- 14 Feb 2020
- 3 menit membaca
DISKRIMINASI pada dokter pribumi amat kentara di era kolonial. Selain mendapat gaji yang jauh lebih kecil dan ditugaskan ke daerah terpencil, akses dokter pribumi untuk mendapat bacaan medis juga dibatasi. Jurnal kedokteran terkemuka Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (GTNI) hanya boleh diakses oleh pejabat kesehatan dan dokter Belanda.
“GTNI sangat eksklusif untuk dokter Belanda, sementara akses dokter pribumi untuk sekadar membaca GTNI amat dibatasi,” kata Wahyu Suri Yani kala mempresentasikan risetnya di seminar “The Construction of Indonesian Knowledge Culture since Independence” di UGM pada Rabu, 5 Februari 2020.
Menurut Suri, pembatasan akses ini mempersulit dokter pribumi untuk menambah wawasan. Pasalnya, gaji yang kecil saja sudah membuat para dokter ini kesulitan untuk berlangganan koran.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















