- 31 Mar 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Apr
JATUHNYA Raja Farouk pada 23 Juli 1952 memunculkan Gamal Abdul Nasser sebagai pemimpin baru Mesir. Nasser bukan perpanjangan dari Dinasti Pasha yang berkuasa sejak 1805. Nasser muncul sebagai pemimpin dengan membawa semangat baru: nasionalisme dan sosialisme yang anti kolonialisme Barat.
Terusan Suez yang menjadi salah satu medan peperangan jadi perhatian besar Nasser. Suez juga dijadikan pengingat 74 tahun kolonialisme Inggris yang mengerikan. Maka dari itu, Nasser yang cukup pupuler di dunia Arab dan Asia-Afrika menyerukan nasionalisasi terusan yang dibangun dari keringat rakyat Mesir ini.
Pada 1950-an, setiap tahun sebanyak 122 juta ton kargo melewati Terusan Suez. Sekira 75 juta ton di antaranya adalah minyak dari Timur Tengah. Zona kanal itu makin vital bagi banyak negara. Fakta itu menyadarkan Nasser bahwa nasionalisasi terusan tentu akan mendapat banyak penentangan.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















