top of page

Bukan Sekadar Perjalanan Rohani

Selama menunaikan ibadah haji, Presiden Sukarno melakukan serangkaian kegiatan kenegaraan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Presiden Sukarno di dalam kemah ketika menunaikan ibadah haji pada 1955. (Perpusnas RI).

13 Mei 2023
2 menit membaca

Diperbarui: 18 Jul

PAGI, 18 Juli 1955. Lapangan Terbang Kemayoran ramai. Ribuan orang menanti untuk melepas keberangkatan Presiden Sukarno bersama rombongan (31 orang) ke Tanah Suci. Setiba di Kemayoran, Sukarno menyampaikan amanatnya.


“Hari ini saya minta pamit dari seluruh lapisan rakyat di manapun saudara-saudara berada di tanah air kita. Saya minta doa selamat dari saudara-saudara sekalian.” ujar Sukarno, dikutip harian Merdeka, 19 Juli 1955.


“Saya ingin minta dari saudara-saudara semua, supaya selama saya tidak ada di Tanah Air, saudara-saudara semuanya bersama-sama menjaga dan memelihara ketentraman dan keselamatan negara kita.”

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page