Hasil pencarian
9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Merawat Ingatan Tentang Pangkalan Brandan
PANGKALAN Brandan terletak di Kabupaten Langkat sekitar 80 km dari kota Medan. Lokasinya strategis karena dilalui jalan lintas timur Sumatra dan pintu gerbang menuju Aceh. Dahulu, Pangkalan Brandan kesohor sebagai daerah penghasil minyak. Pada kurun waktu tertentu, Pangkalan Brandan menjadi kilang minyak terbesar di Sumatra.
- Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman
Batavia menjadi salah satu daerah paling penting pada masa VOC bercokol di Hindia Timur. Setelah berhasil menguasai Batavia pada 1619, VOC mendirikan berbagai bangunan untuk mendukung aktivitas perdagangannya di Hindia Timur. Salah satu kompleks bangunan itu Kastil Batavia. Letaknya sekarang di Kampung Tongkol, tak jauh dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Wilayah ini dulu menjadi pusat kota Batavia. Seorang warga sedang mencuci mobil di kawasan bekas gudang Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kawasan Kampung Tongkol yang bersebelahan langsung dengan gudang dan tembok bekas kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kastil Batavia menjadi saksi tangguhnya VOC sebagai perusahaan dagang selama hampir dua abad . Kastil ini dibangun pada masa J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia pada 12 Maret 1619. VOC butuh sebuah benteng yang kuat dan aman dari serangan musuh. Karena itu, Coen merombak benteng lama yang bernama Fort Jacatra, termasuk tembok dan bangunan lainnya. Sebuah mobil truk kontainer terparkir di samping bangunan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bekas ban yang berserakan di kawasan gudang dan tembok bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Coen membangun tembok baru berbentuk persegi empat yang lebih kokoh daripada tembok lama. Tembok itu dibangun mengelilingi kota Batavia. Selain tembok, Coen juga membuat kanal-kanal untuk menyulitkan musuh masuk ke kota. Lalu di sebelah selatan tembok baru, dia membangun Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Luas Kastil Batavia hampir sembilan kali luas Fort Jacatra. Kastil Batavia dikelilingi oleh empat bastion atau selekoh di empat penjurunya. Bastion adalah bagian tembok benteng yang sedikit menjorok keluar dan dipersenjatai. Masing-masing bastion punya nama: Parrel, Robijn, Diamant, dan Saphier. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Di dekat Kastil Batavia, Coen membangun sejumlah gudang untuk menyimpan berbagai dagangan VOC. Sekarang Kastil Batavia dan gudang-gudang itu sudah runtuh. Sebelumnya terdapat empat gudang tua di kawasan ini. Satu per satu mulai hilang tertelan pembangunan kota. Dua gudang terkena pembangunan jalan tol. Satu gudang lainnya hancur dimakan waktu. Hanya satu yang tersisa. Di dinding depan gudang itu masih terlihat jelas tulisan "Major Massie". Gudang ini bernama Graanpakhuizen yang berarti Gudang Biji-bijian. Gudang ini dulunya berfungsi untuk menyimpan beras, kopi, teh, rempah-rempah, jagung, kacang, dan lainnya. Bekas gudang penyimpanan makanan di kawasan Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat bermain di kawasan gudang bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, seiring berjalannya waktu, gudang ini mulai dilupakan. Akses masuknya menjadi tempat bongkar muat berbagai truk dan kontainer. Material temboknya ambyar di berbagai sisi. Tak ada lagi kesan gagah pada bagunan ini. Malah tampak menyeramkan. Tak heran jika beberapa acara misteri di stasiun televisi swasta sering menjadikan tempat ini untuk syuting. “Kru acara televisi tersebut tidak berani melanjutkan acaranya di sini karena waktu itu belum mulai saja timnya sudah kesurupan. Lain waktu juga pernah ada supir truk sedang ganti ban kemudian sore-sore begini ada yang nongol di atas kakinya saja,” kata Aan (46) salah satu warga. Beberapa truk yang memenuhi halaman depan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kondisi terkini bekas gudang dan tembok di kawasan Kastil Batavia era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak bagian dalam dari bekas gudang era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Gudang Major Massie yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seseorang sedang membersihkan truk di kawasan bekas Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Penampakan kondisi di dalam bekas gudang Major Messie dan detail temboknya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, gudang dan tembok kastil yang sempat menjadi destinasi wisata di seputaran Kota Tua ini semakin kurang nyaman dikunjungi. Tertutup oleh hiruk pikuk suara truk hingga padatnya rumah penduduk di kawasan kampung Tongkol. “Dulu sering bule-bule Belanda datang ke sini. Mencari gedung ini. Tapi sekarang sudah jarang,” ujar Aan. Seorang penjual es potong yang melintas di kawasan gudang Major Massie. (Fernando Randy/ Historia.id ). Berbagai boneka yang tampak terawat di gantung di tembok terakhir kawasan Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Layar Lebar Chadwick Boseman
TAK hanya “Wakanda”, para penggemar Marvel di segala penjuru bumi diguncang kedukaan dengan wafatnya Chadwick Aaron Boseman. Sang Raja T’Challa alias Black Panther itu mengembuskan nafas terakhir pada Jumat (28/8/2020) di usia 43 tahun karena kanker usus besar. Boseman yang kondang dengan peran itu di film-film franchise MCU, Captain America: Civil War (2013), Black Panther (2018), Avengers: Infinity War (2018), dan Avengers: Endgame (2019) sudah masuk dunia “showbiz” sejak 2003 lewat serial televisi Third Watch . Seni peran sudah jadi minat sosok kelahiran Anderson, 29 November 1976 itu sejak sekolah di SMA T.L. Hanna pada 1995. Dia mengawalinya sebagai sutradara teater sekolahnya. Selepas lulus pun Boseman mengejar pendidikan tinggi di bidang yang sesuai minatnya, sinematografi, di Universitas Howard, Washington DC dan kemudian turut dalam Program Mid-Semester Musim Panas Oxford di British American Drama Academy. Chadwick Boseman (kiri) bersama Michael B. Jordan (Ftoo: Twitter @chadwickboseman) Setelah menjalani debutnya lewat Third Watch , Boseman mengalami guncangan jiwa di opera sabun All My Children di tahun yang sama. Sebagaimana disitat The Wrap , 2 Januari 2019, Boseman menuturkan alasan kenapa dia dipecat dari peran Reggie Montgomery di opera sabun itu, hingga akhirnya digantikan Michael B. Jordan. Gara-garanya, dia mengkritisi naskah yang dianggapnya rasis terhadap kaum kulit hitam. Boseman dan Jordan lantas “bereuni” untuk adu akting di film Black Panther . “Ketika saya mendapatkan perannya, saya berkata pada diri sendiri: ‘Ini bukan bagian dari manifesto saya. Ini bukan peran yang saya ingin bawakan,” kata Boseman. Jackie Robinson hingga James Brown Sejumlah kiprah Boseman di layar lebar pun tak jauh dari tokoh-tokoh yang didera rasisme. Di film The Express: The Ernie Davis Story (2008), biopik mengenai pemain American Football era 1960-an Ernie Davis, Boseman kebagian peran pendukung sebagai Floyd Little, rekan atlet berkulit hitam Davies di American Football. Walau beberapa kisah asli di film itu didramatisir, Little mengaku cukup terkesan dan teringat kembali akan masa-masanya berkiprah di lapangan berkat jasa Ernie Davis. “Di film The Express , sebelum Ernie Davis keluar lorong menuju lapangan untuk terakhir kali sebagai pemain Cleveland Browns, Ben Schwartzwalder menghampiri Davis: ‘Ernie, saya tak tahu apa yang Anda katakana kepada Floyd Little, namun dia akan datang ke Syracuse.’ Itu penutup yang emosional dari film yang hebat,” ungkap Little dalam otobiografi yang ditulisnya bersama Tom Mackie, Promises to Keep . Di film "The Express", Chadwick Boseman (kiri) memerankan atlet American Football, Floyd Little (Foto: Davis Entertainment) Peran sebagai aktor utama pertamakali dilakoni Boseman di biopik 42 (2013) dengan memerankan Jackie Robinson, legenda bisbol Afro-Amerika yang bergulat dengan rasisme di awal kariernya di Brooklyn Dodgers. Film garapan sineas Brian Helgeland itu disupervisi langsung Rachel Robinson, istri mendiang Jackie. Bagi sutradara, Boseman punya keberanian serupa dengan Jackie semasa hidupnya dalam melawan arus rasisme di lapangan bisbol. “Chad sebenarnya opsi kedua. Namun saya memang tak ingin aktor yang sudah dikenal luas memainkan peran Jackie karena saya pikir, akan sangat aneh melihat seseorang yang imejnya sudah terkenal memerankan sosok terkenal juga,” ujar Helgeland dalam wawancaranya dengan Collider , 11 April 2013. “Saat casting , Chad memilih tiga dari empat adegan tersulit. Salah satunya ketika adegan emosional Jackie berada di lorong stadion, mematahkan pemukul bisbol. Itu pilihan yang berani dari Chad. Dia bisa menghidupkan suasana di mana Jackie merasa ditolak oleh semua orang,” imbuhnya. Jelang produksi, guna mendukung upayanya memerankan Jackie, Boseman menemui Rachel Robinson di Jackie Robinson Foundation. Dia ingin mengetahui lebih jauh sosok Jackie guna penghayatan. “Peran (Jackie) ini peran yang menakutkan sebenarnya. Saya sempat tak tahu harus mulai dari mana sampai saya bicara pada dia (Rachel). Dari dirinyalah semangat Jackie masih hidup. Saya bisa melihat orang seperti apa yang bersanding bersama Rachel. Itu bagian yang ingin saya gunakan saat memerankannya,” jelas Boseman. “Kami duduk bersama, berbicara dari hati ke hati. Dia juga ingin mengenal saya lebih dalam. Saya juga mempelajari sosok Jackie lebih dekat dari pembicaraan kami dan dari buku-buku yang direferensikan Rachel. Terakhir, saya menanyakan tentang hubungan mereka karena itu bagian besar dari diri Jackie yang membuatnya bisa mencapai segalanya. Jackie selalu mendapat dukungan darinya,” lanjutnya. Debut Chadwick Boseman sebagai pemeran utama di film "42", biopik legenda bisbol Jackie Robinson (Foto: Warner Bros Pictures) Terlepas dari kesuksesan filmnya, ada banyak hal yang dipelajari Boseman dari sosok Jackie. Atlet kulit hitam itu membuka jalan bagi para atlet Afro-Amerika lain ke pentas Major League Baseball (MLB). Jackie ikon olahraga yang tak kalah besar dari pendahulunya di arena atletik, Jesse Owens. “Jika Anda berikir tentang dia menjadi seorang ikon dan pahlawan, sesungguhnya itu menjadi lubang terbesar di mana Anda bisa jatuh karena dia tak tahu akan menjadi seorang ikon dan pahlawan,” kata Boseman, dikutip Danny Peary dalam Jackie Robinson in Quotes: The Remarkable Life of Baseball’s Most Significant Player. “Faktanya, di film itu Jackie harus menghadapi itu semua ketika ia sadar bahwa berada di MLB menjadi isu yang lebih besar bagi semua orang. Anda tak bisa lari dari tanggungjawab yang diemban, namun Anda bisa fokus dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan. Selangkah demi selangkah. Pada akhirnya semua bisa dilalui,” tambahnya. Setahun berselang, Boseman kembali muncul sebagai aktor utama di biopik Get on Up (2014). Dari peran Jackie di lapangan bisbol, dia bergeser di ke dunia musik memerankan James Brown, legenda musik soul, di film garapan sineas Tate Taylor ini. Boseman sejak awal jadi pilihan utama Taylor memerankan pelantun tembang legendaris “I Feel Good” itu. Namun Taylor harus membujuknya ekstra keras lantaran Boseman mulanya tak berminat. Utamanya karena ia pesimis bisa menari selincah mendiang James Brown. “Saya merasa tak ada gunanya mencoba-coba. Dia ikon yang terlalu besar dan saya belum lama memerankan ikon besar lainnya dalam 42 . Dalam pikiran saya, tak tahu harus melakukan pendekatan apa untuk bisa melakukan gerakan tarian Brown,” tutur Boseman, dikutip The Guardian , 20 November 2014. Legenda musik soul, James Brown yang diperankan Chadwick Boseman dalam biopik "Get on Up" (Foto: Universal Pictures) Ketika akhirnya Boseman mengiyakan peran Brown, ia diberi waktu enam pekan untuk mempelajari semua gerakan khas Brown di atas panggung. Walau kemudian untuk gerakan split James Brown mesti diedit sedemikian rupa lantaran gerakan itu tak kunjung bisa dikuasai Boseman hingga masuk jadwal produksi. “Ujian sesungguhnya dari film itu adalah gerakan split James yang dikenal semua orang. Solusinya adalah kombinasi gambar tubuh James dan saya menggunakan pemindai 3D,” lanjut Boseman. Hal menarik yang dipelajari Boseman dari sosok James Brown adalah sikap sensitif dan bijak sang legenda. Antara lain ditunjukkan dengan James Brown memutuskan konsernya disiarkan secara live pada 5 April 1968 sebagai respon terhadap pembunuhan Dr. Martin Luther King yang juga dihormatinya. “Malam itu di siaran langsung televisi, bisa saja James Brown mengatakan: ‘Mari merusuh.’ Jika dia membiarkan dirinya emosional malam itu menggunakan musiknya, dia pasti sangat bisa memengaruhi penjuru negeri. Tapi pada akhirnya anak-anak muda tetap jadi penonton yang baik untuk mendengarkan James Brown. Dia sangat bijak untuk menghidupi filosofi-filosofi Dr. King,” papar Boseman, dinukil Atlanta Magazine , 1 Agustus 2014.
- Balada Benny dengan Baret Merahnya
MARKAS komando Kopassus, Cijantung, 1985. Di ruang kerjanya, Komandan Kopassus Brigjen Sintong Panjaitan ditemani wakilnya Kolonel Kuntara berbincang santai dengan Panglima ABRI Jenderal TNI L.B. Moerdani, KSAD Jenderal TNI Try Sutrisno, dan Wakil KSAD Letjen TNI Edi Sudrajat. Mereka sedang menunggu tamu penting dari negeri seberang tiba. Meski semua akan melakukan upacara resmi, suasana di ruang itu santai. Obrolan mengalir begitu saja. Di tengah perbincangan itu, Sintong berjalan ke mejanya. Ditariknya laci mejanya dan kemudian diambilnya sebuah baret merah dari dalamnya. “Ini baret merah Bapak yang akan Bapak pakai dalam upacara nanti,” kata Sintong sambil memberikan baret itu kepada Moerdani, dikutip Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong tak menduga niat baiknya itu justru membuat Benny, sapaan Moerdani, jadi kecewa. Setelah berdiri dan mencobanya, Benny lalu melepas baret itu dan melemparkannya. Baret merah itu pun jatuh ke lantai diikuti Benny yang kembali ke kursinya, duduk, dan tak mengucapkan sepatah katapun. Suasana seketika berubah menjadi kaku. Upaya KSAD Try mencairkan suasana tak berhasil. Wajah Benny tetap beda dari sebelumnya. Maka ketika Sintong melihat Benny keluar dari toilet, dia segera menghampirinya karena merasa dikecewakan. “Pak Benny tidak dapat dipisahkan dengan Korps Baret Merah. Jadi aneh kalau Bapak tidak berkenan memakai baret merah,” kata Sintong kepada Benny. Alih-alih menjawab, Benny tetap diam. Benny tahu Sintong bermaksud baik. Namun, Benny yakin Sintong mungkin tak mengetahui alasan di balik penolakannya itu. Upaya Sintong telah memaksanya kembali merasakan luka lama yang terjadi pada awal 1965. Sebelum hatinya terluka, Benny selalu bangga pada korps yang telah melambungkan namanya menjadi prajurit tempur itu. Di korps baret merah itulah cita-citanya menjadi tentara “sungguhan” setapak demi setapak dia wujudkan. Kerja keras dan dedikasinya di korps itu sampai mengantarkannya menggapai reputasi sebagai prajurit lapangan berprestasi. Puncaknya, dia dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Sukarno karena keberhasilannya dalam Operasi Naga semasa Trikora. Namun, usai berbulan madu pada awal Januari 1965, Benny mendapati semua “kemanisan” kariernya itu seketika berubah jadi pahit. Pemicunya adalah sikap Benny di dalam rapat internal RPKAD pada akhir 1964. Dalam rapat yang dipimpin Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimuljo itu dibahas gagasan untuk mengeluarkan anggota RPKAD yang cacat tubuh. Salah satu yang mendapat pembahasan untuk dikeluarkan adalah anak buah Benny di Yon I RPKAD Kapten Agus Hernoto, yang kehilangan satu kakinya saat bertempur melawan Marinir Belanda sewaktu Trikora. Mendengar pembahasan itu, Benny tidak terima dan angkat suara. “Pokoknya saya tegaskan, Agus jangan dipindah hanya karena kakinya tinggal satu. Dia korban pertempuran yang justru harus dijadikan teladan. Sebab dia tidak mau menyerah, meski sudah tertembak dan semua anak buahnya habis. Dia itu baret merah sejati. Dan jelas lebih pantas memakai baret merah daripada beberapa di antara kita, perwira yang nggak tahu apa-apa, langsung dari kesatuan lain dipindah ke RPKAD, lantas disuruh pakai baret merah,” kata Benny sebagaimana ditulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. Entah siapa yang menyampaikan hasil rapat internal itu kepada Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani, yang pasti Benny kemudian mendapat surat panggilan dari Menpangad. “Saya menerima surat tanggal 4 Januari, esoknya harus datang menghadap Pak Yani di MBAD,” kata Benny dalam biografinya yang ditulis. Begitu menghadap, Benny mendapati Yani terlihat marah, jauh dari biasanya ketika Benny bertemu Yani yang ramah dan ngemong . Suasana pertemuan empat mata itu begitu tegang. “Saya tahu perasaanmu sebagai perwira muda. Mungkin saya juga akan berbuat sama dalam keadaan seperti itu. Tetapi, perbuatanmu tersebut salah, ...tetap salah karena menilai pimpinan,” kata Yani terhadap Benny, dikutip Julius Pour. Yani menumpahkan segala unek-uneknya dalam pertemuan itu. Puncaknya, Yani memberi perintah singkat, “Sudah, lapor ke Mas Harto sana!” Perintah itu membuat Benny terperanjat. Lapor ke Mas Harto (Soeharto, pangkostrad) yang dimaksud Yani berarti perintah agar Benny meninggalkan korps baret merah untuk masuk ke Kostrad. Maka tanpa berlama-lama, Benny memberi hormat dan keluar. Peristiwa itu begitu membekas di benak Benny. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Sakit hatinya makin bertambah ketika sesampainya di Cijantung dari MBAD, dia mendapati anak buahnya sedang latihan upacara untuk serah-terima jabatan (sertijab) Dan Yon I RPKAD (yang saat itu dijabat Benny) keesokan harinya. Esoknya, 6 Januari 1965, upacara sertijab digelar. Benny resmi menyerahkan jabatannya ke Mayor Chalimi Iman Santosa. Usai upacara, Benny langsung pulang. Di rumah, dia menumpahkan semua kekesalannya dengan melepas semua atribut kesatuan komando dari baju-bajunya. Bersama baret merahnya, semua atribut itu langsung dimasukkannya ke plunge-zak dan dia kembalikan ke kesatuan. “Peristiwa tersebut sangat membekas di hatinya. Perasaannya sangat kecewa, karena merasa diperlakukan tidak adil. Ingatannya masih sedih setiap kali mengenang suasana tersebut,” tulis Julius Pour. Maka ketika pada 1985 Sintong memberikan baret merah kepada Benny agar dipakai, Benny marah karena kembali teringat masa dua dekade sebelumnya itu. Sikap Benny tak berubah sampai ketika sirene yang mengiringi kedatangan Yang Dipertuan Agung Malaysia Sultan Iskandar, tamu dari seberang yang ditunggu mereka, terdengar di ruang kerja Sintong. Pun ketika turun ke bawah untuk menyambut tamu agung itu. Namun begitu membuka pintu, Benny tiba-tiba berteriak memanggil ajudannya, Lettu Tono. “Ton! Mana baret merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini,” ujarnya, dikutip Hendro. Pernyataan Benny langsung membuat Sintong mafhum. Dengan sigap dia berlari ke ruang kerjanya untuk mengambil baret yang tadi dibuang Benny. Benny pun mau kembali menggunakan baret merah setelah diberikan Sintong. Usai upacara, Benny berkata pada Sintong. “Saya sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memakai baret merah lagi, setelah mereka mengusir saya dari Cijantung. Tiga jam setelah saya menerima perintah keluar dari RPKAD, saya sudah meninggalkan Cijantung,” kata Benny.*
- Hasan Rahaya Selamat dari Bom Hiroshima
Kisah mahasiswa Indonesia bertahan dari bom atom dan menyelamatkan korban.
- Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani
Dalam perjalanan menuju Desa Meronas di Pulau Kreta, Yunani, George Psychoundakis bertemu Aleko, teman sesama gerilyawan, pada 22 Agustus 1944 malam. George lantas dibawa sang kawan ke sebuah taman mini terpencil yang terletak di antara Meronas dan Yenna. Di sanalah George diberitahu kabar memilukan oleh Aleko. “Di sana kami diberitahu bahwa Jerman membakar semua desa Kedros di Amari dan menembak semua orang yang dapat mereka tangkap,” kata George dalam memoarnya yang diterjemahkan Patrick Leigh Fermor, The Cretan Runner: His Story of the German Occupation . Kedros, nama untuk kumpulan berisi sembilan desa yang terletak di Lembah Amari yang diapit Gunung Kedros (barat) dan Gunung Ida (timur), merupakan salah satu pusat gerilya melawan pendudukan Jerman yang dimulai pada 1941. Di sanalah George, pemuda gembala ternak asal Asi Gonia, ikut melawan pendudukan Jerman bersama barisan perlawanan yang banyak dibentuk setelah pendudukan Jerman. George merupakan kurir pesan ( messenger ) untuk Special Operations Executive, organisasi intelijen rahasia Inggris dalam Perang Dunia II. Kecepatan dan pengetahuan medannya membuat George menjadi andalan. Kreta dijadikan sasaran pendudukan oleh Hitler karena setelah berhasil menduduki Yunani daratan pada April 1941, tak ingin Kreta dijadikan Sekutu sebagai basis untuk menyerang pangkalan minyak terpenting Jerman di Rumania, Ploiesti, dan serangan-serangan lain di sisi selatan daratan Eropa. Meski sempat ragu karena ditentang para jenderalnya di Komando Tertinggi Tentara Jerman yang sedang sibuk memfinalisasi Operasi Barbarossa (invasi ke Uni Soviet), Hitler menyerang Kreta pada 20 Mei 1941 lewat Operasi Mercury yang dipimpin Jenderal Kurt Student, komandan XI Flieger Division. Penyerbuan itu mendapat perlawanan keras karena rencana Jerman sudah dibaca Inggris, yang bertahan di Kreta setelah kehilangan Yunani daratan. Penduduk Kreta dalam beragam organisasi gerilya bahu-membahu dengan pasukan Inggris melawan Jerman. “Serangan terhadap Maleme oleh Grup Barat dipelopori oleh LLStR (Luftlande Sturm Regiment) yang dipimpin Mayjen Eugen Meindl. Pendaratan awal glider pada pukul 07.15, setelah bombardir intensif Luftwaffe, dilakukan oleh unit 3.1/LLStR Letnan Satu Wulf von Plessen di mulut sungai, tujuannya adalah baterai AA. Sasaran ini dengan cepat diserbu tetapi Von Plessen terbunuh. Beberapa menit kemudian, glider-glider 4.1/LLStR Kapten Kurt Sarrazin mendarat tepat di selatan Bukit Kavkazia. Wadan-Yon, Walter Koch, menemani mereka tetapi segera terluka, dan Sarrazin terbunuh tak lama kemudian. Stabskompanie Mayor Franz Braun mendarat di sekitar jembatan di atas dasar sungai, Braun segera terbunuh. Meindl dan ajudannya, Letnan satu Von Seelen, terluka parah dan, karena Koch juga absen dan Braun tewas, komando untuk sementara diambilalih Dr. Heinrich Neumann, perwira senior yang selamat. Tujuh puluh dua orang dari komando di bawah Letnan Peter Murbe diterjunkan bermil-mil ke barat untuk merebut landasan terbang yang belum selesai di Kastellin Kissamos dan menderita secara mengerikan di tangan para pejuang Kreta,” tulis Bruce Quarrie dalam German Airborne Divisions: Blitzkrieg 1940-41 . Gigihnya perlawanan penduduk sejak awal mengakibatkan Jerman menerapkan taktik keras terhadap mereka. Pembantaian terhadap penduduk desa kerap dilancarkan pasukan pendudukan Jerman sejak awal, seperti Pembantaian Kondomari. Pembantaian terhadap penduduk meningkat ketika Friedrich-Wilhelm Muller, yang dijuluki “Jagal Kreta”, memegang komando Garnisun Kreta Jerman pada Agustus 1942. “Dia adalah veteran front Rusia tangguh yang dengan cepat mengembangkan reputasi kejam di antara penduduk Kreta. Muller pada akhirnya akan bertanggung jawab atas berbagai kekejaman di Kreta selama masa jabatannya sebagai komandan garnisun. Kejahatan utama yang dikaitkan dengan Muller termasuk pembunuhan di Viannos, penghancuran Desa Kedros dan Anogia, serta eksekusi warga sipil di Desa Damasta,” tulis Antonio J. Munoz dalam The German Secret Field Police in Greece, 1941-1944 . Akibatnya, kebencian penduduk Kreta terhadap Jerman kian tinggi. Kebencian penduduk terhadap Muller lalu diaktualisasikan dengan operasi penculikan yang digagas dua wakil SOE, Patrick Leigh Fermor dan William Stanley Moss, bersama pimpinan gerilya Kreta seperti Georgios Tyrakis dan Emmanouil Paterakis. Namun karena posisi Muller telah dipindah ke Kepulauan Dodecanese saat hari-H penculikan, 26 April 1944, yang jadi korban penculikan adalah penggantinya, Mayjen Heinrich Kreipe. Saat penculikan terjadi, posisi Jerman di front barat kian terdesak. Setelah invasi Sekutu ke Normandy (6 Juni 1944), pasukan Jerman di Kreta merencanakan penarikan mundur dari beberapa wilayah sebelum musim panas berakhir. Mereka akan dikonsentrasikan di Canea. Dengan alasan sebagai pembalasan terhadap penculikan Kreipe, seiring penarikan mundur itu pasukan Jerman melancarkan serangan terhadap desa-desa berikut penembakan terhadap penduduk di dalamnya. Padahal, kata agen SOE Tom Dunbabin, salah satu pimpinan gerilya, sebagaimana dikutip Artemis Cooper dalam biografi Fermor berjudul Patrick Leigh Fermor: An Adventure , “Tujuannya adalah untuk mengamankan penarikan mereka yang akan segera terjadi dengan menetralkan area aktivitas gerilya, dan membuat tentara Jerman melakukan tindakan teroris sehingga mereka tahu tidak akan ada belas kasihan bagi mereka jika menyerah atau ditinggalkan. Penarikan terorganisir dari wilayah pendudukan pasti akan berjalan lebih lancar jika penduduk sipil telah diintimidasi dan dipukuli hingga menyerah.” Setelah menyerang dan meratakan Desa Anoyeia pada 13 Agustus, pasukan Jerman menyasar Kedros. “Antara 22 dan 30 Agustus, Jerman menyerbu ke sisi Kedros di lembah Amari dan memulai penghancuran sistematis,” tulis Artemis. George saat itu tengah berada di Pegunungan Putih setelah diterjunkan di Arkadi usai andil dalam misi penyergapan pasukan Jerman di jembatan Kouphi dan misi sabotase. Ketika menuju Desa Meronas, dia bertemu Aleko (22 Agustus malam) dan diberitahu bahwa pasukan Jerman membunuhi penduduk dan membakar semua desa di Kedros. Esok paginya ketika dalam perjalanan menuju Nevs-Amari dan Monastiraki, dia melihat Niko Kalomenopoulus berlari sekuat tenaga dan melambaikan tangan sebagai perintah agar George dan kawannya ikut lari juga. George dan kawannya pun mengikuti Niko berlari menuruni bukit di sepanjang sungai. Di Meronas, mereka berhenti dan mereka melihat beberapa serdadu Jerman melintas dengan membawa kawanan besar ternak. Ternak itu merupakan hasil jarahan pasukan Jerman dari rumah-rumah penduduk. Sebagaimana pola yang diterapkan dalam penyerangan desa-desa sebelumnya, di Kedros, pasukan Jerman mengumpulkan penduduk begitu tiba. Mereka lalu menyiksa dan menembaki penduduk lelaki. Namun, di Kedros pasukan Jerman juga menjarah semua barang yang dianggap berharga, termasuk ternak, dari rumah-rumah penduduk. “Mula-mula mereka mengosongkan setiap rumah, mengangkut semua jarahan ke Retimo, lalu mereka membakarnya, dan akhirnya, untuk menyelesaikan kehancuran, mereka menumpuk dinamit ke setiap sudut yang tersisa dan menerbangkannya setinggi langit,” sambungnya. Selain itu, mereka juga membawa kabur gadis-gadis desa. “Mereka mengumpulkan sejumlah gadis dan memasukkan mereka ke dalam truk pasukan bersama para prajurit,” kata George. Kejahatan di Kedros mencapai puncak pada 25 Agustus. Akibat kejahatan seminggu penuh itu, 164 penduduk pria dan anak-anak tewas. Kejahatan itu berhenti pada akhir bulan. “Mereka meluncurkan kampanye kejam ini untuk meneror seluruh pulau, dan untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa Jerman di Kreta masih memiliki kekuatan untuk menghancurkan dan menggulingkan, sama biadabnya seperti sebelumnya, semua yang masih berdiri,” ujar George.
- Jaka Tingkir dan Kekuasaan Demak
Pada 1546, Demak menghadapi krisis. Kematian Sultan Tranggana menjadi mula permasalahan muncul di Jipang dan Pajang, dua wilayah di Jawa Tengah yang sama-sama menuntut hak peninggalan Demak. Aria Panangsang, keponakan Sultan Tranggana, yang memerintah Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun di tengah upaya itu,Jaka Tingkir (Raja Pajang) muncul. Ia berusaha keras menghalangi upaya Sultan Trenggana. Konflik mulai meluas di antara Jipang dan Pajang. Melibatkan rakyat di kedua wilayah. Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang. Kharisma dan kesaktiannya diakui mampu mengembalikan kejayaan Demak. Siapa sebenarnya Jaka Tingkir? Pemuda Tingkir Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Djawi: Javaanse Rijskroniek , Jaka Tingkir lahir di Pengging, sebuah negeri merdeka di Jawa Tengah yang penuh rahasia. Wilayah itu dahulu berada di bawah kuasa Kebo Kenanga, alias Andayaningrat, ayah Jaka Tingkir. “Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukan wayang beber (juga dinamakan wayang krebet ) maka ia pun dinamakan Mas Krebet,” tulis Meinsma. Jaka Tingkir harus hidup dalam pelarian setelah ayahnya terlibat dalam upaya pemberontakan atas Demak. Andayaningrat dikisahkan tewas di tangan Sunan Kudus. Tidak lama, ibunya pun meninggal. Jaka Tingkir menjadi yatim-piatu di usia yang cukup muda. Oleh keluarganya ia dibawa ke desa Tingkir dan diadopsi oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. “Karena itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir, sebagaimana yang dikenal dan dicintai di mana-mana di daerah raja-raja Jawa Tengah,” tulis H.J. De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati . Ketika remaja, Jaka Tingkir belajar pada Kiai Ageng Sela. Babad Tanah Jawi menyebut gurunya itu sakti dan begitu dihormati, sekaligus ditakuti oleh masyarakat. Jaka Tingkir disebut menerima kesaktian dari gurunya itu. Keduanya sangat dekat. Kiai Ageng Sela sampai memberi perhatian yang amat besar kepada muridnya itu. Selain kepada Kiai Ageng Sela, Jaka Tingkir juga menerima pelajaran dari Sunan Kalijaga. Salah satu Wali penyebar Islam di tanah Jawa itu memberi ajaran agama dan kehidupan kepada Jaka Tingkir. Dia jugalah yang menyarankan kepada Tingkir untuk bekerja di Demak. Ia menerima saran itu dan mendaftar sebagai pengawal pribadi raja. “Keberhasilannya melompati kolam masjid dengan lompatan ke belakang –tanpa sengaja karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya– memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan ia pun dijadikan kepala tamtama,” tulis de Graaf sebagaimana dituturkan dalam Babad Tanah Jawi . Jaka Tingkir sempat diusir dari Demak setelah memperlihatkan kesaktiannya di depan penguasa Demak. Bermaksud menguji calon pengawal baru yang memiliki ilmu kebal, Jaka Tingkir justru membunuhnya. Sebuah tusuk konde menancap tepat di jantung si calon pengawal. Kesaktian Jaka Tingkir terbukti lebih hebat, meski berujung pengusiran. Merasa putus asa, Jaka Tingkir memilih kembali ke desanya. Ia menghabiskan waktu dengan bertapa dan berguru kepada Kiai Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Kiai Buyut dari Banyubiru. Jaka Tingkir mendapat lebih besar kesaktian. Satu waktu, Demak dilanda kekacauan. Seekor kerbau besar mengamuk. Tidak ada seorang pun pengawal mampu menghentikannya. Mendengar kabar itu, Jaka Tingkir segera pergi ke Demak. Dengan kesaktiannya, kerbau itu dengan cepat dihentikan. Ia mendapatkan kembali kedudukan sebagai kepala pengawal raja. “Beberapa waktu kemudian, ia kawin dengan putri ke-5 raja (Trenggana), dan menjadi bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bau. Tiap tahun ia harus menghadap ke Demak. Negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah dibangunnya sebuah istana,” ungkap de Graaf. Menguasai Takhta Demak Sebagai menantu Sultan Tranggana, Jaka Tingkir jelas tidak memiliki hak apapun atas Demak. Tetapi tidak lama setelah pemakaman Sultan Tranggana, Jaka Tingkir mengumumkan kekuasaannya di Demak. Pengangkatan mendadak Jaka Tingkir itu dilakukan berdasarkan pilihan rakyat Demak. Ia lalu memerintahkan agar pemerintahan Demak dipindahkan ke Pajang. Seluruh benda pusaka di Demak juga tak luput dari perpindahan tersebut. Sebagai pewaris sah Demak, Sunan Prawata, seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trenggana. Tetapi ia diceritakan tidak ingin naik takhta, dan secara sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan di wilayah Prawata, sebuah pasanggarahan yang digunakan Raja Demak selama musim hujan. Hal itulah yang kemudian mempermudah Jaka Tingkir untuk mengambil alih kekuasaan. Berdasar penelitiannya, JJ Meinsma mengatakan kalau Jaka Tingkir dan penguasa Pajang begitu berambisi menguasai Demak. Mereka segera mengamankan takhta atas pemilik sebagian besar wilayah Jawa Tengah tersebut. Ia bahkan melakukan berbagai tindakan untuk memastikan kedudukannya tetapi baik. Sampai tidak ada wilayah yang berani mengusik raja Pajang karena takut akan kesaktiannya. “Semua negara bawahan menyerah. Yang mengadakan perlawanan dikalahkan. Tidak ada seorang pun yang berani melawan, karena takut akan kesaktian adipati dari Pajang. Hanya adipati dari Jipang, Pangeran Aria Panangsang, yang tidak mau menyerah,” tulis Meinsma. Pada perkembangan selanjutnya, setelah melalui persaingan kekuasaan yang cukup panjang, Aria Panangsang berhasil menduduki takhta Demak. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Jipang.
- Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan
SEKALI waktu Aeilko Jans Zijlker, seorang juragan tembakau di Sumatra Timur berkeliling memeriksa kebunnya. Di tengah jalan, tetiba turun hujan deras. Zijlker pun berteduh di barak bekas tempat penimbunan tembakau.
- Adolf Eichmann, Perwira Nazi Spesialis Yahudi
SENDIRI dalam sepi meringkuk di penjara di Ramla, Israel, Adolf Eichmann hanya bisa pasrah. Malam itu, 31 Mei 1962, jadi malam terakhirnya. Takkan sempat ia melihat lagi matahari terbit saat berganti bulan pada 1 Juni lantaran dini hari itu ia akan menuju tiang gantung, sebagai gembong Nazi terakhir dan pertama yang diadili di Israel. Sebelumnya, Eichman ditangkap di Argentina. Ia dihadapkan ke muka pengadilan di Yerusalem, Israel. Ia divonis hukuman gantung pada 15 Desember 1961 atas sejumlah dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengajuan banding hingga amnestinya kepada Presiden Israel Yitzak Ben-Zvi sejak Januari 1962 mentah semua. Setelah bertemu istrinya, Veronika Liebl, untuk kali terakhir, Eichmann menanti akhir hidupnya hanya ditemani pendeta Protestan asal Kanada, William Lovel Hull, dan Rafi Eitan, agen Mossad (Intel Israel) yang mengarsiteki penangkapan Eichmann di Argentina. “Jayalah Jerman. Jayalah Argentina. Jayalah Austria. Tiga negara yang sangat berkesan dan takkan saya lupakan. Saya menyapa istri, keluarga, dan teman-teman saya. Saya siap. Kita akan segera bertemu lagi karena kematian adalah hal yang pasti. Saya mati dengan menyakini pada Tuhan saya,” demikian kata-kata terakhir Eichmann sebagaimana yang dikenang Pendeta Hull, dikutip David Cesarani dalam Eichmann: His Life and Crimes. Eichmann di Penjara Ayalon di kota Ramla menjelang eksekusi di tiang gantung (Foto: Israel Government Press Office) Seiring nyawanya melayang di simpul tiang gantung, pengadilan hingga eksekusinya menjadi pengingat akan holocaust yang 10 tahun pasca-Perang Dunia II berakhir isunya tenggelam akibat meningkatnya tensi Perang Dingin. Bagi dua negeri adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, perkara Jerman Nazi sudah rampung dengan Pengadilan Nuremberg yang melelahkan (30 September 1945-1 Oktober 1946). Israel sendirian memburu para gembong Nazi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Holocaust, di mana Eichmann jadi salah satu motor penggeraknya, jadi sejarah kelam yang takkan sembuh dengan cepat di dalam masyarakat Yahudi. Adik Kelas Hitler Meski lahir di Solingen, Jerman, pada 19 Maret 1906 dari pasangan suami-istri Adolf Karl Eichmann dan Maria Schefferling, Eichmann dan keluarganya pindah ke Linz, Austria saat usia tujuh tahun. Ayahnya pindah lantaran mengambil pekerjaan di sebuah perusahaan trem listrik di Linz. Di Linz, Eichmann bersekolah di Staatsoberrealschule (sekolah menengah) Kaiser Franz Joseph. Di sekolah itu pula 17 tahun sebelumnya Hitler mengenyam pendidikan. Eichmann bersentuhan dengan politik sayap kanan sejak 1927 kala sudah bekerja sebagai agen Vacuum Oil Company AG. “Selama itu (sebagai agen minyak) dia bergabung dengan Jungfrontkampfervereinugung, organisasi pemuda pergerakan sayap kanan pimpinan Hermann Hiltl. Dia juga mulai asyik membaca koran-koran terbitan NSDAP (Partai Nazi) yang punya tujuan menjatuhkan Republik Weimar di Jerman,” sambung Cesarani. Eichmann (kiri dilingkari merah) semasa belia & semasa muda sebagai agen perusahaan minyak (Foto: holocaustresearchproject.org/remember.org ) Dari situ pula Eichmann berkawan dengan Ernst Kaltenbrunner, pemimpin Schutzstaffel (SS/paramiliter Partai Nazi) di Distrik Linz, hingga Eichmann bergabung ke SS pada April 1932. Dua tahun berselang, Eichmann mulai bertualang di Sicherheitdienst (SD/Dinas Intel SS) dengan pangkat schürfuhrer (kopral). Minatnya pada hal-hal berbau Freemason dan segala ritual Yahudi membuat Eichmann ditransfer ke Departemen Yahudi di SD, Berlin. Tugasnya meriset sejumlah pergerakan dan organisasi Yahudi global dan menjadikannya dalam bentuk laporan. Ia jadi satu-satunya orang di SS dengan spesialisasi tentang Yahudi. Ketika Hitler jadi kanselir pada Januari 1933, Unterstürmfuhrer (letnan dua) Eichmann terlibat dalam pelaksanaan teknis migrasi Yahudi Jerman ke Palestina sesuai Perjanjian Haavara (25 Agustus 1933). Empat tahun kemudian atas perintah Kepala SD Brigadeführer Reinhard Heydrich, ia jadi ujung tombak Jerman Nazi untuk bernegosiasi di bawah meja terkait pembatasan migrasi Yahudi Jerman ke Palestina. “Heydrich menganggap eksodus ke Palestina di satu sisi justru akan memunculkan bahaya tersendiri karena bisa menciptakan pusat strategis Yahudi internasional berupa negara Yahudi. Heydrich mengizinkan Eichmann bersama Herbert Hagen mengunjungi Palestina pada musim gugur 1937 untuk bertemu kontak penghubung Haganah (Paramiliter Yahudi, cikal-bakal pasukan Israel/IDF) Feivel Polkes,” tulis Saul Friedlander dalam Nazi Germany and the Jews: The Years of Persecution: 1933-1939. Eichmann di awal bergabung dengan SS (kiri) & sudah berpangkat oberscharführer (Foto: US National Archives/remember.org) Misi klandestin itu gagal akibat pemerintah Inggris tak mengizinkan Eichmann dan Hagen menginjak Palestina lebih dari satu hari. Meski begitu, Eichmann mendapat jaringan pihak Zionis. “Di kemudian hari Eichmann ikut mengatur operasi senyap bersama para utusan Zionis, memindahkan para imigran Yahudi ke pelabuhan-pelabuhan di Yugoslavia dan Rumania, di mana mereka bisa menyeberang sendiri melalui Laut Hitam menuju Palestina,” imbuh Friedlander. Invasi Jerman Nazi ke Polandia pada September 1939 yang membuka Perang Dunia II menggugurkan Perjanjian Haavara. Kebijakan SS pun berubah dari imigrasi Yahudi menjadi deportasi paksa. Ini jadi tugas baru Eichmann setelah menjabat Kepala RSHA Referat IV B4 (Sub-Departemen IV-B4 Kantor Keamanan Negara yang berwenang atas kebijakan di atas). Heydrich yang menganggap Eichmann sebagai ahli Yahudi memberi kewenangan penuh atas proses deportasi, mulai dari pengerahan pasukan polisi hingga menggerakkan aneka moda transportasi untuk mengangkut sekira 600 ribu Yahudi Jerman ke ghetto - ghetto di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman. Eichmann pun mengatur penyitaan sejumlah aset dan properti para Yahudi yang dideportasi. Holocaust dari Belakang Meja Pendeportasian Yahudi ke ghetto-ghetto untuk dikerjapaksakan itu lantas menimbulkan permasalahan buat rezim Nazi. Para gubernur pemerintahan pendudukan sering menuntut solusi tentang itu. Pusat (Berlin) lalu menjawabnya dengan solusi pertama yang dikeluarkan Kepala Departemen Yahudi di Kementerian Luar Negeri Jerman Nazi Franz Rademacher pada Juni 1940. Solusi itu yakni, membuang para Yahudi ke Pulau Madagaskar yang dijaga ketat SS lewat Proyek Madagaskar. Setelah disetujui Hitler, Eichmann merilis memo resmi, “Reichssicherheitshauptamt: Madagaskar Projekt”. Isinya adalah rencana pengaturan pemindahan para Yahudi secara berangsur-angsur: satu juta Yahudi per tahun. Masalahnya kemudian, proyek ini bergantung pada menang-tidaknya perjudian Reichsmarschall Hermann Goering, deputi Hitler, di Pertempuran Udara Inggris (10 Juli-31 Oktober 1940). Jika berhasil menang, Operasi Singa Laut (invasi ke Inggris) bisa dilancarkan sesuai keinginan Hitler dan kapal-kapal dagang plus kapal-kapal kargo Inggris bisa diambilalih untuk kunci Proyek Madagaskar. Jika gagal, Operasi Singa Laut sulit diwujudkan. Dan faktanya, Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) yang dibanggakan Goering “keok”. Invasi ke Inggris pun batal, begitu pula Proyek Madagaskar. Solusi kedua, adalah pembantaian. Rencana keji ini bermula dari Goering yang memberi kewenangan Heydrich untuk menyiapkan “Solusi Final untuk Perkara Yahudi”, ibarat akta kelahiran holocaust . Heydrich kemudian memerintahkan Eichmann untuk mengatur rapat rembukan para pejabat perwakilan pemerintahan Jerman Nazi di Konferensi Wannsee, 20 Januari 1942. “Konferensinya diketuai Heydrich sendiri dan Eichmann yang menyiapkan catatan resmi tentang data-data berupa angka jumlah Yahudi di seantero Eropa, serta statistik deportasi yang selama ini telah digulirkan,” sambung Cesarani. Konferensi memutuskan “Solusi Final” akan dilancarkan dengan metode deportasi jutaan Yahudi ke kamp-kamp pemusnahan yang akan dibangun di Bełżec, Sobibor, Treblinka, Auschwitz dll. Mereka akan dihabiskan di kamar-kamar gas serta ruangan-ruangan kremasi. Rombongan Yahudi Hungaria menjelang maut tengah digiring masuk ke Kamp Auschwitz-Birkenau II pada Juli 1944 (Foto: yadvashem.org ) Di situlah tangan Obersturmbannführer (letkol) Eichmann “berlumuran darah”. Meski arsitek holocaust adalah Kepala SS Reichsführer Heinrich Himmler dan Heydrich, motor penggeraknya adalah Eichmann. Dia yang mengubah konsep menjadi operasi (aksi). Dengan kewenangan dari Heydrich, Eichmann lalu menggerakkan semua moda transportasi darat untuk memindahkan jutaan Yahudi dari ghetto-ghetto dan kamp-kamp konsentrasi ke kamar-kamar gas maupun ruangan-ruangan kremasi. Seiring mulai intensnya tekanan internasional terhadap pemerintah Hungaria terkait deportasi Yahudi dan terdesaknya Jerman-Nazi oleh Sekutu dan Soviet, Eichmann melihat kesempatan itu untuk “cari nama” ke pihak Yahudi Internasional. Ia memulainya dengan menemui Joel Brand, anggota RRC (Komite Pengungsian dan Penyelamatan Yahudi), pada 25 April 1944 di Budapest. Dalam negosiasinya, Eichmann menuntut barter 10 ribu truk untuk satu juta jiwa Yahudi. Brand mengisahkan, sebagaimana diungkapkan PK. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II , ia harus lebih dulu menyampaikan tuntutan itu ke komunitas Yahudi di Swiss, Istanbul, Kairo, dan Yerusalem. Eichmann mengizinkan dengan syarat anak-anak dan istri Brand disandera sebagai agunan. “Tuan Brand, berangkatlah besok (16 Mei 1944). Sebuah pesawat disediakan untuk Tuan dan harus selesaikan urusan ini secepat mungkin. Saya tak bisa menunggu lama. Mulai hari ini, pembuangan orang Yahudi telah dimulai lagi sebanyak 12 ribu orang akan dibuang tiap hari, akan tetapi saya bersedia mengirim mereka ke Austria, bukan ke Auschwitz dan akan saya tahan sebagian di Slovakia. Di situ mereka menunggu sampai Tuan kembali. Jika tidak kembali pada waktunya, mereka semua akan pergi ke (kamp pemusnahan) Auschwitz,” kata Eichmann mengancam Brand, dikutip Ojong. Dokumen identitas samaran Eichmann sebagai Ricardo Klement di Argentina (kiri) & saat disidang di Yerusalem pada 1961 (Foto: Fundacion Memoria del Holocausto/Israel Government Press Office) Misi itu membawa Brand bertualang dari Istanbul, Yerusalem, hingga Aleppo. Namun, di Aleppo Brand ditangkap pemerintah Inggris. Buyarlah proposal Eichmann sehingga mengakibatkan 437 ribu Yahudi Hungaria tewas dalam kurun Mei-Juli 1944. Selain dengan Brand, Eichmann juga bernegosiasi dengan tokoh Yahudi Rudolf Kasztner, medio Juni 1944. Kali ini negosiasi Eichmann berhasil menyelamatkan 1.684 jiwa Yahudi yang ditukar dengan tiga koper berlian, emas, dan sejumlah uang. Eichmann lalu kabur ke Berlin kala Soviet kian mendekati Budapest. Pasca-kapitulasi Jerman Nazi kepada Sekutu, Eichmann menyamar sebagai Otto Eckmann. Dia tak dikenali sebagai salah satu organisator holocaust saat ditangkap pasukan Amerika Serikat. Dia lalu ditahan di kamp tawanan. Ketika identitas Eichmann dibongkar Rudolf Höss, komandan penjaga Kamp Auschwitz, di Pengadilan Nuremberg, Eichmann sudah kabur ke Argentina atas bantuan Uskup Alois Hudal dan para simpatisan Nazi di Austria dan Italia menggunakan nama samaran Ricardo Klement. Penyamaran dalam pelariannya akhirnya terhenti ketika pada 11 Mei 1960 para agen Mossad dan Shin Bet (Dinas Keamanan Israel) menculiknya dari Buenos Aires. Eichmann lalu diseret ke pengadilan di Yerusalem yang lantas memvonisnya hukuman mati.
- Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani
KESULTANAN Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Usmani terutama sejak abad ke-16. Aceh beberapa kali mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan militer. Mereka mengangkut komoditas dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada sultan Turki. Bahkan, ada bukti kalau Aceh pernah mengajukan diri menjadi vasal atau negeri di bawah perlindungan Turki yang ketika itu merupakan imperium terkuat di dunia.
- Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?
Kemunculan film Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan perdebatan terkait keberadaan khilafah di Nusantara. Perbincangan mengenai khilafah di Nusantara kembali ramai. Benarkah ada khilafah di Nusantara? Apa itu khilafah dan hubungannya dengan Nusantara? Dalam Dialog Sejarah “Khilafah di Nusantara, Benarkah Ada Jejaknya?“ di Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 25 Agustus 2020, Filolog dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman justru mempertanyakan kembali apa yang dimaksud sebagai jejak khilafah di Nusantara. Oman menyebut bahwa definisi jejak khilafah sendiri belum jelas. Jika yang dimaksud adalah bahwa kesultanan-kesultanan di Nusantara pernah menjadi bagian dari suatu sistem pemerintahan khilafah, menurutnya itu tidak benar. “Saya mengkaji sejumlah manuskrip dari Aceh, dari Palembang, dari Jawa juga, dari mana-mana, tidak mengindikasikan sama sekali bahwa kesultanan di Nusantara itu bagian dari Khilafah Utsmani pada saat itu kalau mau disebut khilafah,” kata Oman. Oman tidak meragukan adanya hubungan diplomatik maupun jaringan ulama Nusantara, terutama Aceh dengan Dinasti Utsmaniah. Namun sebelum masuk lebih jauh, menurutnya masih menjadi pertanyaan juga, apakah Utsmani adalah representasi dari khilafah itu sendiri. “Kalaupun ada hubungan itu, maka pertanyaannya apakah dinasti Utsmani itu, Ottoman Empire itu bisa dianggap merepresentasikan apa yang diyakini sebagai ideologi khilafah dalam Islam? Ini kan perdebatannya panjang,” terangnya. Menurutnya, dari Khulafaur Rasyidin atau empat kekhalifahan yang berdiri sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, hanya dua yang dianggap merepresentasikan nilai Syuro, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketika memasuki kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib hingga Abassiyah muncul, pertanyaan apakah kepemimpinan mereka merepresentasikan nilai-nilai kekhilafahan. “Saya kira itu tuh pertanyaan, mungkin kita harus bertanya ke diri sendiri yang dimaksud jejak khilafah di Nusantara itu apa. Saya sudah menjawab, kalau yang dimaksud adalah dalam sistem pemerintahan dan kita adalah bagian dari sistem pemerintahan Dinasti Turki Utsmani, misalnya, saya kira tidak,” ungkapnya. Tapi, lanjutnya, “kalau mau menyebutnya itu bahwa Nusantara ini punya jejak-jejak peradaban Islam dari Turki, peradaban Islam dari Mesir, peradaban Islam dari Timur Tengah, itu sangat ada.” Nabi Muhammad SAW dan Islam sendiri, kata Oman, tidak menunjukkan bahwa khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan. Khilafah yang dimaksud menurutnya adalah serangkaian nilai-nilai, bukan sistem pemerintahan. Kembali ke tafsir soal bahwa kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara itu adalah bagian dari Khilafah Utsmani, Oman menyebut ada dua poin penting. Pertama , memang ada hubungan diplomatik antara kesultanan di Nusantara dengan Truki Utsmani. “Bahwa ada kontak diplomatik, misalnya, gitu ya dengan katakanlah Turki Utsmani pada masa itu saya kira itu, termasuk Jawa, mungkin saja. Kalau Melayu saya punya bukti yang banyak memang tentang adanya kontak, khusunya Aceh tentu saja,” jelasnya. Yang kedua , hubungan diplomatik tersebut tidak serta-merta menjadikan kesultanan-kesultanan itu sebagai bagian dari kekhalifahan. “Sekali lagi, kalau mengklaim bahwa Nusantara adalah bagian dari Khilafah Utsmaniah itu, persatuan Islam sedunia yang sudah dimusnahkan tahun 1924, lalu kita harus kembali ke zaman itu untuk keagungan Islam misalnya, saya kira itu terlalu mengglorifikasi ya,” tegasnya.
- Tiga Jurnalis Peliput Proklamasi
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia yang ke-75, di jagad maya beredar luas sejumlah foto tua yang menggambarkan suasana pembacaan proklamasi dari sudut yang lain. Padahal selama ini, foto bertajuk sejenis hanyalah berjumlah 3 lembar yang merupakan karya fotografer Indonesia Pers Photo Service (IPPHOS) Frans Soemarto Mendoer. Munculnya “foto lama tapi baru” itu mengundang sejumlah pertanyaan dari warganet: Berapa orangkah sebenarnya jurnalis yang meliput peristiwa bersejarah tersebut? Siapakah saja mereka? Dan dari media mana saja? Di buku otobiografi Sukarno ( Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) dan otobiografi Mohammad Hatta ( Memoir ) soal itu memang tak begitu banyak diceritakan. Informasi mengenai kehadiran jurnalis dalam pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945, justru muncul dalam bukunya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945 . Dikisahkan oleh Sudiro, beberapa menit menjelang upacara pembacaan proklamasi dimulai, dirinya menyaksikan seorang lelaki yang tak dikenal duduk di beranda depan rumah Bung Karno. Para anggota Barisan Pelopor (BP) bahkan sudah memantau gerak-geriknya sejak awal. Mereka mencurigai laki-laki itu sebagai mata-mata militer Jepang. “Ternyata kami keliru. Dia adalah wartawan Domei (menjadi Kantor Berita Antara di era Indonesia merdeka). Namanya Suroto…” ungkap Sudiro. Bisa jadi via Suroto inilah kemudian berita tentang proklamasi diteruskan ke redaksi Domei . Dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, S idik Kertapati menyebut begitu mendapat berita dari lapangan, dua awak Domei lainnya yakni Sjahrudin dan Sundoro langsung menyiarkannya. Bak kebakaran jenggot, pemerintah militer Jepang langsung bereaksi atas pemberitaan itu. Mereka memerintahkan para awak Domei membuat kontra berita yang membantah berita proklamasi itu. Namun karena kegigihan para awak Domei yang sebagian besar pro terhadap kemerdekaan bangsanya, kontra berita itu berhasil ditunda-tunda hingga pada akhirnya sama sekali tidak jadi disiarkan. Selain reporter, Domei pun mengirimkan fotografernya untuk meliput momen proklamasi. Tak tanggung-tanggung mereka mengutus Alex Mendoer, kepala bagian fotonya. Tapi Alex bukan satu-satunya fotografer yang hadir dalam peristiwa proklamasi tersebut. Diam-diam dia mengajak adiknya Frans Mendoer (fotografer harian Asia Raya) untuk ikut serta meliput. Menurut buku Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur) karya Wiwi Kuswiah, dituturkan bahwa Alex sendiri kali pertama mengetahu berita rencana akan diadakan proklamasi berasal dari rekannya di Domei yang bernama Zahrudi. Alex tahu betul nilai berita proklamasi. Dia sangat yakin peristiwa tersebut akan menjadi sejarah penting bangsa Indonesia. Berbekal keyakinan itulah, di pagi buta 17 Agustus 1945, dia sudah keluar dari rumahnya di Jalan Batu Tulis No.42. Bersama Frans, mereka pergi ke Jalan Pegangsaan Timur sambil mengendap-endap supaya tak tertangkap serdadu Jepang. Sesampai di rumah bernomor 56, mereka menemukan situasi pagi itu sudah sangat ramai. Mayoritas yang hadir adalah para pemuda dan pemudi yang terlihat tak sabar lagi menantikan detik-detik pembacaan proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta. Seiring persiapan teknis penyelenggaraan prokamasi dilakukan, Alex dan Frans secara cepat menyiapkan pula kamera Leica masing-masing. Mereka kemudian memilih sudut pengambilan sesuai selera. Begitu upacara pembacaan proklamasi dimulai, kedua fotografer itu pun langsung beraksi. Singkat cerita, pembacaan proklamasi berlangsung sukses. Begitu massa sudah mulai meninggalkan rumah Bung Karno, Alex pulang ke kantornya sedangkan Frans langsung pulang ke rumahnya. Di Kantor Berita Domei Alex langsung memproses pencetakan foto. Saat itulah serdadu Jepang datang lantas mengambil negatif film yang sedang dikeringkan, sementara Alex sendiri saat itu sedang tidak di tempat. “Padahal Alex Mendoer-lah sebenarnya yang paling banyak memotret detik-detik proklamasi sampai habis satu roll film penuh yang berisi 36,” ungkap Lexi Rudolp Mendur, anak ke-2 dari Alex Mendoer. Frans Mendur lebih beruntung dibanding kakaknya. Begitu sampai di rumah, tanpa banyak pikir dia langsung menyembunyikan roll film itu lewat cara menanamnya di halaman depan rumah. Sejarah kemudian mengisahkan foto-foto pembacaan proklamasi karya Frans-lah yang kemudian beredar dan bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Namun apakah hasil liputan tersebut hanya sebatas 3 lembar foto saja? Menurut Wiwi, sejatinya masih ada beberapa lembar negatif film yang berhasil disembunyikan oleh Frans itu. Tetapi hanya sedikit yang berhasil diamankan oleh Arsip Departemen Penerangan (saat itu masih ada) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sisanya raib tanpa jejak, entah diambil oleh siapa. Sejarawan Rushdy Hoesein memiliki pendapat yang menarik terkait dengan beredarnya foto-foto sekitar proklamasi (selain 3 foto karya Frans Mendoer) di jagad maya beberapa waktu lalu. Menurutnya ada dua kemungkinan, foto-foto tersebut berasal dari negatif film milik Frans Mendoer yang raib atau berasal dari negatif film milik Alex Mendoer yang sempat dirampas militer Jepang. “Bisa saja kan setelah jatuh ke tangan Jepang, lalu orang-orang Belanda ketika datang bersama Sekutu pada 1945 mengambilnya dan membawanya ke negeri mereka lalu mempublikasikannya sekarang,” ujar Rushdy.






















