top of page

Kabar Angin Tan Malaka di Palestina

Tan Malaka disebut bertempur dalam Pemberontakan Arab 1936 di Palestina. Rumornya dia terluka, bahkan ada yang percaya meninggal dunia. Tan pernah menyebut Palestina sebagai tanah susu dan madu yang jadi rebutan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Ibrahim Datuk Tan Malaka. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

13 Agu
4 menit membaca

Diperbarui: 16 Agu

SORE 25 Agustus 1945 itu, seorang asisten rumah tangga di kediaman Ahmad Subardjo di Cikini, Jakarta menginformasikan kepada sang tuan bahwa ada seorang tamu. Dari perawakannya, Subardjo sepintas mengira itu bekas kawannya semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, Iskaq Tjokroadisoerjo. Tapi ternyata bukan. Yang datang Tan Malaka.


“Wah, kau Tan Malaka,” seru Subardjo menyambut sang tamu, sebagaimana dikisahkan Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Subardjo tak asing dengan Tan. Ia pertamakali bertemu dan mengenal Tan saat kuliah dan aktif di PI semasa di Belanda.


Dalam pertemuan di rumah Subardjo tadi, Tan mengakui dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Jilid 3: Terbuang di Rumah Sendiri, bahwa Subardjo yang pertamakali menyebut nama aslinya. Sebab, bertahun-tahun Tan memakai banyak nama samaran.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page