- 1 hari yang lalu
- 7 menit membaca
SAAT dunia internasional disibukkan oleh persekongkolan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran, perhatian untuk Palestina pun berpaling. Padahal Israel masih melancarkan genosidanya di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Kelompok aktivis Palestina Convoy pun berupaya menarik perhatian dunia lagi pada Palestina dengan rencana aksi konvoi darat dari Srebrenica di Bosnia-Herzegovina ke Palestina.
Jika beberapa kelompok aktivis global lain berkali-kali mencoba menembus blokade Israel di Jalur Gaza via pelayaran-pelayaran Sumud Flotilla, kelompok Palestine Convoy bakal menggunakan kendaraan-kendaraan pribadi mereka untuk menuju tujuan akhir di Ramallah, Tepi Barat via Bosnia, Türkiye, Irak, dan Yordania. Mengutip laman resminya, mereka berangkat dari Srebrenica pada 26 Juli 2026. Perjalanannya direncanakan memakan waktu 20 hari dengan melewati 23 kota sebelum mencapai Ramallah.
Terdapat ratusan aktivis dari 31 negara yang ikut serta. Antara lain dari Belgia, Bosnia, Jerman, Prancis, Mesir, Norwegia, Serbia, Spanyol, Inggris, dan Swiss. Di kota-kota yang dikunjungi, mereka akan mengadakan long march dan demonstrasi damai dengan empat tuntutan utama: kemerdekaan Palestina dari Sungai Yordania sampai Laut Mediterania; diakhirinya pendudukan terhadap Palestina, menuntut Israel mencabut hukuman mati bagi orang-orang Palestina, dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi untuk menghentikan aneksasi dan ekspansi permukiman ilegal Israel di Palestina.
“Dipilihnya Srebrenica sebagai kota pertama konvoi sebagai simbol kesadaran bersama bahwa tragedi kemanusiaan besar masa lalu agar tidak dilupakan dan penderitaan yang sama tak semestinya terjadi lagi. Konvoi ini akan jadi yang pertama di dunia; sebuah rute yang dipetakan dari satu genosida ke genosida lainnya. Rute yang punya makna besar ini bertujuan membawa pesan dan suara orang-orang Palestina kepada masyarakat internasional untuk memperkuat solidaritas global,” ungkap Palestina Convoy dalam pernyataannya yang dirilis 24 Juli 2026.
Pembantaian Srebrenica sendiri berlangsung pada 11-22 Juli 1995 dan dilancarkan oleh pasukan Serbia dan paramiliternya. Korbannya lebih dari delapan ribu orang Bosnia di kota yang luasnya hampir menyamai Jakarta itu, menjadikannya pembantaian dengan jumlah korban terbesar di Eropa sejak holocaust semasa Perang Dunia II (1939-1945).
Hingga kini, masih banyak korbannya yang terpendam dalam kuburan-kuburan massal belum teridentifikasi. Terakhir, terdapat 10 korban baru yang berhasil diidentifikasi. Ribuan warga menyesaki Memorijalni Centar Srebrenica-Potočari (Makam Peringatan Korban Genosida Srebernica) di Potočari pada 11 Juli 2026 guna memperingati 31 tahun Pembantaian Srebrenica sekaligus mengantarkan 10 korban yang baru teridentifikasi itu dimakamkan kembali di area tersebut.
Dalam peringatan itu, Ketua Kepresidenan Bosnia-Herzegovina Denis Bećirović menyatakan, Pembantaian Srebrenica itu sendiri adalah peringatan global terhadap kebencian, dehumanisasi, dan kegagalan meredam kejahatan internasional.
“Jika kita gagal mempertahankan kebenaran terhadap masa lalu kami, kita tidak akan memiliki masa kini ataupun masa depan,” ungkap Bećirović, dikutip Anadolu Ajansı, 11 Juli 2026.

Srebrenica dan Tragedinya
Hari itu, 11 Juli 1995, kota Srebrenica jatuh ke tangan militer Serbia. Pasukan penjaga perdamaian PBB tak berdaya. Puluhan ribu warga kotanya berusaha melarikan diri. Hasan Hasanović salah satunya.
Hasan, kala itu berusia 19 tahun, bersama saudara kembar dan ayahnya menyelinap ke hutan bersama puluhan orang lain. Nahas, Hasan terpisah dari saudara dan ayahnya kala menghindari penyergapan maupun serangan-serangan artileri Serbia di hutan. Hasan sebatang kara untuk terus survive di hutan dengan rasa lapar dan kekurangan istirahat.
“Rasa takutlah yang membuat saya terus bertahan. Bertahun-tahun kemudian, jasad mereka ditemukan di kuburan massal. Saya menguburkan kembali ayah dan saudara kembar saya dengan tangan saya sendiri,” kenang Hasan.
Tidak hanya Hasan yang berkisah sebagai penyintas pada Hari Internasional Peringatan dan Refleksi Genosida 1995 di Srebrenica di forum Majelis Umum PBB pada 9 Juli 2026 itu. Emina Sinanović, kala itu berusia 5 tahun, juga mengungkapkan kenangannya di forum yang sama. Menurutnya, ayah, paman, dan kakeknya menjadi tiga di antara lebih dari delapan ribu korban Pembantaian Srebrenica. Ketiganya dieksekusi di sebuah gudang dan bertahun-tahun kemudian Emina menemukan mereka di kuburan massal setelah mengenali kotak rokok ayahnya.
“Bagi orang lain, Srebrenica adalah sejarah. Bagi saya, Srebrenica adalah keseharian dalam hidup saya. Ibarat dinding tak kasat mata yang berdiri di antara saya dan ayah saya – tembok yang terbangun akibat kebencian dan kebiadaban,” lirihnya.
Tragedi itu terjadi seiring meletusnya Perang Bosnia (1992-1995), satu bagian dalam rangkaian Perang Yugoslavia (1991-2001). Perang Yugoslavia jadi medan konflik tiga kelompok besar: Bosnia yang muslim, Serbia yang Kristen Ortodoks, dan Kroasia yang Katolik. Referendum pada Februari 1992 membuat Bosnia mendirikan negara merdeka yang dua bulan berselang diakui Komunitas Eropa (kini Komunitas Ekonomi Eropa) dan pada Mei 1992 oleh PBB.

Serbia tak terima. Tentara Republik Serbia, VRS, beserta sejumlah paramiliter Serbia melancarkan ofensifnya sejak April 1992.
PBB bertindak dengan mengirimkan Pasukan Perlindungan PBB UNPROFOR yang –berkekuatan 25 ribu personel dari 42 negara, salah satunya Indonesia– berbasis di Kroasia. Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO yang dimotori AS kemudian juga terlibat dan cenderung memihak Bosnia.
Misi UNPROFOR di Bosnia tak hanya mengamankan Bandara Sarajevo, namun juga mengawal bantuan-bantuan kemanusiaan yang mengalir ke Bosnia. Melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 819, UNPROFOR lalu diberi mandat membuat perimeter dan perlindungan bagi wilayah-wilayah yang ditetapkan sebagai “zona aman”: Sarajevo, Goražde, Žepa, Tuzla, Bihać, dan Srebrenica.
Sejak April 1993, Srebrenica dilindungi kontingen UNPROFOR dari Kanada, yang pada Maret 1994 digantikan batalyon kontingen UNPROFOR dari Belanda. Kendati saat itu Srebrenica sudah terus-menerus digempur hingga hampir terkepung pasukan Serbia, kewenangan pasukan UNPROFOR sekadar mencegah serangan frontal besar-besaran Serbia. Padahal, di lapangan ada serangan-serangan mortir maupun tembak-menembak skala kecil antara pasukan VRS dan ARBiH atau pasukan Bosnia.
“Pada Februari 1995 militer Serbia melakukan pengepungan total: mereka menghentikan aliran pengiriman bahan bakar dan mulai mengganggu konvoi-konvoi bantuan makanan, begitupun mengganggu rotasi personel Belanda untuk masuk dan keluar kantong-kantong pertahanan,” tulis Norbert Both dalam From Indifference to Entrapment: The Netherlands and the Yugoslav Crisis, 1990-1995.
Panglima VRS Jenderal Ratko Mladić, lanjut Both, menjadikan pasukan Serbia makin agresif dan makin sering “main kucing-kucingan” demi menghindari kontak langsung dengan pasukan PBB asal Belanda. Mereka tetap fokus untuk menyerang militer dan
sipil Bosnia.
Pada Maret 1995, Presiden Serbia-Bosnia (kini Republic Srpska) Radovan Karadžić mengeluarkan Surat Perintah No. 7 kepada VRS. “Pisahkan Srebrenica dari Žepa secepatnya, cegah komunikasi di antara individu-individu di dua kantong itu. Rencanakan operasi tempur dengan cermat, ciptakan situasi ketidakamanan total tanpa harapan penyelamatan bagi penduduk Srebrenica,” demikian bunyinya.
Perintah tersebut mulai dijalankan pada 6 Juli seiring Pengepungan Srebrenica. Kali ini ofensif garis depan dengan sekitar dua ribu pasukan VRS turut menyerang pos-pos UNPROFOR.

Pasukan UNPROFOR mundur ke kantong pertahanan sembari melindungi ribuan warga Srebrenica. Komandan batalyon Letkol. Thomas Jakob Peter Karremans sempat minta bantuan perlindungan udara pada NATO. Namun karena gempuran artileri membuat jarak pandang dari udara begitu buruk, NATO membatalkan serangan udara terhadap posisi-posisi Serbia.
“Rencana serangan-serangan udara berikutnya pun dibatalkan setelah VRS mengancam akan membombardir markas batalyon UNPROFOR, serta mengeksekusi para tawanan pasukan PBB dari Belanda dan Prancis,” ungkap Paul R. Bartrop dalam Bosnian Genocide: The Essential Reference Guide.
Sampai akhirnya markas batalyon mereka pun terkepung. Pasukan Belanda yang hanya berkekuatan 370 personel itu pun tak berdaya membendung serbuan Serbia.
“Kami sudah melakukan semampu kami. Bahkan jika pasukan PBB jumlahnya tiga kali lipat dari saat itu juga takkan cukup menghentikan pasukan Serbia,” kenang Gerald Verhaegh, salah satu personel batalyon Belanda, dikutip Der Spiegel, 12 Juli 2005.
Tragedinya pun dimulai. Pasukan Belanda di-sweeping. Verhaegh sendiri dan beberapa rekannya dicegat dan diperintahkan menyerahkan helm dan jaket anti-peluru kepada pasukan Serbia. Beberapa pasukan Serbia lainnya melucuti seragam prajurit PBB sampai ia hanya mengenakan celana dalam. Seragam PBB yang kemudian dikenakan pasukan Serbia untuk mengelabui para warga muslim Bosnia.
Dengan “lumpuhnya” batalyon Belanda, pasukan Serbia dan paramiliternya dengan bebas membunuhi para warga muslim Srebrenica. Mayat-mayat bertebaran di jalan-jalan kota. Tak terhingga warga muslim yang dikumpulkan ke dalam bus dan dibawa pergi entah ke mana.
“Kami melihat pasukan Serbia menggiring banyak perempuan muslim yang cantik-cantik ke dalam sebuah gedung. Namun mereka melarang kami untuk masuk ke sana. Entah kejahatan apa yang terjadi di balik pintu tertutup itu,” imbuhnya.

Adapun Letkol Karremans dipanggil Jenderal Mladić ke sebuah tempat di bangunan bekas hotel. Mulanya mereka berseteru meski kemudian terdapat dokumentasi foto dan video Karremans minum bersama dengan Mladić.
“Minuman dibagikan kepada para pasukan penjaga perdamaian. Adegan ternama itu tertangkap dalam film dan video. Karremans dan Mladić saling berhadapan sambil memegang gelas. Kolonel Belanda itu menyesap minuman yang tampak seperti sampanye atau anggur namun kemudian dalam pengakuannya ia mengatakan itu sekadar air minum. Panglima Bosnia-Serbia itu bersulang atas kemenangannya, sementara kolonel Belanda yang tinggi kurus itu hanya berdiri di dekatnya,” tulis David Rohde dalam Endgame: The Betrayal and Fall of Srebrenica, Europe’s Worst Massacre Since World War II.
Upaya Genosida baik lewat penyiksaan, pembantaian, dan pemerkosaan massal berlangsung di hadapan para serdadu PBB yang tak berdaya. Perwira Pengawas Militer PBB (UNMO) Kolonel Joseph Kingori yang ingin bertindak pun diancam pasukan Serbia.
Kelak pasca-genosida, Letkol Karremans pulang ke Belanda dan malah naik pangkat. Sebagai pengkhianat dan pengecut, ia dapat banyak ancaman pembunuhan. Radovan Karadžić ditangkap pada 2008 dan divonis 40 tahun penjara oleh International Crimintal Tribunal for the former Yugoslavia. Adapun Jenderal Mladić ditangkap pada 2011 dan divonis penjara seumur hidup.
Meski keadilan terhadap mereka datang terlambat, para penjahat tertangkap dan terhukum sebagai penjahat perang. Tak seperti Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang masih bebas berkeliaran dengan dilindungi AS dan kroni-kroninya meski sudah keluar surat penahanan dari International Criminal Court sejak Desember 2024. Banyak pihak terang-terangan menganggap Netanyahu penjahat kriminal, terbaru Walikota New York Zohran Mamdani pun berharap bisa menahannya jika Netanyahu menginjakkan kaki di kota New York.
“Benjamin Netanyahu adalah penjahat perang. Arsitek dari genosida mengerikan terhadap penduduk Palestina. Ia bertanggung jawab atas pembunuhan lebih dari 73 ribu orang, juga untuk menargetkan puluhan ribu anak-anak, di mana mereka harus bertahan hidup dengan amputasi tanpa pembiusan, menargetkan rumah sakit-rumah sakit, membuat bayi-bayi tak punya harapan hidup. Atas orang-orang yang ia buat kelaparan karena memblokade bantuan kemanusiaan, atas menembaki ratusan relawan kemanusiaan dan jurnalis...saya setuju dengan ICC bahwa Netanyahu harus ditahan dan disidangkan atas kejahatan-kejahatannya,” ujar Mamdani dalam pidatonya via akun Youtube resmi pemerintahan kota New York, 22 Juli 2026.



















Komentar