Hasil pencarian
9741 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Seblang Menolak Bala
HAMPIR dua bulan, pandemi Covid-19 atau Corona melanda Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah berupaya mengatasi penyebarannya. Awal Maret 2020, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melakukan penanganan dini. Ini penting dilakukan mengingat Banyuwangi adalah destinasi wisata yang ramai. Masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi, memiliki ritual khusus untuk menghadapi wabah penyakit ( pageblug ), yakni melalui tarian adat Seblang. Ritual ini ditarikan seorang penari dalam keadaan trance , tak sadarkan diri, sebagai penghubung warga desa dengan leluhur. Dahulu kala, Seblang digelar setiap tahun untuk tolak bala dan bersih desa setelah panen. Tujuannya agar desa memperoleh ketentraman, keselamatan, kesuburan tanah sehingga hasil panen melimpah. Namun, seperti dilaporkan antropolog Belanda John Scholte dalam Gandroeng van Banjoewangi (1927), Seblang bisa dipanggil kapan saja oleh keluarga sebagai pemenuhan nadar (janji) agar beroleh kesembuhan penyakit. Sebab, masyarakat percaya penyakit disebabkan gangguan atau kemarahan dari roh leluhur atau dhanyang (penjaga desa). Pertunjukan Seblang sebagai pelepas nadar kini jarang dilakukan. Kendati demikian, bukan berarti ritual Seblang lantas punah. Masyarakat Bakungan dan Olihsari, dua desa Osing yang berada di wilayah Kecamatan Glagah, masih menjalankan ritual Seblang setiap tahun untuk keperluan bersih desa dan tolak bala. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi memberikan dukungan agar khasanah tradisi ini lestari. Salah satu caranya dengan menjadikan Seblang sebagai salah satu agenda Banyuwangi Festival setiap tahun. Menurut Anas, ini merupakan bagian dari menghidupkan dan mengenalkan potensi desa lebih luas. Agenda festival yang sifatnya tradisi ritual tidak harus ditarik ke kota, namun justru harus dilestarikan di desa tersebut. “Seblang menjadi salah satu contoh kegiatan Banyuwangi Festival yang muncul dari masyarakat. Pemerintah tidak melakukan intervensi apapun terhadap penyelenggaraan budaya ini, karena ini adalah adat tradisi. Kita cukup mendukung infrastruktur sekitar dan melakukan promosi hingga akhirnya tradisi ini mendapatkan perhatian khalayak yang lebih luas,” ujar Bupati Anas , empat tahun lalu. Tradisi Tua Seblang merupakan tradisi suku Osing yang cukup tua sehingga sulit diacak asal-usulnya. Ada yang menyebut Seblang merupakan peninggalan kebudayaan pra-Hindu. Menurut Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi dalam Seblang dan Gandrung , tari Seblang mirip dengan tari sang hyang di Bali, yang di masa lalu ditemui juga di Banyuwangi dengan sebutan tari sanyang. Nyanyian, tatabusana, hingga gerakan dan pose dasar dalam seblang mirip seperti dalam pertunjukan sanyang. Awalnya Seblang dibawakan seorang lelaki dan dalam keadaan trance . “Tari Seblang itu mesti kesurupan, tapi pembawaan-gerakannya dan iramanya menyenangkan serta mantap,” tulis Gunawan Suroto dalam “Dolan Menyang Blambangan”, dimuat majalah Kunthi , Juni 1973. Di masa lalu ritual Seblang digelar pada tanggal 1 Sura, hari pertama dalam perhitungan tahun baru penanggalan Jawa. Sekarang disesuaikan dengan kalender Islam. Perayaan di Olehsari berlangsung seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri, sementara di Bakungan seminggu setelah Hari Raya Idul Adha. Menurut Robert Wessing dalam artikel “A Dance of Life”, termuat di BKI No. 4 tahun 1999, meski ada penyesuaian dengan adanya pengaruh Islam, tujuan utama pertunjukan Seblang tak berubah. Yakni, “untuk memperkuat hubungan antara desa dan dunia roh,” tulis Wessing. Agama juga tak meminggirkan kepercayaan pada leluhur. Bahkan, menurut Wessing, Seblang menggabungkan semuanya; leluhur, dhanyang, Dewi Sri, dan bahkan Tuhan bergabung menjadi satu sumber vitalitas manusia. “Tarian itu kemudian menghidupkan kembali bukan hanya hubungan dengan dunia roh tapi seluruh kehidupan spiritual desa-desa ini.” Pengaruh Islam tampaknya juga mengubah orang yang menarikan Seblang. Penari perempuan mulai menggantikan penari lelaki. Kendati demikian, cerita tutur lokal menyebut perubahan itu terjadi pada 1895 dan dikaitkan dengan sosok bernama Semi, salah seorang putri Mak Midah. Suatu ketika Semi yang masih berusia 10 tahun sakit parah. Mungkin karena hidup pas-pasan, Mak Midah tak berani bernadar dengan mengundang Seblang dari Bakungan. Tapi dia sering melihat dan boleh jadi sering terlibat dalam pertunjukan Seblang. Maka, ketika hampir putus asa, dia pun benadar: “Kalau engkau sembuh, kujadikan engkau penari Seblang.” Semi mendapatkan kembali kesehatannya. Mak Midah pun memenuhi kaul dan mengajar Semi menjadi penari Seblang. Menentukan siapa penari Seblang pertama memang agak repot. Para penari dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya keturunan penari Seblang sebelumnya. Wessing menyebut ketidakjelasan data itu untuk Bakungan. Ada beberapa nama disebut, kendati Wessing berpendapat Mbah Kantok dan Mbah Suwitri adalah keturunan dari penari pertama. Sementara di Olehsari, Mak Milah dianggap penari pertama dan dilanjutkan keturunannya yang perempuan. Ada beberapa pengecualian di mana lima dari penari Olehsari muncul dari garis laki-laki. “Singkatnya, para penari di kedua desa cenderung keturunan dari garis perempuan yang idealnya kembali ke pendiri desa. Penari adalah ujung vitalitas dan kekuatan spiritual pendiri yang sangat penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran desa,” tulis Wessing. Masyarakat antusias melihat ritual tari Seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, yang dimulai pada Jumat, 7 Juni 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Menghidupkan Tradisi Tari Seblang masih bertahan dan dipertunjukkan di Bakungan dan Olihsari. Selain waktu pelaksanaannya, ada perbedaan usia penari, alat musik, dan busana di dua desa tersebut. Di Bakungan, tari Seblang dibawakan perempuan berusia 50 tahun ke atas yang telah menopause dan digelar seminggu setelah Hari Raya Idul Adha selama semalam suntuk. Di Olehsari dibawakan perempuan yang belum akil baliq dan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Alat musik yang mengiringi tarian Seblang di Desa Bakungan terdiri dari satu kendang, satu kempul atau gong dan dua sarong. Sedangkan di desa Olehsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal. Di Bakungan, seseorang dapat memilih di antara sekitar 50 lagu, yang tidak tunduk pada urutan tertentu seperti dalam tradisi Olehsari. Dari segi busana, omprok atau mahkota penari di Bakungan biasanya dihiasi bunga warna warni, sementara di Olehsari berhias untaian dari daun pisang muda. Tata urutan ritual Seblang di Bakungan dan Olehsari hampir sama. Sebelum pertunjukan dimulai, dilakukan ziarah ke leluhur desa. Keesokan harinya, setelah matahari terbenam, ritual dilanjutkan dengan selametan. Lalu, aliran listrik di desa Bakungan dipadamkan dan diadakan pawai obor keliling desa yang dinamakan ider bumi . Di setiap pojok desa, mereka berhenti sambil melafalkan doa-doa keselamatan dari ayat ayat suci Alquran. Ritual ini dimaksudkan agar tidak ada roh jahat yang akan mengganggu desa. Usai persiapan semua, penari pun bersiap. Wajah dan bagian tubuhnya diolesi atal , sejenis tepung dari batu halus yang berwarna kuning dan dicampur air. Dia memakai omprok . Penari membawa nyiru atau tampah berbentuk bundar dari anyaman bambu dengan tangannya. Jika si penari sudah kesurupan, nyiru akan jatuh dengan sendirinya. Proses pemanggilan roh diiringi lagu Sêblang Lukinto . Dalam keadaan trance , penari akan menari dengan iringan gending dengan gerakan yang sederhana dan monoton. Dia berputar berlawanan arah jarum jam, bergerak melingkar seturut bentuk panggung. Lalu dia melemparkan sampur atau selendang kepada seorang penonton dan turut menari. Puncak tarian Seblang berakhir saat pengiring lagu memainkan gending brang brang. Gending itu dimainkan dengan tempo yang cepat. Sang penari juga berputar dengan cepat, lalu penari jatuh tergeletak dengan posisi menelungkup. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Seblang dari Bakungan maupun Olehsari masuk dalam gelaran Banyuwangi Festival 2020. “Ini adalah salah satu bentuk komitmen Pemkab menjaga keberlangsungan tradisi dan adat warga lokal Banyuwangi. Kami tidak ingin, adat dan tradisi yang telah hidup sejak puluhan tahun silam menghilang seiring perkembangan zaman. Untuk itu, kami pentaskan dan kami gelar secara rutin sebagai upaya menghidupkan tradisi ini di generasi mendatang,” kata Bupati Anas . Seblang Olehsari dijadwalkan pada 28-31 Mei, sedangkan Seblang Bakungan pada 9 Agustus. Namun, di tengah pandemi Corona, apakah Seblang akan tetap digelar? Mengingat, menjaga jarak adalah salah satu prasyarat menghindari penyebaran Corona. Berdoa saja badai segera berlalu sehingga sajian tradisi dan ritual tua dari Banyuwangi tetap berjalan.
- Hukuman Sultan Agung bagi Panglima yang Gagal
Panglima pasukan Mataram yang baru, Tumenggung Sura Agul-Agul tiba di Batavia untuk menggantikan Tumenggung Baureksa yang mati bersama dua putranya dalam pertempuran pada 21 Oktober 1628. Tumenggung Sura Agul-Agul didampingi dua bersaudara panglima lapangan, Kiai Adipati Mandurareja dan Kiai Adipati Upa Santa. Mereka datang dengan harapan besar Batavia telah ditaklukan sehingga tinggal mengumpulkan harta rampasan. Mereka tercengang melihat keadaan yang sebenarnya. "Apa yang akan saya bawa untuk raja saya, raja Mataram," kata Mandurareja. Karena tidak mungkin merebut Batavia dengan penyerangan mendadak, Mandurareja menggunakan cara yang berhasil mengalahkan Surabaya, yaitu membendung sungai. Ribuan prajurit dikerahkan, namun VOC telah mengantisipasinya sehingga cara itu gagal. Pasukan Mataram kemudian melakukan usaha terakhir untuk merebut benteng Hollandia pada malam 28 November 1628. Namun, serangan 100–300 prajurit itu tepergok serdadu VOC. Beberapa prajurit ditembak mati, sisanya melarikan diri. Oleh karena itu, menurut ahli sejarah Jawa, H.J. de Graaf, pada 1 Desember 1628, Tumenggung Sura Agul-Agul memerintahkan mengikat Mandurareja dan Upa Santa berikut anak buahnya. Melalui pengadilan dan atas perintah raja Mataram, ia menjatuhkan hukuman mati karena Mandurareja dan Upa Santa tidak bertempur mati-matian dan Batavia tidak ditaklukan. Beberapa dipenggal kepalanya, kebanyakan ditusuk dengan tombak dan keris. "Mungkin panglima-panglima inilah yang dipenggal kepalanya, sedangkan yang rendahan ditusuk mati dengan tombak dan keris," tulis De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram. Ketika pasukan Mataram meninggalkan Batavia pada 3 Desember 1628, ratusan mayat dibiarkan berserakan di tanah. "VOC menemukan 744 mayat prajurit Jawa yang tidak dikuburkan, beberapa di antaranya tanpa kepala," tulis sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 . Eksekusi Mandurareja dan Upa Santa menimbulkan keresahan di istana Mataram. Pasalnya, kedua panglima itu adalah keturunan dari patih Adipati Mandaraka yang termasyhur, pembantu utama Panembahan Senapati, pendiri Mataram dan kakek Sultan Agung. Bahkan, keturunannya menjadi juru kunci pemakaman penguasa dan keluarga Mataram di Imogiri. Sultan Agung menolak bertanggung jawab atas eksekusi itu. Ia berkata kapada Tumenggung Sura Agul-Agul bahwa yang dimaksud bukan membunuh Mandurareja dan Upa Santa melainkan pengikutnya. Tumenggung Sura Agul-Agul pun harus menebus kekeliruan yang fatal itu. Ia bersama banyak bangsawan dihukum mati atas kegagalannya merebut Batavia. Lolos dari Hukuman Mati Serangan kedua Mataram ke Batavia pada 1629 kembali gagal. Baik setelah serangan pertama maupun kedua, Sultan Agung memerintahkan untuk menghukum semua orang yang pulang dengan kegagalan. Untuk itu, semua jalan dan pintu gerbang tol dijaga agar tidak seorang pun dapat kembali pada keluarganya. Tumenggung Singaranu, panglima pasukan Mataram pada serangan kedua, telah mengetahui gelagat itu. Ia menahan sisa pasukannya yang menurut perkiraan masih sekitar 10.000–14.000 orang. Sebagian besar dari prajurit-prajurit ini adalah rakyat Mataram sendiri yang dikumpulkan dari berbagai daerah. "Dengan pengikut-pengikutnya," tulis De Graaf, "ia menarik diri di antara tembok-tembok yang luas dan mengambil sikap mengancam karena melihat kekerasan yang terjadi sebelumnya terhadap panglima-panglima yang dianggap gagal." Namun, untuk mendapatkan pengampunan Sultan Agung, Singaranu mengirimkan istri, selir, dan anak-anaknya. Ia juga mengirimkan senjatanya sebagai tanda akan tunduk terhadap keputusan raja. "Raja memperlihatkan kemurahan hatinya, lebih-lebih karena putri Singaranu adalah yang paling cantik dan manis dari istri-istri raja, dan istri ini dapat mengetuk hati raja," tulis De Graaf. Sultan Agung pun menyuruh istri, selir, dan anak-anak Singaranu untuk pulang kembali. Ia mengampuni Singaranu dengan syarat selama tiga tahun tidak diperbolehkan berhadapan muka dengan raja. Kemungkinan Singaranu tidak menempati posisinya lagi, karena sejak tahun 1630 Tumenggung Danupaya disebut sebagai orang yang mewakili kedudukan raja. Teman sejawat Singaranu, Raden Aria Wira Nata Pada juga lolos dari segala hukuman. Namun, tidak ada keterangan mengenai nasib Kiai Adipati Singenep. Apakah sikap lunak Sultan Agung terhadap para panglimanya itu karena sikap berani Singaranu? "Menurut saya," kata De Graaf, "masuk akal bahwa Sultan Agung setelah dua kali gagal mulai insaf bahwa hukuman-hukuman [kejam] semacam itu tidak ada gunanya, bahkan membahayakan."
- "Tak Perlu Menunggu Ludah itu Kering, Kau Kutembak!"
Akhir Mei 1948, pemerintah Republik Indonesia (RI) via Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta menugaskan Letnan Kolonel A.E.Kawilarang untuk berangkat ke Sumatera. Bersama Mayor Ibrahim Adjie, Letnan Satu Abu Amar dan Letnan Dua Hutabarat, Alex mendapat misi untuk menuntaskan pertikaian antar tentara Indonesia di Sumatera. Komandan Brigade II Surjakantjana Divisi Siliwangi itu merasa penasaran, apa yang menyebabkan dia harus pergi ke wilayah yang sama sekali belum dikenalnya itu. Guna mememenuhi kepenasaran itu, Alex bahkan pernah bertanya langsung kepada Wakil Presiden sekaligus Menteri Pertahanan ad interim Mohammad Hatta. “Di Tapanuli dan Sumataera Timur harus ada komandan yang bukan berasal dari Jawa atau Sumatera. Di sana harus dilakukan pembersihan. Banyak serobotan, lucut melucuti, kurang disiplin dan lagi banyak korupsi,” jawab Bung Hatta. Sebagai catatan, di wilayah Tapanuli memang saat itu sedang terjadi “perebutan wilayah” antara tentara Indonesia sendiri. Mereka yang terlibat berasal dari kesatuan tentara yang dipimpin oleh Mayor Bedjo dan para pejuang yang ada di bawah Mayor L. Malao. “Alhasil saya merasa terpilih sebagai “tukang bersih-bersih”. Jadilah!” ujar Alex seperti dituliskan dalam otobiografinya, Untuk Sang Merah Putih (disusun oleh Ramadhan KH). Singkat cerita, berangkatlah Alex dan rombongan ke Sumatera pada Agustus 1948. Selama belum ada penugasan rinci, untuk sementara mereka ditempatkan di Bukittinggi, Sumatera Barat. November 1948, Alex ditunjuk menjadi Komandan Sub Teritorial VII. Sebagai pimpinan wilayah, dia harus mulai membereskan kekacauan-kekacauan yang ada di Tapanuli, Sumatera Timur Selatan. Langkah pertama yang dia lakukan adalah membubarkan brigade-brigade yang ada lalu menggantinya dengan sektor-sektor. Setidaknya ada 4 sektor yang dia bentuk untuk menghadapi kemungkinan agresi militer Belanda yang kedua kalinya. Pembentukan sektor-sektor otomatis diikuti dengan perpindahan wilayah kekuasaan masing-masing kekuatan bersenjata yang ada saat itu. Sebagai contoh Pasukan Sektor I harus meninggalkan Sibolga digantikan oleh Pasukan Sektor IV dan Sektor S. Aturannya Pasukan Sektor IV dan Sektor S dipersilakan masuk Sibolga usai Pasukan Sektor I pergi. Namun karena ada kesalahpahaman beberapa unit Pasukan Sektor S sudah mulai mendekati Sibolga, sementara saat itu Pasukan Sektor I masih ada di kota tersebut. Untuk mencegah keributan karena pertemuan dua pasukan yang tadinya bermusuhan itu, maka Letnan Kolonel Alex mengutus Letnan Dua David Munthe untuk mengingatkan komandan Pasukan Sektor S untuk tidak masuk dulu ke Sibolga. Alih-alih disanggupi, komandan Sektor S malah mengancam Letnan Dua David dengan todongan pistol. “Besok paginya, saya panggil perwira yang menodong Munthe itu…” kenang Alex. Belum selesai melakukan teguran, Sang Perwira malah menyemprot Alex duluan. Sambil menggebrak meja, dia menolak mentah-mentah perintah atasannya itu untuk jangan dulu memasuki Sibolga. Bak mitraliur, Si Perwira terus nyerocos. Alex yang tadinya akan melakukan teguran juga terkait penodongan Munthe, memilih untuk menahan diri, menunggu dulu sampai teriakan-teriakan sang perwira selesai. Setelah dia diam, sambil menggebrak meja hingga gelas-gelas di atas meja berjatuhan, Alex langsung balas memaki-maki Komandan Sektor S tersebut. “Sekarang dalam kondisi aman, kau mau aksi-aksian masuk Sibolga! Tahu kau, kalau kau dan pasukanmu masuk Sibolga sekarang lalu bentrok dengan Pasukan Sektor I, siapa yang menjadi korban? Rakyat dan tentara lagi! Mana tanggungjawabmu?! Mana disiplinmu?! Kau malah mau bermain-main koboy-koboyan dengan pistol. Memuakan! Pengecut memang biasa begitu! Tunggu sampai Aksi II, baru kau boleh mencabut pistolmu kepada lawan!” Sejumlah kalimat lagi masih dilontarkan Alex. Dia betul-betul memarahi Komandan Sektor S. Namun di luar dugaan, tetiba Si Komandan bangkit dan berdiri. Bersikap tegap sambil memberi hormat kepada Alex. “Saya taat perintah!” katanya dalam nada tegas. Sikap membangkang juga pernah dilakukan oleh salah satu pasukan yang akan dipindahkan dari Sibolga. Waktu itu giliran Mayor Ibrahim Adjie yang harus menghadapi komandannya yang dikenal garang dan tak jarang main tembak begitu saja. Mayor Adjie lantas memanggil sang komandan. Alih-alih menuruti perintah, dia malah menyuruh Adjie untuk datang langsung ke markasnya. Kendati merasa kesal, perwira yang berasal dari Divisi Siliwangi itu berusaha menahan diri. Dia mengalah dan lantas mendatangi markas pasukan yang membandel itu. “Ayah saya bilang, mereka biasanya hanya menguji nyali para komandan saja,” tutur Kiki Adjie, salah seorang putra dari Ibrahim Adjie. Perundingan pun terjadi. Si Komandan bersikeras tidak akan pindah. Dia malah mengusir Adjie dan menyebut tidak mengakui kepemimpinannya. Adjie pun bersikeras dalam sikap tegas. Tetiba di tengah percekcokan itu, sang komandan mengeluarkan pistol, menyimpannya di meja lalu meludahinya. “Kau aku kasih kesempatan untuk pergi dari sini sampai ludah di pistolku itu kering. Jika tidak, kau kutembak!” teriaknya menantang. Di luar dugaan Si Komandan, Adjie malah menyambar pistol berludah itu lalu menodongkannya ke kepala Si Komandan. “Tak perlu menunggu ludah itu kering, sekarang juga kau aku tembak jika tidak ikut perintahku!” ujar Adjie. Dalam sikap ketakutan, Si Komandan akhirnya menyanggupi permintaan Mayor Adjie. Sejak kejadian itulah para komandan di Tapanuli tak pernah lagi membantah perintah-perintah yang datang dari Alex dan Adjie.
- Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota
CUACA di Sirkuit Monza amat indah suatu hari medio Mei 2015. Sir Stirling Moss yang mengenakan atribut pembalap lengkap era 1950-an, hampir tak bisa berhenti tersenyum di sepanjang trek. Kakinya masih fasih menginjak pedal gas maupun kopling. Tangannya masih solid memegang setir dan persneling. Namun tentu semuanya berbeda. Usianya sudah sepuh. Suasana sirkuit pun tak sesemarak kala ia balapan di trek yang sama pada GP Italia 1955. Meski begitu, Moss tetap bisa merasakan suasana itu kembali hidup. Tak lain lantaran mobil balap yang ia kemudikan sama persis dengan yang digunakannya enam dekade sebelumnya. Legenda balap Inggris itu mengendarai mobil berbodi streamliner Mercedes-Benz 300SLR. Untuk menjajal beberapa lap di Monza, ia ditemani jawara F1 yang senegara dengannya, Lewis Hamilton, di kokpit mobil Mercedes W196 Monoposto atau varian awal mobil Moss di paruh pertama F1 musim 1955, sebelum berganti dengan varian streamliner. Hamilton sesekali menyamakan kecepatan untuk mengambil posisi berdampingan sembari ngobrol kecil. Mungkin sekaligus menjaga agar Moss tak berlebihan menggeber mobilnya, mengingat usianya sudah 85 tahun. Kenangan pada 2015 itu tak terlupakan buat Hamilton, salah satu figur F1 yang terpukul ketika mendengar Moss wafat pada Minggu (12/4/2020). Legenda balap yang sepanjang kariernya jadi raja di lintasan tanpa mahkota itu mengembuskan nafas terakhir di usia 90 tahun karena kesehatannya terus menurun. “Hari ini kita menyampaikan selamat tinggal kepada Sir Stirling Moss, seorang legenda balapan. Tentu saya akan sangat merindukan perbincangan kami. Saya benar-benar bersyukur sempat memiliki momen istimewa bersamanya. Semoga ia beristirahat dengan tenang,” tutur Hamilton berduka via akun Twitter -nya, @LewisHamilton, 12 April 2020. Mengubah Bully jadi Motivasi Laman resmi F1 dalam muatan obituari Moss menjuluki sebagai “Mr. Motor Racing”. Ia legendaris sejati meski dalam rentang tujuh tahun (1955-1961) kariernya di ajang balap paling beken sedunia itu tak pernah sekalipun mencicipi gelar juara. Moss dicap sebagai pembalap paling sportif dengan catatan turun di 66 balapan, 16 kali merebut pole position, dan 16 kali berdiri di puncak podium. Ia rival terberat sejumlah legenda lain macam Juan Manuel Fangio, Alberto Ascari, Jack Brabham, hingga sesama pembalap Inggris Mike Hawthorn dengan empat kali jadi runner-up (1955-1958) dan tiga kali menempati urutan tiga klasemen akhir (1959-1961). Pria bernama lengkap Stirling Craufurd Moss itu lahir di West Kensington, London, Inggris pada 17 September 1929. Sejak kecil ia sudah akrab dengan deru mesin mobil balap. Pasalnya sang ayah, Alfred Moses, berprofesi sebagai dokter gigi sekaligus pembalap medioker. Di era 1920-an, ayahnya sering terjun di ajang-ajang amatir lokal. Sempat pula ia sekali ‘ gas pol ’ di ajang Indianapolis 500 pada 1924 dan finis di urutan ke-16. Ibunya, Aileen Craufurd, semasa muda juga jadi juru balap ajang-ajang amatir balap mobil sejenis Singer Nine. Kelak adiknya yang lantas dipersunting pembalap reli Swedia Erik Carlsson, Pat Moss, juga merambah dunia balap di ajang reli. Mengutip otobiografi yang dituliskan Moss bersama Alan Henry bertajuk All My Races , ia sudah dihadiahi ayahnya mobil Austin 7 pada usia sembilan tahun. Alfred Moss, ayah Stirling Moss juga merupakan pembalap era 1920-an (Foto: mundalis.com ) Walau hidup di keluarga dengan perekonomian yang lebih dari cukup, bocah Moss bukan tak pernah mengalami pergulatan batin. Sejak di usia sekolah dasar, ia acap jadi korbanperundungan. Utamanya perundungan bernada anti-semit karena ia punya darah Yahudi dari garis kakeknya, Abraham Moses Moss. Akibatnya, ia jadi anak yang malas ke sekolah. Beberapakali pula ia harus pindah-pindah sekolah. “Awalnya saya selalu menyembunyikan masalah itu dari orangtua. Butuh waktu lama untuk saya bisa mengubah perundungan itu menjadi motivasi kesuksesan,” kenang Moss. Mille Miglia dan Mahkota Formula Mengidap nefritis atau radang ginjal membuat Moss muda tak diharuskan ikut ke medan Perang Dunia II dan wajib militer dua tahun pasca-perang. Berkahnya, pendidikannya tak terlalu terganggu oleh perang. Ia hanya harus sering ikut lari ke tempat-tempat perlindungan serangan bom tiap kali sirine meraung-raung di masa-masa Battle of Britain , 10 Juli-31 Oktober 1940. Sejak 1948, Moss merintis karier balapnya dengan serius mengikuti beberapa ajang balap “kasta menengah” seperti Cooper 500, RAC Tourist Trophy, Alpine Rally, Goodwood Trophy, dan British Formula Three (F3). Moss menjalani debutnya di F1 pada 27 Mei 1951 bersama tim HWM-Alta di Sirkuit Bremgarten, GP Swiss. Ia hanya mampu finis di urutan ke-14. Bukan karena kalah skill dari Fangio yang di hari itu naik ke puncak podium atau Nino Farina dan Luigi Villoresi di podium kedua dan ketiga, namun karena mobil HWM 51 bermesin Alta F2 yang dikendarai Moss kurang kompetitif. Pada musim 1952, ia pindah ke tim ERA dengan mobil bermesin Bristol BS1 dan kemudian pindah tim Connaught, dan Cooper hingga 1953. Itu dilakoninya karena prinsip, hanya mau mengemudikan mobil bermesin dan ditopang sasis buatan Inggris. “Lebih baik kalah terhormat dengan mobil Inggris daripada menang dengan mobil buatan asing,” cetus Moss, dikutip Paul May dalam Heroes and Saints . Prinsip itu kemungkinan merupakan buah dari pengalaman getirnya kala merasa dikerjai Enzo Ferrari. Pada 1951, ia mulai didekati Enzo Ferrari yang menawarkan untuk mengendarai mobil Ferrari untuk ajang Formula Two (F2) di GP Bari. Tapi ketika sudah melakukan perjalanan jauh dari London ke Puglia, Moss yang ditemani ayahnya, hanya mendapati satu-satunya mobil Ferrari adalah mobil yang dikendarai pembalap Piero Taruffi. Masalahnya tak satupun staf tim Ferrari yang bisa memberi penjelasan memuaskan. Akhirnya Moss dan ayahnya pulang dengan memendam dengki. Maka hingga 1954 ia tak pernah sekalipun mau menyentuh mobil-mobil pabrikan asing. Namun karena catatan awal kariernya (1951-1953) yang sama sekali tak menggembirakan, ditambah nasihat-nasihat para sponsor, Moss akhirnya berkenan masuk ke kokpit mobil asing, yakni Maserati 250F di tim Alfieri Maserati asal Italia. “Moss bisa tampil di musim 1954 dengan mobil (Maserati) 250F, di mana finansialnya disponsori Shell-Mex dan BP. Moss merasakan sendiri betapa bagusnya handling mobil 250F sebagai wahana yang ideal untuk mendemonstrasikan skill -nya,” tulis Stuart Codling dalam Art of the Formula 1 Race Car . Prestasi Moss pun mulai moncer sejak mengendarai Maserati. Di pentas F1 ia memang hanya merasakan sekali naik ke podium ketiga di GP Belgia, 20 Juni 1954. Tetapi di luar F1, tahun itu Moss mendulang beberapa gelar dengan mobil 250F, di antaranya International Gold Cup dan Goodwood Trophy. Semusim berikutnya, ia pindah ke tim Mercedes. Di sinilah nama Moss mulai jadi langganan calon juara F1. Di musim 1955 dengan mobil Mercedes W196, Moss tiga kali naik podium, termasuk kemenangan pertamanya di GP Inggris, 16 Juli 1955 yang dihelat di Sirkuit Aintree, Liverpool. Bahkan di akhir musim, ia sukses menguntit Fangio yang juga rekan setimnya menjadi runner-up , sekaligus mengangkangi dua pembalap Ferrari, Eugenio Castellotti dan Maurice Trintignant, yang hanya mampu bercokol di urutan tiga dan empat klasemen akhir. Stirling Moss bersama co-driver Denis Jenkinson di ajang Mille Miglia 1955 (Foto: formula1.com ) Namun kenangan yang tak pernah dilupakannya di tahun 1955 justru keikutsertaannya di ajang Mille Miglia. Bersama co-driver Denis Jenkinson, Moss memenanginya. Itu menjadi kali pertama Moss memenanginya sejak ikut Mille Miglia pada 1951. Mirip Le Mans 24 Hours, Mille Miglia adalah ajang balap ketahanan mobil dan pembalap. Bedanya, Le Mans dibatasi waktu 24 jam, sementara Mille Miglia waktunya non-stop selama 10 jam dengan jarak tempuh 1.500 kilometer dengan start -nya dimulai dari Brescia dan finis di Roma. “Menang Mille Miglia lebih sulit daripada Le Mans 24 Hours. Tingkat stres di dalam mobil lebih tinggi. Anda juga balapan di jalanan umum dengan intensitas selama 10 jam. Balapan di jalanan umum di mana Anda tak mengenal treknya sangat berbeda dan sangat menuntut teknik. Anda tidak bisa mempelajari karakter trek sepanjang 1.000 mil,” sambung Moss dalam otobiografinya. “Belum lagi penonton yang berdesak-desakan di pinggir treknya membuat Anda tak bisa melihat ujung tepi tikungan. Tapi sepanjang karier kemenangan itulah pencapaian terbaik saya. Anda tak bisa membandingkan misalnya dengan kemenangan saya di GP Monaco 1961. Segalanya bergantung pada kepercayaan diri, baik terhadap mobil maupun kemampuan Anda,” lanjutnya lagi. Pada musim 1958, Moss hanya kalah sebutir poin dari kompatriotnya, Mike Hawthorn, dalam perebutan juara F1. Tak pernah sepanjang kariernya gelar juara begitu dekat dengan genggamannya. Di musim itu, Moss empat kali menang dan mengumpulan 41 poin. Adapun Hawthorn cuma sekali menang tetapi punya perolehan 42 poin. Penyebabnya, Moss lebih sering gagal mendapatkan poin karena gagal finis di lima seri, sementara Hawthorn hanya dua kali. Namun yang paling menjadi perhatian utama adalah sikap sportif Moss terhadap Hawthorn di GP Portugal yang dihelat di Sirkuit Boavista, 24 Agustus 1958. Mengutip majalah Motor Sport edisi Oktober 1958, mobil Hawthorn tergelincir di sebuah tikungan pada lap ke-48. Masalahnya saat itu kondisi tikungannya menanjak, menjadikan Hawthorn sukar menyalakan lagi mesin mobilnya. Satu-satunya cara adalah didorong ke jalanan menurun dan itu artinya Hawthorn harus berbalik arah. Itu kemudian dipermasalahkanpengawas balapan ( steward) . Hawthorn dianggap menjalankan mobilnya berlawanan arah di luar trek dan itu merupakan pelanggaran. Hasilnya, Hawthorn yang finis kedua di belakang Moss, didiskualifikasi. “Tapi pada rapat ofisial balapan di malam hari setelah balapan, Moss memberi kesaksian bahwa Hawthorn mencoba menyalakan lagi mesinnya dengan didorong di sisi dalam bantalan tepi trek, bukan di luar dan oleh karenanya tidak melanggar peraturan. Lalu pada jam 11 malam ofisial balapan memberi keputusan mengembalikan status runner-up Hawthorn,” tulis majalah itu. Stirling Moss (kiri) bersama John Michael 'Mike' Hawthorn, saingan sekaligus teman baik di pentas F1 era 1950-an (Foto: formula1.com ) Andai Moss tak berinisiatif dan bersikap sportif untuk memberi kesaksian pada ofisial balapan GP Portugal, Hawthorn takkan mendapatkan tambahan tujuh poin. Itu berarti di akhir musim sangat mungkin Moss-lah yang keluar sebagai juara dunia, bukan Hawthorn. “Bagi saya, Mike tak semestinya didiskualifikasi. Saya merasa, keputusan steward telah salah mendiskualifikasinya. Dan saya memberi kesaksian bahwa dia masih di dalam trek, tepatnya di escape road (jalur darurat, red. ) yang kemudian diterima ofisial. Nyatanya hal itu membuat saya kehilangan gelar. Walau demikian (sikap sportif) sudah berarti kemenangan buat saya,” tambah Moss. Di pengujung musim, Moss akhirnya gagal juara. Meski pedih, tiada penyesalan dalam hatinya. “Memang sempat ada sedikit rasa kesal karena saya merasa harusnya tahun itu saya juara. Saya merasa punya kemampuan untuk jadi juara tapi nyatanya saya tidak juara. Mike adalah teman baik saya. Tentu saya merasa mampu mengalahkan dia, tetapi harus diterima juga bahwa saya kalah satu poin darinya,” tandas Moss yang pensiun pada 1962 akibat cedera parah usai kecelakaan di ajang Glover Trophy.
- Aksi Massa yang Disita Polisi
ADA kegemparan di kalangan elite Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam tahun 1926. Silang pendapat itu bermula ketika sekelompok kader pucuk PKI pimpinan Sardjono menyelenggarakan Kongres Prambanan, 25 Desember 1925, yang menghasilkan keputusan melawan pemerintah kolonial Belanda, selambatnya enam bulan setelah penyelenggaraan kongres. Untuk mematangkan jalannya pemogokan massal yang disertai pelawanan bersenjata sebagaimana keputusan kongres, partai mengutus Musso, Budisutjitro, dan Sugono untuk pergi ke Singapura menemui Tan Malaka. Mereka berniat meminta bala bantuan dari Moskow melalui Tan Malaka. Namun misi itu gagal karena Tan Malaka ada di Manila. Sebetulnya Tan Malaka sudah mengetahui rencana pemberontakan itu sejak awal 1926, namun kurang sreg. Dia menilai situasi revolusioner di Hindia Belanda belum benar-benar memenuhi syarat untuk sebuah revolusi. “Tetapi apakah rakyat proletar Indonesia sudah pula siap?... kalau belum siap, tak ada jalan lain buat pemimpin yang berani bertanggung jawab kepada rakyat dan diri sendiri, ialah terus mempersiapkan rakyat buat massa aksi,” kata Tan Malaka dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara . Pemberontakan melawan pemerintah kolonial pun tetap dilakukan kendati waktu pelaksanaannya meleset dari yang ditentukan. Pada 12 November 1926 pemberontakan meletus di Banten, Batavia, dan Jawa Barat. Lantas pada Januari 1927, mengikuti kawan-kawan separtai di Jawa, giliran Silungkang, Sumatra Barat berontak melawan Belanda. Dalam jangka waktu sepekan setelah peristiwa, polisi kolonial menangkap ribuan orang yang diduga terlibat aksi pemberontakan tersebut. Beberapa pemimpin pemberontakan, seperti Egom, Hasan, dan Dirdja dihukum gantung. Ratusan kader lainnya dibuang ke Boven Digul, kamp penahanan yang terletak di wilayah endemik malaria hitam di Papua. Kelak tak hanya kaum komunis yang dibuang ke Digul, melainkan juga para nasionalis yang dituduh membahayakan negara kolonial Hindia Belanda. Tan Malaka besikukuh tak menyetujui pemberontakan itu. Pada awal 1926, menggunakan paspor palsu di bawah nama samaran Hasan Gozali, pria kelahiran Mindanao, Filipina Selatan, Tan Malaka masuk ke Singapura. Selama di Singapura dia menulis sebuah risalah mengenai taktik rakyat untuk melawan pemerintah kolonial. Risalah bertajuk Massa Actie ( Aksi Massa ) ditulis untuk menanggapi keputusan kongres Prambanan yang menyerukan revolusi di Hindia Belanda. Tan Malaka mengakui bahwa risalah tersebut ditulis dalam situasi serba mendadak. “ Massa Aksi yang ditulis tergesa-gesa dan dicetak di Singapura,” katanya dalam Dari Penjara ke Penjara . Ketergesaan itu bisa jadi karena dia, melalui risalahnya, ingin agar pemberontakan ditunda sambil mematangkan situasi revolusioner pada massa rakyat. Risalah tersebut terdiri dari 12 bagian, dibuka dengan pembahasan revolusi pada bab pertama. Kalimat pertama dalam bab ini bernada gugatan kepada mereka yang menganggap revolusi sebagai keputusan sepihak, satu arah dari beberapa gelintir orang. “ Revolusi itu bukan sebuah ide yang luar biasa, dan istimewa, serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakan atau memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri,” tulis Tan Malaka. Tan Malaka jelas terpengaruh kuat oleh teori revolusi proletar Karl Marx yang memproyeksikan bahwa revolusi akan terjadi ketika kaum proletar semakin menderita akibat penindasan kaum modal yang semakin rakus menumpuk kekayaan di tangan mereka. “ Semakin besar kekayaan pada satu pihak semakin beratlah kesengsaraan dan perbudakan di lain pihak. Pendeknya semakin besar jurang antara kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah semakin besarlah hantu revolusi,” kata Tan Malaka menguraikan. Setelah menjelaskan tahapan revolusi pada bab pertama, Tan beralih membahas bagaimana masyarakat Indonesia terbentuk secara historis untuk membantu memahami pada tingkat mana kesadaran masyarakat Indonesia berada. Apa yang ada di Indonesia, menurut Tan, tidak pernah lepas dari pengaruh luar negeri. Kondisi itu menjadikan masyarakat Indonesia tidak punya cita-cita sendiri karena hanya menerima apa yang datang dari luar, bahkan dalam soal agama.“Agama Hindu, Buddha, dan Islam adalah barang-barang impor, bukan keluaran negeri sendiri,” tulisnya. Sementara itu cerita keagungan dan kemegahan masa lalu Indonesia dipenuhi oleh bualan-bualan pujangga istana yang menutup fakta kehidupan di luar tembok istana. Pencapaian-pencapaian masa kerajaan hanyalah monumen kuno seperti Candi Borobudur, yang menurut Tan Malaka tiada sebanding bila disetarakan dengan dahsyatnya penemuan hukum Pytagoras yang mendorong manusia untuk mencapai penemuan-penemuan baru dalam kehidupannya. Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda seperti yang ditunjukkan oleh Pangeran Diponegoro menurut Tan Malaka tak lebih hanya perlawanan sporadis seorang feodal belaka. Perlawanan itu sama sekali tidak mencerminkan perjuangan kelas borjuasi, sebagai mana terjadi di Prancis, untuk menumbangkan kekuasaan feodal sehingga menciptakan masyarakat baru yang lebih egaliter di atas puing-puing kultur feodalisme. Pendeknya, Tan Malaka dalam bab kedua ini ingin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari belenggu adat feodalisme. Adat yang terbentuk akibat perjalanan sejarah selama ratusan bahkan ribuan tahun namun tidak membawa dampak kemajuan apa-apa bagi manusia Indonesia di masa modern. Belum lagi kepercayaan terhadap takhayul yang masih menyelubungi alam pikirannya, membuat rakyat Indonesia, “… dari dulu hingga sekarang masih tetap menjadi budak belian yang penurut, bulan-bulanan dari perampok-perampok asing,” kata Tan Malaka menyimpulkan. Pada bagian selanjutnya Tan menjelaskan beberapa bentuk imperialisme yang mendominasi di kebanyakan negara jajahan. Mulai dari “perampokan terang-terangan” oleh Portugis dan Spanyol, monopoli ala Belanda, setengah monopoli ala Inggris di India, sampai dengan imperialisme liberal ala Amerika terhadap jajahannya di Filipina. Melanjutkan pembahasan mengenai imperialisme, Tan Malaka membahas kondisi kapitalisme di Indonesia yang menurutnya masih terlalu muda. Kapitalisme di Indonesia menurutnya hanyalah cangkokan dari apa yang berkembang di negeri asalnya, Eropa. Tidak ada industri berat yang menghasilkan produk-produk mesin atau barang-barang berbahan logam lainnya. Moda produksi masyarakat Indonesia bertumpu pada pertanian yang sebagian besar berada di Jawa. Sementara itu bahan logam yang banyak terdapat di Sumatra dan Kalimantan saat itu belum terjamah dan diolah untuk kebutuhan industri berat. “Kapitalisme di Indonesia tidak dilahirkan oleh cara-cara produksi bumiputra yang menurut kemauan alam. Ia adalah perkakas asing yang dipergunakan untuk kepentingan asing yang dengan kekerasan mendesak sistem produksi bumiputra,” tulis Tan Malaka dalam bab keempat. Buruh kereta uap di depan kantor perusahaan kereta uap Semarang-Joana. ( delpher.nl ). Sehingga apa yang dilakukan Belanda pada dasarnya hanya mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia Indonesia demi menopang ekonomi negeri induk Belanda. Belanda bukanlah Inggris yang mengalami revolusi industri dan membutuhkan pasar di negeri jajahannya. Belanda tidak pernah beriktikad membangun industri sehingga menarik kehidupan orang dari desa untuk pergi ke kota bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik. Sehingga yang terjadi di Indonesia adalah kapitalisme yang tidak teratur sesuai tahapan-tahapan perkembangan masyarakat seperti yang terjadi di Eropa. “…imperialisme Belanda dalam 300 tahun tak meningkatkan apa pun untuk bangsa Indonesia, semua habis diangkut ke negerinya. Ia memuntahkan kapitalisme kolonial Belanda yang tidak ada duanya di dunia,” tegasnya. Dari empat bab permulaan risalahnya, Tan Malaka memberikan penjelasan bahwa tahapan perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya masih jauh dari situasi revolusioner. Pada bab kelima Tan Malaka semakin mengerucutkan penjelasaannya mengenai kondisi rakyat Indonesia ke dalam tiga keadaan: melarat, hidup dalam kegelapan dan ditindas dalam sistem perbudakan. “ Kita di zaman modern ini sedih dan heran melihat orang Jawa yang tinggal di pondok-pondok rombeng atau tak bertempat tinggal sama sekali, kelaparan dan berpakaian kotor compang-camping, hidup dalam iklim yang sangat membahayakan sebagai di Indonesia, kurang terawat kesehatannya, disebabkan wabah malaria, cacing tambang, kolera , dan sampar; ‘hanya’ ratusan ribu yang mati di waktu penyakit itu merajalela,” urai Tan Malaka melukiskan keadaan rakyat yang hidup melarat. Sebagian besar rakyat hidup dalam kegelapan karena tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak. Pemerintah Belanda memang terbilang telat dalam mendirikan perguruan tinggi di negeri jajahannya. Pemberlakukan politik etis pada awal abad ke-20 hanya berhasil mendirikan tiga universitas, yakni Technische Hoogeschool di Bandung berdiri 1920 (kini ITB), Rechthoogescshool atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia berdiri 1924 (kini UI), dan Geneeskundigeschool atau Sekolah Tinggi Kedokteran berdiri di Batavia 1927 (kini Fakultas Kedokteran UI). Padahal menurut Tan Malaka jumlah penduduk Indonesia tiga kali lipat Filipina yang masa itu berpenduduk 12 juta jiwa sudah memiliki empat universitas. Rendahnya minat pemerintah kolonial Belanda memajukan pendidikan di negeri jajahan juga terlihat dari jumlah anak-anak yang masuk sekolah. Berdasarkan data Tan Malaka pada tahun 1919 adalah sebagai berikut: H.I.S. 1%, Sekolah Rakyat 5%, Sekolah Desa 8% sampai 14%. Lebih kurang 86% anak-anak yang seharusnya bersekolah tak mendapat tempat (menurut laporan kongres N.I.O.G. tahun 1923 yang diumumkan dalam Indische Courant ). Mereka yang bisa membaca dan menulis sekarang ditaksir 5 persen sampai 6 persen, mungkin juga 2 persen sampai 3 persen. Di dalam sistem kolonialisme Belanda perbudakan pun dilegalkan dalam cara-cara yang diperhalus. Kuli kontrak di berbagai perkebunan milik tuan-tuan Belanda jumlahnya mencapai 300 ribu orang. Mereka mendapatkan upah sangat rendah yang jauh dari kata layak untuk hidup sebagaimana tergambar dalam buku karya pengacara Belanda J. Van Den Brand, De Millioenen uit Deli . Kondisi itu membuat Tan Malaka menyimpulkan bab kelimanya dalam sederet kalimat bernada vonis, “ Keadilan di Indonesia hanya bagi segolongan kecil yaitu si penjajah kulit putih. Bagi bangsa Indonesia yang berhak atas negeri itu, tak ada keadilan dan pengadilan.” Bab-bab selanjutnya di risalah ini Tan Malaka menerangkan situasi sosial dan politik di Hindia Belanda. Dari segi sosial menurut Tan Malaka pertentangan yang terjadi di dalam masyarakat jajahan bukanlah pertentangan kelas buruh dengan majikan sesama Indonesia sebagai konsekuensi kapitalisasi kehidupan masyarakat. Namun lebih dalam lagi, “Pertentangan Belanda kapitalis dengan buruh Indonesia, itulah nisbah sosial kita yang berbeda dengan negeri-negeri lain. Pertentangan ini lahir dalam bentuk yang setajam-tajamnya. Ketajaman itu bukan saja disebabkan oleh ketiadaan kapital modern dari bangsa Indonesia, melainkan juga oleh perbedaan agama, bangsa, bahasa, adat istiadat antara penjajah dan si terjajah,” kata Tan Malaka. Penjelasan mengenai situasi sosial dilanjutkan oleh Tan Malaka dengan memberikan gambaran kondisi politik di tanah jajahan pada bab keenam. Dia mengajukan gagasan bentuk perwakilan rakyat yang ideal, bukan parlemen borjuis yang menurut dia kepanjangan tangan dari pemilik modal, melainkan sebuah soviet. Parlemen borjuis akan menghasilkan undang-undang yang membawa kepentingan kelasnya sendiri sehingga masih bersifat menindas rakyat. Soviet dibentuk oleh diktatur buruh dengan bantuan petani yang telah menguasai borjuasi. Keanggotaan soviet bisa diangkat dan diberhentikan sewaktu-waktu, tidak seperti parlemen yang duduk untuk sampai lima tahun dengan mekanisme penggantian yang tidak mudah. Gagasan ini sejatinya kritik Tan Malaka terhadap parlemen di Hindia Belanda yang tidak mencerminkan perwakilan rakyat yang sesungguhnya. Pada 1916 pemerintah kolonial Hindia Belanda membentuk Dewan Rakyat ( Volksraad ) yang anggotanya dipilih oleh Gubernur Jenderal. Pada awal pembentukannya Volksraad memiliki 38 anggota, 15 orang di antaranya wakil golongan bumiputra. Seluruh anggota Volksraad saat itu, menurut Tan Malaka, berwatak kelas borjuasi. Kritik keras juga dilayangkan oleh PKI cabang Semarang yang melalui ketuanya, Semaoen, mengejek Volksraad sebagai “komidi omong”. Pada bab ketujuh Tan Malaka meramalkan revolusi akan terjadi di Indonesia apabila sejumlah prasyarat, baik secara objektif maupun subjektifnya sudah terpenuhi. Sejak permulaan dalam risalahnya ini Tan Malaka sudah mafhum bahwa syarat-syarat terjadinya revolusi di Indonesia belumlah memadai. Tahapan sejarah dan kapitalisme yang berkembang tidak secara teratur akan membuat revolusi Indonesia berbeda dengan revolusi di negeri lainnya. “Revolusi kita juga tidak akan menyamai revolusi borjuasi seperti di Prancis tahun 1789 karena borjuasi kita masih terlampau lemah dan feodalisme sebagian besar sudah dimusnahkan oleh imperialisme Belanda. Juga ia tidak akan menyamai Revolusi Prancis tahun 1870 karena kita agaknya mempunyai tenaga-tenaga produksi lebih cerdas, tambahan lagi nisbah sosial sangat berlebihan,” tulis Tan Malaka. Revolusi di Indonesia juga tidak akan sama dengan jalan revolusi yang ditempuh kaum Bolshevik di Rusia pada 1917 karena, “… Revolusi Rusia yang feodalismenya boleh dikatakan lemah dan borjuasinya muda yang oleh perang bertahun-tahun menjadi sangat mundur, sedangkan kaum buruhnya muda, gembira , dan dididik menurut aturan Lenin. ” Pada bab kedelapan Tan Malaka menyelipkan lagi tegurannya kepada rekan separtainya agar tidak gegabah melancarkan pemberontakan atas nama revolusi dalam situasi massa yang belum sepenuhnya memiliki kesadaran baru yang revolusioner. Revolusi membutuhkan perkakas, yakni massa yang sadar dan partai revolusioner yang akan memimpin jalannya revolusi. Tan Malaka kembali menekankan kondisi alam pikiran massa yang sepenuhnya belum lepas dari takhayul dan terbelenggu feodalisme. “Pertukaran susunan negara feodalistis ke kapitalistis yang cepat dan tidak sesuai dengan kemauan alam menyebabkan bangsa Indonesia berubah cepat cara berpikirnya. Tetapi, perubahan cara berpikir ini biasanya tertinggal dari perubahan ekonomi. Umumnya bangsa kita secara lahiriah tampak modern sesuai dengan zaman kapitalis tetapi cara berpikirnya masih kuno, masih tinggal di zaman dahulu, seperti masih menganut Mahabarata, Islam, dan berbagai macam takhayul dan kepercayaan kepada hantu, jin, kesaktian gaib, batu keramat, dan lain-lain. Mereka masih terus seperti anak-anak dan berpikiran fantastis,” kata Tan Malaka. Kekhawatiran tentang revolusi prematur yang akan terlihat sebagai putch belaka juga terlontar dalam bab ini. Partai revolusioner, menurut Tan Malaka, adalah partai yang berhasil melakukan revolusi apabila ia telah berhasil pula mengerahkan jutaan kaum buruh untuk mogok dan berdemonstrasi menuntut hak ekonomi dan politik mereka, “tanpa melempar sebutir kerikil pun kepada pegawai pemerintah”. Uraian itu semacam tantangan kepada kawan-kawan partainya untuk bekerja lebih keras menyadarkan rakyat atas situasi penindasan yang membelit mereka. Bukan menyulut pemberontakan-pemberontakan kecil yang pada akhirnya akan memicu tindakan reaksioner pemerintah kolonial untuk menumpas gerakan. Tan Malaka mencontohkan insiden Afdeling B yang terjadi di Cimareme, Garut, tahun 1919. Pertemuan Sarekat Islam di Kaliwungu yang dihadiri departemen Sarekat Islam dari Peterongan, Mlaten, dan anggota VSTP. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons). Sebagaimana tersurat dalam buku Peristiwa Cimareme Tahun 1919: Perlawanan H. Hasan Terhadap Peraturan Pembelian Padi karya Chusnul Hajati, insiden itu bermula dari protes petani atas tingginya pajak padi yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial. Tokoh Sarekat Islam setempat, Haji Hassan, memimpin perlawanan bersama seluruh anggota keluarga dan kerabatnya. Dia dan beberapa anggota keluarganya tewas dalam sebuah pengepungan polisi kolonial. Belakangan hari, pemerintah kolonial menemukan bukti-bukti adanya keterlibatan sel kiri (disebut afdeeling B) di tubuh Sarekat Islam Garut yang menyulut pelawanan itu. Sejumlah pemimpin ditangkap, termasuk H.O.S. Tjokroaminoto. Kegagalan perlawanan seperti yang dikemukakan oleh Tan Malaka dalam risalah ini semata untuk mendukung argumentasinya bahwa pemberontakan dengan kekerasan yang sporadis hanya akan menghasilkan kehancuran. Tugas partai revolusioner menurut Tan Malaka, mengacu kepada Lenin, haru s “ menjalankan tujuan dan pelopor ( avantgarde ) pergerakan di segala tingkatan revolusi. Pandangannya lebih jauh dan senantiasa berjuang di barisan depan sekali dan, karena itu, ia menjadi ‘kepala dan jantung’ massa yang revolusioner. ” Mengapa Tan Malaka berharap PKI agar berhasil sebagai partai yang membimbing massa menuju revolusi? Karena keuletan perjuangan tidak terdapat pada organisasi lainnya sebagaimana ditunjukkannya dalam organisasi Boedi Oetomo, Indische Partij, dan Sarekat Islam. Kegagalan perjuangan melawan imperialisme Belanda telah ditunjukkan ketiga organisasi itu membawa Tan Malaka pada kesimpulan hanya PKI, dengan syarat berdisiplin sebagai partai pelopor, yang bisa menumbangkan kolonialisme Belanda. Boedi Oetomo menurutnya tak lebih organisasi yang bermimpi mendirikan “Jawa Raya” dengan “mengangkat kembali senjata-senjata Hindu-Jawa yang berkarat dan sudah lama dilupakan itu, sungguh tidak taktis dan jauh dari pendirian nasionalis umum....yang akibatnya sangat memilukan, Indonesia tetap jadi negeri budak.” Sementara itu, Indische Partij tak ubahnya berlaku seperti partai borjuasi yang enggan berkeringat turun ke jalan. “Jangankan aksi revolusioner, mogok saja jauh dari keinginan anggota N.I.P (Nationaal Indische Partij- Red. ),” tulis Tan Malaka. Sarekat Islam tidak juga menjadi tumpuan harapan karena mempersatukan rakyat melalui ikatan sentimen agama. “ Dengan melibat-libatkan agama, dikumpulkannya si Kromo ke dalam satu organisasi yang sangat picik. Dan pada permulaannya ditujukan untuk menentang saudagar-saudagar Tionghoa,” kata Tan Malaka pada bab kesepuluh membahas lemahnya Sarekat Islam sebagai organisasi rakyat. Kekuatan Sarekat Islam semakin berkurang ketika disiplin partai diberlakukan oleh Haji Agus Salim pasca peristiwa Haji Hasan di Cimareme, 1919. Anasir kiri di tubuh Sarekat Islam dipersilakan keluar dari keanggotaan. Sementara itu organisasi bernapaskan Islam seperti Muhammadiyah juga tak bisa diandalkan karena watak kompromistis dan oportunistisnya. “Golongan Muhammadiyah dengan segala kejujurannya menerima subsidi dari tangan pemerintah ‘kafir’ untuk sekolah Islam,” tulis Tan Malaka. Sementara itu golongan intelektual seperti yang terdapat di dalam organisasi De Indonesische Studieclub pimpinan Dr. Soetomo tidak kurangnya menunjukkan watak borjuasi yang kelak akan mengalami kebuntuan saat menghadapi dilema sebagaimana pernah dialami tiga partai borjuasi lainnya. Seperti pada pilihan untuk bekerja sama dengan pemerintah Belanda atau menjadi partai massa buruh yang memperjuangkan kemerdekaan seluas-luasnya? Tan Malaka juga mengkritik watak borjuis pada kalangan intelektual di organisasi ini karena pada akhirnya memisahkan mereka dari kehidupan massa buruh. Perhatian Tan Malaka pada nasib-nasib bangsa terjajah di wilayah Asia tercermin pada bab kesebelas yang mengutarakan niatnya agar rakyat jajahan di negeri Filipina dan semenanjung Malaya bergabung di bawah Federasi Republik Indonesia. Revolusi untuk menumbangkan kekuasaan imperialisme tidak terbatas pada wilayah Hindia Belanda saja. Tan Malaka menggalang solidaritas agar seluruh rakyat di Filipina yang dijajah Amerika dan rakyat semenanjung Malaya yang dikoloni Inggris bersatu mengakhiri riwayat penjajahnya. Pada bagian terakhir risalahnya, Tan Malaka menyerukan agar partai menghimpun kekuatan massa rakyat melakukan revolusi pembebasan nasional. Dengan terlebih dahulu memastikan terciptanya situasi objektif dan subjektif sebagai prasyarat revolusi. Tan menulis, “ Karena itu, wahai kaum revolusioner, siapkanlah barisanmu dengan selekas-lekasnya! Gabungkanlah buruh dan tani yang berjuta-juta, serta penduduk kota dan kaum terpelajar di dalam satu partai massa proletar. ” Risalah yang ditulis secara tergesa-gesa ini akhirnya tuntas pada tahun 1926, namun terlambat disampaikan secara luas kepada seluruh kader PKI. Pemberontakan pun tetap berjalan dan menemui kegagalan. Apa yang dicemaskan Tan Malaka dalam risalah Massa Aksi ini memang terjadi. Perbedaan dalam cara menempuh revolusi ini membuat Tan Malaka akhirnya keluar dari PKI. Tapi PKI di kemudian hari punya pendapat berbeda dalam menilai pemberontakan 1926. Dalam buku Pemberontakan November 1926 yang disusun oleh Lembaga Sejarah PKI terbitan Jajasan Pembaruan, 1961, menyebutkan kendati pemberontakan gagal, “ia memberikan suatu cap yang tegas dan arah yang pasti bagi gerakan nasional selanjutnya.” Pemberontakan 1926 yang dikutuk oleh Tan Malaka sebagai hasil lamunan para pemimpin PKI itu justru harus diakui “telah memberikan arah politik bagi gerakan kemerdekaan nasional, yaitu bahwa Indonesia harus merdeka.” Setelah sempat beredar dalam bentuk cetak stensil, risalah ini kemudian dicetak dan diterbitkan beberapa kali oleh berbagai penerbit, antara lain penerbit Teplok Press (2000), Komunitas Bambu (2000), Cedi-Aliansi Press (2000) dan Narasi (2013). Artinya memang buku ini pernah beredar luas dan tidak pernah dinyatakan sebagai barang cetakan terlarang sampai hari ini. Jadi, apakah buku ini berbahaya sehingga harus jadi barang sitaan? Satu yang pasti risalah ini pernah menjadi bahan bacaan para pendiri Republik Indonesia dalam menentang kolonialisme Belanda. Apakah kolonialisme Belanda masih ada di sini? Tidak, Belanda sudah jauh…
- Rokok Kretek Rumahan Eksis di Tengah Krisis
GELOMBANG pasang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terkait dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 mulai berlangsung. Sebuah video viral menangkap suasana murung puluhan karyawan yang di-PHK di sebuah ritel besar di Depok, Jawa Barat. Di tempat lainnya, ratusan ribu orang di beragam sektor usaha dan bisnis juga telah kehilangan pekerjaannya.
- Wartawan Jadi Tentara Gurkha Dadakan
Setelah menempuh perjalanan panjang, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko tiba di Yogyakarta. Mereka baru saja selesai meliput Konferensi Malino dari Makassar. Rencananya hasil reportase itu akan disampaikan kepada Presiden Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta. “Setibanya di Stasiun Tugu, Yogya, saya bergegas ke Hotel Merdeka di Jalan Malioboro, saya jijnjing kopor pakaian dan saya kepit gulungan tikar sembahyang,” tutur Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950 . Pada waktu itu Rosihan adalah redaktur yang bernaung di bawah harian Merdeka, media berhaluan nasionalis di masa revolusi. Menurut Rosihan keadaan di hotel kurang terpelihara karena banyak tamu yang datang silih berganti. Beruntung Rosihan masih mendapat kamar meskipun harus berbagi dengan Charles Tambu, pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Inggris Independen . Saat itu, Charles Tambu menghindari kejaran tentara Belanda, mengungsi ke Yogya dan diperbantukan di Kementerian Penerangan. Masuk kamar hotel, Rosihan menaruh kopernya di kolong ranjang lalu beranjak mandi. Dia kemudian mempersiapkan diri bertemu Sukarno pada pukul 11.00. Soal protokol tiada masalah. Bung Karno cukup terbuka dan gampang dihubungi. Maklum saja, masih dalam suasana zaman berjuang. Menjelang pukul 11.00, Rosihan dan Soedjatmoko sudah berada di gedung kepresidenan. Bung Karno dan Bung Hatta menyambut dengan ramah. Mereka menanyakan bagaimana jalannya Konferensi Malino. Soedjatmoko – pemimpin redaksi majalah Het Inzicht terbitan Kementerian Penerangan melaporkan, Konferensi Malino diselenggarakan Hubertus van Mook. Menurut Soedjatmoko, van Mook hendak menyudutkan Republik Indonesia lewat konferensi yang melibatkan orang Indonesia bagian Timur sebagai kaki tangan. Berita baiknya, tidak semua rakyat Indonesia Timur berpihak kepada Belanda. Malahan dalam Konferensi Malino ada tokoh-tokoh daerah yang mendukung Republik. Hal inilah yang disampaikan Rosihan Anwar. Rosihan menyebutkan delegasi Sulawesi Selatan Tadjuddin Noor adalah seorang Republiken. Begitu pula dengan Raja Suppa Muda, putra Raja Bone Andi Mapanyuki yang diinternir oleh Belanda di Toraja. Raja Suppa Muda bahkan menitipkan dua helai tikar sembahyang dan sarung bugis kepada Rosihan untuk diserahkan kepada Sukarno dan Hatta. Itulah sebagai simbol dukungan rakyat Sulawesi Selatan kepada pemerintah Indonesia. “Tikar sembahyang, yang saya kepit mulai dari Makassar, saya bawa ke Jakarta, saya taruh di rak kereta api menuju Yogya, sudah sampai di tangan alamatnya,” ujar Rosihan. Di kereta api, Rosihan sempat memakai tikar sembahyang itu sebagai alas tidur. Selesai menunaikan tugasnya, Rosihan kembali ke hotel. Alangkah terkejut dirinya menyaksikan koper yang disimpan sudah tidak ada lagi di tempat. Ditanyakan kepada pelayan hotel sia-sia belaka. Kasim Mansur, kawan Rosihan yang juga tinggal di hotel itu ikut mencari namun benda yang dicari tidak ketemu. “Rupanya bukan saja sekali merdeka, tetap merdeka, tetapi sekali hilang tetap hilang,” demikian Rosihan mengingat peritstiwa apes yang menimpa dirinya. Semua pakaian Rosihan ada di koper itu. Rosihan pun harus bertahan dengan pakaian yang melekat di badan. Lagi pula dia tidak punya uang untuk beli pakaian salin. Dengan keadaan demikian, Rosihan pulang ke Jakarta. Nasib mujur masih menaungi Rosihan. Di Jakarta, Rosihan punya kenalan seorang tentara British Indian Army (BIA) dari unit Gurkha bernama Kapten Nirmal Sen Gupta. Sang perwira Gurkha yang bekerja di stasiun radio Sekutu di Gambir Barat ini mendengar kejadian sial yang dialami Rosihan. Kapten Gupta pun berbaik hati memberikan sepasang pakaian: seragam serdadu Gurkha. Walaupun agak gombrong, apa boleh buat. Tekstil langka dan mahal pada saat itu. Jadilah Rosihan tentara Gurkha dadakan. Sejak itu, Rosihan biasa memakai uniform hijau tentara Sekutu. Orang mungkin akan menyangka Rosihan bagian dari tentara Sekutu, padahal dirinya adalah wartawan Republiken di Jakarta. “Untung, tidak ada yang bertanya mengapa saya berpakaian demikikian,” kenang Rosihan, “Sebab kalau mesti jawab, niscaya kudu mulai dengan kisah sehelai tikar sembahyang.”
- Nas yang Nahas
KETIKA Presiden Sukarno bingung mencari kandidat yang pas untuk mengisi jabatan KSAD yang –sementara dijabat Pj. KSAD Kolonel Zulkifli Lubis– kosong, Gatot Subroto menyarankannya agar memilih kembali AH Nasution bila presiden menginginkan sosok yang paling sesuai dengan keinginannya untuk memimpin Angkatan Darat. Presiden akhirnya menerima saran Gatot. Saran Gatot tentu berangkat dari pertimbangan-pertimbangan rasional. Namun di luar itu, Gatot mengenal betul karakter orang yang dicalonkannya. Gatot dan Nas, sapaan akrab AH Nasution, telah menjalin persahabatan sejak lama meski usia keduanya berbeda jauh. Beberapa pengalaman hubungan kedua jenderal mantan KNIL itu di masa Perang Kemerdekaan dituliskan Nas dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas . Sewaktu Nas menjadi panglima Divisi Siliwangi dan Gatot panglima Divisi Sunan Gunung Jati, misalnya, keduanya sering bertemu. “Kolonel Gatot Subroto, panglima Divisi II, sehabis menginspeksi anak buahnya sering mampir di pos komando saya, mengolok dengan kata-kata, ‘Kamu terlalu zakelijk , kamu tak tahu kesenangan’,” tulis Nas dalam memoarnya. Nas biasanya membalas celetukan itu dengan celetukan pula. Suatu ketika, Gatot yang mengunjungi pos komando Nas mendapati Nas dan bawahannya sedang sarapan. Melihat menu sarapan mereka berupa jagung tua yang direbus dengan gula, Gatot enggan ikut sarapan dan melontarkan kalimat yang menyulut tawa hadirin. “Gigi-gigi saya sudah tua, tidak bisa mengunyah jagung setua begitu. Maka itu saya cari-cari makan di luar saja!” kata Gatot, dikutip Nas. Namun, persahabatan Nas dan Gatot tak melulu berisi canda-tawa. Usai Perjanjian Renville, Gatot pernah mencurigai Nas. “Rekan Kolonel Gatot Subroto mendapat laporan-laporan yang bersifat tuduhan bahwa Jenderal Mayor Nasution adalah seorang agen NICA. Laporan-laporan itu membanjir sedemikian banyaknya sehingga ia sendiri mulai bimbang mengenai diri saya,” kata Nas mengenang. Psywar tentang mata-mata musuh begitu masif pada masa itu. Biasanya yang menjadi korban adalah orang-orang yang punya keterkaitan latar belakang, entah pendidikan atau jabatan, dengan Belanda, atau orang-orang yang secara fisik mirip indo. Rohmah Soemohardjo, istri Jenderal Oerip Soemohardjo, salah satu yang mengalaminya. Ia dicuriga laskar sebagai mata-mata Belanda karena punya hubungan akrab dengan orang-orang Belanda dan kemampuan bahasa Indonesianya buruk. Akibat kecurigaan itu, Rohmah selama suatu waktu pernah mengalami ancaman pembunuhan setiap hari dan rumahnya pernah diperampok. Tuduhan sebagai mata-mata NICA yang berlanjut dengan ancaman penculikan juga menimpa KSAU Komodor Suryadarma yang punya tampilan fisik seperti bule dan latar belakang sebagai navigator di AU KNIL. “Pengumuman Belanda bahwa Komodor Suriadarma ‘diberhentikan dengan resmi dari dinas militer KNIL’ merupakan bahan provokasi yang luas pula, sehingga salah seorang anggota delegasi kita sudah benar-benar menganggap dia berada di pihak Belanda,” tulis Nasution. Tuduhan itu amat mengganggu Suryadarma. “Soeriadi sering merasa kecewa, sakit hati, kalau ia mendengar isu atau desas-desus bahwa ia seorang NICA karena ia bekas KNIL,” kata istri Suryadarma, Utami Suryadarma, dalam memoar berjudul Saya, Soeriadi, dan Tanah Air . “Mungkin juga desas-desus itu berasal dari pihak-pihak kita sendiri yang merasa iri.” Karena tuduhan yang amat mengganggu itulah Suryadarma akhirnya suatu hari membuka tantangan. “Ia pernah mengumbar secara terbuka di hadapan banyak perwira dan prajurit dengan berkata, bahwa silahkan siapa saja yang berani menculik dia, akan dihadapi dengan pistolnya yang dapat dipakainya dengan tangan kiri dan kanan. Dan seketika itu juga, ia mendemonstrasikan kelihaian ini. Sejak itu hilanglah suara-suara kelompok yang mau menculiknya,” sambung Utami. Berbeda dari Suryadarma yang merespon tuduhannya dengan cara koboi, Nas justru lebih banyak diam merespon tuduhan miring yang dialamatkan kepadanya. Kecurigaan Gatot terhadapnya hilang setelah Gatot mengutarakannya kepada Wapres Moh. Hatta dan mendapat penjelasan yang meyakinkannya. Namun ketika bertemu Presiden Sukarno, Nas akhirnya mengutarakan juga kegelisahannya. Nahas bagi Nas, alih-alih mendapatkan respon serius presiden untuk membahas solusinya, dia justru mendapati presiden bersikap seolah tak peduli sambil bercanda. “Waktu saya singgung hal itu di depan Presiden, ujar beliau dengan tertawa adalah sekadar: ‘Ah, mukamu juga seperti peranakan Indo’,” kata Sukarno dikutip Nasution.*
- Mengenang Hebatnya Dolores O’Riordan di Panggung
Vokalis band The Cranberries asal Irlandia, Dolores O’Riordan, ditemukan meninggal dunia di bak mandi kamarnya, di Hotel Park Land Hilton, London, 15 Januari 2018. Industri musik dunia gempar. Spekulasi bermunculan. Apakah Dolores bunuh diri? Catatan dokter menunjukkan kematian Dolores bukan bunuh diri, melainkan kecelakaan setelah menenggak alkohol. “Ini kecelakaan yang tragis,” ujar dokter Shirley Radclife dilansir dari washingtonpost.com . Dolores saat tampil di Jakarta pada 2011. (Fernando Randy/Historia). Semasa hayatnya, Dolores tampil cemerlang di blantika musik. Dia memulai kiprahnya bersama The Cranberries pada 1990. Grup ini tadinya bernama The Cranberry Saw Us dengan personel Niall Quinn (vokalis), kakak beradik Noel Hogan (gitaris) dan Mike Hogan (bassis), dan Fergar Lawler (penabuh perkusi). Begitu Niall Quinn keluar karena alasan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka lagi, Dolores masuk menggantikannya. Kualitas vokal Dolores memikat Mike dan Noel. Mereka akhirnya merekrut Dolores dan mengganti nama grupnya jadi The Cranberries. Bergabungnya Dolores membawa peruntungan. Lagu-lagu The Cranberries bertengger di puncak tangga lagu Irlandia, Eropa Timur, dan Amerika Utara. Hits mereka antara lain "Ode To My Family", "Linger", "Salvation", "Dreams" dan "Zombie". Album-album mereka juga laris manis tanjung kimpul. Dolores dengan gitar andalanya saat membawakan lagu-lagu The Cranberries. (Fernando Randy/Historia). Dolores menghibur ribuan fansnya di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Dolores bersama The Cranberries memberikan warna baru kepada blantika musik tahun 1990. Saat itu aliran Grunge Music lagi jaya-jayanya dengan grup Nirvana sebagai kepalanya. Lalu diikuti oleh Soundgarden dan Pearl Jam. Keberhasilan penjualan album membawa The Cranberries tur keliling dunia. Hingga akhirnya mereka sampai pada titik jenuh dalam bermusik dan menyatakan vakum. The Cranberries kemudian bereuni. Tempat yang dipilihnya istimewa: Indonesia. Mereka tampil dalam acara "Java Rockin Land" di Ancol, Jakarta, pada 2011. The Cranberries mementaskan hampir semua hits -nya malam itu. Mereka sadar penggemarnya rindu setengah mampus. The Cranberries telah lama menghilang. Obat paling mujarab untuk membayar tuntas kerinduan para penggemar adalah dengan memainkan hits yang ada. Suara unik nan khas adalah salah satu andalan Dolores dalam bernyanyi. (Fernando Randy/Historia). Dolores bernyanyi seolah energinya tak akan habis. Vokalis kelahiran 6 September 1971 masih atraktif serupa pemudi usia 20-an. Dia fasih memainkan gitar dan bergonta-ganti pakaian. Dan yang membuat penggemarnya makin kesengsem, Dolores tak pelit menyapa. Malam itu benar-benar milik The Cranberries, Dolores, dan ribuan penggemarnya. Aksi bersemangat dari Dolores. (Fernando Randy/Historia). Total seluruh hits dibawakan oleh The Cranbberies di Jakarta. (Fernando Randy/Historia). Ribuan penggemar yang menyaksikan aksi panggung The Cranbberies. (Fernando Randy/Historia). Kini setelah hampir dua tahun kepergian Dolores, The Cranberries mengeluarkan album baru sebagai penghormatan untuk sang vokalis. Album itu memuat 11 lagu yang sempat mereka rekam saat masih bersama Dolores. Dimulai dari singel berjudul "All Over Now" dan berakhir pada "In The End" yang menjadi tajuk album mereka. Tanpa lelah Dolores dan The Cranberries tampil di hadapan para penggemar mereka. (Fernando Randy/Historia). Album penghormatan itu ternyata masuk nominasi untuk kategori album rock terbaik dalam ajang Grammy Awards 2020. Dolores boleh jadi sudah bernyanyi di surga sana. Tapi sisa-sisa suaranya masih nyantol kuat di dunia sini. Selamat jalan, Dolores. Usai sudah penampilan The Cranbberies dan Dolores di Jakarta. (Fernando Randy/Historia).
- Penerjunan Tenaga Medis pada Wabah di Hindia Belanda
UNTUK menangani pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Jakarta Timur akan mengerahkan 2.500 tenaga medis muda. Pemilihan tenaga medis muda ini menurut Ketua Tim Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Timur Tedy Harto, karena mereka memiliki imun tubuh lebih baik daripada dokter senior. Tenaga medis muda tersebut rencananya disalurkan secara bergelombang ke sejumlah tempat layanan kesehatan di Jakarta Timur. Pada tahap pertama, sebanyak 2.000 hingga 2.500 dokter muda akan dikirim ke lapangan. "Tim medis yang akan dikerahkan sebelumnya kami berikan pembekalan dengan matang dan kami seleksi yang muda-muda," ujar Tedy sebagaimana diberitakan tempo.co, Kamis, 9 April 2020. Pengerahan tenaga medis dalam skala besar juga pernah dilakukan kala wabah cacar melanda Hindia Belanda pada abad ke-19. Pemerintah kolonial mengirimkan manstri-mantri cacar ke desa-desa agar vaksinasi atau pencacaran bisa dilakukan secara menyeluruh. Vaksin cacar sendiri baru ditemukan pada 1798 oleh dokter Inggris Edward Jenner. Setelah vaksin temuan Jenner bisa diproduksi massal di Belanda beberapa tahun kemudian, pemerintah Belanda mengirimkannya ke Hindia Belanda. Namun sayang, vaksin tersebut tidak efektif dipakai di koloninya. Dua faktor besar yang mempengaruhi ialah cuaca dan lama waktu kirim. Lamanya pengiriman lewat kapal membuat vaksin jadi rusak karena cuaca laut yang panas. Belum lagi lama waktu pengiriman mengurangi efektivitas vaksin cacar dari Inggris. Untuk menanggulanginya, pemerintah akhirnya memproduksi sendiri vaksin di Hindia Belanda. Begitu ketersediaan vaksin dipastikan cukup untuk mencacar penduduk pribumi (khususnya anak-anak), mantri-mantri dikerahkan ke desa-desa. Para mantri yang kemudian disebut mantri cacar itu sebelumnya telah dilatih oleh para dokter Eropa di rumahsakit di tiga kota besar di Jawa. Namun, pelatihan untuk para vaksinator umumnya hanya difokuskan pada pemberian suntikan dan pembelajaran untuk membedakan fitur-fitur vaksin. Teori kesehatan tidak diajarkan pada mereka. Dalam “Dari Mantri Hingga Dokter Jawa”, Baha’udin menyebut kala Thomas Raffles menjabat sebagai Gubernur Hindia Belanda, vaksinasi cacar dilakukan secara besar-besaran. Petugas vaksin tak hanya ditempatkan di kota besar seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia. Penempatan mereka mencapai Jepara, Pasuruan, Bangil, dan Probolinggo. Sepanjang penelusuran Historia, tidak ditemukan angka pasti jumlah mantri cacar yang diterjunkan pemerintah kolonial. Yang pasti, jumlah petugas medis ditambah mengingat luasnya cakupan wilayah pencacaran. Pengerahan mantri cacar menurun pada 1850 semasa kepemimpinan pengawas vaksin A.E. Wazklewicz. Penyebabnya, para penduduk pribumi diminta mengantar anak mereka ke pusat vaksin yang jaraknya cukup jauh. Beberapa penolakan tentu terjadi mengingat pencacaran jadi hal baru bagi masyarakat pribumi. Untuk mengurangi penolakan, pemerintah menggunakan bantuan penghulu (pemimpin agama Islam) sebagai asisten. Liesbeth Hesselink mengisahkan dalam Healers on the Colonial Market , enam petugas vaksin perempuan di Jakarta sekitar tahun 1850 dipekerjakan lantaran perempuan pribumi dan anak perempuan yang sudah menikah tidak ingin divaksinasi oleh laki-laki. Vaksinator perempuan sebelumnya sudah dilatih dengan baik karena pekerjaan mereka sulit untuk dipantau. Selain itu, mantri cacar juga mendampingi dokter dalam tugas dinas mobil yang keliling mengantar petugas medis untuk berkujung ke desa-desa. Ada pula mobil yang dirancang untuk melakukan penyuluhan keliling. Pada penanganan kasus malaria, pelatihan mantri malaria dilakukan untuk menambah jumlah tenaga medis. Dosen IAIN Surakarta Martina Safitry menulis dalam tesisnya di UGM, “Dukun dan Mantri Pes”, kursus pertama diadakan di Batavia pada 1926. Sebanyak 134 orang lulus setahun berikutnya. Para mantri malaria itu ditugaskan menangkap dan mengklasifikasikan nyamuk juga larva di sekitar tempat terjangkit. Mereka juga diminta untuk membuat dan memeriksa sampel darah penderita, mengawasi pembuatan saluran air, dan sebagai agen penyuluh penanggulangan malaria. Sementara, pada penanganan penyakit pes, pemerintah juga menerjunkan mantri pes untuk mengatasi masalah kesehatan ini. Mereka merupakan para pemuda bumiputra yang sebelumnya dilatih menjadi mantri. Tugas awal mereka ialah memberi penerangan tentang penyakit pes hingga ke pelosok Jawa. “Mantri pes selain bantu dokter Jawa dan dokter Eropa dia juga bertugas untuk awasi perbaikan rumah,” kata Martina kala dihubungi Historia. Pada 1914, muncul usulan untuk menggandeng Palang Merah Internasional untuk mengendalikan wabah pes. Para perawat Eropa didatangkan ke Hindia Belanda untuk melatih perempuan pribumi tentang perawatan kesehatan dan penanggaulanagan pes. Selain itu, jumlah mantri pes diperbanyak dari sebelumnya yang hanya satu mantri polisi dan satu mantri pes untuk satu distrik. “Pada 1915 berdiri satu dinas sendiri, ada tim peneliti untuk mencari cara menyambuhkan pes, dan penelusuran pasien terjangkit berserta keluarganya,” kata Martina. Setelah itu, jumlah orang yang dimasukkan ke barak diseleksi. Mulanya, penduduk yang berjarak 100 meter dari rumah penderita pes wajib dikarantina, tak jarang malah satu desa dikarantina di barak isolasi. Sejak ada proses seleksi, hanya orang-orang yang pernah kontak dengan penderita atau orang yang dianggap berpotensi tertularlah yang diisolasi. Namun, terlepas dari semua tindakan pencegahan pada wabah pes, kampanye skala besar juga menimbulkan kecurigaan pribumi. Penduduk yang masih awam menyebut prosedur desinfeksi sebagai sihir jahat yang dilakukan oleh Belanda. Di beberapa tempat, biopsi limpa –untuk menentukan penyebab kematian apakah pes atau bukan– mendapat penolakan. Bahkan, kata Liesbeth, ada seorang mantri dirajam karena keawaman penduduk pada prosedur biopsi tersebut.*
- Ketika Bung Sjahrir Pergi
MINGGU pagi, 10 April 1966. Dalam suasana Paskah, Jakarta yang baru saja tenang dari demonstrasi-demontrasi mahasiswa tetiba terhenyak. Antara menyiarkan sebuah berita duka: Sutan Sjahrir meninggal di Zurich (Swis). Kantor Berita milik pemerintah Republik Indonesia (RI) itu mengutip keterangan dari seorang jurnalis Reuters (Kantor Berita Kerajaan Inggris). “ Reuters sendiri mendapat berita itu dari seorang petugas rumah sakit tempat Sjahrir dirawat,” ungkap wartawan senior, Rosihan Anwar dalam Perdjalanan Terachir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir. Tokoh pejuang sekaligus Perdana Menteri Republik Indonesia pertama itu pergi meninggalkan seorang istri, Siti Wahjuni Poppy Saleh (yang dinikahinya pada 1951) dan putra-putri yang masih kecil: Krya Arsjah alias Buyung (9) dan Siti Rabyah Parvati alias Upik (5).






















