top of page

Jalan Intelektual Seorang Sosialis Kanan

Soedjatmoko merupakan salah satu tonggak sejarah intelektual Indonesia. Pernah menjadi rektor di Universitas PBB.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Soedjatmoko (kiri) bersama Roeslan Abdulgani pada 1966. (Nationaal Archief/Wikimedia Commons).

5 Jan 2021
4 menit membaca

YOGYAKARTA, 21 Desember 1989. Suasana dalam ruang Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan itu mulai panas karena tidak ber-AC. Volume suara sang penceramah mulai menurun. Tangannya diletakkan di kening, ia menengadah dan memejamkan mata. Ketika ruangan hening, ia terkulai seperti hendak tidur. Soedjatmoko, intelektual sosialis itu, meninggal ketika sedang mengisi ceramah.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page