top of page

Hasil pencarian

9744 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Hasan Rahaya Selamat dari Bom Hiroshima

    Kisah mahasiswa Indonesia bertahan dari bom atom dan menyelamatkan korban.

  • Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani

    Dalam perjalanan menuju Desa Meronas di Pulau Kreta, Yunani, George Psychoundakis bertemu Aleko, teman sesama gerilyawan, pada 22 Agustus 1944 malam. George lantas dibawa sang kawan ke sebuah taman mini terpencil yang terletak di antara Meronas dan Yenna. Di sanalah George diberitahu kabar memilukan oleh Aleko. “Di sana kami diberitahu bahwa Jerman membakar semua desa Kedros di Amari dan menembak semua orang yang dapat mereka tangkap,” kata George dalam memoarnya yang diterjemahkan Patrick Leigh Fermor, The Cretan Runner: His Story of the German Occupation . Kedros, nama untuk kumpulan berisi sembilan desa yang terletak di Lembah Amari yang diapit Gunung Kedros (barat) dan Gunung Ida (timur), merupakan salah satu pusat gerilya melawan pendudukan Jerman yang dimulai pada 1941. Di sanalah George, pemuda gembala ternak asal Asi Gonia, ikut melawan pendudukan Jerman bersama barisan perlawanan yang banyak dibentuk setelah pendudukan Jerman. George merupakan kurir pesan ( messenger ) untuk Special Operations Executive, organisasi intelijen rahasia Inggris dalam Perang Dunia II. Kecepatan dan pengetahuan medannya membuat George menjadi andalan. Kreta dijadikan sasaran pendudukan oleh Hitler karena setelah berhasil menduduki Yunani daratan pada April 1941, tak ingin Kreta dijadikan Sekutu sebagai basis untuk menyerang pangkalan minyak terpenting Jerman di Rumania, Ploiesti, dan serangan-serangan lain di sisi selatan daratan Eropa. Meski sempat ragu karena ditentang para jenderalnya di Komando Tertinggi Tentara Jerman yang sedang sibuk memfinalisasi Operasi Barbarossa (invasi ke Uni Soviet), Hitler menyerang Kreta pada 20 Mei 1941 lewat Operasi Mercury yang dipimpin Jenderal Kurt Student, komandan XI Flieger Division. Penyerbuan itu mendapat perlawanan keras karena rencana Jerman sudah dibaca Inggris, yang bertahan di Kreta setelah kehilangan Yunani daratan. Penduduk Kreta dalam beragam organisasi gerilya bahu-membahu dengan pasukan Inggris melawan Jerman.  “Serangan terhadap Maleme oleh Grup Barat dipelopori oleh LLStR (Luftlande Sturm Regiment) yang dipimpin Mayjen Eugen Meindl. Pendaratan awal glider pada pukul 07.15, setelah bombardir intensif Luftwaffe, dilakukan oleh unit 3.1/LLStR Letnan Satu Wulf von Plessen di mulut sungai, tujuannya adalah baterai AA. Sasaran ini dengan cepat diserbu tetapi Von Plessen terbunuh. Beberapa menit kemudian, glider-glider 4.1/LLStR Kapten Kurt Sarrazin mendarat tepat di selatan Bukit Kavkazia. Wadan-Yon, Walter Koch, menemani mereka tetapi segera terluka, dan Sarrazin terbunuh tak lama kemudian. Stabskompanie Mayor Franz Braun mendarat di sekitar jembatan di atas dasar sungai, Braun segera terbunuh. Meindl dan ajudannya, Letnan satu Von Seelen, terluka parah dan, karena Koch juga absen dan Braun tewas, komando untuk sementara diambilalih Dr. Heinrich Neumann, perwira senior yang selamat. Tujuh puluh dua orang dari komando di bawah Letnan Peter Murbe diterjunkan bermil-mil ke barat untuk merebut landasan terbang yang belum selesai di Kastellin Kissamos dan menderita secara mengerikan di tangan para pejuang Kreta,” tulis Bruce Quarrie dalam German Airborne Divisions: Blitzkrieg 1940-41 . Gigihnya perlawanan penduduk sejak awal mengakibatkan Jerman menerapkan taktik keras terhadap mereka. Pembantaian terhadap penduduk desa kerap dilancarkan pasukan pendudukan Jerman sejak awal, seperti Pembantaian Kondomari. Pembantaian terhadap penduduk meningkat ketika Friedrich-Wilhelm Muller, yang dijuluki “Jagal Kreta”, memegang komando Garnisun Kreta Jerman pada Agustus 1942. “Dia adalah veteran front Rusia tangguh yang dengan cepat mengembangkan reputasi kejam di antara penduduk Kreta. Muller pada akhirnya akan bertanggung jawab atas berbagai kekejaman di Kreta selama masa jabatannya sebagai komandan garnisun. Kejahatan utama yang dikaitkan dengan Muller termasuk pembunuhan di Viannos, penghancuran Desa Kedros dan Anogia, serta eksekusi warga sipil di Desa Damasta,” tulis Antonio J. Munoz dalam The German Secret Field Police in Greece, 1941-1944 . Akibatnya, kebencian penduduk Kreta terhadap Jerman kian tinggi. Kebencian penduduk terhadap Muller lalu diaktualisasikan dengan operasi penculikan yang digagas dua wakil SOE, Patrick Leigh Fermor dan William Stanley Moss, bersama pimpinan gerilya Kreta seperti Georgios Tyrakis dan Emmanouil Paterakis. Namun karena posisi Muller telah dipindah ke Kepulauan Dodecanese saat hari-H penculikan, 26 April 1944, yang jadi korban penculikan adalah penggantinya, Mayjen Heinrich Kreipe. Saat penculikan terjadi, posisi Jerman di front barat kian terdesak. Setelah invasi Sekutu ke Normandy (6 Juni 1944), pasukan Jerman di Kreta merencanakan penarikan mundur dari beberapa wilayah sebelum musim panas berakhir. Mereka akan dikonsentrasikan di Canea. Dengan alasan sebagai pembalasan terhadap penculikan Kreipe, seiring penarikan mundur itu pasukan Jerman melancarkan serangan terhadap desa-desa berikut penembakan terhadap penduduk di dalamnya. Padahal, kata agen SOE Tom Dunbabin, salah satu pimpinan gerilya, sebagaimana dikutip Artemis Cooper dalam biografi Fermor berjudul Patrick Leigh Fermor: An Adventure , “Tujuannya adalah untuk mengamankan penarikan mereka yang akan segera terjadi dengan menetralkan area aktivitas gerilya, dan membuat tentara Jerman melakukan tindakan teroris sehingga mereka tahu tidak akan ada belas kasihan bagi mereka jika menyerah atau ditinggalkan. Penarikan terorganisir dari wilayah pendudukan pasti akan berjalan lebih lancar jika penduduk sipil telah diintimidasi dan dipukuli hingga menyerah.” Setelah menyerang dan meratakan Desa Anoyeia pada 13 Agustus, pasukan Jerman menyasar Kedros. “Antara 22 dan 30 Agustus, Jerman menyerbu ke sisi Kedros di lembah Amari dan memulai penghancuran sistematis,” tulis Artemis. George saat itu tengah berada di Pegunungan Putih setelah diterjunkan di Arkadi usai andil dalam misi penyergapan pasukan Jerman di jembatan Kouphi dan misi sabotase. Ketika menuju Desa Meronas, dia bertemu Aleko (22 Agustus malam) dan diberitahu bahwa pasukan Jerman membunuhi penduduk dan membakar semua desa di Kedros. Esok paginya ketika dalam perjalanan menuju Nevs-Amari dan Monastiraki, dia melihat Niko Kalomenopoulus berlari sekuat tenaga dan melambaikan tangan sebagai perintah agar George dan kawannya ikut lari juga. George dan kawannya pun mengikuti Niko berlari menuruni bukit di sepanjang sungai. Di Meronas, mereka berhenti dan mereka melihat beberapa serdadu Jerman melintas dengan membawa kawanan besar ternak. Ternak itu merupakan hasil jarahan pasukan Jerman dari rumah-rumah penduduk. Sebagaimana pola yang diterapkan dalam penyerangan desa-desa sebelumnya, di Kedros, pasukan Jerman mengumpulkan penduduk begitu tiba. Mereka lalu menyiksa dan menembaki penduduk lelaki. Namun, di Kedros pasukan Jerman juga menjarah semua barang yang dianggap berharga, termasuk ternak, dari rumah-rumah penduduk. “Mula-mula mereka mengosongkan setiap rumah, mengangkut semua jarahan ke Retimo, lalu mereka membakarnya, dan akhirnya, untuk menyelesaikan kehancuran, mereka menumpuk dinamit ke setiap sudut yang tersisa dan menerbangkannya setinggi langit,” sambungnya. Selain itu, mereka juga membawa kabur gadis-gadis desa. “Mereka mengumpulkan sejumlah gadis dan memasukkan mereka ke dalam truk pasukan bersama para prajurit,” kata George. Kejahatan di Kedros mencapai puncak pada 25 Agustus. Akibat kejahatan seminggu penuh itu, 164 penduduk pria dan anak-anak tewas. Kejahatan itu berhenti pada akhir bulan. “Mereka meluncurkan kampanye kejam ini untuk meneror seluruh pulau, dan untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa Jerman di Kreta masih memiliki kekuatan untuk menghancurkan dan menggulingkan, sama biadabnya seperti sebelumnya, semua yang masih berdiri,” ujar George.

  • Jaka Tingkir dan Kekuasaan Demak

    Pada 1546, Demak menghadapi krisis. Kematian Sultan Tranggana menjadi mula permasalahan muncul di Jipang dan Pajang, dua wilayah di Jawa Tengah yang sama-sama menuntut hak peninggalan Demak. Aria Panangsang, keponakan Sultan Tranggana, yang memerintah Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun di tengah upaya itu,Jaka Tingkir (Raja Pajang) muncul. Ia berusaha keras menghalangi upaya Sultan Trenggana. Konflik mulai meluas di antara Jipang dan Pajang. Melibatkan rakyat di kedua wilayah. Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang. Kharisma dan kesaktiannya diakui mampu mengembalikan kejayaan Demak. Siapa sebenarnya Jaka Tingkir? Pemuda Tingkir Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Djawi: Javaanse Rijskroniek , Jaka Tingkir lahir di Pengging, sebuah negeri merdeka di Jawa Tengah yang penuh rahasia. Wilayah itu dahulu berada di bawah kuasa Kebo Kenanga, alias Andayaningrat, ayah Jaka Tingkir. “Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukan wayang beber (juga dinamakan wayang krebet ) maka ia pun dinamakan Mas Krebet,” tulis Meinsma. Jaka Tingkir harus hidup dalam pelarian setelah ayahnya terlibat dalam upaya pemberontakan atas Demak. Andayaningrat dikisahkan tewas di tangan Sunan Kudus. Tidak lama, ibunya pun meninggal. Jaka Tingkir menjadi yatim-piatu di usia yang cukup muda. Oleh keluarganya ia dibawa ke desa Tingkir dan diadopsi oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. “Karena itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir, sebagaimana yang dikenal dan dicintai di mana-mana di daerah raja-raja Jawa Tengah,” tulis H.J. De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati . Ketika remaja, Jaka Tingkir belajar pada Kiai Ageng Sela. Babad Tanah Jawi menyebut gurunya itu sakti dan begitu dihormati, sekaligus ditakuti oleh masyarakat. Jaka Tingkir disebut menerima kesaktian dari gurunya itu. Keduanya sangat dekat. Kiai Ageng Sela sampai memberi perhatian yang amat besar kepada muridnya itu. Selain kepada Kiai Ageng Sela, Jaka Tingkir juga menerima pelajaran dari Sunan Kalijaga. Salah satu Wali penyebar Islam di tanah Jawa itu memberi ajaran agama dan kehidupan kepada Jaka Tingkir. Dia jugalah yang menyarankan kepada Tingkir untuk bekerja di Demak. Ia menerima saran itu dan mendaftar sebagai pengawal pribadi raja. “Keberhasilannya melompati kolam masjid dengan lompatan ke belakang –tanpa sengaja karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya– memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan ia pun dijadikan kepala tamtama,” tulis de Graaf sebagaimana dituturkan dalam Babad Tanah Jawi . Jaka Tingkir sempat diusir dari Demak setelah memperlihatkan kesaktiannya di depan penguasa Demak. Bermaksud menguji calon pengawal baru yang memiliki ilmu kebal, Jaka Tingkir justru membunuhnya. Sebuah tusuk konde menancap tepat di jantung si calon pengawal. Kesaktian Jaka Tingkir terbukti lebih hebat, meski berujung pengusiran. Merasa putus asa, Jaka Tingkir memilih kembali ke desanya. Ia menghabiskan waktu dengan bertapa dan berguru kepada Kiai Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Kiai Buyut dari Banyubiru. Jaka Tingkir mendapat lebih besar kesaktian. Satu waktu, Demak dilanda kekacauan. Seekor kerbau besar mengamuk. Tidak ada seorang pun pengawal mampu menghentikannya. Mendengar kabar itu, Jaka Tingkir segera pergi ke Demak. Dengan kesaktiannya, kerbau itu dengan cepat dihentikan. Ia mendapatkan kembali kedudukan sebagai kepala pengawal raja. “Beberapa waktu kemudian, ia kawin dengan putri ke-5 raja (Trenggana), dan menjadi bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bau. Tiap tahun ia harus menghadap ke Demak. Negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah dibangunnya sebuah istana,” ungkap de Graaf. Menguasai Takhta Demak Sebagai menantu Sultan Tranggana, Jaka Tingkir jelas tidak memiliki hak apapun atas Demak. Tetapi tidak lama setelah pemakaman Sultan Tranggana, Jaka Tingkir mengumumkan kekuasaannya di Demak. Pengangkatan mendadak Jaka Tingkir itu dilakukan berdasarkan pilihan rakyat Demak. Ia lalu memerintahkan agar pemerintahan Demak dipindahkan ke Pajang. Seluruh benda pusaka di Demak juga tak luput dari perpindahan tersebut. Sebagai pewaris sah Demak, Sunan Prawata, seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trenggana. Tetapi ia diceritakan tidak ingin naik takhta, dan secara sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan di wilayah Prawata, sebuah pasanggarahan yang digunakan Raja Demak selama musim hujan. Hal itulah yang kemudian mempermudah Jaka Tingkir untuk mengambil alih kekuasaan. Berdasar penelitiannya, JJ Meinsma mengatakan kalau Jaka Tingkir dan penguasa Pajang begitu berambisi menguasai Demak. Mereka segera mengamankan takhta atas pemilik sebagian besar wilayah Jawa Tengah tersebut. Ia bahkan melakukan berbagai tindakan untuk memastikan kedudukannya tetapi baik. Sampai tidak ada wilayah yang berani mengusik raja Pajang karena takut akan kesaktiannya. “Semua negara bawahan menyerah. Yang mengadakan perlawanan dikalahkan. Tidak ada seorang pun yang berani melawan, karena takut akan kesaktian adipati dari Pajang. Hanya adipati dari Jipang, Pangeran Aria Panangsang, yang tidak mau menyerah,” tulis Meinsma. Pada perkembangan selanjutnya, setelah melalui persaingan kekuasaan yang cukup panjang, Aria Panangsang berhasil menduduki takhta Demak. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Jipang.

  • Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan

    SEKALI waktu Aeilko Jans Zijlker, seorang juragan tembakau di Sumatra Timur berkeliling memeriksa kebunnya. Di tengah jalan, tetiba turun hujan deras. Zijlker pun berteduh di barak bekas tempat penimbunan tembakau.

  • Adolf Eichmann, Perwira Nazi Spesialis Yahudi

    SENDIRI dalam sepi meringkuk di penjara di Ramla, Israel, Adolf Eichmann hanya bisa pasrah. Malam itu, 31 Mei 1962, jadi malam terakhirnya. Takkan sempat ia melihat lagi matahari terbit saat berganti bulan pada 1 Juni lantaran dini hari itu ia akan menuju tiang gantung, sebagai gembong Nazi terakhir dan pertama yang diadili di Israel. Sebelumnya, Eichman ditangkap di Argentina. Ia dihadapkan ke muka pengadilan di Yerusalem, Israel. Ia divonis hukuman gantung pada 15 Desember 1961 atas sejumlah dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengajuan banding hingga amnestinya kepada Presiden Israel Yitzak Ben-Zvi sejak Januari 1962 mentah semua. Setelah bertemu istrinya, Veronika Liebl, untuk kali terakhir, Eichmann menanti akhir hidupnya hanya ditemani pendeta Protestan asal Kanada, William Lovel Hull, dan Rafi Eitan, agen Mossad (Intel Israel) yang mengarsiteki penangkapan Eichmann di Argentina. “Jayalah Jerman. Jayalah Argentina. Jayalah Austria. Tiga negara yang sangat berkesan dan takkan saya lupakan. Saya menyapa istri, keluarga, dan teman-teman saya. Saya siap. Kita akan segera bertemu lagi karena kematian adalah hal yang pasti. Saya mati dengan menyakini pada Tuhan saya,” demikian kata-kata terakhir Eichmann sebagaimana yang dikenang Pendeta Hull, dikutip David Cesarani dalam Eichmann: His Life and Crimes. Eichmann di Penjara Ayalon di kota Ramla menjelang eksekusi di tiang gantung (Foto: Israel Government Press Office) Seiring nyawanya melayang di simpul tiang gantung, pengadilan hingga eksekusinya menjadi pengingat akan holocaust yang 10 tahun pasca-Perang Dunia II berakhir isunya tenggelam akibat meningkatnya tensi Perang Dingin. Bagi dua negeri adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, perkara Jerman Nazi sudah rampung dengan Pengadilan Nuremberg yang melelahkan (30 September 1945-1 Oktober 1946). Israel sendirian memburu para gembong Nazi yang masih berkeliaran menghirup udara bebas. Holocaust, di mana Eichmann jadi salah satu motor penggeraknya, jadi sejarah kelam yang takkan sembuh dengan cepat di dalam masyarakat Yahudi. Adik Kelas Hitler Meski lahir di Solingen, Jerman, pada 19 Maret 1906 dari pasangan suami-istri Adolf Karl Eichmann dan Maria Schefferling, Eichmann dan keluarganya pindah ke Linz, Austria saat usia tujuh tahun. Ayahnya pindah lantaran mengambil pekerjaan di sebuah perusahaan trem listrik di Linz. Di Linz, Eichmann bersekolah di Staatsoberrealschule (sekolah menengah) Kaiser Franz Joseph. Di sekolah itu pula 17 tahun sebelumnya Hitler mengenyam pendidikan. Eichmann bersentuhan dengan politik sayap kanan sejak 1927 kala sudah bekerja sebagai agen Vacuum Oil Company AG. “Selama itu (sebagai agen minyak) dia bergabung dengan Jungfrontkampfervereinugung, organisasi pemuda pergerakan sayap kanan pimpinan Hermann Hiltl. Dia juga mulai asyik membaca koran-koran terbitan NSDAP (Partai Nazi) yang punya tujuan menjatuhkan Republik Weimar di Jerman,” sambung Cesarani. Eichmann (kiri dilingkari merah) semasa belia & semasa muda sebagai agen perusahaan minyak (Foto: holocaustresearchproject.org/remember.org ) Dari situ pula Eichmann berkawan dengan Ernst Kaltenbrunner, pemimpin Schutzstaffel (SS/paramiliter Partai Nazi) di Distrik Linz, hingga Eichmann bergabung ke SS pada April 1932. Dua tahun berselang, Eichmann mulai bertualang di Sicherheitdienst (SD/Dinas Intel SS) dengan pangkat schürfuhrer (kopral). Minatnya pada hal-hal berbau Freemason dan segala ritual Yahudi membuat Eichmann ditransfer ke Departemen Yahudi di SD, Berlin. Tugasnya meriset sejumlah pergerakan dan organisasi Yahudi global dan menjadikannya dalam bentuk laporan. Ia jadi satu-satunya orang di SS dengan spesialisasi tentang Yahudi. Ketika Hitler jadi kanselir pada Januari 1933, Unterstürmfuhrer (letnan dua) Eichmann terlibat dalam pelaksanaan teknis migrasi Yahudi Jerman ke Palestina sesuai Perjanjian Haavara (25 Agustus 1933). Empat tahun kemudian atas perintah Kepala SD Brigadeführer Reinhard Heydrich, ia jadi ujung tombak Jerman Nazi untuk bernegosiasi di bawah meja terkait pembatasan migrasi Yahudi Jerman ke Palestina. “Heydrich menganggap eksodus ke Palestina di satu sisi justru akan memunculkan bahaya tersendiri karena bisa menciptakan pusat strategis Yahudi internasional berupa negara Yahudi. Heydrich mengizinkan Eichmann bersama Herbert Hagen mengunjungi Palestina pada musim gugur 1937 untuk bertemu kontak penghubung Haganah (Paramiliter Yahudi, cikal-bakal pasukan Israel/IDF) Feivel Polkes,” tulis Saul Friedlander dalam Nazi Germany and the Jews: The Years of Persecution: 1933-1939. Eichmann di awal bergabung dengan SS (kiri) & sudah berpangkat oberscharführer (Foto: US National Archives/remember.org) Misi klandestin itu gagal akibat pemerintah Inggris tak mengizinkan Eichmann dan Hagen menginjak Palestina lebih dari satu hari. Meski begitu, Eichmann mendapat jaringan pihak Zionis. “Di kemudian hari Eichmann ikut mengatur operasi senyap bersama para utusan Zionis, memindahkan para imigran Yahudi ke pelabuhan-pelabuhan di Yugoslavia dan Rumania, di mana mereka bisa menyeberang sendiri melalui Laut Hitam menuju Palestina,” imbuh Friedlander. Invasi Jerman Nazi ke Polandia pada September 1939 yang membuka Perang Dunia II menggugurkan Perjanjian Haavara. Kebijakan SS pun berubah dari imigrasi Yahudi menjadi deportasi paksa. Ini jadi tugas baru Eichmann setelah menjabat Kepala RSHA Referat IV B4 (Sub-Departemen IV-B4 Kantor Keamanan Negara yang berwenang atas kebijakan di atas). Heydrich yang menganggap Eichmann sebagai ahli Yahudi memberi kewenangan penuh atas proses deportasi, mulai dari pengerahan pasukan polisi hingga menggerakkan aneka moda transportasi untuk mengangkut sekira 600 ribu Yahudi Jerman ke ghetto - ghetto di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman. Eichmann pun mengatur penyitaan sejumlah aset dan properti para Yahudi yang dideportasi. Holocaust dari Belakang Meja Pendeportasian Yahudi ke ghetto-ghetto untuk dikerjapaksakan itu lantas menimbulkan permasalahan buat rezim Nazi. Para gubernur pemerintahan pendudukan sering menuntut solusi tentang itu. Pusat (Berlin) lalu menjawabnya dengan solusi pertama yang dikeluarkan Kepala Departemen Yahudi di Kementerian Luar Negeri Jerman Nazi Franz Rademacher pada Juni 1940. Solusi itu yakni, membuang para Yahudi ke Pulau Madagaskar yang dijaga ketat SS lewat Proyek Madagaskar. Setelah disetujui Hitler, Eichmann merilis memo resmi, “Reichssicherheitshauptamt: Madagaskar Projekt”. Isinya adalah rencana pengaturan pemindahan para Yahudi secara berangsur-angsur: satu juta Yahudi per tahun. Masalahnya kemudian, proyek ini bergantung pada menang-tidaknya perjudian Reichsmarschall Hermann Goering, deputi Hitler, di Pertempuran Udara Inggris (10 Juli-31 Oktober 1940). Jika berhasil menang, Operasi Singa Laut (invasi ke Inggris) bisa dilancarkan sesuai keinginan Hitler dan kapal-kapal dagang plus kapal-kapal kargo Inggris bisa diambilalih untuk kunci Proyek Madagaskar. Jika gagal, Operasi Singa Laut sulit diwujudkan. Dan faktanya, Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) yang dibanggakan Goering “keok”. Invasi ke Inggris pun batal, begitu pula Proyek Madagaskar. Solusi kedua, adalah pembantaian. Rencana keji ini bermula dari Goering yang memberi kewenangan Heydrich untuk menyiapkan “Solusi Final untuk Perkara Yahudi”, ibarat akta kelahiran holocaust . Heydrich kemudian memerintahkan Eichmann untuk mengatur rapat rembukan para pejabat perwakilan pemerintahan Jerman Nazi di Konferensi Wannsee, 20 Januari 1942. “Konferensinya diketuai Heydrich sendiri dan Eichmann yang menyiapkan catatan resmi tentang data-data berupa angka jumlah Yahudi di seantero Eropa, serta statistik deportasi yang selama ini telah digulirkan,” sambung Cesarani. Konferensi memutuskan “Solusi Final” akan dilancarkan dengan metode deportasi jutaan Yahudi ke kamp-kamp pemusnahan yang akan dibangun di Bełżec, Sobibor, Treblinka, Auschwitz dll. Mereka akan dihabiskan di kamar-kamar gas serta ruangan-ruangan kremasi. Rombongan Yahudi Hungaria menjelang maut tengah digiring masuk ke Kamp Auschwitz-Birkenau II pada Juli 1944 (Foto: yadvashem.org ) Di situlah tangan Obersturmbannführer (letkol) Eichmann “berlumuran darah”. Meski arsitek holocaust adalah Kepala SS Reichsführer Heinrich Himmler dan Heydrich, motor penggeraknya adalah Eichmann. Dia yang mengubah konsep menjadi operasi (aksi). Dengan kewenangan dari Heydrich, Eichmann lalu menggerakkan semua moda transportasi darat untuk memindahkan jutaan Yahudi dari ghetto-ghetto dan kamp-kamp konsentrasi ke kamar-kamar gas maupun ruangan-ruangan kremasi. Seiring mulai intensnya tekanan internasional terhadap pemerintah Hungaria terkait deportasi Yahudi dan terdesaknya Jerman-Nazi oleh Sekutu dan Soviet, Eichmann melihat kesempatan itu untuk “cari nama” ke pihak Yahudi Internasional. Ia memulainya dengan menemui Joel Brand, anggota RRC (Komite Pengungsian dan Penyelamatan Yahudi), pada 25 April 1944 di Budapest. Dalam negosiasinya, Eichmann menuntut barter 10 ribu truk untuk satu juta jiwa Yahudi. Brand mengisahkan, sebagaimana diungkapkan PK. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II , ia harus lebih dulu menyampaikan tuntutan itu ke komunitas Yahudi di Swiss, Istanbul, Kairo, dan Yerusalem. Eichmann mengizinkan dengan syarat anak-anak dan istri Brand disandera sebagai agunan. “Tuan Brand, berangkatlah besok (16 Mei 1944). Sebuah pesawat disediakan untuk Tuan dan harus selesaikan urusan ini secepat mungkin. Saya tak bisa menunggu lama. Mulai hari ini, pembuangan orang Yahudi telah dimulai lagi sebanyak 12 ribu orang akan dibuang tiap hari, akan tetapi saya bersedia mengirim mereka ke Austria, bukan ke Auschwitz dan akan saya tahan sebagian di Slovakia. Di situ mereka menunggu sampai Tuan kembali. Jika tidak kembali pada waktunya, mereka semua akan pergi ke (kamp pemusnahan) Auschwitz,” kata Eichmann mengancam Brand, dikutip Ojong. Dokumen identitas samaran Eichmann sebagai Ricardo Klement di Argentina (kiri) & saat disidang di Yerusalem pada 1961 (Foto: Fundacion Memoria del Holocausto/Israel Government Press Office) Misi itu membawa Brand bertualang dari Istanbul, Yerusalem, hingga Aleppo. Namun, di Aleppo Brand ditangkap pemerintah Inggris. Buyarlah proposal Eichmann sehingga mengakibatkan 437 ribu Yahudi Hungaria tewas dalam kurun Mei-Juli 1944. Selain dengan Brand, Eichmann juga bernegosiasi dengan tokoh Yahudi Rudolf Kasztner, medio Juni 1944. Kali ini negosiasi Eichmann berhasil menyelamatkan 1.684 jiwa Yahudi yang ditukar dengan tiga koper berlian, emas, dan sejumlah uang. Eichmann lalu kabur ke Berlin kala Soviet kian mendekati Budapest. Pasca-kapitulasi Jerman Nazi kepada Sekutu, Eichmann menyamar sebagai Otto Eckmann. Dia tak dikenali sebagai salah satu organisator holocaust saat ditangkap pasukan Amerika Serikat. Dia lalu ditahan di kamp tawanan. Ketika identitas Eichmann dibongkar Rudolf Höss, komandan penjaga Kamp Auschwitz, di Pengadilan Nuremberg, Eichmann sudah kabur ke Argentina atas bantuan Uskup Alois Hudal dan para simpatisan Nazi di Austria dan Italia menggunakan nama samaran Ricardo Klement. Penyamaran dalam pelariannya akhirnya terhenti ketika pada 11 Mei 1960 para agen Mossad dan Shin Bet (Dinas Keamanan Israel) menculiknya dari Buenos Aires. Eichmann lalu diseret ke pengadilan di Yerusalem yang lantas memvonisnya hukuman mati.

  • Kesultanan Aceh Pernah Minta Jadi Vasal Turki Usmani

    KESULTANAN Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan Turki Usmani terutama sejak abad ke-16. Aceh beberapa kali mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan militer. Mereka mengangkut komoditas dagang terutama lada untuk dipersembahkan kepada sultan Turki. Bahkan, ada bukti kalau Aceh pernah mengajukan diri menjadi vasal atau negeri di bawah perlindungan Turki yang ketika itu merupakan imperium terkuat di dunia.

  • Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

    Kemunculan film Jejak Khilafah di Nusantara menimbulkan perdebatan terkait keberadaan khilafah di Nusantara. Perbincangan mengenai khilafah di Nusantara kembali ramai. Benarkah ada khilafah di Nusantara? Apa itu khilafah dan hubungannya dengan Nusantara? Dalam Dialog Sejarah “Khilafah di Nusantara, Benarkah Ada Jejaknya?“ di Facebook  dan Youtube Historia.id , Selasa, 25 Agustus 2020, Filolog dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Oman Fathurahman justru mempertanyakan kembali apa yang dimaksud sebagai jejak khilafah di Nusantara. Oman menyebut bahwa definisi jejak khilafah sendiri belum jelas. Jika yang dimaksud adalah bahwa kesultanan-kesultanan di Nusantara pernah menjadi bagian dari suatu sistem pemerintahan khilafah, menurutnya itu tidak benar. “Saya mengkaji sejumlah manuskrip dari Aceh, dari Palembang, dari Jawa juga, dari mana-mana, tidak mengindikasikan sama sekali bahwa kesultanan di Nusantara itu bagian dari Khilafah Utsmani pada saat itu kalau mau disebut khilafah,” kata Oman. Oman tidak meragukan adanya hubungan diplomatik maupun jaringan ulama Nusantara, terutama Aceh dengan Dinasti Utsmaniah. Namun sebelum masuk lebih jauh, menurutnya masih menjadi pertanyaan juga, apakah Utsmani adalah representasi dari khilafah itu sendiri. “Kalaupun ada hubungan itu, maka pertanyaannya apakah dinasti Utsmani itu, Ottoman Empire itu bisa dianggap merepresentasikan apa yang diyakini sebagai ideologi khilafah dalam Islam? Ini kan perdebatannya panjang,” terangnya. Menurutnya, dari Khulafaur Rasyidin atau empat kekhalifahan yang berdiri sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, hanya dua yang dianggap merepresentasikan nilai Syuro, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Ketika memasuki kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib hingga Abassiyah muncul, pertanyaan apakah kepemimpinan mereka merepresentasikan nilai-nilai kekhilafahan. “Saya kira itu tuh pertanyaan, mungkin kita harus bertanya ke diri sendiri yang dimaksud jejak khilafah di Nusantara itu apa. Saya sudah menjawab, kalau yang dimaksud adalah dalam sistem pemerintahan dan kita adalah bagian dari sistem pemerintahan Dinasti Turki Utsmani, misalnya, saya kira tidak,” ungkapnya. Tapi, lanjutnya, “kalau mau menyebutnya itu bahwa Nusantara ini punya jejak-jejak peradaban Islam dari Turki, peradaban Islam dari Mesir, peradaban Islam dari Timur Tengah, itu sangat ada.” Nabi Muhammad SAW dan Islam sendiri, kata Oman, tidak menunjukkan bahwa khilafah sebagai sebuah sistem pemerintahan. Khilafah yang dimaksud menurutnya adalah serangkaian nilai-nilai, bukan sistem pemerintahan. Kembali ke tafsir soal bahwa kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara itu adalah bagian dari Khilafah Utsmani, Oman menyebut ada dua poin penting. Pertama , memang ada hubungan diplomatik antara kesultanan di Nusantara dengan Truki Utsmani. “Bahwa ada kontak diplomatik, misalnya, gitu ya dengan katakanlah Turki Utsmani pada masa itu saya kira itu, termasuk Jawa, mungkin saja. Kalau Melayu saya punya bukti yang banyak memang tentang adanya kontak, khusunya Aceh tentu saja,” jelasnya. Yang kedua , hubungan diplomatik tersebut tidak serta-merta menjadikan kesultanan-kesultanan itu sebagai bagian dari kekhalifahan. “Sekali lagi, kalau mengklaim bahwa Nusantara adalah bagian dari Khilafah Utsmaniah itu, persatuan Islam sedunia yang sudah dimusnahkan tahun 1924, lalu kita harus kembali ke zaman itu untuk keagungan Islam misalnya, saya kira itu terlalu mengglorifikasi ya,” tegasnya.

  • Tiga Jurnalis Peliput Proklamasi

    Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia yang ke-75, di jagad maya beredar luas sejumlah foto tua yang menggambarkan suasana pembacaan proklamasi dari sudut yang lain. Padahal selama ini, foto bertajuk sejenis hanyalah berjumlah 3 lembar yang merupakan karya fotografer Indonesia Pers Photo Service (IPPHOS) Frans Soemarto Mendoer. Munculnya “foto lama tapi baru” itu mengundang sejumlah pertanyaan dari warganet: Berapa orangkah sebenarnya jurnalis yang meliput peristiwa bersejarah tersebut? Siapakah saja mereka? Dan dari media mana saja? Di buku otobiografi Sukarno ( Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia ) dan otobiografi Mohammad Hatta ( Memoir ) soal itu memang tak begitu banyak diceritakan. Informasi mengenai kehadiran jurnalis dalam pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945, justru muncul dalam bukunya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945 . Dikisahkan oleh Sudiro, beberapa menit menjelang upacara pembacaan proklamasi dimulai, dirinya menyaksikan seorang lelaki yang tak dikenal duduk di beranda depan rumah Bung Karno. Para anggota Barisan Pelopor (BP) bahkan sudah memantau gerak-geriknya sejak awal. Mereka mencurigai laki-laki itu sebagai mata-mata militer Jepang. “Ternyata kami keliru. Dia adalah wartawan Domei (menjadi Kantor Berita Antara di era Indonesia merdeka). Namanya Suroto…” ungkap Sudiro. Bisa jadi via Suroto inilah kemudian berita tentang proklamasi diteruskan ke redaksi Domei . Dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, S idik Kertapati menyebut begitu mendapat berita dari lapangan, dua awak Domei lainnya yakni Sjahrudin dan Sundoro langsung menyiarkannya. Bak kebakaran jenggot, pemerintah militer Jepang langsung bereaksi atas pemberitaan itu. Mereka memerintahkan para awak Domei membuat kontra berita yang membantah berita proklamasi itu. Namun karena kegigihan para awak Domei yang sebagian besar pro terhadap kemerdekaan bangsanya, kontra berita itu berhasil ditunda-tunda hingga pada akhirnya sama sekali tidak jadi disiarkan. Selain reporter, Domei pun mengirimkan fotografernya untuk meliput momen proklamasi. Tak tanggung-tanggung mereka mengutus Alex Mendoer, kepala bagian fotonya.  Tapi Alex bukan satu-satunya fotografer yang hadir dalam peristiwa proklamasi tersebut. Diam-diam dia mengajak adiknya Frans Mendoer (fotografer harian Asia Raya) untuk ikut serta meliput. Menurut buku Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur) karya Wiwi Kuswiah, dituturkan bahwa Alex sendiri kali pertama mengetahu berita rencana akan diadakan proklamasi berasal dari rekannya di Domei yang bernama Zahrudi. Alex tahu betul nilai berita proklamasi. Dia sangat yakin peristiwa tersebut akan menjadi sejarah penting bangsa Indonesia. Berbekal keyakinan itulah, di pagi buta 17 Agustus 1945, dia sudah keluar dari rumahnya di Jalan Batu Tulis No.42. Bersama Frans, mereka pergi ke Jalan Pegangsaan Timur sambil mengendap-endap supaya tak tertangkap serdadu Jepang. Sesampai di rumah bernomor 56, mereka menemukan situasi pagi itu sudah sangat ramai. Mayoritas yang hadir adalah para pemuda dan pemudi yang terlihat tak sabar lagi menantikan detik-detik pembacaan proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta. Seiring persiapan teknis penyelenggaraan prokamasi dilakukan, Alex dan Frans secara cepat menyiapkan pula kamera Leica masing-masing. Mereka kemudian memilih sudut pengambilan sesuai selera. Begitu upacara pembacaan proklamasi dimulai, kedua fotografer itu pun langsung beraksi. Singkat cerita, pembacaan proklamasi berlangsung sukses. Begitu massa sudah mulai meninggalkan rumah Bung Karno, Alex pulang ke kantornya sedangkan Frans langsung pulang ke rumahnya. Di Kantor Berita Domei Alex langsung memproses pencetakan foto. Saat itulah serdadu Jepang datang lantas mengambil negatif film yang sedang dikeringkan, sementara Alex sendiri saat itu sedang tidak di tempat. “Padahal Alex Mendoer-lah sebenarnya yang paling banyak memotret detik-detik proklamasi sampai habis satu roll film penuh yang berisi 36,” ungkap Lexi Rudolp Mendur, anak ke-2 dari Alex Mendoer. Frans Mendur lebih beruntung dibanding kakaknya. Begitu sampai di rumah, tanpa banyak pikir dia langsung menyembunyikan roll film itu lewat cara menanamnya di halaman depan rumah. Sejarah kemudian mengisahkan foto-foto pembacaan proklamasi karya Frans-lah yang kemudian beredar dan bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. Namun apakah hasil liputan tersebut hanya sebatas 3 lembar foto saja? Menurut Wiwi, sejatinya masih ada beberapa lembar negatif film yang berhasil disembunyikan oleh Frans itu. Tetapi hanya sedikit yang berhasil diamankan oleh Arsip Departemen Penerangan (saat itu masih ada) dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Sisanya raib tanpa jejak, entah diambil oleh siapa. Sejarawan Rushdy Hoesein memiliki pendapat yang menarik terkait dengan beredarnya foto-foto sekitar proklamasi (selain 3 foto karya Frans Mendoer) di jagad maya beberapa waktu lalu. Menurutnya ada dua kemungkinan, foto-foto tersebut berasal dari negatif film milik Frans Mendoer yang raib atau berasal dari negatif film milik Alex Mendoer yang sempat dirampas militer Jepang. “Bisa saja kan setelah jatuh ke tangan Jepang, lalu orang-orang Belanda ketika datang bersama Sekutu pada 1945 mengambilnya dan membawanya ke negeri mereka lalu mempublikasikannya sekarang,” ujar Rushdy.

  • Samudera Pasai dan Dinasti Abbasiyah

    SELURUH sultan di dunia Islam menyatakan baiat kepada Khilafah Abbasiyah semenjak gelombang badai Mongol dihentikan oleh Dinasti Mamluk. Pusat Dinasti Abbasiyah pun pindah ke Mesir dan menjadi magnet kaum muslimin global.

  • Nahas Pasukan Parang di Palagan Tiga Binanga

    Letnan Dua Raja Sjahnan menyiagakan pasukannya. Komandan Kompi III Batalion XV itu mendapat perintah untuk menyerang pasukan Belanda di Tiga Binanga, Tanah Karo. Kabar baiknya, pasukan Republik itu akan mendapat tambahan pasukan sukarela yang berasal dari veteran Perang Aceh. Pada 20 Desember 1947, pasukan bantuan datang dari Blangkejeren, Aceh Tenggara. Mereka dipimpin oleh Kapten Maaris dengan jumlah pasukan sebanyak dua seksi (satu seksi sama dengan setengah peleton atau sekira 10—20 orang). Pasukan sukarela ini dinamakan “Pasukan Parang”. Anggotanya terdiri atas orang-orang yang sudah berumur agak lanjut. “Tapi katanya berani menghampiri musuh dengan parang atau pedangnya. Mereka bertekad akan membunuh orang Belanda, yang dianggapya tetap menjadi musuh sejak zaman Belanda dahulu,” tutur Raja Sjahnan dal am Dari Medan Area ke Pedalaman dan Kembali ke Kota Medan. Sebagai prajurit militan, reputasi pasukan parang dari Aceh ini bukan isapan jempol belaka. Mereka dikenal bernyali dengan bekal ilmu kelahi secara fisik. Di masa kolonial, Belanda cukup kewalahan menghadapi keganasan Pasukan Parang. Untuk meredam serangan pasukan Aceh yang ditakuti itu, yang sekali ayun dapat membelah bahu orang miring sampai ke jantungnya, “para prajurit Belanda mengenakan baju zirah primitif berupa lempengan kaleng rata pada tutup bahu seragamnya,” kata sejarawan militer Nino Oktorino dalam Seri Nusantara Membara: Perang Terang Terlama Belanda . Dalam perang kemerdekaan, pejuang Aceh terpanggil kembali untuk bertempur melawan Belanda. Apalagi ketika Belanda menduduki kota Medan, mereka datang menjemput lawan dengan berjalan kaki dari Aceh. Mereka turun ke berbagai front, mulai dari Tanah Karo hingga kawasan pinggiran kota Medan. Di Medan Area, mereka sohor dengan nama “Kompi Parang Berdarah”. Sebagai komandan kompi, Raja Sjahnan merasa gembira dengan kedatangan Pasukan Parang ke tengah frontnya di Tanah Karo. Raja Sjahnan sendiri sempat bertanya dalam hati, apakah pejuang gaek ini mengetahui sistem pertempuran modern yang tentu berbeda dengan zaman Perang Aceh. Meski demikian, dia yakin saja Kapten Maaris akan mampu mengarahkan Pasukan Parang. Uji coba pertama terjadi pada 24 Desember 1947. Pasukan Parang diminta mendahului penyerangan ke Tiga Binanga dan kampung Kuala dibantu satu seksi pasukan Kompi III. Penyerangan yang sedianya dilancarkan pada pukul 00.00 itu gagal lantaran terhadang oleh keadaan alam. Sungai yang akan diseberangi dalam keadaan banjir sehingga jalanan licin dan sulit untuk dilalui. Pukul 04.30, Pasukan Parang kembali ke basisnya di kampung Balang Dua karena hari mulai terang. Penyerangan kembali direncanakan pada 30 Desember 1947. Pasukan Belanda di Tiga Binanga berjumlah sekira satu kompi (150-200 orang). Sekitar pos mereka terdapat benteng-benteng yang dilengkapi senjata otomatis. Setelah mendapat informasi itu, pasukan Kompi III dan Pasukan Parang bersiap melancarkan serangan. Pukul 01.00 terjadilah tembak menembak dengan pasukan Belanda selama dua jam. Pasukan Parang bergerak dari sebelah utara. Sewaktu bergerak mendekati rumah sekolah, keberadaan Pasukan Parang digonggongi oleh anjing penjaga. Akibatnya, keberadaan mereka diketahui oleh pasukan Belanda yang segera memberondongnya dengan serentetan tembakan. Di tengah desing peluru, Pasukan Parang terpaksa mundur dan berlindung di jurang tepi sungai. Waktu menunjukkan pukul 03.45 dan hari mulai terang. Letnan Raja Sjahnan memutuskan untuk menghentikan penyerangan. Pukul 04.00 pasukan diperintahkan undur diri ke Kampung Gunung dan tiba di kampung Kemkem pukul 05.00. Pada penyerangan yang gagal itu, seorang Tentara Republik dan seorang Pasukan Parang terluka akibat serangan balik Belanda. Selain itu, 3 orang Pasukan Parang terluka akibat jatuh ke jurang. Menurut Raja Sjahnan, Pasukan Parang kesulitan bergerak di malam hari karena faktor usia. Keadaan tersebut dapat dipahami lantaran Pasukan Parang tidak berpengalaman dalam pertempuran jarak jauh maupun latihan perang modern. Semula Pasukan Parang menyangka cara berperang yang akan dilakoni sama seperti zaman dulu yakni perkelahian satu lawan satu. Ketika bersitirahat, Raja Sjahnan mendatangi Kapten Maaris beserta pasukannya. Mereka bertukar pikiran membahas kegagalan serangan Pasukan Parang. Salah seorang anggota Pasukan Parang itu angkat suara mengenai kelemahan pasukannya. “Bagaimanalah Nak, anggota Pasukan Parang ini umurnya sudah lanjut, sudah tua-tua, banyak yang sudah batuk-batuk. Bila kami bergerak, akan ribut, tentu ketahuan sama musuh lalu ditembaki dengan senapang mesin dari jauh. Bila kami bergerak pada siang hari, takut kapal terbang, malam hari tidak melihat dengan baik lagi. Oleh karena itu, Pasukan Parang ini lebih baik kembali saja ke kampung,” kata pejuang Aceh itu ditirukan Raja Sjahnan. Setelah berdiskusi dengan Kapten Maaris, akhirnya diputuskan bahwa Pasukan Parang boleh kembali ke Kota Cane dan terus ke Blangkejeren. “Mereka sebagai pejuang, patut dihargai walaupun usianya sudah lanjut, tapi mempunyai semangat juang yang tinggi,” kenang Raja Sjahnan.

  • Lima Pelatih Barcelona dari Belanda

    POSTER besar berwarna kuning bertuliskan “Ben Tornat a Casa! Koeman” (terj. “selamat datang di rumah”) itu begitu mencolok. Sosok yang wajahnya digambar di poster itu, Ronald Koeman, segera membubuhkan tandatangannya. Kembalinya pahlawan FC Barcelona era 1990-an itu diharapkan jadi juru selamat Barça dari jurang keterpurukan. Setelah merampungkan segenap formalitas kontrak dua tahunnya sebagai entrenador  (pelatih) anyar, langkah kaki Koeman mengantarkannya ke lorong menuju lapangan di Stadion Camp Nou. Sejenak, ia memarkirkan bokongnya di barisan bangku cadangan. Kebahagiaan membuncah dari matanya kendati tugas berat menanti mantan defensor  (bek) Barça (1989-1995) yang jadi pahlawan Barça musim kala meraih trofi Champions 1991/1992 itu. Entah gaya permainan seperti apa yang bakal diusung Koeman yang menjadi bagian dari sejarah total football  ketika masih bermain. “Kabar bahwa Koeman akan membawa kembali total football  ke Barcelona jadi bagian yang menarik. Namun dari trek kepelatihannya selama ini, baik di Ajax Amsterdam atau Everton, kita tidak pernah mendengar tentang total football  dari klub asuhan Koeman,” sebut Pemimpin Redaksi TopSkor  Irfan Sudrajat kepada Historia . “Saya justru melihat dia generasi yang tidak total dalam total football.  Karakteristik kepelatihan Koeman itu gabungan antara Cruyff dan Van Gaal. Kedua pelatih inilah yang memberikan pengaruh kuat kepada Koeman,” sambungnya. Ronald Koeman dengan latarbelakang poster dirinya kala resmi jadi pelatih Barcelona kelima asal Belanda (Foto: fcbarcelona.com ) Koeman, lanjut Irfan, punya gabungan antara imajinasi Cruyff dan pragmatisme Van Gaal. Itu tak lepas dari latarbelakangnya sebagai salah satu bek andalan Cruyff saat mengarsiteki “The Dream Team” Barcelona (1988-1996) dan sebagai asisten pelatih Van Gaal pada tahun 2000. “Sementara dengan Rijkaard tidak sama karakternya. Namun untuk kebutuhan Barça saat ini, dia pelatih yang pas mengatasi situasi Barcelona saat ini. Dia memahami total football tapi dia juga sangat concern pentingnya tim punya pertahanan kuat. Koeman sosok yang sangat tenang tapi memiliki isi yang lebih berbobot dibandingkan dengan (pelatih sebelumnya, Quique) Setién tentunya,” tambahnya. Yang pasti, Koeman jadi pelatih berpaspor Belanda kelima penerus “ Dutch Connection ” yang menukangi Azulgrana (julukan Barça). Sebelum Koeman ada Rinus Michels, Johan Cruyff, Louis van Gaal, dan Frank Rijkaard. Berikut keempat pelatih sebelum Koeman: Rinus Michels Marinus Jacobus Hendricus 'Rinus' Michels: 1971-1975 & 1976-1978 (Foto: uefa.com ) Untuk era sepakbola modern dewasa ini, total football – adalah taktik di mana setiap pemain harus serba-bisa mengambilalih peran pemain lain– sulit diterapkan lagi. Namun di era 1960-an-1970-an, gaya bermain inovatif ini jadi momok buat banyak tim mapan setelah diperkenalkan Michels kala membesut Ajax sejak 1965. Gaya ini kemudian dibawa Michels saat pindah mengasuh Barça pada 1971 menggantikan Vic Buckingham asal Inggris. Barça saat itu tengah melempem dan sudah satu dekade puasa gelar Primera División (kini La Liga) meski sudah 12 kali ganti pelatih setelah terakhir juara liga pada 1960 . Sebelum Michels datang, Barça hanya bisa tiga kali juara Copa del Rey. “Jika pelatih banyak tak bertahan lama di klub ini, berarti ada yang tidak beres. Oleh karenanya saya ingin jadi pengecualian dan bisa mengulangi kesuksesan saya di Ajax,” ujar Michels dikutip El Mundo Deportivo , 12 Juli 1971. Semasa dibesut Michels, Ajax mengecap sukses dengan empat gelar Eredivisie, tiga titel KNVB Cup, serta satu European Cup (kini Liga Champions). Namun eksperimen Michels dengan total football di Barca gagal di musim pertama. Total football Michels mulai berhasil di akhir musim 1971-1972 dengan hasil Barça posisi tiga di klasemen. Musim berikutnya, Barça menjadi runner-up . Manisnya gelar liga akhirnya bisa dinikmati di musim 1973-1974. Itupun setelah Michels “membajak” anak emasnya, Cruyff, dari Ajax dengan mahar 6 juta gulden (USD2 juta) yang jadi rekor transfer pemain termahal masa itu. Cruyff adalah kunci dari total football -nya Michels sejak di Ajax “Michels bisa mewujudkan inovasi-inovasinya di lapangan karena Cruyff. Dia punya ide yang sama tentang sepakbola, mereka saling percaya satu sama lain. Dia tahu Cruyff mampu menyampaikan pesan ke rekan-rekannya tentang bagaimana mengatasi situasi-situasi tertentu,” tulis Sanjeev Shetti dalam Total Football: A Graphic History of the World’s Most Iconic Soccer Tactics. Johan Cruyff Hendrik Johannes 'Johan' Cruyff: 1973-1978 (Foto: fcbarcelona.com ) Total football Michels dilanjutkan Cruyff ketika melatih Barça musim 1988/1989, usai gantung sepatu pada 1984. Seperti halnya Michels, Cruyff datang setelah mengasah karier kepelatihannya di Ajax dengan torehan dua trofi KNVB Cup dan satu UEFA Winners Cup. Seperti Michels, Cruyff juga menanggung beban tak enteng di awal kepelatihannya. “Saat Cruyff mengambilalih kepelatihan, Barcelona di akhir 1980-an adalah klub yang tenggelam dalam utang dan krisis. Atmosfernya jelek, animo suporter menurun, bahkan hubungan presiden klub Josep Lluís Núñez dan Presiden otonomi daerah Katalan Jordi Pujol memburuk. Memang tidak seketika itu juga Cruyff bisa memulihkan reputasinya semasa jadi pemain. Dia mengambil risiko dan hasilnya mengikuti kemudian,” ungkap Sid Lowe dalam Fear and Loathing in La Liga: Barcelona, Real Madrid, and The World’s Greatest Sports Rivalry. Dibantu mantan rekan setimnya, Carlex Rexach, sebagai asisten, Cruyff membangun tim dengan memodifikasi filosofi total football Michels. Salah satu kebijakan kunci yang jadi keberhasilan Cruyff adalah tim akademi La Masia wajib mengikuti gaya bermain menyerang dan indah, serta menghibur di tim senior. Alasannya agar jika dibutuhkan untuk naik kelas, para pemain muda itu sudah tak kaget dan bisa langsung ‘ngeklik’ dengan arahan Cruyff. “Saya mengenal klub ini dan saya tak ingin sejarah berulang dengan sendirinya. Jika kita ingin perubahan, kita harus mengubah sejarah,” tutur Cruyff sebelum membangun “The Dream Team”, dikutip laman resmi klub . Hasilnya pun tak mengkhianati kerja keras. Dengan memadukan para jebolan La Masia seperti Josep Guardiola dan para pemain asing seperti Ronald Koeman, Michael Laudrup, Romário Faria, Gheorghe Hagi, hingga Hristo Stoichkov, Cruyff berhasil membentuk “Tim Impian” yang dalam periode 1988-1996 memboyong empat gelar La Liga, satu Copa del Rey, tiga Supercopa de España , serta masing-masing satu Winners Cup, Liga Champions, dan UEFA Super Cup. Louis van Gaal Aloysius Paulus Maria 'Louis' van Gaal: 1997-2000 & 2002-2003 (Foto: fcbarcelona.com ) Kejayaan Barcelona saat ditangani Cruyff jadi harapan manajemen klub ketika kembali memercayakan kursi kepelatihan ke Van Gaal yang menggantikan Bobby Robson pada 1997. Kegagalan di Champions Cup dan La Liga jadi alasan pemecatan Robson kendati di musim terakhirnya (1996/1997) masih memberi Barcelona Copa del Rey dan UEFA Winners Cup. Namun, Van Gaal dengan gaya pragmatisnya sejak menangani Ajax (1991-1997) bukanlah Cruyff dengan sepakbola indahnya hasil modifikasi total football . Meski tak semenghibur pendahulunya, Van Gaal berhasil memancing minat Presiden Barça Núñez yang mendambakan timnya bergelimang gelar seperti era Cruyff. Di Ajax, Van Gaal punya rapor manis: tiga gelar Eredivisie, satu KNVB Cup, dan satu trofi Liga Champions, gelar raja Eropa yang tak bisa dicapai Robson. “Tapi harga yang harus dibayar adalah, dia harus bergelut untuk membuat para pemainnya memahami visi sepakbolanya yang unik. Keyakinannya atas taktik yang kaku membuatnya berkonflik dengan banyak pemain dan keti d akmampuannya menyampaikan ide-idenya ke media-media lokal dan fans membuatnya berada di ujung tanduk,” tulis Maarten Meijer dalam Louis van Gaal: The Biography . Hingga masa kepelatihannya berakhir, Van Gaal tergolong sukses di dua musim pertama dengan dua gelar La Liga, serta masing-masing satu Copa del Rey dan UEFA Super Cup. “Terlebih Van Gaal memberikan rakyat Katalan hasil yang paling diinginkan, kemenangan di El Clásico atas Real Madrid di ibukota. Taktik hit-and-run yang diterapkan menghancurkan start tak terkalahkan Madrid lewat kemenangan 3-2,” sambungnya. Di musim ketiganya, Van Gaal justru tambah musuh. Media dan fans Barça sendiri memusuhinya. “Berikutnya saat presiden klub melihat saputangan putih pertanda dari fans serta teriakan ‘ entrenador fuerra ’ (pecat pelatih, red .), jelas presiden akan memecatnya sebelum fans memaksa sang presiden turun jabatan,” kata Maarten. Ketegangan Van Gaal dengan media dan fans dipicu oleh hubungan tak harmonisnya dengan sang bintang, Rivaldo Ferreira. Ketidakharmonisan itu dimulai ketika Rivaldo ngambek karena sering dipaksa Van Gaal bermain di sayap kiri, bukan di posisi aslinya gelandang tengah. Klimaksnya, Rivaldo angkat kaki. Hal itu membuat media dan fans menekan Van Gaal sehingga dia juga angkat koper pada 20 Mei 2000. Mereka tak peduli Van Gaal berperan mengorbitkan banyak jebolan La Masia yang kelak jadi pilar penting kejayaan Barça dan timnas Spanyol: Carles Puyol, Xavi Hernández, Víctor Valdés, dan Andrés Iniesta. Van Gaal sempat comeback pada musim 2002-2003. Tapi performa inkonsisten Barça kembali membuat kursinya panas. Di jeda musim dingin, 28 Januari 2003, manajemen klub melepasnya setelah Barça terperosok ke urutan ke-12 di klasemen La Liga. Frank Rijkaard Franklin Edmundo 'Frank' Rijkaard: 2003-2008 (Foto: Twitter @ChampionsLeague) Kendati hanya lima musim melatih Barça (2003-2008), capaian Rijkaard masih berkesan bagi presiden klub, Josep Bartomeu. Kepada La Repubblica , 11 Januari 2016, Bartomeu menyatakan, “Kami tak ingin menang menghalalkan segala cara. Ini (Barça) adalah sekolah Belanda dari Michels, Cruyff, Van Gaal, dan Rijkaard. Bola menjadi inti setiap keputusan; jika Anda memperlakukannya dengan baik, Anda akan mendapat hasilnya. Kami klub global yang dihormati dan dikagumi dengan misi untuk menghibur.” Yang dimaksud Bartomeu adalah sepakbola tiki-taka yang fondasinya dibangun Rijkaard dan diteruskan Guardiola (2008-2012) dan berhasil jadi masa kejayaan Barca. Di masa Rijkaardlah tulang punggung Barça-nya Guardiola hadir: Xavi, Iniesta, Lionel Messi, dan Ronaldinho. Padahal, penunjukan Rijkaard untuk menggantikan Radomir Antić pada 2003 sendiri terbilang gambling . “Pemilihan Rijkaard atas saran Cruyff ini mendapat tentangan dari fans. Selain karena membenamkan Sparta Rotterdam ke jurang degradasi, Rijkaard dinilai minim pengalaman,” tulis Astri Novia dan Rockin Marvin dalam El Llibre del Barça: Meretas Jejak Klub Terbaik dari Tanah Katalan. Tekanan berat sempat membuat Rijkaard goyah di paruh pertama musim 2003-2004. Suatu waktu, posisi Barça pernah terjun ke posisi 13 di klasemen. Tapi seiring taktiknya mulai klop dengan masing-masing karakter pemain jebolan La Masia serta para bintang baru (Samuel Eto’o, Deco de Souza, Ronaldinho, dan Ludovic Giuly), perlahan tekanan fans berbalik jadi dukungan positif. “Publik Camp Nou mulai jatuh cinta dengan pola Rijkaard, 4-3-3, pressing dan permainan passing cepat ala Cruyff,” ungkap Graham Hunter dalam Barça: The Making of the Greatest Team in the World. Gelar La Liga dan Supercopa de Espana pun diraih Barca sebagai hasilnya. Klimaksnya, juara Liga Champions 2005-2006. Yang lebih spesial, Rijkaard mampu membawa Barça mempecundangi Real Madrid dua kali berturut-turut di kandang musuh, Stadion Santiago Bernabéu. Saat itu belum ada satupun entrenador dengan capaian serupa Rijkaard. Namun sayangnya di musim 2007-2008 Barça puasa gelar sama sekali. Meski Rijkaard bersikeras ingin bertahan, pada 8 Mei dewan direksi klub satu suara untuk memutus kerjasama dengan Rijkaard.

  • Aceh Dibantu Turki Menaklukkan Aru dan Johor

    KESULTANAN Aceh dibantu pasukan Turki berhasil mengalahkan Kerajaan Batak pada 1539 dan Kerajaan Aru pada 1540. Pasukan Turki itu diduga tentara bayaran karena diberi imbalan empat kapal lada dan didatangkan oleh para pedagang Turki di Aceh.

bottom of page