Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Di Balik Kelanggengan Pemerintahan Shinzo Abe
MATA Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berkaca-kaca. Selepas merampungkan pidato terakhirnya, Jumat (28/8/2020), ia membungkuk dengan khusyuk ke hadapan kamera di depannya untuk pamit kepada 126 juta rakyatnya. Sebagai PM dengan masa pemerintahan terlama, Abe mundur dengan alasan kesehatan. “Kesehatan yang buruk tak semestinya memengaruhi keputusan-keputusan politik dan karena saya tak bisa memenuhi ekspektasi rakyat Jepang, saya memutuskan bahwa saya tak bisa terus menjadi perdana menteri dan akan mundur. Selama tujuh tahun saya sudah berusaha yang terbaik, namun saya menderita penyakit dan saya butuh perawatan,” ungkapnya, dikutip The Guardian , Jumat (28/8/2020). Baca juga: Tetsu Nakamura Sang Samurai Kemanusiaan Masa pemerintahan Abe sejatinya baru akan kedaluarsa pada 2021. Namun sejak delapan tahun silam Abe mengidap penyakit radang usus besar kronis. Penyakit ini juga sempat jadi penyebab Abe mundur pada 2007. Petinggi Partai LDP (Partai Liberal Demokratik) itu total menakhodai negeri “Matahari Terbit” selama tujuh tahun 247 hari. Abe pertamakali terpilih jadi PM Jepang pada 2006, PM termuda dalam sejarah Jepang. Sempat mundur, Abe kembali maju ke pemilihan dan menang pada pemilu 2012, 2014, dan 2017. Ia mewariskan “Abenomics”, semacam strategi stimulus perekonomian Jepang, sejak 2012. Shinzo Abe PM Jepang dengan masa pemerintahan terlama. ( kantei.go.jp ). Tiga poin terpenting Abenomics adalah pelonggaran moneter besar-besaran, pengeluaran fiskal, dan reformasi struktural. Untuk jangka pendek, Abenomics berhasil mendongkrak perekonomian Jepang dengan hasilnya booming pariwisata hingga tersedianya lapangan kerja. Namun, pandemi corona menggoyahkan Abenomics dan perekonomian Jepang berada di bibir jurang resesi walau secara ekonomi masa pemerintahan Abe bisa dibilang sebagai era yang stabil. Sejak 2013, PM Abe juga mewariskan Hari Restorasi Kedaulatan pada setiap 28 April sebagai peringatan hari terakhir pendudukan Amerika Serikat atas Jepang (28 April 1952). Namun, kontroversi terkait perkara bersifat historis tak pernah luput dari pemerintahannya. Maklum, sebagai politikus konservatif sayap kanan, Abe juga anggota Nippon Kaigi (Konferensi Jepang), organisasi ultra-konservatif sayap kanan yang sejak berdiri pada 1997 acap menuntut revisi Undang-Undang No.9 tahun 1947 tentang larangan perang sebagai penyelesaian sengketa dengan negara lain. Undang-undang tersebutlah yang membuat Jepang tak memiliki angkatan bersenjata pasca-Perang Dunia II. Jepang hanya diizinkan memiliki pasukan bela diri yang beroperasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in Abe termasuk perdana menteri Jepang yang senantiasa menyanggah keterkaitan negerinya terhadap jugun ianfu (budak seks perempuan) di semua wilayah yang diduduki Jepang semasa perang. Abe juga acap disorot lantaran sering menyambangi Kuil Yasukuni untuk menghormati para prajurit Jepang di masa perang. Dua hal tersebut kerap jadi pemicu ketegangan dengan negara-negara yang jadi korban pendudukan Jepang di masa perang, utamanya RRC dan Korea Selatan. Semua warisan itu merupakan buah manuver-manuver politik Abe yang diarungi sejak 1982 dan tak lepas dari sokongan keluarga besar yang reputasinya tak sembarangan. Abe yang lahir di Tokyo pada 21 September 1954 dari suami-istri Yoko Kishi dan Shintaro Abe hidup di keluarga yang berada dalam lingkaran politik dan pemerintahan. Silsilah “dinasti politik” itu turun-temurun di pihak ibu dan ayahnya. Para Pendahulu yang Berpengaruh Dari pohon keluarga, figur berpengaruh teratas yang teridentifikasi adalah kakek canggah dari garis ayahnya, Shishaku (wakil tinggi kaisar) Ōshima Yoshimasa. Yoshimasa merupakan gubernur jenderal Kwantung pertama (1905-1912) setelah wilayah di Semenanjung Liaodong itu disewa Kekaisaran Jepang dari Dinasti Qing. Sebagai perwira militer, Jenderal Yoshimasa acap memetik kegemilangan. Perang Boshin (1868-1869) atau perang saudara antara Aliansi Satchō yang pro-Kaisar Meiji dengan Keshogunan Tokugawa, Perang Sino-Jepang I (1894-1895), dan Perang Rusia-Jepang (1904-1905) semua meningkatkan reputasinya. Baca juga: Konflik Keluarga dalam Perang Dunia “Di Perang Rusia-Jepang, Ōshima yang memimpin Divisi Ke-3 Angkatan Darat (AD) Kekaisaran Jepang, ikut mendorong kemenangan Tentara AD Ke-2 di Pertempuran Liaoyang, Pertempuran Shaho, dan Pertempuran Mukden. Sedari Oktober 1905 menjabat Gubernur Jenderal Kwantung dan di masa pemerintahannyalah dibangun fondasi pasukan terbesar Jepang, Tentara Kwantung,” ungkap Rotem Kowner dalam Historical Dictionary of the Russo-Japanese War. Jenderal Ōshima Yoshimasa. ( sekiei.nichibun.ac.jp ). Dari pihak ayah Abe juga ada Kan Abe sang kakek, politikus Diet Nasional (parlemen) dari faksi antiperang di Kabinet PM Hideki Tojo yang alumnus jurusan politik Universitas Kekaisaran Tokyo (kini Universitas Tokyo). Hebatnya, sebagaimana disitat Dong-A Ilbo , 28 Oktober 2018, ia bisa masuk parlemen sebagai calon independen setelah menang di Prefektur Yamaguchi dalam Pemilu 1937. Di masa akhir perang, Kan beraliansi dengan sejumlah politisi liberal penentang perang dan berhasil melengserkan PM Tojo. Namun, Kan tak bisa melihat pemilu pertama Jepang pascaperang lantaran keburu wafat (30 Januari 1946) karena TBC kala ikut membantu persiapan pemilu. Baca juga: Suara Titisan Dewa Mengakhiri Perang Dunia II Sementara, kakek Shinzo Abe dari pihak ibu, Nobusuke Kishi, punya haluan politik bertolak belakang dari kakek pihak ayah. Kishi sejak muda mengagumi “Bapak Fasis Jepang” Ikki Kita. Setelah lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Kekaisaran Tokyo, pada 1920 Kishi masuk pemerintahan sebagai pegawai Kementerian Pemasaran dan Industri. Kishi jadi satu dari sedikit figur ekonomi yang inovatif. Dia berhasil mendongkrak perekonomian Jepang dengan mencontek sejumlah kebijakan di Eropa, seperti Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Uni Soviet, kebijakan kartel industri lewat kemajuan teknologi Jerman Nazi, dan teori-teori manajemen buruh Frederick Winslow Taylor di Amerika Serikat. Kan Abe, kakek Shinzo Abe dari garis ayah. (Shimonoseki City Board of Education). Diungkapkan Sterling dan Penny Seagrave dalam The Yamato Dynasty , Kishi selalu membayangkan Manchuria bisa menjadi pusat industri besar Jepang di luar kepulauan. Maka ketika Tentara Kwantung sukses mencaplok Manchuria dan mendirikan negara boneka Manchukuo pada September 1931, Kishi sering berperjalanan ke Manchukuo. Pada 1935, ia didapuk menjadi Wakil Menteri Pembangunan Industri Manchukuo dan berkawan baik dengan Tojo yang kelak jadi perdana menteri. Tetapi sejak itulah julukan “Shōwa no yōkai” (Iblis Shōwa) tersemat padanya. Selain menerapkan sejumlah kebijakan berbau nepotisme, masuknya Nissan Group yang dipimpin pamannya Kishi ke Manchukuo, membuat Kishi turut mengeksploitasi pekerja paksa China. Bibit-bibit pemberontakan di antara para buruh sudah jauh-jauh hari diantisipasinya dengan teror mafia Yakuza yang diberi imbalan jalur perdagangan opium. Baca juga: Sebelum Pearl Harbor, Pesawat AL Jepang Pernah Tenggelamkan Kapal AL AS. Setelah Tojo menjadi perdana menteri, pada Oktober 1941 Kishi yang naik menjadi menteri Perlengkapan Perang juga mengatur perbudakan lebih dari enam ratus ribu orang Korea dan 41 ribu orang China. Oleh karenanya, di ujung perang Kishi ditangkap Sekutu dan ditahan di Penjara Sugamo sebagai penjahat perang Kelas A. Namun pada akhirnya, Kishi tak pernah diajukan ke Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh dan dilepaskan pada 1948 setelah datang lobi dari Dewan Amerika untuk Jepang. Dewan berisi mantan duta besar dan konsul jenderal AS itu minta Kishi dibebaskan karena dianggap orang yang tepat membangun kembali Jepang. Petualangan politik Kishi pascaperang berlanjut sebagai anggota parlemen dan pendiri Partai Demokratik Jepang. Partai ini pada 1955 merger dengan Partai Liberal menjadi Partai LDP dan jadi tunggangan politik Kishi. Setelah menjadi menteri luar negeri pada 1956, ia berhasil menjadi perdana menteri (1957-1960). Nobusuke Kishi, kakek Shinzo Abe dari pihak ibu. ( loc.gov ). Di era pemerintahan Kishi Jepang membangun kembali persahabatannya dengan negara-negara bekas jajahanya dengan negosiasi ganti rugi. Selain Indonesia, ada Myanmar, Filipina, dan Thailand. Tokoh penting lain dari dinasti politik Shinzo Abe adalah ayahnya, Shintaro Abe, putra Kan Abe. Shintaro merupakan musuh politik Tojo dan Kishi. Namun Shintaro tak mengikuti jejak ayahnya dalam hal haluan politik, melainkan justru berkembang di bawah ketiak Kishi. Terutama setelah Shintaro menikahi putri Kishi, Yoko Kishi, alias ibu Shinzo Abe, pada 1951. “Sebelum masuk ke politik, (Shintaro) Abe selepas lulus SMA pada 1944 masuk akademi Angkatan Laut untuk berlatih menjadi sukarelawan pilot Kamikaze (serangan bunuh diri, red .). Tetapi perang keburu berakhir sebelum Abe menyelesaikan latihannya,” tulis Patrick Hein dalam “Leadership and Nationalism: Assessing Shinzo Abe” yang dimuat di Asian Nationalisms Reconsidered. Baca juga: Kudeta Seumur Jagung di Istana Kaisar Jepang Pascaperang, Shintaro melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Tokyo dan selepas lulus pada 1949 ia bekerja jadi wartawan politik di suratkabar Mainichi Shimbun . Pada 1956, ia meninggalkan karier jurnalistiknya untuk menjadi sekretaris pribadi mertuanya saat Kishi menjabat menteri luar negeri. Shintaro Abe (kanan), ayah Shinzo Abe semasa menjabat menteri luar negeri. ( reaganfoundation.org ). Shintaro terus menjadi sekretaris pribadi ketika Kishi naik jadi perdana menteri. Setahun kemudian, dengan tunggangan politik yang sama dengan ayahnya, Partai LDP, Shintaro masuk parlemen setelah menang di daerah Prefektur Yamaguchi dalam pemilu 1958. “Sejak saat itu dia terus terpilih selama delapan kali (dalam pemilu) dan pada November 1974, ia ditunjuk PM Takeo Miki masuk kabinet sebagai Menteri Pertanian dan Kehutanan. Tuan Abe juga kemudian menjabat berbagai pos di kabinet dan menjadi salah satu pemimpin berpengaruh di partai penguasa, LDP. Seperti jabatan Ketua Komite Kebijakan LDP di Parlemen, Ketua Sekretaris dan Ketua Dewan Pertimbangan Kebijakan LDP,” tulis Japan Report , laporan pusat informasi Konsulat Jenderal Jepang di New York, edisi Januari 1982. Baca juga: Jepang-RI: Enam Dasawarsa Bersama Saudara Tua Shintaro gagal mengikuti jejak mertuanya menjadi perdana menteri –jabatan tertinggi yang dipegang Shintaro adalah menlu (1982-1986). Pasalnya, pada 1988 Shintaro bersama sejumlah anggota parlemen dan PM Noboru Takeshita terseret kasus korupsi perdagangan saham ilegal yang melibatkan perusahaan SDM, Recruit Holdings Co., Ltd. Akibatnya, Shintaro dipaksa mundur dari posisi Sekjen LDP dan sejak itu karier politiknya tak pernah pulih. Dinasti politiknya kemudian diteruskan Shinzo Abe, putra keduanya. Putra pertamanya, Hironobu Abe, menggeluti karier di perindustrian, yakni di Mitsubishi Shoji Packaging. Shinzo Abe meninggal dunia setelah ditembak ketika sedang kampanye pada 8 Juli 2022. Baca juga: Kudeta Perwira Muda Negeri Sakura
- Jejak Archbold di Papua
Orang Amerika penasaran dengan tanah Papua. Mereka mengirim ilmuwan dan peneliti yang didanai perusahaan minyak.
- Galang Dana Dwikora ala Sukarno
Sekali waktu Presiden Sukarno memanggil pengusaha Haji Abdul Karim Oey ke Istana. Lelaki Tionghoa itu merupakan kawan dekat Sukarno waktu di Bengkulu dulu. Dia pun dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah di sana. Bung Karno menjelaskan kepada Oey bahwa pemerintah perlu dana sebesar Rp 250 juta untuk membiayai Operasi Dwikora “Ganyang Malaysia”. “Itu urusan gampang. Tidak ada persoalan mencari dana untuk kepentingan nasional,” kata Oey sebagaimana terkisah dalam memoarnya Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa: Sahabat Karib Bung Karno. Oey lalu menyarankan agar Sukarno mengundang para pengusahan besar di Jakarta dan sekitarnya. Oey sendiri berkomitmen kalau perusahannya bersedia menyumbang sebesar 75 juta rupiah. Keesokan harinya, Oey menyerahkan cek senilai jumlah tersebut kepada Menteri Sosial Mulyadi Djojomartono. Mulyadi kemudian memanggil stafnya membuat kuitansi sumbangan dari perusahaan Oey. Pada 9 Juli 1964, ratusan pengusaha, pedagang besar, dan menengah kumpul di Istana. Semua hadir lengkap menurut undangan. Ketika Bung Karno muncul, orang-orang memberi hormat. Seperti biasa, Sukarno memulainya dengan berpidato menyampaikan maksudnya akan pertemuan itu. Dia mengharapkan supaya para pengusaha itu berkenan membuka dompetnya lebar-lebar guna menyokong Operasi Dwikora. Sukarno pun mencatut nama Oey untuk memotivasi saudagar-saudagar itu. “Ini saudara kita Oey Tjeng Hien alias Haji Abdul Karim Oey yang belum punya kekayaan berani menyumbang Rp 75 juta,” kata Sukarno di depan para pengusaha. Bung Karno kemudian menyebut satu persatu nama pengusaha. Dana terus mengalir. Agus Musin Dasaad menyumbang Rp 100 juta. Jusuf Muda Dalam Rp 100 juta. Teuku Markam Rp 50 juta. Selain mereka, ada yang menyumbang Rp 25 juta, Rp 10 juta, dan yang terkecil Rp 5 juta. Markam, pengusaha kulit ternama asal Aceh mendekati Oey seraya berbisik. “Pak Haji Karim, kalau saya diizinkan memeluk Presiden, maka saya kasih lagi Rp 50 juta. Oey meneruskan pesan itu kepada Bung Karno. Tawaran itu dijawab kepada yang bersangkutan. “Ah, ada-ada saja," kata Bung Karno. Oey membujuk Bung Karno, “Cuma dipeluk saja,” katanya. Sukarno setuju. Markam pun merangkul Presiden. Hadirin tertawa ramai. Keluar kocek Rp 50 juta dari kantong Markam. Siapa nyana, Markam mendekati Oey lagi sambil berkata, kalau dirinya diizinkan mencium Presiden, dia akan menambah Rp 100 juta lagi. Ketika keinginan itu disampaikan, Bung Karno menolak. Namun, Oey kembali membujuk Bung Karno, “Apalah artinya dicium pipi sejenak, dana akan bertambah 100 juta. Itu bukan sedikit,” kata Oey. Akhirnya, Bung Karno bersedia lagi. Markam mencium pipi Presiden. Hadirin semakin riuh. Dana bertambah Rp 100 juta ke kas negara. Galang dana Dwikora itu terus berlangsung. Sukarno menanyakan kepada Mulyadi berapa dana yang sudah terkumpul. Setelah dihitung, dana yang terkumpul mencapai Rp 650 juta. Oey mencoba menggoda Bung Karno lagi, “terus saja sampai satu milyar,” katanya. Tapi Bung Karno menjawab bahwa angka segitu sudah lebih dari cukup untuk sementara. Dana yang diperoleh pada hari itu melebihi jumlah yang menjadi target semula, Rp 250 juta. Karena kelelahan, Bung Karno menyudahi acara penggalangan dana tersebut. Upaya mengganyang Malaysia ternyata membuat Bung Karno benar-benar repot.
- Siapakah Maulana Malik Ibrahim?
RUTE perdagangan saudagar muslim melalui Selat Malaka dan Semenanjung Malaya hingga Tiongkok berdampak pada kontak langsung dengan pantai utara Jawa. Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik menjadi petunjuk adanya masyarakat muslim di dekat ibu kota Majapahit dan sekitarnya.
- Merawat Ingatan Tentang Pangkalan Brandan
PANGKALAN Brandan terletak di Kabupaten Langkat sekitar 80 km dari kota Medan. Lokasinya strategis karena dilalui jalan lintas timur Sumatra dan pintu gerbang menuju Aceh. Dahulu, Pangkalan Brandan kesohor sebagai daerah penghasil minyak. Pada kurun waktu tertentu, Pangkalan Brandan menjadi kilang minyak terbesar di Sumatra.
- Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman
Batavia menjadi salah satu daerah paling penting pada masa VOC bercokol di Hindia Timur. Setelah berhasil menguasai Batavia pada 1619, VOC mendirikan berbagai bangunan untuk mendukung aktivitas perdagangannya di Hindia Timur. Salah satu kompleks bangunan itu Kastil Batavia. Letaknya sekarang di Kampung Tongkol, tak jauh dari kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Wilayah ini dulu menjadi pusat kota Batavia. Seorang warga sedang mencuci mobil di kawasan bekas gudang Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kawasan Kampung Tongkol yang bersebelahan langsung dengan gudang dan tembok bekas kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kastil Batavia menjadi saksi tangguhnya VOC sebagai perusahaan dagang selama hampir dua abad . Kastil ini dibangun pada masa J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia pada 12 Maret 1619. VOC butuh sebuah benteng yang kuat dan aman dari serangan musuh. Karena itu, Coen merombak benteng lama yang bernama Fort Jacatra, termasuk tembok dan bangunan lainnya. Sebuah mobil truk kontainer terparkir di samping bangunan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Bekas ban yang berserakan di kawasan gudang dan tembok bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Coen membangun tembok baru berbentuk persegi empat yang lebih kokoh daripada tembok lama. Tembok itu dibangun mengelilingi kota Batavia. Selain tembok, Coen juga membuat kanal-kanal untuk menyulitkan musuh masuk ke kota. Lalu di sebelah selatan tembok baru, dia membangun Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Luas Kastil Batavia hampir sembilan kali luas Fort Jacatra. Kastil Batavia dikelilingi oleh empat bastion atau selekoh di empat penjurunya. Bastion adalah bagian tembok benteng yang sedikit menjorok keluar dan dipersenjatai. Masing-masing bastion punya nama: Parrel, Robijn, Diamant, dan Saphier. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Di dekat Kastil Batavia, Coen membangun sejumlah gudang untuk menyimpan berbagai dagangan VOC. Sekarang Kastil Batavia dan gudang-gudang itu sudah runtuh. Sebelumnya terdapat empat gudang tua di kawasan ini. Satu per satu mulai hilang tertelan pembangunan kota. Dua gudang terkena pembangunan jalan tol. Satu gudang lainnya hancur dimakan waktu. Hanya satu yang tersisa. Di dinding depan gudang itu masih terlihat jelas tulisan "Major Massie". Gudang ini bernama Graanpakhuizen yang berarti Gudang Biji-bijian. Gudang ini dulunya berfungsi untuk menyimpan beras, kopi, teh, rempah-rempah, jagung, kacang, dan lainnya. Bekas gudang penyimpanan makanan di kawasan Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang anak saat bermain di kawasan gudang bekas Kastil Batavia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Namun, seiring berjalannya waktu, gudang ini mulai dilupakan. Akses masuknya menjadi tempat bongkar muat berbagai truk dan kontainer. Material temboknya ambyar di berbagai sisi. Tak ada lagi kesan gagah pada bagunan ini. Malah tampak menyeramkan. Tak heran jika beberapa acara misteri di stasiun televisi swasta sering menjadikan tempat ini untuk syuting. “Kru acara televisi tersebut tidak berani melanjutkan acaranya di sini karena waktu itu belum mulai saja timnya sudah kesurupan. Lain waktu juga pernah ada supir truk sedang ganti ban kemudian sore-sore begini ada yang nongol di atas kakinya saja,” kata Aan (46) salah satu warga. Beberapa truk yang memenuhi halaman depan bekas gudang VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kondisi terkini bekas gudang dan tembok di kawasan Kastil Batavia era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tampak bagian dalam dari bekas gudang era VOC. (Fernando Randy/ Historia.id ). Gudang Major Massie yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seseorang sedang membersihkan truk di kawasan bekas Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ). Penampakan kondisi di dalam bekas gudang Major Messie dan detail temboknya. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kini, gudang dan tembok kastil yang sempat menjadi destinasi wisata di seputaran Kota Tua ini semakin kurang nyaman dikunjungi. Tertutup oleh hiruk pikuk suara truk hingga padatnya rumah penduduk di kawasan kampung Tongkol. “Dulu sering bule-bule Belanda datang ke sini. Mencari gedung ini. Tapi sekarang sudah jarang,” ujar Aan. Seorang penjual es potong yang melintas di kawasan gudang Major Massie. (Fernando Randy/ Historia.id ). Berbagai boneka yang tampak terawat di gantung di tembok terakhir kawasan Kastil Batavia. Tembok terakhir yang menjadi saksi sejarah VOC di Jakarta. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Layar Lebar Chadwick Boseman
TAK hanya “Wakanda”, para penggemar Marvel di segala penjuru bumi diguncang kedukaan dengan wafatnya Chadwick Aaron Boseman. Sang Raja T’Challa alias Black Panther itu mengembuskan nafas terakhir pada Jumat (28/8/2020) di usia 43 tahun karena kanker usus besar. Boseman yang kondang dengan peran itu di film-film franchise MCU, Captain America: Civil War (2013), Black Panther (2018), Avengers: Infinity War (2018), dan Avengers: Endgame (2019) sudah masuk dunia “showbiz” sejak 2003 lewat serial televisi Third Watch . Seni peran sudah jadi minat sosok kelahiran Anderson, 29 November 1976 itu sejak sekolah di SMA T.L. Hanna pada 1995. Dia mengawalinya sebagai sutradara teater sekolahnya. Selepas lulus pun Boseman mengejar pendidikan tinggi di bidang yang sesuai minatnya, sinematografi, di Universitas Howard, Washington DC dan kemudian turut dalam Program Mid-Semester Musim Panas Oxford di British American Drama Academy. Chadwick Boseman (kiri) bersama Michael B. Jordan (Ftoo: Twitter @chadwickboseman) Setelah menjalani debutnya lewat Third Watch , Boseman mengalami guncangan jiwa di opera sabun All My Children di tahun yang sama. Sebagaimana disitat The Wrap , 2 Januari 2019, Boseman menuturkan alasan kenapa dia dipecat dari peran Reggie Montgomery di opera sabun itu, hingga akhirnya digantikan Michael B. Jordan. Gara-garanya, dia mengkritisi naskah yang dianggapnya rasis terhadap kaum kulit hitam. Boseman dan Jordan lantas “bereuni” untuk adu akting di film Black Panther . “Ketika saya mendapatkan perannya, saya berkata pada diri sendiri: ‘Ini bukan bagian dari manifesto saya. Ini bukan peran yang saya ingin bawakan,” kata Boseman. Jackie Robinson hingga James Brown Sejumlah kiprah Boseman di layar lebar pun tak jauh dari tokoh-tokoh yang didera rasisme. Di film The Express: The Ernie Davis Story (2008), biopik mengenai pemain American Football era 1960-an Ernie Davis, Boseman kebagian peran pendukung sebagai Floyd Little, rekan atlet berkulit hitam Davies di American Football. Walau beberapa kisah asli di film itu didramatisir, Little mengaku cukup terkesan dan teringat kembali akan masa-masanya berkiprah di lapangan berkat jasa Ernie Davis. “Di film The Express , sebelum Ernie Davis keluar lorong menuju lapangan untuk terakhir kali sebagai pemain Cleveland Browns, Ben Schwartzwalder menghampiri Davis: ‘Ernie, saya tak tahu apa yang Anda katakana kepada Floyd Little, namun dia akan datang ke Syracuse.’ Itu penutup yang emosional dari film yang hebat,” ungkap Little dalam otobiografi yang ditulisnya bersama Tom Mackie, Promises to Keep . Di film "The Express", Chadwick Boseman (kiri) memerankan atlet American Football, Floyd Little (Foto: Davis Entertainment) Peran sebagai aktor utama pertamakali dilakoni Boseman di biopik 42 (2013) dengan memerankan Jackie Robinson, legenda bisbol Afro-Amerika yang bergulat dengan rasisme di awal kariernya di Brooklyn Dodgers. Film garapan sineas Brian Helgeland itu disupervisi langsung Rachel Robinson, istri mendiang Jackie. Bagi sutradara, Boseman punya keberanian serupa dengan Jackie semasa hidupnya dalam melawan arus rasisme di lapangan bisbol. “Chad sebenarnya opsi kedua. Namun saya memang tak ingin aktor yang sudah dikenal luas memainkan peran Jackie karena saya pikir, akan sangat aneh melihat seseorang yang imejnya sudah terkenal memerankan sosok terkenal juga,” ujar Helgeland dalam wawancaranya dengan Collider , 11 April 2013. “Saat casting , Chad memilih tiga dari empat adegan tersulit. Salah satunya ketika adegan emosional Jackie berada di lorong stadion, mematahkan pemukul bisbol. Itu pilihan yang berani dari Chad. Dia bisa menghidupkan suasana di mana Jackie merasa ditolak oleh semua orang,” imbuhnya. Jelang produksi, guna mendukung upayanya memerankan Jackie, Boseman menemui Rachel Robinson di Jackie Robinson Foundation. Dia ingin mengetahui lebih jauh sosok Jackie guna penghayatan. “Peran (Jackie) ini peran yang menakutkan sebenarnya. Saya sempat tak tahu harus mulai dari mana sampai saya bicara pada dia (Rachel). Dari dirinyalah semangat Jackie masih hidup. Saya bisa melihat orang seperti apa yang bersanding bersama Rachel. Itu bagian yang ingin saya gunakan saat memerankannya,” jelas Boseman. “Kami duduk bersama, berbicara dari hati ke hati. Dia juga ingin mengenal saya lebih dalam. Saya juga mempelajari sosok Jackie lebih dekat dari pembicaraan kami dan dari buku-buku yang direferensikan Rachel. Terakhir, saya menanyakan tentang hubungan mereka karena itu bagian besar dari diri Jackie yang membuatnya bisa mencapai segalanya. Jackie selalu mendapat dukungan darinya,” lanjutnya. Debut Chadwick Boseman sebagai pemeran utama di film "42", biopik legenda bisbol Jackie Robinson (Foto: Warner Bros Pictures) Terlepas dari kesuksesan filmnya, ada banyak hal yang dipelajari Boseman dari sosok Jackie. Atlet kulit hitam itu membuka jalan bagi para atlet Afro-Amerika lain ke pentas Major League Baseball (MLB). Jackie ikon olahraga yang tak kalah besar dari pendahulunya di arena atletik, Jesse Owens. “Jika Anda berikir tentang dia menjadi seorang ikon dan pahlawan, sesungguhnya itu menjadi lubang terbesar di mana Anda bisa jatuh karena dia tak tahu akan menjadi seorang ikon dan pahlawan,” kata Boseman, dikutip Danny Peary dalam Jackie Robinson in Quotes: The Remarkable Life of Baseball’s Most Significant Player. “Faktanya, di film itu Jackie harus menghadapi itu semua ketika ia sadar bahwa berada di MLB menjadi isu yang lebih besar bagi semua orang. Anda tak bisa lari dari tanggungjawab yang diemban, namun Anda bisa fokus dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan. Selangkah demi selangkah. Pada akhirnya semua bisa dilalui,” tambahnya. Setahun berselang, Boseman kembali muncul sebagai aktor utama di biopik Get on Up (2014). Dari peran Jackie di lapangan bisbol, dia bergeser di ke dunia musik memerankan James Brown, legenda musik soul, di film garapan sineas Tate Taylor ini. Boseman sejak awal jadi pilihan utama Taylor memerankan pelantun tembang legendaris “I Feel Good” itu. Namun Taylor harus membujuknya ekstra keras lantaran Boseman mulanya tak berminat. Utamanya karena ia pesimis bisa menari selincah mendiang James Brown. “Saya merasa tak ada gunanya mencoba-coba. Dia ikon yang terlalu besar dan saya belum lama memerankan ikon besar lainnya dalam 42 . Dalam pikiran saya, tak tahu harus melakukan pendekatan apa untuk bisa melakukan gerakan tarian Brown,” tutur Boseman, dikutip The Guardian , 20 November 2014. Legenda musik soul, James Brown yang diperankan Chadwick Boseman dalam biopik "Get on Up" (Foto: Universal Pictures) Ketika akhirnya Boseman mengiyakan peran Brown, ia diberi waktu enam pekan untuk mempelajari semua gerakan khas Brown di atas panggung. Walau kemudian untuk gerakan split James Brown mesti diedit sedemikian rupa lantaran gerakan itu tak kunjung bisa dikuasai Boseman hingga masuk jadwal produksi. “Ujian sesungguhnya dari film itu adalah gerakan split James yang dikenal semua orang. Solusinya adalah kombinasi gambar tubuh James dan saya menggunakan pemindai 3D,” lanjut Boseman. Hal menarik yang dipelajari Boseman dari sosok James Brown adalah sikap sensitif dan bijak sang legenda. Antara lain ditunjukkan dengan James Brown memutuskan konsernya disiarkan secara live pada 5 April 1968 sebagai respon terhadap pembunuhan Dr. Martin Luther King yang juga dihormatinya. “Malam itu di siaran langsung televisi, bisa saja James Brown mengatakan: ‘Mari merusuh.’ Jika dia membiarkan dirinya emosional malam itu menggunakan musiknya, dia pasti sangat bisa memengaruhi penjuru negeri. Tapi pada akhirnya anak-anak muda tetap jadi penonton yang baik untuk mendengarkan James Brown. Dia sangat bijak untuk menghidupi filosofi-filosofi Dr. King,” papar Boseman, dinukil Atlanta Magazine , 1 Agustus 2014.
- Balada Benny dengan Baret Merahnya
MARKAS komando Kopassus, Cijantung, 1985. Di ruang kerjanya, Komandan Kopassus Brigjen Sintong Panjaitan ditemani wakilnya Kolonel Kuntara berbincang santai dengan Panglima ABRI Jenderal TNI L.B. Moerdani, KSAD Jenderal TNI Try Sutrisno, dan Wakil KSAD Letjen TNI Edi Sudrajat. Mereka sedang menunggu tamu penting dari negeri seberang tiba. Meski semua akan melakukan upacara resmi, suasana di ruang itu santai. Obrolan mengalir begitu saja. Di tengah perbincangan itu, Sintong berjalan ke mejanya. Ditariknya laci mejanya dan kemudian diambilnya sebuah baret merah dari dalamnya. “Ini baret merah Bapak yang akan Bapak pakai dalam upacara nanti,” kata Sintong sambil memberikan baret itu kepada Moerdani, dikutip Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong tak menduga niat baiknya itu justru membuat Benny, sapaan Moerdani, jadi kecewa. Setelah berdiri dan mencobanya, Benny lalu melepas baret itu dan melemparkannya. Baret merah itu pun jatuh ke lantai diikuti Benny yang kembali ke kursinya, duduk, dan tak mengucapkan sepatah katapun. Suasana seketika berubah menjadi kaku. Upaya KSAD Try mencairkan suasana tak berhasil. Wajah Benny tetap beda dari sebelumnya. Maka ketika Sintong melihat Benny keluar dari toilet, dia segera menghampirinya karena merasa dikecewakan. “Pak Benny tidak dapat dipisahkan dengan Korps Baret Merah. Jadi aneh kalau Bapak tidak berkenan memakai baret merah,” kata Sintong kepada Benny. Alih-alih menjawab, Benny tetap diam. Benny tahu Sintong bermaksud baik. Namun, Benny yakin Sintong mungkin tak mengetahui alasan di balik penolakannya itu. Upaya Sintong telah memaksanya kembali merasakan luka lama yang terjadi pada awal 1965. Sebelum hatinya terluka, Benny selalu bangga pada korps yang telah melambungkan namanya menjadi prajurit tempur itu. Di korps baret merah itulah cita-citanya menjadi tentara “sungguhan” setapak demi setapak dia wujudkan. Kerja keras dan dedikasinya di korps itu sampai mengantarkannya menggapai reputasi sebagai prajurit lapangan berprestasi. Puncaknya, dia dianugerahi Bintang Sakti oleh Presiden Sukarno karena keberhasilannya dalam Operasi Naga semasa Trikora. Namun, usai berbulan madu pada awal Januari 1965, Benny mendapati semua “kemanisan” kariernya itu seketika berubah jadi pahit. Pemicunya adalah sikap Benny di dalam rapat internal RPKAD pada akhir 1964. Dalam rapat yang dipimpin Komandan RPKAD Kolonel Moeng Parhadimuljo itu dibahas gagasan untuk mengeluarkan anggota RPKAD yang cacat tubuh. Salah satu yang mendapat pembahasan untuk dikeluarkan adalah anak buah Benny di Yon I RPKAD Kapten Agus Hernoto, yang kehilangan satu kakinya saat bertempur melawan Marinir Belanda sewaktu Trikora. Mendengar pembahasan itu, Benny tidak terima dan angkat suara. “Pokoknya saya tegaskan, Agus jangan dipindah hanya karena kakinya tinggal satu. Dia korban pertempuran yang justru harus dijadikan teladan. Sebab dia tidak mau menyerah, meski sudah tertembak dan semua anak buahnya habis. Dia itu baret merah sejati. Dan jelas lebih pantas memakai baret merah daripada beberapa di antara kita, perwira yang nggak tahu apa-apa, langsung dari kesatuan lain dipindah ke RPKAD, lantas disuruh pakai baret merah,” kata Benny sebagaimana ditulis Julius Pour dalam Tragedi Seorang Loyalis. Entah siapa yang menyampaikan hasil rapat internal itu kepada Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani, yang pasti Benny kemudian mendapat surat panggilan dari Menpangad. “Saya menerima surat tanggal 4 Januari, esoknya harus datang menghadap Pak Yani di MBAD,” kata Benny dalam biografinya yang ditulis. Begitu menghadap, Benny mendapati Yani terlihat marah, jauh dari biasanya ketika Benny bertemu Yani yang ramah dan ngemong . Suasana pertemuan empat mata itu begitu tegang. “Saya tahu perasaanmu sebagai perwira muda. Mungkin saya juga akan berbuat sama dalam keadaan seperti itu. Tetapi, perbuatanmu tersebut salah, ...tetap salah karena menilai pimpinan,” kata Yani terhadap Benny, dikutip Julius Pour. Yani menumpahkan segala unek-uneknya dalam pertemuan itu. Puncaknya, Yani memberi perintah singkat, “Sudah, lapor ke Mas Harto sana!” Perintah itu membuat Benny terperanjat. Lapor ke Mas Harto (Soeharto, pangkostrad) yang dimaksud Yani berarti perintah agar Benny meninggalkan korps baret merah untuk masuk ke Kostrad. Maka tanpa berlama-lama, Benny memberi hormat dan keluar. Peristiwa itu begitu membekas di benak Benny. Dia merasa diperlakukan tidak adil. Sakit hatinya makin bertambah ketika sesampainya di Cijantung dari MBAD, dia mendapati anak buahnya sedang latihan upacara untuk serah-terima jabatan (sertijab) Dan Yon I RPKAD (yang saat itu dijabat Benny) keesokan harinya. Esoknya, 6 Januari 1965, upacara sertijab digelar. Benny resmi menyerahkan jabatannya ke Mayor Chalimi Iman Santosa. Usai upacara, Benny langsung pulang. Di rumah, dia menumpahkan semua kekesalannya dengan melepas semua atribut kesatuan komando dari baju-bajunya. Bersama baret merahnya, semua atribut itu langsung dimasukkannya ke plunge-zak dan dia kembalikan ke kesatuan. “Peristiwa tersebut sangat membekas di hatinya. Perasaannya sangat kecewa, karena merasa diperlakukan tidak adil. Ingatannya masih sedih setiap kali mengenang suasana tersebut,” tulis Julius Pour. Maka ketika pada 1985 Sintong memberikan baret merah kepada Benny agar dipakai, Benny marah karena kembali teringat masa dua dekade sebelumnya itu. Sikap Benny tak berubah sampai ketika sirene yang mengiringi kedatangan Yang Dipertuan Agung Malaysia Sultan Iskandar, tamu dari seberang yang ditunggu mereka, terdengar di ruang kerja Sintong. Pun ketika turun ke bawah untuk menyambut tamu agung itu. Namun begitu membuka pintu, Benny tiba-tiba berteriak memanggil ajudannya, Lettu Tono. “Ton! Mana baret merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini,” ujarnya, dikutip Hendro. Pernyataan Benny langsung membuat Sintong mafhum. Dengan sigap dia berlari ke ruang kerjanya untuk mengambil baret yang tadi dibuang Benny. Benny pun mau kembali menggunakan baret merah setelah diberikan Sintong. Usai upacara, Benny berkata pada Sintong. “Saya sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa saya tidak akan memakai baret merah lagi, setelah mereka mengusir saya dari Cijantung. Tiga jam setelah saya menerima perintah keluar dari RPKAD, saya sudah meninggalkan Cijantung,” kata Benny.*
- Hasan Rahaya Selamat dari Bom Hiroshima
Kisah mahasiswa Indonesia bertahan dari bom atom dan menyelamatkan korban.
- Pembantaian Nazi di Kedros, Yunani
Dalam perjalanan menuju Desa Meronas di Pulau Kreta, Yunani, George Psychoundakis bertemu Aleko, teman sesama gerilyawan, pada 22 Agustus 1944 malam. George lantas dibawa sang kawan ke sebuah taman mini terpencil yang terletak di antara Meronas dan Yenna. Di sanalah George diberitahu kabar memilukan oleh Aleko. “Di sana kami diberitahu bahwa Jerman membakar semua desa Kedros di Amari dan menembak semua orang yang dapat mereka tangkap,” kata George dalam memoarnya yang diterjemahkan Patrick Leigh Fermor, The Cretan Runner: His Story of the German Occupation . Kedros, nama untuk kumpulan berisi sembilan desa yang terletak di Lembah Amari yang diapit Gunung Kedros (barat) dan Gunung Ida (timur), merupakan salah satu pusat gerilya melawan pendudukan Jerman yang dimulai pada 1941. Di sanalah George, pemuda gembala ternak asal Asi Gonia, ikut melawan pendudukan Jerman bersama barisan perlawanan yang banyak dibentuk setelah pendudukan Jerman. George merupakan kurir pesan ( messenger ) untuk Special Operations Executive, organisasi intelijen rahasia Inggris dalam Perang Dunia II. Kecepatan dan pengetahuan medannya membuat George menjadi andalan. Kreta dijadikan sasaran pendudukan oleh Hitler karena setelah berhasil menduduki Yunani daratan pada April 1941, tak ingin Kreta dijadikan Sekutu sebagai basis untuk menyerang pangkalan minyak terpenting Jerman di Rumania, Ploiesti, dan serangan-serangan lain di sisi selatan daratan Eropa. Meski sempat ragu karena ditentang para jenderalnya di Komando Tertinggi Tentara Jerman yang sedang sibuk memfinalisasi Operasi Barbarossa (invasi ke Uni Soviet), Hitler menyerang Kreta pada 20 Mei 1941 lewat Operasi Mercury yang dipimpin Jenderal Kurt Student, komandan XI Flieger Division. Penyerbuan itu mendapat perlawanan keras karena rencana Jerman sudah dibaca Inggris, yang bertahan di Kreta setelah kehilangan Yunani daratan. Penduduk Kreta dalam beragam organisasi gerilya bahu-membahu dengan pasukan Inggris melawan Jerman. “Serangan terhadap Maleme oleh Grup Barat dipelopori oleh LLStR (Luftlande Sturm Regiment) yang dipimpin Mayjen Eugen Meindl. Pendaratan awal glider pada pukul 07.15, setelah bombardir intensif Luftwaffe, dilakukan oleh unit 3.1/LLStR Letnan Satu Wulf von Plessen di mulut sungai, tujuannya adalah baterai AA. Sasaran ini dengan cepat diserbu tetapi Von Plessen terbunuh. Beberapa menit kemudian, glider-glider 4.1/LLStR Kapten Kurt Sarrazin mendarat tepat di selatan Bukit Kavkazia. Wadan-Yon, Walter Koch, menemani mereka tetapi segera terluka, dan Sarrazin terbunuh tak lama kemudian. Stabskompanie Mayor Franz Braun mendarat di sekitar jembatan di atas dasar sungai, Braun segera terbunuh. Meindl dan ajudannya, Letnan satu Von Seelen, terluka parah dan, karena Koch juga absen dan Braun tewas, komando untuk sementara diambilalih Dr. Heinrich Neumann, perwira senior yang selamat. Tujuh puluh dua orang dari komando di bawah Letnan Peter Murbe diterjunkan bermil-mil ke barat untuk merebut landasan terbang yang belum selesai di Kastellin Kissamos dan menderita secara mengerikan di tangan para pejuang Kreta,” tulis Bruce Quarrie dalam German Airborne Divisions: Blitzkrieg 1940-41 . Gigihnya perlawanan penduduk sejak awal mengakibatkan Jerman menerapkan taktik keras terhadap mereka. Pembantaian terhadap penduduk desa kerap dilancarkan pasukan pendudukan Jerman sejak awal, seperti Pembantaian Kondomari. Pembantaian terhadap penduduk meningkat ketika Friedrich-Wilhelm Muller, yang dijuluki “Jagal Kreta”, memegang komando Garnisun Kreta Jerman pada Agustus 1942. “Dia adalah veteran front Rusia tangguh yang dengan cepat mengembangkan reputasi kejam di antara penduduk Kreta. Muller pada akhirnya akan bertanggung jawab atas berbagai kekejaman di Kreta selama masa jabatannya sebagai komandan garnisun. Kejahatan utama yang dikaitkan dengan Muller termasuk pembunuhan di Viannos, penghancuran Desa Kedros dan Anogia, serta eksekusi warga sipil di Desa Damasta,” tulis Antonio J. Munoz dalam The German Secret Field Police in Greece, 1941-1944 . Akibatnya, kebencian penduduk Kreta terhadap Jerman kian tinggi. Kebencian penduduk terhadap Muller lalu diaktualisasikan dengan operasi penculikan yang digagas dua wakil SOE, Patrick Leigh Fermor dan William Stanley Moss, bersama pimpinan gerilya Kreta seperti Georgios Tyrakis dan Emmanouil Paterakis. Namun karena posisi Muller telah dipindah ke Kepulauan Dodecanese saat hari-H penculikan, 26 April 1944, yang jadi korban penculikan adalah penggantinya, Mayjen Heinrich Kreipe. Saat penculikan terjadi, posisi Jerman di front barat kian terdesak. Setelah invasi Sekutu ke Normandy (6 Juni 1944), pasukan Jerman di Kreta merencanakan penarikan mundur dari beberapa wilayah sebelum musim panas berakhir. Mereka akan dikonsentrasikan di Canea. Dengan alasan sebagai pembalasan terhadap penculikan Kreipe, seiring penarikan mundur itu pasukan Jerman melancarkan serangan terhadap desa-desa berikut penembakan terhadap penduduk di dalamnya. Padahal, kata agen SOE Tom Dunbabin, salah satu pimpinan gerilya, sebagaimana dikutip Artemis Cooper dalam biografi Fermor berjudul Patrick Leigh Fermor: An Adventure , “Tujuannya adalah untuk mengamankan penarikan mereka yang akan segera terjadi dengan menetralkan area aktivitas gerilya, dan membuat tentara Jerman melakukan tindakan teroris sehingga mereka tahu tidak akan ada belas kasihan bagi mereka jika menyerah atau ditinggalkan. Penarikan terorganisir dari wilayah pendudukan pasti akan berjalan lebih lancar jika penduduk sipil telah diintimidasi dan dipukuli hingga menyerah.” Setelah menyerang dan meratakan Desa Anoyeia pada 13 Agustus, pasukan Jerman menyasar Kedros. “Antara 22 dan 30 Agustus, Jerman menyerbu ke sisi Kedros di lembah Amari dan memulai penghancuran sistematis,” tulis Artemis. George saat itu tengah berada di Pegunungan Putih setelah diterjunkan di Arkadi usai andil dalam misi penyergapan pasukan Jerman di jembatan Kouphi dan misi sabotase. Ketika menuju Desa Meronas, dia bertemu Aleko (22 Agustus malam) dan diberitahu bahwa pasukan Jerman membunuhi penduduk dan membakar semua desa di Kedros. Esok paginya ketika dalam perjalanan menuju Nevs-Amari dan Monastiraki, dia melihat Niko Kalomenopoulus berlari sekuat tenaga dan melambaikan tangan sebagai perintah agar George dan kawannya ikut lari juga. George dan kawannya pun mengikuti Niko berlari menuruni bukit di sepanjang sungai. Di Meronas, mereka berhenti dan mereka melihat beberapa serdadu Jerman melintas dengan membawa kawanan besar ternak. Ternak itu merupakan hasil jarahan pasukan Jerman dari rumah-rumah penduduk. Sebagaimana pola yang diterapkan dalam penyerangan desa-desa sebelumnya, di Kedros, pasukan Jerman mengumpulkan penduduk begitu tiba. Mereka lalu menyiksa dan menembaki penduduk lelaki. Namun, di Kedros pasukan Jerman juga menjarah semua barang yang dianggap berharga, termasuk ternak, dari rumah-rumah penduduk. “Mula-mula mereka mengosongkan setiap rumah, mengangkut semua jarahan ke Retimo, lalu mereka membakarnya, dan akhirnya, untuk menyelesaikan kehancuran, mereka menumpuk dinamit ke setiap sudut yang tersisa dan menerbangkannya setinggi langit,” sambungnya. Selain itu, mereka juga membawa kabur gadis-gadis desa. “Mereka mengumpulkan sejumlah gadis dan memasukkan mereka ke dalam truk pasukan bersama para prajurit,” kata George. Kejahatan di Kedros mencapai puncak pada 25 Agustus. Akibat kejahatan seminggu penuh itu, 164 penduduk pria dan anak-anak tewas. Kejahatan itu berhenti pada akhir bulan. “Mereka meluncurkan kampanye kejam ini untuk meneror seluruh pulau, dan untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa Jerman di Kreta masih memiliki kekuatan untuk menghancurkan dan menggulingkan, sama biadabnya seperti sebelumnya, semua yang masih berdiri,” ujar George.
- Jaka Tingkir dan Kekuasaan Demak
Pada 1546, Demak menghadapi krisis. Kematian Sultan Tranggana menjadi mula permasalahan muncul di Jipang dan Pajang, dua wilayah di Jawa Tengah yang sama-sama menuntut hak peninggalan Demak. Aria Panangsang, keponakan Sultan Tranggana, yang memerintah Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun di tengah upaya itu,Jaka Tingkir (Raja Pajang) muncul. Ia berusaha keras menghalangi upaya Sultan Trenggana. Konflik mulai meluas di antara Jipang dan Pajang. Melibatkan rakyat di kedua wilayah. Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang. Kharisma dan kesaktiannya diakui mampu mengembalikan kejayaan Demak. Siapa sebenarnya Jaka Tingkir? Pemuda Tingkir Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Djawi: Javaanse Rijskroniek , Jaka Tingkir lahir di Pengging, sebuah negeri merdeka di Jawa Tengah yang penuh rahasia. Wilayah itu dahulu berada di bawah kuasa Kebo Kenanga, alias Andayaningrat, ayah Jaka Tingkir. “Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukan wayang beber (juga dinamakan wayang krebet ) maka ia pun dinamakan Mas Krebet,” tulis Meinsma. Jaka Tingkir harus hidup dalam pelarian setelah ayahnya terlibat dalam upaya pemberontakan atas Demak. Andayaningrat dikisahkan tewas di tangan Sunan Kudus. Tidak lama, ibunya pun meninggal. Jaka Tingkir menjadi yatim-piatu di usia yang cukup muda. Oleh keluarganya ia dibawa ke desa Tingkir dan diadopsi oleh seorang janda kaya, sahabat ayahnya. “Karena itulah ia diberi nama Jaka Tingkir, pemuda dari Tingkir, sebagaimana yang dikenal dan dicintai di mana-mana di daerah raja-raja Jawa Tengah,” tulis H.J. De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati . Ketika remaja, Jaka Tingkir belajar pada Kiai Ageng Sela. Babad Tanah Jawi menyebut gurunya itu sakti dan begitu dihormati, sekaligus ditakuti oleh masyarakat. Jaka Tingkir disebut menerima kesaktian dari gurunya itu. Keduanya sangat dekat. Kiai Ageng Sela sampai memberi perhatian yang amat besar kepada muridnya itu. Selain kepada Kiai Ageng Sela, Jaka Tingkir juga menerima pelajaran dari Sunan Kalijaga. Salah satu Wali penyebar Islam di tanah Jawa itu memberi ajaran agama dan kehidupan kepada Jaka Tingkir. Dia jugalah yang menyarankan kepada Tingkir untuk bekerja di Demak. Ia menerima saran itu dan mendaftar sebagai pengawal pribadi raja. “Keberhasilannya melompati kolam masjid dengan lompatan ke belakang –tanpa sengaja karena sekonyong-konyong ia harus menghindari Sultan dan para pengiringnya– memperlihatkan bahwa dialah orang yang tepat sebagai tamtama, dan ia pun dijadikan kepala tamtama,” tulis de Graaf sebagaimana dituturkan dalam Babad Tanah Jawi . Jaka Tingkir sempat diusir dari Demak setelah memperlihatkan kesaktiannya di depan penguasa Demak. Bermaksud menguji calon pengawal baru yang memiliki ilmu kebal, Jaka Tingkir justru membunuhnya. Sebuah tusuk konde menancap tepat di jantung si calon pengawal. Kesaktian Jaka Tingkir terbukti lebih hebat, meski berujung pengusiran. Merasa putus asa, Jaka Tingkir memilih kembali ke desanya. Ia menghabiskan waktu dengan bertapa dan berguru kepada Kiai Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Kiai Buyut dari Banyubiru. Jaka Tingkir mendapat lebih besar kesaktian. Satu waktu, Demak dilanda kekacauan. Seekor kerbau besar mengamuk. Tidak ada seorang pun pengawal mampu menghentikannya. Mendengar kabar itu, Jaka Tingkir segera pergi ke Demak. Dengan kesaktiannya, kerbau itu dengan cepat dihentikan. Ia mendapatkan kembali kedudukan sebagai kepala pengawal raja. “Beberapa waktu kemudian, ia kawin dengan putri ke-5 raja (Trenggana), dan menjadi bupati Pajang dengan daerah seluas 4.000 bau. Tiap tahun ia harus menghadap ke Demak. Negerinya berkembang dengan baik sekali dan di sanalah dibangunnya sebuah istana,” ungkap de Graaf. Menguasai Takhta Demak Sebagai menantu Sultan Tranggana, Jaka Tingkir jelas tidak memiliki hak apapun atas Demak. Tetapi tidak lama setelah pemakaman Sultan Tranggana, Jaka Tingkir mengumumkan kekuasaannya di Demak. Pengangkatan mendadak Jaka Tingkir itu dilakukan berdasarkan pilihan rakyat Demak. Ia lalu memerintahkan agar pemerintahan Demak dipindahkan ke Pajang. Seluruh benda pusaka di Demak juga tak luput dari perpindahan tersebut. Sebagai pewaris sah Demak, Sunan Prawata, seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trenggana. Tetapi ia diceritakan tidak ingin naik takhta, dan secara sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan di wilayah Prawata, sebuah pasanggarahan yang digunakan Raja Demak selama musim hujan. Hal itulah yang kemudian mempermudah Jaka Tingkir untuk mengambil alih kekuasaan. Berdasar penelitiannya, JJ Meinsma mengatakan kalau Jaka Tingkir dan penguasa Pajang begitu berambisi menguasai Demak. Mereka segera mengamankan takhta atas pemilik sebagian besar wilayah Jawa Tengah tersebut. Ia bahkan melakukan berbagai tindakan untuk memastikan kedudukannya tetapi baik. Sampai tidak ada wilayah yang berani mengusik raja Pajang karena takut akan kesaktiannya. “Semua negara bawahan menyerah. Yang mengadakan perlawanan dikalahkan. Tidak ada seorang pun yang berani melawan, karena takut akan kesaktian adipati dari Pajang. Hanya adipati dari Jipang, Pangeran Aria Panangsang, yang tidak mau menyerah,” tulis Meinsma. Pada perkembangan selanjutnya, setelah melalui persaingan kekuasaan yang cukup panjang, Aria Panangsang berhasil menduduki takhta Demak. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Demak ke Jipang.
- Hikayat Minyak Bumi di Pangkalan Brandan
SEKALI waktu Aeilko Jans Zijlker, seorang juragan tembakau di Sumatra Timur berkeliling memeriksa kebunnya. Di tengah jalan, tetiba turun hujan deras. Zijlker pun berteduh di barak bekas tempat penimbunan tembakau.






















