikelir milik saudagar asal Hadramaut. Dirancang Moojen Kepemilikan wilayah Menteng beralih ke perusahaan De Bouwploeg, bergerak di bidang Real Estate, pada 1908. Perusahaan itu membeli tanah seluas 295 rijnlandsche roeden atau setara 69 hektar dengan harga f. 238.870. “Supaya tanah yang baru diperoleh ini digunakan untuk daerah pemukiman bagi masyarakat golongan atas, yang semakin banyak berkedudukan di Batavia dan mencari rumah-rumah yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka,” tulis Adolf Heuken dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia . Selain Menteng, peralihan kepemilikan juga terjadi pada wilayah Gondangdia. Wilayah ini bertetangga dengan Menteng. Tadinya dimiliki oleh orang kaya berkebangsaan Belanda. Tetapi pada 1910, Gondangdia dibeli oleh Bouw- en Cultuurmaatschappij Gondangdia senilai f. 217.724 untuk luas 315 rijnlandsche roeden atau setara 73 hektare. Setelah urusan pembelian tanah kelar, pemerintah Kotapradja Batavia membentuk kondangdia-comissie untuk merancang wilayah Menteng. Saat itu Menteng bernama Nieuw-Gondangdia. Seorang arsitek bernama P.A.J. Moojen termasuk menjadi anggotanya. Dia memelopori gaya bangunan indische bouwstjil baru. Indische bouwstijl ala Moojen memiliki ide bahwa gaya bangunan bergantung pada iklim, tempat, bahan bangunan tersedia, dan tenaga kerja setempat. Ini pandangan baru dalam arsitektur di Hindia Belanda. “Sebelum abad ke-20 tidak ada arsitek profesional yang datang ke Hindia. Orang-orang Eropa hanya mengaplikasikan apa yang mereka kenali dari Eropa,” tulis Mohamnmad Nanda Widyarta dalam “Tampilan Hindia Melalui Arsitektur” termuat di Tegang Bentang Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia . Moojen juga menghadirkan gagasan baru dalam perancangan wilayah di Hindia Belanda. “Untuk pertama kalinya di Indonesia perluasan sebuah kota dilakukan dengan perencanaan yang matang,” tulis Adolf Heuken. Moojen merancang Nieuw Gondangdia dengan suatu boulevard atau jalan lebar berbentuk radial. Jalan itu mengelilingi sebuah lapangan bundar di tengahnya. Kelak lapangan ini bernama Taman Suropati. Di depan Taman Suropati inilah membentang sebuah boulevard radial dari timur ke barat. Boulevard itu terbagi atas dua seksi: Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) di timur dan Nassau Boulevard (sekarang Jalan Imam Bonjol) di barat. Dua jalan ini dirancang sebagai satu kesatuan yang serasi. Pohon-pohon besar tertanam di tengah Boulevard dan kelak deretan rumah bertingkat berada di sepanjang tepi jalannya dengan kebun luas. Bentuk rumah itu menyesuaikan iklim tropis. “Sehingga menciptakan suasana rapi dan asri pada beberapa jalan di Menteng,” lanjut Adolf. Gedung KPU Tetapi hingga sebelum Perang Dunia II, bangunan di Nassau Boulevard kalah ramai oleh jalan-jalan lainnya di kawasan Nieuw Gondangdia. Nassau Boulevard mulai ramai bangunan memasuki dekade 1950-an. Ketika itu namanya telah berubah jadi Jalan Imam Bonjol. “Maka di Jalan Imam Bonjol cukup banyak bangunan baru didirikan pada tahun 1950-an, namun dalam gaya bangunan pra-perang. Diantaranya terdapat rumah kopel, yang walaupun besar agak sederhana perancangan serta pelaksanaannya,” tulis Adolf Heuken. Selain rumah kopel, berdiri juga sebuah bangunan milik Perkebunan Negara pada 1955. Gedung ini hasil rancangan arsitek Belanda bernama A.W. Gmelig Meyling. Dia bekerja sebagai wakil direktur di biro Ingeneren-Vrijburg NV (BIV) di Bandung. Meyling sempat ditahan pada masa pendudukan Jepang. Kemudian dibebaskan setelah kemerdekaan dan menjadi profesor luar biasa di Institut Teknologi Bandung. Dia berpraktik di Indonesia hingga 1957. Sentuhan Meyling pada Gedung Pusat Perkebunan Negara memiliki ciri khas unsur kubistis kuat. “Seluruh tampak muka dirancang dengan pembias ( louvre ) untuk mencegah sinar matahari masuk ruang-ruang kerja,” tulis Adolf Heuken. Ciri ini tampak pula dalam gedung Societeit Country Club Concordia di Bandung dan Gedung Kantor GEBED di Sukabumi. Gedung Pusat Perkebunan Negara (PPN) kemudian beralih fungsi menjadi kantor Lembaga Pemilihan Umum (LPU) pada 1987. LPU tadinya berkantor di Jalan Matraman Raya No. 40, Jakarta Timur. Tapi Kantor di Matraman itu sudah tidak layak lagi untuk mendukung pekerjaan staf LPU. “Dalam pada itu LPU harus pindah dari Jl. Matraman Raya 40 ke Jl. Imam Bonjol, bekas gedung PPN,” tulis buku Lampiran VI Pemilihan Umum 1987 . Sejak itulah Jalan Imam Bonjol sering jadi pusat perhatian orang saban Pemilu. Setelah Reformasi, berbagai demonstrasi kerap kali terjadi di Jalan Imam Bonjol, depan gedung KPU.






















