top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian II–Habis)

    ERWIN Rommel. Pamornya begitu tinggi di kalangan serdadu Jerman maupun di kubu Sekutu. Adolf Hitler paham jika sang generalfeldmarschall (marsekal medan) sampai diseret ke pengadilan, moril para prajurit yang tengah mati-matian menahan gempuran Sekutu bakal ambyar. Namun, Hitler tidak bisa mengabaikan masukan dan info dari para pembantu terdekatnya bahwa Rommel (dituduh) terlibat dalam konspirasi Plot 20 Juli 1944. Komplotan sejumlah perwira militer dan politisi oposisi itu bersepakat untuk melenyapkan Hitler. Maka meski nama Rommel begitu kondang, Hitler memutuskan untuk menyingkirkannya. Agar tak menimbulkan gejolak lebih besar di kalangan Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman), kasus keterlibatan Rommel dalam Plot 20 Juli terlebih dulu disidang di Pengadilan Kehormatan Militer, Berlin. Sedikitnya delapan perwira tinggi, termasuk Panglima Komando Tinggi Wehrmacht Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel, dilibatkan sebagai saksi yang keterangannya bakal dijadikan masukan final buat Hitler. “Nama Rommel disebutkan dalam pengakuan Jenderal Carl-Heinrich von Stülpnagel, mantan panglima pasukan pendudukan Jerman di Paris. Stülpnagel sendiri mengaku dalam keadaan tidak sadar, saat dia sedang dalam kondisi koma akibat percobaan bunuh diri yang gagal,” tutur Alif Rafik Khan, pemerhati sejarah militer Jerman-Nazi, kepada Historia . Baca juga: Erwin Rommel Si Rubah Gurun Hasilnya, Hitler memberi pilihan pada Rommel: bunuh diri atau diseret ke mahkamah militer dengan konsekuensi namanya bakal tercemar sebagai pengkhianat. Marsekal jenius dan juru taktik jempolan itu pun memilih mempertahankan kehormatannya dengan bunuh diri pada 14 Oktober 1944. Rommel dimakamkan dengan penghormatan militer. “Dia (Rommel) tahu tentang plot itu dari stafnya, Caesar von Hofacker dan Hans Speidel, tapi tidak terlibat. Dia juga sempat diajak bergabung tapi menolak. Dia menolak karena masih menghormati sumpah prajuritnya meskipun berlawanan dengan nuraninya. Dia memilih bersikap netral sekaligus tidak memberitahukan rencana plot tersebut kepada pihak yang berwenang,” tambah penulis buku 1000+ Fakta Nazi Jerman itu. Sejatinya, Rommel tidak bersalah penuh lantaran ia tak terlibat ketika Kolonel Claus von Stauffenberg, eksekutor Plot 20 Juli, meledakkan bom di markas Hitler. Rommel tak seperti enam jenderal berikut ini yang akhirnya disingkirkan Hitler pascainsiden tersebut: Carl-Heinrich von Stülpnagel General der Infanterie Carl-Heinrich Rudolf Wilhelm von Stülpnagel. (Bundesarchiv). Stülpnagel merupakan sosok cemerlang di medan perang yang sanggup membawa pasukannya, Tentara AD ke-17, di front Rusia timur dan selatan pada babak awal Perang Dunia II. Prestasi itu membuatnya diganjar Hitler dengan posisi yang terbilang nyaman: panglima pendudukan Prancis. Dia menggantikan sepupunya, Jenderal Otto von Stülpnagel, pada Februari 1942. Namun yang sedari awal tak diendus Hitler adalah keterlibatan Stülpnagel dalam Plot 20 Juli. Sebagaimana Jenderal Hans Oster di artikel sebelumnya, Stülpnagel yang setia pada Hitler memilih berbalik haluan akibat kekeraskepalaan Hitler untuk mencaplok Sudetenland (kini wilayah di Republik Ceko) dan Cekoslovakia pada 1938. Faktor lain yang membuatnya putar haluan adalah ketika Hitler mendongkel Menteri Pertahanan Marsekal Werner von Blomberg. Sejak saat itu, Stülpnagel mulai turut berkomplot dengan Oster dan Jenderal Ludwig Beck seraya menjalankan tugasnya sebagai Panglima Tentara ke-17 yang merangsek hingga Ukraina. Dalam perencanaan Operasi Valkyrie sebagai ujung tombak Plot 20 Juli, Stülpnagel dipercaya oleh Beck sebagai kepanjangan tangan komplotan di Prancis. Tugasnya merayu atasannya Oberbefehlshaber West (Panglima Tertinggi Tentara Jerman di Front Barat) Generalfeldmarschall Günther von Kluge agar ikut mendukung. Kluge memberi syarat hanya jika nyawa Hitler menguap. Baca juga: Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian I) Kala Stauffenberg meledakkan bom di markas Hitler di Prussia Timur pada 20 Juli 1944, Operasi Valkyrie digulirkan. Setelah di Berlin, giliran Stülpnagel memainkan perannya menciduki para perwira Schutzstaffel (SS/Paramiliter Partai Nazi) dan Gestapo (Polisi Rahasia Nazi) di Paris. Nahas kemudian, Hitler selamat. Kluge pun menarik dukungannya terhadap Stülpnagel. Ia pun ditahan dan dipanggil ke Berlin. “Kluge yang juga dipanggil memilih menelan kapsul sianida. Stülpnagel juga yakin bahwa dia tak bisa melarikan diri dan akhirnya mencoba bunuh diri dengan pistol. Tetapi gagal dan hanya melukai salah satu matanya. Dia dibawa Gestapo ke rumah sakit dan dalam perawatan, ia mengigau menyebut nama Rommel berulang-ulang,” tulis Terry Brighton dalam Masters of Battle: Monty, Patton and Rommel at War . Setelah pulih, Stülpnagel dijebloskan ke Penjara Plötzensee di Berlin dan disiksa Gestapo hingga mengakui keterlibatannya di Plot 20 Juli lantaran Hitler menuntut semua tahanan komplotan mengaku di muka umum. Setelah diajukan ke Volksgerichtshof (Pengadilan Rakyat) pada 30 Agustus 1944, Stülpnagel divonis hukum gantung. Erich Fellgiebel General der Nachrichtentzruppe Fritz Erich Fellgiebel. ( gdw-berlin.de ). Meski termasuk perwira terpenting Jerman terkait pengembangan mesin kode rahasia Enigma yang sohor, disebutkan Peter Hoffmann dalam History of the German Resistance: 1933-1945, Fellgiebel tak terlalu disukai Hitler karena independent-minded -nya. Tetapi Hitler terpaksa mempertahankannya sebagai Chef des Heeresnachrichtenwesens (kepala sinyal dan komunikasi di Komando Tinggi AD Jerman) lantaran Fellgiebel tahu banyak dapur riset rahasia roket yang tengah dikembangkan Hitler diam-diam lewat ilmuwan Wernher von Braun. Fellgiebel terseret arus konspirasi Plot 20 Juli lewat persuasi eks Kepala Staf Oberkommando des Heeres (Komando Tinggi AD Jerman) Generaloberst (kolonel jenderal) Ludwig Beck yang pernah jadi atasannya. Dalam Operasi Valkyrie, kala Stauffenberg meledakkan bom pada 20 Juli 1944, Fellgiebel ditugasi mencegat setiap masuk-keluarnya komunikasi dari markas Hitler di Prussia Timur agar tak sampai ke Berlin. “Sebenarnya kehadiran Fellgiebel di kantor sinyal dan komunikasi di ‘Wolfschanze’ tanpa alasan yang valid dan mencurigakan karena sudah ada perwira lain yang berwenang, yakni Letnan Kolonel Sander,” tulis Hoffmann. Baca juga: Stauffenberg, Opsir "Judas" Kepercayaan Hitler Ketika bom yang dibawa dan diaktifkan Stauffenberg meledak, Fellgiebel memerintahkan semua opsir di kantor sinyal memutus semua saluran komunikasi. Sial, Fellgiebel alpa bahwa ada kantor komunikasi lain yang dipegang pasukan SS. Dari situlah Menteri Propaganda Joseph Goebbels di Berlin mendengar kejadian itu dan mengetahui bahwa Hitler masih hidup. “Fellgiebel jadi kemudian jadi jenderal pertama yang ditahan langsung di markas Hitler pada petang 20 Juli. Sampai tiga pekan ia disiksa untuk dipaksa menyebut siapa-siapa saja komplotannya. Tetapi ia bertahan dan mengaku bertindak atas nama sendiri. Ia kemudian dibawa ke Pengadilan Rakyat dan divonis hukuman mati di tiang gantung pada 4 September 1944,” tandas Hoffmann. Friedrich Olbricht General der Infanterie Friedrich Olbricht. (Bundesarchiv). Operasi Valkyrie mulanya merupakan operasi penertiban masyarakat sipil dengan pengerahan Ersatzheer (Tentara Cadangan Teritorial AD Jerman) jika masyarakat terlibat kerusuhan akibat pemboman udara Sekutu atau pemberontakan pekerja paksa di tanah Jerman. Tapi oleh komplotan Plot 20 Juli operasi ini diubah menjadi operasi penangkapan semua pejabat Partai Nazi. Otak di balik revisi itu adalah Olbricht. Perwira yang gilang-gemilang di front Polandia pada akhir 1939 dan kemudian dipindah ke Berlin sebagai kepala Staf Pasukan Cadangan di OKH itu sudah lama menyimpan kedengkian pada Hitler. Aksi pembersihan “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934) oleh Hitler yang banyak memakan korban perwira militer Jerman membuatnya tak ragu turut dalam kelompok Plot 20 Juli. Baca juga: Empat Upaya Pembunuhan Hitler yang Gagal Pasca-mendengar kabar bom meledak di markas Hitler pada 20 Juli 1944 dari Stauffenberg, Olbricht langsung meneken surat perintah digulirkannya Operasi Valkyrie untuk dijalankan pasukan Ersatzheer. “Namun ketika kudeta itu gagal, Olbricht ikut ditangkap di markasnya di Bendlerblock pada pukul sembilan malam. Generaloberst Friedrich Fromm (Panglima Ersatzheer, red. ) memerintahkan dengan segera Olbricht bersama Stauffenberg dan konspirator lainnya dihadapkan ke regu tembak. Pada tengah malam 21 Juli, ia jadi perwira pertama yang ditembak mati di halaman Bendlerblock, meski Hitler memerintahkan mereka ditangkap hidup-hidup,” ungkap Don Gregory dalam After Valkyrie: Military and Civilian Consequences of the Attempt to Assassinate Hitler . Erwin von Witzleben Generalfeldmarschall Job Wilhelm Georg Erdmann Erwin von Witzleben (kiri). (Bundesarchiv). Kegagalan demi kegagalan dialami Generalfeldmarschall Erwin von Witzleben meski sudah berkonspirasi menyingkirkan Hitler sejak 1938 dengan bergabung ke kelompok konspirasi Oster yang berisi Jenderal Ludwig Beck, Laksamana Wilhelm Canaris, Jenderal Stülpnagel, dan Jenderal Erich Hoepner. Pembangkangan Witzleben pada Hitler dipicu oleh pembunuhan perwira-perwira Jerman di “Malam Belati Panjang”. Upaya konspiratif kelompok Oster gagal. Pun dengan rencana penggerudukan Gedung Kekanseliran yang digulirkan Jenderal Hammerstein-Equord tak lama setelah rencana Oster diurungkan. Di luar rencana-rencana rahasia itu, Witzleben bersama Jenderal Gerd von Rundstedt, Jenderal Erich von Manstein, dan Jenderal Wilhelm Ritter von Leeb tetap vokal mengkritik Hitler. Imbasnya, dia dipaksa pensiun oleh Hitler meski pada November 1938 diangkat lagi karena Hitler butuh banyak perwira cakap untuk membuka tirai Perang Dunia II. Witzleben ditugasi memegang komando Tentara AD ke-1 untuk menginvasi Prancis pada 10 Mei 1940. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Setahun berikutnya, ia bahkan dipercaya menjadi panglima tertinggi Jerman di Front Barat. Namun setahun kemudian ia dicopot gegara mengkritisi Hitler soal invasi ke Uni Soviet. Dalam kelompok Plot 20 Juli, Witzleben ikut memberi dukungan. Namanya bahkan dimasukkan ke daftar Panglima Wehrmacht di pemerintahan baru seandainya Hitler berhasil dilenyapkan. Namun, Plot 20 Juli gagal membunuh Hitler. Pada 21 Juli ia ditangkap di markasya di Zossen. Setelah dipecat dari dinas kemiliteran, ia ditahan di Penjara Plötzensee, Berlin, untuk kemudian diajukan ke Pengadilan Rakyat. Oleh hakim Nazi nan kondang Roland Freisler, Witzleben divonis hukum gantung pada 7 Agustus 1944. “Anda mungkin bisa mengajukan kami ke algojo, namun dalam beberapa bulan ke depan empat kekuatan dunia yang jijik dan marah akan menghancurkan kalian selamanya dan membawa Anda masuk ke dalam sejarah sebagai penjahat mengerikan yang mestinya kami hentikan,” kata Witzleben memberi pernyataan usai divonis Freisler, dikutip Hannsjoachim Wolfgang Koch dan I. B. Tauris dalam In the Name of the Volk: Political Justice in Hitler’s Germany. Erich Hoepner Generaloberst Erich Hoepner. (Bundesarchiv). Selain Jenderal Heinz Guderian dan Marsekal Erwin Rommel, Generaloberst Erich Hoepner merupakan sosok ternama dalam dunia lapis baja. Di tengah beratnya medan akibat musim dingin yang menusuk tulang, Hoepner berhasil membawa Grup Panzer ke-4-nya berada 30 kilometer dari Moskow pada 2 Desember 1941. Namun capaian itu justru menjadi titik balik kariernya setelah Hitler menuntut ofensif tak masuk akal di Pertempuran Moskow. Sialnya, barisan infantri dari Tentara AD ke-4 pimpinan Jenderal Günther von Kluge tak mampu menyusul untuk menyempurnakan pengepungan Moskow. Hoepner pun minta Kluge menyampaikan pesan kepada Hitler bahwa sisa-sisa pasukannya terpaksa mundur. Hitler pun naik pitam dan memecat Hoepner tanpa tunjangan pensiun. Tak terima, Hoepner mengajukan gugatan hukum dan ia menang hingga Wehrmacht diwajibkan tetap membayarkan uang pensiunannya. Itu satu dari sekian faktor kebencian Hoepner pada Hitler. Hoepner lalu tak ragu mendukung kelompok Plot 20 Juli. “Jenderal Erich Hoepner salah satu partisipan Plot 20 Juli. Ia hadir di Bendlerblock bersama Jenderal Olbricht, Kolonel Stauffenberg, Kolonel Albrecht Mertz von Quirnheim, untuk membantu mensupervisi jalannya operasi dan kudeta. Tetapi ketika kudeta gagal, dia mencoba melakukan pembicaraan tertutup dengan Jenderal Fromm. Oleh Fromm, ia pun urung diajukan ke hadapan regu tembak seperti Stauffenberg dll.,” tulis Dahn Batchelor dalam The Courier. Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman Fromm sendiri kemudian dieksekusi gegara melanggar perintah Hitler untuk membawa semua antek-antek Plot 20 Juli hidup-hidup. Fromm malah memerintahkan para pelaku ditembak mati demi menutup jejak bahwa Fromm juga bersalah karena tahu akan konspirasi itu tapi diam. Nasib Hoepner dan keluarganya kemudian sangat memilukan. Di Penjara Plötzensee, Hoepner disiksa sebelum dihadapkan ke Pengadilan Rakyat sebagaimana Marsekal Witzleben. Ia dihukum mati dengan cara digantung punggungnya dengan kait daging pada 8 Agustus 1944. Istri, kakak perempuan, dan putrinya diseret ke Kamp Konsentrasi Ravensbrück. Sementara, adik lelaki dan puteranya yang berdinas di AD dibuang ke Kamp Konsentrasi Buchenwald, sebagai konsekuensi hukuman kolektif Sippenhaft. Wilhelm Canaris Admiral Wilhelm Franz Canaris. ( dhm.de ). Kecakapannya sebagai perwira intelijen sejak Perang Dunia I membuat Laksamana Wilhem Canaris dipercaya Hitler sebagai Kepala Abwehr (Dinas Intelijen Militer Jerman) sejak 1935, menggantikan Laksamana Madya Conrad Patzig. Posisi inilah yang dimanfaatkan kelompok konspirator Jenderal Ludwig Beck dkk. untuk mengajaknya bergabung. Canaris ternyata punya pemikiran sama dengan Beck dan Jenderal Hans Oster terkait rencana Hitler mencaplok Cekoslovakia. Agresi Hitler ke Cekoslovakia menurut mereka bisa memicu perang dahsyat yang justru akan menghancurkan Jerman. Pemikiran mereka lantas jadi kenyataan. Baca juga: Rudeltaktik , Kawanan Serigala Berburu Mangsa Bara peperangan yang dilancarkan Hitler nyatanya betabur tindak kejahatan kemanusiaan. Berulang kali Canaris protes pada Panglima Tertinggi Tentara Jerman Marsekal Wilhelm Keitel terkait kebrutalan prajurit SS Einsatzgruppen, namun tak digubris. “Abwehr tak ada hubungannya sama sekali dengan persekusi terhadap Yahudi. Bukan urusan kami dan kami menjauhkan diri dari hal itu sama sekali,” tutur Canaris di sebuah konferensi militer di Berlin, Desember 1941, dikutip Richard Breitman dkk dalam US Intelligence and the Nazis. Jika Oster dkk. melancarkan gerakan komplotannya di dalam, Canaris bermain di luar lewat jalinan kontak dengan musuh, mulai dari kelompok mata-mata Polandia hingga Dinas Intelijen Inggris MI6. Canaris juga menyebar mata-mata di pantai timur Amerika Serikat dan membuka kontak dengan agen-agen Inggris di Paris, Spanyol, Gibraltar, dan Zürich. Semuanya dilakukannya guna mengetahui apakah Sekutu bersedia berdamai jika Hitler dilenyapkan. “Di Paris Canaris disebutkan menjalin kontak dengan para agen Inggris. Salah satunya di Gereja 127 Rue de la Sante, di mana dia menemui agen intel Kolonel Claude Olivier. Canaris ingin tahu apa syarat untuk damai jika Jerman menyingkirkan Hitler. (Perdana Menteri Inggris, Winston) Churchill membalas dalam komunikasi itu dengan sederhana: menyerah tanpa syarat,” ungkap Richard Bassett dalam Hitler’s Spy Chief: The Wilhelm Canaris Betrayal. Tetapi akhirnya lewat laporan-laporan Sicherheitdienst, dinas intelijen SS pesaing Abwehr, Canaris ketahuan membangkang. Abwehr pun dibubarkan Hitler pada Februari 1944. Canaris dijadikan tahanan rumah pada Juni 1944, hingga tak bisa terlibat langsung dalam Plot 20 Juli. Ketika buku catatan rahasia Canaris ditemukan dan disita, terbukalah bahwa bukan hanya gerombolan Plot 20 Juli yang hendak melenyapkan Hitler, namun juga kelompok Oster sebelum Perang Dunia II. Canaris bersama Oster dicap pengkhianat dan dijebloskan ke Kamp Konsentrasi Flossenbörg sebelum diajukan ke Hauptamt SS-Gericht (pengadilan khusus SS) dan divonis bersalah. Sebagaimana Oster, Canaris ditelanjangi sebelum diseret ke tiang gantung di halaman kamp konsentrasi pada 9 April 1945. Baca juga: Rekayasa Hoax Mengelabui Hitler

  • Gaya Kritik Media Zadul

    Istana Cipanas 7 Juli 1953. Hartini resmi menjadi istri ke-4 dalam hidup Presiden Sukarno. Kendati acara pernikahan itu dirahasiakan, namun tak ayal kabarnya tetap tertiup ke luar Istana Cipanas. Orang-orang kemudian sibuk memperbicangkannya. Organisasi Persatuan Istri Tentara (Persit), Kongres Wanita Indonesia (Kowani), dan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) melakukan demonstrasi menolak pernikahan tersebut. Perwari bahkan mendukung penuh keputusan istri pertama Sukarno, Fatmawati, keluar dari Istana Negara. Seperti tak mau kalah dengan para aktivis organisasi-organisasi perempuan itu, jurnalis perempuan senior S.K. Trimurti pun angkat pena. Di Suluh Indonesia , harian kaum nasionalis yang menjadi pendukung utama Presiden Sukarno, Trimurti “menghabisi” Bung Karno dalam suatu tulisan berjudul “Bandot Tua Memakan Daun Muda". Tulisan itu membuat geger istana. Bukan saja karena yang mengkritik adalah pengikut setia Bung Karno sejak era pergerakan melawan kolonialisme Belanda, namun juga kalimat-kalimatnya menohok perasaan Bung Besar. Namun yang terkena getah langsung dari tulisan tersebut adalah Suluh Indonesia . “Sebagai wartawan Suluh Indonesia yang mangkal di Istana, saya kemudian dilarang untuk datang ke Istana Negara selama tiga bulan oleh Kolonel R.H. Sugandhi, salah satu ajudan Presiden Sukarno,” kenang Satya Graha, eks awak koran yang berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia (PNI) itu. Soal kritik ini, sebelumnya kejadian yang lebih seru dialami oleh Rosihan Anwar, jurnalis terkemuka dari Pedoman . Dia pernah diintimidasi oleh Menteri Perekonomian era Kabinet Sukiman yakni Soejono Hadinoto. Ceritanya, suatu hari di tahun 1951,  Pedoman via Kili-Kili (tulisan pojok khas koran tersebut) mengkritik kebiasaan Soejono yang kerap menggunakan voorrijders lengkap dengan sirene setiap keluar dari kantornya. “Buat zaman itu, hal seperti ini dianggap sebagai tidak biasa,” ungkap Rosihan Anwar dalam Menulis dalam Air: Sebuah Otobiografi . Dikritik demikian, Soejono tersinggung. Beberapa hari usai penayangan tulisan pojok itu, sekitar pukul dua siang, tetiba Soejono muncul dengan dua pengawalnya di kamar redaksi Pedoman . Dia kemudian menghampiri Rosihan yang saat itu tengah menulis. Sambil melotot, dia memarahi Rosihan. “Ayo kalau kamu laki-laki, mari kita sekarang juga berkelahi! Aku tantang kamu!” teriaknya. “Ada apa ini?” jawab Rosihan dalam nada tenang. “Ada apa?! Seperti tidak tahu. Sudah menulis tentang orang, kok bertanya ada apa? Ayo berani enggak berkelahi dengan aku?!” ujar Soejono masih dalam nada keras. Rosihan tidak meladeni mau Soejono. Alih-alih menerima tantangan, dia malah menyarankan Soejono untuk menggunakan prosedur hak jawab kalau memang merasa kritik Pedoman tidak benar. “Ah, saya tidak mau berkelahi. Jika memang tidak senang dengan tulisan itu, silakan menulis sanggahannya,” jawab Rosihan. “Ja, je bent een vis wift. Je bent een lafaard (Ya, kau perempuan yang hanya banyak ngomong. Kau seorang penakut),” ledek Soejono. “Terserah!” kata Rosihan. Sejurus lamanya Soejono Hadinoto berdiri di depan meja Rosihan dengan tatapan mata merah menyala. Rosihan sendiri hanya meladeni dengan sikap tenang-tenang saja. Mungkin karena bosan atau merasa tidak diladeni, pada akhirnya Soejono dan dua pengawalnya pergi meninggalkan redaksi Pedoman. Rupanya dendam sang mentri belum juga sirna. Beberapa hari kemudian saat menghadiri suatu resepsi, Rosihan bersirobok dengannya di beranda belakang Istana Negara. Refleks Soejono kembali melayangkan tantangan. “Ayo bilang, kapan kita berduel dengan badik dan di dalam sarung. Ayo, berani?!” gertaknya. Rosihan hanya mengangkat bahu seraya menjawab: “ Dat is te middlelueuws voor mij, nee hoor (Cara itu bagi saya terlalu abad pertengahan, saya tidak mau melakukannya).” Sejak itu, Soejono tak pernah lagi membahas soal “ajakan berduel” tersebut. Ketika dia dipindahkan ke Kementerian Luar Negeri, dia malah menjadi seorang kawan yang baik untuk Rosihan. Gegara tulisan pojok pula, dua media ternama saat itu, Merdeka dan Indonesia Raja,  pernah saling hantam. Tulisan pojok Merdeka yang menyebut diri sebagai dr. Clenik menyebut gaya tulisan Mas Kluyur , tulisan pojok kepunyaan Indonesia Raja , sebagai gaya straatjongen (berandalan). Mas Kluyur membalas serangan itu dengan pertanyaan: mengapa setiap kritik atau bentrokan pendapat harus dimaki dengan kata-kata kasar oleh dr. Clenik ? Besoknya dr. Clenik malah menyebut Mas Kluyur dengan makian baru: straatmeid (pelacur). Kili-Kili sendiri menyebut gaya dr. Clenik itu sebagai “upaya usang” untuk menaikan oplah. Tahun 1964, “pertempuran berdarah-darah” juga terjadi antara Suluh Indonesia vs Harian Rakjat . Adalah Satya Graha, wakil pemimpin redaksi Suluh Indonesia , yang mendengar pada sutau hari mendapat laporan bahwa ratusan eksemplar korannya telah ditemukan berserakan sepanjang jalur kereta api di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari para informan terpercaya, Satya Graha mendapat kabar bahwa itu merupakan ulah para buruh kereta api yang berafiliasi ke SOBSI, organisasi buruh yang terkait dengan PKI. Mereka mendapat perintah dari pihak  Harian Rakjat , koran kiri saingan berat  Suluh Indonesia . “Cara mereka memang kasar, maka saya putuskan untuk membalas aksi mereka tersebut,” kenang Satya. Dia lantas meminta tolong kepada para buruh kereta api yang berafiliasi dengan KBM, organisasi buruh onderbouw  Partai Nasional Indonesia, untuk “menahan” koran  Harian Rakjat  supaya terlambat datang ke pelosok-pelosok tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Dibandingkan aksi mereka, cara saya itu bisa dikatakan masih halus lho,” kata Satya. Rupanya aksi balasan tersebut sampai ke telinga Presiden Sukarno, yang secara pribadi memang dekat dengan Satya. Maka pada suatu pagi, usai sarapan, Sukarno pun memanggil Satya. “Satya, kamu sekarang sudah mulai  komunistophobia  juga ya?” selidik Bung Karno “Lho, maksudnya bagaimana, Pak?” “ Aku dengar kamu mulai menyusahkan  Harian Ra k jat. ” Mendengar jawaban Bung Karno tersebut, Satya langsung maklum: dia telah dilaporkan oleh orang-orang PKI. Tanpa ragu dia lantas menceritakan duduk persoalan pertamanya mengapa semua itu terjadi. Lantas bagaimana reaksi Bung Karno? “Dia diam saja, tapi sepertinya paham dengan apa yang saya sampaikan,” ujar Satya. Suluh Indonesia  memang kerap memilih “jalur keras” terkait dengan PKI. Saat ramai-ramainya aksi sepihak yang dilakukan oleh aktivis-aktivis tani komunis, koran kaum nasionalis itu pun tampil mengecam aksi-aksi tersebut sebagai “revolusi kebablasan”.

  • Pulau Penyengat, Mas Kawin Sultan Melayu

    Luasnya yang tak sampai 2 km membuat Pulau Penyengat bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Kendati mungil, Kerajaan Melayu Riau-Lingga pernah membangun ibu kota di sini. Setidaknya 46 peninggalan cagar budaya terdapat di Pulau Penyengat. Ada yang masih utuh, tapi ada pula yang hanya pondasi atau dinding, seperti Masjid Raya Sultan Riau, Istana Raja Ali Yang Dipertuan Muda VIII, perigi atau sumur, dan Benteng Bukit Kursi, serta bekas dermaga kuno. "Beragam bangunan peninggalan sejarah yang terkait dengan peranan Pulau Penyengat sebagai pusat pertahanan, pemerintahan masa Kerajaan Riau-Johor dan Riau-Lingga," ujar Surjadi, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, dalam seminar daring berjudul "Warisan Budaya Pulau Penyengat, Tantangan, dan Peluang Pelestarian serta Pengelolaannya" yang diadakan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat . Karenanya Pulau Penyengat dinobatkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional dua tahun lalu. "Ini satu-satunya pulau seluas 1,12 km persegi yang pernah menjadi pusat kerajaan besar, bukan kerajaan kaleng-kaleng," kata Surjadi. Titik Penting Kesejarahan Marsis Sutopo, arkeolog Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, menjelaskan bahwa Kerajaan Melayu di Kepualauan Riau berasal dari Melayu di Johor, di ujung Semenanjung Malaka. Ketika terjadi pertempuran dengan Belanda, pusat Kerajaan Melayu pindah ke Kepulauan Riau yang pusatnya di Pulau Bintan pada awal abad ke-18. Dari sana, Sultah Mahmud Syah III memindahkan pusat pemerintahan ke Daik, Pulau Lingga pada 1787. Lalu pindah lagi ke Pulau Penyengat pada awal abad ke-20, dari tahun 1900–1911. "Ada peperangan dengan Belanda, Pulau Penyengat ditinggalkan,"  kata Marsis . Ketika membangun Daik Lingga, Sultan Mahmud Syah III juga membangun Pulau Penyengat. Konon, pulau ini menjadi mas kawin saat sultan menikah dengan Engku Putri. "Terkenal sebagai Pulau Mas Kawin, karena saat Sultan Mahmud Syah meminang Raja Hamidah sebagai permaisuri, ia menjadikan Pulau Penyengat sebagai mas kawin, walaupun konteks mas kawin ini masih dalam perdebatan," kata Surjadi. Namun, beberapa bangunan di Pulau Penyengat sengaja dihancurkan supaya tak diambil alih Belanda. "Dalam sejarahnya ada proses bumi hangus waktu Belanda mengambil alih," kata Surjadi. Pulau Penyengat juga menyimpan titik kesejarahan penting terkait proses pemisahan kekuasaan Inggris dan Belanda di semenanjung. Pasca wafatnya Sultan Mahmud Syah III di Lingga , Sultan Tengku Abdul Rahman menjadi penggantinya. Padahal, putra sulung sultan adalah Tengku Hussin. Raja Hamidah sebagai pemegang regalia kerajaan tak merestui penobatan Tengku Abdul Rahman. Ia menolak menyerahkan regalia sebagai tanda ditabalkannya sultan. Menurutnyapentahbisan Tengku Abdul Rahman sebagai raja melanggar pakem kerajaan. Inggris memanfaatkan situasi itu. Ketika Inggris dan Belanda membuat perjanjian di London pada 17 Maret 1824, Inggris mengangkat Tengku Hussin sebagai Sultan Johor di Singapura. "Ini yang akhirnya dimanfaatkan Inggris, yaitu ditabalkan Sultan Hussin di Singapura. Ini awal pecahnya Johor menjadi Riau-Lingga," kata Surjadi. Sedangkan Sultan Abdul Rahman Syah bertahan sebagai Sultan Riau-Lingga dari1824–1832. Persoalan Tata Kota Kuno Sayangnya, selama ini belum banyak yang mempelajari kota kuno di Pulau Penyengat. Tujuannya untuk merekonstruksi tata letak, misalnya rumah raja, alun-alun, dan rumah-rumah pejabat tinggi pada masa lalu. "Ada bangunan istana, ini pusat istana atau rumah sultan? Ada juga bekas situs kedaton," ujar Marsis. Dalam hal ini, rekonstruksi fungsi ruang juga memungkinkan untuk dikerjakan. Pasalnya sisa-sisa bangunan masih banyak yang bisa ditemukan. Berbeda dengan di Daik, sisa istana tak lagi utuh. Kendati bangunan lainnya, seperti masjid sultan masih ada. Sedangkan di hulu sungai di Pulau Bintan, sisa bangunannya hanya sedikit. Lebih sulit untuk membayangkan bagaimana tata kotanya. "Bisa dibandingkan (Pulau Penyengat, red. ) dengan tata kota di Daik. Dari sana bisa diambil kesimpulan, bagaimana tata kota pada masa Melayu Kepulauan, baik di Daik maupun di Penyengat," kata Marsis. Selama ini kajian di Pulau Penyengat kebanyakan berkaitan dengan masalah zonasi bagi perlindungan situs-situs cagar budaya. "Ini tantangan baru untuk melakukan kajian di Pulau Penyengat. Tata kota Pulau Penyengat sebagai pusat kerajaan tentu punya,"  u jar Marsis. Menurut Marsis, peristiwa lokasi pemerintahan Melayu Johor yang berubah menjadi Riau-Lingga Daik merupakan hal menarik. Tantangannya membangun narasi Kerajaan Melayu yang waktu itu bisa menguasai dunia maritim atau laut di sekitar Selat Malaka dan Kepulauan Riau sendiri. "Ini hal menarik," ujar Marsis, "Ini bukan kerajaan daratan tapi yang warna lautnya lebih banyak, ada pelabuhannya. Ini pusat kerajaan yang berbasis pada kelautan."

  • Proyek Rutin Hantu PKI

    Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) tampaknya tak pernah absen mewarnai perpolitikan Indonesia. Setiap tahun, isu ini dipakai oleh berbagai kalangan untuk berbagai kepentingan. Dan jualan isu ini sejak Orde Baru hingga Reformasi masih saja laku. Yang masih hangat misalnya pada demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Rabu (24/6/2020) itu diwarnai aksi pembakaran bendera PKI dan bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai palu arit yang telah dilarang sejak 1966 itu disangkutpautkan dengan munculnya RUU HIP. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam, menyebut bahwa fenomena ini berkaitan dengan pemilihan presiden 2024 nanti. Asvi menengarai pihak-pihak yang berkepentingan menghidupkan isu komunisme adalah bagian dari rezim Orde Baru. Mereka hendak menjadikan isu komunisme kembali menjadi musuh bersama. “Jadi, beberapa pihak yang saya lihat, dengan sengaja, dengan masif, menggoyang masyarakat dengan mengatakan kebangkitan kembali komunisme,” kata Asvi dalam dialog sejarah “Ngeri-Ngeri Kebangkitan PKI” live  di saluran Facebook  dan Youtube   Historia.id , Selasa 7 Juli 2020. Sejak Orde Baru Sejak Soeharto mendapuk diri sebagai presiden menggunakan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), PKI dan ideologi komunisme menjadi yang pertama dibumihanguskan melalui TAP MPRS No. XXV Tahun 1966. TAP MPRS ini tidak memberi peluang sama sekali bagi organisasi yang berideologi komunis. Namun, tak hanya sampai di situ, perang melawan komunisme kemudian secara bertahap dilancarkan melalui beragam jalan. Dari buku sejarah, film dan produk kebudayaan lainnya, serta berbagai propaganda yang bersumber dari satu pihak, yakni pemerintah Orde Baru sendiri. Asvi menyebut isu ini kemudian berkembang dan digunakan rezim untuk memberantas orang-orang yang kritis terhadap pemerintah. Tuduhan komunis pada era Orde Baru menjadi tuduhan yang akan berakibat fatal. “Mereka dengan mudah dituduh komunis. Isu PKI digunakan untuk, misalnya mengambil tanah dari rakyat atau membeli tanah dengan murah. Dan itu sebabnya pada masa Orde Baru, setiap menjelang tanggal 30 September pasti ditemukan bendera palu arit, kaos palu arit, dan semacamnya,” kata Asvi. Asvi menyebut, ketika Orde Baru runtuh, ternyata propaganda antikomunis dan PKI tidak turut hilang. Berbagai pihak justru memanfaatkan isu yang dirintis Orde Baru itu untuk kepentingannya masing-masing. “Itu proyek rutin aparat keamanan pada masa Orde Baru,” kata Asvi. “Pada era Reformasi ini, perubahannya bertambah banyak para pelaku yang punya kepentingan, mengangkat lagi isu komunisme.” Lebih jauh lagi, Orde Baru meninggalkan stigma terhadap mereka yang dituduh terlibat G30S, bahkan menyeret anak cucu mereka. Stigma ini menjadi senjata untuk menyerang, misalnya, partai yang memiliki kader yang orang tuanya terkait PKI. Memutus Rantai Stigma Stigma dan jualan isu PKI sebenarnya bisa diredam. Pasalnya, sejak Reformasi banyak buku dan kajian yang mengulas Gerakan 30 September 1965 sebagai narasi sejarah baru dalam melihat peristiwa tersebut. Banyak pula kesaksian dari orang-orang yang dicap PKI, dibuang ke Pulau Buru, dan mereka yang tak bisa pulang ke Tanah Air. Kesaksian mereka juga dapat menjadi alternatif dalam melihat peristiwa 1965. “Bagaimana pengalaman dia diasingkan, dibuang ke Pulau Buru itu membuka sejarah baru. Membuka pengetahuan orang tentang apa yang sebetulnya terjadi pada masa Orde Baru. Jadi, ingatan itu harus dipulihkan kembali, diajarkan di sekolah, sehingga orang tahu dengan apa yang terjadi pada masa itu. Itu salah satu cara untuk menghapuskan stigma,” kata Asvi. Upaya lain juga telah dilakukan seperti pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi hingga pengadilan HAM ad hoc . Namun, usaha itu harus melewati banyak hambatan.   Menurut Asvi, persoalan 1965 diselesaikan dari yang mudah dulu, seperti kasus eksil. “Seyogianya pemerintah di dalam hal ini presiden mengatakan bahwa hal itu pernah terjadi pada masa lalu. Kalau tidak mau minta maaf, diakui bahwa sudah terjadi kekeliruan pada masa lalu,” ujar Asvi. Asvi menyebut pula orang-orang yang dibuang tanpa proses pengadilan ke Pulau Buru. Para penyintas yang belasan tahun dipenjara dan melakukan kerja paksa itu hendaknya direhabilitasi “Jadi, hendaknya pemerintah merehabilitasi mereka. Ini menurut saya lebih mudah ketimbang menyelesaikan pembunuhan massal tahun ‘65 yang menyangkut aparat keamanan alat negara tetapi juga ada masyarakat di situ,” sebut Asvi. Selain itu, untuk menghilangkan stigma, perlu juga mengenalkan generasi muda pada sejarah yang lebih jernih. Melalui pendekatan sejarah yang berimbang terkait isu 1965, generasi muda diharapkan bisa terlepas dari propaganda yang digencarkan sejak Orde Baru. Perlu lebih banyak situs-situs yang mewartakan sejarah mengingat sudah banyak buku-buku dan kajian yang semakin memperjelas peristiwa 1965.

  • Hobi dan Kesukaan Bung Karno

    Sukarno sebagai manusia memiliki hobi dan kesukaan lain. Ini adalah hobi dan kesukaan Bung Besar.

  • Ketika Ali dan Hoegeng Menolak Permintaan Bung Karno

    Di puncak kekuasaannya, Sukarno memiliki serenceng gelar kebesaran. Mulai dari Proklamator Kemerdekaan, Pemimpin Besar Revolusi, hingga Penyambung Lidah Rakyat.  Kendati demikian, dengan kuasa yang dimilikinya Bung Karno tidak selalu bisa berbuat sekehendaknya. Apalagi untuk kepentingan keluarganya. Ali Sadikin menjadi salah seorang pejabat yang berani menolak permintaan Sukarno. Pada periode 1964—1966, Ali Sadikin menjabat Menteri Koordinator Urusan Maritim dalam Kabinet Dwikora I. Sebagai menteri dalam kabinet, Ali Sadikin kerap kali berurusan dengan presiden. “Ada yang mengatakan bahwa dulu kemauan dan kehendak Bung Karno tidak bisa dicegah. Pengalaman saya, ya, bisa,” ujar Ali Sadikin dalam Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi yang disusun Ramadhan K.H.   Kepentingan Mertua Sekali waktu Presiden Sukarno memanggil Menko Urusan Maritim Ali Sadikin. Rupanya Bung Karno meminta bantuan Ali Sadikin untuk kepentingan sang mertua, Hasan Din. Menurut Ali, Bung Karno tidak bilang harus dipenuhi, tapi bertanya, “Bisa nggak ?” Alih-alih menuruti, Ali malah menimbang-nimbang. Ali Sadikin membawa berkas-berkas Hasan Din ke kantornya. Bersama para stafnya, Ali Sadikin mempelajari masalah dalam berkas tersebut. Ternyata Ali Sadikin tidak dapat memenuhi permintaan Sukarno untuk membantu proyek mertuanya. Setelah Ali Sadikin menjelaskan duduk persoalannya, Bung Karno berkata, “Baiklah kalau begitu.” Selesai persoalan. “Ini orang benar-benar hebat. Ia tidak mempergunakan kekuasannya sebagai presiden untuk soal-soal begitu,” kenang Ali Sadikin. Walau terpaksa menolak, sebagai pembantu presiden Ali Sadikin merasa dihargai oleh Sukarno. Menurut Ali, Sukarno sama sekali tidak marah. Apalagi sentimen. Buktinya Bung Karno masih sering mengajak Ali Sadikin bersama istrinya, Nani berlenso ria di Istana. Ali Sadikin bahkan dipercaya Sukarno untuk memimpin ibu kota Jakarta sebagai gubernur pada 1966. Melayani Istri Kejadian yang persis serupa juga pernah dialami Hoegeng Iman Santoso. Pada 1965, Bung Karno mengundang Hoegeng beserta istrinya Mery ke Istana Bogor. Saat itu, Bung Karno meminta Hoegeng untuk mengisi salah satu kementrian baru yang akan dibentuk. Hoegeng bersedia. Namun setelah itu, Bung Karno mengajukan beberapa pertanyaan kepada Mery mengenai para istrinya.  “Mery kenal dengan Bu Fatmawati?” kata Sukarno “Kenal, kami satu pengajian,” jawab Mery. “Bagaimana dengan Haryati? tanya Sukarno lagi. “Kenal,” ujar Mery, “soalnya waktu di Surabaya, rumah Haryati berhadapan dengan rumah kami.” “Lalu dengan Bu Hartini?”   “Belum.” “Bu Dewi?” “Belum juga.” “Nah, Mery,” pinta Sukarno, “Kamu layani salah satu istri saya yang Mey kenal.” Hoegeng dan Mary sama terdiam mendengar permintaan Sukarno. Menurut Hoegeng, zaman itu pelayanan yang habis-habisan terhadap istri Bung Karno maupun istri menteri menjadi suatu mode. Pelayanan itu bahkan dibarengi dengan membeo-nya cara hidup para istri menteri. Sementara itu, Hoegeng tahu betul istrinya tidak ingin larut dalam mode semacam itu. Semua istri Bung Karno dianggapnya sama saja Akhirnya, Mery menolak secara halus permintaan Sukarno untuk melayani istrinya. Mery beralasan kalau hanya meladeni satu orang, maka tidak enak dengan yang lain. Perlakuan demikian akan menimbulkan ketegangan nantinya. Mendengar itu, Bung Karno hanya mengangguk seraya berkata, “Ya, itu betul.” Jawaban tersebut tentu diluar dugaan Mery dan Hoegeng. Padahal, mereka telah siap pasang telinga apabila mendengar Bung Karno marah.    “Dari jawaban Bung Karno terhadap pendirian kami, saya menyimpulkan betapa demokratnya beliau. Ia tidak marah dengan keterusterangan kami,” kata Hoegeng dalam wawancara dengan wartawati Tempo  Leila S. Chudori pada 22 Agustus 1992, sebagaimana terkisah dalam jilid ketiga  Memoar Senarai Kiprah Sejarah . Tidak lama setelah kejadian itu, Hoegeng pun ditunjuk Sukarno sebagai Menteri Iuran Negara (setara Dirjen Pajak) dalam Kabinet Dwikora II. Selepas jadi menteri Sukarno, Hoegeng kemudian meniti puncak kariernya di kepolisian sebagai Kapolri periode 1968—1971. Dia dikenal sebagai polisi jujur dan anti suap. “Begitu kagumnya saya pada Bung Karno,” kenang Hoegeng, “Buat saya, ia adalah pemimpin yang demokrat dan seorang Bapak Negara.”

  • Saat Natsir Gagal Merangkul PNI

    Pada 1950, setelah berhasil mengamankan pemerintahan pasca pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS), Mohammad Natsir resmi melepas jabatan Menteri Penerangan di Kabinet Hatta I (1948-1949). Dia segera mengalihkan fokus kepada urusan lain, yakni mengemban amanah sebagai ketua Partai Masyumi. Natsir bertekad menjadikan partai berasas Islam itu garda terdepan perjuangan. Namun di tengah upaya tersebut, Natsir harus membuat keputusan yang sulit. Pada 22 Agustus 1950 di Istana, Presiden Sukarno menyampaikan keputusannya menunjuk Natsir menjadi formatur kabinet. Menurut Lukman Hakiem dalam Biografi Mohammad Natsir: Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan,  berdasar keputusan muktamar Masyumi tahun 1949, ketua partai dilarang menduduki jabatan di pemerintahan, termasuk menjadi perdana menteri. “Natsir merespon keputusan presiden itu dengan mengatakan bahwa hal tersebut akan dia musyawarahkan dulu dengan pimpinan partai Masyumi. Sesudah mendapat persetujuan dari pimpinan partai, keesokan harinya Natsir kembali menemui Bung Karno, dan menyatakan kesiapannya melaksanakan tugas dari presiden,” tulis Lukman. Dalam melaksanakan tugas formatur kabinet, Natsir dibantu oleh dua pimpinan Masyumi lain: Sjafruddin Prawiranegara, dan K.H. Abdul Wahid Hasyim. Ketiganya sepakat membentuk kabinet yang akan diisi oleh sebanyak mungkin partai dan sebesar mungkin suara di parlemen. Mereka merasa harus mendapat dukungan luas agar sifat kesatuan nasional dari kabinet yang akan disusun benar-benar tercermin sebagai persatuan bangsa Indonesia. Selain Masyumi, mereka juga merasa perlu membuat basis dukungan dari Partai Nasional Indonesia (PNI) agar kebinet berdiri kokoh. Ketika Natsir menyampaikan pemikirannya itu kepada Sukarno, presiden merasa senang dan mendoakan agar Natsir dapat berhasil mengemban tugasnya.  Ternyata menjalankan keinginan baik itu tidaklah mudah bagi Natsir. Menurut Remy Madinier dalam Islam and Politics in Indonesia: The Masyumi Party Between Democracy and Intergralism , sikap PNI seringkali bersebrangan dengan Masyumi, begitu pula sebaliknya. Sulit rasanya membuat kedua partai ini menyepakati sebuah hal bersama-sama. Banyak perundingan yang berujung perdebatan keras di antara keduanya, seperti ketika koalisi PNI dan PSI menolak usulan Masyumi soal bentuk Negara Kesatuan yang seharusnya dikelola dalam sistem pemerintahan presidensil bukan parlementer. Di dalam kabinet yang akan dibentuk Natsir, PNI menuntut hak yang sama dengan Masyumi. Bukan saja soal jumlah kursi, tetapi juga dalam menentukan posisi mana saja yang hendak mereka isi. PNI misalnya, meminta jatah Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan. “Tuntutan yang tentu saja tidak bisa dipenuhi oleh Natsir, sebab bagaimanapun dirinyalah (sebagai Masyumi) yang ditunjuk oleh presiden menjadi formatur kabinet. Sebagai formatur, tentu saja Masyumi harus mendapat hak lebih, dibanding partai lain,” tulis Lukman. Demi tercapainya kabinet ideal yang dicita-citakan, Natsir mencoba menurunkan ego kepartaiannya. Dia memilih berdialog dengan pimpinan PNI untuk mencari solusi terbaik dari permintaan kursi tersebut. Beberapa kali Natsir menghubungi dua pimpinan PNI, Sidik Djojosukarto dan Sarmadi Mangungsarkoro. Tetapi tidak mudah menemui keduanya. Pimpinan PNI lainnya, Mr. Soewirjo, meski berhasil dihubungi selalu berdalih tidak bisa asal memutuskan dan perlu kesepakatan partai. Akibatnya, upaya berunding dengan PNI selalu terhambat. Ternyata Presiden Sukarno tidak begitu saja lepas tangan dalam upaya pembentukan kabinet ini. Dia mencoba mendukung Natsir karena rupanya presiden tidak ingin Natsir gagal dalam mewujudkan kabinet yang menurutnya sangat baik tersebut. Beberapa kali Sukarno mengundang Natsir dan beberapa pemimpin partai untuk mendiskusikan pembentukan kabinet itu. Meski para pimpinan beberapa partai sepakat menjalani koalisi, Natsir tatap tidak puas selama PNI belum bergabung memberi dukungan. Tanpa keikutsertaan partai yang dibentuk Sukarno itu, Natsir merasa penyusunan kabinetnya tidak akan ideal. Karena tidak kunjung mendapat dukungan PNI, Natsir merasa telah gagal menjalankan tugas. “Apa salah saya kepada PNI?” keluh Natsir kepada Anwar Harjono seperti ditulis Perjalanan Politik Bangsa: Menoleh ke Belakang Menatap Masa Depan . Natsir lalu menghadap Sukarno bermaksud mengembalikan mandat yang diberikan kepadanya. Tetapi presiden menolak. Bantuan lain malah diberikan Sukarno dengan menawarkan diri berdiskusi dengan Djojosukarto dan Mangunsarkoro. Upaya itu juga ternyata mengalami kegagalan. Natsir kembali menemui Sukarno dengan maskud yang sama seperti sebelumnya. Namun Sukarno tetap pada pendiriannya menunjuk Natsir sebagai formatur. Natsir mulai ragu dengan keputusannya menjalankan kabinet. Melihat hal itu, Sukarno menegaskan keputusannya: membentuk kabinet dengan atau tanpa PNI di dalamnya. Menurut Lukman, itulah kali pertama Sukarno “meninggalkan” PNI untuk memberikan sokongan penuh kepada Natsir dalam pembentukan kabinetnya. “Di masa itu, Sdr. Natsir masih tetap favorit Bung Karno,” kata Mohammad Hatta seperti diutarakan Yusuf Abdullah Puar dalam Muhammad Natsir: 70 Tahun Kenang-Kenangan Kehidupan dan Perjuangan . Akhirnya pada 6 September 1950, Kabinet Natsir terbentuk. Sehari setelahnya, Presiden Sukarno secara resmi mengumumkan pendirian kabinet pertama setelah Indonesia resmi memakai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  • Selusin Jenderal yang Disingkirkan Hitler (Bagian I)

    BUNUH diri atau dibunuh. Dua opsi getir dari Adolf Hitler itu diterima Ernst Röhm di selnya di Penjara Stadelheim, Munich pada 1 Juli 1934 dari dua opsir Schutzstaffel (SS) Brigadeführer Theodor Eicke dan Obersturmbannführer Michael Lippert. Röhm, mantan stabschef (setara kolonel jenderal) pasukan Sturmabteilung (SA, sayap militer Partai Nazi), lantas diberi sepucuk pistol Browning dengan sebutir peluru. “Jika saya ingin dibunuh, biar Adolf sendiri yang melakukannya!” kata Röhm menantang kedua opsir itu sembari menepuk dada telanjangnya, dikutip William L. Shirer dalam The Rise and Fall of the Third Reich. Mendengar itu, Eicke dan Lippert terpaksa menembak sang menteri zonder portfolio di tempat. Melayanglah nyawa mantan tangan kanan Hitler di sore itu, sekira pukul 14.20. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Röhm ditangkap dalam operasi Nacht der langen Messer atau “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934), operasi gerakan pembersihan SA yang dilancarkan Hitler yang baru setahun naik jadi kanselir. Röhm yang penyuka sesama jenis alias gay itu memang bukan jenderal lulusan akademi militer. Penyingkiran mantan ketua SA itu berbuntut pada “pembersihan” jenderal-jenderal lain yang dianggap anti-Nazi dalam lingkaran rezim. Pembersihan dimulai dari sekadar dinonjobkan hingga dieksekusi. Berikut enam dari selusin jenderal di antaranya: Kurt von Schleicher General der Infanterie Kurt Ferdinand Friedrich Hermann von Schleicher, Kanselir Jerman sebelum Hitler (Foto: Bundesarchiv) Jenderal jebolan Akademi Militer Prussia yang pada era pemerintahan Republik Weimar menjabat Kanselir Jerman ini terpaksa legowo ketika Presiden Paul von Hindenburg melengserkannya untuk digantikan Hitler pada 1933. Tetapi Schleicher masih menjajal peruntungannya untuk masuk kabinet Hitler dengan mencoba memediasi konflik antara Röhm, ketua SA, dengan sejumlah perwira militer. Tetapi bukannya simpati, Hitler malah memasukkannya ke daftar “pembersihan” bersama Röhm. Menukil John W. Wheeler-Bennett dalam Nemesis of Power: The German Army in Politics, 1918-1945 , Hitler punya dua motif untuk menyingkirkannya. Pertama , untuk memutus gangguan para simpatisan Schleicher di kemiliteran Jerman dan kedua , Schleicher sebelumnya sering mengkritik kabinet Hitler. Baca juga: Aksi Gila Michael Wittmann si Jago Tank Jerman Alasan Schleicher mengkritik yakni, agar ia bisa masuk ke kabinet. Ia bahkan pernah  dua kali mengirim surat berisi daftar nama-nama yang mestinya masuk kabinet Hitler, melalui perantaraan kolega setianya, Generalmajor Ferdinand von Bredow, kepala Abwehr (Dinas Intelijen Militer Jerman). Hitler yang terusik pun memerintahkan Direktur Gestapo Obergruppenführer (setara kolonel jenderal) Reinhard Heydrich untuk “membereskannya”. Perintah itu lantas dioper ke bawahannya, Johannes Schmidt. Saat tengah menerima telepon dari temannya pukul 10.30 usai sarapan di vilanya di Postdam pada 30 Juni 1934, Schleicher membukakan pintu untuk tamunya. Seketika dua timah panas menembus tubuhnya hingga ambruk. Elisabeth istrinya yang histeris dan langsung berlari ke arah Schleicher, turut dieksekusi Schmidt. Ferdinand von Bredow Generalmajor Ferdinand von Bredow, kepala Abwehr yang dilenyapkan Hitler (Foto: Bundesarchiv) Dari sekian perwira dalam pemerintahan Kanselir Schleicher (1932-1933), Generalmajor Von Bredow merupakan yang paling setia dengan menjabat sebagai wakil menteri pertahanan. Bredow pula yang acap jadi pengantar surat Schleicher berisi tawaran reshuffle kabinet Hitler, saat Hitler sudah menggantikan Schleicher. “Dalam daftar itu, terdapat nama Schleicher sebagai wakil kanselir, Röhm sebagai menteri pertahanan, Gregor Strasser untuk posisi menteri ekonomi, serta Heinrich Brüning menjadi menteri luar negeri,” sambung Wheeler-Bennett. Namun Hitler justru terusik dengannya. Selain menyingkirkan Schleicher, ia juga mencopot Bredow yang juga menjabat sebagai Kepala Abwehr. Bredow merupakan rival bagi dua antek Hitler, Hermann Goering dan Heinrich Himmler.  Baca juga: Heinrich Himmler, Arsitek Genosida Nazi Goering dan Himmler lalu merekayasa laporan bahwa Bredow berkonspirasi dengan Röhm, yang juga musuh Goering-Himmler, untuk menggulingkan pemerintahan Hitler dengan bantuan Duta Besar Prancis untuk Jerman André François-Poncet. Laporan itu dipercaya Hitler yang lantas memasukkan nama Bredow ke daftar musuh politik yang mesti disingkirkan dalam “Malam Belati Panjang”. Di hari kala Schleicher dibunuh, 30 Juni 1934, Bredow sudah tahu bahwa dia pun bakal jadi target berikutnya. Namun tawaran perlindungan di sebuah kedutaan dari seorang koleganya yang menjadi atase militer ditampiknya. “Tidak. Lebih baik saya pulang. Mereka telah membunuh atasan saya (Schleicher). Apa yang tersisa buat saya?” tutur Bredow, dikutip Wheeler-Bennett lagi. Ia pun lantas menyusul Schleicher ketika malam 30 Juni 1934 sejumlah pasukan SS menyatroni kediamannya dan menembaknya. Kurt von Hammerstein-Equord Kolase Generaloberst Kurt Gebhard Adolf Philipp Freiherr von Hammerstein-Equord (Foto: gdw-berlin.de ) Pembersihan dalam “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934) yang dilancarkan Hitler menyasar sejumlah eks militer yang dihormati di kalangan Reichswehr (Angkatan Bersenjata Jerman, pendahulu Wehrmacht). Panglima komando angkatan darat Generaloberst (kolonel jenderal) Hammerstein-Equord salah satu perwira yang paling lantang memprotesnya. Bersama veteran Marsekal August von Mackensen, Equord mengirim memo pada 18 Juli 1934 sebagai bentuk protesnya ke Presiden Hindenburg. Pembangkangan Equord yang paling bikin kesal Hitler adalah ketika sang jenderal sengaja melanggar perintah Hitler, di mana semua perwira aktif dilarang menghadiri pemakaman Schleicher. Sebagai hukumannya, Equord dimutasi ke Grup A AD Jerman, lalu ke Distrik Pertahanan VIII di Silesia. Akibat sikapnya yang anti terhadap antisemit dan kejahatan perang, ia dipecat. Hidupnya tak pernah tenang setelah itu lantaran terus dikuntit agen-agen Gestapo. Baca juga: Marsekal Erwin Rommel Si Rubah Gurun Kendati begitu, sejarawan Udo von Alvensleben yang pernah menjenguknya di kediamannya di Distrik Dahlem, Berlin, pada Februari 1943, menulis di dalam Lauter Abschiede: Tagebuch im Krieg (terj. Farewell: Diary in War ) bahwa Hammerstein-Equord tak pernah segan mengkritik dan mengecam kebijakan-kebijakan rezim Hitler di masa perang. “Saya merasa malu selama berdinas di angkatan darat, di mana saya menyaksikan dan dipaksa mentolelir kejahatan-kejahatan perang,” ucapnya dikutip Alvensleben. Sang jenderal akhirnya berpulang pada 24 April 1943 setelah delapan hari mengalami koma yang merupakan klimaks dari penyakit kankernya. Werner von Blomberg Generalfeldmarschall Werner Eduard Fritz von Blomberg (kedua dari kanan) (Foto: Bundesarchiv) Marsekal oportunis ini punya musuh “depan-belakang”. Sebelum Hitler berkuasa, ia merupakan musuh politik Schleicher dan sempat disingkirkan sehingga mencari dukungan Hitler lewat SA di Prusia Timur. Blomberg yang punya banyak koneksi di Reichswehr lalu dimanfaatkan Hitler untuk merayu kalangan militer agar mendesak Presiden Hindenburg melengserkan Schleicher dari kursi kanselir. Ketika Hitler naik jadi kanselir pada Januari 1933, Blomberg kebagian jabatan menteri pertahanan (menhan). Ia pun “bersih-bersih” di kementeriannya dari para simpatisan Schleicher, termasuk mendepak Kepala Abwehr Jenderal Bredow. Ia juga memecat semua prajurit yang punya darah atau hubungan apapun dengan golongan Yahudi. Ketika Presiden Hindenburg wafat pada 2 Agustus 1934, Blomberg mengubah kewajiban dalam sumpah prajurit, dari terhadap rakyat dan tanah air menjadi sumpah terhadap Hitler selaku Der Führer (pemimpin). Sejak saat itu pula lambang swastika simbol Nazi disematkan di semua seragam militer Jerman. Andai saja ia tak keberatan akan keinginan Hitler memulai agresi ke Balkan dan Eropa Timur pada 1938, mungkin nasibnya beruntung. Bersama Menlu Konstantin von Neurath dan Panglima AD Jerman Jenderal Werner von Fritsch, di sebuah konferensi di Berlin, 5 November 1937, Blomberg menyatakan konsekuensi logis jika Jerman melancarkan agresi ketika kekuatan militer Jerman belum mumpuni. “Blomberg keberatan karena jika agresi ke Eropa Timur dijalankan, dikhawatirkan akan memicu perang berskala besar dengan Prancis, mengingat persekutuan Prancis di kawasan itu. Jika Jerman berperang dengan Prancis, maka Inggris akan ikut campur. Blomberg merasa Hitler harus sedikit lebih sabar menanti dibangunnya kekuatan militer Jerman,” tulis Gerhard Weinberg dalam The Foreign Policy of Hitler’s Germany: Diplomatic Revolution in Europe. Baca juga: Hermann Goering, Sang Tiran Angkasa Nazi Jerman Ketika mendengar kelanjutan penjelasan Blomberg bahwa paling cepat militer Jerman baru akan mumpuni melancarkan perang berskala besar pada 1942, Hitler murka. Kekesalan Hitler ini jadi “amunisi” buat Himmler dan Goering yang sejak lama ingin mendongkel Blomberg. Kedua pentolan SS itu berfriksi dengan Blomberg sejalan dengan saling memata-matai antara Reichswehr dan SS pada 1934-1935. Kesempatan itu tak disia-siakan Himmler dan Goering. Tak lama setelah Blomberg meminang istri keduanya, Erna Gruhn, duet Himmler-Goering mengorek info di arsip kepolisian dan menemukan fakta bahwa Gruhn punya catatan kriminal panjang namun “dipetieskan” Blomberg. Selain punya catatan kejahatan, Gruhn juga seorang anak haram dari seorang ibu yang pelacur. Himmler-Goering langsung “menggoreng” isu itu hingga sampai ke telinga Hitler. Isu itu dimainkan tepat waktu, sebelum Blomberg mengikat hubungan besan politis dengan Marsekal Wilhelm Keitel, di mana putri Blomberg, Dorothea, hendak dipersunting Karl-Heinz, putra sulung Keitel. Goering mengancam Blomberg untuk membatalkan pernikahan itu dan jika tidak, dokumen itu akan diedarkan secara luas ke publik. Hitler yang juga malu setuju usul Goering bahwa Blomberg harus dicopot dari jabatannya dan digantikan Keitel. Karier Blomberg pun habis. Saat Perang Dunia II, Blomberg yang menolak pensiun, dinonjobkan. Blomberg lantas menemui ajalnya di kamar tahanan di tengah-tengah Pengadilan Nuremberg, 13 Maret 1946, akibat kanker usus. Alexander von Falkenhausen General der Infanterie Alexander Ernst Alfred Hermann Freiherr von Falkenhausen (Foto: Bundesarchiv) Ketika terjadi badai politik saat transisi rezim di negerinya, Jenderal (purn) Falkenhausen nyaris tak terpengaruh sedikitpun. Toh ketika Hitler naik jadi kanselir pada 1933, ia sudah pensiun. Ia baru aktif lagi sejak ditugaskan sebagai penasihat militer Chiang Kai-shek di China sebagai bagian dari Kerjasama Sino-Jerman yang dijalankan sejak 1926. Meski sudah berjasa besar pada militer China, Falkenhausen diusir Chiang sebagai imbas aliansi Jerman-Jepang pada 1937. Sepulangnya ke Jerman, pangkat Falkenhausen diaktifkan kembali untuk ditugaskan sebagai gubernur militer di Belgia. Di sinilah hulu kebencian Falkenhausen pada Hitler bermula. Sebagai gubernur militer, ia acap beradu argumen dengan para perwira SS yang memperlakukan Yahudi Belgia dengan brutal. Falkenhausen berulangkali mencegah deportasi puluhan ribu Yahudi ke kamp konsentrasi. Otoritasnya baru terbantahkan ketika Kepala RSHA (Kantor Keamanan Jerman-Nazi yang membawahi SS dan Gestapo) Obergruppenführer Reinhard Heydrich turun tangan. Baca juga: Joseph Goebbels, Setia Nazi Sampai Mati Dari negosiasi antara Falkenhausen dibantu deputi bidang ekonominya Eggert Reeder, sekira 2.200 Yahudi Belgia yang hendak dikirim ke kamp konsentrasi, bisa “dialihkan” menjadi pekerja paksa di utara Prancis untuk membangun Tembok Atlantik. Maka ketika Carl Goerdeler, teman dekatnya yang politikus anti-Nazi, dan Generaldfeldmarschall Erwin von Witzleben mengajaknya ikut berkonspirasi menggulingkan Hitler, Falkenhausen memberi dukungan. “Dia dengan senang hati menawarkan bantuan perencanaan kudeta terhadap Hitler meski pada akhirnya tak ikut terjun langsung pada aksi kudetanya. Ketika percobaan pembunuhan (Hitler) oleh kelompok Plot 20 Juli (1944) gagal, Falkenhausen turut ditahan Gestapo,” ungkap Samuel W. Mitcham Jr. dalam Retreat to the Reich: The German Defeat in France, 1944 . Dari Belgia, ia dan sejumlah anggota komplotan dikirim ke kamp konsentrasi di Dachau atas perintah Hitler. Beruntung bagi Falkenhausen, jalannya perang sudah mendekati akhir dan pada 5 Mei 1945, Falkenhausen bersama 140 tahanan lainnya dibebaskan pasukan Amerika Serikat. Hans Oster Kolase Generalmajor Hans Paul Oster (Foto: Bundesarchiv) Lima tahun lamanya Wakil Ketua Abwehr Generalmajor Hans Oster terpaksa menyimpan rahasia konspirasi membidik nyawa Hitler hingga akhirnya kandas dan berakhir di tiang gantung. Oster sejatinya sudah punya rencana membunuh Hitler sejak September 1938 ketika masih berpangkat oberstleutnant (letnan kolonel). Motif kebencian Oster terhadap Hitler setali tiga uang dengan Hammerstein-Equord. Oster mulanya patuh pada rezim baru Hitler. Kemunculan operasi pembersihan “Malam Belati Panjang” yang menewaskan sejumlah perwira militer dan politikus oposisi membuat pendiriannya berubah. Terlebih, dalam operasi itu seniornya, Jenderal Bredow, turut dihabisi Hitler. Ketika mendengar Hitler mencanangkan invasi ke Cekoslovakia dan Sudetenland (kini masuk wilayah Republik Ceko), kedengkiannya terhadap Hitler makin menjadi-jadi. Ia khawatir jika agresi itu dilancarkan hasilnya bakal getir dan hanya akan ada kehancuran bagi Jerman. Untuk menghentikan rencana Hitler, tiada kata lain buat Oster selain melenyapkan Der Führer. Baca juga: Stauffenberg, Opsir "Judas" Kepercayaan Hitler Menukil Nigel Jones dalam Countdown to Valkyrie: The July Plot to Assassinate Hitler , Oster lebih dulu berkonsultasi dengan senior lain Jenderal Ludwig Beck, yang kelak menjadi atasan Kolonel Claus von Stauffenberg dalam pengeboman markas Hitler pada 20 Juli 1944. Bersama Mayor Helmuth Groscurth, bawahannya di Abwehr, Oster lantas meracik skema pembunuhan Hitler sebelum invasi ke Sudetenland dan Cekoslovakia. “Rencananya adalah menyerbu Gedung Kekanseliran dengan pasukan pimpinan Mayor Hans-Jürgen von Blumenthal yang direkomendasikan Beck dan membunuh Hitler. Para konspirator juga dibantu diplomat Ernst von Weizsacker dan Kordt bersaudara: Theodor dan Erich,” tulis Jones. Kordt bersaudara yang dianggap jadi kunci penting gerakan untuk berhubungan dengan pihak Inggris, ternyata juga jadi kelemahan rencana itu lantaran gerakan baru bisa bergulir jika Inggris menentang invasi Jerman ke Cekoslovakia dan Sudetenland. Rencana gerakan pun berubah lantaran Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain malah bernegosiasi damai ketika Cekoslovakia dan Sudetenland diinvasi Hitler. Rencana gerakan komplotan Oster pun layu sebelum berkembang meski sama sekali tak tercium Gestapo hingga terjadinya pemboman 20 Juli 1944 oleh komplotan Beck yang dilakoni Stauffenberg. Dari catatan harian Laksamana Wilhelm Canaris salah satu anggota Plot 20 Juli, yang disita Gestapo, terbukalah rahasia Oster itu. Atas perintah Hitler, Oster ditahan dan kemudian dimajukan ke tiang gantung pada 9 April 1945 bersamaan dengan eksekusi terhadap Canaris. (Bersambung) Baca juga: Adik Goering Anti-Nazi dan Penyelamat Yahudi

  • Bung Karno yang Legowo

    Bersahabat dengan Bung Karno membuat Hasjim Ning, pengusaha yang merupakan keponakan Bung Hatta, tahu begitu besar rasa kemanusiaan yang dimiliki sang presiden. Rasa kemanusiaan itu membuat Bung Karno kerap legawa  memaafkan lawan-lawan politiknya. Hasjim dapat menyaksikan langsung karena kerap diminta menemani presiden ngobrol dalam sarapan atau resepsi-resepsi lain di Istana. Salah satu peristiwa berkaitan dengan hal itu yang diingat Hasjim terjadi pada suatu siang di tahun 1960-an. Saat itu Hasjim diajak makan oleh Bung Karno. Melihat Bung Karno sedang senang, Hasjim pun membuka pembicaraan soal Des Husein, istri Kolonel Ahmad Husein. Kata Hasjim, beberapa waktu sebelunya Des Husein datang menemuinya dan minta agar diusahakan bisa menemui Bung Karno untuk membicarakan nasib A. Husein suaminya. Ahmad Husein merupakan panglima Dewan Banteng yang menjadi kekuatan utama PRRI dalam memaksakan tuntutannya kepada pemerintah pusat pada 1958. Penggunaan senjata oleh PRRI dianggap sebagai pemberontakan oleh pemerintah pusat sehingga dijawab dengan menggelar operasi militer –Operasi Tujuh Belas Agustus. Setelah secara militer PRRI dapat dikalahkan, satu per satu pemimpinnya memilih kembali ke pangkuan republik. Ahmad Husein termasuk di dalamnya. “Pemerintah pusat bergembira karena Achmad Husein telah menyerah tanggal 23 Juni lalu,” tulis wartawan Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965 . Para pemimpin PRRI itu lalu menjalani “rehabilitasi” di Jakarta. Husein tak terkecuali. Hal itu membuat Des Husein perlu membicarakannya dengan presiden. Untuk itulah Des Husein menemui Hasjim. Meski tak menjanjikan akan menolong, Hasjim bertekad untuk membantu Des Husein. “Maka ketika makan (siang, red .) itu aku bertanya apakah Bung Karno kenal dengan Des Husein,” kata Hasjim dalam dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang .  “Des Husein? Siapa itu?” kata Bung Karno balik bertanya pada Hasjim. “Istri A. Husein.” “Mengapa dia?” “Katanya dia mau datang menemui Bapak?” “Oh, suruh dia datang. Aku senang pada itu anak. Dulu waktu ibuku sakit dan dirawat di St. Carolus, dia yang merawat. Karena mengantuk oleh sebab kurang tidur menjaga ibuku, ketika ia pulang, tahunya ditabrak oleh trem. Suruh dia datang ke sini,” kata Bung Karno pula. Jawaban Bung Karno membuat Hasjim lega. Beberapa waktu kemudian, istri A Husein pun menemui presiden di Istana. Hasjim tak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya karena dia tak ada di sana waktu pertemuan terjadi. Itu jelas bukan satu-satunya pengalaman Hasjim melihat kemurahan hati sahabatnya. Tentu yang paling sering disaksikan langsung Hasjim adalah perhatian Bung Karno kepada Bung Hatta –begitu pula sebaliknya. Namun kepada lawan politik yang paling keras pun Bung Karno tak pernah ragu memberi bantuan pribadi. Ketika mantan Perdana menteri Sjahrir sakit keras dan perlu dirawat ke luar negeri, Bung Karno membiayai pengobatannya ke Swiss. Hasjim tahu sejak awal lantaran Nyonya Sjahrir meminta bantuan Hasjim. Para pemimpin PRRI seperti M. Natsir atau Sjafruddin Prawiranegara pun diterima sebagai sahabat setelah kembali ke republik. Bahkan kepada keluarga Sjafruddin yang menderita ketika sang kepala keluarga ditahan, Bung Karno memberi dua mobil untuk mobilitas keluarga mereka. Dalam kaitan dengan pengampunan tokoh-tokoh yang terlibat PRRI itulah Hasjim kembali melihat bagaimana Bung Karno merespon permintaan maaf dari lawan politiknya. Itu terjadi pada 1966 ketika kekuasaan Bung Karno telah jauh berkurang akibat G30S. Saat itu Hasjim sedang di Istana menemani presiden yang kemudian menerima Jaksa Agung Soegih Arto. Saat sedang menerima jaksa agung itulah Bung Karno kedatangan tamu seorang perempuan. Nyonya Nawawi, tamu itu, datang bersama saudaranya untuk meminta pengampunan presiden atas keterlibatan suaminya dalam PRRI. Mayor Nawawi merupakan wakil kepala staf TT II Sumatera Selatan pada masa kepemimpinan Panglima Kolonel Barlian. Nawawi diutus Barlian mewakilinya ke Jakarta untuk memenuhi panggilan KSAD sehubungan dengan meningkatnya gerakan daerah terhadap pemerintah pusat. “Akan tetapi apa yang dilakukan Nawawi setelah itu bukanlah pergi ke Jakarta, melainkan kabur ke Prabumulih bersama anak buahnya dengan membawa senjata lengkap. Peristiwa itu membuat situasi di TT-II menjadi goncang,” kata Ibnu Sutowo, panglima TT-II sebelum Barlian, dalam biografi yang ditulis Mara Karma, Ibnu Sutowo Mengemban Misi Revolusi . Setelah PRRI dihancurkan pemerintah, Nawawi menyerah dan ditahan di Jakarta. Karena itulah istri Nawawi perlu menghadap presiden. Ketika diterima Bung Karno, Nyonya Nawawi menangis memohon maaf presiden. Presiden pun langsung menanyakan Hasjim. “Apa jij  kenal perempuan yang lagi menangis itu?” “Kenal, Pak. Ia istri Nawawi. Dahulu, waktu Bapak di Bengkulu, ia sering menating air buat Bapak. Ia termasuk kerabat Ibu Fatmawati,” jawab Hasjim yang kenal baik dengan Nyonya Nawawi. Mendapat keterangan Hasjim, Bung Karno langsung bertanya kepada jaksa agung untuk mencari solusi. “Apa keberatannya kalau Nawawi dibebaskan?” “Tidak ada keberatannya, Pak,” jawab Jaksa Agung Sugih Arto. Tak lama kemudian, Nawawi pun bebas.

  • Perempuan dalam Teater Bung Karno

    PEREMPUAN bagi Sukarno merupakan makhluk Tuhan yang sepatutnya dimuliakan. Bung Karno sadar sebagai pemimpin harus jadi teladan bagi rakyatnya untuk menghormati perempuan. Tidak hanya kepada pengasuh masa bocahnya, Sarinah, atau ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, ia acap menampilkan spirit tentang perempuan dalam naskah-naskah sandiwaranya. Dalam diskusi live di Youtube dan Facebook Historia.id bertajuk “Drama Bung Karno”, Selasa (30/6/2020), disebutkan Bung Karno punya minat berskala besar terhadap teater di masa pembuangannya di Ende dan Bengkulu dengan mendirikan Toneel-club Kelimoetoe dan kelompok sandiwara Monte Carlo. Dari tak kurang 17 naskah yang dibuatnya, Bung Karno acap menghadirkan tokoh-tokoh perempuan naskah-naskahnya. “Seperti di naskah Chungking-Jakarta . Ini cerita menarik tentang spionase. Di ending cerita ini salah satu spionnya ada muncul sosok Tionghoa perempuan yang menjadi tokoh lumayan sentral. Di (naskah) Rainbow , ada tokoh Putri Kencana Bulan,” tutur seniman teater Faiza Mardzoeki dalam diskusi itu. “Jadi, tokoh-tokoh perempuan di sini cukup aktif. Itu saya pikir spirit Bung Karno (tentang perempuan) cukup terasa di situ. Tapi saat itu Bung Karno tak menampilkan aktor-aktor perempuan, memang, tapi tokoh perempuannya dimainkan laki-laki. Padahal kalau kita lihat Teater Darnadella, misalnya, kan perempuan sudah ikut masuk,” lanjutnya. Baca juga: Bung Karno Dikerjai Anggota Grup Sandiwaranya Soal ini budayawan Taufik Rahzen punya pendapat lain. Menurutnya, Bung Karno memunculkan tokoh perempuan tetapi dimainkan aktor laki-laki karena gaya teater Bung Karno merupakan percampuran teater modern-tradisional. Di satu sisi naskah-naskahnya begitu kosmopolitan, di sisi lain Bung Karno terinspirasi dari ludruk. “Kenapa aktor perempuan enggak main di tonil-tonil Bung Karno? Itu mengikuti tradisi ludruk sebenarnya. Jadi ludruk di Surabaya itu hanya laki-laki yang main, tokoh perempuan ya yang memainkan laki-laki. Sementara perempuan siap di belakang meja dengan Bu Inggit sebagai penata produksinya,” kata Taufik. Para tokoh perempuan di teater garapan Bung Karno yang diperankan aktor-aktor lelaki (Foto: Repro "Bung Karno Maestro Monte Carlo") Inspirasi ludruk begitu kuat dalam karya-karya teater Bung Karno lantaran ketika bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) di Surabaya, Bung Karno sering ikut pementasan drama yang terinspirasi gaya ludruk. “Sukarno muda sering terpilih memerankan wanita. Peran wanita cocok untuknya. Wajahnya begitu tampan sehingga terkesan ayu seperti perempuan. Untuk tampak seperti payudara perempuan, Sukarno menyumpalkan dadanya dengan dua potong roti manis. Dengan bedak, lipstick , dan gaun yang dikenakan, dirinya tampak bak gadis jelita,” tulis Walentina Waluyanti de Jonge dalam Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen . Baca juga: Negara Teater dan Teater Negara Bung Karno Totalitasnya memerankan perempuan sering membuatnya dapat komentar-komentar positif dan acungan jempol. “Untung saja dalam adegan aku tidak perlu mencium laki-laki,” kata Bung Karno, dikutip Walentina. Namun sehabis memerankan perempuan, Bung Karno tak mau rugi kehilangan dua buah roti manis yang digunakannya sebagai pengganjal dada. Meski sudah gepeng dan bercampur keringat dan aroma tubuhnya, tetap saja dua roti itu dilahapnya usai pentas. Inspirasi Inggit dan Fatmawati Menurut Taufik, peran perempuan dalam teater Bung Karno lebih banyak untuk urusan-urusan teknis di belakang layar. Di sinilah letak besarnya peranan Inggit. Ia membantu Bung Karno dalam membuat pamflet dan spanduk promosi, pembuatan kostum, hingga tata rias. “Baju-bajunya dia jahit tuh untuk karakter-karakternya. Betapa kita bisa bayangkan aspek produksinya sangat detail. Itu peran Inggit ya. Inggit juga selalu melakukan penataan make up untuk seluruh pemain,” sambung Faiza. Baca juga: Sukarno dan Seni Inggit Garnasih (duduk paling kanan) bersama keluarga Bung Karno di Ende sekaligus jadi pimpro teater Kelimoetoe (Foto: kemdikbud.go.id ) Inggit sejatinya punya makna besar dalam pembentukan ide naskah-naskah teater Bung Karno. Peran Inggit, dikatakan Taufik, membuat Bung Karno bebas bertualang dengan pemikiran-pemikirannya. “Peranan perempuan begitu besarnya di Bung Karno ini, itu Inggit. Ini periode. Bung Karno dibebaskan untuk berkelana dari sudut ide, dan itu dilindungi, dijaga, dipelihara, dirawat, diruwat oleh Inggit. Ketika Bung Karno dipenjara di Bandung, Inggit itu menggantikannya sebagai hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Majalah Persatoean Indonesia . Inggit juga yang membangun dunia Bung Karno melalui bacaan-bacaan yang dikirimkannya,” papar Taufik lagi. “Enam puluh tokoh kutipannya dia gunakan dari ratusan buku dan itu peran Inggit. Tokoh-tokoh itu dibawa (dalam naskah teater) dengan simbol baru. Jadi kosmopolitannya Bung Karno awalnya dipengaruhi ayahnya, ibunya, baru kemudian oleh bacaan-bacaannya dan itu dimungkinkan oleh Inggit,” tambahnya. Baca juga: Teater Zonder Lentera Karya Sastrawan Peranakan Taufik menyebut kebersamaan Bung Karno dengan Inggit dalam sandiwaranya sebagai periode negara teater. Dalam periode ini Bung Karno mengkreasikan naskah-naskahnya dengan beragam imajinasi tinggi dengan inspirasi apapun yang dibacanya. Itu berubah ketika Bung Karno sudah bersama Fatmawati di Bengkulu bersama Teater Monte Carlo, gaya naskah Bung Karno mulai berubah ke periode teater negara. “Kalau enggak ada Fatma, mungkin enggak ada Sukarno yang realistis. Adanya yang idealis, membangun mimpi-mimpi atas dunia teater. Kalau Inggit adalah ibu bangsa, maka Fatmawati itu ibu negara. Dia yang membuat Sukarno realistis. Gagasannya sudah bicara kooperasi dan nonkooperasi. Sukarno menjadi orang yang sangat responsif, tergoda menjawab situasi zamannya,” sambung Taufik. Gedung Royal Cinema di Bengkulu, tempat kelompok tonil Monte Carlo acap manggung pada 1939 (Foto: Repro "Bung Karno Maestro Monte Carlo") Di periode teater negara itu, Bung Karno juga sering mempromosikan tokoh-tokoh perempuan. Salah satunya dalam naskah Rainbow, yang terinspirasi dari Tambo Bangkahoeloe, cerita rakyat daerah aslinya Fatmawati. Tokoh utama dalam naskah Rainbow , Putri Kencana Bulan, terinspirasi dari cerita rakyat itu dengan tokohnya Putri Gading Cempaka. “Perjalanan-perjalanan Bung Karno yang berhubungan dengan idelogi, agama, masyarakat, itu responsif sekaligus kreatif. Dan perjalanan bangsa kita mengikuti mentalitas Bung Karno ini. Peranan perempuan di dalam Sukarno itu amat besar di seluruh karya-karya dia. Jadi sripanggungnya itu memang tanpa (aktor) perempuan, tapi justru sebenarnya nilai dasar perempuan yang dimunculkan dalam karya-karya Bung Karno,” tandas Taufik. Maka selepas dari pembuangan hingga kemudian menjadi presiden, sikap Bung Karno dalam memuliakan perempuan mulai dinyatakan lebih terang. Tak lagi dalam karya-karya naskah teaternya, namun lewat buku Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjuangan Republik Indonesia. Buku tentang pengasuhnya itu dibuatnya sejak 1947 dan rampung pada 1951. Pada 1959, Bung Karno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu untuk menghormati para perempuan yang berjuang di luar ranah domestik. Penghargaan Bung Karno pada kaum perempuan kemudian dilanjutkan pada 1964 dengan mengangkat sejumlah tokoh perempuan sebagai pahlawan nasional berbarengan dengan penetapan Hari Kartini setiap 21 April. Selain RA Kartini, yang diangkat menjadi pahlawan ialah Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia. Baca juga: Kartini Martir, Bukan Pelakor!

  • ITB Rayakan Seabad TH Bandung

    Perang Dunia pertama menghalangi orang Hindia Belanda melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, khususnya ke Technische Hogeschool (TH) Delft. Namun, perang juga telah mengubah pandangan orang Belanda, yang semula berpendapat bahwa Hindia Belanda belum siap memiliki perguruan tinggi. Bahkan, pada 30 Mei 1917 beberapa orang terkemuka d ar i kalangan perbankan, perdagangan, dan perusahaan , mengadakan pertemuan di gedung Nederlandse Handelsmaatschappij di Amsterdam , untuk mendirikan Koninklijk Instituut voor Hoger Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi di Hindia Belanda) . Sebagai pelaksana program, dibentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) yang diketuai oleh Dr. C.J.K. van Aalst, kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Dia memiliki pengalaman dalam perkeretaapian di Jawa dan Sumatra, serta pengetahuan yang luas tentang masyarakat Hindia Belanda, termasuk sejarah kuno Jawa dan Sumatra. Institut berhasil mengumpulkan uang sebesar 3.000.000 gulden untuk membiayai pendidikan teknik di Hindia Belanda. Semula mereka berpikir hendak membuka sekolah teknik menengah. Baca juga:  Kisah Hubungan Sukarno dan Dosennya di TH Bandung Namun, menurut Adjat Sakri (ed.) dalam Dari TH ke ITB: Kenang-kengangan Lustrum Keempat, 2 Maret 1979 , ketika delegasi Committee Indie Weerbaar (Komite Pertahanan Hindia) berkunjung ke Belanda pada 1917, mendesak keras meminta sekolah tinggi teknik. Raad van Beheer menyetujuinya. Abdoel Moeis, anggota delegasi, dalam pidatonya di hadapanPerdana Menteri C.M. Pleyte dan Dr. A.M. Colijn, mengatakan: "Mana mungkin penduduk bumiputra sanggup melawan Jepang yang begitu kuat dan telah pandai membikin meriam, kapal perang dan teknik persenjataan lainnya. Hindia sulit dipertahankan selama anak negeri belum diajarkanpengetahuan-pengetahuan teknik; kami mengusulkan agar segera didirikan sekolah teknik tinggi, agar penduduk bumiputra dapat ikut serta mempertahankan Hindia di masamendatang." Dukungan pemerintah kolonial Belanda terhadap pendirian sekolah tinggi teknik disampaikan oleh Mr. K.F. Creutzberg, direktur Pendidikan dan Agama, dalam pidato di Volksraad (Dewan Rakyat) pada 1918. Ijzerman kemudian menunjuk Prof. Ir. J. Klopper, guru besar Ilmu Pasti Terapan dan Mekanika di TH Delft, untuk menyusun rencana pembentukan sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda. Mereka tiba di Hindia Belanda pada 19 April 1919. Ketika itu belum ditetapkan di mana sekolah tinggi teknik akan didirikan. Pilihannya antara Solo, Yogyakarta, Jakarta, atau Bandung. Technisch Onderwijs Commissie memilih Jakarta. Sedangkan Walikota Bandung, B. Coops menawarkan dan menyediakan lahan seluas 30 hektar –kalau diperlukan, bisa diperluas lagi– untuk sekolah tinggi teknik itu. Baca juga:  Ketika Arsitek Belanda dan Dosen TH Bandung Masuk Islam GubernurJenderal Jhr. Mr. J.P. Graaf van Limburg Stirum menyetujui sekolah tinggi teknik didirikan di Bandung. Setelah Dewan Kotamadya Bandung menyerahkan tanah itu kepada Institut, dimulailahpembangunan kompleks gedung kampus. Sebagai perancang ditunjuk Ir. H. MacLaine Pont,sedangkan pelaksana pembangunannya diserahkan kepada Biro Bangunan Kotamadya Bandung di bawah pimpinan direkturnya, Kolonel V.L. Slors. "Semula TH (Technische Hogeschool) direncanakan dibuka pada Juli1922. Namun, gubernur jenderal mengharapkan perguruan tinggi yang pertama di Indonesia itu dapat dibuka dalam tahun 1920," tulis Adjat Sakri. Pembangunan berjalan dengan lancar, sehingga dalam tempo satu tahun bangunan inti sudah berdiri. Pada hari Sabtu,3 Juli 1920, gubernur jenderal meresmikan berdirinya TH, bertempat di gedung yang sekarang ditempati Perpustakaan Pusat. Seminggu kemudian perkuliahan mulai berjalan. Tangkapan layar berita sidang terbuka peringatan 100 tahun Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) atau pendirian TH Bandung, 3 Juli 2020. ( itb.ac.id ). Pada 18 Oktober 1924, Institut menyerahkan TH kepada pemerintah. Institut kemudian dibubarkan. Dengan sendirinya College van Directeuren (Dewan Direksi) sebagai wakil Raad van Beheer juga dibubarkan.Presiden Direkturnya, K.A.R. Bosschadiangkat sebagai presiden College van Curatoren (Dewan Pengawas).Untuk menghargai jasaBosscha, namanya disematkan pada laboratorium fisika yang dibuka pada 18 Maret 1922. Pada awal berdirinya TH terdiri atas Fakultas Bangunan Jalan dan Air. Setelah beralih ke tangan pemerintah, nama itu diganti menjadi Technische Hogeschool te Bandung, Faculteit van Technische Wetenschap, Afdeling der Weg- en Waterbouwkunde , dan dikenal dengan singkatan TH atau THS. Adjat Sakrimencatat bahwa jumlah mahasiswa pada waktu TH dibuka ada 22 orang. Kemudian bertambah menjadi 28 orang, yang terdiri atas 22 orang Belanda, 2 di antaranya perempuan; 2 orang Indonesia, dan 4 orang Tionghoa; semuanya lulusan HBS. Di samping itu, tercatat 5 mahasiswa luar biasa; 3 orang untuk ilmu pasti dan 2 orang untuk fisika. Selama tahun pertama, seorang mahasiswa Belanda dan seorang mahasiswa Indonesia mengundurkan diri, sedangkan seorang mahasiswi terpaksa menghentikan studinyakarena sakit. Dengan demikian, ada 25 mahasiswa yang melanjutkan studi. Setelah tiga tahun berjalan, mahasiswa Indonesia yang tinggal seorang menghentikan studinya. Baca juga:  Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia Lulusan Belanda Empat tahun kemudian, pada 1 Juli 1924, berlangsung wisuda 12 orang insinyur pertama, seorang di antaranya perempuan. Dalam pidato sambutan, Ir. M. H. Damme, ketua Groep Indie van het Koninklijk Instituut van Ingenieurs merangkap anggota Dewan Pengawas, mengatakan: "Seorang insinyur jangan hanya bergerak di dalam bidang keteknikan yang sempit; ia harus juga mengarahkan perhatiannya kepadapersoalan sosial-ekonomi yang langsung berhubungan dengan masalah keteknikan. Pendidikan insinyur dewasa ini menjadi begitu luas, sehingga para lulusannya harus mampu menghadapi soalyang lebih umum." Baru pada wisuda ketiga bertepatan dengan dies natalis keenam, pada 3 Juli 1926, untuk pertama kali TH Bandung menghasilkan empat insinyur bumiputra, yaitu Sukarno (kemudian menjadi presiden pertama Republik Indonesia), M. Anwari (swasta), J.A.H. Ondang (swasta), dan M. Soetedjo (kemudian menjadi guru besar ITB). Tangkapan layar berita sidang terbuka dies natalis ke-61 ITB, 2 Maret 2020. ( itb.ac.id ). TH Bandung ditutup pada 1942 ketika Belanda dikalahkan Jepang. Pemerintah militer Jepang kemudian mendirikan Bandung Koo Gyoo Dai Gaku pada 1944. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Bandung Koo Gyoo Dai Gaku diambil alih dan diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung yang dipimpin oleh Prof. Ir. Roosseno. Tak lama berjalan, STT Bandung mengungsi ke Yogyakarta karena terjadi perang kemerdekaan melawan Sekutu dan Belanda. STT Bandung dibuka kembali di Yogyakarta pada 17 Februari 1946. Pemrakarsanya adalah Ir. Wreksodiningrat, insinyur teknik sipil pertama Indonesia lulusan TH Delft, Belanda. Dia menggantikan Roosseno sebagai pemimpin STT Bandung pada 1 Maret 1947. STT Bandung diubah menjadi STT Jogjakarta, yang kemudian menjadi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Baca juga:  Jasa Sang Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia Sementara itu, NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) mendirikan Nood Universiteit (Universitas Darurat) di Jakarta, yang kemudian berubah menjadi Universiteit van Indonesie. Menurut Rahardjo Darmanto Djojodibroto dalam Tradisi Kehidupan Akademik , setelah pengakuan kedaulatan, Universiteit van Indonesie diambil alih pemerintah Republik Indonesia Serikat. Universiteit van Indonesiedigabungkan dengan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia menjadi Universiteit Indonesia atau Universitas Indonesia (UI) pada 2 Februari 1950, tanggal ini ditetapkan sebagai dies natalis UI. UI terdiri atas Fakultas Kedokteran, Hukum, Sastra dan Filsafat di Jakarta, Fakultas Kedokteran Gigi di Surabaya, Fakultas Ekonomi di Makassar, Fakultas Teknik di Bandung, dan Fakultas Pertanian di Bogor. Fakultas-fakultas itu kemudian dipisahkan dari induknya, UI. Fakultas Kedokteran Gigi di Surabaya menjadi Universitas Airlangga (1954), Fakultas Ekonomi di Makassar menjadi Universitas Hasanuddin (1956), Fakultas Teknik di Bandung menjadi Institut Teknologi Bandung (1959), dan Fakultas Pertanian di Bogor menjadi Institut Pertanian Bogor (1963). Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya ITB pada 2 Maret 1959. Dengan demikian, ITB punya dua peringatan: dies natalis ke-61 pada 2 Maret 2020, kemudian merayakan seratus tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia atau pendirian TH Bandung pada 3 Juli 2020.

  • Akhir Petualangan Haji Prawatasari

    Begitu Ki Mas Tanu dan komplotannya diamankan ke Afrika Selatan, VOC melancarkan secara gencar operasi perburuan Haji Prawatasari. Tidak cukup mengerahkan para serdadunya, VOC pun menghargai kepala Haji Prawatasari dengan uang 300 ringgit. Namun tak seorang pun tertarik dengan tawaran tersebut. Sementara itu, aksi-aksi perlawanan secara gerilya terus menerus dilancarkan oleh pasukan Prawatasari, mulai dari Utama, Bojonglopang (masuk Karawang), dan Kawasen di daerah Priangan Timur. Dia pun sempat menyusup kembali ke wilayah Jampang Manggung dan kemudian pindah ke wilayah Bogor untuk mengganggu lagi pinggiran Batavia. Situasi tersebut tentu saja menjadikan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704—1709) berang. Dia lantas mengeluarkan intruksi keras, ditujukan kepada para bupati Priangan. “Diwajibkan bagi seluruh bupati untuk mencegah masuknya para penjahat atau perampok seperti  Prawata  serta semua musuh Kompeni dan Kerajaan Cirebon ke daerah masing-masing. (Diwajibkan pula) untuk menyerahkan mereka hidup atau mati kepada Pangeran Aria Cirebon atau penguasa Kompeni di Cirebon, jika tidak mengindahkan intruksi ini maka para bupati akan dihukum dan dipecat."demikian menurut sejarawan Belanda F.de Haan dalam Priangan; de Preanger Regentschappen Onder het Nederlandsche Bestuur tot 1811. Menurut sesepuh Cianjur Aki Dadan, Prawata sadar bahwa seruan itu menempatkan dirinya ada dalam posisi berhadapan langsung dengan para penguasa Priangan termasuk dengan sang kakak, Aria Wiratanu II. Tidak ingin “menyusahkan” para bupati dan rakyat yang diam-diam selalu mendukung perjuangannya, Prawata dan pasukannya menyingkir ke wilayah Kertanegara di Banyumas. Grup pemburu dari VOC pun bergegas menuju tempat yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Purbalingga tersebut. Pada 1706, sepasukan serdadu VOC pimpinan Kapiten Zacharias Bintang (1660—1730) berhasil memukul mundur pasukan kecil Prawatasari dari Kertanegara. “Usai mengusir penjahat Radin Panwata Sari (Prawatasari) dari wilayah Kertanegara, Bintang pun mendirikan benteng di wilayah itu,” demikian penuturan Valentijn Zie dalam Oud en Niew Oost Indie . Kapiten Bintang merupakan salah satu perwira VOC terkemuka asal Manipa, Maluku. Menurut Zie, dia memiliki pengalaman tempur yang mumpuni. Pernah bertempur bersama Kapiten Jonker (masih sepupunya) di Palembang, Sailan, India dan dua tahun sebelum berhadapan dengan pasukan Prawatasari, Bintang dengan 500 prajurit Malukunya sempat mengalahkan pasukan Demak. Begitu mundur dari Kertanegara, Prawatasari dan pasukannya menyingkir ke Bagelen, suatu wilayah yang terletak di Purworejo. Di sinilah kemudian pada 1707 pasukan menak dari Cianjur itu dihabisi oleh kompeni. Haji Prawata sendiri tertangkap hidup-hidup dalam pertempuran itu. Tentara kompeni kemudian membawa sang haji ke Kartasura. Tidak lama setelah tertangkap, dia pun dihukum mati. Namun sebagian besar sesepuh Cianjur menyebut versi kisah ini sebagai omong kosong pihak Belanda semata. Menurut Aki Dadan, sesungguhnya Haji Prawatasari tak pernah dibawa hidup-hidup ke ibu kota Mataram tersebut. “Untuk apa dibawa ke sana? Kenapa tidak dibawa saja ke Batavia kalau memang dia bisa ditangkap hidup-hidup?” ujar Aki Dadan. Para sesepuh Cianjur yang diwakili Aki Dadan percaya bahwa saat diserang di Bagelen pada 12 Juli 1707, Haji Prawatasari memilih untuk melakukan pertarungan habis-habisan. Dalam kondisi terdesak, Haji Prawata memerintahkan para pengikutnya untuk masing-masing menyelamatkan diri.  “Haji Prawata sadar, saat itu ajal sudah datang menjemputnya dan menginginkan agar para pengikutnya selamat untuk meneruskan perlawanan terhadap VOC,” ujar Aki Dadan. Dalam kenyataannya, kata Aki Dadan, hanya 11 pengawal yang menuruti perintah  sang haji termasuk kakek buyutnya yang bernama Ayah Enggon. Sedang salah seorang dari mereka memilih untuk mendampingi Haji Prawatasari. Sepeninggal 11 pengawal tersebut, pertempuran pun terus berlangsung. Bumi Bagelen menjadi saksi bagaimana “dua maung dari Cianjur” mengamuk. Tanpa menghiraukan luka-luka yang memenuhi tubuh mereka, Haji Prawata dan sang pengawal terus melawan hingga mereka tumbang dan gugur dalam posisi saling melindungi di sebuah batu besar. “Menak yang masih membujang itu akhirnya perlaya (gugur)  dalam usia 28 tahun,”kata Aki Dadan. Selanjutnya tak ada kejelasan, kemana pihak  tentara VOC membawa kedua jasad pejuang tersebut. Yang jelas, hari ini menurut Aki Dadan di  Desa Bingkeng masuk dalam wilayah Kecamatan Dayeuh Luhur, Cilacap, ada dua makam yang dianggap  keramat dan diyakini sebagai tempat peristirahat terakhir “dua maung” itu. “Salah satu makam yang paling besar dikenal orang-orang sana sebagai makamnya Raden Aria Salingsingan,” ujar sastrawan Cianjur  itu. Versi mana yang benar? Hingga kini belum ada kejelasan. Mungkin seharusnya dengan adanya berbagai versi tersebut, memicu Pemerintah Kabupaten Cianjur membentuk tim riset representatif untuk mengguar sejarah perjuangan Haji Prawatasari. Terlebih jika sosok tokoh itu akan dicalonkan kembali menjadi Pahlawan Nasional dari Jawa Barat di waktu mendatang.

bottom of page