top of page

Unilever Berkelit dari Situasi Sulit

Dengan strategi mengalihkan saham, Unilever selamat dari nasionalisasi. Cerita berbeda dialami di masa Konfrontasi.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Para karyawan sedang mengoperasikan alat pemotong sabun di pabrik Unilever di Angke, Jakarta, 27 September 1951. (ANRI).

14 Nov 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 12 Feb

KANTOR pusat Unilever di London Inggris telah mempelajari berita rencana nasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia pada November 1957. Unilever Indonesia, yang berdiri pada 5 Desember 1933, juga rentan dinasionalisasi karena perusahaan patungan Belanda-Inggris ini sebagian besar sahamnya dimiliki Belanda dengan kantor pusat di Rotterdam.


Sebagai antisipasi, kantor pusat London mengirim seorang direktur ke Indonesia. Dia menekankan agar kantor pusat Unilever Indonesia di Rotterdam, Belanda, sebagian besar saham dialihkan ke London. Jalan keluar ini disambut baik oleh London dan Rotterdam.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page