top of page

Duel Preman Medan Zaman Perang Kemerdekaan

Para jagoan revolusi unjuk kekuatan. Lewat adu jotos satu lawan satu, yang kalah menjadi pengikut yang menang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi duel preman Medan antara Amat Boyan vs Sibarani di zaman revolusi. Ilustrasi oleh Betaria/Historia.

10 Des 2020
2 menit membaca

Diperbarui: 22 Mei

RAWAN. Kata itu menggambarkan keadaan keamanan di kota Medan pada zaman revolusi. Pemerintah Republik Indonesia (RI) kala itu memang belum mantap. Koordinasi antara pusat dengan daerah masih kacau. Sementara kekuasaan tentara Jepang maupun tentara Sekutu tidak dihiraukan orang lagi.


Walhasil gerombolan bandit merajalela di sepenjuru kota. Praktik kriminalitas seperti perampokan dan pencopetan seolah tidak terbendung. Dalam situasi penuh ketidakjelasan itu, tersebutlah nama salah satu pentolan preman Medan bernama Amat Boyan.


“Amat Boyan, salah seorang residivis yang amat bengal, ‘king’ daripada para penjahat di kota Medan kala itu,” demikian diungkapkan Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page