top of page

Api Abadi Pemimpin Revolusi

Jika berkunjung ke Kuba, luangkanlah waktu untuk singgah di tempat bersemayamnya salah satu ikon revolusioner dunia: Che Guevara.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Patung perunggu Che Guevara di kompleks Museum dan Mausoleum Che Guevara di Santa Clara, Kuba. (Tunggal Pawestri/Historia.ID).

29 Okt 2023
7 menit membaca

Diperbarui: 14 Jun

RASA lelah dan kantuk langsung lenyap saat saya melihat Che Guevara dari kejauhan. Dia berdiri gagah. Sorot matanya tajam. Raut mukanya, yang dihiasi alis tebal dan jambang lebat, mengguratkan keteguhan sikapnya. Ia mengenakan baret dan seragam militer. Tangan kanannya menggenggam senjata, sementara lengan kiri yang terbalut perban menekuk ke perut. 


Patung perunggu Che Guevara itu memiliki berat 20 ton dengan tinggi hampir tujuh meter. Sebuah monumen yang menjulang jadi pijakannya. Slogan Che yang terkenal terukir di bagian bawah monumen: Hasta La Victoria Siempre! (Sampai Menang untuk Selamanya!). Ketika saya mendekat, beberapa kuntum bunga segar dari pengunjung bergeletakkan di lantai. 


Patung Che dan lima monumen, yang dibuat Jose Delarra dengan ukuran dan bentuk berbeda, menjadi pemandangan paling menonjol saat saya memasuki kompleks Museum dan Mausoleum Che Guevara di Santa Clara, ibu kota Provinsi Villa Clara, Kuba.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page