top of page

Iluminasi dalam Surat Raja-raja Melayu

Simbol iluminasi digunakan oleh para raja untuk memperindah surat-surat yang akan dikirim kepada pihak yang sangat dihormati.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Surat Raja Ali dari Riau yang berisi ucapan duka atas wafatnya Raja Willem II. (Sumber: Iluminasi dalam Surat-Surat Melayu Abad ke-18 dan ke-19).

7 Jul 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 29 Jun

BEBERAPA waktu lalu, media sosial digegerkan dengan pernyataan Rahmat Baequni yang menyebut masjid Al-Safar (rancangan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil) yang terletak di rest area tol Cipularang kilometer 88, sebagai simbol iluminasi. Ia melihat bentuk segitiga pada bangunan masjid sebagai penggambaran simbol sekte keagamaan tersebut. Namun di Indonesia sendiri, tradisi penggunaan simbol-simbol telah ada berabad-abad lalu, salah satunya terlihat dalam teks-teks naskah milik kerajaan-kerajaan di Nusantara.


Dalam ilmu naskah dikenal istilah Iluminasi, berarti ‘penerangan’, yang merujuk pada hiasan berupa gambar sebagai bingkai sebuah surat atau naskah. Namun dalam perkembangannya, makna iluminasi tidak hanya mengacu pada hiasan saja tetapi meluas pada kandungan di dalam isi teks.


"Iluminasi merupakan bukti kecerdasan dan beradaban yang tinggi dari masyarakat Indonesia," kata Mu'jizah, pakar filologi Melayu, saat mengisi acara diskusi "Iluminasi dalam Naskah-Naskah Nusantara" di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 4 Juli 2019.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page