Hasil pencarian
9845 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Panji Matahari Terbit di Bali
SEJAK pagi, 19 Februari 1942, Letnan Clarence McPherson, pilot pesawat pembom B-17E “Flying Fortress” dari Grup Pembom ke-7 Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat, sudah punya perasaan tak enak. Padahal, hari itu ia punya misi terbang dari Pangkalan Udara (Lanud) Darwin menuju Lanud Denpasar, Bali. Perasaan tak enak itu bermula dari jadwal keberangkatannya yang tertunda beberapa jam untuk perbaikan mesin pesawatnya di pagi buta. Alhasil baru pada sekira pukul 9.15 pagi McPherson bisa take-off untuk mengiringi 10 pesawat pemburu P-40 “Warhawk” pimpinan Mayor Floyd Pell dari Skadron Pemburu ke-33. Namun di tengah perjalanan, ke-10 pesawat P-40 memutuskan balik kanan lantaran cuaca buruk di langit Kupang. McPherson memilih tetap meneruskan penerbangannya. Ketika ia sudah melihat Lanud Denpasar dari arah selatan dan hendak mendarat di siang hari, tetiba pesawatnya ditembaki senapan mesin. Disadarinya kemudian, Lanud Denpasar ternyata sudah dikuasai satu detasemen serdadu Jepang sejak malam sebelumnya. “Roda pesawat sudah sempat diturunkan dan hendak mendarat untuk kemudian taxiing . Andai tentara Jepang tak lebih dulu menembaki saat pesawat mendekati landasan, sangat mungkin kru pesawat ditawan Jepang. Namun McPherson langsung terbang lagi dengan hanya membawa lubang peluru di badan pesawat dan salah satu krunya tertembak di bagian kaki,” tulis Walter Dumaux Edmonds dalam The Fought with what They Had: The Story of the Army Air Forces in Southwest Pacific, 1941-1942. McPherson beruntung. Para serdadu Jepang belum sempat menempatkan meriam antiudara di lanud itu. Sekira pukul 5.55 petang, McPherson berhasil mendarat dengan selamat di Lanud Singosari (kini Lanud/Bandara Abdulrahman Saleh), Malang. Di lanud itu, McPherson diterangkan oleh perwira intelijen ABDACOM atau Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia, bahwa Bali sudah sudah dikuasai serdadu panji matahari terbit. Pesawat pembom berat B-17E "Flying Fortress" bernomor seri 41-2417 yang dipiloti Letnan Clarence McPherson. ( americanairmuseum.com ). Surga Dunia yang Strategis Pulau Bali mulanya tak pernah masuk dalam perhitungan Jepang untuk direbut. Toh sejak awal Januari 1942, Jepang sudah punya tiga lanud besar (Banjarmasin, Makassar, dan Kendari) untuk membom Malang dan Surabaya yang jadi basis terkuat ABDA di timur Pulau Jawa. “Tetapi disadari juga bahwa Bali dikenal punya cuaca yang luar biasa ideal. Itu yang kemudian membuat Jepang tertarik, selain keindahannya sebagaimana yang diakui Laksamana Matome Ugaki, kepala Staf Armada Gabungan Jepang, sebagai ‘surganya dunia’,” ungkap Jeffrey Cox dalam Rising Sun, Falling Skies: The Disastrous Java Sea Campaign of World War II . Cuaca jadi kata kuncinya. Jepang segera insyaf bahwa kondisi cuaca di langit Lanud Makassar dan Kendari tak seideal Lanud Denpasar. Selain itu, jika Denpasar bisa dikuasai, pesawat-pesawat Jepang bakal lebih menghemat bahan bakar dalam membombardir Malang dan Surabaya ketimbang berangkat dari Banjarmasin, Makassar, maupun Kendari. Maka, pada akhir Januari Markas Umum Militer di Tokyo menambahkan Bali sebagai target invasinya. Rencana pendaratan dan langkah antisipatif terhadap gangguan Sekutu (ABDA) pun dirancang. Operasi pendaratan jatuh ke pundak Laksamana Muda Kyuji Kubo, komandan Armada Serbu ke-4. Kapal penjelajah ringan Nagara jadi kapal komando Laksamana Kubo yang akan bertanggungjawab atas konvoi armada yang terdiri dari tujuh kapal perusak dan kapal angkut Sasago Maru dan Sagami Maru . Dua kapal angkut itu akan membawa satu batalyon pasukan pendarat dari Divisi Infantri ke-48 pimpinan Mayor Matabei Kunemura. Konvoi ini berangkat dari pelabuhan Makassar pada 17 Februari malam. “Sasaran (pendaratan) mereka adalah pantai dan jalan utama Sanur di pesisir tenggara Bali di Selat Badung. Area itu dipilih karena jadi titik terdekat menuju Denpasar. Kapal perusak Asashio , Oshio , Arashio , dan Michishio akan mengawal ketat dua kapal angkut. Kapal perusak Hatsushimo , Nenohi , dan Wakaba akan mengekor di belakang sebagai pelindung jika ada musuh dari arah Laut Banda di utara,” lanjut Cox. Skema pendaratan dan Pertempuran Selat Badung (kiri) & komandan laut ABDA Laksamana Karel Willem Frederik Marie Doorman. ( microworks.net / nationaalarchief.nl ). Intelijen pangkalan ABDA di Surabaya sejatinya sudah mengintip ada persiapan besar di Makassar yang akan memberangkatkan sebuah konvoi. Namun ABDA belum mendapat kesimpulan detail ke mana dan kapan konvoi itu akan melancarkan serangan atau pendaratan. Ditambah, kekuatan ABDA, terutama armadanya di bawah komando Laksamana Karel Doorman, tercerai berai antara Laut Jawa hingga Laut Banda. ABDA baru mendapat info konvoi Jepang itu menyasar ke Bali pada 18 Februari petang, ketika dua kapal angkut Jepang bersiap mendaratkan serdadunya ke Pantai Sanur. Adalah kapal selam (kasel) Amerika USS Seawolf dan kasel Inggris HMS Truant yang melakukan kontak pertama. Sayangnya serangan mereka kandas dan dihalau kapal-kapal perusak Jepang dengan bom-bom dalam mereka. Di atas kapal penjelajah HNLMS De Ruyter yang jadi kapal komandonya, Laksamana Doorman langsung menginstruksikan armadanya di Pelabuhan Cilacap untuk segera menuju Selat Badung. Di dalamnya turut serta kapal penjelajah HNLMS Java , kapal perusak HNLMS Piet Hein , dan dua kapal perusak Amerika USS John D. Ford dan USS Pope . Sementara, kapal penjelajah HNMLS Tromp berangkat dari Surabaya dan kapal perusak USS Stewart , USS John D. Edwards , USS Parrott , dan USS Pillsbury menyusul dari Teluk Ratai. Gangguan berat pertama Jepang datang dari udara. Sejak 18 Februari tengah malam, pesawat-pesawat pembom dan pembom tukik Sekutu bergantian berangkat dari Malang dan Surabaya untuk membombardir kapal-kapal angkut Jepang. Pendaratan Jepang pun tertunda beberapa jam. “Saat kami baru mengira bahwa pendaratan ini akan berakhir sukses, tiba-tiba sebuah (pesawat pembom) B-17 terbang di atas konvoi kami. Pemboman terus-menerus oleh pesawat-pesawat musuh memaksa kami menunda operasi pendaratan,” tutur seorang perwira Jepang, dikutip Cox. Pada dini hari 19 Februari, konvoi Jepang baru mendapat perlindungan udara dari Grup Udara Tainan yang berbasis di Balikpapan. Saat pesawat-pesawat Amerika sudah menemukan lawan di udara, operasi pendaratan baru bisa dimulai lagi. Para serdadu Jepang mulai menginjakkan kaki di Pantai Sanur sekira pukul 2 dini hari. Korps Prajoda yang berdiri pada 1938 praktis bubar sejak Jepang mendarat pada 19 Februari 1942. ( berghapedia.nl ). Mereka tak menemukan perlawanan berarti di darat sehingga dengan mudah merangsek hingga merebut Lanud Denpasar yang ditinggalkan pasukan pertahanan. Bali saat itu sama sekali tak memiliki satu peleton pun pasukan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda). Saat itu Bali hanya dipertahankan Korps Prajoda yang terdiri dari 600 milisi lokal dan beberapa perwira menengah Belanda pimpinan Kolonel W.P. Roodenburg. “Bahkan sebelum pendaratan, pimpinan KNIL di Bandung hanya memerintahkan pengrusakan kendaraan-kendaraan militer dan depot-depot bahan bakar di sekitar Denpasar dan Singaraja. Saat Jepang mulai mendarat, pasukan itu mundur ke Penebel di utara Tabanan,” urai Geoffrey Robinson dalam The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali. Bahkan, lanjut Robinson, Kolonel Roodenburg kala mendengar Jepang sudah masuk ke Denpasar segera memerintahkan ke-600 prajurit Korps Prajoda melucuti senjata dan seragam, lalu diperintahkan pulang ke rumah masing-masing. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Korps Prajoda yang didirikan pada 1938 sebagai “kepanjangan tangan” KNIL untuk mempertahankan Bali, resmi dibubarkan. Duel Armada Jika di darat hampir tak ada pertempuran, di laut armada Doorman dan armada Kubo duel hebat. Seiring pendaratan pasukan Jepang dan datangnya kapal-kapal ABDA, Pertempuran Selat Badung pun dimulai pada 19 Februari 1942 dini hari. Meriam-meriam dari dua kapal penjelajah dan tiga perusak ABDA pimpinan Doorman mulai menyalak pada jam 10.25 malam. Serangan balik Jepang dengan torpedonya justru lebih efektif. Sebuah torpedo dari Asashio mengenai Piet Hein dengan telak hingga akhirnya tenggelam. Kapal perusak Amerika John D. Ford dan Pope juga kepayahan melawan meriam-meriam Asashio dan Oshio yang lebih superior. Keduanya akhirnya kabur ke arah tenggara dari Selat Badung dengan beberapa kerusakan pada badan kapal. Pukul 1 dini hari 20 Februari, enam kapal lain ABDA tiba. Pertempuran dahsyat dengan dua kapal Jepang pun terjadi. Mereka saling bertukar tembakan meriam. Oshio dan Asashio mulai kewalahan hingga rusak berat dan terpaksa mengundurkan diri. Lantas giliran Arashio dan Michishio yang baku serang dengan tiga kapal ABDA yang tersisa. Ketika mentari terbit pukul 6 pagi 20 Februari, Selat Badung mulai sepi. Kapal-kapal Jepang dan Amerika sama-sama mengundurkan diri dengan kerusakan berat. Kapal penjelajah ringan Nagara (atas) & HNMLS De Ruyter , dua kapal komando Jepang dan ABDA. ( Modellversium: Japanese Light Cruisers of World War II in Action / nationaalarchief.nl ). Pihak Jepang mengklaim kemenangan karena misi utama mereka mendaratkan pasukan berjalan sukses. Pihak Sekutu tak mau kalah, mereka bangga bisa membuat Jepang membayar mahal. Sejak saat itu Jepang tak berani mengirim kapal-kapal untuk suplai pasukannya. Jepang baru kembali mengirim kapal suplainya pada Maret 1942 setelah Hindia Belanda menyerah di Kalijati. “Ofensif udara dan laut Sekutu melawan pasukan ekspedisi Jepang sukses, mereka membuat Jepang tak bisa mengirim satu pun kapal perang atau kapal angkut untuk mendukung suplai pasukan Jepang (di Pulau Bali). Kemenangan di Bali adalah kemenangan dengan harga yang mahal,” tulis suratkabar The West Australian , 24 Februari 1942. Perubahan drastis langsung terjadi di Bali begitu pasukan Jepang menguasai Denpasar dan sekitarnya. Para pegawai Belanda beramai-ramai kabur ke Jawa dan Australia. Hanya sekitar 63 warga asing yang ditahan sebelum dipindahkan ke kamp-kamp interniran di Jawa pada Maret. “Untuk sesaat kemudian, kehidupan warga kembali normal. Sebuah siaran radio Jepang pada 27 Maret 1942 menyebutkan: ‘Warga Indonesia di Pulau Bali menikmati hidup yang damai di bawah kendali pasukan Jepang. Bus-bus beroperasi lagi, jalan-jalan raya yang dihancurkan Belanda telah diperbaiki Korps Buruh Sukarela Indonesia. Tiga ribu warga Cina yang mengontrol aktivitas bisnis sudah kembali ke rumah mereka dan sepenuhnya bekerjasama dengan otoritas militer Jepang’,” tandas Robinson.
- Ketika Wartawan Dipalak Laskar Sumatra
SUWARDI Tasrif, Rinto Alwi, dan Muhamad Radjab adalah trio wartawan utusan pemerintah. Tasrif dari harian Berita Indonesia , Rinto dari harian Merdeka , sedangkan Radjab dari Kantor Berita Antara . Mereka dipimpin oleh Tuan Parada Harahap, pegawai tinggi pada Kementerian Penerangan. Rombongan itu bertugas meliput keadaan di Sumatra di tengah suasana perjuangan revolusi. Pada 14 Juni 1947, rombongan berangkat dari Yogyakarta. Mereka tiba di Medan pada 20 Juni. Beberapa kota di Sumatra Timur langsung disinggahi, diantaranya Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Brastagi. Di kota-kota itu perjalanan lancar-lancar saja, tiada halangan yang berarti. Hingga pada 28 Juni, rombongan melanjutkan perjalanan dari Brastagi menuju kota minyak Pangkalan Brandan. Pukul 09.00, rombongan bertolak menuruni lereng-lereng bukit di Tanah Karo. Petaka bermula di Pancur Batu. Di tengah jalan, mobil rombongan melewati gardu pengawalan. Beberapa orang laskar menghampiri mobil. Mereka meminta untuk diizinkan menumpang di mobil rombongan. “Caranya bukan meminta, tetapi mendesak dan bagaikan mengancam,” kenang Radjab dalam catatan perjalanannya Tjatatan di Sumatra . Beruntung sang sopir masih bisa berkilah dengan alasan, ban mobil sudah tipis dan perjalanan masih jauh lagi. Orang-orang laskar itupun mengurungkan niatnya. “Tetapi kami yakin bahwa sampai ke Pangkalan Brandan kami akan diganggu terus oleh penumpang-penumpang yang tidak kami ingini itu,” ujar Radjab. Benar saja, dari Pancur Batu ke Pangkalan Brandan, Radjab mencatat sebanyak 14 kali rombongannya harus menepi ke pinggir jalan karena ulah kelompok laskar. Setiap menepi, laskar akan memeriksa, menahan, dan menyalin surat jalan. Di tiap gardu, rombongan mesti meninggalkan dua bungkus rokok sebagai cukai. Dengan begitu, rombongan boleh diizinkan melanjutkan perjalanan. Kalau tidak demikian, rupa-rupa ancaman dilontarkan. Mereka akan bertindak sewenang-wenang seperti membuka koper di bagasi dan membongkar isinya. Menurut Radjab, yang menahan dan memeriksa rombongannya ialah berbagai kelompok laskar yang berbasis di sekeliling kota Medan. Mereka antara lain berasal dari Laskar Napindo, Barisan Harimau Liar (BHL), Pesindo, Mujahidin, dan Banteng Merah. Biarpun mobil rombongan sudah diperiksa oleh tentara maupun polisi militer, laskar-laskar rakyat ini memandang dirinya wajib pula memeriksa. Ternyata pemeriksaan hanya kedok semata. Para laskar itu bertindak bukan untuk memeriksa keamanan melainkan untuk menagih uang dan rokok dari kantong orang-orang yang lewat di sana. Mendekati Binjai, mobil rombongan kembali distop sekelompok laskar. Mereka meminta agar pemimpin mereka boleh menumpang. Mereka mendesak dengan nada mengancam bahwa perjalanan pemimpin mereka sangat penting ke Binjai. Karena tidak dibiarkan melaju, akhirnya rombongan terpaksa mengizinkan penumpang liar itu masuk. Radjab memendam jengkel terhadap kelakuan para petualang revolusi itu yang menurutnya setengah edan, tidak tahu malu, dan kasar, tetapi berani maju ke garis depan. “Biarpun pedangnya panjang, ia bukanlah seorang pahlawan, melainkan seorang pencatut, yang mencari kekayaan dalam suasana keruh pada waktu ini,” catat Radjab begitu melihat tampang dan gelagat pemimpin laskar yang menumpang dimobilnya. Meskipun demikian, Radjab menangkap kesan pemerintah yang tidak berdaya menertibkan aksi sesuka hati laskar di Sumatra Timur. “Itulah akibatnya bila orang-orang yang berjuang itu kebutuhannya tidak dicukupkan oleh pemerintah, hingga badan-badan perjuangan disamping berkelahi, mencari pula apa-apa yang akan memenuhi kebutuhannya,” kata Radjab dalam reportasenya. Dengan bersusah payah akhirnya rombongan tiba di Pangkalan Brandan pada 29 Juni pas petang hari. Setelah meliput tentang kilang minyak yang rusak, rombongan melanjutkan perjalanan ke Aceh kemudian Tapanuli. Nanti, di Tapanuli, Radjab bersua dengan pentolan laskar mantan bandit cum copet kota Medan bernama Timur Pane.*
- Medan Perang Pangeran Antasari
PADA April 1859, pos pertahanan pasukan HIndia Belanda di Pengaron mendapat serangan dari rakyat Benua Ampat. Ratusan orang bergerak menembus benteng Pengaron dan melancarkan tembakan bertubi-tubi. Orang-orang Belanda dibuat tak berkutik. Kejatuhan Pengaron pun tak terelakan. Serangan itu menjadi tanda dimulainya Perang Banjar. Tidak hanya Pengaron, pusat kekuatan Belanda di Banyu Irang, Bangkal, Gunung Jabuk, Marabahan, serta pulau Petak dan pulau Telo, tidak luput dari serangan dadakan laskar rakyat Banjar. Bahkan benteng di Tabonio dan Martapura mendapat gempuran terbesar dari rakyat Benua Ampat dan Benua Lima. Seluruh pertempuran dilakukan secara serentak. Otak di balik itu semua adalah Pangeran Antasari.
- Phoa Beng Gan, Jago Pengairan Tionghoa di Batavia
MUSIM kemarau panjang melanda Batavia. Saluran air di Batavia mengering. Sampan-sampan kecil tak bisa bergerak mengangkut barang kebutuhan pokok penduduk. Kala itu, 1648, saluran air menjadi urat nadi transportasi Batavia dan sampan adalah alat utamanya. Karena sampan tak bisa digunakan lagi, pemilik sampan menjualnya.Kemarau juga bikin pusing gubernur dan pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Suplai obat-obatan dari negeri Belanda terputus akibat perang Belanda-Inggris. Untuk menyediakan obat, VOC harus membangun pabrik sendiri. Itu perlu suplai air yang cukup. Selama musim kemarau, air mengalir sangat kecil sehingga pabrik obat tak dapat berjalan. Seorang Tionghoa bernama Phoa Beng Gan (disebut juga Phoa Bingham) mendapat cara jitu untuk membuat suplai air kembali normal dan menghadapi musim kemarau. Dia adalah Kapitan Tionghoa ketiga di Batavia setelah Souw Beng Kong. Berbeda dari Souw yang pandai dan lihai dalam urusan niaga, Phoa lebih jago dalam teknik pengairan. Kapitan adalah jabatan tertinggi seseorang dari suatu komunitas masyarakat berdasarkan asal daerahnya pada masa VOC. Kapitan juga bertugas mengurus administrasi kependudukan masyarakatnya. Jabatan ini juga menghubungkan komunitas tersebut dengan kebijakan VOC. Misalnya ketika terjadi musim kemarau panjang, seorang kapitan harus pula memikirkan langkah penanganannya. “Gubernur Belanda meminta bantuan Phoa Beng Gan untuk mencari jalan mengatasinya,” catat Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Phoa mengusulkan pembangunan saluran air baru untuk menghubungkan wilayah utara ke selatan kota. Kala itu, kota Batavia memiliki puluhan saluran atau kanal yang membentang dari barat ke timur. Tapi hampir semuanya berada di sekitar tembok kota atau wilayah yang dihuni oleh orang-orang VOC. Kanal yang melewati tembok kota dan menjulur ke selatan dibuat untuk menggiatkan daerah penanaman tebu di luar tembok kota ( ommelanden ). Tapi pembangunan kanal di luar tembok kota masih kurang. Phoa ingin kanal utara-selatan ditambah. Penambahan kanal akan memecah aliran Kali Ciliwung dari timur ke barat, lalu mengalir ke utara melewati tembok kota. Phoa menghitung, kanal baru juga akan membuat banjir dan wilayah rawa-rawa di Batavia berkurang pada musim hujan. Sementara pada musim kemarau, kanal baru akan menambah debit air. VOC menyetujui usulan itu. Begitu pula dengan masyarakat Tionghoa. “Ahli pengairan yang dapat dipercaya,” begitu orang Tionghoa dan VOC menggelari Phoa, seperti diungkap Tim Reporter penulis buku Sedjarahnya Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tambah Sia . Untuk membangun kanal baru itu, Phoa meminta masyarakat Tionghoa ikut menyumbang. Sebab mereka pula yang akan menikmati hasilnya kelak. Phoa merencanakan kanal itu berfungsi pula sebagai lalu-lintas sampan.“Biayanya dipikul oleh masyarakat sendiri karena pemerintah waktu itu hanya berani membiayai dengan jumlah yang tidak berarti,” ungkap Tim Reporter. Sumbangan dari orang Tionghoa mengucur. Tak hanya berbentuk dana, tetapi juga tenaga kasar. Mereka jadi penyumbang dana sekaligus buruhnya. VOC ikut membantu pengongkosannya. Tiap melihat kemajuan pembangunan kanal baru tersebut, VOC menambah pengongkosannya. Phoa turun langsung membuat tahapan pembangunan kanal. Dia terjun ke lapangan mencari aliran Kali Ciliwung. Dia membabat hutan lebat di luar tembok kota dan sempat bertemu beberapa binatang buas. Dia tak lupa membuat peta hasil penelusurannya sehingga memudahkan pekerjaan pembuatan kanal baru. Phoa menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu relatif singkat. Tapi hasilnya sangat manjur. “Air-air yang menggenangi rawa-rawa, sekarang ini sudah mulai turun... Lalu-lintas air itu menambah jalannya perekonomian semakin sehat,” lanjut Tim Reporter. Orang Tionghoa menyebut kanal tersebut “Binghamvart”, merujuk pada nama Phoa Bingham atau Beng Gan. Tapi orang VOC mengubahnya jadi Molenvliet pada 1661. “Saluran ini menjadi jalur yang paling diminati penduduk,” catat Restu Gunawan dalam “ Kala Air Tak Lagi menjadi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta tahun 1911–1985 ”, disertasi di Universitas Indonesia. Terkesan dengan hasil kerja Phoa, VOC menghadiahinya sebidang tanah di luar tembok kota (sekarang terletak di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat). Phoa menanam tebu di atas tanah itu. Penanaman tebu merangsang pertumbuhan daerah sekitarnya. Rumah-rumah buruh tebu pun bermunculan. Mereka membangun rumahnya dengan batu-bata dan kapur. Karena itu, pabrik batu-bata dan kapur bersitumbuh pula. VOC turut serta meramaikan wilayah itu dengan membangun pabrik penggilingan obat. Dari situlah Phoa mengusulkan lagi penambahan kanal untuk menghubungkan wilayahnya di selatan ke pusat kota di utara. Sekali lagi, Phoa berhasil melakukannya. Tapi petaka kemudian datang. Batavia yang sempat sohor sebagai Venezia dari Timur karena kanal-kanalnya itu, berubah menjadi sarang penyakit secara bertahap. Wabah malaria melanda kota, menyerang tiap penduduk tanpa pandang bulu. Orang Tionghoa terkapar tak berdaya. Beberapa mendatangi Phoa untuk meminta bantuan. Phoa membuka tangan dan pikirannya. Meski tak sekaya seperti Souw Beng Kong, dia menyumbang uang untuk pendirian rumah sakit Tionghoa untuk masyarakat. Ide ini pun berasal dari pikirannya. Phoa mengusulkan sekaligus mampu mewujudkannya. Usia Phoa menua seiring waktu, kesehatannya pun menurun. Dia merasa saatnya sudah tiba untuk mundur sebagai Kapitan. “Sudah tentu hal ini sangat dibuat menyesal, bukan saja oleh bangsanya sendiri, bahkan oleh seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jakarta Raya,” terang Tim Reporter. Gajah mati meninggalkan gading. Phoa mati meninggalkan saluran air dan rumah sakit.*
- Memuja Dewi Cinta Mesopotamia
Ishtar atau Inanna adalah salah satu dewi paling populer dari jajaran dewa-dewi Peradaban Mesopotamia. Ia merupakan dewi cinta paling awal di dunia kuno yang sering kali dipandang raja-raja Mesopotamia sebagai jalan legitimasi status mereka. Ishtar adalah nama yang diberikan oleh bangsa Akkadia, salah satu bangsa yang mendiami kawasan Mesopotamia. Sementara bangsa Sumeria yang juga mendiami kawasan itu memanggilnya dengan Inanna. Selain dipercaya sebagai dewi cinta dan kesuburan, Ishtar atau Inanna di beberapa daerah juga dianggap sebagai pelindung para pekerja seks. Di sisi lain, ia juga dianggap sebagai dewi perang. “Ada penggambaran Ishtar atau Inanna sebagai seorang pejuang dalam pertempuran membawa tawanan,” tulisLouise Pryke, dosen Bahasa dan Sastra Israel Kuno di Macquarie University, Australia, sekaligus peraih gelar Ph.D Sejarah Timur Dekat Kuno dari University of Sydney,dalam “Friday essay: the legend of Ishtar, first goddess of love and war” di laman The Conversation . Baca juga: Di Balik Kematian Cleopatra Citra Ishtar atau Inanna itu kemudian berpengaruh pada lahirnya dewi cinta paling terkenal di dunia, yakni Aphrodite, dewi cinta dan kecantikan dari Yunani. “Dalam tradisi modern, Aphrodite membentuk citra pahlawan super Wonder Woman, dan citra Aphrodite sendiri dipengaruhi oleh Ishtar,” tulis Pryke. Baik Ishtar maupun Wonder Woman, lanjut Pryke, sama-sama merepresentasikan pejuang di medan perang. Mereka digambarkan mengenakan gelang dan tiara dan mengacungkan senjata tali. Di sisi lain menunjukkan cinta, kesetiaan, dan komitmen yang kuat terhadap keadilan. “Di zaman modern, cinta dikatakan menaklukkan segalanya dan di dunia kuno Ishtar mewujudkan hal itu,” catat Pryke. Simbol Persatuan Bangsa Mesopotamia yang berarti “tanah di antara sungai-sungai” dalam bahasa Yunani Kuno, merupakan pusat peradaban paling awal di dunia. Kawasan ini merupakan lahan subur yang berada di antara dua aliran sungai besar, Sungai Eufrat dan Tigris. Yang menghuni adalah orang-orang Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asiria. Kini, kira-kira wilayahnya sama dengan Irak modern, sebagian Iran, Suriah, Kuwait, dan Turki. Sebagai dewi Mesopotamia yang paling terkenal, Ishtar dihormati di seluruh jangkauan geografis Timur Dekat Kuno yang luas selama ribuan tahun. Dia bukan sekadar dewi cinta, tapi juga dewi kesuburan, perang, dan bintang senja dan pagi: bintang Venus. Kultus Ishtar atau Inanna yang berkembang dan menyebar ke seluruh wilayah Timur Dekat Kuno dimulai sejak munculnya Kekaisaran Akkadia yang didirikan oleh Sargon, raja dari Akkadia. Baca juga: Mumi Berlidah Emas dari Mesir Mengutip History , Sargon memperluas kerajaannya melalui serangkaian serangan militer hingga menaklukkan seluruh Sumeria. Ia tidak hanya menyatukan Sumeria dan Akkadia, tetapi memperluas kerajaannya hingga ke Suriah, Fenisia, Kanaan, Anatolia, bahkan hingga Siprus. Dengan gelar Sargon Agung, ia lalu membentuk Kekaisaran Akkadia (2234–2154 SM), kerajaan multikultural pertama di dunia dengan pemerintah terpusat. Sejarawan Jennette Adair dalam tesisnya di University of South Africa berjudul "Certain Aspects of the Goddess in the Ancient Near East (10.000–330 BCE)" menjelaskan, bersama dengan pembentukan Kekaisaran Akkadia, bahasa tertulis Sumeria digunakan. Sementara Akkadia menjadi bahasa resmi. “Oleh karena itu Dewi Inanna dikenal dengan nama Akkadia-nya, Ishtar,” tulis Adair. Baca juga: Di Balik Kutukan Makam Firaun Menurut Adair, bagi Sargon, Inanna dan Ishtar adalah landasan teologis yang dapat menstabilkan persatuan Kerajaan Sumeria dan Akkadia. “Raja-raja Akkadia percaya mereka adalah kekasih Ishtar dan kesuksesan mereka dikaitkan dengan sang dewi,” lanjut Adair. Selama masa pemerintahan Sargon, di mana pun pengaruhnya ada, maka peran Ishtar akan menonjol. Ketika pengaruh Ishtar menyebar lebih jauh ke Barat, menyebar ke negara lain, namanya terus diubah agar sesuai dengan bahasa budayanya. Misalnya,Ashtarte atau Ashart yang dikenal oleh budaya Fenisia dan Astoreth pada orang-orang Kanaan. Setelah Kekaisaran Akkadia, timbulah Dinasti Ur III (2100–2000 SM). Selama periode ini terjadikebangkitan budaya, sastra, dan bahasa Sumeria. Lalu selama era Babilonia berikutnya (1750 SM), nyanyi-nyanyian dan mitos kembali ditulis dalam bahasa Akkadia. Peran Inanna pun tetap sama, walaupun ia dikenal dengan nama Ishtar. Gerbang Ishtar di sisi utara kota Babilonia yang dibangun pada sekira 575 SM atas perintah Raja Nebukadnezar II. (Focus and Blur/Shutterstock). Kedudukan Perempuan Pada masa kekuasaan Babilonia, khususnya setelah pembentukan Kekaisaran Babilonia Lama di bawah Hammurabi (1750 SM), ideologi agama berubah signifikan. Dewi agung dibayangi oleh sosok dewa tertinggi. “Ini yang akan mengubah paradigma umum kesadaran dalam teologi dan ideologi di kawasan Timur Dekat Kuno,” jelas Adair. Alasan perubahan ini sebenarnya sulit untuk didefinisikan. Namun, ini adalah proses bertahap yang dimulai menjelang akhir Zaman Perunggu. “Pada akhir milenium ke-2 SM, kosmos didominasi oleh dewa laki-laki, dengan hanya Ishtar yang mempertahankan posisi kekuasaannya,” lanjut Adair. Baca juga: Melihat Kehidupan Orang Romawi Lewat Lubang Jamban Adair menduga, perubahan itu mungkin cerminan status sosial perempuan yang mulai menurun. Kekuatan perempuan dalam masyarakat berkurang. Demikian pula dengan peran mereka dalam agama. Dengan munculnya negara-bangsa melawan negara kota yang lebih kecil, ada kebutuhan bagi pahlawan atau raja untuk memimpin dan melindungi. Ini juga merusak peran publik dan sosial perempuan. Maka, dunia pada akhir milenium ke-2 pun tak lagi memandang dewi sebagai pelindung terkuat kehidupan manusia. Penduduk desa, kota, dan negara merasa bahwa dewa laki-laki akan lebih kuat dan lebih mampu melindungi mereka dan tanah mereka. “Hal ini khususnya terjadi pada periode Asiria (934–608 SM), status perempuan baik dalam peran pribadi maupun publik menurun,” kata Adair. Namun Ishtar, dengan semua versi namanya, tidak pernah kehilangan pengaruh. “Kita dapat melihat bagaimana kepercayaan orang Kanaan, Fenisia, dan Israel mencerminkan dewi ibu,” lanjutnya. "Burney Relief" diyakini mewakili Ishtar dari sekira abad ke-19 atau ke-18 SM. Sepasang singa terlihat di kakinya. (Wikipedia). Di Luar Peran Domestik Perempuan Begitulah Ishtar, di Mesopotamia disembah s elama lebih dari 3.500 tahun dalam berbagai perannya. Sebagai dewi cinta, Ishtar tak hanya dihubungkan dengan cinta romantis, tetapi juga cinta keluarga, cinta antarmasyarakat, dan cinta seksual. Sementara di medan perang, Ishtar adalah dewi cinta yang menakutkan. Pemujanya percaya kalau sang dewi memiliki kekuatan untuk menentukan nasib dan memastikan kemenangan dalam peperangan. “Kecantikannya adalah subyek puisi cinta, dan amarahnya diibaratkan badai yang merusak,” kata Pryke. “Tetapi dalam kapasitasnya untuk membentuk takdir dan keberuntungan, dua citra itu berada di dua sisi dari mata uang yang sama.” Baca juga: Mengintip Isi Dapur Firaun Ishtar digambarkan sebagai sosok yang baik dan peduli. Namun, ada keganasan yang kejam dalam kepribadiannya. Ishtar digambarkan dengan sifat pengasuh. Namun, ia bisa jadi liar dan sering menyebabkan kekacauan sosial. “Ini adalah paradoks sifatnya yang menggabungkan dasar-dasar keteraturan dan ketidakteraturan,” lanjut Pryke. Rivkah Harris dalam “Inanna-Ishtar as Paradox and a Coincidence of Opposites” yang terbit dalam History of Religions (1991) mencatat kendati Inanna-Ishtar adalah seorang istri dan ibu, keduanya tidak memiliki arti penting dalam mitologinya. Doa, himne, mitos yang dikenal mengumandangkannya sebagai dewi di arena publik yang punya kuasa dan ketenaran. “Dia tidak terlibat dalam kegiatan feminin seperti menenun dan mengasuh anak. Peran dewi pejuang menempatkannya di luar wilayah domestik perempuan,” jelas Harris. Baca juga: Ketika Firaun Keliling Dunia Berkali-kali teks menekankan kehausan darahnya, kecintaannya pada perang dan pembantaian. Kisah-kisah tentangnya berbunyi: “Pertempuran adalah pesta untuknya”, “Dia mencuci alat dengan darah pertempuran”, “Dia membuka pintu pertempuran”, dan lain sebagainya. Pada saat yang sama, kasih sayang Inanna-Ishtar untuk raja-raja Mesopotamia berulang kali dicatat. Itu seperti: “Dia (Ishtar) memelukmu dengan baik (seperti anak kecil)”, “Dalam dadanya yang penuh kasih dia memelukmu dan melindungi seluruh sosokmu”. Secara khusus, singa selalu dikaitkan dengan Ishtar. “Dia adalah satu-satunya dewi yang memiliki julukan singa ( labbatu ) dengan keganasan dan kekuatannya yang mengamuk itu memang julukan yang pas,” tulis Harris.
- Demam Kebal Peluru di Front Bandung
MENJELANG revolusi bergulir di Front Bandung, tersebutlah seorang “kiai sakti” bernama Abdulhamid di Ciamis. Rumor mengatakan dia memiliki sebuah “sumur keramat” yang airnya bisa membuat seseorang kebal terhadap senjata tajam dan peluru. Maka berduyun-duyunlah para pemuda yang tengah mengidap demam kebal peluru datang untuk menemuinya. “Konon setiap hari dia bisa menerima pasien hingga jumlah ratusan orang,” ungkap Odoy Soedarja, anggota intelijen Divisi Siliwangi pada era 1946-1949. Soal kiai Ciamis itu sempat dibahas oleh sejarawan John R.W. Smail dalam bukunya, Bandung in the Early Revolution 1945-1946. Menurut Smail, begitu besarnya reputasi sang kiai hingga banyak pemuda (sebagian dari kalangan terpelajar) dan orang dewasa rela menempuh jarak 250 mil perjalanan pulang-pergi dengan kereta api hanya untuk menemuinya.
- Tionghoa Priangan dalam Pusaran Revolusi
YUSUP Soepardi (96) masih ingat ketika suatu hari dia menyaksikan para lelaki muda Tionghoa di Cianjur tetiba bersenjata. Mereka ditugaskan oleh militer Belanda untuk menjaga berbagai fasilitas ekonomi terutama pabrik-pabrik yang banyak bertebaran di berbagai perkebunan. Memang orang-orang Tionghoa itu bukan satu-satunya kelompok yang dipersenjatai militer Belanda. Menurut Yusup, ada unit-unit lain yang terdiri dari orang-orang Sunda dan Jawa yang tergabung dalam OW (Onderneming Wacht) dan CP (Civiele Politie). “Mereka memiliki tugas yang sama dan kerap bekerjasama menghadapi pejuang-pejuang Republik,” ungkap mantan anggota telik sandi dari lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) Cianjur itu. Lantas siapakah orang-orang Tionghoa bersenjata itu? Yusup masih mengingat bahwa mereka menamakan diri sebagai Pao An Tui (Badan Pelindung Keselamatan). Sejarah mencatat organ keamanan masyarakat Tionghoa yang didirikan pada 28 Agustus 1947 tersebut memang memilih jalan berlawanan dengan pemerintah Republik dan secara tegas memihak Belanda. “Orang-orang Tionghoa yang menjadi korban 'masa bersiap' membentuk Pao An Tui dengan dalih untuk membela diri dari gangguan orang-orang Republik,” ujar Sulardi, penulis buku Pao An Tui 1947-1949, Tentara Cina Jakarta . Kelompok etnis Tionghoa di Priangan memang ada dalam situasi dilematis saat peperangan mulai melanda kawasan barat Jawa. Menurut sejarawan John R.W. Smail, bisa dikatakan mereka merupakan “kambing hitam revolusi” yang dianggap pragmatis dan tega berkhianat terhadap perjuangan kaum Republik. Hal itu terlihat saat kaum Republik menjalankan aksi pemboikotan terhadap orang-orang Eropa, Indo dan kaum yang dianggap identik pro Belanda. Alih-alih mendukung aksi tersebut, para pedagang Tionghoa justru masih menjalankan transaksi dan memasok kebutuhan pokok orang-orang yang dicap sebagai “begundal penjajah” tersebut. Maka tak heran jika pasca proklamasi Republik Indonesia (RI), mereka menjadi sasaran amuk. Smail menyebut bahwa di Bandung sendiri kerusakan terparah akibat amuk kaum Republik terjadi di distrik Tionghoa yang terletak di sebelah barat alun-alun. “Ada memang di antara mereka yang berupaya menyelamatkan toko-tokonya dengan menyuap beberapa kelompok pemuda, namun itu hanya sementara. Selanjutnya mereka tetap menjadi korban anarki yang merajalela,” ungkap Smail dalam Bandung in the Early Revolution 1945-1946 . Berdasarkan situasi seperti itu, adalah wajar jika orang-orang Tionghoa pada akhirnya bersikap defensif. Sebagai kaum pedagang, mereka kerap menjalankan pilihan-pilihan pragmatis dan lebih cenderung melancarkan aksi “cari selamat” guna melanjutkan hidup mereka. Namun tidak seluruhnya orang-orang Tionghoa memilih jalan itu. Sebagian dari mereka yang sudah merasa menjadi bagian dari Indonesia justru ikut bahu- membahu bersama kaum Republik baik sebagai pemasok logistik, informan, tenaga kesehatan bahkan kaum pemanggul senjata. “Di wilayah Tegalega, dulu saya mengenal seorang Tionghoa bernama Akew. Dia pemilik toko yang kerap melindungi pejuang-pejuang kita yang sedang menyelundup ke kota,” ungkap Odoy Soedarja, anggota intelijen Divisi Siliwangi pada era 1946—1949. Tidak cukup melindungi keselamatan para pejuang Republik, Akew juga merupakan pemasok utama logistik ke markas-markas pejuang di sekitar Bandung. Tak jarang dia pun memberikan informasi-informasi penting terkait pergerakan tentara Belanda di Bandung. Nasib Akew pada akhirnya berakhir buruk. Karena pengaduan seorang tetangganya, dia kemudian diciduk oleh serdadu Belanda dan tak pernah diketahui keberadaannya hingga kini. Informasi yang didapat Soedarja, Akew dibuang ke Nusakambangan dan meninggal sebagai tawanan Republik di pulau dekat Cilacap itu. Soedarja pun mengenal seorang petugas perempuan Palang Merah bernama Oting (Oey Tiong Li). Gadis Peranakan Tionghoa itu terbilang aktif merawat dan mengobati para pejuang yang terluka di front Padalarang. “Seingat saya dia tergabung dengan lasykar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi),” ujar lelaki yang lahir pada 1924 itu. Keberadaan orang Tionghoa dalam unit-unit lasykar kaum Republik juga saya temukan dalam dokumen-dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Cianjur. Dalam suatu dokumen berjudul “Beberapa Catatan Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1942—1949” terbuhul seorang pejuang dari etnis Tionghoa bernama Muji Raharjo alias Asen. Disebutkan Asen yang lahir pada 20 Januari 1928 itu sudah terlibat dalam perjuangan kaum Republik sejak 1945. Dia ikut melucuti tentara Jepang yang bermarkas di Cipanas dan Pacet. Dalam aksi pelucutan itu, Asen berhasil merampas sepucuk pistol Jepang (Nambu) dan dua pucuk senjata doble loop. “Tahun 1945-1949, Asen ikut berjuang melawan Belanda dengan bergabung bersama unit lasykar Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia) cabang Cipanas-Pacet pimpinan seorang Sunda bernama Adang Somadihardja,” demikian menurut dokumen tersebut. Selain ditugaskan untuk mencari senjata, Asen pun harus membentuk jaringan logistik di antara orang-orang Tionghoa pro-Republik. Bersama rekan Tionghoa lainnya seperti Gwan, Wik Hok dan Okih, Asen juga memasok kebutuhan untuk Tentara Keamanan Rakjat (TKR) dan lasykar-lasykar lain seperti BBRI dan Hizbullah. Bermodalkan sebuah gunto ( pedang Jepang), Asen kadang ikut melakukan penyerangan terhadap posisi-posisi tentara Belanda di Cipanas dan Pacet. Hingga masa tuanya, gunto itu masih dirawatnya sebagai kenang-kenangan. “Pedang itu tak mungkin saya berikan kepada siapa pun, kecuali jika Gedung Juang Kabupaten Cianjur akan membuat museum, saya bersedia menyerahkannya,” ujar lelaki Tionghoa yang sudah wafat sejak tahun 2000 tersebut.*
- Cara Sinshe Melawan Flu Spanyol
PANDEMI Covid-19 belum berakhir. Keberadaannya masih mengancam hidup warga dunia. Tercatat sudah lebih dari 100 juta orang terjangkit, dengan angka kematian mencapai dua juta jiwa, di seluruh dunia. Indonesia sendiri menempati urutan teratas negara dengan kasus positif terbesar di Asia Tenggara. Dalam sehari, lonjakan kasus di negara kepulauan ini bisa mencapai ribuan kasus, yang tersebar di seluruh wilayah. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dalam mencegah kenaikan kasus Covid-19 di Tanah Air. Mulai dari pemberlakuan jam malam, pembatasan kegiatan, anjuran untuk tetap tinggal di rumah, hingga edukasi tentang pentingnya penggunaan masker. Terbaru, pemerintah telah menyiapkan vaksin, yang rencananya akan diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Vaksin produksi Sinovac tersebut telah melalui uji klinis, dan memperoleh izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Presiden RI Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin itu. Diberitakan laman Presiden Republik Indonesia , presiden bersama sejumlah penerima awal vaksin lainnya menerima suntikan dosis vaksin Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta (13/01/2021). “Tentunya saya berharap, nanti seluruh masyarakat, seluruh rakyat, bersedia divaksin karena ini adalah upaya kita untuk bebas dari pendemi. Mengenai waktunya kapan semuanya harus bersabar karena akan diatur dan dilakukan secara bertahap. Tapi yang pasti vaksin ini gratis,” ujar Presiden Jokowi. Di masa lalu, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, pemerintah kolonial pun pernah dihadapkan dengan permasalahan pandemi yang menjangkit seluruh negeri. Pandemi terbesar terjadi di awal abad ke-20, ketika pandemi flu Spanyol menebar teror di Tanah Air. Pemerintah Hindia Belanda berjibaku menekan jatuhnya korban jiwa akibat virus tersebut. Mereka mengupayakan segala bentuk penanganan dan pengetahuan kesehatan dari negeri mereka agar pandemi cepat berlalu. Warga Eropa dan Bumiputera benar-benar bertumpu pada pemerintah Hindia Belanda. Sementara masyarakat Tionghoa, sebagai salah satu golongan asing terbesar di Hindia Belanda kala itu, tidak sepenuhnya menggantungkan nasib pada pengetahuan kesehatan pemerintah kolonial. Mereka jelas ikut terdampak pandemi flu Spanyol, tetapi tidak seperti pemerintah Hindia Belanda dengan pengobatan ala baratnya, masyarakat dari daratan Timur itu memiliki metode kesehatan tersendiri dalam menghadapi pandemi yang menjangkit tempat bernaung mereka. Tidak digunakannya cara pengobatan Barat oleh masyarakat Tionghoa merupakan salah satu bentuk ketidakpercayaan mereka terhadap pemerintah kolonial. Seperti diceritakan sejarawan Ravando Lie dalam acara Dialog Sejarah Historia.ID , “Riwayat Pandemi dari Masa ke Masa”, Kamis (24/09/2020), pemerintah Hindia Belanda telah gagal menangani pandemi flu Spanyol. Mereka terlalu menganggap enteng virus tersebut dengan menyebutnya bukan penyakit berbahaya, dan kerap menyamakannya dengan influenza biasa. “Kasus di Indonesia menurut saya agak sedikit memprihatinkan. Pada pelaksanaannya tak ada strategi awal apapun oleh pemerintah kolonial,” kata Ravando. Kenyataannya teror flu Spanyol yang menjangkiti seluruh negeri keberadaannya tak terkontrol. Koran Sin Po memberitakan bagaimana pandemi telah menghilangkan nyawa 100 kuli Tionghoa dan 60 polisi di Medan, Sumatra Utara. Begitu pula kasus tewasnya puluhan orang Tionghoa di Pare, Jawa Tengah akibat keganasan virus tersebut. Itu terjadi lantaran pemerintah Belanda tidak menyiapkan tenaga medis yang cukup di setiap daerah. Di Pare sendiri hanya tersedia seorang dokter saja. Sementara tiap harinya ribuan orang datang untuk berobat. Kondisi itu membuat masyarakat memutuskan untuk mencari pertolongan kepada sinshe (dokter pengobatan Tionghoa). Sedang lainnya hanya bergantung pada kemanjuran obat-obatan tradisional. “Kompleksnya permasalahan tersebut membuat penduduk yang tidak tahu harus melakukan apa, memilih untuk melakukan pengobatan alternatif, mulai dari menggunakan ramuan tradisional, sampai melakukan berbagai ritual keagamaan,” ujar Ravando dalam Perang Melawan Influenza: Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial 1918-1919 . Menurut Hans Pols dalam East Asia Science, Technology and Society , sebagaimana dikutip Ravando, orang-orang Tionghoa telah memainkan peran penting di dunia kesehatan Hindia Belanda sejak 1880-an. Mereka menjual banyak obat-obatan herbal hasil racikan dari resep leluhur mereka. Di samping beragam herbal dari luar negeri, termasuk dataran Tiongkok, dan obat-obatan dari dunia Barat. Obat-obatan alternatif itu menjadi pilihan penting dalam menghadapi amukan flu Spanyol, baik bagi penduduk Tionghoa maupun Bumiputera. Apalagi tarif dokter dan rumah sakit tidak bisa dijangkau oleh kebanyakan orang. Sehingga menggunakan herbal racikan para sinshe atau pergi ke dukun menjadi opsi terbaik saat itu yang bisa dipilih masyarakat. Para sinshe di berbagai daerah juga mulai bermunculan, memberikan resep-resep hasil racikannya kepada masyarakat. Misalnya, dalam surat kabar Tjhoen Tjhioe , seorang sinshe terkemuka dari Wonogiri, Phoa Tjong Kwan membagikan resep dan langkah untuk mengobati pasien flu Spanyol. Untuk demam tinggi, dia menganjurkan meminum air perasan labu putih dengan campuran garam. Sementara untuk batuk, pasien bisa menggunkan campuran kecap manis dan perasan jeruk nipis. Di Madiun, ada seorang sinshe yang oleh masyarakat dikenal sebagai ahli mengobati segala penyakit, bernama Tan Bing In. Bagi penduduk Madiun, obat racikan Tan Bing In lebih mujarab mengobati demam ketimbang aspirin tablet. Kemudian di Bogor dan Batavia, dikenal sinshe Tan Tik Sioe dari Tulungagung yang dengan murah hati membagikan resep obat manjur menghadapi flu Spanyol. Segala resep yang dia bagikan dapat diperoleh secara cuma-cuma, tidak hanya bagi orang Tionghoa tetapi juga bumiputra. “Berbagai surat kabar silih berganti mempublikasikan obat-obatan tradisional yang dipercaya dapat mengobati influenza. Di saat negara dilanda kebingungan terkait tindakan yang harus diambil guna menghadapi flu Spanyol, berbagai kalangan berupaya menemukan obat-obatannya sendiri,” ujar Ravando.*
- Ahmad Yani dalam Seragam PETA
MELETUSNYA Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pada 14 Februari 1945 mengubah situasi di semua daidan alias batalyon. Hampir semua perwira muda PETA berpangkat shodancho (komandan kompi, red. ) ke atas dicurigai Jepang. Ahmad Yani dan Sarwo Edhie dua di antaranya. Pemberontakan para serdadu PETA di Daidan Blitar pimpinan Shodancho Supriyadi 76 tahun lampau memang akhirnya kandas. Sejumlah pelakunya ditangkap hingga dieksekusi. Beberapa di antaranya dinyatakan hilang secara misterius, termasuk Supriyadi. Ketika peristiwa itu meletus hingga dinetralisir Jepang, nyaris semua daidan di Jawa Tengah dan Jawa Barat belum mengetahuinya. Jepang menerapkan isolasi agar satu daidan dengan daidan lainnya yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur tak saling berhubungan. Maka pemberontakan PETA di Blitar, Cimahi, dan Cilacap pun tak terdengar daidan-daidan di kota-kota lain. Hanya beberapa perwira muda PETA yang menginsyafinya lewat sejumlah gelagat aneh Jepang di markas-markas mereka. “Pada saat pemberontakan PETA Blitar meletus, seluruh Daidan dijaga, dikonsinyir oleh Jepang selama dua hari. Kepada para perwira diajukan pertanyaan-pertanyaan oleh Jepang dalam usahanya menjaga sikap anggota-anggota PETA,” tulis tim Dinas Sejarah Militer dalam Sedjarah TNI-AD Kodam VII/Diponegoro . Ahmad Yani dan Sarwo Edhie juga termasuk di antara perwira PETA yang ditanyai. Keduanya akhirnya dimutasi dari Prembun ke Bogor, markas PETA tempat awal mereka ditempa satu setengah tahun sebelumnya. Memutasi beberapa perwira PETA menjadi salah satu langkah preventif Jepang agar peristiwa serupa tak terulang. “Yani, Sarwo Edhie dan Sudarmadji kembali (ditempatkan) ke Bogor dan diwajibkan belajar bahasa Jepang lagi. Belakangan mereka sadari sebenarnya ketiganya termasuk orang-orang yang dicurigai Jepang. Karena perkembangan itu seluruh satuan PETA dilucuti dan Yani dan kawan-kawannya mendapat tugas untuk menjaga asrama-asrama PETA (Bogor) tanpa peluru,” kata Amelia Yani mengisahkan pengalaman ayahnya, mendiang pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani, semasa berseragam PETA dalam Profil Seorang Prajurit TNI. Kisah Lucu Ahmad Yani di Markas PETA Kala Jepang masuk Indonesia pada 1942, hidup Ahmad Yani ikut berubah. Ia yang sebelumnya baru menyelesaikan pendidikan topografi di Topografische Dienst di Malang, tak bisa melanjutkan sekolahnya lagi di AMS B (Algemeene Middelbare School, afdeling B) di Batavia. Maka setelah pulang kampung ke Purworejo, Ahmad Yani tak punya pilihan selain melanjutkan pendidikannya ke institusi-institusi yang didirikan Jepang. Jawa Boei Gyugun Kanbu Renseitai , semacam sekolah pendidikan militer di Magelang, jadi pilihannya pada pertengahan 1943. Sekolah itu juga dimasuki Sarwo Edhie dan Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggal Raden Adjeng Kartini. Di sana, pemuda Yani mendapat pelatihan fisik dan latihan yang bersifat akademik. Mengetik dengan mesin tik salah satunya. Demi melancarkan keterampilannya di mesin tik, Yani kursus mengetik di sanggar ARTI di Purworejo. Di sini pula Yani berkenalan dengan Yayuk Ruliyah Sutodiwiryo, perempuan yang kemudian dinikahinya. Diorama pendidikan perwira PETA di Museum PETA Bogor (Randy Wirayudha/Historia) Dari Renseitai , Ahmad Yani didaftarkan untuk ditempa lagi sebagai calon perwira berpangkat shodancho di Bogor pada Oktober 1943 bersama sekira 100 jebolan Renseitai Magelang, termasuk Sarwo Edhie. Di Bogor, Yani berkenalan dengan banyak pemuda yang kelak jadi petinggi TNI di masa perjuangan, seperti Zulkifli Lubis yang datang dari Renseitai Cimahi. “Selama pendidikan shodancho berjalan, regu bapak dinilai oleh pelatih Jepang maupun kawan-kawannya lebih maju daripada yang lain. Sebagai bekas Renseitai dan regunya dinilai cukup baik, regu Yani tak lagi ikut merangkak dalam latihan fisik tetapi lebih sering jadi pembantu pelatih. Biasanya memerankan kelompok musuh dan saat menunggu latihan serangan kepada kelompok Yani, dipakai untuk mencari kopi. Saat siswa menyerbu, regu Yani sudah menghabiskan kopi mereka semua,” sambung Amelia. Anekdot lain datang dari kerapnya Yani memanfaatkan “reputasinya” sebagai salah satu calon perwira terbaik dari penilaian Jepang dengan sejumlah aksi akal-akalan demi mengisi perutnya. Aksi itu dilakukannya karena jatah makan di markas selalu dibatasi Jepang. “Biasanya pada malam hari, apabila dapur sudah dikunci, Yani gemar mencuri roti yang besar dan keras, namanya roche brood , yang ditaruh di bakul bambu di ujung dapur, jauh dari pintu. Untuk mengambilnya harus pakai galah. Yani selalu berhasil mengambilnya tetapi tak pernah tertangkap atau ketahuan,” ujar mantan duta besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina tersebut. Parade Serdadu PETA didikan Jepang (Randy Wirayudha-Historia/Repro Koleksi Museum PETA Bogor) Yani dikenal kawan-kawan seasramanya sebagai orang yang langganan kelayapan ke luar markas tanpa izin Jepang. Itu dilakukan Yani dengan lompat pagar. Sebagai imbalan tutup mulut buat kawan-kawannya, Yani selalu membawakan “buah tangan” berupa singkong atau pisang goreng. Yani dan kawan-kawannya baru kena batunya tepat sehari sebelum dilantik untuk kelulusan pendidikan mereka. Kisahnya berawal dari hilangnya arloji milik Tresno, kawan Yani. Kejadian yang dianggap memalukan itu berujung pada hukuman berjaga semalam suntuk bagi seluruh peleton. Untuk menanggulangi serangan kantuk, Yani dan kawan-kawannya mengakalinya saat sedang tidak diawasi serdadu Jepang. Dalam kurun waktu tertentu, setiap kawannya akan bergantian bergantian untuk terjaga agar yang lain bisa tidur. Akal-akalan itu akhirnya terpergok gegara kecerobohan Yani. “Tiba giliran Yani kira-kira pukul tiga pagi. Yani sambil tiarap di pinggir tempat tidurnya, menungging mengintip dari celah bawah pintu, kalau-kalau melihat ada kaki (serdadu) Jepang lewat. Celakanya saat pengawas Jepang lewat, Yani ternyata tak memberi aba-aba apapun. Tentu saja mereka harus mengulangi hukuman berat, saling menempeleng satu sama lain. Setelah pengawas pergi, seluruh peleton menggerutu: ‘ Sopo sing jogo mau (siapa yang giliran jaga tadi)?’ Yani menjawab: ‘Aku! Tapi turu (tapi tidur)!’” lanjut Amelia. Pelantikan para perwira PETA di Lapangan Gambir (Randy Wirayudha-Historia/Repro Koleksi Museum PETA Bogor) Keesokannya, mereka tetap dilantik di Lapangan Gambir dan resmi menyandang pangkat shodancho . Shodancho Yani kemudian ditempatkan ke Daidan Prembun (Kebumen), membuatnya bisa dekat lagi dengan kekasihnya, Yayuk, di Purworejo. Keduanya kemudian menikah pada 5 Desember 1944. “Tentu saja Yani tidak melapor karena ada peraturan bahwa seorang shodancho dalam kurun waktu tertentu belum boleh menikah. Oleh karenanya pada 6 Desember subuh Yani sudah harus meninggalkan pengantin barunya,” tambah mantan politikus Partai Hanura tersebut. Namun, kehidupan Shodancho Yani di Daidan Prembun justru lebih memprihatinkan ketimbang saat masih di asrama PETA Bogor. Situasi Jepang yang makin pelik di Perang Pasifik berimbas pada minimnya jatah makanan layak bagi para perwira PETA. “Keadaan ekonomi juga merosot terus. Tentara PETA di Prembun mulai hanya memakai baju sobek-sobek. Hem (kemeja) putih di dalamnya tinggal kerahnya saja. Makan pagi biasanya berupa bubur lem atau kanji. Hanya makan siang dan malam mereka mendapat nasi. Sekali-sekali mereka mendapat jatah ayam goreng. Supaya ayam goreng Yani tidak dicuri temannya, biasanya diidoni disik (diludahi dulu) supaya tak ada yang tega mencurinya,” tandas Amelia.
- Orang Tionghoa Indonesia di Tengah Pandemi Flu Spanyol
TAHUN 1918, pandemi influenza membuat gempar dunia. Jutaan orang meninggal dunia setelah diserang flu tersebut. Belum diketahui secara pasti dari mana wabah ini bermula. Ada yang menyebut berasal dari Amerika, ada yang menyebut dari Swedia dan Rusia, ada pula yang menduga virus dibawa buruh Tiongkok dan Vietnam. Media Spanyol yang secara besar-besaran memberitakan wabah ini kemudian membuat wabah ini dikenal sebagai Flu Spanyol. Flu Spanyol menyerang hampir ke seluruh pelosok dunia. Hindia Belanda tak luput darinya. Menurut Priyanto Wibowo dkk dalam Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda , wabah di Hindia Belanda menyebar dari Cina melalui Hongkong dan Singapura lewat kapal-kapal dari Cina yang diduga membawa orang-orang yang sudah terpapar virus. Meski telah mendapat peringatan-peringatan, pemerintah Hindia Belanda ternyata abai. Pada Juli 1918, rumah sakit di Batavia mulai melaporkan adanya pasien-pasien influenza. “Pada akhir November 1918, Pemerintah Hindia Belanda telah menerima laporan bahwa penyakit itu telah melanda Jawa Tengah dan memasuki wilayah Jawa Barat,” tulis Priyanto dkk. Dalam waktu singkat, wabah tersebut kemudian dilaporkan telah menjangkiti Surabaya, Banjarmasin, hingga Buleleng. Wabah terus menyebar, korban terus berjatuhan. Arakan-arakan Sementara sistem kesehatan tak memadahi, orang-orang dirundung bingung. Penduduk Tionghoa di beberapa daerah, menurut Ravando Lie dalam Perang Melwan Influenza, Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919, memilih melakukan ritual tolak bala dengan mengarak toapekong . Di Karawang, misalnya, penduduk Tionghoa mengarak barongsai, liong, dan patung dewa-dewa dengan diiringi tetabuhan selama beberapa hari. “Tampaknya perarakan ini adalah yang pertama kali diadakan di wilayah Indonesia kolonial dengan tujuan spesifik untuk mengusir Flu Spanyol,” tulis Ravando. Sepenelusuran Ravando, ritual-ritual lain juga dilakukan penduduk Tionghoa di berbagai kota. Di Bandung, penduduk mengadakan upacara meminta keselamatan ( Ping An ) disertai arak-arakan toapekong . Sementara, di Sukabumi seorang Tionghoa menyerukan ke perkampungan Tionghoa agar melaksanakan sembahyang hioto serentak. Arak-arakan toapekong juga dilakukan di Tulungagung dan Medan. Di Medan, pertunjukan wayang tiotjiee bahkan digelar tiga hari tiga malam. Namun, arak-arakan tersebut hampir diwarnai bentrokan dengan penduduk bumiputra. Jika di Medan bentrokan dapat dihindari, tidak demikian dengan arak-arakan toapekong di Kudus. Menurut Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik, saat itu penduduk Tionghoa Kudus khawatir wabah semakin menjadi-jadi. Mereka lalu mengadakan arak-arakan toapekong yang justru berakhir dengan kerusuhan. “Peristiwa kerusuhan ini diawali dengan perkelahian antara sejumlah pemuda Tionghoa yang sedang melakukan prosesi arak-arakan gotong Tepekong dengan sekelompok pemuda SI (Sarekat Islam, red. ),” tulis Benny. Sentimen anti-Tionghoa meluas. Puncak kerusuhan pun terjadi pada Kamis malam, 31 Oktober 1918. Permukiman dan toko milik Tionghoa dijarah dan dibakar. Ribuan orang Tionghoa mengungsi ke Semarang. Peristiwa ini dikenal sebagai “Peristiwa Peroesoehan di Koedoes.” Peranan Sin Po Dalam kekacauan karena pandemi itu, pers memiliki peranan penting. Suratkabar Tionghoa Sin Po menjadi salah satu media yang banyak berontribusi. Menurut Ravando, Sin Po merupakan suratkabar modern yang mengedepankan rasionalitas. Sin Po seringkali menepis kabar bohong maupun menanggapi tindakan-tindakan takhayul yang tak berpengaruh pada ganasnya pandemi. Menanggapi arak-arakan toapekong yang disebut dapat mengusir pandemi, misalnya, seperti dikutip Ravando, Sin Po, 11 November 1918 menulis, “Orang jang bisa berpikir sedikit pandjang tentoe aken mengarti bagimana tida bergoenanja diboewang oeang boeat itoe oeroesan.” Sin Po juga mengkritik tindakan-tindakan yang memperburuk pandemi. Di Surabaya, pemerintah daerah malah mengadakan pesta Oranjedag paling meriah sejak puluhan tahun sebelumnya. Ada pula pertandingan sepakbola di Petak Sinkian, Batavia dan di Surabaya yang dapat mempercepat penularan virus. Sin Po juga memperingatkan Keraton Solo untuk tidak mengadakan Sekaten demi menekan angka penularan. Kabar bohong tumbuh subur di masa pandemi. Di Purwokerto, seorang bernama Prawadrana mengaku didatangi Nyi Loro Kidul lalu mempromosikan siapa yang ingin ditolong harus datang ke rumahnya dengan memberi sedekah 50 sen. Orang Tionghoa di Tasikmalaya mengatakan bahwa mereka dilindungi oleh Kwan Sing Tee Koen (Kwan Kong) sehingga terbebas dari Flu Spanyol. Sementara di Tulungagung, potret Tan Tik Soe yang diklaim sebagai titisan dewa dan bisa menyebuhkan penyakit, dijual. Semua dibantah Sin Po. “Menurut Sin Po tidakan tersebut merupakan sebuah lelucon yang menunjukan kebodohan dan ketidakrasionalan manusia. Satu-satunya cara untuk bisa sembuh dari suatu penyakit adalah dengan berobat ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan Tionghoa maupun Eropa,” jelas Ravando. Obat Tradisional Pergi ke dokter dan mengkonsumsi obat-obatan Eropa menjadi pilihan paling masuk akal. Namun, Kirsty Walker dalam “The Influenza Pandemic of 1918 in Southeast Asia” yang termuat dalam Histories of Health in Southeast Asia, menyebut bahwa sebagian besar penduduk Hindia Belanda tidak bisa mendapat akses obat-obatan Barat. Mereka kemudian datang ke dukun atau mengkonsumsi ramuan tradisional. Selain tidak bisa diakses rakyat miskin, rumahsakit dan obat-obatan Barat juga kurang dipercaya oleh masyarakat. Orang justru lebih memilih pengobatan tradisional Tionghoa sebagai alternatif. Pengobatan tradisional Tionghoa telah dikenal sejak 2000 tahun silam. Menurut Peter Boomgaard dalam “The Development of Colonial Health Care in Java; An exploratory Introduction” yang termuat dalam Health Care in Java, pengobatan tradisional Tionghoa juga telah memberi pengaruh pada pengobatan tradisional di Nusantara. Sementara dokter-dokter bumiputra juga membuat racikan obat influenza, sinshe-sinshe di berbagai kota tak mau ketinggalan. Ravando mencatat, Phoa Tjong Kwan, shinse terkemuka di Wonogiri, mempublikasikan resep dan bagaimana cara mengobati pasien Flu Spanyol. Di Madiun, obat racikan Tan Bing In dianggap manjur menurunkan panas Flu Spanyol yang semakin mengganas menjangkiti ratusan orang Tionghoa dan bumiputra. Di Batavia dan Bogor, resep Tan Tik Sio dari Tulungagung tersebar luas untuk para penderita Flu Spanyol. Sementara sinshe ternama, Yap Goan Thay, membuat racikan obat influenza dari daun-daun berkhasiat yang direbus dengan campuran gula atau gula batu. “Di tengah kekalutan masyarakat akibat pandemi Flu Spanyol, tidak bisa dipungkiri bahwa obat-obatan tradisional tersebut menjadi jalan keluar khususnya bagi masayarakat yang kurang mampu atau yang masih asing dengan metode pengobatan Barat,” tulis Ravando. Ravando melanjutkan, ramuan tradisonal menjadi jalan keluar dari diskriminasi yang sering diterima ketika mereka mencoba berobat ke rumahsakit atau poliklinik yang dikelola orang Belanda. Namun, obat-obat tersebut tentu tidak lagi ampuh jika gejala Flu Spanyol yang ganas itu sudah menunjukkan beragam komplikasi.*
- Lika-liku Perayaan Imlek di Indonesia.
Perayaan Imlek di Indonesia diperkirakan sudah ada sejak orang-orang Tionghoa bermigrasi ke Nusantara.
- Kala Perempuan Memberi Pelajaran Tuan Perkebunan
LARI dari rumah karena menolak dinikahkan dengan lelaki yang tak menarik hatinya membuat Marijem, ibu kandung “Bapak Seni Rupa Modern Indonesia” Sudjojono, berpikir untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam pencarian itulah suatu ketika kala sedang istirahat dia bertemu seorang pria yang menawarinya pekerjaan. Dia diminta mengikuti pria itu dan menurutinya. Marijem menyimak dengan seksama begitu pria tersebut memberi penjelasan bahwa dia dan beberapa orang lain akan dipekerjakan sebagai buruh perkebunan di Deli, Sumatera Utara. Mereka akan dipekerjakan selama minimal lima tahun. Meski diberi waktu untuk menimbang sebelum mengambil keputusan, Marijem pilih menyetujuinya. “Pikirnya, kalau aku tinggal di kota ini tanpa tahu lor-kidul dan tidak kenal orang, hidupku akan tidak menentu. Lebih baik aku terima kontrak itu, meski tempatnya jauh. Setidaknya aku akan selalu mempunyai uang,” tulis Mia Bustam, menantu Marijem, menggambarkan alasan Marijem menerima kontrak jadi buruh perkebunan, dalam Sudjojono dan Aku . Kendati harus berjuang seharian penuh melintasi jalan tanah berbatu dari pelabuhan menuju lokasi perkebunan, Marijem dan rombongan buruh baru itu akhirnya tiba di tempat kerja mereka pada tahun-tahun awal abad ke-20 itu. Tugas mereka mulai dari menanam benih karet hingga merawat. Pekerjaan itu tak terlalu sulit bagi Marijem yang di kampungnya, Jawa Tengah, rutin membantu ibunya me- ngangsu air. Maka dalam tempo tak terlalu lama, Marijem sudah diangkat menjadi kepala regu buruh perempuan. Tugasnya adalah berkeliling memeriksa bibit-bibit yang telah ditanam, mengatasi bila ada hama, dan mengamankan dari tanaman liar. Sebagaimana banyak perempuan buruh di perkebunan Deli, kesulitan yang dialami Marijem justru datang dari para tuan Belanda, entah yang menjadi atasan langsung atau yang lebih tinggi jabatannya. Banyak dari para tuan itu gemar melecehkan para perempuan buruh. Laiknya budak, para buruh tak memiliki hak untuk menolak perintah majikan kulit putih. Apabila mereka dipanggil tuan saat jam kerja, hampir dipastikan mereka diminta untuk memuaskan nafsu si tuan. Para tuan tak peduli perempuan yang dipanggil sudah bersuami atau belum. Para perempuan buruh umumnya tidak berani melawan. Selain secara legal, yang diatur lewat Koeli Ordonantie, mereka diwajibkan patuh pada perintah perusahaan, mereka juga mesti siap menanggung siksaan bila kedapatan melawan, yang diatur dalam Poenale Sanctie (sanksi pidana). Penyiksaan menjadi hal jamak di perkebunan Deli. J. Van den Brand, pengacara di Medan, bahkan sampai menuliskan penyiksaan yang dilihatnya ke dalam buku berjudul De Millioenen uit Deli . Penyiksaan itu dilihatnya ketika sedang mengunjungi rumah seorang pemilik kebun. Tanpa sengaja dia mendengar suara kesakitan seorang perempuan dari halaman depan. Rasa penasaran menuntunnya mendatangi sumber suara. Ketika mendapati sumber suara, dia kaget suara itu ternyata berasal dari seorang gadis yang tengah disiksa dengan disalib dalam keadaan tanpa busana. “Bagi saya pemukulan terhadap wanita itu sudah mengerikan, dan tentunya dalam kasus ini, di mana pantatnya menunjukkan keadaan yang kotor, dekil, bernanah, dan berdarah. Tuan Kooreman mungkin berpikir hal seperti itu adalah hal paling umum di dunia, tampak mengerikan bagi saya dan orang lain,” tulis Van den Brand. Pelecehan juga didapati Marijem dan kawan-kawannya di kebun mereka. Meski mayoritas kawan-kawannya diam tak berani melawan, tidak demikian dengan Marijem. Dia memutuskan melawan. Kawan-kawannya di regunya lalu diajaknya untuk membalas kelakuan asusila opseter (pengawas) Belanda mereka yang kerap melecehkan. Tempat untuk aksi pembalasan pun ditetapkan, yakni lokasi yang jauh dari kantor dan barak-barak buruh. Suatu ketika, mereka mendapati momen yang tepat. Mereka segera bersembunyi di balik semak-semak sambil menunggu si pengawas lewat. Begitu si pengawas tiba, mereka langsung menyergapnya. Setelah si pengawas kerempeng itu dirubuhkan, Marijem dan kawan-kawannya langsung mengelitikinya di hampir semua bagian tubuhnya, tak terkecuali di bagian kemaluannya. Pengawas itu hanya bisa kegelian sambil berteriak-teriak memaki dan minta aksi itu dihentikan bahkan berteriak minta tolong. Marijem dan kawan-kawannya tak mempedulikannya. Mereka terus mengelitiki pengawas keparat itu. Beberapa kawan Marijem bahkan sampai menekan kaki dan tangan mereka kuat-kuat sambil menertawakan dan mengumpat pengawas nahas itu. Begitu si pengawas sudah lemas, mereka langsung melepaskannya dan meninggalkannya dengan perasaan puas. “Hari-hari berikutnya tidak terjadi apa-apa atas srikandi-srikandi kebun itu. Rupanya si opseter Belanda itu malu untuk melaporkan mereka pada bosnya. Bayangkan, dia, seorang tuan kulit putih, dihina oleh perempuan-perempuan Inlander jelek berkulit coklat! Marijem dan kawan-kawan masih sering terkikik-kikik kalau mereka ingat perbuatan mereka yang sebenarnya luar biasa nekad itu. Dan yang terpenting bagi mereka, opseter itu selanjutnya menjaga mulutnya apabila berpapasan dengan para buruh perempuan, juga tidak pernah lagi mengganggu mereka,” tulis Mia.*





















