top of page

Isyarat Patahnya Kekuasaan Soeharto

Palu yang dipakai Ketua DPR/MPR RI Harmoko patah. Patahlah kekuasaan Presiden Soeharto setelah bertakhta selama 32 tahun.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Soeharto menyatakan mengundurkan diri sebagai presiden pada 21 Mei 1998. (Wikimedia Commons).

11 Mei 2018
1 menit membaca

Diperbarui: 21 Mei

SOEHARTO terpilih kembali menjadi presiden untuk ketujuh kalinya pada 10 Maret 1998. Sehari kemudian, setelah dia disumpah dalam Sidang Umum MPR, terjadi peristiwa yang mengejutkan.


Harmoko, Ketua DPR/MPR, mengetukkan palu untuk menutup sidang, namun palu itu patah. Saat mengantar Soeharto menuju lift, Harmoko meminta maaf atas kejadian yang baru pertama kali dalam sejarah sidang DPR/MPR.


“Mungkin palunya longgar,” kata Soeharto. Harmoko pun bertanya-tanya, ada apa gerangan. Dia merasa kejadian itu tidak kebetulan.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page