top of page

Hasil pencarian

9738 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menjaga Natuna

    Dari 154 pulau di Natuna, hanya 27 pulau yang dihuni. Sudah lama Kepulauan Natuna seakan sendirian di laut lepas. Letaknya pun lebih dekat dengan wilayah Malaysia. “Mereka cerita, sebelum 1995 kalau mencari kebutuhan pokok mereka harus keluar pulau, mereka pakai kapal kayu pinisi atau kapal besi perintis, ditempuh selama tiga hari,” kata Sonny C. Wibisono, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam acara Diskusi Sambil Ngopi Kita bertema “Ada Apa dengan Natuna” di gedung Puslit Arkenas, Jakarta, belum lama ini.  Padahal, Natuna bukannya terpencil. Ia berada di tengah perlintasan perekonomian internasional sejak dulu. Karenanya, sampai sekarang Laut Cina Selatan terutama Laut Natuna menjadi sasaran klaim dari beberapa negara yang berbatasan dengan wilayah itu. “Natuna justru bagian depan. Bukan pulau terluar. Ia yang terdepan dibanding Jakarta. Karena orientasi kita orientasi Jakarta. Justru ini jadi beranda depan,” ujar Sonny.  Hingga kini masih terjadi klaim terhadap Natuna yang dilontarkan negara-negara di Laut Cina Selatan. Kendati pada 2002 negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, termasuk Indonesia, telah melakukan perundingan dengan Tiongkok dan telah menandatangani deklarasi pemanfaatan Laut Cina Selatan secara damai. Natuna Dikuasai Johor Kedudukan politik Kepulauan Natuna memang punya cerita panjang. Sejarawan yang juga guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Djoko Marihandono menemukan arsip penyerahan hampir 300 pulau dari Sultan Johor ke Sultan Riau Lingga. Salah satunya Natuna. Dari sejarahnya kedua kesultanan itu masih berkerabat. Status Kerajaan Riau Lingga merupakan wilayah Raja Muda atau perdana menteri dari Kerajaan Johor. Dalam sebuah catatan utusan Belanda di Riau, William Valentyn, pada 1687 disebutkan beberapa wilayah di bawah naungan Johor. Antara lain Trenganu, Pahang, Sedili, Dungun, Rembau, Muar, Bengkalis, Siak, Pulau Pinang, Tioman, Pulau Auer, Pulau Temaja, Siantan, Bunguran, Pulau Laut, Sarasan, Subi, Tambelan, Sundala, dan Lingga. “Berdasarkan sumber tertulis itu, pada 1687, Bunguran (sekarang termasuk Kepulauan Natuna,  red .) sudah masuk dalam salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Johor,” kata Djoko.  Namun kemudian ada perjanjian antara Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dan Residen Riau pada 1 Desember 1857. Di dalamnya disebutkan soal daerah yang masuk ke dalam daerah Kerajaan Melayu Lingga Riau. Di antaranya Pulau Natuna sebelah utara diperintah Orang Kaya Pulau Laut, pulau-pulau Natuna selatan di bawah Orang Kaya Subi, Pulau Serasan di bawah Orang Kaya Serasan, Pulau Tambelan di bawah Petinggi Tambelan. Perjanjian diperkuat lagi antara Sultan Abdurrahman Muazam Syah dan Residen Riau Willem Albert De Kanter pada 18 Mei 1905. Intinya, pulau-pulau Natuna termasuk ke daerah taklukkan Kerajaan Melayu Lingga Riau. “Suatu hal yang biasa bila raja menghadiahkan sebuah pulau dari pulau-pulau yang dimilikinya yang jumlahnya lebih dari 300 pulau itu kepada kerabatnya,” jelas Djoko. Kendati begitu, menurut Djoko, penyerahan hampir sebanyak 300 pulau dari Raja Johor kepada Raja Riau Lingga merupakan bagian dari diplomasi pemerintah Kolonial Belanda dalam melakukan negosiasi dengan Inggris. Ini yang akhirnya dituangkan dalam Traktat Sumatra yang ditandatangai pada 1871. Traktat itu menyerahkan wilayah Inggris yang berada di Bengkulu kepada Belanda. Penyerahan itu tak cukup imbang jika dibandingkan dengan penyerahan Malaka yang berada di bawah kekuasaan Belanda kepada Inggris. “Patut diduga dan perlu diteliti lebih lanjut bahwa penyerahan 300 pulau kepada pemerintah Belanda merupakan bagian dari persiapan dilaksanakan Traktat Sumatra,” jelasnya. Saat dikuasai Belanda, Kesultanan Riau Lingga tak begitu saja menerima keberadaannya. Strateginya, kesultanan tak melarang penduduk melakukan perompakan. Padahal pemerintah kolonial sudah membentuk pengawas agar perompak tak masuk ke pulau-pulau itu. “Ini terkait kepercayaan mereka, Belanda dianggap kafir, karenanya ditentang. Upaya penumpasan perompakan di Riau tak pernah beres. Sultan sendiri yang melindunginya,” kata Djoko. “Ini juga salah satu perjuangan bumiputra melawan kolonialis.” Merawat Pulau Natuna Kenyataannya, arsip-arsip bersejarah mengenainya sudah banyak yang hilang. Kepulauan Natuna menjadi kian rawan dimiliki negara lain.  “Arsip Pulau Tujuh sudah tak ada lagi, harus cari di Belanda. Natuna bagian dari Pulau Tujuh kalau zaman Kolonial Belanda,” jelas Djoko.“Kelemahan kita tidak ada tradisi tulis. Kita kehilangan arah.”  Karenanya, menurut Djoko, perlu untuk merawat pulau-pulau, terutama yang terletak di perbatasan. Kasus Pulau Sipadan dan Ligitan misalnya. Pulau-pulau ini akhirnya jatuh ke tangan Malaysia berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional. Malaysia dianggap mampu mengembangkan pulau dengan baik. Sementara sebelumnya Pulau Sipadan hanyalah pulau kosong yang tak dimanfaatkan Indonesia. “Pulau-pulau ini (Kepulauan Natuna,  red .) kalau tak dikelola berpotensi hilang. Ligitan karena Malaysia sudah kelola pulau itu. Jadi kata kuncinya jangan membiarkan pulau-pulau itu terlantar,” ujar Djoko. Sementara menurut Sonny, salah satu upaya memanfaatkan Kepulauan Natuna adalah lewat pendekatan kebudayaan. Penelitian arkeologi salah satunya. Ia bersama Puslit Arkenas telah memulai penelitian arkeologi pada 2010. Penelitian itu mengungkap penghunian awal di Natuna dan perannya sebagai persimpangan perdagangan internasional sejak dulu. “Sekarang di Natuna sedang ada pembangunan museum. Kami sengaja mempertontonkan penemuan ini di kabupaten. Menggunakan data arkeologi untuk meng- counter nine dash line ,” jelas Sonny. Nine dash line (sembilan garis putus-putus) adalah wilayah-wilayah yang diklaim Tiongkok di Laut Cina Selatan.

  • Mengaku Sosok Istimewa untuk Memikat Para Petani

    BEBERAPA orang mengklaim dirinya sebagai titisan tokoh atau pemimpin pada awal 2020. Toto Santosa di Purworejo, Jawa Tengah, yakin dirinya adalah Raja Keraton Sejagat. Rangga Sasana di Bandung, bilang dirinya adalah Gubernur Jenderal Nusantara Teritory. Sebagian kecil orang mengikuti mereka. Mayoritas orang justru terbelalak kaget.

  • Berpacu Melawan Waktu dalam 1917

    PAGI 6 April 1917. Kopral Tom Blake (diperankan Dean-Charles Chapman) dan sahabatnya, Kopral Will Schofield (George MacKay), dari Batalyon ke-8 pasukan Inggris tetiba dibangunkan dari istirahat singkatnya oleh Jenderal Erinmore (Colin Firth). Keduanya diberi misi berbahaya: menyampaikan pesan berisi perintah langsung. Blake dan Schofield diperintahkan menerobos garis kubu Jerman guna mengantarkan pesan untuk Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch). Opsi itu diambil Erinmore lantaran jaringan telegram sudah diputus oleh Jerman. Sebelumnya Mackenzie, komandan batalyon ke-2 Resimen Devonshire, berencana mengejar sisa-sisa pasukan Jerman yang mundur. Namun laporan pengintaian udara menginformasikan, ternyata Jerman mundur secara teratur dan teroganisir membentuk kekuatan baru di Hindenburg Line. Jadi 1.600 pasukan Mackenzie, termasuk Letnan Joseph Blake, kakak Kopral Tom Blake, akan masuk ke perangkap Jerman. Demikianlah premis lima menit awal film 1917  karya sutradara Sam Mendes. Karya itu terinspirasi dari kisah kakeknya, Alfred Mendes, yang juga pernah bertugas di Perang Dunia I (PD I) sebagai kurir di pasukan Inggris. Jenderal Erinmore yang diperankan aktor watak Colin Firth (Foto: universalpictures.com ) Sebagaimana subjudul yang dicantumkan Mendes dalam 1917, “Time is the Enemy”, Mendes menggulirkan alur cerita dengan sangat cepat. Tak payah ia harus membangun emosi karakter-karakter pemerannya seperti film-film bertema perang lain semisal Saving Private Ryan (1998). Penonton akan diajak hanyut dalam petualangan Schofield dan Blake yang hanya punya waktu satu hari untuk melintasi beragam medan bermil-mil panjangnya dari markas mereka ke Hutan Croisille, tempat kubu terdepan pasukan Resimen Devonshire. Walau tak menghadirkan adegan perang secara kolosal, bisa jadi secara tak sadar semangat Anda akan ikut terpacu oleh aksi mereka dan itu jadi bagian menariknya. Hal menarik lainnya yakni beberapa scene menegangkan. Mulai dari scene keluar dari parit terdepan pertahanan Inggris hingga aksi sprint Schofield di tengah ledakan dalam pertempuran gelombang pertama Resimen Devons, demi menemui Kolonel Mackenzie. Berhasilkah ia? Saksikan sendiri lengkapnya di layar bioskop yang sudah tayang di Indonesia sejak Januari 2020. Akurasi Sejarah Beberapa kritikus film angkat jempol. Terutama karena Mendes menggarapnya dengan teknik continuous shot / one-shot alias kameramen mengambil gambar close-up maupun zoom-out dengan mengikuti si karakter utama. Memang tidak full 119 menit kameramen non-stop mengikuti pemerannya. Tapi setidaknya, 1917 hanya menerapkan sekali break dan kemudian “dijahit” dengan pengambilan gambar one-shot berikutnya, yakni scene Schofield terjatuh dari tangga dan pingsan usai mengenyahkan seorang sniper Jerman. Menjadikannya film perang pertama yang menggunakan teknik one-shot. “Saya ingin mengisahkan jalan ceritanya dalam waktu yang sebenarnya dalam dua jam. Jadi saya merasa kisahnya akan menjadi natural, di mana penonton akan hanyut dalam pengalaman yang dialami pemerannya,” cetus Mendes dalam wawancaranya dengan Alissa Wilkinson yang dimuat Vox , 10 Januari 2020. Music scoring garapan Thomas Newman kendati minimalis namun terasa pas mengiringi adegan-adegan menegangkan dalam 1917 . Hal menarik lainnya, Mendes menyelipkan dua puisi sebagai pengganti ekspresi di dua adegan berbeda. Pertama , ketika Blake dan Schofield hendak berangkat menjalankan misi. Blake bertanya, apakah hanya mereka berdua yang mengemban tugas genting itu? “ Down to Gehenna or up the Throne. He travels the fastest who travels alone, ” jawab Jenderal Erinmore. Mendes mengutip dua kalimat terakhir bait pertama puisi “The Winners” dari buku The Story of the Gadsbys karya Rudyard Kipling. Adegan Kopral Schofield melantunkan sajak "The Jumblies" untuk menenangkan bayi yang terlantar akibat perang (Foto: Universal Pictures) Puisi kedua diselipkan Mendes di saat Schofield bertemu seorang gadis dan bayi terlantar di rumah yang hancur di kota Écoust. Schofield yang teringat putrinya di kampung halaman, menyenandungkan syair: “ They went to the sea in a Sieve, they did. In a Sieve they went to the sea.In spite of all their friends could say. On a winter’s morn, on a stormy day. In a Sieve they went to sea ...,” yang merupakan potongan puisi bertajuk “The Jumblies” karya Edward Lear. Agar tak bikin “sakit mata” penonton yang paham sejarah, Mendes cukup berhati-hati pada wardrobe, properti film, dan sikap-sikap militer di era tersebut. Ia menggandeng sejarawan Andy Robertshaw dan konsultan sejarah militer Paul Biddiss. Kolase adegan menegangkan Kopral Schofield berkejaran dengan waktu mengemban misi berbahaya (Foto: Universal Pictures) Alhasil semua detail artistik dalam 1917 nyaris sempurna. Contohnya, penggunaan senapan Lee Enfield Mk. III yang memang digunakan Inggris saat itu, senapan Gewehr 98 untuk serdadu Jerman, dan pistol Webley Mk. IV yang acap jadi pegangan perwira Inggris. Mendes juga tak lupa menggambarkan latar beberapa horor dan kengerian korban-korban perang, mulai dari bangkai kuda hingga mayat-mayat yang membusuk terpendam baik di dalam tanah maupun kubangan air. Pun dengan detail lain untuk latar filmya, karena ia harus membuat kondisinya seperti asli lantaran menggunakan teknik one-shot tanpa CGI (Computer-Generated Imagery) atau ilusi buatan komputer. Seperti kondisi parit kubu Inggris yang berlumpur dan berantakan dan parit kubu Jerman yang rapi. Mendes juga menghadirkan tank asli seperti Tank Mk. II yang dipinjam dari The Tank Museum di Dorset, Inggris. Namun, namanya film pasti disarati dramatisasi sehingga membuat beberapa fakta sejarahnya kurang detail dan bahkan melenceng. Toh memang Mendes menggarapnya berdasarkan kisah kakeknya, Alfred Mendes, bukan kisah nyata. Oleh karenanya semua nama karakternya pun fiktif. Tank Mk. II yang turut dihadirkan untuk melengkapi akurasi sejarah di film "1917" (Foto: Universal Pictures) Hindenburg Line dan Pasukan Koloni Inggris Yang melenceng adalah pengambilan latar waktu. Mendes memulainya dengan keterangan waktu 6 April 1917, ketika pasukan Jerman mulai mundur dari front utara Prancis. Latar itu merujuk pada Unternehmen Alberich (Operasi Alberich) yang terjadi sudah sejak 9 Februari 1917. Mengutip Haig’s Enemy: Crown Prince Rupprecht and Germany’s War on the Western Front karya sejarawan Universitas Birmingham Jonathan Boff, Operasi Alberich digulirkan setelah perdebatan antara Jenderal Erich Ludendorff, putra mahkota Pangeran Rupprecht, dan Jenderal Fritz von Below. Hasilnya yakni perintah mundur taktis setelah pasukannya mengalami kerugian besar di Pertempuran Somme (1 Juli-18 November 1916). Pun dengan detail tentang respons pasukan Inggris saat mengetahui Jerman mengundurkan diri dari posisinya. “Ketika Jerman bermanuver mundur taktis, pihak Entente (Sekutu) tak segera menyadarinya. Saat mereka mulai insyaf, mereka maju dengan sikap hati-hati karena banyak jebakan dan perangkap di parit-parit Jerman yang ditinggalkan,” ungkap Boff. Fakta itu kontradiktif dengan sikap Kolonel Mackenzie dalam film yang ingin buru-buru mengejar pasukan Jerman yang mundur. Kolase adegan Kopral Schofield dan Blake yang menemukan parit-parit Jerman yang ditinggalkan usai mundur dari posisinya (Foto: Universal Pictures) Dalam faktanya, Jerman mundur ke Hindenburg Line (Jerman: Siegfriedstellung ) untuk mempersempit garis pertahanan mereka pasca-Pertempuran Verdun dan Pertempuran Somme. Jerman mundur dan membentuk garis pertahanan baru yang membentang dari Arras ke Laffaux sepanjang 140 kilometer. Di sinilah epilog Perang Dunia I. Hingga Jerman sudah menyiapkan diri di garis pertahanan baru itu, Inggris/Sekutu akhirnya tetap menyusul hingga meletuskan sejumlah bentrokan, mulai dari Pertempuran Arras (9 April-16 Mei 1917) hingga Pertempuran Meuse-Argonne (26 September-11 November 1918) yang sudah mulai mengikutsertakan Amerika Serikat, yang berlangsung sampai berakhirnya Perang Dunia I. Terlepas dari beberapa kekurangan itu, menariknya Mendes menghadirkan “warna” lain dalam pasukan Inggris. Satu di antaranya, karakter prajurit Jondalar (Nabhaan Rizwan), seorang tentara Sikh dari unit British India. Tentara yang khas mengenakan turban dan berkumis itu dijumpai Schofield kala diberi tumpangan Kapten Smith (Mark Strong) untuk ikut truk militer pasukannya ke kota Écoust, hingga harus terhenti gegara sebuah jembatan dihancurkan Jerman. Juga dihadirkannya serdadu Inggris berkulit hitam, Prajurit Grey (Elliot Edusah), yang tengah mengangkat tandu, sebelum adegan pertemuan Schofield dengan Letnan Joseph Blake (Richard Madden), kakak sahabatnya yang tewas di tengah jalan. Dua detail ini jarang ditampilkan berbagai film perang sebelumnya macam Dunkirk (2017). Unit kavaleri dari tentara British India di front barat Perang Dunia I (Foto: nam.ac.uk ) Padahal, menukil The Indian Army 1914-1947 karya Ian Sumner, pasukan “sukarela” dari India dan negara koloni Inggris lain seperti Nepal (Gurkha), Jamaika, Barbados, Tobago, Trinidad (kakek sang sutradara berasal dari Trinidad), Grenada, British Guiana, punya andil besar dalam pasukan Inggris di Perang Dunia I. Mulanya, Inggris punya jumlah personil terkecil ketimbang negara lain, yakni 250 ribu personil. Sekira 450 ribu lainnya didatangkan dari negara-negara koloni untuk menggenapi jumlah 700 ribu serdadu. Dari India jumlahnya sekira 130-140 ribu personil, terbagi masing-masing ke dua unit infantri dan kavaleri. Mereka sudah dikirim ke front sejak 1914, sebagai hasil dari rekrutmen sukarela Menhan Herbert Kitchener. Para serdadu India itu lebih dulu terlibat di Pertempuran Somme sampai Pertempuran Cambrai (20 November-7 Desember 1917) dalam rangka Inggris menembus Hindenburg Line. Mereka dipindahkan ke front Afrika Utara pada Maret 1918. Dari arsip laporan Commonwealth War Graves Commission on India 2007-2008, dari sekira 140 ribu tentara India yang terlibat di front Barat, nyaris sembilan ribu di antaranya tewas.

  • Digulis Jadi Artis

    Untuk menyingkirkan para pemberontak, Belanda menyiapkan Boven Digul. Lokasinya yang kelilingi hutan di tengah-tengah Pulau Papua dan sungai-sungai penuh buaya membuat para tahanan hampir mustahil untuk kabur. Selain itu malaria dan isolasi dari peradaban manapun diharapkan membuat para pembangkang kapok. Banyak dari orang-orang buangan tetap pada pendiriannya. Banyak pula yang menyerah atau pura-pura jinak agar dipulangkan ke kampung halaman. Mereka yang berhasil bebas dari Digul ada yang tetap melawan kolonialisme, ada pula yang pensiun karena kapok dibui. Salah satunya adalah Mustajab Budrasa, digulis yang jadi artis. Mustajab Budrasa lahir di Tegal pada 13 April 1901. Menginjak remaja, ia masuk ke Sekolah Guru Normal dan kemudian lulus pada 1918. Ia lalu menjadi guru sekolah dasar di Pekalongan hingga 1925. Surat kabar Merdeka , menyebut karena bercita-cita kuat untuk mencapai kemerdekaan, Mustajab lalu terjun dalam gerakan Sarekat Rakyat, pecahan Sarekat Islam yang mendukung Semaoen. Ia dipilih sebagai ketua di daerah Tegal. "Berhubung dengan itu ia lalu meninggalkan kalangan perguruan dan dengan adanya pemberontakan pada tahun 1926, oleh pemerintah jajahan, Sdr. Moestajab diasingkan ke Boven Digul,” tulis Merdeka , 12 Februari 1947. Pada 1931, Mustajab dibebaskan dari Digul. Setelah bebas dari Boven Digul, ia bergabung dengan sandiwara Dardanella. Bersama Dardanella, ia ikut dalam berbagai pementasan ke Malaya, Muangthai, hingga India pada 1934. Pada 1936, Mustajab membentuk sandiwara Bolero bersama rekannya Bachtiar Effendy. Ketika pecah Perang Dunia II, ia sedang berada di Singapura bersama sandiwara Bolero. Ia baru bisa kembali ke tanah air setelah perang mereda pada akhir 1945. Potret Mustajab Budrasa pada 1975. (Arsip Sinematek). Setelah kembali dari Singapura, Mustajab bergabung dengan sandiwara Dewi Mada. Tak lama, ia keluar dan bergabung dengan sandiwara Bintang Surabaya dan Irama Masa. Dalam dua kelompok sandiwara itu, ia didapuk menjadi pimpinan. Karier sandiwara Mustajab cukup pajang. Setelah berkali-kali pindah kelompok sandiwara, akhirnya ia bergabung dengan sandiwara Pantjawarna dan Bintang Timur pimpinan Djamaludin Malik. Oleh Djamaludin Malik, ia diberi kepercayaan untuk memimpin Pantjawarna. Pada 1949, Mustajab mulai masuk ke dunia film. Film pertama yang ia bintangi berjudul Terang Bulan,  rilis pada 1950. "Barangkali telah jemu dengan sandiwara, yang memang pada waktu itu kurang mendapat perhatian yang layak dari masyarakat, Pak Mustajab coba-coba main di film. Memang waktu itu, film di Indonesia telah mulai dikenal masyarakat," tulis Minggu Pagi , 25 Januari 1959. Semasa aktif di dunia film, Mustajab mendorong para pekerja film untuk turut menjadi alat propaganda revolusi Indonesia dan perebutan Irian Barat. Ia belajar dari pengalaman bahwa pada masa pendudukan Jepang, seniman-seniman dimanfaatkan sebagai alat propaganda politik. "Saran yang demikian itu dikatakan oleh Pak Mustajab, karena tampak adanya tendensi bahwa pemerintah yang berwenang belum menaruh perhatian ke sana (ranah kebudayaan)," sebut Minggu Pagi . Berdasarkan arsip Sinematek, dekade 1950-an menjadi tahun paling produktif bagi Mustajab. Ia muncul dalam film Djembatan Merah (1950), Ajah Kikir 1951), Si Mintje (1952), Lagu Kenangan (1953), Kasih Sajang (1954), hingga Kasih dan Tjinta (1956). Setidaknya, 32 film telah ia bintangi pada dekade ini. Mustajab tetap aktif pada 1960-an dengan membintangi D jakarta By Pass (1962), Kami Bangun Hari Esok (1963), dan empat film lainnya. Sedangkan pada 1970-an ia juga mendapat peran dalam film Ratu Amplop (1974). Salah satu anak Mustajab, yakni Endang Kusdiningsih, mengikuti jejak ayahnya sebagai artis. Sebelumnya, Endang juga pemain drama dan sandiwara seperti ayahnya. Endang membintangi film Tarmina (1954) dan terpilih sebagai aktris pendukung terbaik dalam Festival Film Indonesia yang pertama pada 1955. Endang kemudian berperan dalam film Hadiah 10.000 (1955) dan Kasih dan Tjinta (1956). Namun, karier Endang tak sepanjang ayahnya yang masih aktif hingga 1977. Endang pensiun dari dunia perfilman selepas bermain di film Malam Tak Berembun (1961). Film Manager Hotel (1977) menjadi film terakhir Mustajab sebelum meninggal dunia pada tahun yang sama. Tepatnya pada 12 September 1977, Mustajab Budrasa meninggal dunia di rumahnya di Jakarta. Tak banyak yang mengetahui berita duka ini dari kalangan pekerja film. Hanya dua orang artis film, yakni aktor Darussalam dan istrinya, Netty Herawaty, yang hadir pada hari pemakamannya.

  • Rezim Kopi Menak Guntur

    Ketika tiba di tanah Jawa pada  5 Januari1808, Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808—1811) mengemban tugas berat dari Lodewijk Napoleon, adik Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang menjadi Raja Belanda. Itu terjadi karena pada 1806 Belanda jatuh ke tangan kekuasaan Prancis. “Semasa pemerintahan Daendels, Pulau Jawa dan seluruh bekas wilayah VOC merupakan representasi kekuasaan Prancis di wilayah Asia,” ungkap Prawoto Indarto dalam The Road to Java Coffee . Selain harus memperbaiki sistem administrasi di Pulau Jawa yang kacau balau, penganut ide-ide Revolusi Prancis yang fanatik itu wajib pula mendongkrak eknomi di tanah Jawa demi pemasukan kas Kerajaan Belanda. Salah satu yang harus dibenahi oleh Daendels adalah bisnis kopi. Menurut Prawoto, sang gubernur jenderal memberi perhatian khusus terhadap pengelolaan kopi di Jawa karena barang itu merupakan komoditas dunia yang tengah meroket harganya saat itu. Di masa sebelumnya, kopi juga telah memberi begitu banyak masukan bagi kas Belanda. Lantas langkah apa yang dilakukan oleh Daendels? Hal yang paling awal dilakukan Daendels adalah membentuk Inspektur Jenderal Tanaman Kopi pada 9 Juni 1808. Institusi yang dipimpin oleh C. van Winkelman itu bertugas mengatur semua yang berhubungan dengan bisnis kopi di Jawa: mulai dari pembukaan lahan perkebunan kopi hingga penyetoran biji kopi ke seluruh gudang pemerintah di Jawa. Dalam tesisnya yang berjudul Bupati Priangan, Kedudukan dan Peranannya Pada Abad ke-19 , sejarawan U. Sobana Hardjasaputra menyebutkan bahwa setiap tahun Winkelman wajib melaporkan daftar tanaman kopi di seluruh Jawa kepada Daendels. Dia juga yang bertanggungjawab terhadap peraturan yang mewajibkan setiap keluarga di Jawa untuk menanam 500 pohon kopi. “Padahal pada waktu sebelumnya hanya diwajibkan menanam 200 pohon kopi,” tulis Hardjasaputra. Pewajiban itu diikuti dengan pengangkatan tenaga pengawas perkebunan yang diberi pangkat militer sederajat dengan kapten. Seorang Kapten Kopi diharuskan menyetor 300 pikul kopi (perpikul=126 pon) kepada pemerintah Hindia Belanda. Andaikan dia tidak bisa memenuhi target tersebut, maka penurunan pangkat menjadi Letnan Pertama akan menantinya. Begitu seterusnya hingga dia berhasil kembali memenuhi kuota 300 pikul. Masalah harga kopi juga diurusi oleh Daendels. Pada 4 April 1809, dia menetapkan harga kopi perpikul seberat 225 pon adalah 4 ringgit uang perak bagi orang biasa. Sedangkan khusus untuk kopi yang berasal dari tangan para bupati, perpikulnya (seberat 126-128 pon) dihargai dengan uang seringgit. Guna memudahkan identifikasi, pada 1808-1809 Daendels pun membagi wilayah Priangan menjadi dua: wilayah penghasil kopi dan wilayah bukan penghasil kopi. Produsen tradisional kopi seperti Cianjur, Sumedang, Bandung dan Parakanmuncang tentu saja dimasukan dalam kelompok pertama. Sedangkan wilayah-wilayah lainnya seperti Limbangan, Sukapura dan Galuh dimasukan dalam kelompok kedua. Daendels pun berupaya mengeliminasi peran para pelaku tradisional yang utama dalam bisnis kopi. Para menak Sunda yang terdiri dari bupati dan santana dijadikan Daendels hanya sebagai bawahannya dan secara resmi merupakan bagian dari struktur pemerintahan Hindia Belanda. “Untuk menghilangkan hak-hak istimewa penguasa tradisonal, Daendels menerapkan sistem gaji buat mereka,” ujar sejarawan Bondan Kanumoyoso. Menurut Bondan, efesiensi birokrasi itu semata-mata bukan karena soal ekonomi. Sebagai penganut garis keras ide-ide Revolusi Prancis, Daendels sangat membenci sistem feodal yang sudah mendarahdaging di kalangan para menak Sunda. Karena itu, dia berupaya memberantasnya. Pemberlakuan peraturan itu dilaksanakan secara tegas oleh Daendels. Dia tak segan memecat para bupati yang membangkang terhadap perintahnya. Itu terjadi kepada Bupati Parakanmuncang Tumenggung Aria Wira Tanureja yang menolak untuk menanam 300.000 pohon kopi di wilayahnya. Begitu galaknya Daendels, hingga masyarakat Priangan menjulukinya sebagai Menak Guntur. Itu mengacu kepada, suara sang gubernur yang jika dalam keadaan marah bisa mengeluarkan suara yang keras laiknya guntur. Namun rezim kopi di bawah Sang Menak Guntur juga mengupayakan pembangunan infrastruktur di Jawa seperti jalan raya pos ( groote postweg ). Selain untuk memudahkan surat menyurat antar pejabat Hindia Belanda dan melancarkan jalur logistik jika terjadi penyerangan Inggris ke Jawa, upaya itu juga ditujukan untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi (termasuk kopi) dari pelosok ke pelabuhan-pelabuhan besar. Kendati Daendels sudah mengupayakan berbagai langkah radikal untuk memajukan bisnis kopi, namun di masa dia berkuasa bisnis kopi justru terjun bebas. Sebagai perbandingan saat awal Daendels berkuasa pada 1808, ekspor kopi dari Jawa berjumlah 7.289 ton. Jumlah itu menurun tajam ketika akhir kekuasaannya: hanya 1.224 ton. Bisa jadi penurunan produksi kopi Jawa asal Priangan terjadi karena soal politik. Hubungan buruk antara para menak Sunda dengan Daendels menjadikan dukungan pengembangan bisnis kopi tersendat. “Citra Daendels memang buruk di kalangan para penguasa tradisional karena kebijakan-kebijakannya dinilai tidak populis,” ungkap Bondan Kanumoyoso. Kesalahan itu kemudian diperbaiki pada era Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830—1833). Malah di masa sang pencipta Cultuur stelsel  (sistem kultivasi) itu, keluar surat edaran dari pemerintah Hindia Belanda yang mewajibkan para residen agar bersikap sopan dan hormat kepada para bupati, lengkap dengan sanksi yang mengikutinya jika tidak dijalankan. Kebijakan itu terbukti efektif. Sejak 1834, kopi Jawa secara perlahan mulai menuju kejayaannya kembali. Sembilan tahun kemudian, seiring dengan melonjaknya permintaan dunia, kopi Jawa berhasil memasok 56.940 ton ke pasaran dunia. Itu setara dengan 27 persen jumlah kopi yang dibutuhkan dunia saat itu.

  • Mencari Penghuni Awal Natuna

    Syahdan, Sultan Johor Alaudin Riayat Syah mempunyai seorang putri bernama Tengku Fatimah. Tapi sultan malu karena sang putri lumpuh. Tengku Fatimah pun diasingkan ke Pulau Serindit. Di sana, ia bertemu dengan Demang Megat, pemuda asal Phatani yang terdampar. Mereka lalu menikah. Keduanya membentuk pemerintahan baru di Pulau Serindit. Demang Megat digelari Orang Kaya Serindit Dina Mahkota. Perkampungan pertama yang mereka dirikan disebut Mahligai. Rumah-rumah dibangun dari Kayu Bungur. Dari nama kayu inilah kemudian Pulau Serindit berganti nama menjadi Pulau Bunguran, salah satu pulau di Natuna.  Begitulah cerita rakyat yang dikenal di Natuna. Kisah itu disampaikan oleh Sonny C. Wibisono, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam acara Diskusi Sambil Ngopi Kita bertema "Ada Apa dengan Natuna" di gedung Puslit Arkenas, Jakarta, Kamis (30/1).   "Mereka tahunya Johor. Tapi apakah baru masa Johor saja (Natuna,  red. ) dihuni?" tanya Sonny memancing diskusi.  "Ceritanya selalu tentang Demang Megat. Masyarakat tahunya begitu. Jadi ada  gap  antara fiksi dan fakta. Yang mana sejarahnya?" tanyanya   lagi.  Riwayat Natuna tak cukup dipelajari hanya lewat legenda dan dongeng. Apalagi untuk mengungkap identitasnya. Dalam sejarahnya, Natuna memang pernah menjadi bagian dari daulat wilayah besar Johor-Riau. Kelangsungan pemerintahannya di bawah Orang Kayo, di tengah budaya Islam yang berkembang. Namun, riwayat masyarakat Natuna mungkin bisa ditarik lebih jauh ke belakang. Di Pulau Bunguran, pulau terbesar di Natuna, memiliki banyak situs arkeologi. Khususnya di sepanjang pantai. Ada satu situs bernama Batu Sindu, bukit di Semenanjung Senubing, pantai timur Bunguran. Di sinilah jejak hunian awal di Natuna ditemukan. Bukti-bukti artefak didapatkan di antaranya beliung batu dan pecahan tembikar berslip merah polos. Tembikar jenis ini mencirikan peralatan penutur bahasa Austronesia. Ada pula yang berhias tatap bercap atau berukir. Corak ini dikenal sebagai corak Batu Melayu. Biasanya ditemukan di situs-situs Asia Tenggara Daratan dan di Borneo, seperti di Gua Sireh. Pertanggalannya dari sekira 5.000 tahun lalu.  Ditemukan juga pecahan tembikar berhias geometris pola tumpal dan garis. Tembikar seperti ini populer di kawasan Sahuyn, Vietnam, dan Kalanay, Filipina. "Ini tempat-tempat yang berhadapan dengan Natuna," kata Sonny. "Jadi ada satu kelompok besar yang tinggal di peradaban Laut Cina Selatan." Temuan-temuan itu mengindikasikan adanya interaksi Natuna dengan kawasan perairan Laut Cina Selatan. "Belum ada data pertanggalan yang mendukung, jadi belum tahu kapan interaksi terjadi," kata Sonny. Beralih dari Batu Sindu, masih di pulau yang sama, di Desa Setapang, sebelah utara Kota Ranai ditemukan sisa permukiman dan keranda kayu. Keranda kayu ini berupa perahu lesung. Diduga ia dijadikan peti kubur. Keranda semacam ini juga ditemukan di Batu Bayan, selatan Kota Ranai. Bentuk kerandanya mirip dengan temuan di Sulawesi Selatan dari Bulukumba sampai Pulau Selayar. Keranda kubur juga ditemukan di Vietnam dan diidentifikasi sebagai bagian dari budaya Dong Son.  "Tak jauh dari peti kubur (di Setapang,  red. ), pada kedalaman yang sejajar ditemukan mangkuk. Tampaknya bagian dari bekal kubur dari peti kubur. Rangka atau tulangnya tak lagi bersisa," jelas Sonny. Arkeolog Puslit Arkenas, Naniek Harkantiningsih dalam  Arkeologi Perbatasan Natuna: Perlintasan Budaya dan Niaga  menulis, warga pernah mendapatkan keramik utuh di sekitar lokasi ini. Keramik itu bergaya Dinasti Yuan dari abad ke-13 sampai ke-14.  Keramik memang menjadi komoditas impor di kawasan Natuna. Berdasarkan catatan Naniek yang dipublikasikan dalam “Natuna: Jalur Pelayaran dan Perdagangan Jarak Jauh”, termuat dalam  Di Balik Peradaban Keramik Natuna,  sebagian besar adalah keramik yang berasal dari Tiongkok abad ke-9 sampai ke-20, mencakup era Dinasti Song, Yuan, Ming, dan Qing. Keramik yang bukan dari Tiongkok baru ada mulai abad ke-14. Temuan keramik Vietnam, misalnya, berasal dari abad ke-14 hingga ke-15. Ditemukan juga keramik Thailand dari sekira abad ke-15 sampai ke-16, keramik Belanda dari abad ke-19-20, keramik Jepang dari abad ke-19-20, keramik Inggris dari abad ke-20, dan keramik Singkawang dari abad ke-20. "Temuan ini membuktikan bahwa Pulau Natuna merupakan salah satu pusat dan perlintasan niaga, dari sekira abad ke- 9 sampai ke-20," tulis Naniek. Sementara itu, menurut Sonny, temuan di Natuna memiliki kesamaan dengan di Situs Kota Cina di Sumatra Utara, Muarojambi di Jambi, dan Palembang. Ini memperlihatkan adanya jaringan pelayaran. Dari banyaknya temuan, terlihat kejayaan perniagaan yang melibatkan Pulau Natuna dimulai dari abad ke-9 sampai ke-10. Pada masa itu Sriwijaya tengah berkembang. Perniagaan terus meningkat pada abad ke-11 sampai ke-13.  Selanjutnya ada Situs Sepempang. Ditemukan kubur yang bagian kepalanya di arah barat laut, dan bagian kaki di tenggara. Namun tak ditemukan bekal kubur. Rangka manusia ditemukan pula di Situs Tanjung. Di tangan kirinya ditemukan gelang perunggu. Sama seperti sebelumnya, posisi kepala berada di arah barat daya, kakinya di timur laut.   “Kalau begini sudah pasti bukan muslim. Kuburan Islam arahnya utara,” kata Sonny.  Rangka manusia lain yang ditemukan di situs itu memiliki barang-barang   berupa senjata besi, seperti pisau dan keris.   Dari sini terlihat, jenis bekal kubur di situs-situs kuno Natuna berbeda-beda. "Apakah masing-masing mewakili suatu etnis tertentu? Jadi, Natuna tidak hanya satu jenis etnis. Ada banyak etnis di Natuna? Karena Natuna bisa dilewati banyak pelayaran," kata Sonny. Hingga kini, para peneliti masih mencari   penanggalan pasti kapan penghuni paling awal di Natuna. "Kami sempat mengajak Bu Hera (Herawati Supolo Sudoyo, peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, red. ) untuk mengetes DNA-nya tapi belum dapat hasilnya," kata Sonny. Sayangnya, banyak situs yang sudah tak utuh. Kebanyakan karena ulah pemacok atau pemburu benda kuno yang mencari dengan cara menusuk-nusuk tanah menggunakan tongkat besi. Akibatnya kini para arkeolog kesulitan mengamati bukti cara hidup manusia pada masa lalu. "Kita keduluan 20 tahun. Sudah banyak yang hilang," kata Sonny.  Sementara hubungan Natuna dengan Johor bukan cuma sebatas legenda. Sumber sejarah dan arsip tentang Kesultanan Johor memperjelas hubungan keduanya. Kebesarannya berlangsung sejak abad ke-16 hingga abad ke-18.  Naniek menjelaskan,   Kesultanan Johor-Riau menerima sumpah setia dari masyarakat di kawasan yang membentang dari bagian selatan jazirah Melayu, Kepulauan Riau termasuk Singapura masa kini, Kepulauan Anambas, Tambelan, dan Kepulauan Natuna, kawasan sekitar Sungai Sambas di Kalimantan barat-daya dan Siak di Sumatra tengah-timur.  "Kesultanan Johor-Riau juga menyatakan bahwa orang-orang yang diperintah para penguasa Kampar, bendahara Pahang, dan Trengganu adalah kawulanya," jelas Naniek. Jejak pemerintahan Melayu di Natuna terlihat di pesisir Selatan seperti Segeram, Sedanau, dan Pulau Tiga. Ada peninggalan kuburan Islam yang orientasinya ke utara. Nisan-nisannya dari batu karang laut. "Temuan-temuan di Natuna mengagetkan kita. Natuna itu kecil, tak pernah menjadi Sriwijaya, tak pernah jadi kerajaan besar,” ujar Sonny. "Temuan-temuan ini menunjukkan ada organisasi besar untuk mengatur perdagangan kala itu."

  • Nasib Tragis Kapal Inggris

    BERT “Curly” Harris selalu ingat hari ketika peristiwa yang merenggut nyawa Edwin, kakaknya, dan juga nyaris merenggut nyawanya terjadi. Peristiwa itu terjadi perairan Norwegia, Laut Utara, awal Perang Dunia II. Bert merupakan personil AL Inggris yang –diterima pada 14 Februari 1938– bertugas sebagai stoker  di kapal perusak (destroyer) HMS   Glowworm . Di kapal itu pula Edwin berdinas sebagai stoker . Menyusul pecahnya Perang Dunia (PD) II, Glowworm  bersama beberapa destroyer lain ditugaskan mengawal kapal penjelajah berat HMS Renown  melancarkan Operasi Wilfred pada 5 April 1940. Operasi penebaran ranjau di perairan Norwegia itu bertujuan untuk menutup jalur distribusi impor bijih besi Jerman dari Swedia. Inggris menggelarnya setelah gagal mendapat izin dari Swedia dan Norwegia untuk menempatkan pasukan di kota-kota utara dua negeri netral itu, terutama kota pelabuhan Narvik, Norwegia. Dari kota pelabuhan itulah bijih besi, bahan pembuat baja beragam peralatan militer Jerman, Swedia dikirim ke Jerman. Dengan menutup jalur perairan itu, Inggris berharap mematikan industri Jerman. Pasalnya, Swedia jadi satu-satunya pemasok bijih besi ke Jerman setelah terhentinya pasokan bijih besi dari Prancis menyusul pecahnya PD II. Bijih besi itu bisa dikirim langsung Swedia ke Jerman lewat pelabuhan Lulea hanya pada musim panas. Namun, perairan di pelabuhan itu membeku saat musim dingin sehingga bijih besi untuk Jerman hanya bisa dikirim menggunakan keretaapi ke pelabuhan Narvik untuk kemudian dibawa kapal-kapal Jerman lewat Laut Utara. Dengan menebar ranjau di laut itu di lepas perairan Norwegia, Inggris berupaya untuk menggiring kapal-kapal pengangkut bijih besi Jerman masuk ke perairan internasional. Di perairan internasional, kapal-kapal AL Inggris bisa menenggelamkan atau menangkap kapal-kapal Jerman. Misi itulah yang diemban Glowworm ketika berlayar mendampingi HMSRenown pada 5 April 1940. Pelayaran itu terasa berat lantaran kabut tebal, gelombang tinggi mengguncang-guncang kapal, dan udara sangat dingin. “Begitulah yang terjadi sampai pagi 6 April ketika alarm berbunyi memperingatkan bahwa seorang pelaut tercebur ke laut, dia petugas bagian torpedo,” kata Harris, dimuat hmsglowworm.org.uk . Setelah mengirimkan sinyal ke Renown dan mendapat balasan, Glowworm putar balik untuk melakukan pencarian. Renown dan kapal-kapal lain tetap melanjutkan perjalanan. “Itu membuat kami sendirian. Kami tak pernah melihat mereka lagi,” kata Harris. Alih-alih berhasil menemukan awaknya, Glowworm malah terpisah dari konvoinya. Upayanya mencari konvoi sepanjang hari sia-sia. Kesialan itu masih berlanjut hingga keesokan paginya, ketika satu awak lain mengalami nahas terlempar dari dek. Kendati berhasil diangkut kembali ke kapal, awak itu sudah terluka parah. Harris dan beberapa rekannya mengganggap itu sebagai pertanda buruk. Benar saja, pagi 8 April, Harris yang sedang tidur di ranjang gantungnya dikagetkan oleh bunyi alarm keras. Dia langsung bergegas menuju tempat tugasnya –yang berada di bagian belakang; tempat para stoker memasok peluru atau peledak lain ke kru senjata ( gun crew ) guna ditembakkan– sebagaimana awak lain menuju tempat tugas masing-masing. Dalam perjalanan, Harris melihat sebuah destroyer di kejauhan dan bertanya-tanya kapal siapa itu. “Kapten kami, Lt. Cdr. Roope, mengirim sinyal yang menanyakan kebangsaan dan tak mendapat balasan. Momen berikutnya kapal (destroyer, red .) itu menjawab dengan sebuah salvo dari meriam-meriamnya,” kata Harris. “Kesenangan pun dimulai.” Destroyer itu merupakan Bernd von Arnim (Z11) dan Hans Ludemann (Z18) milik Kriegsmarine (AL Jerman). Destroyer-destroyer itu mengawal kapal penjelajah berat Admiral Hipper dari Grup 2 naval detachment dalam Operasi Weserubung, operasi penyerbuan Denmark dan Norwegia oleh Jerman. Glowworm langsung membalas dengan kanonnya. “Setelah saling berputar, ia berbalik dan menjauh bersama kami yang mengejarnya,” kata Harris. Destroyer-destroyer meminta bantuan Admiral Hipper . “Beberapa saat kemudian, kami diberi tahu bahwa kami mengejarnya ke posisi skuadron armada kami yang bisa dilihat dari kejauhan. Namun, kami segera mendapati kesalahan karena itu adalah skuadron Jerman yang kami masuki.” Pukul 9.50, Glowworm bertemu Admiral Hipper yang panjangnya dua kali lipat darinya. Alih-alih kabur, komandan Glowworm Letnan Komander Gerard Broadmead Roope memilh melawan. “Selama kampanye Norwegia, kapal-kapal Inggris berulangkali menunjukkan tekad bunuh diri. Salah satu alasannya adalah, peraturan angkatan laut; yang lain adalah sikap umum para perwira angkatan laut negara-negara yang berperang, yang mengharapkan bertempur dengan gagah melawan musuh dan tenggelam dengan kibaran bendera, dan penghormatan pantas bila terjadi,” tulis buku yang dieditori Holger Afferbach dan Hew Strachan, How Fighting Ends: A History of Surrender . Meski selamat dari tiga tembakan kanon 8 inci Hipper , Glowworm akhirnya terbakar setelah dihantam kanon keempat Hipper . “Sementara kami terus memasok senjata, rasanya semua kacau. Ia ( Hipper ) sepertinya memukul kami dengan keras saat kami mengejar,” kenang Harris.   Dalam “lindungan” kabut dan asapnya sendiri, Glowworm menjauh dari Hipper . Upaya itu sia-sia karena persenjataan Hipper telah dipandu radar. Beberapa saat kemudian, beberapa kanon 4,1 inci Hipper kembali menghantam Glowworm. Ruang radio, bridge , kanon 4,7 inci Glowworm langsung hancur. Sementara, kanon 4,7 inci Hipper memporak-porandakan ruang mesin, ruang kapten, dan menara Glowworm . Di tengah kondisi parah itu, Glowworm menembakkan lima torpedonya. Sayang tak satupun dari lima torpedo itu menyentuh Hipper . Glowworm terus bermanuver untuk menghindari senjata-senjata lawan. Begitu kabut menipis, Roope memerintahkan nahkoda untuk mengarahkan Glowworm menabrak Hipper . “Saya masih di magazine (kompartemen senjata) ketika Glowworm memberi dorongan ekstra ke depan dan ada tabrakan dan bergetar. Lampu padam, kapal berguling dan terombang-ambing,” kata Harris. Glowworm berhasil menabrak Hipper tepat di atas jangkarnya. Selain kehilangan seorang awak yang terbentur akibat tabrakan, Hipper kehilangan jangkar dan sebuah torpedo depan-kanan. Tabrakan juga membuat lambung depan Hipper bolong sehingga mengalami kebocoran kendati tak parah dan bisa ditangani para awaknya. Glowworm sendiri terbakar hebat dan terapung-apung di lautan. “Kami baru saja membuat permainan besar terakhir. Kemudian datang perintah untuk meninggalkan kapal,” kata Harris. Evakuasi dimulai. Saat melintasi tempat kakaknya ketika akan menuju dek atas, Harris sempat berhenti dan mencari kakaknya. Tak berhasil. Dia melanjutkan ke dek atas. Suasana amat kacau lantaran para personil Hipper masih menembaki awak Glowworm yang hendak menyelamatkan diri menggunakan senapan mesin maupun pistol. Sementara Glowworm telah terbalik ke kanan dan mulai tenggelam, Harris ragu apakah akan melompat atau tetap di kapal sebagaimana banyak dipilih stoker lain meski sudah mengenakan pelampung. Selain ombak besar, tumpahan minyak amat tebal dan dinginnya air bisa membekukan. Dia akhirnya melompat ke laut setelah diperintahkan Roope yang berkeliling untuk memastikan evakuasi berjalan baik. “Itu terakhir kali saya melihat Lt.Cdr Roope,” kata Harris. Harris terombang-ambing oleh ombak. “Saya hanya hanyut, berenang atau tidak tak ada bedanya,” kenangnya. “Lalu tiba-tiba saya melihat kapal Jerman di depan saya. Saya berenang sekuat mungkin, karena saya pikir jika saya tak mencapainya saya akan hilang selamanya.” Awak Hipper akhirnya ikut menyelamatkan awak Glowworm . “ Admiral Hipper menunggu setidaknya satu jam untuk mengambil orang yang selamat,” tulis Henry Buckton dalam Retreat: Dunkirk and the Evacuation of Western Europe . Dari perahu Jerman, Harris dipindahkan ke Hipper . “Saat saya pindah, salah satu dari mereka memberi rokok dan bertanya apakah saya baik-baik. Saya berada di bawah pancaran lampu yang mereka pasang untuk menghangatkanku. Kata-kata pertamaku adalah menanyakan kabar kakakku, tapi tak ada,” kata Harris yang akhirnya merelakan kepergian kakaknya bersama 109 awak Glowworm lain yang tenggelam. Sebanyak 29 – versi lain menyebut 31– awak Glowworm akhirnya selamat setelah dinaikkan ke Hipper . Sayang Roope tak berhasil diselamatkan. Lukanya terlalu parah sehingga dia tak sanggup menggapai tali yang dilemparkan oleh awak Hipper . Para awak Glowworm di kapal Hipper akhirnya dibawa ke Jerman dan dijadikan tawanan. Selama pelayaran, mereka diperlakukan dengan baik. “Saya mengatakan mereka adalah pelaut Jerman terbaik yang pernah saya kenal. Mereka menjaga kami sebaik mungkin. Kapten mereka mendatangi kami dan memberitahu bahwa kapten kami adalah orang yang sangat pemberani,” kata Harris. Kekaguman Hellmuth Heye, komandan Hipper , akan keberanian Roope lalu dilanjutkannya dengan meminta Kementerian Angkatan Laut Inggris agar menganugerahi Roope sebuah penghargaan. Permintaan itu disampaikannya lewat pesan yang dikirim ke palang merah.   “Raja (George VI) dengan senang hati menyetujui pemberian Victoria Cross kepada mendiang Letnan Komander Gerard Broadmead Roope atas keberaniannya,” tulis The London Gazette yang dikutip Buckton.

  • Bidan Berjuang di Medan Perang

    SAMIARTI Martosewojo, Sulastri, Mardiana Firdaus, Rusdiati Koesmini, Supiah, Sufitah, Kus Adalina, Djoharnin, Maryati, Sumartinah, Clara Lantang, Corrie Probonegoro, Daatje Idris, Murni Kadarsih, dan Soejati tak sedikitpun takut pada suasana perang. Perang mempertahankan kemerdekaan justru membulatkan tekad 15 siswi sekolah bidan itu untuk maju ke medan perang sebagai tenaga medis bagi para pejuang. Kala itu, jumlah tenaga medis di Indonesia amat minim. Di Jakarta misalnya, jumlah dokter yang semula 26 menyusut menjadi 14 orang lantaran ada rumah sakit yang tutup. Dokter-dokter itu kembali ke negaranya atau berpihak pada Sekutu. Jumlah bidan pun amat minim. Di Rumah Sakit Budi Kemulyaan yang sebelumnya terdapat enam biro konsultasi kehamilan, jumlahnya justru berkurang. Sudar Siandes mencatat dalam Profesi Bidan Sebuah Perjalanan Karier,  pada pertengahan 1946 beberapa biro harus ditutup lantaran kekurangan bidan dan tenaga medis. Rumahsakit ini pun agak keteteran memberikan bantuan persalinan di awal kemerdekaan. Meski demikian, selama enam bulan dari 1945 hingga pertengahan 1946, Budi Kemulyaan berhasil menangani 1157 persalinan dalam sebulan. Paling sedikit, rumahsakit ini menangani 451 persalinan dalam sebulan. Minimnya jumlah bidan membuat Budi Kemulyaan membuka pelatihan bidan untuk gadis, minimal tamatan SMP atau yang sudah mendapatkan pendidikan keperawatan, antara 1945 hingga 1947. Sebanyak 163 gadis mendaftar sebagai murid sekolah bidan tersebut, 15 di di antaranya dikirim ke palagan Surabaya. Mereka dikirim ke palagan di bawah bendera Palang Merah. Dokter Walter Tambunan bersama O.E. Engelen, asistennya yang seorang mahasiswa kedokteran di Ika Daigaku, memimpin rombongan tersebut. Kala itu, kondisi medis di Surabaya amat memprihatinkan. Hampir seluruh rumahsakit di Surabaya mengalami masalah serupa, yakni pasien membludak, alat medis terbatas, dan kekurangan petugas medis. Untuk menjaring bantuan dari luar daerah, selama pertempuran Surabaya berlangsung, Radio Pemberontak terus menyiarkan berita perang terbaru. Berkat pidato dan popularitas Bung Tomo, obat-obatan, bantuan medis, bahan pangan, tentara, dan beragam dukungan berhasil dikumpulkan  dari luar daerah. Dalam siarannya, Bung Tomo acap memaki pasukan musuh dalam bahasa Jawa Surabaya. Frank Palmos dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku  lebih jauh mencatat, di medan laga kala itu jumlah korban berjatuhan tak sebanding dengan jumlah tenaga medis yang harus merawat mereka. Beruntung, perawat, dokter, dan bidan baru terus berdatangan dari daerah lain untuk membantu rumah sakit yang masih kebanjiran pasien. Bahkan gedung-gedung sekitar rumah sakit pun dijadikan ruang perawatan. Para relawan ini, kemudian hari dikenal sebagai gadis-gadis P3K. “Relawan baik pejuang maupun tenaga medis datang dari berbagai penjuru Nusantara,” kata Rosihan Anwar, seperti dikutip Frank Palmos. Begitu tiba di Surabaya, para bidan dan dr. Walter Tambunan langsung bergabung dengan relawan medis dari daerah lain. Orang-orang yang terluka langsung dibawa ke RSU Pusat namun semakin hari pasien makin banyak. RS Karangmenjangan yang tadinya RS Angkatan Laut Jepang pun sudah tak mampu menampung pasien. Ketika situasi perang makin memburuk dan pengeboman Inggris dimulai, kaum perempuan Surabaya berbondong-bondong turun tangan sebagai tenaga medis. Semua tim medis yang terkumpul dibagi menjadi beberapa kelompok dan dikirim ke Ngemplak, Plampitan, Kampemen, Kedungdoro, dan Embong Sawo. Merekalah yang membantu para korban untuk dibawa ke rumah sakit. Salah satu perempuan yang bergabung dengan tim medis ialah Truus Iswarni Sardjono. Ia bergabung dengan Palang Merah 45 pimpinan Loekitaningsih. Pada Historia Truus bercerita bahwa ia pernah menyaksikan anak-anak kecil yang tewas terkena bom Inggris. Banyaknya korban membuat tim medis keteteran dan kurang tidur. Mereka harus berjaga secara bergiliran untuk menolong korban-korban perang. “Kita itu 24 jam…. Kalau kita bisa merem, itu sudah hebat,” kata Truus. Lantaran rumah sakit dianggap sebagai wilayah netral untuk keperluan kemanusiaan, para relawan medis bisa keluar masuk daerah perang dengan relatif aman. Biasanya mereka naik mobil ambulans atau kendaraan dengan atap bertuliskan Palang Merah. Selain membawa pasien, truk-truk medis juga membawa obat, bahan farmasi, alat medis, dan bedah. Setelah perang usai, dari seluruh bidan yang berangkat, hanya delapan di antaranya meneruskan sebagai bidan dan bergabung dengan Ikatan Bidan Indonesia yang dibentuk pada 1950.

  • Imlek Bersama Presiden Jokowi

    Presiden Joko Widodo menjadi magnet dalam perayaan Imlek Nasional 2020 di ICE BSD Tangerang Selatan, Kamis, 30 Januari 2020. Dalam perayaan tahun baru Tionghoa itu, Jokowi menyampaikan pentingnya menjaga keberagaman dan pluralisme. Ia juga sempat berkelakar soal kerja keras. "Selamat memasuki tahun tikus logam. Shio saya kerbau. Katanya tahun ini saya harus kerja keras. Padahal tahun kemarin saya sudah super kerja keras," seloroh Jokowi dalam sambutannya. Presiden ketujuh itu juga menarik perhatian hadirin karena mengenakan baju tradisional Tiongkok, changshan berwarna merah. Baju yang dipakai itu merupakan baju yang dirancang oleh desainer Anne Avantie. "Saya senang sekali hari ini bisa pakai baju ini ( changshan )," kata Jokowi disambut tepuk tangan hadirin. Presiden bersama Susi Susanti dan seorang hadirin ketika hendak membagikan sepeda. (Fernando Randy/Historia). Dalam acara tersebut tampak hadir mantan Wakil Presiden Try Sutrisno dan istri mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid. Serta hadir pula Menteri Agama Fachrul Razi dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, serta perwakilan dari kerajaan-kerajaan yang masih ada di Indonesia. Darma Ismayanto dalam tulisannya di historia.id , Kala Musim Semi Tiba ,  menyebut Imlek atau Tahun Baru Cina di negeri asalnya merupakan perayaan menyambut musim semi. Tradisi ini berkaitan dengan sistem penanggalan kalender Tionghoa yang berpatokan pada peredaran bulan berpadu peredaran matahari. Sistem penghitungan ini dikenal sebagai kalender Lunisolar, di mana awal tahun bertepatan dengan masuknya musim semi. Karena itu, di Tiongkok, Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan sebutan Chunjie (perayaan musim semi). Aksi paduan suara di acara Imlek Nasional 2020. ( Foto : Fernando Randy/Historia) Sementara Novi Basuki, mahasiswa doktoral di Sun Yat-sen University, Cina, menyebut perayaan tahun baru Imlek merupakan hari rayanya kaum tani. Kitab Shang Shu dan dan kitab Li Ji telah menyebut adanya perayaan ini pada masa Kaisar Shun berkuasa sekitar 2184 SM. Hal ini juga berkaitan dengan Tiongkok sebagai negara agraris sejak ribuan tahun sebelum kelahiran Khonghucu. "Dengan demikian barangkali bisa dibilang, hari raya Imlek bukanlah monopoli pemeluk agama Khonghucu semata, melainkan seluruh masyarakat Cina, terlepas apa pun agama yang kini diimani atau tidak diimani mereka,” tulis Basuki dalam artikelnya di historia.id : Benarkah Khonghucu Memerintahkan Perayaan Tahun Baru Imlek? Di Indonesia, perayaan Imlek diperkirakan sudah ada sejak orang-orang Tionghoa bermigrasi ke kepulauan Nusantara dan membentuk komunitas-komunitas Tionghoa. Pada masa penjajahan, pemerintah melarang adanya perayaan Imlek. Kemudian pada masa pedudukan Jepang, berdasarkan keputusan Osamu Seiri No. 26 tanggal 1 Agustus 1942 hari raya Imlek menjadi hari libur resmi. Salah satu penyanyi saat menghibur di acara Imlek Nasional 2020. ( Foto : Fernando Randy/Historia) Ini merupakan kali pertama perayaan Imlek di Hindia Belanda diakui secara resmi dan dijadikan hari libur. Hal ini ternyata merupakan cara pemerintah Jepang "membersihkan" masyarakat Tionghoa dari pengaruh budaya Barat. Pada masa pemerintahan Sukarno, Imlek tetap dirayakan. Kala itu, Sukarno mengeluarkan Penetapan Pemerintah 1946 No.2/Um tentang “Aturan tentang Hari Raya” di mana pada Pasal 4 menyebut Hari Raya Tiong Hwa meliputi Tahun Baru, Wafat N. Kong Hu Cu, Tsing Bing dan Hari Lahir N. Khong Hu Cu. Kemudian pada Pasal 5 disebutkan bahwa, "pada hari Raya Tiong Hwa, maka semua kantor pemerintah dibuka setengah hari, kecuali kantor-kantor pejabatan penting yang menurut pendapatan kepalanya harus dibuka sehari, sedangkan pegawai bangsa Tiong Hwa diwajibkan masuk kantor." Barongsai dalam perayaan Imlek Nasional 2020. (Fernando Randy/Historia). Setelah Sukarno lengser dan kekuasaan diambil alih Soeharto, terjadi pelarangan terhadap Imlek. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 tahun 1967, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk perayaan Imlek. Pada masa ini, perayaan Imlek digelar secara tertutup dan diam-diam. Sejak 2000, Imlek kembali dapat dirayakan secara terbuka oleh masayarakat Tionghoa di Indonesia. Keran bagi ekspresi kebudayaan masyarakat Tionghoa kembali dibuka oleh Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur setelah mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967. Kemudian pada 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2002. Sejak itu, Imlek kembali digelar dengan semarak.

  • Perjalanan Hidup Ip Man

    MENGENAKAN kacamata hitam untuk menutupi air matanya, Bruce Lee (diperankan Danny Chan) berusaha berjalan tegap. Beberapa langkah di hadapannya tampak foto mendiang guru paling dihormatinya, Ip Man, yang wafat pada 2 Desember 1972. Perjalanan Ip Man juga ditampikan dalam beberapa cuplikan di akhir bagian film Ip Man 4: The Finale,  seri layar lebar paripurna Ip Man yang diperankan Donnie Yen .   Dari empat seri Ip Man yang diperankan Donnie Yen, diakui Sifu  Martin Kusuma, pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Indonesia, bahwa sebagian besar kisah-kisahnya didramatisir. “Kisah aslinya Ip Man enggak seperti itu. Memang banyak sekali dramatisasinya. Kalau diurutin dari seri yang pertama, enggak ada yang benar sebetulnya,” ujar Martin kepada Historia . Sifu Martin Kusuma pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun Indonesia yang belajar langsung dari Ip Ching, putra kedua Ip Man (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Keluarga Tuan Tanah Dalam biografi yang dituliskan putra keduanya, Ip Ching, bersama Ron Heimberger, Ip Man: Portrait of a Kung Fu Master , disebutkan Ip Man lahir di Foshan, Provinsi Guangdong, China selatan pada 1 Oktober 1893 dari keluarga kaya raya. Nama lahirnya Ip Kai-man. Ia anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Ip Oip-dor dan Ng Shui. Ip Oi-dor merupakan hartawan pemilik banyak bisnis dan investasi tanah. Kerajaan bisnisnya membentang dari jalan-jalan utama kota Foshan sampai Hong Kong. Dari salah seorang penyewa lahan ayahnyalah Ip Man mengenal wing chun. “Ip Man pertamakali mengenal wing chun dari Chan Wah-shun. Dia orang yang menyewa lahan di belakang rumahnya Ip Man,” sambung Martin. Ip Man kecil tumbuh sebagai anak yang pintar selama belajar pendidikan Khonghucu. Namun sejak Chan Wah-shun membuka kelas wing chun di belakang rumahnya yang disewa dari Ip Oi-dor pada 1905, Ip Man yang baru berusia 12 tahun mulai sering telat pulang. Usai sekolah, biasanya Ip Man lebih dulu menonton guru wing chun itu mengajar beberapa muridnya, di antaranya putranya sendiri Chan Yiu-min dan Ng Chung-so. Di kemudian hari, keduanya jadi guru Ip Man. “Segera ia minta untuk menjadi murid Chan Wah-shun dan permintaan itu membuat Chan berada di posisi sulit. Ia cemas karena kondisi Ip Man yang sering sakit-sakitan, namun di sisi lain ia anak tuan tanah yang tempatnya dia sewa. Chan mencoba melunturkan semangatnya dengan mengatakan bahwa lazimnya anak berpendidikan dan kaya takkan bisa jadi murid beladiri yang baik,” ungkap Benjamin Judkins dan Jon Nielson dalam The Creation of Wing Chun: A Social History of the Southern Chinese Martial Arts. Kolase sosok asli Ip Man di usia senja (Foto: londonwingchun.net/kwokwingchum.com ) Upaya Chan gagal lantaran Ip Man bersikeras ingin belajar wing chun sebagai murid ke-16 alias murid terakhir Chan. Sang guru akhirnya memberi syarat Ip Man membayar uang latihan dengan 20 ons perak murni jika ingin menjadi muridnya. Jumlah itu lebih mahal dari bayaran 15 murid lain yang hanya membayar 20 tael. “Harga 20 ons perak murni di masa itu bisa untuk beli sebuah rumah, membiayai sebuah pernikahan, atau memulai bisnis kecil-kecilan. Keesokan harinya Chan syok melihat Ip Man datang dengan syarat yang diminta. Setelah Chan membicarakannya dengan Ip Oi-dor, Chan insyaf bahwa memang keinginan keluarga untuk Ip Man belajar beladiri dan Chan menerima Ip Man sebagai murid ke-16 dan terakhir,” lanjut Judkins dan Nielson. Ip Man hanya tiga tahun dilatih Chan lantaran kesehatan sang guru menurun dan akhirnya pensiun. Namun, Ip Man tetap bisa terus belajar lantaran Chan mewasiatkan pada Ng Chung-so untuk meneruskan melatih Ip Man hingga usia 15 tahun. Kala itu usia 15 dianggap sudah usia dewasa. Di usia itu pula Ip Man kemudian dikirim orangtuanya ke Hong Kong untuk meneruskan pendidikan. Lewat bantuan kerabatnya, Leung Fut-ting, Ip Man masuk sekolah berbahasa Inggris terbaik di Hong Kong, St. Stephen’s College. Tanpa guru di Hong Kong, Ip Man hanya bisa berlatih wing chun sendiri bermodal ajaran-ajaran teknik chi sao (teknik tempel tangan), dan mok yan jong (boneka kayu). Ip Man berkembang menjadi arogan lantaran tiada satupun teman-temannya yang bisa mengalahkannya. Arogansi itu membuatnya kemudian harus bertarung menghadapi pria paruh baya bernama Leung Bik. Pertarungan itu berawal dari ulah Lai Yip-chi, teman Ip Man. Lai memberi tahu bahwa seorang teman ayahnya yang usianya sudah 50-an merupakan praktisi kungfu. Lai menantang Ip Man untuk menghadapinya. Tantangan itupun diterima Ip Man dengan senang hati. Meski Bik sudah paruh baya, gerakannya lebih cepat dari Ip Man. Gerakan-gerakannya bikin Ip Man tak berdaya. Kiri ke kanan: Chan Wah-shun guru pertama Ip Man, Leung Bik guru ketiga Ip Man, Dr Leung Jan yang merupakan ayah Leung Bik dan guru dari Chan Wah-shun (Foto: dragonwingchun.com ) Ip Man mengaku kalah dan tak berani tarung ulang. “Saya merasa terlalu malu untuk bertemu dia lagi. Saya bukan tandingannya sama sekali,” cetus Ip Man, dikutip Samuel Kwok, salah satu murid Ip Man, dalam The Weapons of Wing Chun . Ip Man baru tahu di kemudian hari bahwa Bik adalah anak dari Dr. Leung Jan, guru Chan Wah-shun si guru wing chun pertama Ip Man. Ip Man lalu minta diri untuk jadi murid Bik dan sang guru menerima Ip Man dengan senang hati. Titik Balik Ip Man baru pulang ke Foshan tahun 1917 atau enam tahun pasca-keruntuhan Dinasti Qing. Namun sepeninggal sang ayah, Ip Man yang mewarisi hartanya, menjual sejumlah aset bisnis di Hong Kong. Ip Man memilih hidup dari hasil penjualan aset-aset bisnis itu ketimbang melanjutkannya. Dengan begitu ia merasa lebih bebas memperdalam wing chun pada Ng Chung-so sekaligus menata reputasi bagi jago-jago kungfu manapun yang menantangnya. Ia juga menikahi anak tuan tanah lain, Cheung Wing-sing, pada 1923. Putra pertamanya, Ip Chun, lahir setahun berselang. “Ip Man itu anaknya ada empat. Selain Ip Chun, ada Ip Ching dan dua lagi perempuan (Ip Nga-sum dan Ip Siu-wah, red. ). Kalau di film Ip Man pertama (2008), Ip Chun yang ditonjolkan. Kalau di Ip Man 4 ini Ip Ching. Tapi di film-filmnya enggak pernah ditonjolkan dua anak perempuannya, mungkin karena memang enggak belajar beladiri,” sambung Martin. Kolase sosok Ip Man yang diperankan Donnie Yen (Foto: Mandarin Films) Sial baginya. Ketika tengah menikmati hidup tenang dengan membuka sekolah wing chun dan melanjutkan beberapa bisnis yang masih berjalan, situasi geopolitik berubah. China diinvasi Jepang pada Juli 1937. Itu jadi awal titik balik kehidupan Ip Man. Rumah mewah dan beberapa bisnisnya diambil paksa tentara pendudukan Jepang. “Orang Jepang tahu Ip Man merupakan ahli kungfu. Selama pendudukan Jepang, Ip Man menerima banyak undangan untuk melatih tentara Jepang. Tetapi ia menolak dan malah memilih mengungsi ke rumah Kwok Fu (salah satu murid Ip Man, red. ) di pedesaan luar kota Foshan,” ujar Robert Hill dalam World of Martial Arts! Selepas Perang Dunia II, yang membuat Jepang angkat kaki dari China, Ip Man tak bisa hidup seperti sediakala. Jaringan bisnis tekstilnya hancur. Harta Ip Man di rumah mewahnya habis sudah banyak dijarah Jepang. Ia hanya bisa mengandalkan reputasinya sebagai guru kungfu untuk menjadi kepala polisi Kuomintang di Foshan. Kondisinya lebih nahas menimpa Ip Man ketika pada 1949 Partai Komunis China (PKC) digdaya di Perang Saudara (1946-1949). Ketika PKC mendirikan Republik Rakyat China, Ip Man yang seorang perwira polisi Nasionalis tak punya pilihan untuk bertahan. Seiring tanah-tanah miliknya direbut kaum Komunis atas nama reforma agraria, Ip Man mengungsi ke Hong Kong via Taiwan dan Makau. Potret Ip Man dan Bruce Lee, salah satu muridnya yang paling populer lintas benua (Foto: kwokwingchun.com ) Kehidupannya tambah menyedihkan lantaran harus berpisah dengan putri dan istrinya. Upaya istri dan anaknya menyusulnya pada 1951 gagal lantaran China menutup perbatasannya dengan Hong Kong. “Fakta itu yang kemudian juga salah di film-filmnya. Padahal istrinya enggak bisa ikut ke Hong Kong, tapi di film ada. Juga terkait Ip Ching, guru saya. Di film (Ip Man 2) disebutkan dia lahir di Hong Kong, padahal dia sudah lahir duluan di Foshan,” tutur Martin lagi. Ip Man tak punya skill lain selain wing chun lantaran ia pilih menganggur setelah lulus dari St. Stephen’s College. Dengan sepicis-dua picis modal yang dia punya, Ip Man pun membuka sekolah wing chun di Castle Peak Road, Distrik Sham Shui Po, dan kemudian pindah ke Lee Tat Street di Distrik Yau Ma Tei. Dari Hong Kong itulah wing chun dipopulerkan oleh beberapa muridnya, seperti Duncan Leung dan Lee Jung Fang alias Bruce Lee, ke seluruh dunia. “Memang yang paling menonjol menyebarkan wing chun itu Ip Man. Katakanlah 90 persen yang ada di dunia itu wing chun-nya Ip Man. Karena sejak 1949 Komunis itu menang, mereka ada Revolusi Budaya. Semua unsur agama dan budaya dibubarkan, termasuk kungfu. Jadi para guru kungfu itu menyebar keluar China. Dan yang beraliran wing chun hanya sedikit dan kurang berkembang selain Ip Man,” tandas Martin.

  • Lagu Buat Alex Kawilarang

    KETIKA masih berpangkat mayor (1946), demi suatu kepentingan Alex Evert Kawilarang ada di Jakarta. Berpenampilan sebagai orang sipil, ia menumpang sebuah becak untuk sampai ke tujuan. Tak dinyana, di depan Centraal Burger Ziekenhuis (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo), becak yang ditumpanginya disalip sebuah jip militer berisi 4 serdadu KNIL. Jip tersebut kemudian berhenti beberapa meter di depan becak yang ditumpangi Kawilarang. Para serdadu KNIL itu dalam gerakan kilat berloncatan dari kendaraan itu dan salah seorang dari mereka berdiri menghadang perjalanan Kawilarang.

  • Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan

    Prasasti kutukan terlengkap ditemukan Kota Sriwijaya, Palembang. Penguasa Sriwijaya juga menempatkan prasasti kutukan di luar pusat kota, yaitu daerah-daerah yang mereka taklukkan. Dua prasasti kutukan yang ditempatkan di Palembang, yaitu Prasasti Bom Baru dan Prasasti Telaga Batu. Selain itu, ada Prasasti Baturaja yang ditemukan di Baturaja. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sementara Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menjelaskan Palembang telah dihuni manusia paling tidak sejak abad ke-7, tepatnya pada 682. Ini sesuai dengan pertanggalan Prasasti Kedukan Bukit yang memberitakan keberhasilan perjalanan Dapunta Hiyang, seorang penguasa dari Kedatuan Sriwijaya.   Sebelum abad ke-7 pun mungkin Palembang sudah berpenghuni. Pasalnya, jauh di pedalaman Musi dan anak-anak sungainya sudah berkembang kebudayaan yang lebih awal. Misalnya di daerah dataran tinggi Pasemah, di sekitar kota Pagaralam, dan Lahat. “Melalui Sungai Musi dan anak-anaknya, manusia dari daerah pedalaman datang ke Palembang,” kata Bambang kepada historia.id . Palembang juga merupakan tempat bertemunya Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Kramasan dengan Sungai Musi. Akibatnya, ia menjadi tempat bertemunya manusia dari daerah hulu sungai-sungai yang bermuara di tempat itu. Dari situ terbentuklah pasar. Di Palembang lalu tumbuh suatu peradaban dengan institusi dalam bentuk kedatuan. Ini kemudian dikenal dengan nama Kedatuan Sriwijaya. “Saya berpegangan pada anggapan bahwa pusat Sriwijaya pada awalnya ada di Palembang,” ujar Bambang. Di kota Sriwijaya itu tinggalah para pejabat mulai dari putra mahkota hingga tukang cuci. Karenanya, menurut Bambang, di tempat itu ditanamkan prasasti persumpahan terlengkap, Telaga Batu. Pada bagian atas prasasti itu terdapat ukiran tujuh kepala ekor naga. Bagian yang ditulis ada di bawah hiasan kepala naga. Di bagian bawah bidang tulis ada saluran air yang membentuk cerat di tengahnya. Mungkin, dulu air suci disiramkan pada prasasti. Air itu mengalir ke bawah menuju ke bagian cerat. “Air ditampung pada mangkuk untuk diminumkan pada para pejabat baru yang mengangkat sumpah setia,” ujar Bambang. Prasasti Telaga Batu. Prasasti kutukan itu, kata Bambang, diletakkan di Kota Sriwijaya, yang kini menjadi wilayah Pelambang, supaya seluruh penduduk kota tak berkhianat. “Mulai dari putra mahkota hingga tukang cuci disumpah. Merekalah orang-orang paling dekat dengan raja,” kata Bambang. Jika Palembang diyakini sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya, di luar pusat pemerintahan juga ditemukan prasasti-prasasti kutukan. Seperti prasasti yang ditemukan Karangberahi di Jambi, Kota Kapur di Bangka, Palas Pasemah dan Jabung di Lampung. Bedanya dalam prasasti persumpahan yang ini tak ditemukan nama-nama jabatan dalam lingkup kedatuan. Menurut Bambang, prasasti-prasasti dibuat bukan karena ada masalah di masing-masing lokasi itu. Namun, prasasti-prasasti itu ditempatkan setelah lokasinya ditaklukkan oleh penguasa Sriwijaya. Sebelumnya pada masing-masing lokasi itu sudah terdapat permukiman. Untuk mengantisipasi agar permukiman-permukiman yang sudah ditaklukkan itu tidak memberontak, maka ditempatkanlah prasasti kutukan. “Ini sifatnya umum. Berbeda dengan yang ditemukan di Telaga Batu yang sifatnya khusus karena ditempatkan di Kota Sriwijaya,tempat para pejabat tinggal,” kata Bambang. Wilayah Malayu yang pertama kali diduduki oleh penguasa Sriwijaya pada awal masa perkembangannya. Malayu penting dikendalikan karena menguasai beberapa pelabuhan di sekitar Selat Malaka. “Salah satu tempat yang ideal di sekitar Selat Malaka adalah pelabuhan Malayu,” kata Bambang. Menurutnya, soal kedudukan Malayu yang menjadi bagian dari Sriwijaya didukung oleh catatan biksu Tiongkok, I-Tsing. Ketika kembali dari India pada 685 , dia mencatat Mo-lo-yeu , yang diartikan sebagai Malayu, sekarang sudah menjadi bagian dari Fo-shih atau Sriwijaya. Pun terbukti pula dengan adanya prasasti kutukan Karangberahi. Kemudian ada Prasasti Kota Kapur (686)yang merupakan petunjuk bahwa daerah tersebut termasuk dalam wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dalam bukunya, Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra, Bambang menulisbahwa Kota Kapur perlu ditaklukkan karena kalau tidak akan menjadi penghalang pintu masuk ke pusat Sriwijaya di Palembang.Pelabuhan di Kota Kapur berada di jalur yang menghubungkan Sriwijaya dan Jawa. Jauh sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya, Kota Kapur telah dihuni kelompok masyarakat yang menganut ajaran Hindu. “Sriwijaya menaklukan Kota Kapur karena telah ada permukiman Waisnawa yang mungkin menguasai sumberdaya alam tambang timah,” kata Bambang. Mungkin karena tempat tersebut dipandang strategis, yaitu di tepi Selat Bangka, Sriwijaya pun menaklukannya terlebih dahulu sebelum menaklukan tempat lain. Soal menaklukan tempat lain ini tersirat dalam Prasasti Kota Kapur. “Pemahatannya berlangsung ketika balatentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi Jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya,” catat prasasti itu. Hal yang sama dilakukan juga ke daerah lain, misalnya ke Palas Pasemah dan Jabung di Lampung. Dengan menduduki daerah-daerah itu, Sriwijaya tidak perlu memindahkan ibukotanya yang ada di Palembang. Lalu ditempatkan prasasti persumpahan agar penduduk dan penguasa di sana tak melakukan pembe­ron­takan. “ Kala itu sumpah sangat populer dan dipercaya betul ,” ujar Bambang.

bottom of page