top of page

Islamisasi ala Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati memperdalam ilmu agama di tanah Arab untuk disebarkan di Tatar Sunda yang Hindu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kegiatan zikir di Masjid Sang Saka Ratu di Gunung Sembung Cirebon. (Wikimedia Commons).

26 Mei 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 11 Jul

SETIAP malam Jumat Kliwon aktivitas tidak biasa kerap terlihat di Gunung Sembung, Cirebon Utara: warga berbondong-bondong datang ke Kompleks Makam Astana Gunung Jati untuk berziarah sambil berzikir di masjid Sang Saka Ratu.


Tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan waktu tersebut untuk mengambil air dari tujuh sumur yang tersebar di sekitar kompleks. Namun ada pula yang memilih berdiam di area makam para tokoh pendiri Cirebon yang dimakamkan di sana, salah satunya Sunan Gunung Jati.


Sunan Gunung Jati, atau dikenal juga sebagai Syarif Hidayatullah adalah tokoh penegak Islam pertama di Tatar Sunda. Ia dibesarkan dan dididik di tanah Arab. Mengenal Islam dari tokoh-tokoh besar di Mekah dan Baghdad, membuat pengetahuan Islam Syarif Hidayatullah sangat mumpuni untuk disebarkan kepada masyarakat.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page