top of page

Kontestasi Narasi Historis di Balik Patung Edward Colston

Kekayaan Edward Colston diperoleh dari jual-beli budak. Fakta ini sejak lama memancing perdebatan layak-tidaknya kedermawanan seorang pedagang budak diabadikan dalam sebuah monumen kota.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Edward Colston. (Wikimedia Commons).

20 Jun 2020
4 menit membaca

Diperbarui: 3 Jul

SEMENJAK patung Edward Colston di Bristol, Inggris digulingkan oleh massa Black Lives Matter pada 7 Juni 2020, perdebatan tentang patut-tidaknya seorang pedagang budak diabadikan dalam monumen kota kembali mengemuka.


Kesangsian akan kedermawanan Colston di Bristol sudah muncul sejak 1920-an, namun terus diabaikan. Baru pada 1990-an ketika sejarawan University of West England Profesor Madge Dresser berbicara tentang sosok Colston dan keterlibatannya dalam perdagangan budak, perdebatan kembali memanas.


“Kalau orang kulit putih melihat patung Edward Colston dengan rasa hormat, orang-orang kulit hitam di Inggris, saya menduga melihatnya sebagai masa lalu yang menyakitkan,” kata sejarawan UGM Budiawan pada Historia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page