top of page

A Traveler Linguist in the Dutch East Indies

Van der Tuuk devoted his life to studying the languages of Nusantara. He compiled dictionaries of Batak, Lampung, and Kawi-Bali.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Van der Tuuk at his house in South Singaraja, Bali, 1880. (KITLV).

23 Okt 2023
9 menit membaca

IN 1853, from the colonial government base in Barus, van der Tuuk embarked on a journey to the Batak interior. His goal was only one: to observe the life and culture of the indigenous Batak tribe. He realized the danger awaiting him if he dared to enter an area not yet controlled by the Dutch. Slanted news among the Europeans also reported about the Batak people's penchant for eating people. His life was at stake.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page