- 10 Jan 2018
- 3 menit membaca
Diperbarui: 5 Jun
HARU bercampur jengkel dalam kalbu Ali Sadikin ketika menghadiri pemakaman H.R. Dharsono. Bagaimana tidak, sebagai tokoh militer yang berjasa bagi negara, pemerintah hanya bersedia memakamkan Dharsono di Tempat Pemakaman Umum Sirna Raga, Bandung. Dharsono kehilangan haknya untuk dikebumikan di Taman Makam Pahlawan karena pernah dipenjara lebih dari setahun. Meski berasal dari matra berbeda, kondisi tersebut membuat Ali Sadikin berang.
“Berbicara sebagai wakil keluarga, waktu itu Ali Sadikin menyatakan bahwa Dharsono ikut mendirikan Orde Baru dan sekarang ia dibunuh oleh Orde Baru. Belum selesai Sadikin berbicara, seseorang telah maju dan merenggut pengeras suara dari tangannnya,” tulis Aris Santoso dkk. dalam Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa.
Kemal Idris lebih geram lagi. Tatkala melepas kepergian terakhir sahabatnya itu, Kemal menggerutu. “Seperti menguburkan kucing saja,” kata Kemal seperti dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















