top of page

God Bless di Mata Roy Jeconiah

Sebagai pelopor musik rock di Indonesia, God Bless menjadi inspirasi dan referensi. Setidaknya bagi Roy Jeconiah, eks vokalis Boomerang.

loading_historia_white.gif
transparant.png

God Bless dan para gitaris muda sepanggung dalam "Penghargaan 48 Tahun God Bless Berkarya". (Youtube God Bless Official).

22 Feb 2024
3 menit membaca

Diperbarui: 8 Mar

Roy Jeconiah, eks vokalis Boomerang, tak pernah lupa sebuah kejadian kendati kejadian itu sudah 30 tahun. Pasalnya, kejadian itu merupakan salah satu tonggak penting baginya dalam bermusik. Saat itu, tahun 1993, Roy dan band rocknya yang bernama Lost Angels menjadi band pembuka bagi supergrup rock Indonesia God Bless. Itu artinya, Roy mendapat kehormatan bisa sepanggung dengan band idolanya. 


“Kalau God Bless, masa kecil saya sudah mendengar lagu-lagu God Bless. Sampai SMP dan mulai main band, lagunya termasuk yang dimainkan di band saya,” aku Roy di hadapan Ian Antono, Ahmad Albar serta para pengunjung “Pameran Retrospektif God Bless 50 tahun” pada 19 Februari 2024.


Penikmat musik rock Indonesia era 1990-an tentu mengenal Boomerang. Band ini sezaman dengan Zamrud dari Cimahi. Tak hanya orang dewasa zaman itu, bocah SD pun tahu band asal Surabaya ini. Hit terkenal Boomerang antara lain “Bawalah Aku”, “Kisah”, “Pelangi”, dan “Bungaku”.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page