top of page

A Harrowing Time for the Dutch in Indonesia

Thousands of people who were fell victim to the Indonesian revolution. Most of them were innocent children, women, and the elderly.

loading_historia_white.gif
transparant.png

The burial of the victims of the bersiap period in Java. (KITLV).

12 Jun 2023
4 menit membaca

THE VIEW in Menteng Pulo Cemetery in South Jakarta is quite exceptional. There, thousands of white cross-shaped headstones line up neatly, perfectly spaced from one another. Some headstones are smaller in size. The names inscribed on the stones were not only Dutch names, but also names of Minahasans, Moluccans, and Chinese.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page