Diperbarui: 16 Agu
SORE 25 Agustus 1945 itu, seorang asisten rumah tangga di kediaman Ahmad Subardjo di Cikini, Jakarta menginformasikan kepada sang tuan bahwa ada seorang tamu. Dari perawakannya, Subardjo sepintas mengira itu bekas kawannya semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, Iskaq Tjokroadisoerjo. Tapi ternyata bukan. Yang datang Tan Malaka.
“Wah, kau Tan Malaka,” seru Subardjo menyambut sang tamu, sebagaimana dikisahkan Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Subardjo tak asing dengan Tan. Ia pertamakali bertemu dan mengenal Tan saat kuliah dan aktif di PI semasa di Belanda.
Dalam pertemuan di rumah Subardjo tadi, Tan mengakui dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Jilid 3: Terbuang di Rumah Sendiri, bahwa Subardjo yang pertamakali menyebut nama aslinya. Sebab, bertahun-tahun Tan memakai banyak nama samaran.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












