top of page

Hasil pencarian

9735 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Bahder Djohan dan Akses Bacaan untuk Dokter Pribumi

    DISKRIMINASI pada dokter pribumi amat kentara di era kolonial. Selain mendapat gaji yang jauh lebih kecil dan ditugaskan ke daerah terpencil, akses dokter pribumi untuk mendapat bacaan medis juga dibatasi. Jurnal kedokteran terkemuka Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (GTNI) hanya boleh diakses oleh pejabat kesehatan dan dokter Belanda. “GTNI sangat eksklusif untuk dokter Belanda, sementara akses dokter pribumi untuk sekadar membaca GTNI amat dibatasi,” kata Wahyu Suri Yani kala mempresentasikan risetnya di seminar “The Construction of Indonesian Knowledge Culture since Independence” di UGM pada Rabu, 5 Februari 2020. Menurut Suri, pembatasan akses ini mempersulit dokter pribumi untuk menambah wawasan. Pasalnya, gaji yang kecil saja sudah membuat para dokter ini kesulitan untuk berlangganan koran. Sikap diskriminatif ini membuat muak dokter pribumi yang tergabung dalam Vereeniging van Inlandsche Geneeskundingen  (VIG), organisasi perkumpulan dokter pribumi yang dibentuk setelah pidato kritis dokter Tehupeiory asal Ambon. Dalam ceramahnya pada Januari 1908, Tehupeiory memprotes anggapan yang meremehkan posisi dokter pribumi atau lulusan STOVIA. Ceramah itu mendorong dibentuknya VIG pada 29 September 1911. (Setelah Kongres Pemuda 1928, kata Inlandsche  diganti menjadi Indonesische ). Lewat VIG, para dokter pribumi memperoleh kekuatan dan posisi tawar. Mereka bersatu untuk memperjuangkan hak mereka dan menentang diskriminasi yang mereka alami, salah satunya akses membaca GTNI. Ketika protes dilancarkan, Bahder Djohan menjabat sebagai sekretaris VIG. Sama seperti dokter pribumi lain, Bahder pun merasakan perlakukan diskriminatif pemerintah kolonial. “Meskipun pendididkan yang diberikan di Indonesia tidak berbeda dengan di negeri Belanda, namun karena yang memperolehnya itu anak bumi putra, maka Belanda memperlakukannya rendah,” kata Bahder Djohan dalam otobiografinya, Bahder Djohan, Pengabdi Kemanusiaan. Bahder jauh lebih muda dari Tehupeory. Ia menjadi siswa kedokteran pada 1919 kala Gedung Stovia yang baru di Salemba mulai dibangun. Selain menjadi anggota VIG, ia juga aktif di Jong Sumatranen Bond bersama Muhammad Hatta. Setelah lulus dari STOVIA pada 1927, Bahder bekerja sebagai asisten Prof. Dr. C.D. de Langen di Rumahsakit Sipil Pusat ( Centrale Burgelijke Ziekeninrichting , CBZ) sembari aktif dalam kegiatan politik dan VIG. Dari 1929-1939, ia menjabat sebagai sekretaris VIG di samping mengurus majalah bulanan organisasi, Tijdschrift voor Indonesische Geneeskundingen (TVIG). Ia mengurus artikel yang akan terbit di majalah tersebut sekaligus menangani pengirimannya. Pada malam setelah majalah itu diambil dari percetakan, ia akan meminta bantuan orang-orang di rumah untuk membungkus dan menuliskan alamat dokter-dokter yang akan dikirimi majalah tersebut. “Keesokan harinya, barulah aku menyerahkan kepada seorang pesuruh untuk mengantarkan majalah-majalah itu ke kantor pos,” kata Bahder. Usahanya ini tak sia-sia. TVIG menjadi jurnal medis produktif yang menampung riset para dokter pribumi. Kehadirannya semacam lawan tanding GTNI . Bersama VIG, Bahder melancarkan protes dan mengancam, bila akses pada GTNI tidak dibuka luas untuk semua kalangan dokter, mereka akan mengundurkan diri dari ikatan majalah kedokteran secara serentak. Protes ini mendapat dukungan dari guru mereka, de Langen, yang ikut mendesak agar akses pada GTNI dibuka lebih luas. Mardanas Safwan dalam Prof. Dr. Bahder Djohan Karya dan Pengabdiannya menyebut, berkat kegigihan Bahder dan rekan-rekan juga dukungan dari de Langen, peraturan diskriminatif tersebut akhirnya dicabut. Sejak akses pada GTNI terbuka, Bahder dan dokter pribumi lain bisa menambah wawasan medis lewat penelitian terbaru yang dipublikasikan. Bahder bahkan mempublikasikan risetnya di jurnal ini pada 1935, bekerjasama dengan De Langen. Dalam artikelnya, Bahder membahas tentang penyakit pellagra yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B3. Ia menjabarkan kasus-kasus pellagra yang ia temui di CBZ, seperti adanya kurang gizi, gangguan kuilt bahkan hingga pengaruhnya ke psikologis pasien. Dalam beberapa kasus yang ditemui Bahder, banyak pasien pellagra meninggal di rumahsakit jiwa. Sementara, De Langen memberi gambaran tentang kemunculan penyakit pellagra di berbagai belahan dunia. “Pada akhirnya akses ke GTNI dibuka. Dokter pribumi tidak hanya bebas berlangganan tetapi juga bisa menjadi penulis di jurnal itu,” kata Suri.*

  • Perkelahian Tentara Gurkha dengan Pejuang Indonesia

    Awal 1946. Jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung kerap dilalui hilir-mudiknya konvoi pasukan Sekutu (Inggris) dari kesatuan British Indian Army (BIA). Pengerahan pasukan secara besar-besaran itu dilakukan guna mengawal pengiriman kebutuhan logistik untuk ribuan prajurit Inggris dan 60.000 bekas tahanan perang Jepang di Bandung. “Pengiriman dari Jakarta itu kerap berjalan tersendat-sendat karena para pejuang RI tidak pernah membiarkan upaya itu berjalan lancar,” ungkap R.H.A. Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali! Terganggunya jalur lalu lintas utama itu otomatis mempengaruhi juga keadaan prajurit-prajurit BIA yang menempati pos-pos sepanjang Cianjur-Ciranjang-Bandung. Tak jarang pasokan logistik terlambat hingga seminggu. Menurut Raden Makmur (93), rasa lapar menyebabkan anggota Gurkha Rifles dari Batalyon 3/3 (yang menjaga pos Cikijing-Ciranjang) liar dan menjarah kampung di sekitarnya. “Mereka mengambil paksa kambing, ayam hingga telur milik rakyat,” ujar eks anggota lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) Ciranjang itu. Akibatnya konflik tak terhindarkan. Tak jarang rakyat sipil pun melakukan perlawanan dan menimbulkan jatuhnya korban yang tak sedikit. Sebagai contoh, suatu hari satu seksi tentara Gurkha menyerbu pelosok Cikijing. Mereka mengobrak-abrik pesta pernikahan seorang warga desa dan menjarah makanan. Saat penjarahan itulah, seorang prajurit Gurkha coba memperkosa seorang perempuan tuli yang tak sempat melarikan diri. Upaya itu gagal karena suami perempuan itu melakukan perlawanan. Maka terjadilan perkelahian seru. “Kawan-kawan Si Gurkha itu bagusnya tidak ikut campur. Mereka membiarkan saja perkelahian itu dan menjadikannya hiburan,”ujar Makmur yang mengaku ada di tempat tersebut saat kejadian berlangsung. Kendati satu lawan satu, tetap saja perkelahian itu berlangsung tidak seimbang. Si Gurkha yang berbadan kekar dan terlatih pada akhirnya berhasil membuat babak belur lelaki kampung yang tidak terbiasa berkelahi itu. Namun di ujung perkelahian, Si Gurkha ditarik oleh komandannya. Setelah diomeli, dia lantas mendapat tamparan keras. “Walaupun melakukan penjarahan, tapi aturan mereka melarang para prajuritnya mengganggu perempuan,” kata Makmur. Setelah mendapatkan cukup makanan, gerombolan tentara Gurkha itu lalu pergi dengan membawa 12 tawanan. Namun ketika sampai di jalan besar, para tawanan itu dilepas begitu saja. Perkelahian dengan tentara Gurkha juga pernah terjadi di Kampung Kandang Sapi, Pasir Sengkong (masih di wilayah Ciranjang) dan sempat diabadikan oleh seorang peneliti sejarah bernama Wijaya. Dalam makalahnya berjudul “Lasykar Hizbullah: Antara Jihad dan Nasionalisme Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945—1949”, Wijaya mengisahkan pengalaman seorang pejuang Hizbullah Batalyon III Ciranjang bernama  Masturi. Alkisah pada suatu siang sekitar jam 10.00, Masturi mendapatkan laporan dari penduduk bahwa ada seorang serdadu Gurkha yang terpisah dari pasukannya terlihat sedang berjalan kebingungan di wilayah Kandang Sapi. Tanpa banyak bicara, usai mengambil seekor ayam, dia mengajak seorang kawannya untuk mencari Si Gurkha tersebut. Ternyata benar, di suatu lahan sawah kering, mereka melihat seorang serdadu Gurkha lengkap dengan khukri  (senjata tradisional Gurkha) dan senjata karaben Qirov-nya. Masturi lantas mendekatinya. Dengan bahasa isyarat, dia menawarkan ayam itu. Begitu Si Gurkha mengambil ayam, secepat kilat Masturi menjegal kakinya sambil merebut senjata Si Gurkha. Maka terjadilah perkelahian seru di sawah kering itu. Kendati Masturi dikenal jago pencak silat, nyatanya dia tetap kewalahan menghadapi prajurit Gurkha yang juga pandai bermain ilmu bela diri sejenis kuntaw itu. Di jurus kesekian bahkan Si Gurkha berhasil menginjak kaki Masturi dengan sepatu militer-nya hingga jempol kaki kiri gerilyawan Hizbullah itu pecah dan berdarah. Demi melihat posisi Masturi terdesak, kawannya dan seorang penduduk yang tadinya hanya menonton lalu terjun mengeroyok Si Gurkha. Sepandai-pandainya bermain kuntaw, akhirnya serdadu itu tak berdaya pula melawan tiga orang sekaligus. Sang Gurkha pun berhasil diringkus. Setelah mengikat Si Gurkha, Masturi lalu membawanya ke markas Hizbullah Batalyon III di Pasir Nangka. Tak lupa mereka pun merampas karaben dan khukri  milik lelaki Nepal itu. Ketika diinterogasi Si Gurkha ternyata bernama Dal Badur. Dia mengaku seorang muslim. Sebagai bukti bahwa dirinya seorang muslim, dia lantas menunjukan rambut di atas kepalanya yang dibiarkan memanjang . Setelah diobati kakinya, Masturi sendiri ikut menginterogasi Dal Badur. Alih-alih marah karena kakinya dilukai, usai interogasi Masturi malah memeluk prajurit Gurkha itu lalu mengajaknya makan nasi bungkus dari dapur umum. Tiga hari ditahan di Pasir Nangka, Dal Badur kemudian diserahkan kepada TKR. Namun demikian, karaben dan khukri -nya tidak ikut diserahkan dan menjadi milik Hizbullah Batalyon III. Beberapa bulan kemudian, Dal Badur bersama 4 prajurit Gurkha lainnya dipertukarkan dengan para pejuang Indonesia yang ditahan pihak Inggris. “Salah seorang tentara Gurkha bernama Basin justru menolak untuk kembali ke pasukannya. Dia memilih untuk bergabung dengan pihak Republik,” ungkap Makmur.

  • Lintasan Sejarah Ajang 24 Hours Le Mans

    HENRY Ford II (diperankan Tracy Letts) meradang. Penjualan mobil pabrikan miliknya, Ford, di tahun itu (1963) tengah lesu. Dari segenap jajaran petinggi Ford, hanya Lee Iacocca (Jon Bernthal) yang mencetuskan ide anti- mainstream , yakni Ford ikut ajang balappaling prestisius24 Hours of Le Mans. Iacocca yakin jika bisa menang, bakal berbanding lurus dengan membaiknyapenjualan mobil. Masalahnya, balapan Le Mans 24 Jam tengah didominasi Ferrari. Henry Ford II kian malu dan murka kala Enzo Ferrari (Remo Girone) menolak pabrikan mobil berjuluk “kuda jingkrak” itu dibeli oleh Ford. Tak ada kata lain buat Ford selain harus membalas di atas lintasan. Begitulah sineas James Mangold membuka premisfilm drama bertema balapannya, Ford v Ferrari, yang belum lama ini menang Piala Oscar untuk kategori suntingan film terbaik dan suntingan tata suara terbaik. Film itu menampilkan mega proyekFord untuk bisa membuktikan pada Ferraribahwa mobil Ford tak sejelek yang dikatakan. Iacocca merasa hanya Carroll Shelby (Matt Damon) orang yang tepat untuk dipilih , mengingat Shelby pernah juara di Le Mans 1959. Shelby jelas tertarik namun mesti mengajak Ken Miles (Christian Bale) , pembalap lain yang ia percayai, untuk membangun mobil yang tangguh. Pasalnya, sejak 1959 Shelby tak lagi bisa balapan lantaran penyakit jantung. Banting tulang Miles dan Shelby serta sejumlah kru pabrikan Ford dan tim Shelby American tak sia-sia. Mereka sukses mengembangkan mobil untuk ikut balapan Le Mans 1966yang ditakuti Ferrari, Ford GT40 Mk. II. Salah satu potret finis Le Mans 1966 demi publikasi dan gimmick marketing Ford (Foto: ford.com ) Namun nahas bagi Miles.Walau tengah digdaya, ia mestimengendarai mobil nomor 1 bergantian bersama Denny Hulme (Ben Collins) gegara team order dari wakil presiden Ford, Leo Beebe (Josh Lucas).Beebe mengusulkan pada Henry Ford II supaya ketiga mobil mereka bisa “kejepret” bersamaan saat melintas garis finis. Itu akan jadi publikasi dan nilai plus untuk penjualan mobil Ford. Miles yang tengah unggul satu setengah lap dari dua mobil lainnya manut dan melambatkan mobilnya. Meski hampir bersamaan dengan dua mobil lainnya,pada akhirnya hidung mobil Miles lebih dulu melewati garis finis . Namun Miles bukan pemenangnya. Regulasi balapan Le Mans ditentukan oleh mobil mana yang menempuh jarak paling jauh, bukan yang tercepat. Maka mobil Ford Bruce McLarenlah yang melintas garis finis di posisi dua dinyatakan menang lantaran ia memulai balapan dari posisi yang lebih jauh di belakang dibanding Miles. Itulah salah satu keunikan balapan Le Mans yang pertamakali digelar pada 1923. Ajang Uji Daya Tahan Beberapa detail tentang keunikan Le Mans turut dihadirkan Mangold dalam Ford v Ferrari . Antara lain, jelang start , pembalap takduduk menanti dimulainya balapan sebagaimana ajang-ajang lain, melainkan berlari ke mobil masing-masing dari seberang garis start . Lalu, soal aturan masuk pit-stop . Mobil peserta baru di izinkan masuk pit-stop untuk mengisi bahan bakar, mengganti ban, mengisi ulang oli, mengganti suku cadang, hingga bertukar pembalap , saat durasi balap sudah melewati satu jam. Pasalnya, balapan yang punya nama asli “24 Heurs du Mans” itu bukan adu cepat, namun adu ketahanan mobil maupun pembalap lantaran harus non-stop balapan 24 jam penuh. Analis dan jurnalis otomotif Philip O’Kane dalam artikelnya, “A History of the Triple Crown of Motor Racing: The Indianapolis 500, The Le Mans 24 Hours and the Monaco Grand Prix”,dimuat The History of Motor Sport: A Case Study Analysis , memaparkanbahwa ajang Le Mans 24 Hours merupakan gagasan dari tiga tokoh balapGeorges Durand, sekretaris Automobile Club de I’Ouest (ACO); Charles Faroux, jurnalis suratkabar L’Auto dan La Vie Automobile dan; dan Émile Coquille, bos perusahaan importir otomotif Rudge-Whitworth. Gagasan itu munculsaat ketiganya berdiskusi di sela pameran otomotifSalon de I’Automobile di Paris, 1922. Kiri-kanan: Georges Durand, Charles Faroux, Émile Coquille (Foto: lemans-history.com/L'Automobile sur la Côte d'Azur edisi Maret 1939/L'Auto-vélo edisi 22 Juni 1930) Idenya adalah menggelar ajang balapan yang bukan lagi sebagai aducepat, namun adu ketahanan mobil. Balapan juga menjadi ajang uji kehandalan kualitas mobil secara keseluruhan selama seharian penuh non-stop , baik perangkat-perangkat yang sudah dipasangmaupun ajang menjajal modifikasi masing-masing pabrikan yang tentunya berguna untuk pengembangan mobil-mobil komersil masing-masing pabrikan. “Diputuskan bahwa mobil balap harus lebih disederhanakan dan mudah diakses. Memang mobil balap bisa mencapai kecepatan tinggi. Masalahnya, teknologi mobil-mobil balap mulai berlari jauh dan tak lagi bisa digunakan untuk kebutuhan mobil sehari-harisekaligus kebutuhan mobil yang lebih aman jika dipakai di jalan,” ungkap O’Kane. Ketiganya pun meracik regulasi dan ajangnya bakal dinaungi ACO. Trofinya disediakan oleh Coquille berupa trofi La Coupe Rudge-Whitworth yang menyandang nama perusahaan impor yang dipegang Coquille. Ketiganya sepakat yang boleh mengikuti balapan adalah mobil pabrikan berbod i touring , bukan mobil balap modifikasi seperti di Grand Prix Monaco, karena misi adu daya tahan mobil maupun pembalap, bukan siapa yang lebih cepat. Perubahan lintasan Le Mans 24 Hours sejak 1929-2019 (Foto: lemans-history.com ) Maka dalam regulasi awal, syarat mobilnya harus memiliki empat seat meski dikemudian hari mobil dua seat tetap diizinkan mengaspal. Mobil yang boleh ikut merupakan mobil kategori 1.100-6.500cc dan spesifikasinya wajib persis dengan yang diiklankan masing-masing pabrikan. Durasi awal balapan awalnya diusulkan Faroux sepanjang delapan jam, sebagaimana percakapanny dengan Durand yang dikutip Hervé Guyomar dan Pierre-André Bizien dalam L’ACO, Siècle de Vie Associative et Sportive. “Kenapa tidak 24 jam?” tanya Durand. “Ide itu akan sangat sempurna, tapi Anda takkan bisa mendapatkan otoritasi yang dibutuhkan untuk keperluan itu,” jawab Faroux. “Jangan khawatir. Itu urusan saya,” cetus Durand. Otoritasi yang dimaksud adalah perizinan untuk menghelat balapan selama 24 jam penuh, tak hanya dari ACOnamun juga sampai pemerintah kota tempat balapan itu akan digelar. Ajang itu akhirnya bisa terlaksana dengan nama resmi Grand Prix d’Endurance de 24 Heures dan dihelat pada 26-27 Mei 1923. Menukil Blake Hoena dalam Surviving the Le Mans Auto Marathon , balapan itu mengambil start di Circuit de la Sarthelantas berlanjut ke desa-desa di sekitarnya. “Sarthe adalah area di mana kota Le Mans berlokasi. Trek balapannya menghampar dari Le Mans (Sirkuit Sarthe, red. )ke Desa Mulsanne, ke Arnage, lalu kembali ke Le Mans. Aslinya lintasannya sepanjang 11 mil (18 kilometer). Namun banyak perubahan seiring waktu dan kini tinggal 8,47 mil (13,6 kilometer), di mana sebagian besar treknya masih merupakan jalan publik,” ungkap Hoena. Ajang balapan Le Mans 24 Hours pertama pada 1923 (Foto: DAS Automobile) Debut balapan Le Mans 24 jam itu kemudian diikuti 33 mobil dari 17 pabrikan yang masing-masing dikendarai dua pembalap secara bergantian. Ford ikut serta denganmenurunkan mobil Ford 2008cc S4yang dikendarai Charles Montier dan Albert Ouriou. Edisi pertama Le Mans 24 jam itu juga jadi ajang uji coba starter mobil pertama. Sebelumnya, mobil-mobil yang ada dinyalakan dengan engkol dan karena pembalap harus berlari ke mobil masing-masing dalam keadaan mati mesin saat start , setiap mobil harus mampu mengembangkan sistem starter . Balapan itu dimulai 26 Mei jam 4 petang dan berakhir 27 Mei di waktu yang sama. Pemenang pertamanya ialah André Lagache dan René Léonard yang mengendarai mobil Chenard-Walcker 3.0L S4 d an merampungkan 128 lap atau empat lap lebih baik dari duet Christian Dauvergne-Raoul Bachmann di mobil bermerk sama.

  • Haji Agus Salim Tak Pernah Berhenti Belajar

    PADA 1903, Haji Agus Salim berhasil menyelesaikan pendidikannya di Hogere Burgerl School (HBS), Batavia. Ia mampu lulus dari sekolah para elit pribumi dan Eropa itu dengan hasil yang cemerlang. Kecerdasannya memang tidak diragukan lagi. Orang tua Agus Salim di Bukittinggi berharap anaknya dapat melanjutkan sekolah di Negeri Belanda, atau setidaknya mengambil jurusan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Arsten (Stovia). Namun keinginan orang tua Agus Salim hanya sebatas angan saja. Rupanya sang anak telah mengambil keputusan: tidak akan melanjutkan studinya dan memilih untuk bekerja. Dikisahkah Mukayat dalam Haji Agus Salim , pekerjaan pertama yang Agus Salim ambil setelah selesai sekolah adalah tenaga alih bahasa di Batavia. Kemampuan bahasa Belanda yang begitu baik memudahkan dirinya menterjemahkan naskah berbahasa Belanda ke bahasa Melayu. Pekerjaan itu dilakukan tidak lama, sebab Agus Salim memutuskan pindah ke Riau. Ia bekerja sebagai pembantu notaris di kantor ayahnya. Di sini pun ia tidak bertahan lama. Agus Salim merasa tidak puas dengan pekerjaannya. Ia lalu pindah ke Indragiri dan bekerja untuk perusahaan batu bara hingga 1906. Seringnya Agus Salim berpindah pekerjaan cukup membuat risau sang ayah. Sebagai seorang pegawai pemerintah, juga bangsawan Minangkabau, ia sangat mendambakan sang anak mengikuti jejaknya. Begitu juga dengan ibu Agus Salim. “Kegoncangan inilah yang merupakan salah satu sebab ibunya menderita sakit yang kemudian berakhir dengan meninggal dunia pada 1906,” ungkap Mukayat. Peristiwa kehilangan orang yang sangat dicintainya itu turut mempengaruhi jalan pikiran Agus Salim. Pada tahun itu juga ia memantapkan diri berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bekerja pada Konsulat Belanda, suatu pekerjaan yang pernah ditolaknya. Sejak 1906-1911, Agus Salim ditempatkan di bawah naungan Drageman. Sebagai sekretaris konsulat, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Dalam biografi Haji Agus Salim (1884-1954): tentang Perang, Jihad, dan Pluralisme , ia diceritakan menulis sebuah risalah untuk pertama kalinya. Risalah tentang astronomi itu mengantarkan Agus Salim kepada penulisan risalah-risalah lain (agama, kebudayaan, politik) di kemudian hari. Selama 5 tahun di Jeddah, Agus Salim tak pernah berhenti belajar. Ia memanfaatkan waktunya untuk menambah pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin. Kemampuan yang begitu luar biasa dalam mempelajari bahasa membuat ia mudah menguasai bahasa Arab. Dan itu menjadi modal yang berharga untuk memperdalam ilmu di jazirah Arab. “Tujuan Agus Salim ke Arab tidak hanya mencari uang semata, tetapi juga ingin memperdalam pengetahuan agama. Karena itu kesempatan tersebut dipergunakan benar-benar,” tulis Mukayat. Selama tinggal di Arab, Agus Salim selalu berhubungan dengan kerabatnya yang sudah lebih dahulu tinggal di sana. Ahmad Khatib, paman Agus Salim, telah cukup lama tinggal di Mekah. Kawan dekat KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, itu merupakan guru di Masjidil Haram, Mekah. Hubungan yang terjalin erat dengan sang paman mendorong Agus Salim untuk lebih tekun memperdalam karya-karya pemikir Islam modern. Agus Salim diketahui giat mempelajari buku-buku Jamalludin Al Afghani tentang pan Islamisme. Ia juga membaca karya-karya Mohamad Abduh, pujangga Muslim yang menginginkan reformasi dan modernisasi dalam agama Islam. Hasilnya, Agus Salim memiliki pandangan bahwa keadaan pendidikan Islam di Indonesia sangat memprihatinkan. Ia merasa perlu adanya suatu pembaharuan agar pendidikan di Indonesia tidak ketinggalan zaman. Sebab pengetahuan Islam di Indonesia sedikit banyaknya telah mendapat pengaruh dari pemerintah kolonial Belanda, dan itu merupakan kekeliruan yang amat besar. Tekad itulah yang membuat Agus Salim memilih terjun ke bidang dakwah dan berkeinginan kuat membawa Islam ke arah kemajuan. Suatu waktu, Agus Salim terlibat perdebatan hebat dengan konsulnya. Ada perbedaan pandangan yang membuat mereka harus mempertahankan isi pikirannya masing-masing. “Salim apakah engkau mengira bahwa engkau orang yang paling pintar di dunia ini,” sindir sang konsul. “Tentu tidak benar. Di dunia ini banyak orang yang lebih pintar. Hanya siapa di antara mereka itu sampai sekarang aku belum bertemu,” ucap Agus Salim. Sebagai asisten konsulat, Agus Salim banyak belajar tentang kehidupan diplomatik. Pengetahuannya ini menjadi modal penting bagi pengembangan karirnya dikemudian hari, utamanya selama periode kemerdekaan saat dirinya ditunjuk sebagai wakil Indonesia dalam berbagai perundingan internasional. Ia pun tercatat pernah menjabat posisi menteri luar negeri Republik Indonesia di era revolusi.*

  • Data CIA tentang Milisi Asing ISIS

    SETELAH menjadi polemik, akhirnya pemerintah Indonesia memutuskan tidak akan memulangkan warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan ISIS atau foreign terroris fighter  (FTF) dari Suriah. Menkopolhukam Mahfud MD menyebut berdasarkan data dari CIA, terdapat 689 WNI yang bergabung dengan ISIS.

  • Para Jago di Barat Jawa

    JULI 1948. Matahari nyaris di atas ubun-ubun. Teriknya membekap jalur Cianjur-Bandung, ketika sebuah sedan meluncur dari arah Jakarta. Di Kampung Belendung, tetiba tujuh anggota polisi NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) menghentikan mobil yang berisi lima orang Belanda (salah satunya seorang perempuan). Begitu mobil berhenti, para polisi gadungan itu langsung berupaya melakukan peringkusan. Alih-alih menyerah, para penumpang sedan tersebut (yang ternyata anggota militer Belanda) malah melakukan perlawanan. Terjadilah pergumulan dan tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya keempat lelaki Belanda itu. Sedangkan yang perempuan ditawan dan tak ada yang mengetahui bagaimana nasib dia selanjunya. “Orang-orang yang menyamar sebagai polisi itu tak lain adalah Koim dan gerombolannya,” ungkap Raden Makmur (93), salah seorang anggota Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) di Cianjur. Koim adalah salah satu jagoan yang sangat ditakuti di wilayah utara Cianjur pada masa revolusi. Selain dikenal sebagai pejuang, dia pun kerap menjalankan praktek-praktek teror dan kriminalitas guna memenuhi kebutuhan pasukannya. Sebagai target, Pasukan Koim memilih orang Belanda dan orang-orang Indonesia yang dianggap pro Belanda (sipil maupun militer) . “Saat melakukan penjarahan, dia tak segan-segan berlaku kejam kepada para korbannya,” ujar Makmur. Kebrutalan Pasukan Koim, membuat militer Belanda geram. Mereka lantas mengirimkan satu unit Baret Hijau dari KST (Korps Pasukan Khusus) untuk memburu kelompok tersebut. Pada Agustus 1948, Koim berhasil diringkus di Purwakarta. Dia kemudian dibawa ke Penjara Cianjur dan baru pada 1950 menghirup udara bebas. Baru beberapa hari menikmati udara luar penjara, dia diundang untuk menghadiri sebuah pertemuan. Saat menuju tempat pertemuan itulah,  di Jembatan Mande tetiba seorang lelaki mendekatinya lalu menembak kepalanya dengan supucuk pistol. Maka tamatlah riwayat Koim, sang jagoan dari Cianjur utara. Di Cibarusa (beberapa puluh kilometer dari tempat Koim beroperasi) usai proklamasi muncul seorang jagoan bernama Pak Macan.  Begitu pula di Karawang ada figur Camat Nata dan Pak Bubar,  dua tokoh dunia hitam yang karena kebutuhan revolusi “terpaksa” diangkat sebagai pejabat pemerintahan (camat dan bupati). “Malah Pak Macan dilantik sebagai kepala keamanan di Cibarusa oleh Presiden Sukarno sendiri saat dia sedang berkampanye melewati wilayah itu pada akhir 1945,” ungkap sejarawan Robert B.Cribb kepada Historia. Menurut peneliti sejarah Indonesia John R.W. Smail, sejatinya istilah “jago” diambil dari “ayam jago”. Kata itu mengacu kepada karakteristik seorang lelaki yang senang berkoar, garang dan bersenjatakan golok. “Haruslah dipahami bahwa jago tidak lebih dari sekadar penjahat pedesaan, sejenis dengan bandit di Eropa,” ungkap Smail dalam Bandung in the Early Revolution, 1945-1946 (diterjemahkan menjadi Bandung Awal Revolusi, 1945-1946 ). Namun kelompok jago adalah institusi sosial yang diakui, kendati menyimpang. Mereka memiliki mitos-mitos yang dapat dibuktikan kebenarannya, misteri yang diyakini secara kolektif dan para pemimpin kharismatik, meskipun cakupannya terbatas. Semua itu memang sengaja diciptakan sebagai alat teror guna menuntut ketaatan dan penciptaan situasi eksploitatif terhadap rakyat. “Kasus-kasus seperti itu juga terjadi di Bandung, Cimahi dan Padalarang,” ungkap Smail. Umumnya para jago juga memiliki hubungan baik dan simbiotik  dengan lasykar-lasykar besar seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan LRDR (Lasykar Rakjat Djawa Barat). Pada Desember 1945, tersebutlah seorang jago bernama Soma. Dia mengangkat dirinya sebagai camat setelah merebut kekuasaan dari seorang pamongparaja di Cisarua, sebuah kawasan perbukitan yang terletak di utara Cimahi. Setelah berkuasa, Soma menyebarkan rumor bahwa dirinya ada untuk membagikan kekayaan para hartawan kepada rakyat. Gerombolan Soma kemudian merajalela sedikit ke barat. Di Padalarang, mereka mengambilalih suatu pusat misionari Katholik untuk dijadikan markas besar dan menciptakan sejenis “republik jago” di kawasan tersebut. Demi menghindari para jago itu, para pamongpraja yang sebelumnya berkuasa terpaksa menyingkir ke kota. Kekosongan politik di tingkat kecamatan dan desa itu langsung diisi oleh para jago binaan Soma. Kentalnya suasana anti pamongpraja yang dianggap hanya sebagai bekas begundal Jepang memunculkan suatu bentuk kekuasaan yang lebih “anti feodal dan merakyat serta revolusiener”. Euforia itu terasa konkret jika melihat penampilan para kepala desa yang jauh berbeda dengan di masa kekuasaan Jepang dan Hindia Belanda. Seorang bekas pamongpraja yang diangkat sebagai camat, secara radikal merubah penampilannya menjadi lebih “revolusiener”: santai, berambut gondrong dan kerap membawa sepucuk pistol ke mana-mana. Hal itu wajib dia lakukan, karena jika masih mempertahankan “kesantunan kaum priyayi”, dia tidak bisa bertindak lugas bahkan akan segera dilibas. “Hanya dengan bergaya seperti itulah, dia dapat memelihara keteraturan sosial,” ungkap Smail. Pada perkembangan berikutnya, aksi para jago itu memunculkan kegerahan di kalangan pejabat Republik yang berkuasa di kota-kota. Segera setelah “kegaduhan” itu, mereka menugaskan satuan-satuan TKR untuk menumpas semua kekacauan tersebut ke pelosok-pelosok. Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah yang kali pertama dibersihkan. Pada awal 1946, TKR meluncurkan operasi militer di Cibarusa (republik jago di kawasan perbatasan Cianjur-Bekasi) guna melibas Pak Macan dan gerombolannya. “Pak Macan sendiri mencoba kabur dari operasi yang keras itu, namun penasihat politiknya dari API (Manaf Roni) terbunuh dalam pertempuran,” ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries . Pak Bubar juga tak lepas dari target operasi. Dikisahkan saat berhadapan dengan para prajurit TKR, dia berupaya kabur dengan mengandalkan ilmu menghilangnya. Tetapi militer yang bermata lebih tajam segera memberondongnya dengan senapan otomatis sehingga menyebabkan sang jagoan itu tewas seketika. Di wilayah Bandung dan sekitarnya, jaringan para jago perlahan namun pasti mulai menuju kehancuran setelah Resimen Pelopor dari TKR melucuti sekaligus membubarkan API. Alasan resmi pejabat Republik menyebutkan bahwa penumpasan itu terpaksa dilakukan karena mereka memberlakukan kelompoknya sebagai “republik dalam Republik”, tidak mematuhi otoritas sipil dan militer resmi, melakukan teror dan melakukan kontak dengan pihak musuh (Belanda). Di Karawang, penumpasan terhadap LRDR oleh militer Indonesia malah memunculkan dendam yang berkarat di kalangan para anggota lasykar dan para jago. Alih-alih tunduk kepada aturan Republik, mereka malah membelot ke kubu musuh dan memasrahkan dirinya untuk dipersenjatai lalu secara bahu membahu terlibat dalam operasi militer pertama Belanda menghabisi kaum Republik.*

  • Penyamaran dan Integritas J.B. Sumarlin

    JOHANNES Baptista (J.B.) Sumarlin, mantan Menteri Penertiban Aparatur Negara (PAN) dan Menteri Keuangan di Kabinet Pembangunan Orde Baru, wafat pada 6 Februari 2020. Jenazahnya dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada 10 Februari 2020. Sepanjang hayatnya, Sumarlin dikenal sebagai sosok bersih, berintegritas, dan berani. “Beliau bahkan tidak segan menyamar sebagai pegawai RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam rangka membongkar praktik korupsi yang ada dan untuk mencari tahu sendiri siapa saja pelakunya,” kenang Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada wartawan dalam upacara serah terima jenazah J.B. Sumarlin di Kementerian Keuangan, Jakarta, 10 Februari 2020.

  • Gaya Hidup Orang Aceh Abad ke-17

    Aceh menjadi salah satu persinggahan para pelaut dunia yang datang ke Nusantara. Sejak era pelayaran, wilayah itu telah membuka diri dengan dunia luar. Posisinya yang strategis (ada di sekitar Malaka dan penghubung dataran Asia), menjadi sebab banyak bangsa singgah ke negeri paling ujung di pulau Sumatera tersebut. Terbukanya pelayaran mengantarkan bangsa-bangsa  dalam interaksi yang lebih dalam dengan penduduk Aceh. Aktifitasnya tidak hanya tercatat oleh bangsa pendahulu (Tiongkok dan Arab) saja, tetapi juga oleh masyarakat Eropa yang datang belakangan. Para pelaut Barat menggambarkan kehidupan penduduk lokal dalam catatannya, termasuk cara hidup yang terasa asing di mata mereka. Cara Berpakaian Catatan yang menyebutkan nama Aceh muncul pada pertengahan abad ke-16. Tome Pires, penjelajah Portugis, menyebutnya sebagai Achin . Pires menjadi penjelajah Eropa pertama yang menulis daerah itu pada catatan penjelajahannya, Suma Oriental . Berdasarkan peta bertahun 1540, wilayah kuasa Aceh membentang hingga ke pedalaman. Aceh, kata Pires, adalah negeri pertama yang dapat ditemukan setelah menelusuri terusan Pulau Sumatera. Gambaran lebih jelas tentang penduduk Aceh datang dari penjelajah Prancis Francois de Vitre. Ia tiba di Aceh pada 26 Juli 1602 ketika kekuasaan dipegang oleh Sultan Ali Riayat Syah. Berdasar penggambaran Vitre diketahui bahwa kebanyakan orang Aceh pada waktu itu hanya mengenakan pakaian berupa ikat pinggang yang dililitkan pada tubuh untuk menutupi bagian kemaluan. Sedang bagian lain dibiarkan terbuka. Pakaian yang digunakan penduduk biasanya dari belacu biru, bahan paling bagus yang bisa ditemui di sana, dengan warna merah lembayung. Menurutnya, kebiasaan orang Aceh yang suka memakai sorban juga sungguh aneh. Sorban itu diikat seperti gulungan sedemikian rupa hingga ujung kepalanya tak tertutup. Sementara seorang pedagang Inggris bernama Peter Mundy menyebut jika semua laki-laki mencukur rambut di bibir atas dan dagungnya. Semua orang Aceh berjalan tanpa alas kaki, baik raja maupun penduduk biasa. Menjelang akhir abad ke-17, cara berpakaian sebagian besar penduduk Aceh mulai berubah. Dikisahkan Guillaume Dampier, dikutip Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) , di Aceh sudah banyak perempuan yang mulai menggunakan perhiasan di telinganya. “Yang paling terkemuka dari mereka memakai kupiah yang pas di kepala, terbuat dari kain wol yang diwarnai merah atau warna lain dan yang bentuknya seperti topi tanpa tepi … mereka memakai celana pendek dan orang bangsawan memakai sepotong kain sutera yang longgar di atas pundak … mereka tetap telanjang kaki, hanyalah yang kaya-kaya yang memakai semacam sandal,” tulis Dampier. Perihal Makan Penduduk Aceh digambarkan tidak terlalu banyak makan. Para pelaut Barat menganggap kebiasaan itu aneh. Karena mereka dapat menghabiskan banyak makanan dalam satu waktu. Sehingga orang Aceh disebut terlalu sederhana soal makanan. Penduduk di negeri itu hampir selalu makan nasi dengan sedikit ikan dan sedikit sayur. Hanya orang kaya dan terpandang yang makan dengan ayam yang dibakar atau direbus untuk persediaan satu hari penuh. “Seandainya ada dua ribu orang Kristen di negeri mereka, maka segera mereka akan kehabisan sapi dan unggas,” ungkap Dampier. Namun Lombard sendiri menyebut pandangan para penjelajah terhadap kebiasaan makan orang-orang Aceh terlalu dangkal. Mereka tidak memperhitungkan adanya “waktu makan”, yang berlaku di kalangan masyarakat Aceh. Karena para penduduk biasanya menyiapkan makanan untuk sehari penuh, sehingga tidak dihabiskan dalam satu waktu. Sistem Pernikahan Mengenai sistem perkawinan di Aceh, peneliti Belanda Snouck Hurgronje telah membahasnya lengkap dalam Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial . Namun penelitiannya itu baru dilakukan pada abad ke-19. Kajian terdahulu tentang permasalahan tersebut datang dari penjelajah Prancis Augustin de Beaulieu abad ke-17. Dalam De Rampspoedige Scheepvaart der Franschen naar Oostindien, onder’t beleit van de Heer Generaal Augustyn van Beaulieu, met drie Schepen uit Normandyen , Beaulieu mengungkapkan sejumlah kebiasaan di dalam praktek pernikahan orang Aceh yang tidak ia pahami. Malah orang Prancis ini menyebutnya sebagai hal yang menarik. Ia mengatakan bahwa sistem itu dijalankan sesuai hukum agama yang berlaku di negeri itu. “Mereka memperistri perempuan sebanyak yang mereka inginkan atau dapat mereka hidupi, tetapi salah satu di antara perempuan itu adalah istri utama dan anak-anaknyalah yang menjadi pewaris sah. Mereka tidak memperlihatkan istri mereka atau mengizinkannya ke luar rumah. Si suami biasanya memperoleh dara muda dan ia harus membayar untuk memperolehnya dari orang tuanya, dan harus memberinya sebagian dari harta bendanya sebagai warisan,” ucap Beaulieu seperti dikutip Lombard. Mengenai harta dalam keluarga, perempuan harus memberikan seluruhnya kepada sang suami. Namun ia tetap menerima sebuah surat yang dapat digunakan untuk mengklaim hartanya itu jika suatu saat mereka bercerai. Sementara jika perpisahan terjadi karena si suami meninggal, istri menerima harta bawaan di luar mas kawin ketika suami menyuntingnya, dan harta itu tidak dapat diklaim oleh pihak manapun. Sedangkan perihal perceraian, Lombard mengatakan jika di Aceh perempuan mendapat beberapa keuntungan yang tidak dikenal di daerah-daerah Islam lain yang lebih ke barat. Suami tidak bisa mencampakkan istrinya begitu saja. Perceraian dapat terjadi apabila keduanya menginginkan hal tersebut. “Jika si suami mempunyai keinginan sedemikian dan si istri tidak, si suami mempunyai piutang berupa maharnya dan harus membayar bunga baru. Demikian juga si istri tidak dapat kawin lagi. Dan mereka terpaksa tinggal bersama, sekalipun mereka tidak bercampur,” ungkap Lombard.

  • Pram Minta Karyanya Dikembalikan

    Pada September 1965, Pramoedya Ananta Toer mengirim surat kepada Kerajaan Belanda melalui Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Surat itu berisi permintaan Pram kepada pemerintah Belanda agar mengembalikan karya-karyanya yang dirampas saat Agresi Militer Belanda pertama pada 1947. Surat tersebut juga ditembuskan kepada Menteri Jaksa Agung, kantor berita Antara , serta redaksi Lentera Bintang Timur . Pram meminta empat naskah yakni tiga perempat bagian dari naskah Di Tepi Kali Bekasi , novel Sepuluh Kepala Nica dan dua karya terjemahannya. Selain itu, ia juga menuntut Belanda mengembalikan satu buku hariannya. Di Tepi Kali Bekasi ditulis Pram pada 1947 berdasarkan kisah revolusi yang terjadi sejak bulan-bulan pertama revolusi sampai tentara Belanda menduduki Bekasi pada 1946. Bercerita tentang perlawanan para pemuda Indonesia terhadap tentara Jepang, Inggris-India, dan tentara Belanda, serta adanya kontra revolusi dari dalam negeri. Naskah itu dirampas oleh Marinir Belanda pada 27 Juli 1947. Seperempat bagian naskah Di Tepi Kali Bekasi yang bisa diselamatkan kemudian diterbitkan dengan judul yang sama oleh Usaha Penerbitan Gapura, Jakarta pada 1951. Sementara itu, Pram menulis Sepuluh Kepala Nica pada 1946. Menurut Koh Young Hun dalam Pramoedya Menggugat , pada pertengahan 1946 Pram diangkat menjadi perwira persuratkabaran letnan dua yang memimpin 60 prajurit dan bermarkas di Cikampek. Pada masa inilah Pram menulis novel Sepuluh Kepala Nica . Kisah novel ini berangkat dari kejadian-kejadian revolusi selama tiga bulan pertama revolusi Indonesia di Jakarta. Novel ini sama sekali belum pernah diterbitkan. A. Teew dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer menyebut naskah Sepuluh Kepala Nica dihilangkan oleh Penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta. Pram juga menuntut dua naskah terjemahannya dikembalikan yakni Moeder, Waarom Leven Wij atau Bunda, Mengapa Kita Hidup? karya Lede Zielens dan terjemahan Het Rijk der Mensen atau Bumi Manusia karya Antoine de Saint-Exupery. Menurut Pram, naskah-naskah itu lenyap ketika ia ditangkap tentara Belanda di rumah tumpangannya di Gang Mangga, Kemayoran, Jakarta, dua hari setelah Agresi Militer Belanda pertama tahun 1947. Bersama penangkapan itu, rumah digeledah dan naskah-naskah Pram pun disita. “Penggeledahan dan penyitaan tersebut dilakukan sampai berulang-ulang kali, terakhir oleh kesatuan dari basis Commando Batavia tentara Belanda,” tulis Bintang Timur , 5 September 1965. Selain karya-karya tersebut, Pram juga menyebut satu buku hariannya yang dirampas tentara Belanda. Buku harian itu tebalnya 5 cm dan terbuat dari kertas kuning buatan Padalarang serta diikat dengan tali sepatu militer Republik. Buku harian ini ditulis pada rentang 1941 hingga 1946. Buku harian ini dirampas dari tangan Soegiarto, seorang bekas kopral dalam Kesatuan Bung Pram, yang ditugaskan khusus untuk mengambil buku harian tersebut. Antara bulan Februari hingga Juni 1947, Soegiarto ditangkap di Bekasi ketika hendak memasuki Jakarta. Ia dijebloskan ke penjara Glodok selama empat bulan. Sementara buku harian Pram langsung lenyap dirampas. Pada 1948, Pram pernah meminta secara lisan melalui Sersan Mayor Vos dari Basis Komando Batavia. Saat itu Pram sedang dipenjara di Bukit Duri. Sersan Vos, terkait naskah Di Tepi Kali Bekasi , menjawab sambil tersenyum: “Oh, itu tulisan tuan sendiri? Interessant .”   “Pada akhir surat gugatannya itu, pengarang Pramoedya Ananta Toer menutup bahwa setelah lebih dari 17 tahun naskah-naskah tersebut berada di tangan Kerajaan Belanda, maka sekarang dituntut untuk menyerahkan kembali kepada yang berhak dan jika tidak ada kemungkinan kembali untuk menyerahkannya maka pengarang ini menuntut diadakannya ganti rugi,” tulis Bintang Timur . Menurut Pram, ganti rugi tersebut bukan untuk keuntungan pribadinya melainkan akan digunakan untuk mendirikan sanggar serbaguna dan biro penghimpunan materi-materi sejarah modern Indonesia. Angga Okta Rachman, cucu Pram yang juga mengurusi arsip Pram, mengatakan bahwa ia sendiri belum pernah melihat surat itu maupun mengetahui adakah balasan dari Kerajaan Belanda. "Mungkin dibalas mungkin enggak . Tapi kalau dibalas pun pasti sudah kena vandalisme Oktober 65 di rumah Pram. Yang jelas sampai saat ini, aku nggak pernah liat surat itu di arsip Pak Pram. Juga naskah-naskah dan buku hariannya tidak pernah dikembalikan," ujar Angga kepada Historia . Surat Pram tampaknya memang tak membuahkan hasil. Hingga kini kita tak bisa membaca Sepuluh Kepala Nica , tiga perempat Di Tepi Kali Bekasi,  maupun buku hariannya.

bottom of page