top of page

Kabar Angin Tan Malaka di Palestina

Tan Malaka disebut bertempur dalam Pemberontakan Arab 1936 di Palestina. Rumornya dia terluka, bahkan ada yang percaya meninggal dunia. Tan pernah menyebut Palestina sebagai tanah susu dan madu yang jadi rebutan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Ibrahim Datuk Tan Malaka. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

  • 1 jam yang lalu
  • 4 menit membaca

SORE 25 Agustus 1945 itu, seorang asisten rumah tangga di kediaman Ahmad Subardjo di Cikini, Jakarta menginformasikan kepada sang tuan bahwa ada seorang tamu. Dari perawakannya, Subardjo sepintas mengira itu bekas kawannya semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, Iskaq Tjokroadisoerjo. Tapi ternyata bukan. Yang datang Tan Malaka.


“Wah, kau Tan Malaka,” seru Subardjo menyambut sang tamu, sebagaimana dikisahkan Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi.


Subardjo tak asing dengan Tan. Ia pertamakali bertemu dan mengenal Tan saat kuliah dan aktif di PI semasa di Belanda.


Dalam pertemuan di rumah Subardjo tadi, Tan mengakui dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Jilid 3: Terbuang di Rumah Sendiri, bahwa Subardjo yang pertamakali menyebut nama aslinya. Sebab, bertahun-tahun Tan memakai banyak nama samaran.


“Mulanya Mr. Subardjo kelihatan lupa. Tetapi sesudah saya tanyakan, apakah dia sudah lupa kepada saya, maka Mr. Subardjo, sambil berdiri kembali dijawab dengan, ‘o, Tan Malaka. Saya sangka sudah mati.’ Mr. Subardjolah yang pertama sekali mengucapkan nama saya yang sebenarnya, semenjak saya mendarat di Sumatera Timur pada 10 Juni 1942. Ganjil benar bunyinya nama itu di telinga saya sendiri, semenjak lebih dua puluh tahun tak pernah lagi nama itu diucapkan kepada saya dalam pergaulan sehari-hari,” kenang Tan.


Subardjo sempat mengira Tan sudah tinggal nama. Pasalnya sejak tujuh tahun sebelumnya ramai berembus kabar angin soal Tan yang turut dimuat banyak suratkabar. Kabar itu menyebutkan Tan bersama dua tokoh kiri Indonesia lain, Alimin Prawirodirdjo dan Willem Sapuliti, terlibat bahu-membahu dengan para pejuang Palestina dalam Pemberontakan Arab 1936-1939. Subardjo jadi satu dari sekian tokoh yang ‘kecele’ alias percaya pada hoaks itu.


“Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar bahwa kau disebut menjadi korban dalam kerusuhan di Birma (kini Myanmar, red.), ada lagi kabar bahwa kau berada di Yerusalem, dan dikatakan mati dalam kerusuhan (Pemberontakan Arab),” kata Subardjo.


Okruid vergaat toch niet (alang-alang tak dapat musnah),” jawab Tan dalam bahasa Belanda sembari tertawa.


“Apa maksudmu?” tanya Subardjo.


“Sampai sekarang saya hidup incognito di bawah tanah. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Saya ingin hidup dan bergerak di atas tanah, secara resmi. Saya ingin menemui dan mengenal pemimpin-pemimpin Indonesia,” Tan menjelaskan maksud kedatangannya.


Tajuk pemberitaan tentang rumor Tan Malaka di Palestina di artikel De Indische Courant edisi 25 Oktober 1938. (delpher.nl).
Tajuk pemberitaan tentang rumor Tan Malaka di Palestina di artikel De Indische Courant edisi 25 Oktober 1938. (delpher.nl).

Palestina di Mata Tan Malaka

Sejarawan Harry Albert Poeze dalam bukunya, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, 1925-1945, turut melacak dari mana rumor itu berasal. Pada Oktober 1938, terdapat dua suratkabar yang mendasarkan pemberitaannya pada korespondennya di Alexandria, Mesir. Sang koresponden mengaku mendapatkan informasi itu dalam sebuah pembicaraan dengan seorang wartawan Amerika Serikat.


“Wartawan Amerika itu sempat ikut bertempur bersama pejuang Arab melawan Yahudi dan Inggris di Palestina. Selama tiga pertempuran, ia berkenalan dengan tiga orang Indonesia: Tan Malaka, Alimin, dan seorang Ambon Willem Sapuliti,” tulis Poeze.


Wartawan Amerika itu menguraikan kepada sang koresponden bahwa Tan, Alimin, dan Willem Sapuliti tak berdiri di belakang pihak Arab-Palestina karena fanatisme agama. Mereka bergerak dan angkat senjata karena cita-cita kemanusiaan.


Kabar itu, lanjut Poeze, sempat dikutip media massa di Hindia Belanda, baik suratkabar bumiputera seperti Pewarta Deli dan Pemandangan, maupun koran-koran berbahasa Belanda seperti De Indische Courant atau Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. Dalam artikel-artikel mereka disebutkan bahwa Tan terluka di bagian bahu sedangkan Sapuliti mengalami tekanan mental, dan Alimin gugur dalam sebuah pertempuran di suatu malam. Alimin, lanjutnya, kemudian dikebumikan dengan hormat, di mana Tan memberikan pidato perpisahan dan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.


“Setelah pemberontakan komunis 1926, dua pemimpin ternama, Alimin dari Jawa dan Tan Malaka dari Minangkabau, berhasil kabur ke luar negeri dan tetap tak terlacak. Koresponden Mesir untuk Pewarta Deli mendapat kabar bahwa Alimin, yang ambil bagian dalam pemberontakan di Palestina bersama pihak Arab, telah tewas akibat peluru Inggris, sementara Tan Malaka yang bertempur di sampingnya, juga harus mendapat perawatan di rumah sakit akibat luka serius,” tulis De Indische Courant edisi 25 Oktober 1938 dalam artikelnya, “Twee Communisten, Volgens geruchten is Alimin gedood en Tan Malaka ernstig gewond bij gevechten in Palestina”.


Kabar itu pun dianggap Subardjo benar. Sebab, Tan Malaka tak pernah secara resmi membantah meskipun diketahui Alimin tak tewas di ujung senapan Inggris. Alimin baru tutup usia pada 26 Juni 1964 di Jakarta.


Tan memang belum pernah menginjakkan kaki di tanah Palestina. Namun, beberapa karyanya menyinggung soal geopolitik di Palestina dan Jazirah Arab, mulai Arab Saudi hingga kawasan Magreb (kini Maroko) di Afrika Utara. Dalam Yahudi Nasrani dalam Tinjauan Madilog (1948), misalnya. Tan menerangkan apa yang terjadi antara Palestina-Israel dari kerangka sistem politik dunia dan sejarahnya, bukan dari kerangka moral dan penderitaan kemanusiaan.


“Lebih kurang pada tahun 1220 sebelum Nabi Isa, Bani Israel, Pahlawan Tuhan, menyerbu ke Palestina, dari Timur dan Selatan. Akhirnya lebih kurang tahun 1000 sebelum Nabi Isa, mereka bisa merebut pegunungan dekat Palestina, tetapi tiada bisa menaklukkan negara di pesisir. Juga kota yang besar-besar seperti Yerusalem, Heggida, Besan dan segalanya belum lagi dapat ditaklukkan. Pertarungan yang seru sengit dengan bangsa Kanaan, Bangsa Filisten dari pesisir dan bangsa Badui terus menerus saja berlaku,” tulisnya.


“Setelah Nabi Musa meninggal, maka ‘Persatuan’ agama di bawah satu pimpinan menghadapi musuh yang banyak dan kuat tadi, tentulah tidak kurang dirasa perlunya. Pahlawan Tuhan Bani Israel sekarang tiada lagi bangsa pengembara semata-mata. Pemimpin tunggalnya tiada lagi kerjanya semata-mata buat mencari jalan di gunung atau gurun pasir atau pemuja Yahweh seperti pada masa Nabi Musa, Bani Israel sekarang sudah menjadi penakluk, perebut negara baru, jadi tani, penggembala dan serdadu,” sambungnya.


Narasi tentang Bani Israel juga diutarakannya dalam bukunya yang lain, Pandangan Hidup (1948). Usai dipersekusi Firaun sebagai bangsa budak di tanah Mesir, Bani Israel dipimpin hijrah oleh Nabi Musa AS.


“Karena tiada tahan lagi menderita serta penghinaan di tengah-tengah bangsa Mesir, maka suatu waktu bangsa Yahudi itu memutuskan, hendak pindah ke ‘Tanah susu dan madu’ yang menurut kepercayaan yahudi sudah dijanjikan oleh Tuhan. Tanah makmur penuh dengan susu dan madu yang dimaksudkan itu, ialah tanah Palestina yang sekarang menjadi tanah-rebutan antara Yahudi dan Arab itu,” tandas Tan.*






Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Taklik talak dalam buku nikah pada mulanya tak digubris. Sempat dituduh hendak mengubah hukum Islam.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah menjadi menteri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Mengurus diplomasi, buruh, sampai bedak dan gincu.
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
Tan Malaka disebut bertempur dalam Pemberontakan Arab 1936 di Palestina. Rumornya dia terluka, bahkan ada yang percaya meninggal dunia. Tan pernah menyebut Palestina sebagai tanah susu dan madu yang jadi rebutan.
Tan Malaka disebut bertempur dalam Pemberontakan Arab 1936 di Palestina. Rumornya dia terluka, bahkan ada yang percaya meninggal dunia. Tan pernah menyebut Palestina sebagai tanah susu dan madu yang jadi rebutan.
Demi mengenal Indonesia lebih dalam, novel Max Havelaar karya Multatuli diterjemahkan ke dalam bahasa Korea.
Demi mengenal Indonesia lebih dalam, novel Max Havelaar karya Multatuli diterjemahkan ke dalam bahasa Korea.
Mahkamah rakyat bukan barang baru, baik di isu-isu internasional maupun Indonesia. Wacananya muncul lagi sebagai alternatif pengungkapan kebenaran.
Mahkamah rakyat bukan barang baru, baik di isu-isu internasional maupun Indonesia. Wacananya muncul lagi sebagai alternatif pengungkapan kebenaran.
Karya tari biasanya menandai satu pemerintahan sultan di Yogyakarta. Bagaimana proses penciptaannya?
Karya tari biasanya menandai satu pemerintahan sultan di Yogyakarta. Bagaimana proses penciptaannya?
Saling intip kekuatan lawan dalam Perang Dingin membuat AS meluncurkan air spionage. Satu pesawat Herculesnya ditembak jatuh.
Saling intip kekuatan lawan dalam Perang Dingin membuat AS meluncurkan air spionage. Satu pesawat Herculesnya ditembak jatuh.
Harajuku pernah menjadi kawasan permukiman militer Amerika Serikat. Kebangkitan ekonomi Jepang mengubah wajah Harajuku menjadi pusat fesyen dunia.
Harajuku pernah menjadi kawasan permukiman militer Amerika Serikat. Kebangkitan ekonomi Jepang mengubah wajah Harajuku menjadi pusat fesyen dunia.
transparant.png
bottom of page