- 10 Okt 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 2 jam yang lalu
JALUR Gaza, sebuah wilayah sempit yang diapit wilayah Israel di timur dan Laut Mediterania di barat, disesaki pengungsi dan rumahsakit darurat pada 18 Juni 1959. Wajah-wajah prihatin yang didera kelaparan di kamp-kamp pengungsian, hari itu untuk sesaat berubah menggelora seiring kunjungan seorang tokoh revolusioner bernama Ernesto “Che” Guevara.
Kunjungan Guevara itu punya makna besar bagi pengungsi untuk terus memberikan perlawanan terhadap zionis Israel. Kendati seruan pembebasan Palestina didengungkan Presiden Indonesia Sukarno di Konferensi Asia Afrika (KAA), menurut Salman Abu Sitta dalam Che Guevara in Gaza: Palestine Becomes a Global Cause, Guevaralah yang mengubah kolonisasi Zionis itu dari konflik kawasan menjadi isu global.
“Pemicunya memang Konferensi Bandung (KAA, red.) pada 1955 dan menghasilkan Gerakan Non-Blok, di mana para anggotanya mengguncang dominasi asing (Blok Barat dan Blok Timur). Jalur Gaza menjadi simbol Palestina. Wilayah kecil satu-satunya yang masih mengibarkan bendera Palestina,” ungkap Abu Sitta.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















