top of page

Hasil pencarian

9628 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ketika Kartini Menggugat Snouck Hurgronje

    DALAM salah satu suratnya untuk Rosa Abendanon, Kartini menitip pertanyaan buat Snouck Hurgronje. Pertanyaan itu seputar ukuran kedewasaan perempuan dalam hukum Islam terutama usia yang pantas untuk menikah. Snouck saat itu bekerja sebagai penasihat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Islam. “Apakah di kalangan Islam ada undang-undang tentang umur dewasa seseorang, sebagaimana di kalangan Anda? Saya ingin sekali mengetahui ala kadarnya tentang hak dan kewajiban, atau lebih tepat tentang undang-undang sekitar perempuan Islam dan anak perempuannya?” tulis Kartini dalam suratnya, 18 Februari 1902. Surat itu ditulis pada usia Kartini yang mulai matang dan ada semacam keharusan bagi seorang perempuan Jawa seperti dia untuk segera menikah. Tampaknya dia belum rela melepas masa lajangnya. Menurut Elisabeth Keesing dalam Betapa Besar Pun Sebuah Sangkar: Hidup, Suratan, dan Karya Kartini , pertanyaan Kartini tentang usia yang pantas bagi perempuan untuk menikah itu kerap didahului oleh “percakapan aneh dengan Sijthoff.” Kartini selalu menyelipkan pembahasan soal Sijthoff. Piet Sijthoff adalah residen Jepara kemudian Semarang, yang selalu mendorong Kartini dan dua saudara perempuannya, Roekmini dan Kardinah, untuk belajar. Kartini mengenalnya sejak kanak-kanak dan memanggilnya Oom Piet. “Dalam surat-surat Kartini yang sudah diterbitkan, nama Sijthoff baru muncul jika dalam percakapan dia mengatakan ‘kau harus kawin’,” tulis Elisabeth.  Sijthoff, 22 tahun di atas Kartini, belum menikah dan tinggal dengan ibu dan saudara perempuan serta keponakannya. Keluarga itu mula-mula ramah terhadap Kartini, namun kemudian berubah karena mengira kalau putri bupati itu menaksir Sijthoff sebagai calon suami. Menurut Elisabeth ada pendapat di kalangan orang Belanda di Hindia waktu itu kalau “pendidikan Belanda” yang baik bagi kaum perempuan pribumi adalah lewat pernikahan dengan seorang lelaki Belanda. Kartini pun menegaskan, “Jadi kami yang mendambakan ilmu dan pengetahuan ini mengincar seorang residen atau asisten residen? Ini sungguh lucu! Jadi mungkin kami ini menginginkan Tuan Sijthoff!!!” Elisabeth melihat sebaliknya dalam soal modus kalimat Sijthoff kepada Kartini yang sering menyatakan “kau harus kawin”. Menurutnya, anjuran itu malah “seakan Oom Piet sendiri pernah terpikir untuk kawin dengan salah seorang dari mereka.” Elisabeth yakin Kartini dan Roekmini tidak terpikir untuk memiliki suami lelaki Belanda. Mereka mencari hubungan perkawinan yang lebih layak untuk gadis Jawa.  Apalagi Kartini menjadi saksi tentang banyaknya pernikahan usia dini yang mendatangkan penderitaan bagi kaum perempuan. “Karena itu mereka mencari dukungan ahli agama Islam Snouck Hurgronje, yang pada tahun 1899 diangkat menjadi penasihat urusan pribumi dan Arab,” tulis Elisabeth. Namun, jawaban Snouck Hurgronje mengecewakan Kartini. Alih-alih menguatkan pendirian Kartini untuk tak buru-buru menikah, Snouck malah bilang “Gadis Islam tidak pernah dewasa. Jika dia ingin bebas, dia harus menikah dahulu. Setelah itu boleh cerai lagi.” “Jawaban itu tak dapat dijadikan pegangan. Tetapi yang lebih celaka ialah bahwa tokoh besar yang diharapkan pengertian serta dukungannya itu menentang cita-cita Kartini,” tulis Elisabeth. Maka wajar jika Kartini kemudian bertanya dengan nada meragukan pengetahuan Snouck, “Apakah Dr. S(nouck Hurgronje, red ) itu mengenal betul Jawa?” Kartini juga kecewa pada Snouck yang sama sekali tak pernah bersikap tegas dalam urusan poligami, malah terkesan seperti mendukung praktik permaduan itu. Kartini lantas menyindir Snouck yang pernah mengatakan padanya kalau “hidup perempuan Muslim di dalam perkawinan baik sekali.” Padahal dalam banyak suratnya, Kartini menguraikan kasus penderitaan perempuan di rumah yang penuh dengan anak dan istri dari seorang suami. Pernah pula Kartini mengungkapkan kisah seorang perempuan yang menjadi gila karena penderitaannya: dimadu oleh suami dan terpaksa hidup seatap dengan perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya. “Apakah dr. Snouck masih dengan darah dingin akan mengatakan, ‘hidup mereka baik sekali’, apabila beliau melihat segala yang telah kami saksikan, dan mengetahui apa yang kami ketahui?” kata Kartini menggugat Snouck. Setiap kali Kartini menguraikan kasus poligami yang tragis, menurut Elisabeth, “dengan nada mengejek dia mengutip kata-kata ‘hidup mereka baik sekali’.”

  • Sekelumit Kisah Gedung Merdeka

    TIBA-tiba Presiden Sukarno marah pada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan Sekjen KAA Roeslan Abdulgani. Kemarahannya bermula saat dia temukan renovasi gedung yang semula bernama Concordia itu tak sesuai harapannya. Padahal penyelenggaraan KAA tinggal sebelas hari lagi. Menurut wartawan senior Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil: Petite Histoire Indonesiajilid 2 , keinginan Sukarno tak segera terlaksana karena Ali Sastroamidjojo tak segera mengucurkan dana renovasi sementara Roeslan tak bergegas menjalankan perintah Sukarno. “PM Ali tidak bersedia memberikan duit. Murah meriah saja. Dan Roeslan punya jadwal sempit,” tulis Rosihan. Menemukan gedung belum sempurna ditata saat menginspeksi persiapan KAA, Sukarno menyindir Ali tak bakal mampu membikin revolusi. “Dengan sarjana hukum (SH) orang tidak bisa membuat revolusi,” ujarnya sebagaimana dikutip Rosihan. Setengah bercanda, Sukarno mengejek Ali yang sarjana hukum. Menurut presiden yang terkenal pecinta karya seni itu renovasi yang dilakukan Ali hanya membuat gedung terlihat seperti ruang pengadilan. Dalam waktu yang serba mepet, akhirnya presiden menunjuk arsitek F Silaban untuk mendesain renovasi tersebut, sekaligus mengganti namanya menjadi Gedung Merdeka. Sukarno ingin menjadikan gedung itu tempat penyelenggaraan KAA yang megah dan membanggakan. Memang bukan perkara mudah menjadikan Gedung Concordia sebagai tempat KAA. Jauh sebelum dikuasai pemerintah, gedung tersebut berfungsi ajang sosialita warga elite Belanda di Bandung. Societeit Concordia , demikian nama klab orang kaya Belanda itu, selalu disambangi para pengusaha perkebunan. Setelah kemerdekaan, kepemilikan tetap ada di tangan mereka dan enggan melepaskan kepemilikannya kepada siapa pun. “Tetapi setelah mereka dihadapkan dengan kemungkinan pengambilalihan demi kepentingan negara, akhirnya gedung Concordia tersebut dijual kepada pemerintah,” kenang Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-Tonggak di Perjalananku . Penanda kota Bandung peninggalan era kolonial itu merupakan karya arsitektur Van Gallen Last dan CP Wolf Schoemaker itu berdiri pada 1895. Semasa pendudukan Jepang, Gedung Concordia berubah nama menjadi Dai Toa Kaikan. Pemerintah militer Jepang menggunakannya sebagai kantor propaganda dan pusat kebudayaan. Ketika Jepang kalah perang, gedung itu lalu kosong hingga era Republik Indonesia Serikat (RIS) berdiri, di mana Negara Pasundan memfungsikan Gedung Concordia menjadi gedung pertemuan. Bubarnya Negara Pasundan kembali membuat gedung terbengkalai. Oleh karena itulah ketika menjelang penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika, panitia lokal di bawah pimpinan Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata memilih gedung Concordia dan Gedung Dana Pensiun (Pensioenfonds) menjadi dua gedung yang paling memungkinkan untuk dijadikan wahana perhelatan KAA.

  • Kisah Tragis Akhir Hidup Bapak Film Nasional

    USMAR Ismail ditahbiskan sebagai Bapak Film Nasional. Dia mendirikan Perfini (Pusat Film Nasional Indonesia) dan pada 30 Maret 1950 memulai shooting pertama filmnya, Darah dan Doa di Purwakarta. Tanggal 30 Maret kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Selama hidupnya, antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar: drama (13 film), komedi atau satire (9 film), aksi (7 film), musical/entertainment (4). Namun, ada satu film yang membuatnya tertekan dan berakhir dengan kematiannya. Menurut Rosihan Anwar, wartawan senior dan ipar Usmar Ismail, tidak semua publik tahu tentang cerita tragis yang dialami Usmar Ismail dan yang membawanya kepada kematian relatif muda. “Usmar meninggal dunia dalam usia belum genap 50 tahun. Walaupun Usmar tidak pernah membicarakannya dengan saya, namun saya pikir dia telah mengalami kekecewaan berat dan stress akibat joint-production Perfini dengan sebuah perusahaan film Italia membuat film cerita dengan lokasi Bali,” tulis Rosihan dalam “Di Balik manusia Komunikasi,” tulisan persembahan untuk 75 Tahun M. Alwi Dahlan, kemenakan Usmar Ismail. Pada 1970, Usmar Ismail, sebagai direktur Perfini bekerjasama dengan International Film Company dari Italia, membuat film Adventures in Bali . Namun, proses produksi dan setelah film jadi, bermasalah. Dalam surat pembaca di majalah Ekspres , 21 Desember 1970, Usmar mengakui, “untuk diketahui perlu juga kami menjelaskan bahwa dalam usaha kerjasama ini ternyata pihak Perfini telah banyak sekali dikecewakan oleh pihak Italia, terutama mengenai penyelesaian soal honorarium artis dan karyawan, soal mengenai biaya hotel yang sekarang dibebankan kepada Perfini.” Menurut perjanjian, kata Rosihan, nama Usmar sebagai sutradara akan dicantumkan dalam versi film yang diedarkan di Eropa. “Ternyata waktu Usmar berkunjung ke Roma melihat penyelesaian film Bali itu namanya sama sekali tidak disebut. Usmar sudah ditipu oleh produser Italia,” kata Rosihan. Pada 31 Desember 1970, Usmar pulang dari Italia untuk mengurus kopi film Adventure in Bali, yang ternyata untuk peredaran di Indonesia tidak dikirim. Film ini dirilis dengan judul Bali pada 1971, namun gagal menggaet penonton. Film ini kemudian diedit ulang oleh sutradara Ugo Liberatore dan Paolo Heusch, dan diberi judul baru, Incontro d’amore a Bali . Sementara itu, Usmar sedang berjuang mempertahankan Perfini, meskipun untuk menggaji karyawan harus melego peralatan studio. Sudah jatuh tertimpa tangga. Setiba di Indonesia, Usmar merumahkan 160 karyawannya di PT Ria Sari Show & Restaurant Management di Miraca Sky Club, karena bisnis yang dibangunnya sejak 1967 itu dilikuidasi oleh toko serba ada, Sarinah. Malamnya, Usmar masih sempat menyelesaikan dubbing film terakhirnya, Ananda di studio Perfini. Setelah itu, menjelang pergantian tahun, seperti biasa dia mengajak keluarga dan sahabat-sahabatnya ke Miraca Sky Club. Dia mengadakan perpisahan dengan karyawannya. “Saya terkejut, karena pada malam tahun baru, Usmar, saya dan Aboe Bakar Loebis beserta masing-masing istri masih kumpul di Miraca Sky Club di mana Usmar menjadi manajernya," kata Rosihan. Tidak biasa, Usmar mengajak semua bawahannya berfoto. Dia memeluk satu per satu istri kolega dan bawahannya untuk mengucapkan selamat tahun baru sekaligus kata-kata perpisahan. Dia juga menghendaki sahabat-sahabatnya untuk tetap duduk di dekatnya. “Yang dianggap paling aneh, Usmar yang ketika muda pernah belajar dansa, malam itu ber- soul sendiri,” tulis Rita Sri Hastuti dalam “Mengenang 40 Tahun Kepergian Usmar Ismail dari Darah dan Doa,” lsf.go.id , 14 Maret 2011. Esok sorenya pukul 17.00 Usmar tak sadarkan diri karena pendarahan di otak. “Ada pikiran untuk mengadakan operasi di otaknya. Namun, untuk itu tidak mungkin lagi,” kata Rosihan. Usmar meninggal pada 2 Januari 1971 dan dimakamkan di TPU Karet Jakarta.

  • Inilah Asal-Usul Profesi Tukang Catut

    MENYAMBUT Hari Film Nasional pada 30 maret 2015, sejumlah bioskop memberi promo bagi calon penonton film nasional pada hari-H. Calon penonton cukup beli satu tiket untuk nonton dua film nasional. Tawaran lain berupa kemudahan pembelian tiket bioskop secara online , tak perlu mengantre. Tapi puluhan tahun silam, tiket bioskop jadi lahan subur tukang catut. Sejak kapan profesi tukang catut karcis bioskop dimulai? Kerja mencatut kali pertama muncul pada masa pendudukan Jepang. “Orang yang jadi catut memang bukan sengaja. Karena itu tempo memang banyak yang tidak kerja,” tulis Piso Tjoekoer (kemungkinan nama samaran) dalam Warisan Djepang terbitan 1946. Mingguan Djaja , 4 Mei 1963, bahkan menyebut inilah awal masa merajalelanya tukang catut di negeri ini. Liberty , 1 April 1946, mendeskripsikan mencatut sebagai “gampangnya mendapat untung besar… lantas orang jadi tidak suka berusaha putar otak lebih keras atau gunakan tenaga urat lebih banyak buat mencipta apa-apa yang kekal.” Tukang catut hadir di segala tempat. Termasuk bioskop. Ini terekam dalam film Tiga Dara buatan Usmar Ismail, sutradara sohor Indonesia, pada 1956. Toto dan Nenny, sepasang muda-mudi, datang ke bioskop pada malam hari. Mereka agak telat. Calon penonton telah mengantre hingga luar bioskop. Toto dan Nenny berada di baris paling belakang. Belum lama mereka mengantre, petugas loket bilang tiket habis. Toto dan Nenny lekas ke parkiran bioskop. Seorang lelaki tukang catut menawarkan tiket bioskop ke mereka. Harganya tiga kali lipat ketimbang harga normal di semua kelas tempat duduk: loge (kelas satu), stalles (kelas dua), kelas kambing (kelas tiga), dan kelas balkon (khusus). Firman Lubis (alm), seorang dokter dan penulis, punya gambaran serupa dengan Usmar Ismail tentang tukang catut. Saat masih remaja pada 1950-an, dia sering nonton di bioskop. Jika film lagi bagus dan bintangnya pun terkenal, bioskop bakal ramai. Tukang catut pun bersliweran di bioskop. “Mereka sudah mengantre duluan di depan, atau menyelak (biasanya mereka berkelompok sehingga orang tidak berani menegur) begitu saja ke depan,” tulis Firman dalam Jakarta 1960-an . Untuk menjadi tukang catut, orang harus punya  keahlian beladiri dan keberanian. Firman menyebut beberapa nama tukang catut sohor pada masa itu. Antara lain si Jaim alias Eddy dan Lorens. Kehadiran mereka bikin beberapa calon penonton kesal. Sebab “Harga yang mereka tawarkan bisa berlipat dua, tergantung ramainya orang yang mau menonton,” tulis Firman. Sementara sebagian calon penonton dari kalangan atas justru mencari mereka. Berapapun harga tiket, calon penonton ini pasti membeli. Lagi pula calon penonton ini enggan capek-capek mengantre lama. Menilai sepak terjang tukang catut lebih banyak merugikan orang, pemilik bioskop di Jakarta meminta bantuan polisi mengawasi catut pada 1960-an. “Di Bioskop Menteng, alat-alat negara bukan saja menjaga keamanan dan keberesan penjualan karcis bioskop dari luar loket, tetapi juga dari dalam loket,” tulis Djaja . Menghadapi penjagaan ketat, tukang catut tak kehilangan akal. Mereka bekerja sembunyi-sembunyi. Strategi ini berhasil. “Tukang catut masih saja sempat berbisik-bisik ke telinga penonton yang tidak kebagian karcis: loge…loge… stalles…stalles! ” tulis Djaja . Ali Sadikin, Gubernur Jakarta, turun tangan mengatasi tukang catut pada 1970. Dia bilang butuh kerjasama menghadapi tukang catut. Dia berjanji bakal menurunkan harga tiket bioskop. Sebaliknya, dia juga meminta calon penonton jangan malas antre. Dengan cara ini, tukang catut perlahan menghilang dari bioskop. Beralih ke tempat lain seperti terminal dan stasiun kereta api.

  • Begal Dulu Begal Sekarang

    Prabu Jayabaya, raja Kediri, telah meramalkan bahwa begal pada ndhugal, rampok padha keplok-keplok.  Ramalan tersebut ditafsirkan oleh Sindung Marwoto dalam Ramalan Prabu Jayabaya: Mengungkap Tanda-tanda Zaman sebagai berikut: "Pencopet, perampok, perompak, maling dan sejenisnya semakin kurang ajar. Dia melakukan aksinya dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ia menjarah-rayah harta orang lain dengan semena-mena. Ia bersorak-sorai karena menjarah dan merampok semakin mudah dan hasilnya semakin banyak, risiko perbuatan mereka semakin kecil. Kalau toh tertangkap dan masuk penjara, mereka dengan sangat mudah menyuap pejabat hukum untuk melepaskan.” Begal (bahasa Jawa) merupakan istilah klasik dalam dunia perbanditan di Jawa. Begal, menurut sejarawan Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera , merupakan pencurian oleh penjahat dengan cara menghadang korban di tengah jalan. Selain begal, sejarawan Suhartono mencatat istilah lain yaitu perampok, penyamun, kecu , koyok , dan culeng . Kecu dan rampok terdiri dari kawanan yang lebih dari 20 orang, koyok lebih dari 5 orang, dan culeng lebih dari tiga orang. “ Maling atau pencuri dan begal, meskipun sering dilakukan lebih dari seorang dapat digolongkan resistensi individu. Yang jelas sasaran mereka adalah individu pula yang merugikan petani. Mereka digolongkan kejahatan kecil, sedangkan rampok dan kecu termasuk kejahatan besar atau kejahatan serius,” tulis Suhartono dalam Bandit-bandit di Pedesaan Jawa. Suhartono menganggap perbanditan di Jawa muncul akibat resistensi terhadap kemiskinan, tekanan pajak, kerja wajib, dan tekanan sosial-politik. “Menurut kacamata pemerintah kolonial resistensi ini sebagai kejahatan yang dilakukan para penjahat atau bandit,” tulisnya. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga pada masa mudanya menjadi begal karena resistensi terhadap keadaan memprihatinkan rakyat kadipaten Tuban. Dia membegal untuk membantu rakyat miskin.  Berdasarkan kesadaran politik, menurut Suhartono, resistensi berupa perbanditan dibedakan menjadi gerakan belum sadar politik, setengah sadar, dan sadar sepenuhnya. Resistensi yang sadar sepenuhnya mewujud dalam bentuk gerilya dan pemberontakan. Resistensi setengah sadar dilakukan oleh individu maupun kelompok yang diwujudkan dalam perampokan dan pengkecuan. “Gerakan yang tidak sadar lebih didominasi oleh tindak kejahatan semata-mata yang diwujudkan dalam pencurian, begal, dan sejenisnya,” tulis Suhartono. Di Jawa, Suhartono menguraikan realisasi dari resistensi berupa “pembakaran kebun tebu, los tembakau, saluran irigasi, perusakan gudang dan bangunan lain, pencurian, pambegalan, dll.” Sementara itu, Wasino melihat perbanditan di Jawa sebagai tindak kejahatan biasa, bukan karena resistensi. Munculnya kecu sampai begal dapat berlangsung di sepanjang bulan dalam siklus setahun. Akan tetapi, data kepolisian di kabupaten dan kota Mangkunegaran menunjukkan bahwa kecu selalu muncul dalam bulan-bulan paceklik, misalnya bulan September. Pada 1919-1921 di setiap September selalu ada sekali peristiwa kecu . Sementara bulan April dan Juli tidak selalu terjadi. “Hal yang sama juga pada kasus perampokan di jalan (begal),” tulis Wasino. Sedangkan kasus pencurian hewan (raja kaya), mengalami penurunan pada bulan Juli. Ini terkait dengan tersedianya lapangan pekerjaan di wilayah perkebunan tebu saat musim tanam tebu. “Dengan demikian,” Wasino menyimpulkan, “bisa dikatakan bahwa motif pengkecuan dan pembegalan adalah motif ekonomi.”

  • Nabi Muhammad Perangi Pengkhianat

    Gagal menaklukkan Madinah dan umat Islam yang dimulai pada 31 Maret 627, pasukan Abu Sufyan, pemimpin suku Quraisy di Mekah, menarik diri dari pengepungan berlarut-larut, yang menandakan kemenangan umat Islam di Madinah. Umat Islam kemudian mengalihkan perhatiannya kepada suku Quraizah. Suku Quraizah adalah satu dari tiga suku Yahudi yang menetap di Madinah, sebelum kedatangan umat Islam yang mengungsi dari Mekah. Yang lainnya adalah suku Nadir dan Qainuqa. Nabi Muhammad meneken Piagam Madinah tahun 622 untuk mengikat beragam komunitas di Madinah, termasuk Yahudi, agar hidup berdampingan di Madinah. Namun ketika suku Nadir dan Qainuqa mengkhianati perjanjian itu, mereka pun diusir dari Madinah. Keduanya kemudian bergabung dengan pasukan Abu Sufyan. Pada Perang Parit, suku Quraizah berniat memberontak dengan menyerang umat Islam dari dalam. Namun Muhammad berhasil menggagalkan persekongkolan mereka dengan pasukan penyerang. “Orang-orang Islam secepatnya memobilisasi dan menyerang pertahanan orang-orang Yahudi itu. Suku Quraizah menahan serangan, yang dipimpin oleh Ali, selama 25 hari. Sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa menang dan meminta untuk bernegosiasi,” tulis Yahiya Emerick dalam Critical Lives: Muhammad. Buku-buku yang ditulis penulis Barat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad kemudian memerintahkan mengeksekusi mati sekitar 600-900 laki-laki Quraizah karena telah melanggar Piagam Madinah dan bersekongkol dengan musuh. Peristiwa ini kemudian menjadi perdebatan di antara sejarawan Islam di masa modern. Philip K. Hitti agaknya memilih moderat dengan menyebut 600 orang Quraizah tewas akibat diserang. “Setelah pengepungan berakhir, Muhammad menyerang orang-orang Yahudi karena ‘bersekongkol dengan pasukan penyerang’ yang mengakibatkan terbunuhnya 600 orang suku utama Yahudi, Banu Quraizah, dan sisanya yang masih hidup, diusir dari Madinah,” tulisnya dalam History of the Arabs . Setelah kemenangan di Perang Parit, Madinah menjadi basis umat Islam. Nabi Muhammad kemudian menundukkan suku-suku Arab yang masih menyembah berhala tanpa bisa dihalangi oleh Mekah. “Pasukan Muslim hampir selalu menang dalam serangan-serangan tersebut, dan suku-suku Arab yang kalah menerima otoritas Muhammad. Suku-suku lain, mendengar kekuatan Muhammad yang kian besar, berdatangan ke Madinah dengan sendirinya untuk menjalin aliansi dan bersumpah untuk mengikuti sang nabi,” tulis Gabriel Said Reynolds dalam The Emergence of Islam: Classical Traditions in Contemporary Perspective . Pada periode Madinah ini, tulis Philip K. Hitti, Arabisasi atau nasionalisasi Islam dilakukan. “Nabi baru itu memutuskan ketersambungan Islam dengan agama Yahudi dan Kristen: Jumat menggantikan Sabat (Sabtu, red. ), azan menggantikan suara terompet dan gong, Ramadan ditetapkan sebagai bulan puasa, kiblat (arah salat) dipindahkan dari Yerusalem ke Mekah, ibadah hajike Ka’bah dibakukan dan mencium Batu Hitam –ritual pra-Islam– ditetapkan sebagai ritual Islam.”

  • Siasat Jitu Perang Khandaq

    Pada 31 Maret 627, pasukan persekutuan (al-ahzab) pimpinan Abu Sufyan asal Mekah tiba di Madinah. Namun, alangkah terkejut mereka ketika melihat sekeliling Madinah telah dibentengi dengan parit-parit yang dalam. Abu Sufyan, yang memusatkan daya gedornya pada pasukan kavaleri, hanya bisa keheranan melihat strategi perang yang tak biasa di tanah Arab tersebut. Karena itulah perang ini disebuat Perang Parit atau Perang Khandaq. Perang Parit dipicu kebangkitan umat Islam Madinah yang menurunkan pamor Mekah sebagai pusat keagamaan dan dagang utama di jazirah Arab. Hal ini membuat Abu Sufyan, pemimpin suku Quraisy di Mekah, geram. Dia menghimpun pasukan dari berbagai suku di Mekah, suku Yahudi, serta tentara bayaran dari suku Badui dan Abissinia, untuk menaklukkan Madinah dan umat Islam. Sekira 10.000 prajurit terkumpul, jumlah terbesar di seluruh Arab saat itu. Nabi Muhammad mengumpulkan pengikutnya untuk mendiskusikan strategi perang. Ide melindungi kota dengan membangun parit ditelurkan seorang Persia, Salman al-Farisi. Sekira 3.000 prajurit yang mempertahankan kota dikerahkan untuk membangun parit selama enam hari. Parit dalam bahasa Arab (khandaq) berasal dari bahasa Persia ( kandan artinya menggali), melalui bahasa Aramaik. “Menghadapi kekuatan yang begitu besar, kelihatannya tidak mungkin penduduk Madinah akan berhasil mempertahankan diri,” tulis Irving M. Zeitlin dalam The Historical Muhammad . “Tapi seorang Persia menyarankan Muhammad untuk menggali parit di sekitar Madinah, sebuah inovasi militer yang menurut orang-orang Arab Badui itu sebagai taktik paling curang yang pernah mereka hadapi.” Hal itu karena tradisi pertempuran antara dua pasukan selalu terjadi di tanah terbuka. Mereka tidak terbiasa menghadapi musuh yang bertahan di dalam kota. Menghadapi situasi perang yang terbilang baru itu, pasukan Abu Sufyan hanya bisa membangun kemah untuk mengepung. Salah satu dari mereka, Amr bin Wadd, sempat meloncati parit dan mencapai tengah kota sebelum akhirnya tewas setelah berduel dengan Ali bin Abi Thalib, sepupu Muhammad. “Tidak percaya dengan taktik perang semacam itu, yang menurut orang-orang Badui merupakan tindakan paling tidak jantan yang pernah mereka lihat, pasukan penyerang akhirnya bergerak mundur pada akhir April 627, setelah jatuh korban sebanyak 20 orang dari kedua pihak,” tulis Philip K. Hitti dalam History of the Arabs . Pengepungan berlangsung selama 27 hari dan terasa begitu menyiksa bagi pasukan penyerbu yang hanya bisa menunggu di tengah dinginnya gurun. Selain itu, usaha persekongkolan mereka dengan satu suku Yahudi yang tersisa di Madinah, suku Qurayza, pun tak ada kabarnya. Ternyata, Muhammad sudah mencium benih pemberontakan itu.

  • Yasuke Si Samurai Hitam

    Pada 1581, massa di Kyoto melabrak rumah misionaris Jesuit, Alessandro Valignano, karena ingin melihat budak yang dibawanya dari Mozambik, Afrika Selatan. Beberapa orang terluka, bahkan ada yang tewas, saking antusias melihat budak itu. Kejadian itu sampai ke telinga Oda Nobunaga (1534-1582), seorang daimyo (tuan tanah-pendekar) Provinsi Owari sekitar Nagoya, yang tengah berdiam di Kyoto. Dia dan pengikutnya menaklukkan sepertiga wilayah Jepang dari kekuasaan para tuan tanah feodal untuk mempersatukan Jepang di bawah panji satu pemerintahan. “Karena merasa dipermalukan oleh insiden tersebut, Oda Nobunaga sendiri yang memanggil si budak Afrika, memeriksanya dengan saksama untuk memastikan bahwa warna kulitnya asli, menghadiahkannya uang, dan menjadikannya pelayan,” tulis Gary P. Leupp dalam Interracial Intimacy in Japan: Western Men and Japanese Women, 1543-1900 . Nobunaga menyematkan nama “Yasuke”, yang artinya kurang lebih “orang berkulit hitam.” Keberadaan Yasuke tercatat dalam beberapa catatan sezaman. Kronik tentang Nobunaga, Shinchokoki , mendeskripsikan pertemuan pertama Yasuke dengan Nobunaga. Saat itu Yasuke berusia 26 atau 27 tahun, tubuhnya hitam legam, kuat, dan bisa sedikit berbahasa Jepang. Tingginya sekitar 188 cm, sangat mencolok bagi ukuran orang Jepang kala itu. Yasuke diizinkan mengenakan baju samurai dan membawa senjata perang Nobunaga dalam beberapa pertempuran. Meski menjalani hidup layaknya samurai, Yasuke tidak memiliki tanah. Dia seorang samurai hanya sebatas nama. Penghambaan Yasuke berakhir ketika Akechi Mitsuhide, panglima Nobunaga, berkhianat dan memaksa Nobunaga melakukan seppuku , ritual bunuh diri, pada Juni 1582. Yasuke akhirnya dilepaskan karena Mitsuhide menganggapnya orang asing yang tak tahu apa-apa. Beberapa kronik menyebutkan dia kemudian diserahkan kembali kepada para misionaris Jesuit. Setelah itu, nama Yasuke menghilang dari sejarah. Karena pengkhianatannya, Mitsuhide tewas sebelas hari kemudian oleh panglima Nobunaga yang lain, Toyotomi Hideyoshi. Baru pada masa kepemimpinan sekutu Nobunaga lainnya, Tokugawa Ieyasu, Jepang dipersatukan di bawah panji Dinasti Tokugawa yang berlangsung selama 250 tahun –dikenal dengan nama Zaman Edo (1603-1867). Pada masa ini, orang-orang kulit hitam kembali berdatangan. Sebagian besar diperdagangkan sebagai budak oleh orang-orang Belanda melalui jaringan dagang VOC. Selama Zaman Edo, sebagian kecil dari mereka bahkan menetap di pos dagang Belanda di Pulau Deshima. “Seperti Yasuke, beberapa orang Afrika ditempatkan oleh para tuan tanah dalam beragam kapasitas, sebagai prajurit, penembak, pemusik, dan penghibur,” tulis John G. Russell, “The Other Other: The Black Presence in the Japanese Experience”, termuat dalam Japan’s Minorities: The Illusion of Homogeneity suntingan Michael Weiner. Kisah hidup Yasuke menginspirasi lahirnya buku cerita anak-anak tentang seorang samurai berkulit hitam yang mengabdi pada Nobunaga. Judulnya Kuro-suke , yang ditulis Kurusu Yoshio pada 1960-an. Kuro-suke kemudian memicu terbitnya buku-buku bacaan historis untuk anak-anak serupa di Jepang. Kisah Yasuke akan diangkat ke layar lebar yang akan diperankan oleh Chadwick Boseman, Sang Raja Wakanda dalam film Black Panther. Film ini akan digarap oleh Eric Feig's Picturestart, De Luca Productions, Solipsist Films, dan X●ception Content. Dalam data filmografi di  imdb.com disebut Yasuke menjadi film terakhir Chadwick Boseman dalam status  pre-production.  Selain akan memerankan Yasuke, Chadwick Boseman juga menjadi produser. Sayangnya, Chadwick Boseman meninggal pada 29 Agustus 2020 di usia 43 tahun karena kanker. Tulisan ini diperbarui pada 29 Agustus 2020 .

  • Perintis Gagasan Wawasan Nusantara

    MOCHTAR Kusuma-Atmadja, pakar hukum laut dan internasional, berulangtahun ke-86 pada 17 Februari lalu. Rambut Mochtar sudah putih semua dan kesehatannya sering turun. Kalau keluar rumah, Mochtar harus menggunakan kursi roda. Tapi perhatian Mochtar pada hukum, laut, dan generasi muda Indonesia belum jua menurun. Soal perhatiannya pada generasi muda itu dibenarkan oleh Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia. “Saya bertemu Pak Mochtar kali pertama pada 1991. Setelah pertemuan itu, Pak Mochtar sering bilang kamu harus memikirkan generasi muda. Mereka harus berilmu. Tanpa ilmu, negara ini akan runtuh,” kata Hikmahanto menirukan Mochtar pada peluncuran biografi Mochtar Kusuma-atmadja Rekam Jejak Kebangsaan Mochtar Kusuma-Atmadja , Sabtu siang, 28 Februari di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Sementara itu mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menilai Mochtar sebagai sosok yang memiliki perhatian khusus pada regenerasi di lingkungan Departemen Luar Negeri dan  menekankan pentingnya mereka memahami gagasan Wawasan Nusantara. Namun dia menyayangkan “macetnya kaderisasi” dan rendahnya pemahaman Wawasan Nusantara tersebut. Mochtar menggagas konsep Wawasan Nusantara pada 1957. Ini bermula dari kejeliannya melihat celah dalam pasal 1 ayat 1 Teritoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie (TZMKO, Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim). Undang-undang laut itu buatan Belanda pada 1939, tapi bertahan hingga Indonesia merdeka. Menurut TZMKO, laut Indonesia hanya berjarak 3 mil dari garis pantai. Di luar jarak 3 mil, termasuk laut internasional. Kapal-kapal asing bebas berlayar. Sementara pulau-pulau Indonesia jadi terpisah, tak menjadi kesatuan. Untuk mengganti TZMKO, Mochtar mengajukan gagasan bahwa Indonesia berhak atas wilayah laut bagian dalam. Mochtar ingin mengintegrasikan wilayah laut dengan daratan: tanah-air. Agar pulau-pulau Indonesia tak terpisah oleh laut, dia mengemukakan perhitungan batas laut baru. Mochtar menghitung batas laut Indonesia menjadi 12 mil dari garis pantai. Gagasan ini belum pernah terpikirkan oleh para ahli hukum laut sebelumnya. “Ini pemikiran revolusioner,” kata Hassan.  Mochtar memperjuangkan gagasan sampai ke Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Semua melalui jalur legal dan konstitusional. Tanpa sebutir peluru pun keluar. “Sebab Pak Mochtar orang yang percaya pada kekuatan hukum. Hukum sebagai alat untuk mengubah masyarakat; bisa memberi kemaslahatan bagi bangsa,” kata Hikmahanto. Perjuangan Mochtar tak mudah. Negara-negara maju bersatu menolak gagasannya. “Sebab gagasan ini bisa membatasi kebebasan mereka di laut lepas,” kata Menteri Koordinator Bidang Maritim Indroyono Soesilo dalam sambutannya. Tak heran Mochtar butuh waktu 25 tahun untuk meyakinkan negara-negara maju agar menerima Wawasan Nusantara. Perjuangan Mochtar berbuah pada 1982. PBB menerima konsep Wawasan Nusantara. “Ini membuktikan keyakinan Pak Mochtar bahwa hukum bisa memberi kemaslahatan dan membuktikan pada dunia bahwa putra-putri Indonesia tak hanya bisa membuat undang-undang di negaranya sendiri, tapi juga di dunia,” tutur Hikmahanto. Presiden Indonesia periode 2009-2014 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga memberikan sambutan dalam peluncuran buku Mochtar mengatakan penerimaan masyarakat internasional terhadap Wawasan Nusantara tak lepas dari peran Mochtar. “Beliau memadukan konsep hard dan soft power menjadi smart power . Beliau bisa tegas dan bisa pula sangat halus dalam berjuang… Kita patut memberi penghargaan setinggi-tingginya,” kata SBY   Hingga sekarang gagasan Mochtar masih bertahan. Bahkan Hikmahanto berniat mengembangkannya. “Sekarang kita mesti berpikir bagaimana konsep negara kepulauan bisa menjadi alat tawar diplomasi,” pungkasnya.

  • Amat Jantan Indonesia

    AMAT, salah seorang anggota barisan pembantu prajurit Jepang ( Heiho ) di Angkatan Laut, dipuja bak pahlawan. Kisah keberanian dan pengorbanannya dipropagandakan melalui drama, film, hingga lagu. Pemerintah pendudukan Jepang memobilisasi para pemuda untuk bergabung dengan pasukan-pasukan semimiliter. Salah satunya Heiho , yang dibentuk pada April 1943. Syaratnya, pemuda berusia 18-25 tahun, berbadan sehat, berkelakuan baik, dan pendidikan minimal sekolah dasar. Mereka dijanjikan akan ditempatkan di Angkatan Darat dan Angkatan Laut Jepang. Nyatanya, Heiho dimaksudkan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan kasar di kesatuan-kesatuan angkatan perang Jepang. “Oleh karena barisan Heiho ini adalah barisan tenaga pekerja, maka umumnya tidak diberi senjata kepada mereka, kecuali satu taikeng (sangkur) yang merupakan satu bagian mutlak dari pakaian seragam yang lengkap,” tulis O.D.P. Sihombing dalam Pemuda Indonesia Menantang Fasisme Djepang . Para Heiho kemudian diberi senjata ketika Jepang semakin terdesak oleh Sekutu. Mereka berperang bersama para serdadu Jepang. Dari sinilah kisah Amat, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Amat Heiho Jantan Indonesia”, bermula. Amat terkenal ketika Sekutu berusaha merebut Balikpapan pada 21 Mei 1945 –sumber lain menyebut di Tarakan, Kalimantan. Amat dipropagandakan Jepang sebagai “teladan dan keberanian yang tiada tandingannya, yaitu dengan mengorbankan dirinya sebagai torpedo berjiwa menghancurkan kapal-kapal perang musuh,” tulis Bambang Gunardjo dan Lesek Keti Ara dalam Buku Pantjawindhu Kebangkitan Perdjungan Pemuda Indonesia . Kotot Sukardi, pemimpin Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa (POSD) bentukan Departemen Propaganda Jepang ( Sendenbu ), membuat drama “Turut Bersama Amat”. Sandiwara tersebut membawa pesan semangat berjuang bernyala-nyala untuk membenci musuh dan menuntut bela atas kematian Amat. Ia dipentaskan pada 18-22 Juni 1945 secara serentak di Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bondowoso, dan Situbondo. Sebagian pendapatannya disumbangkan untuk keluarga almarhum Amat. Selain drama, kisah Amat dijadikan film propaganda berdurasi 30 menit dan sebuah lagu berjudul “Amat Heiho Jantan Indonesia” yang dinyanyikan di mana-mana. Liriknya: Amat Heiho Jantan Indonesia / Nun di Tarakan membela negara / Mati berjuang tiada tara / Membela negara gagah perwira. Banyak orang menganggap Amat adalah sosok misterius, bahkan fiktif. Namun, menurut M. Sunjata Kardarmadja dan Sutrisno Kutoyo dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat , Amat adalah tokoh nyata. Pada Juni 1945, Sukarno menyaksikan penguburan Amat di Tarakan. Kehadiran Sukarno bisa jadi bagian dari propaganda Jepang. Sebab, sebagai konsekuensi kerjasama dengan Jepang, Sukarno kerap terlibat dalam proyek-proyek propaganda Jepang. Terlepas Amat fiktif atau nyata, para pemuda yang bergabung menjadi Heiho diperkirakan 42.000 orang (Jawa 24.873, Timor 2.504, dan 15.000 daerah lain). Bagi orang Jepang, anggota Heiho lebih terlatih dalam kemiliteran daripada tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang didirikan pada Oktober 1943, karena kedudukannya sebagai pembantu prajurit Jepang di medan perang. Di antara mereka ada yang memegang senjata antipesawat terbang, tank, artileri, dan pengemudi. Namun tidak seorang pun yang berpangkat perwira karena pangkat itu hanya diberikan untuk orang Jepang. Hal ini berbeda dari tentara Peta.

  • Prawoto Mangkusasmito, Ketua Masyumi Terakhir

    Masyumi dinilai banyak kalangan sebagai salah satu partai yang para kader dan pemimpinnya punya kepribadian perjuangan, tidak pernah pecah kongsi antara asas partai dengan perilaku kader dan pemimpinnya. Meskipun berusia tidak sampai genap 15 tahun, kemudian membubarkan diri besama Partai Sosialis Indonesia pada 1960, akibat perseteruan politik yang tidak bisa dihindari dengan penguasa Orde Lama. Demikian paparan A.M. Fatwa, ketua pembina Yayasan Asrama Pelajar Islam (YAPI), dalam pembukaan peluncuran buku Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito, Ketua Umum (Terakhir) Partai Masyumi, di Jakarta, 26 Januari 2014. Buku karya SU Bajasut ini terbit kali pertama pada 1972, dan terbitan terbaru kali ini mendapat suntingan dari Lukman Hakiem, penulis biografi tokoh-tokoh Masyumi.  Prawoto Mangkusasmito, tercatat sebagai ketua umum Masyumi terakhir. Pria kelahiran Tirto, Grabag, Magelang, Jawa Tengah, pada 4 Januari 1910 ini, terpilih menjadi ketua umum Masyumi pada Muktamar IX di Yogyakarta tahun 1959. Prawoto sangat teguh dalam pendirian dan sangat hangat dalam pergaulan pribadi dan keluarga. Harry Tjan Silalahi, ketua Partai Katolik Indonesia pada 1971, pernah bertanya kepada I.J. Kasimo , mengapa Partai Katolik Indonesia dekat dengan Masyumi? “Tokoh-tokoh Masyumi dan Prawoto memiliki integritas,” kata Kasimo. Fatwa menambahkan, kebesaran jiwa tokoh Masyumi bukan hanya pada Prawoto, melainkan juga Mohammad Natsir yang akrab dengan J. Leimena (Partai Kristen Indonesia) dan Arnold Mononutu (Partai Nasional Indonesia). Kasman Singodimedjo yang dipenjara pada masa Orde Lama, mengantar jenazah Sukarno ke Blitar, bahkan Buya Hamka yang bernasib sama dengan Kasman, mengimami salat jenazah Sukarno. Sedangkan, Sjafruddin Prawiranegara terkenal dengan ucapannya: “Jangan pernah kehilangan objektivitas meskipun terhadap mereka yang tidak kita sukai.” Sepuluh tahun setelah kepergian Sukarno, muncul tulisan yang mengecilkan perannya. “Tulisan yang intinya menyebut Sukarno sebagai tokoh yang mudah bertekuk lutut itu,” kata Fatwa, “dibantah keras oleh Mr. Roem dengan data dan argumen yang kokoh.” Muhajir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, memandang bahwa alam pikiran dan jejak perjuangan Prawoto dilandasi dengan keyakinan dan pemahaman agama yang utuh. “Ajaran agama Islam bila dipahami secara benar, maka tidak ada agama lain yang merasa terancam,” kata Muhajir dengan mengambil contoh persahabatan Prawoto dengan tokoh-tokoh dari agama lain. Gambaran lain mengenai sosok Prawoto, dilukiskan dengan peristiwa pertemuan menjelang pembubaran Masyumi di Istana Merdeka pada 28 Juni 1960. Busana yang digunakan Prawoto tampak kontras dengan tamu lainnya: M. Yunan (Masyumi), Sjahrir dan Soebadio Sastrosatomo (PSI) yang mengenakan jas lengkap. Prawoto hanya mengenakan sarung, berpeci, bersandal kulit, dan baju koko. “Prawoto secara simbolis ingin menempatkan bahwa Sukarno adalah (juga) rakyat biasa” kata pengamat politik, Fachry Ali. Kesederhanaannya pun diungkapkan oleh pemimpin koran Indonesia Raya , Mochtar Lubis . “Jenggot dan kumisnya, peci, kacamata, dan kain sarung yang paling suka dipakainya setiap hari,” kata Lubis. Menurut Fachry, salah satu tulisan Prawoto yang menarik dalam buku ini adalah “Jiwa dan Semangat 1945 Masyumi Menolak Suatu Machsstaat ” yang disampaikan sebagai sikap partai dalam pandangan umum Konstituante pada 4 Mei 1959. Tulisan ini adalah tanggapan balik dari “Konsepsi Presiden” yang dicetuskan pada 21 Februari 1957 tentang pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan kembali ke UUD 1945. Konsepsi Presiden tersebut jawaban atas kemandekan dan kekacauan politik yang diakibatkan sistem demokrasi parlementer. Dalam tulisannya, Prawoto mengungkapkan bahwa Demokrasi Terpimpin akan memunculkan seorang “mahapemimpin” dan “pemimpin dari suatu kekuasaan yang menempatkan dirinya di atas hukum, permulaan dari pertumbuhan ke arah suatu negara kekuasaan ( machts-staat ) tidak dapat diterima.” Menurut Fachry, ketika Prawoto menyebut dan mengungkapkan penolakkannya terhadap sistem politik yang mengakomodasi terciptanya “mahapemimpin” telah sekaligus mengungkapkan sikap dan kesadaran genuine -nya tentang demokrasi. “Status seorang ‘mahapemimpin’ sangat berbahaya karena punya kecenderungan bertindak di luar sistem, dan di atas itu, berpotensi mengangkangi hukum itu sendiri,” kata Fachry.   Harry Tjan, menjelaskan bahwa machtsstaat tidak menerjemahkan “roh keadilan” dengan baik, bahkan jauh membelakangi, sedangkan recthstaat (negara berdasarkan hukum) menjelma sebagai “roh keadilan.” Itulah konsepsi Prawoto tentang hukum dan keadilan.

  • Kupu-Kupu Malam dalam Revolusi

    Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti, membuat pernyataan kontroversial. Dia menganggap "Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah pahlawan keluarga, karena mereka umumnya bekerja untuk menghidupi keluarga. Dalam kondisi itu, tidak manusiawi kalau tempat pelacuran ditutup," demikian dikutip tribunnews.com. Seberapa besar dan penting peran PSK –yang dulu kerap disebut wanita tuna susila atau "Kupu-Kupu Malam" kata penyanyi Titiek Puspa– dalam sejarah Indonesia? Dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, Sukarno membuktikan pentingnya peran wanita tuna susila. "Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia. Dalam keanggotaan PNI (Partai Nasional Indonesia) di Bandung terdapat 670 orang perempuan yang berprofesi demikian dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh," kata Sukarno. Wanita tuna susila anggota PNI itu memberi Sukarno informasi berharga dari polisi-polisi kolonial yang memakai jasa mereka. "Tak satupun laki-laki anggota partai yang terhormat dan sopan itu dapat mengerjakan tugas ini untukku," ujar Sukarno. Bahkan, selain memberikan informasi, wanita tuna susila itu menyumbang uang untuk kegiatan partai. "Dan mereka bukan saja penyumbang yang menyenangkan," ucap Sukarno, "tapi juga penyumbang yang besar." Ali Sastroamidjojo, tokoh PNI, menentang tindakan Sukarno melibatkan wanita tuna susila dalam partai. "Sangat memalukan," tegas Ali. "Ini sangat tidak bermoral." Gatot Mangunpraja, sekretaris PNI, membantah keterangan Sukarno bahwa PNI menggunakan wanita tuna susila sebagai daya tarik bagi anggota untuk menghadiri kursus politik, dan tidak benar 670 anggota PNI Bandung adalah wanita tuna susila. Faktanya adalah bahwa ada satu atau dua wanita tuna susila yang telah memperbaiki diri dari prostitusi dan menikah, menjadi anggota PNI bersama suami mereka. "Kami sangat berhati-hati memasukkan para wanita tuna susila dan penjudi, yang mungkin membahayakan dengan memberi nama buruk bagi organisasi," kata Gatot, "The Peta and My Relations with the Japanese: A Correction of Sukarno’s Autobiography," dimuat jurnal Indonesia , Vol. 5 tahun 1968. Sukarno mungkin berlebihan dalam hal anggota PNI, namun kemudian dia pernah menggunakan 120 wanita tuna susila di Minangkabau untuk melayani tentara Jepang. Tujuannya, "semata-mata sebagai tindakan darurat dan demi menjaga para gadis kita," kata Sukarno. Seperti halnya para wanita tuna susila yang mendapatkan informasi dari polisi kolonial untuk Sukarno, pada masa revolusi (1945-1949), mereka juga mendapatkan senjata dari tentara Hindia. Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta, menyebutkan para wanita tuna susila Senen menyelundupkan senjata kepada Laskar Rakyat Jakarta Raya (LRJR) terdiri dari tujuh pasukan inti dengan tingkat kekuatan beragam dan tersebar di Kota Karawang. Tujuan jangka pendek LRJR adalah menyerang Jakarta dan mengirim Inggris dan Belanda ke laut. Senjata dan amunisi merupakan elemen penting dalam perdagangan antara Jakarta dan Karawang. Walaupun tidak bisa ditembus secara militer, garis demarkasi sangat mudah ditembus bagi perdagangan gelap. "Di sinilah koneksi LRJR dengan dunia bawah tanah sebelum perang menjadi sangat penting, karena senjata-senjata tersebut merupakan hasil pencurian yang diselundupkan lewat Singapura dan dengan bantuan pelacur-pelacur Senen yang mendapatkannya dari tentara Hindia," catat Cribb. Masih pada masa revolusi, Moestopo, seorang dokter gigi dan perwira eksentrik. Ketika ditunjuk sebagai perwira pendidikan politik di Subang pada 1946, dia tiba di sana dengan unit bersenjata yang tidak biasa, disebut Pasukan Terate. Selain merujuk bunga teratai, nama itu juga akronim dari Tentara Rahasia Tertinggi. "Unit ini sebagian terdiri dari mahasiswa Akademi Militer Yogyakarta yang telah menerima pelatihan lapangan," tulis Cribb, "selain juga pelacur dan pencopet dari Surabaya dan Yogyakarta yang dikirim ke sejumlah garis pertempuran Belanda di wilayah Bandung untuk mencuri senjata, pakaian, dan barang-barang lain." Jejak wanita susila juga terdapat pada poster propaganda karya pelukis Affandi. Idenya berasal dari Sukarno yang menginginkan sebuah poster sederhana namun kuat sebagai alat propaganda untuk membangkitkan semangat pemuda. Peluksi Dullah sebagai modelnya sedang memegang bendera merah putih dan memutuskan rantai yang mengikat kedua tangannya. Pada poster itu, penyair Chairil Anwar memberinya kata-kata: "Boeng, Ajo Boeng!" Poster propaganda itu tersebar kemana-mana. Siapa nyana, Chairil memperoleh kata-kata itu dari para wanita tuna susila di Senen ketika mereka menawarkan jasa: "Boeng, ajo boeng…"

bottom of page