- 15 Des 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 11 Jul
PERTENGAHAN abad ke-16, kegaduhan terjadi di wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa. Wafatnya pemimpin kharismatik Demak, Sultan Trenggana, membuat kekosongan kekuasaan terjadi di kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Perebutan kekuasaan pun tidak terhindarkan antara Pajang dan Jipang, yang semakin memperkeruh suasana di Jawa kala itu. Akibatnya, banyak negeri vasal yang memutuskan hubungan dengan Demak dan memilih merdeka.
Satu di antara negara yang telah sepenuhnya merdeka itu adalah Giri Kedaton di Gresik, Jawa Timur. Sebenarnya, sejak kejatuhan Majapahit pada 1527, Giri tidak pernah merasa ada di bawah kuasa Demak. Mereka menganggap diri sebagai negeri merdeka dan bebas. Sebagaimana diuraikan H.J De Graaf dan TH. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, baik dalam tutur Demak maupun Giri tidak pernah disebutkan adanya pendudukan atas Giri. Namun kejatuhan itu telah membuat wilayah Gresik secara umum terbebas dari bayang-bayang kuasa Demak.
Di wilayah Giri Kedaton, kekuasaan tertinggi dipegang oleh pemimpin agama. Tempat itu sejak abad ke-15 telah digunakan oleh para ulama untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ajaran Islam. Sewaktu keributan di Demak terjadi, pemimpin agama di Giri diduduki oleh Sunan Prapen, atau dikenal juga dengan nama Sunan Mas Ratu Pratikal. Dia diangkat pada 1548, menggantikan adiknya Sunan Seda-ing-Margi yang tewas di dalam sebuah perjalanan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















