top of page

Gonjang-ganjing Nasionalisasi Perusahaan Asing

Dalam rangka dekolonisasi, Indonesia pernah melakukan nasionalisasi atau pengambilalihan perusahaan-perusahaan asing. Dalam pelaksanaannya, nasionalisasi memunculkan banyak persoalan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Irian Barat salah satu yang mememicu nasionalisasi. (gahetna.nl).

19 Sep 2024
1 menit membaca

Diperbarui: 3 Mei

NASIONALISASI aset-aset selalu jadi persoalan besar pada negeri-negeri pascajajahan. Ia adalah wujud pertarungan yang terus berlangsung kendati negeri tersebut sudah lepas dari belenggu penjajahan. Karena aset-aset bangsa-bangsa penjajah di negeri jajahannya, wujud dominasi kolonial atas ekonomi koloninya, seringkali tak serta merta dikembalikan kepada bangsa yang telah merdeka dari penjajahan.


Contoh mutakhir dari nasionalisasi aset asing pada negeri “dunia ketiga” adalah yang dilakukan Hugo Chavez di Venezuela. Pada 2010 lalu, belasan perusahaan minyak asing, di antaranya milik Amerika Serikat, diambil alih oleh pemerintah Venezuela. Bahkan Chavez mengumumkan akan mengambil paksa perusahaan minyak asing yang menolak menyerahkan kilangnya.


Pada era 1950-an, dalam rangka dekolonisasi, Indonesia pun pernah melakukan hal yang sama dengan Venezuela. Sebagian besar perusahaan milik negeri asing, terutama Belanda, diambilalih. Mulai sektor pertambangan sampai perkebunan dikuasai oleh pemerintah Republik Indonesia.


Namun, nasionalisasi ternyata juga memunculkan banyak persoalan: ketersediaan sumber daya manusia, kemampuan mengelola manajemen sampai dengan isu-isu

korupsi dan perebutan posisi serta kekuasaan atas perusahaan dari kalangan kita sendiri. Alih-alih mendatangkan keuntungan bagi negara, nasionalisasi yang salah urus malah jadi sarang korupsi.


Dalam laporan khusus ini kami mengangkat seluk-beluk nasionalisasi perusahaan asing tersebut. Ini menjadi penting karena isu nasionalisasi selalu muncul di tengah serbuan modal asing yang masuk ke Indonesia. Ada semacam sentimen terhadap asing yang masih terawat di dalam ingatan sebagian besar orang di negeri ini. Sementara itu, beberapa orang yang menjalankan pekerjaan sebagai komprador, justru menangguk banyak untuk diri sendiri.*


Berikut ini laporan khusus sejarah nasionalisasi perusahaan asing:


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Upaya membentuk hubungan egaliter lelaki-perempuan sudah dilakukan sejak lama.
Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.
Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.
Rasa lelah membuat kawan-kawannya ambil jalan pintas, sewa pesawat. Kendati terpilih naik pesawat itu, Dion urung naik karena ongkosnya mahal.
Rasa lelah membuat kawan-kawannya ambil jalan pintas, sewa pesawat. Kendati terpilih naik pesawat itu, Dion urung naik karena ongkosnya mahal.
Seorang pelancong AS yang mabuk mengambil sepotong semangka dan menolak membayar setelah mencicipinya. Memantik perkelahian yang berujung pada kerusuhan yang menewaskan belasan orang.
Seorang pelancong AS yang mabuk mengambil sepotong semangka dan menolak membayar setelah mencicipinya. Memantik perkelahian yang berujung pada kerusuhan yang menewaskan belasan orang.
Dari Korea Utara hingga Maroko. Mereka tim-tim yang disepelekan yang justru jadi batu sandungan bagi para favorit juara.
Dari Korea Utara hingga Maroko. Mereka tim-tim yang disepelekan yang justru jadi batu sandungan bagi para favorit juara.
Dengan humor tajam dan storytelling menyentuh hati, serial Mo mengeksplorasi emosi dalam setiap dinamika kultur mereka yang dianggap asing.
Dengan humor tajam dan storytelling menyentuh hati, serial Mo mengeksplorasi emosi dalam setiap dinamika kultur mereka yang dianggap asing.
transparant.png
bottom of page