top of page

Azis Taba Prajurit Perang Sekaligus Pemikir

Azis Taba mungkin tak ikut gerilya. Tapi dia ikut gerakan bawah tanah di Makassar dengan kedok jadi supir KNIL.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayor Azis Taba, Letkol M. Jusuf, dan Letkol A. Baramuli dalam perjalanan ke Sulawesi Tenggara (repro "Baramuli Menggugat Politik Zaman")

3 Jun 2023
3 menit membaca

Reputasi pejuang yang bergerilya masuk hutan hingga kini tetap mulia di banyak kepala orang Indonesia.  Sementara, mereka yang ikut gerakan bawah di kota untuk melawan tentara Belanda masih sulit mendapat predikat mulia.


Hal itu sudah dipikirkan Zulkifli Lubis, komandan Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI), sejak awal kemerdekaan Indonesia. Irawan Sukarno dalam Aku “Tiada” Aku Niscaya: Menyingkap Lapis Kabut Intelijen mencatat, doktrin Zulkifli Lubis tentang prajurit perang fikiran.

“Sebagai Prajurit Perang Fikiran aku bekerja dan berjuang di mana saja aku berada; Sebagai Prajurit Perang Fikiran aku ‘hilang’,” ajar Lubis.



Hilang berarti tak tampak. Prajurit perang pikiran jelas seorang prajurit tak terlihat yang jika mati tak dikenang dan jika berhasil tak mendapat penghargaan. Biasanya, perjuangan mereka kerap tidak diakui. Di zaman revolusi kemerdekaan Indonesia, banyak dari mereka berada di wilayah lawan bahkan tidak sedikit yang bekerja untuk Belanda, namun hati mereka tetap cenderung ke Republik Indonesia yang miskin.


Satu dari sekian banyak pejuang tipe itu adalah Anang Acil di Balikpapan. Sopir  yang bekerja untuk jawatan militer Belanda itu memimpin para pemuda Indonesia dalam penyerangan terhadap tentara Belanda.


Pejuang tipe “senyap” itu ada di berbagai daerah. Di Makassar, yang diduduki tentara Belanda, juga ada pemuda macam Anang Acil.


“Seorang pemuda yang bekerja pada bahagian pengangkutan KNIL, bemama Azis Taba dapat mempengaruhi anggota-anggota KNIL yang bersedia digerakkan untuk gerakan 1 Januari,” catat Lahadjdji Patang dalam Sulawesi dan Pahlawan-Pahlawannya: Sejarah Perjuangan Kemerdekaan.



Gerakan 1 Januari yang dimaksud merupakan Gerakan 1 Januari 1949. Gerakan tersebut merupakan upaya perlawanan para pejuang untuk membuat kekacauan di Makassar dengan tujuan politis antara lain mengimbangi upaya penangkapan dan penawanan para pemimpin republik di Yogyakarta oleh Belanda. Dalam gerakan itulah Azis Taba berperan penting.


Azis Taba merupakan pemuda kelahiran Palopo sekitar tahun 1930. Menurut catatan Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII, Azis Taba tumbuh besar di Bantaeng, Jeneponto, dan Makassar. Dia pernah sekolah di Taman Siswa, sebelum kursus tata buku dan telegrafi.


Antara 1945 dan 1946, dia bergabung dengan laskar RI di Pangkajene dan Makassar. Ketika itu tentara Belanda belum kuat di Makassar. Namun sejak 1946, dia kemudian bekerja menjadi supir KNIL. Meski begitu, dia tetap berhubungan dengan gerakan bawah tanah.


Azis diserap oleh pejuang macam Arif Rate dan Mobile Batalyon Ratulangie (MBR). Di sanalah perannya mendukung RI banyak terjadi namun tidak dilihat banyak orang.



“Apapun  bantuannya secara diam-diam kepada kaum gerilyawan yang mungkin telah diberikannya, dalam pandangan umum ia tidak akan dipersamakan dengan mereka (yang bergerilya),” kata Barbara Harvey.


Pada 1950, Azis Taba menjadi komandan kompi dalam MBR. Pada 1951 MBR kemudian masuk dalam Corps Tjadangan Nasional (CTN) yang hendak tidak diaktifkan dalam ketentaraan. Dia menuruti perintah Kahar Muzakkar untuk memimpin MBR masuk hutan.

Azis Taba tidak lama di hutan. Meski orang Palopo, dia tidak dekat dengan Kahar Muzakkar. Dia juga bukan bangsawan yang membuatnya akan dihormati di daerah. Di antara anggota CTN yang ikut Kahar masuk hutan, Azis Taba termasuk buruk posisinya.


“Azis Taba mungkin paling lemah posisinya dibanding komandan batalyon lainnya untuk disebut pejuang,” catat Barcabara Harvey (1989:194). Ini terkait posisinya sebagai supir KNIL.

Tempat terbaik untuk orang biasa yang pintar seperti Azis Taba kala itu adalah di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di zaman Kolonel Gatot Subroto menjadi panglima Tentara dan Teritorium VII Wirabuana yang membawahi seluruh Indonesia Timur, Azis Taba dan ratusan bekas pejuang lain masuk TNI.



Azis Taba yang pintar itu pada 1952 diberi kesempatan ikut pelatihan militer di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) di Jawa Barat. Setelah pulang, dia tidak lagi memimpin bekas anak buahnya atau pasukan lainnya. Tak ada lagi jabatan menterang macam komandan disandangnya.


Namun dia tetap menjadi orang berguna di militer. Dari 1953 hingga 1956, dia hanya menjadi staf di markas Wirabuana di Makassar. Pada 1956-1959, dia menjadi kepala staf di Kesatuan Reserve Umum (KRU) Hasanuddin ketika komandan Kodam-nya M Jusuf. Lalu pada 1959-1961, Azis menjadi kordinator pendidikan dan latihan di Kodam Hasanuddin. Pernah pula dia menjadi Asisten 2 (operasi) di Kodam tersebut. 


Pangkat terakhirnya di TNI adalah Kolonel. Ketika M Jusuf jadi menteri perindustrian, Azis ditugaskan pula ke departemen tersebut.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Pengalaman dan usianya membuat Gatot Soebroto acap jadi tempat mengadu para perwira. Namanya tetap abadi di banyak tempat, mulai jalan-jalan protokol hingga RSPAD.
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Tak hanya mengerahkan satu regu POM ABRI, Manila merekrut seorang pemain untuk dijadikan“informan” khusus guna mengusir hantu suap.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Rumah komunal di Sulawesi hanya bertahan dalam ingatan.
Lapangan Merah kembali jadi saksi parade para patriot Rusia. Menggaungkan sentimen anti-Nazi dari masa Stalin hingga Putin.
Lapangan Merah kembali jadi saksi parade para patriot Rusia. Menggaungkan sentimen anti-Nazi dari masa Stalin hingga Putin.
Kemenangan Eisenhower dalam pemilihan presiden AS membuat iklan kampanye di televisi menjadi andalan para politisi. Memicu munculnya iklan kampanye negatif.
Kemenangan Eisenhower dalam pemilihan presiden AS membuat iklan kampanye di televisi menjadi andalan para politisi. Memicu munculnya iklan kampanye negatif.
transparant.png
bottom of page