top of page

Cerita dari Nirbaya

Nirbaya simbol represi rezim otoriter Orde Baru. Rumah Tahanan Militer ini meninggalkan cerita tentang persahabatan dan rasa senasib sepenanggungan para tahanan politik.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi Paviliun Blok Amal Nirbaya. (M.A. Yusuf/Historia.ID).

18 Nov 2025
9 menit membaca

Diperbarui: 22 Nov 2025

HATI anak perempuan mana yang tak bergidik ngeri menyaksikan ayahnya meringkuk dalam tahanan. Perasaan itulah yang dialami Dina Indira kala menginjakan kaki di penjara Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya, Jakarta Timur. Ayah Indira adalah Mayor Jenderal TNI Moersjid, salah satu tahanan politik (tapol) rezim Orde Baru pada awal 1970. Ketika pertama kali mengunjungi Moersjid di Nirbaya, Dina masih bocah kelas 6 SD. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page