- 4 Jul 2020
- 8 menit membaca
Diperbarui: 20 Apr
BUNUH diri atau dibunuh. Dua opsi getir dari Adolf Hitler itu diterima Ernst Röhm di selnya di Penjara Stadelheim, Munich pada 1 Juli 1934 dari dua opsir Schutzstaffel (SS) Brigadeführer Theodor Eicke dan Obersturmbannführer Michael Lippert. Röhm, mantan stabschef (setara kolonel jenderal) pasukan Sturmabteilung (SA, sayap militer Partai Nazi), lantas diberi sepucuk pistol Browning dengan sebutir peluru.
“Jika saya ingin dibunuh, biar Adolf sendiri yang melakukannya!” kata Röhm menantang kedua opsir itu sembari menepuk dada telanjangnya, dikutip William L. Shirer dalam The Rise and Fall of the Third Reich.
Mendengar itu, Eicke dan Lippert terpaksa menembak sang menteri zonder portfolio di tempat. Melayanglah nyawa mantan tangan kanan Hitler di sore itu, sekira pukul 14.20. Röhm ditangkap dalam operasi Nacht der langen Messer atau “Malam Belati Panjang” (30 Juni-2 Juli 1934), operasi gerakan pembersihan SA yang dilancarkan Hitler yang baru setahun naik jadi kanselir. Röhm yang penyuka sesama jenis alias gay itu memang bukan jenderal lulusan akademi militer.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















