top of page

Irawan Soejono Against Nazi Germany in the Netherlands

Irawan Soejono was fighting alongside his comrades against Nazi. He was shot dead while smuggling a stencil printing machine.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Indonesian student group Barisan Irawan (Irawan Front) joined the liberation parade in Leiden. (Repro of Di Negeri Penjajah).

27 Nov 2023
5 menit membaca

Diperbarui: 22 Apr

IT is a street in Osdorp, a suburb of Amsterdam, but the name is quite distinctive. This street stretches around 200 meters, connecting Rudi Bloemgartensingel with Trijn Hullemanlaan and is flanked by two streets: Jacob Paffstraat and Geertruide Lierstraat.


The Amsterdam municipality named the street Irawan Soejonostraat. Irawan Soejono isn't a famous figure, especially when compared to other Indonesian figures who were immortalized into street names in the Netherlands, such as R.A. Kartini (Kartinistraat), Mohammad Hatta (Hattastraat), and Sutan Sjahrir (Sjahrirstraat).


Irawan's name was immortalized because of his struggle and sacrifice in a country that, ironically, colonized his homeland. The Irawan Soejonostraat was inaugurated on May 4, 1990, in conjunction with the commemoration of the heroes and victims of the Nazi-German occupation.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page