Hasil pencarian
9628 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Catatan Hitam Pendukung Kemerdekaan
SETELAH Jepang melihat bayang-bayang kekalahan dari Sekutu, dan Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan janji kemerdekaan Indonesia di kemudian hari, sejumlah tentara Jepang memihak Indonesia. Di negeri sendiri, sikap mereka menjadi catatan hitam. “Bahkan mereka yang lari dari kamp interniran dinilai pemerintah Jepang sebagai desertir, bahkan subversi,” ujar Aiko Kurasawa, guru besar Keio University, Jepang, dalam acara peluncuran dan diskusi buku Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi karya Wenri Wanhar, di aula Ir Sukarno, Universitas Bung Karno, Jakarta (13/9). Pada Juli 1944, Jepang berada di ujung tanduk. Kepulauan Saipan jatuh ke tangan Sekutu. Garis pertahanan di Pasifik, yakni Kepulauan Solomon dan Kepulauan Marshall, bobol. Sebulan kemudian, Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengumumkan Indonesia diperkenankan merdeka di kemudian hari. Berita tersebut menyebar. Pada Oktober 1944, Laksamana Muda Maeda berkunjung ke mess perwira Kaigun Bukanfu di Kebon Sirih 80 Jakarta. Kedatangannya ditunggu Tomegoro Yoshizumi, Shigetada Nishijima dan Sato Nobuhide. Mereka lalu berunding dan meruncingkan ide untuk mendirikan sekolah bagi kaum muda yang akan mengisi kemerdekaan. Nama sekolah itu adalah Asrama Indonesia Merdeka. Sukarno mengajar gerakan nasionalis; Hatta mengajar gerakan koperasi; Ahmad Subardjo mengajar hukum internasional; Sutan Sjahrir mengajar prinsip nasionalisme dan demokrasi; Iwa Kusuma Sumantri mengajar perburuhan. Wikana sebagai kepala sekolah mengajar gerakan pemuda. Dan Nishijima bersama Yoshizumi, memberi ceramah tentang perang gerilya dan pertanian. Di Sumatra Barat, beberapa tentara Jepang melatih penduduk Baso soal ketrampilan teknik, seperti memperbaiki mesin dan membuat senjata. Tak jarang penduduk diajarkan teknik bertempur. Ada tiga orang yang membantu rakyat Baso. “Mereka diberi nama Minangkabau. St. Marajo untuk si ahli mesin, St. Diateh untuk ahli pengobatan, dan Malin Kuning untuk si ahli ilmu sosial,” tulis Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998 . Simpati beberapa orang Jepang ini merupakan sikap pribadi, bukan cerminan sikap pemerintah Jepang. “Seperti yang dilakukan Maeda dengan menyediakan rumahnya untuk menyusun naskah proklamasi merupakan inisiatif pribadi. Sikap ini bertentangan dengan kepentingan militer Jepang, terutama di Jawa yang dikuasai kalangan Angkatan Darat,” ujar Aiko. Menurut Aiko, ada beberapa alasan kenapa beberapa orang Jepang membelot. Antara lain sikap putus asa sebab kalah perang; bertahan dalam situasi ekonomi yang sulit; sudah memiliki keluarga atau menikahi perempuan Indonesia. Juga didorong rasa benci kepada Sekutu. “Yoshizumi adalah orang yang paling kuat cita-citanya dalam mendukung proklamasi,” ujar Aiko. Pemerintah Jepang memasukkan tentara yang menyeberang ke pihak Indonesia ke dalam catatan hitam. Sikap pemerintah Jepang baru melunak sekira 1990-an dimana ada usaha memulihkan nama baik mereka.
- Bung, Saudara Serevolusi
PADA zaman revolusi kemerdekaan, sesama pejuang saling memanggil “bung”. Ia mengandung makna kesetaraan dan persaudaraan. Kata “bung” diambil dari varian bahasa Betawi, “abang” yang berarti “kakak laki-laki.” Kata “abang” juga umum dipakai di masyarakat Jawa. Sedangkan bagi kaum perempuan, panggilannya “zus”, dari bahasa Belanda, zuster , untuk sapaan kawan atau teman perempuan. “Bung Karnolah yang mula-mula mempopulerkan nama panggilan dan sebutan ‘bung’ untuk panggilan kepada setiap insan Indonesia yang revolusioner yang bercita-citakan melenyapkan imperialisme-kolonialisme dan kapitalisme dan bercita-citakan Indonesia merdeka,” tulis Achmad Notosoetardjo dalam Revolusi Indonesia Berdasarkan Adjaran Bung Karno. Suatu waktu, Sukarno menginginkan sebuah poster sederhana namun kuat sebagai propaganda membangkitkan semangat pemuda. Pelukis Affandi membuat poster dengan model pelukis Dullah sedang memegang bendera merah putih dan memutuskan rantai yang mengikat kedua tangannya. Pada poster itu, penyair Chairil Anwar memberinya kata-kata: “Boeng, Ajo Boeng!” Poster propaganda itu tersebar kemana-mana. Siapa nyana, Chairil memperoleh kata-kata itu dari para wanita tuna susila di Senen ketika mereka menawarkan jasa: “Boeng, ajo boeng…” Menurut Parakitri T. Simbolon dalam Menjadi Indonesia , Sukarno memperkenalkan sapaan “bung” sejak terbentuknya Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 17-18 Desember 1927. “Dipanggil ‘Bung’ (panggilan akrab kepada saudara) sesuai anjurannya, Soekarno berhasil menjadikan semboyan seluruh cita-cita pergerakan, dan kebetulan juga ideologi PNI, yakni ‘merdeka’. Semboyan ini sangat gampang diteriakkan oleh, dan sangat kuat pesonanya pada, massa,” tulis Parakitri. George McTurnan Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia , menjelaskan bahwa kata “bung” yang dapat diterjemahkan sebagai “saudara” dapat disejajarkan dengan kata “warganegara” ( citizen ) dalam Revolusi Prancis tahun 1789 atau “kamerad” dalam Revolusi Rusia pada 1917. Gagasan yang mungkin dikandung kata “Bung” adalah sebuah sintesis dari istilah “saudara serevolusi”, “saudara nasionalis Indonesia”, dan “saudara serepublik”. “Tua-muda, kaya-miskin, presiden ataupun petani boleh saja –dan memang biasanya– saling memanggil dengan menggunakan kata ‘bung’,” tulis Kahin. Maksud menyapa dengan “bung”, menurut Notosoetardjo, “untuk mempererat hubungan satu dengan lainnya, merasa semua satu keluarga, senasib dan sepenanggungan, sama rata sama rasa, tanpa perbedaan tingkatan maupun kedudukan.” Setelah revolusi selesai, sapaan “bung” perlahan memudar. Dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977, Mochtar Lubis, pendiri koran Indonesia Raya , menyatakan keprihatinannya, “‘Saudara’ atau ‘bung’, kata-kata menyapa yang begitu populer dan penuh kebanggaan dalam perjuangan kebangsaan hingga revolusi kemerdekaan, dianggap tak cukup hormat lagi untuk menyapa penguasa-penguasa kita sejak belasan tahun terakhir ini.” “Menegur atasan dengan ‘bung’ tiba-tiba kini kurang sopan. Harus memakai bapak, meskipun sang atasan baru berumur dua puluhan tahun, dan bawahan sudah berumur 60 tahun. atasan bersikap ideological , patronizing , dan authoritarian ke bawah,” kata Lubis. Bagaimana kalau kita galakkan lagi saling menyapa “bung”?
- Hansip Bubar Barisan
SLAMET Santoso, 54 tahun, telah 21 tahun menjadi hansip (pertahanan sipil) di desa Keseneng, kabupaten Semarang. Dia menanggapi dingin pembubaran hansip awal September lalu. “Saya kira kok sama saja, dibubarkan atau tidak. Hansip desa itu sudah menjadi pengabdian saja,” ujarnya kepada Historia . Menurut Slamet, untuk seragam pun dia peroleh dari bekas hansip sebelumnya. Tunjangannya bersumber dari Dana Alokasi Umum Desa (DAUD), yang dibayarkan dalam kurun setahun, dibagi 14 rekan hansip lainnya. Pembentukan hansip terkait dengan upaya pemerintah merebut Irian Barat. Pada 19 Desember 1961, Sukarno mengumumkan Tri Komando Rakyat: gagalkan pembentukan negara Papua buatan Belanda, kibarkan merah putih di Irian Barat, dan bersiap untuk mobilisasi umum. Untuk mempersiapkan mobilisasi umum, Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal AH Nasution membentuk organisasi pertahanan sipil (hansip) melalui keputusan MI/A/00305/61 tanggal 30 Desember 1961. Pelaksanaan mobilisasi umum lalu ditetapkan melalui Perppu No 1/1962, yang kemudian ditetapkan menjadi UU No 14/1962. Perppu mengatur pengerahan warganegara berumur 18-50 tahun untuk kepentingan keamanan dan pertahanan negara. Tugasnya dibagi dua: perlawanan rakyat (wanra) yang membantu kesatuan angkatan bersenjata dan perlindungan masyarakat (hansip). Hansip ditempatkan berada di bawah wakil menteri utama pertahanan keamanan (Wampa Hankam), untuk melakukan koordinasi dari pusat hingga daerah. Wampa Hankam selanjutnya mengeluarkan SK No MI/A/72/1962 yang menegaskan hakikat hansip adalah non-militer. “Hakikat hansip adalah pertahanan non-militer. Lingkup hansip meliputi kegiatan perlawanan rakyat dan pertahanan sipil dalam arti sempit, yakni perlindungan masyarakat,” catat F. Sugeng Istanto dalam Perlindungan Penduduk Sipil . Angkatan Darat menjadikan hansip untuk membendung ide pembentukan angkatan kelima (mempersenjatai buruh dan petani) yang diusung Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini ditegaskan AH Nasution dalam Kekarjaan ABRI . Bahkan Menteri Panglima Angkatan Darat, Ahmad Yani, berdasarkan analisis yang dilakukan Staf Umum Angkatan Darat (SUAD), mengatakan bahwa hansip sudah cukup untuk sekadar melakukan usaha belanegara, tidak perlu sampai membentuk angkatan kelima. Menurut Verena Beittinger-Lee dalam (Un) Civil Society and Political Change in Indonesia: A Contested Arena , hansip dibentuk karena militer dan polisi membutuhkan bantuan sipil untuk menghadapi kekacauan dan kriminalitas . Maka, hansip digunakan bukan hanya untuk kampanye melawan Belanda dalam perebutan Irian Barat, tetapi juga kampanye Ganyang Malaysia, PGRS/Paraku (Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara), Operasi Trisula pasca-Gerakan 30 September 1965, sampai Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pemerintah Orde Baru melalui Keppres No 55/1972 mengalihkan kedudukan hansip dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan ke Kementerian Dalam Negeri. Namun, pada 1 September 2014, pemerintah mencabut Keppres tersebut dengan Perpres No 88/2014. Dengan demikian, hansip dihapus. Tugas dan fungsi yang berkaitan dengan ketertiban umum, ketentraman masyarakat, dan perlindungan masyarakat dilaksanakan satuan polisi pamong praja.
- Kelabu 26 September
JUMAT, 26 September 1997, dunia penerbangan Indonesia berduka. Musibah terburuk dalam sejarah penerbangan Indonesia terjadi. Pesawat penumpang milik Garuda Indonesia bertipe Airbus A300 dengan nomor penerbangan GA 152 menabrak tebing dan jatuh di desa Buah Nabar, kecamatan Sibolangit, kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, saat hendak mendarat di bandara Polonia Medan. Pada paruh akhir 1997, wilayah Jawa dan Sumatra diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan. Negara tetangga, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei kena dampaknyaa. Kabut asap ini mengakibatkan puluhan ribu orang masuk rumah sakit akibat infeksi pernapasan dan jutaan orang lainnya menderita. Namun, ancaman asap baru benar-benar menyedot perhatian ketika musibah GA 152 terjadi. Pesawat berangkat dari bandara Sukarno-Hatta dengan membawa 222 penumpang dan 12 awak. Pilot Hance Rahmowiyogo yang sudah memiliki 20 tahun pengalaman terbang meminta panduan dari menara ATC (Air Traffic Control) karena jarak pandang tertutup kabut, sebelum akhirnya kontak terputus. Dari hasil transkrip komunikasi terakhir yang dipublikasikan ke publik, seperti dikutip dari aviation-safety.net , ditengarai terjadi kesalahmengertian komunikasi dengan menara ATC sebelum GA 152 hilang kontak: ATC: GIA 152, turn right heading 046, report established on localizer . GIA 152: Turn right heading 040, GIA 152, check established . ATC: Turning right sir . GIA 152: Roger, 152 . ATC: 152, confirm you′re making turning left now? GIA 152: We are turning right now. ATC: 152 OK, you continue turning left now . GIA 152: A .... confirm turning left? We are starting turning right now . ATC: OK .... OK . ATC: GIA 152 continue turn right heading 015 . GIA 152: Aaaaaa. Allahu Akbar! Tim investigasi menyimpulkan bahwa menara ATC keliru memberikan panduan. GA 152 yang seharusnya berbelok ke arah kiri malah diarahkan ke kanan sehingga menabrak tebing gunung, yang jaraknya 48 km dari kota Medan. Pesawat kemudian meledak berkali-kali. Tak ada yang selamat. Mayoritas penumpang warga negara Indonesia, 17 penumpang asing berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Malaysia, Jepang, dan Jerman. Kontak terputus pada pukul 13.00. Laporan bahwa pesawat telah jatuh baru muncul pada pukul 14.20. Evakuasi dilakukan namun terhambat sulitnya medan dan kondisi jenazah yang tercerai-berai. Jenazah yang tidak dikenali dimakamkan secara massal di dekat lokasi jatuhnya pesawat, kini bernama Monumen Membrano, untuk mengenang musibah tersebut.
- Lebih Kece dengan Mompe
DUA kali seminggu sekira 200 perempuan desa Belik, Pekalongan Syuu, melakukan latihan keprajuritan. Kegiatan itu diawali senam taiso , dilanjutkan praktik serbuan cepat menggunakan piranti senapan kayu, hingga berjalan menyusuri bukit. Mereka gesit dan tak lagi repot menyingsingkan kain yang membatasi langkah mereka. Kain panjang itu telah berganti menjadi mompe, sepasang pakaian dari kain katun, yang diperkenalkan pemerintah pendudukan Jepang pada 1944. Menurut A.A. Hamidhan, pemimpin redaksi Borneo Simboen yang melawat ke Negeri Sakura, mompe merupakan pakaian di masa perang, “yaitu memakai blouse atau kimono pendek dengan celana panjang hingga merupakan kombinasi kimono dan celana, yang dalam bahasa Nippon disebut mompe ,” tulis Hamidhan dalam Borneo Simboen , 4 Maret 1944. Sedangkan pakaian masa perang untuk lelaki disebut kokumin-fuku (seragam rakyat). Di tengah krisis sandang melanda Jawa, mompe hadir sebagai busana alternatif yang dianggap praktis ketimbang kain yang telah lama digunakan perempuan Jawa dan sarung pada perempuan Melayu. Jepang menyerukan agar para perempuan beralih ke mompe dengan alasan ekonomis. “Dengan sehelai kain panjang dapat dibuat dua potong mompe . Kain panjang yang tak dapat dipakai lagi karena telah sobek pun dapat dihidupkan (digunakan, red ) kembali menjadi sepotong mompe . Marilah kita menyebarkan mompe secara Jawa ini di seluruh tanah kita,” tulis Djawa Baroe , 1 Juni 1944. Kampanye alih busana pemerintah Jepang dilancarkan melalui suratkabar. Sinar Baroe , 11 Maret 1944, menampilkan mompe sebagai busana modern. Perempuan Melayu, terutama yang muda, dikabarkan lebih menyukai mompe , karena “sarung tidak bersesuaian lagi dengan masa (kini) untuk dipakai bekerja.” Djawa Baroe edisi Juni-Juli 1944 menyajikan tips bagaimana membuat mompe dari kain bekas, dan pengenalan pola dasar pembuatan mompe dengan berbagai variasi model, ukuran, bahkan peruntukan usia. Salah satu pengasuh pembuatan pola di suratkabar itu, adalah J. Fuhrmann, perancang busana dari toko “Paris.” Aiko Kurasawa, sejarawan Universitas Keio, menjelaskan bahwa mompe kerap digunakan perempuan yang tergabung dalam Fujinkai , organisasi perempuan bentukan Jepang. Setiap kota ( Syuu ) memiliki bentuk dan motif mompe berbeda. Di Jakarta Syuu , mompe menjadi semacam seragam. Model, bahan, maupun warnanya serupa. Di Pekalongan Syuu , model mompe begitu sederhana. Bahan celana dibuat dari bahan kain batik bekas, sehingga motifnya menjadi beragam, dan mereka tidak dibebani untuk memakai atasan tertentu. Mompe yang paling lengkap terdapat di Surabaya Syuu , yang dibuat Sekolah Rumah Tangga Sakura, karena dilengkapi topi model bonnet , blus bukaan dengan kancing di tengah muka, rok, dan lengan tambahan. Mompe tak hanya menggantikan fungsi kain bagi perempuan Jawa, dan sarung bagi perempuan Melayu. Lambat laun, mompe menjadi identitas bagi kaum perempuan yang tergabung dalam organisasi, terutama yang berkegiatan keprajuritan.
- Dwarapala Berwajah Ramah
EKSPRESI wajahnya ramah, jauh dari kesan menyeramkan. Bibirnya tersenyum lebar. Tak tampak taring yang menyeringai keluar. Ia lebih menyerupai manusia dibanding wujud raksasa yang kerap dijumpai pada kebanyakan arca dwarapala. Dwarapala ini, arca penjaga pintu yang dalam mitologi Hindu-Buddha berfungsi sebagai penolak pengaruh buruk, berasal dari Situs Muarajambi I. Dwarapala ini ditemukan dalam penggalian di muka gapura Candi Gedong I pada 2002. Keseluruhan arca nyaris utuh, terbuat dari bahan batu pasir, dan berwarna kecoklatan. Umumnya dwarapala berpasangan dan letaknya di bagian muka pintu masuk bangunan suci. Ia lumrah berpenampilan seram dengan mata melotot menyalak, berambut ikal panjang terurai, bertaring, mengenakan hiasan tengkorak pada tubuhnya, dan dalam posisi duduk memegang gada. Penggambaran dwarapala seperti ini kerap dijumpai di percandian di Jawa. Agus Aris Munandar dalam Catuspatha Arkeologi Majapahit , menjelaskan bahwa dwarapala mula-mula –dalam mitologi India– dikenal sebagai personifikasi makhluk halus penguasa tanah yang disebut Yaksha. Yaksha dipuja sebagai sumber kehidupan yang melindungi kesuburan tanah. Saat agama Buddha dan Hindu mulai berkembang di India, kedudukan Yaksha disejajarkan dengan kelompok demi-god (setingkat di bawah dewata). Dalam perkembangannya Yaksha dimuliakan sebagai pendamping Buddha. Bersama makhluk segolongannya ia dipahatkan pada bangunan suci Buddha, seperti terdapat di stupa Bharut (abad 1 SM) dan di puncak torana (pintu gerbang) stupa Sanchi abad ke-6 M. Letaknya yang berada di bagian depan kemudian dipercaya melindungi dan menjaga bangunan suci. Di masa kemudian sosok Yaksha dibuat terpisah, tidak lagi sebagai relief atau pelengkap bangunan suci, melainkan sebagai arca mandiri. Mulai saat itu Yaksha dikenal dengan dwarapala, diwujudkan sebagai arca raksasa penjaga kuil dan lingkungannya. Berdasarkan hasil temuan terdahulu, diketahui bahwa candi-candi Muarajambi mempunyai latar belakang agama Buddha Mahayana dengan pengaruh aliran Tantrayana yang kuat. Hal itu terbukti dari temuan wajra (berarti petir; sebuah alat upacara khas agama Buddha aliran Tantrayana) dan tulisan-tulisan pendek pada lempeng emas di Candi Gumpung. “Aliran Tantrayana sudah dianut pada abad 9 M ketika candi dibangun dan terus berkembang mencapai puncaknya pada abad 15 M di seluruh Sumatera,” tulis Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti . Berbeda dari penggarapan dwarapala pada umumnya yang berwujud raksasa dan menunjukkan sifat ugra (bengis atau menakutkan), dwarapala Muarajambi terkesan jenaka. Wujudnya selaik pria kecil yang berdiri dengan kedua kaki agak ditekuk. Tingginya tak lebih dari 1,5 meter. Tangan kanannya menggenggam tameng kecil, sedang tangan kirinya mengepal sebuah gada yang kondisinya telah rumpang. Tatanan rambutnya tertata rapi hingga ke belakang, dan ditutup hiasan berupa mangkuk. Hiasan pada telinganya berbentuk bunga, bukan tengkorak manusia. Menurut Junus Satrio Atmodjo dalam “Dwarapala yang Santun dari Muarajambi” pada Prosidings Seminar Internasional Sabdapalon Nayagenggong dalam Naskah Nusantara , kehadiran arca temuan Candi Gedong I ini setidaknya mencerminkan salah satu gaya seni abad ke-10-13 M yang pernah hidup di Jambi. Pengaruh India hampir tak terlihat. Penggarapan figur arca yang berbeda dan tidak lazim, justru terkesan jenaka, secara konseptual merupakan cara menampilkan identitas kelompok yang melakukan pemujaan di Candi Gedong I. Kesan jenaka ditampilkan untuk menanggalkan model standar tokoh dwarapala yang berpenampilan menyeramkan. Penggarapannya, tulis Junus Satrio, “merupakan kesengajaan untuk menolak secara halus pengaruh asing dalam kehidupan masyarakat Muarajambi.”
- Kemerdekaan, Kado Ulang Tahun Hatta
JENDERAL Terauchi, panglima angkatan perang Jepang di Asia Tenggara, bertemu dengan Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat di Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945. Dia menyampaikan keputusan pemerintah Jepang untuk menyerahkan soal kemerdekaan Indonesia kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). “Tuan-tuanlah melaksanakannya dan terserah kepada tuan-tuan sepenuhnya menentukan pelaksanaannya,” kata Terauchi. “Kalau seminggu lagi kami laksanakan apa bisa?” tanya Sukarno. “Terserah kepada tuan-tuan,” jawab Terauchi. Hatta gembira luar biasa. Sebab, tanggal 12 Agustus hari ulangtahunnya. “Dalam hati kecilku aku menganggap kemerdekaan Indonesia itu sebagai hadiah jasaku sekian tahun lamanya untuk kemerdekaan Indonesia,” kata Hatta dalam memoarnya, Untuk Negeriku Jilid 3 . Sekembalinya ke Indonesia, mereka mendapatkan ucapan selamat dari Gunseikan (kepala pemerintah militer) Jenderal Yamamoto dan pejabat tinggi Jepang lainnya. Setelah itu, Sutan Sjahrir, yang telah mengetahui kekalahan Jepang, meminta Sukarno mengumumkan kemerdekaan tanpa melalui badan bentukan Jepang, PPKI. Sukarno menolak karena dia tak mau mengambil kesempatan sendiri tanpa bersama-sama anggota PPKI. Begitu pula ketika Wikana mendesak agar proklamasi dinyatakan malam tanggal 15 Agustus dan menyatakan tidak mau proklamasi dilaksanakan PPKI karena bentukan Jepang. Hatta menegaskan, kalau PPKI dianggap buatan Jepang serta Sukarno-Hatta dan pemimpin lain bekerjasama dengan Jepang, carilah orang lain yang belum pernah bekerjasama dengan Jepang untuk memproklamasikan kemerdekaan. “Dan kami akan berdiri di belakang mereka,” kata Hatta. “Tetapi pemuda-pemuda itu maunya Bung Karno juga.” Sukarno sebagai ketua PPKI dan Hatta sebagai wakilnya memerintahkan Ahmad Soebardjo untuk memanggil semua anggota PPKI yang menginap di Hotel Des Indes untuk rapat pada 16 Agustus 1945 pagi di Gedung Pejambon (sekarang Gedung Pancasila). Semua anggota PPKI pun hadir Gedung Pejambon, sementara Sukarno-Hatta tidak. “Jadi tidak benar, bahwa rapat itu dilarang oleh Jepang. Hanya waktu itu rapat tidak bisa berjalan karena kami berdua tidak hadir, karena pagi-pagi subuh hari itu kami dibawa ke Rengasdengklok. Dan kalaulah pagi itu kami tidak dibawa dan rapat terus berlangsung tentunya proklamasi itu telah terjadi hari itu (16 Agustus 1945),” kata Hatta dalam Bung Hatta Menjawab. Somubuco (kepala departemen urusan umum) Mayor Jenderal Nishimura melarang rapat PPKI karena mulai pukul 13.00 tanggal 16 Agustus 1945, Jepang diperintahkan Sekutu untuk menjaga status quo . Sukarno-Hatta menyatakan dengan agak keras: “Tuan ‘kan orang samurai. Jenderal Terauchi di Dalat telah menyerahkan. Bagaimana dengan sumpah dan janji samurai tuan kepada kami.” “Ya,” kata Nishimura, “kita berada dalam keadaan yang lain sekarang.” Sukarno-Hatta bersikeras akan melaksanakan rapat PPKI. Hotel Des Indes tak memberi izin karena sesuai peraturan Jepang sejak awal pendudukan, rapat tidak boleh dilaksanakan lewat pukul 22.00. Akhirnya, Laksamana Maeda, kepala penghubung Angkatan Laut Jepang yang bersimpati pada perjuangan Indonesia, meminjamkan rumahnya di Jalan Myakodori (dulu Jalan Orange Nassau Boulevard). 21 anggota PPKI dan beberapa pemuda hadir di rumah tersebut. Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo merumuskan proklamasi di rumah yang kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng Jakarta. Keesokan harinya, tanggal 17 Agustus pukul 10.00, Sukarno membacakan proklamasi di halaman rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.
- Tiket Satu Arah ke Mars
ROBOT penjelajah milik NASA, Curiosity, merayakan satu tahun pertamanya di planet Mars pada 24 Juni 2014. Setahun di Mars setara 687 hari menurut hitungan hari di Bumi. Curiosity merayakannya dengan bernarsis ria mengambil potret diri: selfie . Curiosity tiba di Mars pada Agustus 2012 untuk mendapatkan bukti apakah kondisi lingkungan Mars cocok untuk menunjang kehidupan mikroba. Dari penggalian dan pengambilan sampel tanah oleh Curiosity, para peneliti menyimpulkan bahwa air pernah ada di Mars, begitu pula sebuah bentuk kehidupan. “Kami menemukan tanda-tanda jejak interaksi yang kompleks antara air dan batuan di sana,” ujar David Blake, salah seorang peneliti seperti dilansir www.jpl.nasa.gov. Planet Mars mendapatkan namanya dari salah satu tokoh dewa Romawi. Ia kerap juga dikenal dengan nama planet merah, merujuk pada penampakan permukaannya yang kemerah-merahan. Di masa modern ini, ia kian menjadi primadona di antara para peneliti, ditandai dengan dikirimkannya berbagai robot penjelajah untuk mengungkap misteri kehidupan di Mars. Misi-misi penjelajahan Mars ini sempat meredakan ketegangan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat pada masa Perang Dingin. Sepanjang akhir 1980-an, The Planetary Society, lembaga nonprofit terdepan dalam eksplorasi luar angkasa untuk tujuan sains, mulai mempromosikan wacana agar Amerika dan Uni Soviet mau bekerja sama dalam mengeksplorasi Mars. “The Planetary Societ mengaitkan wacana Mars dengan internasionalisme. Mereka juga mensponsori pertemuan di Washington pada pertengahan 1985. NASA melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang mungkin. Visi ‘Ke Mars… Bersama-sama’ mendapatkan momentumnya sebagai dasar pemikiran politis,” tulis W. Henry Lambright dalam Why Mars: NASA and the Politics of Space Exploration . Sayangnya, musibah meledaknya roket Challenger pada 1986 memaksa NASA mengevaluasi total rencana misi-misi eksplorasinya di masa depan. Tidak semua robot yang dikirm berhasil mendarat selamat. Amerika Serikat melalui NASA kali pertama mengirimkan dua robotnya, Viking 1 dan Viking 2, pada 1975. Robot penjelajah lainnya, Spirit dan Opportunity, diberangkatkan pada 2003. Dan yang terbaru adalah Curiosity pada 2011. Selain itu, setidaknya ada serangkaian misi lainnya yang gagal, seperti misi-misi Uni Soviet dari 1971-1973, misi NASA ke Mars pada 1999, dan misi Beagle milik Inggris pada 2003. Tidak seperti misi ulang-alik, robot-robot Mars tidak bisa kembali ke Bumi karena ongkosnya terlalu besar. Perjalanan ke Mars sejauh ini masih satu arah karena keterbatasan dana dan teknologi. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa pengiriman manusia ke Mars masih sulit dilakukan. Viking 1 dan 2 berhenti beroperasi pada 1982 dan 1980. Spirit sudah berhenti mengontak Bumi pada 2010. Kini tinggal Opportunity dan Curiosity yang masih beroperasi dan terus mengirimkan data-data ilmiah seperti foto dan cek sampel. Belajar dari data-data yang dikirimkan robot-robot penjelajahnya itulah, Doug McCuistion, direktur NASA untuk misi Curiosity, memproyeksikan manusia sudah bisa dikirim dan menetap di Mars pada 2030 atau 2040 sebagai langkah awal pembangunan koloni manusia pertama di luar Bumi. “Lalu mereka bisa menemukan Curiosity dan membawanya pulang. Saya yakin akan ada museum di sini yang berminat untuk menyimpannya,” ujarnya seperti dikutip dailymail.co.uk (24/8/2012).
- Cerita di Balik Rekor MURI untuk Historia
PIAGAM penghargaan yang diserahkan oleh Ketua Umum MURI, Jaya Suprana diterima oleh Pemimpin Redaksi majalah Historia , Bonnie Triyana di museum MURI, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 8 Agustus 2014. “Ini merupakan apresiasi terhadap upaya kami menghadirkan kisah sejarah seberimbang mungkin. Selama ini sejarah di Indonesia banyak direkayasa demi kepentingan kekuasaan. Kami berupaya mengembalikan hal itu menjadi milik publik kembali,” kata Bonnie. Acara tersebut memang tak khusus untuk Historia , kendati saat itu cuma Historia yang menerima penghargaan. Dalam acara itu hadir perwakilan dari kedutaaan besar Georgia, Ukraina, Polandia, dan Amerika Serikat. Georgia sedang merayakan hari kemerdekaannya. Setelah menyaksikan beberapa pentas kesenian, penghargaan diberikan di pengujung acara. Ada beberapa tokoh pers hadir, antara lain Ninok Leksono dari Kompas dan Paul Himawan dari Sinar Harapan . Usai menyerahkan piagam penghargaan, Jaya Suprana menceritakan kisah pertemuannya dengan majalah Historia dan kenapa majalah ini patut mendapat penghargaan rekor MURI. Suatu hari dirinya melihat majalah Historia dipajang di toko buku. Tapi dia hanya berlalu. Hirau tak hirau. “Saya pikir itu hanya fatamorgana,” katanya. Dalam kesempatan berikutnya, Jaya kembali melihat majalah Historia saat bertandang ke kantor redaksi Sinar Harapan . “Saya kaget, ternyata Indonesia punya majalah sejarah. Saya baca dong, jangan-jangan isinya ngawur . Ternyata bagus sekali. Saya senang sekali. Saya banyak belajar.” Jaya mengaku lebih kaget lagi ketika mengetahui ternyata majalah itu dikelola anak-anak muda. “Saya betul-betul kaget. Saya nggak habis pikir ada sekelompok anak muda yang melawan arus. Makanya saya anggap ini perlu dihargai. Dan saya undang seluruh awak redaksinya untuk menerima penghargaan ini,” ungkapnya. Kepada awak redaksi Historia yang hadir malam itu, Jaya menyatakan, “Kalian semua orang gila,” seraya memberi isyarat tanda kutip dengan jarinya. “Kalian tahu kenapa penghargaan ini saya berikan di hadapan perwakilan duta-duta besar negara sahabat. Itu ada yang dari Amerika, Georgia dan lain sebagainya. Biar mereka tahu bahwa kita punya sejarah. Bahwa kita adalah bangsa yang menghargai sejarah.” Menurut Jaya, tanpa memahami sejarah kita tidak tahu siapa diri kita. “Nanti majalah Historia akan masuk dalam galeri. Sudah lihat galeri itu?” ujarnya sembari menunjuk ke ruang galeri MURI. “Itu adalah prestasi superlatif bangsa Indonesia. Saya mengajak bangsa ini untuk bangga terhadap hasil karya anak bangsanya.” Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI didirikan Jaya Suprana dan PT Jamu Jago pada 27 Januari 1990 di Semarang, Jawa Tengah. Lembaga yang mencatat data prestasi superlatif bangsa Indonesia ini mulanya bernama Museum Rekor Indonesia, berganti jadi Museum Rekor Dunia-Indonesia pada 14 Agustus 2005 saat peresmian galeri MURI di kawasan wisata Candi Borobudur. Kami, seluruh awak redaksi majalah Historia , dengan segala kerendahan hati berterima kasih atas apresiasi dan segala puja-puji yang dihatur Pak Jaya. Masih banyak yang perlu kami pelajari dan perbaiki agar Historia lebih baik lagi. Kepada seluruh pembaca, terima kasih atas dukungannya selama ini.
- Pembersih Gigi Zaman Kuno
RUMPUT kadang menjadi masalah jika dibiarkan tumbuh liar, terutama jenis rumput yang dikenal sebagai rumput teki (Cyperus rotundus). Tanaman khas daerah tropis ini, yang juga mudah ditemui di berbagai wilayah Indonesia, merupakan salah satu rumput liar paling buruk untuk dikontrol karena persebarannya yang invasif. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa rumput teki berperan penting dalam kehidupan manusia di zaman kuno. Bak pasta gigi di zaman modern, rumput teki merupakan pembersih gigi yang ampuh. Sebuah penelitian terhadap sisa-sisa tengkorak yang terkubur di situs arkeologi Al-Khiday, dekat Sungai Nil di Sudan, dan usianya dapat ditarik sampai tahun 6700 SM menunjukkan bahwa rumput teki sudah dikonsumsi orang-orang prasejarah. Tengkorak-tengkorak tersebut, yang merupakan sisa-sisa jasad petani kuno, secara mengejutkan memiliki gigi yang sehat. Zat-zat antibakteria yang berasal dari rumput teki dianggap sebagai penyebabnya. “Kebersihan mulut orang-orang di zaman dahulu masih lebih bagus daripada sekarang,” ujar Karen Hardy, ketua peneliti yang juga seorang profesor arkeologi prasejarah, seperti dikutip dari livescience.com (16/7/2014). Manusia pada zaman berburu dan meramu cenderung memiliki kebersihan mulut yang lebih baik karena makanan masih terbatas pada daging. Ketika manusia mulai beralih ke masa bercocok tanam, jenis bakteri yang masuk ke mulut pun makin variatif. Karena itu, peneliti kerap menyimpulkan kebersihan mulut manusia di zaman bercocok tanam cenderung lebih buruk. Namun penelitian di Al-Khiday mementahkannya. Rumput teki yang tumbuh liar ternyata dikonsumsi untuk menjaga agar gigi tetap kuat dan bersih. “Mereka mungkin menggunakannya untuk tujuan medis,” ujar Hardy. “Rasa obat memang selalu pahit, tapi ia kerap manjur.” Rumput teki kerap menjadi pakan penting dalam masyarakat zaman kuno. Di Mesir kuno, rumput teki kerap dipakai untuk menjernihkan air, wangi-wangian, dan obat-obatan. Terlebih tanaman liar ini memiliki zat antimikroba, antimalaria, antioksidan, dan senyawa diabetes. “Dari Mesir kuno, pengolahan rumput teki masuk ke Timur Tengah. Pada abad pertengahan, orang-orang Moor (Muslim) memperkenalkan rumput teki ke Spanyol, dan dari sana mulai menyebar ke Afrika Barat, India dan Brazil. Di berbagai wilayah, rumput teki kini menjadi tanaman agrikultural,” tulis Leda Meredith, “Foraging Wild Tubers,” dalam Buried Treasures: Tasty Tubers of the World suntingan Beth Hanson. Sayangnya, meski memiliki tingkat nutrisi yang tinggi dan statusnya sebagai pakan alternatif, petani-petani modern kini kerap menganggap rumput teki sebagai tanaman hama. Rumput teki memiliki akar yang sulit dicabut dan kerap mengganggu pertumbuhan tanaman di kebun atau ladang-ladang mereka. Meski rumput teki tidak lagi menjadi sumber karbohidrat, namun toh ia masih cukup populer sebagai tanaman obat (herbal) di wilayah Timur Tengah, Asia Timur, dan juga India.
- Banten dalam Karya Sastra Eropa Klasik
DI masa lalu, Kesultanan Banten atau Bantam merupakan bandar internasional dengan komoditas utama lada. Bangsa-bangsa Eropa berlabuh untuk berniaga. Banten pun masyhur di kalangan orang-orang Eropa. Sampai-sampai ketenaran Banten menjadi bahan cerita dalam karya-karya sastra dan drama Eropa klasik. Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII , memuat lima karya sastra tersebut. Love for Love (1695) Drama Love for Love karya William Congreve (1670-1729) mengisahkan kehidupan pemuda, Valentin, dari keluarga terpandang. Ayahnya, Sir Sampson Legend, murka karena dia boros sehingga berhenti membiayainya. Meski hanya sesaat, drama ini menyebut nama Banten yang kala itu asosiasinya di Eropa masih sangat masyhur. Penyebutan itu terdapat di adegan kelima babak II. “Aku tahu panjang kaki Maharaja Cina; aku prenah mengecup selop Mogul Agung dan berburu di atas punggung gajah bersama Khan Tartaria; aku main gila dengan istri seorang raja dan Sri Baginda Bantam yang sekarang adalah darah-daging hasil perselingkuhan itu,” demikian dialog antara Legend dan Foresight, paman Angelique, gadis idaman Valentin.* “The Court of the King of Bantam” (1698) Cerpen ini karya Aphra Johnson Behn, yang terdapat dalam bunga rampai All the Histories and Novels Written by the Late Ingenious Mrs Behn, Intire in Two Volumes. Bunga rampai tersebut diterbitkan pertamakali oleh Charles Gildon pada 1698. “The Court of the King of Bantam” menceritakan seorang angkuh, Mr Would-be, yang gila hormat. Dalam sebuah Epifani (Perayaan Penampakan Tuhan) tahun 1683, dia menghambur-hamburkan uangnya demi sanjungan. Dia berhasil menjadi “raja” di perayaan itu. Orang-orang yang tak mengenalnya mengira dia pernah jadi raja di Hindia Timur. Setelah perayaan itu, teman-temannya memanggilnya Raja Bantam –dalam pandangan kebanyakan orang Eropa merupakan simbol kekayaan, raja di tanah yang menjadi sumber kekayaan– untuk memelorotinya. Pengetahuan Aphra, perempuan kelahiran Inggris pada 1640, tentang Banten bermula sejak pernikahannya dengan Behn, pedagang Belanda. Selain itu, dia tahu kedatangan beberapa utusan keluarga Banten ke London pada 1682. Utusan-utusan itu sempat bermukim sehingga membuat sensasi di kota tersebut, yang menganggap Bantam sebagai salah satu pusat kemakmuran negeri-negeri Timur. Aphra sendiri mulai menulis sepulangnya dari tugas sebagai mata-mata Inggris di Anvers (kini di Belgia) ketika Perang Inggris-Persekutuan Provinsi Belanda. Dialah perempuan Inggris pertama yang mencari nafkah lewat tulisan. “La Princesse de Java” (1739) Madeleine de Gomez, penulis cerpen ini, merupakan penulis produktif. Dia membuat banyak novel eksotis. Anak dramawan Paul Poisson ini, pada 1739 menerbitkan kumpulan cerpen sebanyak 30 buku yang diberi judul Les Cent Nouvelles Nouvelles . Cerpen “La Princesse de Java” merupakan cerpen ke-54 dan berada di buku ke-19. Ini berkesinambungan dengan dua cerpen sebelumnya, “Les Revers de la Fortune” dan “La Belle Hollandaise”. “La Princesse de Java” menceritakan kehidupan pemuda Spanyol, Diego, yang terdampar di Banten. Setelah diselamatkan penduduk, dia bergaul dengan penduduk sampai akrab dengan Daen, sultan muda Banten. Tanpa diduga, keduanya sama-sama mencintai Garcia, putri seorang perempuan Genoa, istri kedua sultan Banten sebelum Daen. Kisah-kisah selanjutnya penuh petualangan. Agon, Sulthan van Bantam (1769) Sandiwara lima babak ini merupakan karya sastrawan ternama Friesland, Belanda, Onno Zwier van Haren (1713-1779), yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Prancis pada 1770 dan 1812. Untuk menyusun sandiwaranya, Haren kemungkinan besar merujuk pada buku Oud en Nieuw Oost-Indien karya F. Valentijn, di mana jilid keempatnya membahas Banten. Menariknya, Haren terang-terangan menentang penguasaan Banten oleh Belanda. Menurutnya, Banten sebagai bangsa patut dihormati laiknya Belanda atau bangsa-bangsa lain. Dia mengkritiknya, salah satunya, melalui karya ini. Agon, Sulthan van Bantam mengambil latar perebutan kekuasaan di Banten. Karena sudah tua, Sultan Agon hendak turun tahta dan membagi kerajaan kepada dua putranya: Abdul dan Hasan. Namun karena si sulung Abdul menginginkan warisan seluruhnya, diam-diam dia minta pertolongan Belanda di Batavia. Belanda menyambut gembira, dan perang saudara pun terjadi. De Page van de Sultane (1891) Novel ini merupakan jilid kelima dari 24 jilid serial De Nederlanders in Oost en West, te Water en te Land karya Johan Hendrik van Balen (1850-1920) yang dibuat tahun 1881-1893. Novelis mantan pemimpin redaksi beberapa majalah bergambar ini sangat produktif, dengan lebih dari 100 judul buku yang dibuat. Mayoritas bukunya berupa kisah petualangan untuk anak muda. Buku-buku itu kebanyakan terinspirasi oleh sejarah orang-orang Belanda di seberang. De Page van de Sultane mengisahkan petualangan pemuda Jawa, Atjong, yang hidup di masa perang Batavia-Banten. Dia satu-satunya orang selamat di keluarganya dari hukuman mati Sultan Ageng Tirtayasa. Lika-liku hidupnya membawanya menjadi abdi istri pertama Sultan Haji, anak Sultan Ageng Tirtayasa. Dia kemudian dipercaya menjalankan tugas berat yang membuatnya dua kali tertangkap dalam perjalanan ke Batavia. Pada penangkapan yang kedua, dia dijatuhi hukuman pancung karena dianggap membunuh seorang pemimpin Makassar, yang memihak Sultan Ageng Tirtayasa, dalam perang saudara Banten.
- Kisah Moses Kotane, Utusan Afrika Selatan di KAA 1955
Eugene Gordon, wartawan Daily Worker, koran kiri terbitan Amerika yang datang ke Bandung meliput Konferensi Asia Afrika, 18–24 April 1955 terkesan pada sosok Moses Kotane sebagai orang yang tak punya tempat resmi di dalam pertemuan, namun sangat disegani di kalangan peserta. Moses, tulis Gordon, adalah “orang yang tak punya kursi di antara delegasi resmi KAA, namun kehadirannya sangat menonjol dan banyak orang yang menghormati serta menyambutnya secara hangat saat dia masuk ke ruang pertemuan.” Dia datang bersama kompatriotnya, Maulvi Chacalia dari Kongres India Afrika Selatan (SAIC) sebagai peninjau. Mereka berdua ditugasi khusus oleh ANC untuk datang ke Bandung, mencari dukungan bagi gerakan pembebasaan Afrika Selatan. Moses Kotane lahir di Pella, Provinsi Transvaal, Afrika Selatan pada 9 Agustus 1905. Dia tak pernah mengenyam pendidikan formal tapi terkenal sebagai kutu buku dan pembelajar yang tekun. Pada 1928 Moses sempat bergabung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC) kemudian mengundurkan diri. Setahun setelah pengunduran dirinya dari ANC, Moses bergabung dengan Partai Komunis Afrika Selatan (SACP), dan terus berada di sana sampai jabatan puncaknya sebagai sekretaris jenderal. Sejak 1963 – 1973 Moses menjabat bendahara umum ANC. Kendati datang dari partai komunis, Moses sangat dihormati di kalangan tokoh pembebasan Afrika Selatan non-komunis. Walter Sisulu, Sekjen ANC menyebut Moses sebagai “raksasa kaum perjuangan” yang dikenal karena pemikiran logis dan sikap non-dogmatisnya. Sementara itu bagi Nelson Mandela, Moses adalah kawan diskusi sekaligus lawan debat yang akrab. Dalam otobiografinya, Long Walk to Freedom , Mandela menulis jika Moses sering datang ke rumahnya pada malam hari dan berdebat sampai pagi. Perdebatan itu menyoal konflik di dalam tubuh ANC. Kendati sama-sama tokoh ANC, Nelson tak “mengimani” komunisme, sementara Moses tokoh komunis. “Nelson,” kata Moses seperti dikutip Mandela, “Kenapa kamu harus melawan kami? Kita semua memerangi musuh yang sama. Kami tak bermaksud menguasai ANC; kami bekerja dalam konteks nasionalisme Afrika,” lanjut Mandela meniru kata-kata Moses. “Pada akhirnya, saya tak punya lagi argumen yang baik untuk menyanggahnya,” kenang Mandela. Menurut Verne Harris, direktur riset dan arsip pada Nelson Mandela Centre of Memory, Moses adalah guru bagi Mandela. “Kalau kamu sebutkan nama orang-orang yang pernah menjadi mentor Madiba, Kotane salah satunya,” ujar Verne seperti dikutip dari laman theguardian.com . Sebelum KAA dihelat, pada 16 April 1955, Moses dan Maulvi menyusun pernyataan ihwal tujuan kehadirannya dalam KAA. Dalam pernyataannya itu, mereka mengatakan ketegangan rasial di negerinya sudah mencapai titik yang sangat berbahaya karena penguasa kulit putih melakukan tindak diskriminasi. “Yang hebat benar di Afrika Selatan itu ialah kepada bangsa Afrika yang jumlahnya 67,5 persen dari seluruh penduduk hanya disediakan 13 persen tanah, sedangkan untuk bangsa kulit putih yang banyaknya hanya 20,9 persen dari penduduk disediakan 87 persen tanah pertanian yang subur,” kata Moses dalam pernyataan yang juga ditandatangani oleh Maulvi di Bandung. Usai KAA, Moses masih terus melanjutkan perjalanan keliling dunia selama 11 bulan untuk mencari dukungan internasional. Sejak 1956 sampai 1961, Moses jadi salah satu terdakwa dalam rangkaian persidangan Treason (The Treason Trial) bersama Nelson Mandela, Walter Sisulu, Joe Slovo, Albert Luthuli, Joe Modise serta 151 pemimpin ANC lainnya. Pada 1960 di bawah undang-undang darurat, Moses ditahan selama empat bulan dan ditempatkan pada sebuah rumah isolasi dengan pengawasan ketat selama 24 jam. Pada 1963 Moses meninggalkan Afrika Selatan menuju Tanzania, menjadi bendahara umum ANC di pengasingan. Sekira 1968, Moses mengalami serangan stroke dan mendapat perawatan di Moskow, Uni Soviet sampai meninggal di sana pada 1978. Sebulan yang lalu, 14 Maret 2015, 37 tahun sejak kematiannya, jenazah Moses dibawa pulang dari Moskow ke Pella, Afrika Selatan untuk dimakamkan kembali. Selain Moses, jasad JB Marks, tokoh pembebasan Afrika Selatan lainnya, juga dibawa pulang dari Moskow. Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dalam pidatonya mengatakan Moses Kotane telah menyumbangkan hidupnya untuk kebebasan rakyat Afrika Selatan. “Hari ini, akhirnya kamerad Kotane pulang ke tempat peristirahatannya yang abadi. Dia telah memberikan seluruh hidupnya untuk menegakkan kebebasan, keadilan dan kesetaraan,” ujar Zuma dalam pemakaman kembali Moses, seperti dikutip dari laman resmi pemerintah Afrika Selatan, gov.za . Dalam kesempatan yang sama Presiden Zuma menyampaikan rencananya untuk menghadiri peringatan 60 tahun KAA di Bandung, 19-24 April besok. Kenangan atas Moses Kotane menjadi salah satu alasan penting kenapa ia datang ke Indonesia kali ini. “Afrika Selatan akan berpartisipasi pada perayaan peringatan KAA untuk mengenang kembali seorang patriot yang pernah menghadiri pertemuan bersejarah itu sebagai seorang peninjau, yang mencari dukungan bagi gerakan pembebasan dalam rangka meraih kemerdekaan seperti yang kita nikmati hari ini,” ujar Zuma.






















