top of page

Ahmad Subardjo di Palestina

Pemerintah Indonesia mendesak dunia Islam lebih tegas terhadap terorisme pemukim ilegal Israel di Palestina. Isu serupa juga diserukan pada Muktamar Islam di Palestina yang dihadiri Ahmad Subardjo.

loading_historia_white.gif
transparant.png

  • 2 menit yang lalu
  • 7 menit membaca

ORGANISASI Kerja Sama Islam (OKI) mengeluarkan dua resolusi dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri Luar Biasa ke-23 di Jeddah, Arab Saudi, pada 27 Agustus 2026. Salah satunya masih menyangkut Palestina.


Indonesia punya ekspektasi lebih dari sekadar seruan dan kecaman semata. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta, yang turut menghadiri konferensi itu. Terorisme Israel lewat ekspansi dibarengi tindak kekerasan dan pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat oleh para pemukim ilegal takkan berhenti hanya dengan seruan dan kecaman, ujarnya.


“OKI harus mampu membangun wibawa organisasi, tidak dengan kecaman dan pernyataan tetapi melalui aksi nyata dan berkelanjutan. OKI harus memaksimalkan kemampuan dan mekanismenya untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas berbagai kejahatannya serta mengkategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai aksi terorisme,” ungkap Anis seperti dimuat di laman resmi Kemlu RI, 27 Agustus 2026.


Sejak beberapa waktu belakangan, para pemukim ilegal Israel melancarkan aneka aksi terorisme yang makin beringas terhadap warga Palestina di beberapa wilayah di Tepi Barat. Mereka mengganggu, mengusik, dan mengusir, hingga membunuhi warga Palestina.


Acapkali, aksi-aksi terorisme mereka dibekingi IOF, pasukan pendudukan Israel, dengan tujuan pengusiran paksa dan aneksasi lahan-lahan dan rumah-rumah milik warga Palestina. Sejumlah wartawan dan aktivis asing yang mencoba untuk membela warga Palestina pun tak luput dari serangan para pemukim ilegal Israel.


Dalam laman resminya, 20 Agustus 2026, Human Rights Watch menyebut aksi-aksi terorisme para pemukim ilegal Israel itu bereskalasi di sekitar 107 wilayah sejak Januari 2023. Di tahun itu, kasus-kasus yang berupa pembunuhan, penyerangan, kekerasan sekual, pencurian, hingga perusakan properti meroket tajam pada Maret dan April 2026, seiring perhatian dunia terfokus pada konflik antara Iran yang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel.


Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Permasalahan HAM, OCHA, mencatat setidaknya terjadi 6 kali serangan pemukim ilegal Israel per hari. Per 1 Agustus 2026 saja para pemukim ilegal Israel yang didanai pemerintahnya sudah mendirikan 248 pos-pos penjagaan di Tepi Barat sebagai basis para pemukim ilegal menyerang warga Palestina.


“Pemerintah Israel dan pemukim punya tujuan yang sama dalam meluaskan lahan dan meminimalisir populasi Palestina, di mana otoritas tak hanya gagal menghentikan kekerasan para pemukim tetapi juga malah aktif membantunya. Para pemukim menembaki, menyerang, dan mengusir penduduk Palestina dari tanah mereka dan negara (Israel) menyediakan senjata, bantuan hukum, dan anggaran untuk para pemukim melakukannnya,” tutur Sarah Sanbar, periset HRW.


Isu ini jelas bukan barang baru. Sejak berdirinya Israel yang diikuti dengan Peristiwa Nakba –pengusiran ratusan ribu warga Palestina dari tanah-tanah kelahirannya pada 1948–, isu itu sudah jadi persoalan yang mengganggu pikiran dunia Islam, termasuk Indonesia. Maka sebagai negara dengan populasi muslim terbesar dunia, Indonesia mengirimkan delegasi untuk menghadiri Muktamar al-Alam al-Islami atau Kongres Muslim Dunia di Al-Quds atau Yerusalem, Palestia, pada 3-9 Desember 1953. Ahmad Subardjo memimpin delegasi itu.


Para pemukim ilegal Israel yang mempersenjatai diri (cjpme.org)
Para pemukim ilegal Israel yang mempersenjatai diri (cjpme.org)

Muktamar di Palestina

Jumat (4 November 1953) itu, Masjid Al-Aqsa di Al-Quds, Palestina ramai jamaah. Ahmad Subardjo ada di antara para utusan negara-negara Islam. Mereka melaksanakan ibadah shalat Jumat di masjid yang lokasinya jadi kiblat pertama umat Islam itu, di sela-sela Muktamar Islam.


“Sembahyang Jumat bersama Kongresisten di mesjid Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsa, red.). Setelah sembahyang kembali ke hotel. Makan bersama. Para hadirin mulai berpidato antara lain menyambut kedatangan kami serta menerangkan arti persatuan Islam dalam menghadapi kepentingan Islam yang dihadapi di Yerusalem itu,” kenang Subardjo dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional.


Subardjo selaku penasihat menteri luar negeri merangkap Duta Besar Keliling RI ditugaskan Menteri Luar Negeri (Menlu) Soenario Sastrowardojo untuk menjawab undangan muktamar. Subardjo memimpin rombongan utusan RI yang terdiri dari antara lain H. Sirajuddin Abbas, anggota parlemen dari Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI); Abdul Mukti Ali, anggota perwakilan RI di Baghdad, dan pegawai perwakilan RI di Kairo Salim al-Rasjidi.


Subardjo dan Siradjuddin berangkat dari Jakarta pada 1 Desember dengan lebih dulu transit di Singapura, Karachi, Baghdad, Kairo di mana Salim ikut serta. Mereka tiba di Al-Quds ketika Abdul Mukti Ali bergabung di sana. Mereka jadi tamu sekaligus peninjau untuk muktamar yang membahas persoalan pendudukan Israel terhadap Palestina. Termasuk di antaranya upaya “internasionalisasi” Al-Quds oleh Israel dengan mencaplok sebagian besar wilayahnya untuk diklaim sebagai ibukota Israel.


“Meskipun Amerika (Serikat) dan Inggris belum mengakuinya, tapi Sovyet Rusia sudah memindahkan Ambassade-nya ke Yerusalem. Qudus (Yerusalem) telah terbagi dua, sebagian besar telah diduduki kaum Yahudi, bagian kecil dari kota itu masih berada dalam tangan kaum Muslimin. Sudah ternyata bahwa kaum Yahudi berusaha terus dengan siasatnya untuk mencaplok pula bagian Arab dari kota Yerusalem. Bahaya anexatie itu harus diinsafi oleh dunia Islam, karena tempat-tempat suci untuk umat Islam justru terletak dalam kota bagian Arab,” ungkap Subardjo mengamini pidato-pidato para utusan dalam muktamar di hari kedua itu.


Di hari ketiga, 5 Desember, para utusan diundang panitia muktamar untuk menengok tempat-tempat suci di kota lama Al-Quds. Selain Masjid Al-Aqsa mereka juga diajak mengunjungi Gereja Makam Kudus dan Masjid Umar (bin Khattab) yang berada di sebelah gereja tadi.


Masih di hari yang sama, Subardjo juga turut dalam rombongan untuk mengunjungi desa-desa warga Arab Palestina di perbatasan dengan Israel. Desa-desa itu begitu ramai karena kedatangan para pengungsi yang mendirikan kamp-kamp pengungsian.


Mereka juga datang membawa bantuan yang kemudian koordinasi pembagiannya dibantu oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pengungsi Palestina UNRWA. Indonesia sendiri memberikan bantuan dana sebesar 60 ribu dolar AS. Dana itu diberikan kepada Palestine Relief Fund.


“Kedatangan rombongan Muktamar Islam disambut panitia penerimaan dari orang-orang terkemuka di desa terseut. Oleh para pelarian (pengungsi, red) diterangkan bahwa mereka kurang makan dan banyak yang sakit karena kurang pakaian tebal untuk musim dingin. Setelah melihat keadaan masing-masing tempat, para utusan berpidato, menjanjikan perubahan nasib mereka dan bantuan. Banyak di antara utusan turut menangis,” kenang Subardjo lagi.


Bersama para partisipan muktamar, Ahmad Subardjo (peci hitam, jas putih) mengunjungi tempat kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem, Palestina (Repro: Kesadaran Nasional)
Bersama para partisipan muktamar, Ahmad Subardjo (peci hitam, jas putih) mengunjungi tempat kelahiran Yesus Kristus di Bethlehem, Palestina (Repro: Kesadaran Nasional)

Memang di antara para pengungsi, mayoritas Arab Palestina yang beragama Islam. Namun dari pandangan mata Subardjo, kalangan Arab Kristen pun turut menderita. Membuat mereka bersatu melawan pendudukan-pendudukan Israel sebisa mungkin.


“Para partisipan kongres (muktamar) diberikan kesempatan ke area perbatasan antara Israel dan Palestina. Tuan Subardjo menyatakan bahwa sejak konflik dimulai, sekitar 1.000.000 warga Arab terusir oleh Israel. Di antara mereka juga terdapat penduduk Arab Kristen. Situasi di perbatasan menegangkan. Arab Kristen dan Arab Muslim di Palestina berdiri berdampingan menghadapi ancaman Israel,” kata artikel “Mr Subardjo over de Arabische landen: Landen Midden-Oosten willen meer handel met Indonesië” di suratkabar De Nieuwsgier edisi 24 Desember 1953.


Hari berikutnya, Ahad, 6 Desember, Subardjo dan para partisipan muktamar berperjalanan ke Nablus, 100 kilometer utara Al-Quds. Lalu dilanjutkan ke Tulkarm, sekitar 36 kilometer sebelah barat Nablus.


“Di sana (Tulkarm) diperlihatkan daerah yang diduduki Yahudi hanya beberapa puluh meter jauhnya. Di tengah-tengah, antara batas daerah Palestina dan batas daerah Yahudi, terletak sebuah no man’s land. Diberitahukan kepada kami tanah di bagian Yahudi yang penuh dengan tanaman jeruk, apel dan lain-lain kepunyaan petani-petani Arab yang terusir dari sana,” sambung Subardjo.


Sampai saat ini pun, area Tulkarm masih terdapat kamp-kamp pengungsi. Salah satu area –terdapat Kamp Pengungsi Nur Shams– masih jadi sasaran agresi pemukim ilegal maupun prajurit-prajurit IOF.


Menurut Middle East Monitor, 19 Agustus 2026, setidaknya ada 10 keluarga di Jabal al-Nasr, Tulkarm, yang diusir IOF seiring mereka melancarkan raid ke Kamp Pengungsi Nur Shams. Juru bicara sekretaris jenderal PBB, Stephane Dujarric, mendapat laporan bahwa militer Israel sengaja merusak jalan-jalan dengan buldozer, serta merusak jarigan-jaringan instalasi air dan sanitasi.


Rombongan Subardjo akhirnya kembali ke Yerusalem. Subardjo sempat bercakap-cakap dengan utusan Maroko, Muhammad Allal al-Fassi. Cendekiawan sekaligus sastrawan itu aktif berjuang membebaskan Maroko dari penjajahan Prancis.


Sangat disayangkan, terdapat nada pesimistis soal perjuangan Palestina. Al-Fassi masih melihat perpecahan, setidaknya di antara negara-negara Arab, baik di Afrika Utara maupun Asia Barat. Persoalan tersebut masih dihadapi sekarang.


“Dari Muktamar Islam ini, apakah hasil-hasilnya konkret?” tanya Subardjo.


“Lebih dari meletakkan dasar perjuangan, tak ada. Sudah ternyata, bahwa dunia Arab tak bersatu dalam menghadapi soal Palestina. Mesti membentuk suatu ideologi perjuangan, apabila mau membebaskan Palestina. Ideologi yang mengandung guiding principles buat menjadi pedoman untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” urai Al-Fassi menjawab Subardjo.


Selain itu, Subardjo juga bertukar pikiran lagi dengan utusan lain. Kali ini dari Aljazair, Abdul Salam Abu Izzah. Utusan Aljazair itu malah mendorong adanya perjuangan fisik lebih frontal terhadap Israel. Sebab, pasukan Yordania tak bisa diharapkan karena Yordania adalah negeri bentukan Inggris dan militernya pun disokong Inggris. Maka mesti ada pasukan sukarela Islam dari seluruh dunia agar Israel berpikir dua kali melancarkan agresi-agresinya.


“Raja Yordania sekarang (Raja Hussein) ialah boneka Inggris. Mendapat didikan Inggris dan dari kecil sampai dewasa hidup di Inggris. Apa jaminannya bahwa tentara Yordania akan mempertahankan Yerusalem dan Palestina seluruhnya, kalau Inggris menghendaki supaya daerah Israel diperbesar?” ujar Abu Izzah kepada Subardjo.


Muktamar tersebut rampung pada 7 Desember, dua hari lebih cepat dari jadwal. Subardjo turut membawa pulang hasil muktamarnya, termasuk tujuh resolusi yang ditelurkan pada muktamar itu.


“Di Yerusalem pada Desember 1953, Kongres Islam untuk Persoalan Palestina menghasilkan resolusi-resolusi yang paling keras dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Para partisipan menyimpulkan (resolusi di antaranya) bahwa Muslim seluruh dunia wajib untuk ‘menanggung beban kerja keras untuk pembebasan Palestina’, bahwa negosiasi perdamaian dengan Israel akan dianggap ‘tindakan pengkhianatan’, dan seruan umum ‘mobilisasi rakyat untuk perjuangan positif’ menggantikan ‘pasifisme yang tak berguna’,” tulis Matthew F. Jacobs dalam Imagining the Middle East: The Building of an American Foreign Policy, 1918-1967.


Selain itu, muktamar tersebut juga menetapkan setiap tanggal 27 Rajab pada almanak Hijriah sebagai Hari Palestina. Pun dengan dibentuknya sekretariat Kongres Islam dengan para negara partisipan diharapkan mengirimkan utusan tetapnya. Lantas pada akhir Mei 1954, dua utusan sekretariat itu turut berkunjung ke Indonesia, Amjad az-Zahawi dan Ali al-Tantawi.


“Pada Rabu pagi (19 Mei, red.), dua wakil Panitia Pembela Palestina yang berbasis di Yerusalem, tiba di Jakarta dari Karachi dengan (pesawat maskapai) KLM. Mereka adalah Tuan Azzahawi dan Attantawi yang diterima sebagai tamu negara. Mereka ingin menarik perhatian rakyat Indonesia terhadap situasi di Palestina dan meminta bantuan moral dan materi. Pada Desember tahun lalu, sebuah konferensi digelar di Yerusalem untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina yang turut dihadiri Tuan A. Subardjo dan H. Sirajuddin Abbas, sebagai peninjau. Diputuskan pada konferensi itu didirikan sekretariat permanen yang melibatkan pula dua wakil dari Indonesia: satu dari Masjumi dan satu lagi dari Liga Muslimin Indonesia,” demikian koran Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 24 Mei 1954 memberitakan lewat artikel “Palestijnen in Djakarta”.



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo menjadi menteri luar negeri pertama tetapi tidak berlangsung lama. Setelah berganti pemerintahan, Subardjo hidup dari penjara ke penjara semasa revolusi.
bg-gray.jpg
Dari mimpi didatangi roh raja Klungklung hingga “janjian” dengan Bung Hatta enggan dimakamkan di TMP Kalibata. The untold story Ahmad Subardjo.
transparant.png
bottom of page